- Beranda
- Berita dan Politik
BPK: Anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia paling rendah di ASEAN!
...
TS
lpdp
BPK: Anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia paling rendah di ASEAN!
JAKARTA - Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Bahrullah Akbar mengatakan, anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia tercatat paling rendah di antara negara-negara ASEAN.
"Anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia tercatat paling rendah di antara negara ASEAN, dimana pada tahun 2019 dan 2020 proporsi belanja untuk sektor penelitian hanya 0,31% dari PDB, jauh di bawah Singapura yang mencapai 2,64% atau malaysia 1,29%," ujar Bahrullah dalam webinar Mendorong Peran Dunia Pendidikan dalam Meningkatkan Tata Kelola dan Akuntabilitas Keuangan Negara melalui Karya Tulis Ilmiah.
Dia melanjutkan, negara yang memberikan dukungan terbesar terhadap dana penelitian dan pengembangan adalah Korea Selatan, dimana anggaran penelitian dan pengembangannya mencapai proporsi 4,35% dari PDB. Bahrullah juga mengatakan dari berbagai studi ditunjukkan bahwa kenaikan anggaran penelitian dan pengembangan suatu negara mendorong naiknya angka pertumbuhan PDB.
Bahrullah berujar saat ini negara-negara di dunia pun sudah menyadari bahwa tren ekonomi global saat ini semakin bergantung pada pengembangan pengetahuan. Bila dilihat dari dana penelitian dan pengembangan global, terjadi peningkatan anggaran sejak tahun 2000.
Mengutip data dari Global Funding Forecast 2021, dana penelitian dan pengembangan secara global di 2020 mencapai US$ 2,37 triliun, sebesar US$ 2,32 triliun di 2020, sedangkan di 2000 sekitar US$ 676 miliar. "Indikasi dari global funding forecast 2021, dimana kita melihat [dana penelitian dan pengembangan] melonjak 3 kali lipat dibandingkan tahun 2000," ujar Bahrullah.
Meski anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia paling rendah dibandingkan negara ASEAN, Bahrullah pun berharap agar hal tersebut tak menghentikan adanya riset dan penelitian. Apalagi menurutnya penelitian dan pengembangan ini turut mendorong agar transparansi dan akuntabilitas tata kelola keuangan negara semakin baik.
Menurutnya, penelitian kebijakan di bidang keuangan diperlukan oleh lembaga keilmuan dalam konteks pra implementasi maupun pasca implementasi kebijakan. Hal ini untuk mendapatkan justifikasi atau klasifikasi ilmiah. "Penelitian tentang substansi implementasi maupun kinerja kebijakan di bidang keuangan negara diharapkan melahirkan rekomendasi yang bermutu bagi pengelolaan keuangan negara," ujar Bahrullah.
https://amp.kontan.co.id/news/bpk-an...endah-di-asean
Ini PR bagi pemerintah, liat saja beda anggaran R&D Indonesia dan Amerika, bagaikan bumi dan langit..
Anggaran Penelitian Indonesia: 26 Triliun
Anggaran Penelitian Amerika Serikat: 7.938 Triliun
lihat betapa ngeri bedanya
anggaran penelitian amerika hampir 8 ribu triliun
"Anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia tercatat paling rendah di antara negara ASEAN, dimana pada tahun 2019 dan 2020 proporsi belanja untuk sektor penelitian hanya 0,31% dari PDB, jauh di bawah Singapura yang mencapai 2,64% atau malaysia 1,29%," ujar Bahrullah dalam webinar Mendorong Peran Dunia Pendidikan dalam Meningkatkan Tata Kelola dan Akuntabilitas Keuangan Negara melalui Karya Tulis Ilmiah.
Dia melanjutkan, negara yang memberikan dukungan terbesar terhadap dana penelitian dan pengembangan adalah Korea Selatan, dimