Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Seumur Hidup Dibalik Penjara


"Ayo masuk! ini rumahmu sekarang!"

Lantai beralaskan tikar plastik. Di dalam ada sekitar delapan orang wanita yang sama bajunya denganku, seragam penjara. Padahal daya tampungnya cuma lima orang.

Ini hari pertamaku di penjara dengan hukuman seumur hidup. Aku seorang istri sekaligus ibu dari tiga orang putri yang cantik-cantik. Banyak yang bilang, anak-anakku bidadari komplek.

Aku duduk di penjara yang sempit ini, dengan perasaan teramat asing, aku berusaha menyesuaikan diri hingga ajal menjemput. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini dengan hati yang kuat menahan rasa rindu kepada ke tiga putri-putriku.

"Hey! Ini tempat dudukku, sana!"

Seorang wanita berbadan sedikit gemuk menghampiriku. Dengan suara lantang, dia menyuruhku berpindah tempat duduk.

Aku bangkit dan pindah ke sudut. Sementara yang lain hanya melihat dan diam. Apakah takut atau tidak peduli, entahlah.

Pandangan jauh ke depan. Aku mengingat kejadian, kenapa aku bisa di penjara.

Pagi itu ....

"Bunda, aku minta izin ntar pulang sekolah kerumah Vivi belajar kelompok, ya?"

Senyum manis Anisa sudah berseragam sekolah, memelukku dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Anisa adalah anak bungsuku yang masih duduk di kelas dua SMP.

Aku punya tiga putri yang cantik-cantik, aku sadar itu. Anak pertamaku bernama Halimah yang sedang kuliah semester dua. Anak ke duaku bernama Rani kelas tiga SMA dan baru Anisa si bungsu. Aku hidup bahagia dengan suami yang setia dan cinta keluarga. Alhamdulillah.

Rasanya hidupku sudah sempurna. Putri-putriku rajin beribadah dan berhijab syar'i. Suamiku memang hebat memimpin kami, aku sangat bangga dan bahagia. Ini lah surga duniaku.

"Nasi goreng kesukaan Ayah nih, Bun," ucap suamiku duduk di kursi meja makan lalu menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.

"Yang pelan makannya, Yah," ucapku sambil menuangkan air putih ke gelas. Suamiku membalas dengan senyum kehangatan.

"Bunda, aku bawa bekal ke sekolah, ya," kata Rani sambil duduk dan ikut sarapan.

"Sudah Bunda siapkan, ini!" jawabku sambil menyodorkan nasi yang sudah dibungkus seperti biasa.

"Makasi Bundaku tersayang, mmuuuch." Rani berdiri dan mengecup pipi kananku. Aku tersenyum.

"Dek, nanti kamu pulang sendiri ya, aku ada pelajaran tambahan." Kata Rani kepada Anisa.

"Aku pulang juga langsung kerumah Vivi kak," jawab Rani melanjutkan sarapannya.

Sekolah Rani dan sekolah Anisa berdekatan. Mereka selalu pulang bersama. Kami hidup sangat damai. Aku ibu yang beruntung.

"Bun, tambah nasi gorengnya," suamiku menyodorkan piringnya kepadaku.

"Nasi goreng Bunda emang paling enak ya, Yah," ucap Halima tersenyum melirikku.

"Enak sekali, Bundamu paling hebat masak, bahkan mengalahkan koki dunia."

"Iya, Yah. Aku setuju," timpa Anisa.

Aku hanya tersenyum membalas, dan anakku yang lain ikut tertawa menggodaku. Suasana pagi secerah mentari. Alhamdulillah.

Tok! Tok! Tok!

Tok! Tok! Tok!

"Siapa yang datang pagi ini Bun?" tanya suamiku.

Kami semua terkejut. Suara ketokan itu terdengar memaksa kami supaya cepat membuka pintu.

"Entahlah, Yah, Bunda juga nggak tahu," jawabku, lalu ingin melangkah ke pintu.

"Biar aku saja yang buka, Bun," sahut Halimah dan langsung bangkit dari duduknya melangkah melangkah ke pintu.

Tidak lama kemudian ....

"Hey Halimah! Apa kamu tidak punya malu, merebut tunangan anak saya!"

Kami yang sedang sarapan, terkejut mendengar kata-kata Bu Lili dengan suara lantang memarahi Halimah. Aku, suami dan kedua putriku yang lainya langsung berdiri melangkah ke pintu depan.

Bu Lili adalah tetangga satu gang komplek dengan kami. Rumahnya rumah pertama memasuki gang ini, untuk menuju rumahku harus melewati depan rumahnya. Bu Lili juga punya anak gadis bernama Monik yang seumuran dengan Halimah.

"Ada apa ini Bu Lili? Kenapa ibu marah-marah sama Halimah." Aku berkata dengan melihat sorotan marah di mata Bu Lili memandang Halimah. Sementara itu, Halimah hanya menundukan kepala, matanya berkaca-kaca.

"Gara-gara anakmu ini, Monik diputuskan tunanganya!" Bu Lili menunjuk Halimah dengan penuh emosi.

Aku dan Mas Adam beradu pandang sesaat. Aku bingung, kenapa putriku dituduh merebut tunangan Monik.

"Apa salah anak saya Bu?" Aku juga ikut kurang senang melihat Halimah dibentak-bentak. Kenapa tidak bicara baik-baik. Kalau anakku salah pasti kutegur.

"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam, tidak enak ditonton orang, Bu Lili," ucap suamiku.

Tapi ajakan suamiku tidak diterima baik oleh Bu Lili. Dia tetap memasang muka kesal berdiri di teras depan, dari amarahnya bisa kubaca kalau tunangan Monik memutuskan pertunangan. Tapi kenapa Halimah yang disalahkan?

"Dengar ya! aku tidak akan tinggal diam, dasar munafik, diam-diam tukang merebut tunangan orang." Mata Bu Lili membelalak ke Halimah. Halimah tetap diam menatap lantai.

"Tolong bicara yang sopan, Bu Lili. Halimah tidak mungkin merebut tunangan Monik." Aku masih bernada datar, berusaha sabar.

"Jika Bu Rina berada di posisiku gimana? apa bisa bicara sopan?"

"Betul itu Halimah?" tanya suamiku tegas. Halimah menggelengkan kepala, dia seperti tertekan dengan tuduhan ini.

"Mana ada maling ngaku maling? sebaiknya Pak Adam dan Bu Rina lebih telaten jaga anak gadisnya, masak tidak tau apa yang dilakukan Halimah di luar rumah?" ucap Bu Lili sewot. "Dari luarnya kelihatan baik, tapi di dalam siapa tau?!" sambung bu Lili.

"Tolong kontrol bicaranya, Bu. Dari tadi aku sudah berusaha sabar, sebaiknya panggil tunangan Monik ke sini, biar semuanya jelas."

"Alasan! kalian mau mempermalukan Monik karena diputuskan demi putrimu?"

"Setidaknya masalah ini lebih jelas, dan ...."

Belum selesai kubicara, bu Lili melangkah pergi. Hentakan kakinya memperlihatkan ketidak sukanya. Dalam melangkah dia ngomel-ngomel sendiri. Aku mengurut dada berusaha sabar. Astagfirullahalazimm.

"Halimah, jelaskan kepada kami apa yang terjadi," ucap suamiku.

Di ruang tengah, aku dan suamiku duduk berhadapan dengan Halimah. Sementara itu Anisa dan Rani sudah berangkat ke sekolah.

"Aku tidak tahu Bunda, Ayah. Aku saja tidak mengenal tunangan Monik, mana mungkin aku penyebab putusnya pertunangan mereka," sanggah Halimah.

Aku dan suamiku saling berpandangan sesaat. Aku tahu anakku, dia tidak pernah pacaran atau berteman dekat dengan lelaki. Selesai kuliah langsung pulang tanpa bertandang atau nongkrong bergaul dengan temannya. Halimah anak yang penurut dan tidak banyak neko-neko. Bagaimana mungkin anakku penyebab anak Bu Lili putus tunangan?

"Demi Allah, Bun, Yah. Aku tidak mengenal tunangan Monik."

"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang Ayah kerja dulu, kamu juga kuliah bukan?"

"Iya, Yah," jawab Halimah pelan.

Kami mendiamkan dulu masalah ini. Halimah berangkat kuliah dan suamiku berangkat kerja. Keseharianku di rumah membuka warung klontong di depan rumah, semua kulakukan menghilangkan kesepian karena sering sendirian di rumah. Siang baru semua putriku pulang sekolah dan kuliah.

"Assalamualaikum, Bunda."

Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam saat aku membereskan barang daganganku di warung. Aku menoleh, ada seorang anak muda gagah berdiri di depan warung menyapaku tersenyum manis. Kulihat di depan warung, terpakir sebuah mobil sedan hitam mengkilat.

"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Aku menjawab dengan heran.

"Perkenalkan, namaku Arya, Bunda. Aku ke sini ingin melamar anak Bunda, Halimah."

Jantungku mau copot mendengar perkataan anak muda ini. Ternyata namanya Arya. Siapa dia yang tiba-tiba ingin melamar putriku? setahuku Halimah tidak pernah pacaran atau punya teman lelaki.

"Bunda ... Bunda ... bisa aku bertemu juga sama Ayah Halimah?" pintanya, aku masih merasa shock mematung.

"Bun, Bunda." Pemuda bernama Arya itu melambaikan tangan di depanku.

"Oh, iya, Nak Arya," sentakku memalingkan mata. "Sejak kapan Nak Arya pacaran dengan Halimah?" Aku sangat penasaran, selama ini Halimah tidak pernah cerita.

"Kami tidak pernah saling kenal, Bunda," jawab Arya.

"Loh, kok bisa tiba-tiba melamar Halimah?"

"Aku menyukai anak Bunda, dan aku yakin dengannya, hanya itu."

Ya Allah, siapa pemuda yang melamar putriku. Dia sangat berani dan sopan. Kalau dia tidak pernah saling kenal dengan Halimah, kenapa tiba melamar? Aku masih bingung.

Aku mengajak Arya masuk dan duduk di ruang tamu. Fari ceritanya, dia sangat menyukai Halimah diam-diam. Dia juga sering melihat Halimah berjalan pulang kuliah melintas di depan rumah Monik saat berkunjung kerumah Monik, dan Arya mencari informasi ke tetangga tentang putriku-Halimah, dan sekarang dia melamar putriku. Intinya, Arya memutuskan tunanganya karena ingin melamar Halimah. Pantas saja Bu Lili marah-marah tadi pagi ke sini. Astagfirullahalazimm.

"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, sebaiknya Nak Arya pulang dulu, nanti akan saya sampaikan pada Ayah Halimah."

Hanya itu keputusanku sementara. Aku masih shock dengan kedatanganya. Halimah jujur tidak mengenal tunangan Monik. Kasihan anakku yang dibentak-bentak yang bukan kesalahannya.

Sepintas aku lihat, Arya pemuda yang gagah dan berada. Cara pakaian dan tutur katanya, dia lelaki yang sopan.

Magrib kami salat berjamaah. Suamiku menjadi imam seperti biasa, aku belum membicarakan kedatangan Arya tadi siang, menunggu selesai magrib dulu.

Selesai sholat magrib, aku menutup warung dulu baru membicarakanya. sampah barang dagangan kusapu, biasanya Halimah yang mengerjakan, tapi tadi dia membaca Al Qur'an dulu, lagian pekerjaan ini tidak begitu berat.

"Ayah! Ayah! Bunda ... tolong Ayah!"

"Ayah!"

"Bunda! cepat ke sini!"

Aku terkejut mendengar teriakan ke tiga putriku menjerit menangis. Perasaanku tidak enak. Ada apa dengan suamiku? Berlari, aku masuk ke rumah.

"Astagfirullahalazimm! Yah, Ayah ... tolong ... tolong!"

Ya Allah, apa yang terjadi dengan suamiku. Menangis, kulihat seluruh pori-pori tubuh suamiku mengeluarkan darah, darah menyelimuti tubuhnya tergeletak di lantai. Putri-putriku menangis memegang ayahnya.

"Ayah!"

"Ayah kenapa Bunda? Tolong Ayah ...."

Mendengar teriakan kami, datanglah Bu Arun dan suaminya. Aku dan anak-anakku histeris melihat jasad suamiku kaku dan tidak bernyawa. Aku kehilangan suamiku untuk selama-lamanya.

Ya Allah, kuatkan hatiku.

Dengan perasaan teramat sedih, aku duduk di keramaian orang-orang melayat. Air mata tidak henti-hentinya ke luar. Aku sangat terpukul kehilangan mas Adam, baru tadi pagi kami sarapan bersama, kini kulihat tubuhnya tidak bernyawa.

"Bu Rina, maaf, bukan maksudku membuat ibu tambah sedih, tapi ... kalau saya perhatikan, sepertinya suami ibu kena santet."

Aku terpana melihat wajah Bu Arun setelah berbisik di sampingku. Disantet? Astagfirullah'alazimm ....
Diubah oleh blackgaming 16-06-2021 14:09
zafranramonAvatar border
eldiniAvatar border
hanihanihan2114Avatar border
hanihanihan2114 dan 43 lainnya memberi reputasi
40
16.5K
104
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#28
Chapter 7


Siapa penyusup di rumahku? Dia mencoba membuka pintu kamar putriku, malam ini aku tidur dengan Rani sedangkan Halimah tidur dengan Anisa. Sejak sikap aneh yang dialami Rani, aku memutuskan menjaganya.

“Aggghh!” Penyusup itu menatapku tajam di balik sebo kepalanya, dia kesakitan, darah mengalir dari lengannya.

Meski takut, aku berusaha seberani mungkin, jika aku membiarkannya maka putriku akan terancam.

Dia mencoba mendekatiku, aku dengan cepat menghidupkan lampu. Meski aku melihatnya dengan jelas, namun aku sama sekali tidak mengenali wajahnya yang tertutup sebo. Siapa orang ini?

Pisau masih erat ditanganku, aku sudah bersiap-siap melawan jika dia mencoba mencelakaiku. Tapi sial, dia juga bersenjata, golok ditangannya sangat tajam mengkilat, nyaliku sedikit menciut menghadapinya.

“Tolong! Tolong! Ada maling!”

Aku berteriak sekeras-kerasnya saat dia mencoba mendekatiku dengan golok.

“Tolong! Tolong! Tolong ada maling!”

Melihatku berteriak, dia mencoba kabur lewat pintu belakang, aku tidak berani mengejarnya, bagaimana kalau dia tidak sendirian.

Mendengar teriakanku, putri-putriku keluar dari kamarnya, mereka sangat terkejut dan panik melihatku memegang pisau yang berlumuran darah.

Tidak lama kemudian Bu Arun dan beberapa tetangga terdekat menghampiri rumahku, mereka berbondong-bondong dan membawa senjata tajam ingin menolongku. Aku membukakan pintu depan agar para tetangga bisa masuk dan melihat kedalam serta menceritakan apa yang aku alami barusan.

“Bu Rina, sebaiknya pintu belakang diberi terali besi,” pak Arun berkata setelah memeriksa rumahku.

“Iya Pak, besok akan aku buat terali besinya.” Aku berusaha setenang mungkin, aku tidak ingin membuat putri-putriku cemas jika aku sangat panik, bagaimana pun juga, hanya aku sendirian yang menjaga mereka.

“Kalau orang ini berniat maling, mungkin televise Bu Rina sudah di bawa kabur, tapi dia sama sekali tidak mengincar harta.”

Kata-kata Bu Arun benar juga, televisi 32 inc ini baru beberapa bulan dibelikan almarhum suamiku. Siapa penyusup itu? Apa yang diinginkannya? Ya Allah … tolong jaga putri-putriku dari segala kejahatan.

Setelah memastikan semuanya aman dan pintu belakang digembok untuk sementara, tetangga meninggalkan rumahku kecuali Bu Arun yang masih menemaniku duduk di ruang tengah.

“Bu Rina, aku mengkhawatirkan apa yang terjadi sama putri-putri ibu belakangan ini, apakah ada hubunganya kejadian semua ini?” Bu Arun menatapku serius berkata.

“Aku juga berfikiran seperti itu, Bu Arun. Apa yang harus aku lakukan?” Aku sebenarnya sangat panik dan khuatir, namun lagi-lagi aku berusaha tetap kuat demi anak-anakku.

“Sebaiknya lapor polisi, Bu.”

Bu Arun benar, aku harus melaporkan ke polisi kejadian malam ini, mungkin Randi bisa membantuku dalam masalah ini, tapi … bagaimana dengan masalah Halimah? Jika aku melapor maka foto-fotonya yang hanya memakai pakaian dalam akan tersebar.

“Ibu benar, besok aku akan melapor kepolisi. Terimakasih Bu Arun.”

Aku mengunci dan menggembok semua pintu rumahku, untung ada tetangga yang peduli dan mencarikan gembok yang besar, aku sangat bersyukur mereka peduli dengan apa yang aku alami.

Malam ini kami putuskan tidur di satu kamar saja, rasa cemas terhadap putri-putriku membuatku tidak ingin jauh dari mereka. Dalam tubuh terbaring, air mataku menetes, aku teringat suamiku, sangat berat rasanya menghadapi semua ini, andaikan suamiku masih hidup … Astagfirullah’alazim … Allahuakbar, Al fatihah.

Pagi ini aku putuskan Halimah dan Rani di rumah saja. Halimah terlihat murung, sedangkan Rani sudah ceria seperti biasa.

“Bunda, aku berangkat sekolah dulu,” Anisa menyalamiku.

“Nanti kalau sudah pulang, hubungi Bunda biar bunda jemput.”

Anisa menganggukan kepalanya menuruti kata-kataku, sebenarnya aku juga mencemaskan Anisa, bagaimanapun juga kejadian Halimah dan Rani berimbas ke Anisa, mungkin ini kecemasan seorang ibu.

Aku duduk disamping Halimah di ruang tamu, dia sangat murung meski pandangannya menatap keluar pintu, perih sekali rasanya menyaksikan raut wajahnya.

“Nak, Bunda sudah memutuskan akan melaporkan masalahmu ke pada polisi.”

“Jangan Bunda! Aku takut, mereka akan menyebar fotoku yang hanya memakai pakaian dalam, aku malu …, aku malu bunda …,” Halimah menangis memelukku, air mataku juga mengalir. Dari pada anakku yang disakiti lebih baik aku yang merasakannya.

“Siapa yang mengancammu Halimah?”

Tiba-tiba Randi sudah berada di depan pintu mendengar percakapan kami, Halimah terdiam dan menghapus air matanya.

“Nak Randi, silahkan masuk.”

Randi masuk dan duduk, dia menatap Halimah dalam seperti berfikir.

“Aku akan membantu anak Bunda menyelesaikan masalah ini.”

“Jangan! Aku takut kalau mereka …,” Halimah sangat terlihat cemas berkata.

“Kalau mereka tidak diberantas, akan bertambah korban atau kejahatan yang lain. Jangan khuatir Halimah, aku akan membantumu.” Randi menatap Halimah, mereka saling berpandangan, sepertinya Halimah menyetujui tawaran Randi.

“Nak Randi, terimaksih.” Hanya itu yang aku ucapkan melihat niat baiknya.

“Oh ya, Bunda. Aku sudah membawa motor Bunda.”

Aku hampir lupa kalau motorku di parkir di halaman masjid, saking paniknya, aku juga lupa kalau kunci motorku ku titip ke Randi kemarin.

“Terimakasih sekali lagi nak Randi.”

“Tidak usah sungkan Bunda, aku senang membantu Bunda dan Halimah.”

“Tapi, bukannya nak Randi juga harus kerja sekarang?”

“Aku kerja lapangan Bunda, menangani kasus kejahatan lapangan adalah tugasku.”

Halimah bangkit dari duduknya, dia ingin kebelakang membuatkan minuman. Setelah dua cangkir teh dibawa, Halimah berlalu menjemur pakaian di halaman depan seperti bisa. Randi menatap Halimah, sepertinya dia juga menyukai putriku, tatapan matanya tidak bisa berbohong.

Mobil Arya memasuki halam rumahku, setelah diparkir, dia keluar dan menyapa Halimah yang sedang menjemur pakaian, aku dan Randi duduk di ruang tamu bisa menyaksikan mereka dari balik kaca.

“Bagaimana kabarmu hari ini Halimah?” Arya menyapa Halimah menjemur pakaian.

“Alhamdulillah baik, Kak.” Halimah menjawab dan menundukkan kepala, Arya terus menatap Halimah meski tatapannya tidak dibalas.

Aku bangkit dari duduk melangkah ke pintu menyapa Arya.

“Masuklah Nak Arya.”

“Oh, Bunda. Maaf aku singah sepagi ini.” Arya menyalamiku.

“Tidak apa-apa, Nak Arya. Silahkan masuk.”

Arya terkejut melihat Randi juga berada di rumahku, Namun aku menjelaskan kedatangan Randi mengantarkan motorku.

“Terimakasih teman, kamu menolong Bunda dan Halimah.” Arya berkata ke pada Randi.

“Sudah tugasku, Teman,” jawab Randi.

Halimah masuk kedalam setelah menjemur pakaian, Randi dan Arya terpana menatap Halimah berlalu di depan mereka. Sangat terlihat jelas kalau mereka mengagumi putriku, aku hanya berharap Halimah mendapatkan pendamping yang bisa menjaganya dengan baik.

“Asslamu’alaikum.”

Kami terdiam melihat Wahyu juga datang dan berdiri di depan pintu, aku tidak tahu kenapa dia datang sepagi ini.

“Wa'alaikumsalam. Wahyu, ayo masuk.”

Stelah Wahyu masuk dan duduk, aku memperkenalkan Arya dan Randi kepadanya. Pagi ini di ruang tamu, aku kedatangan tiga orang pemuda yang mengagumi putriku Halimah.

Halimah menyadari adanya tamu, langsung membawakan dua cangkir teh dan meletakkanya di meja tamu, tiga orang pemuda ini menatap anakku yang berlalu meninggalkan ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Bu Lili dan Monik juga datang kerumahku dengan mimik wajah tidak bersahabat, mereka berdiri di teras rumahku.

“Bu Rina! Bu Rina!” Bu Lili bersuara lantang.

Aku keluar, Monik berdiri di belakang ibunya seakan menahan malu dengan sikap ibunya.

“Ada apa Bu Lili?”

Belum sempat mereka menjawab kata-kataku, Pak Slamet juga datang membawa rombongan dan kue Buaya yang diiringi musik. Astagfirullah’alazimm … ada apa lagi ini.
piaupiaupiau
pulaukapok
nomorelies
nomorelies dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.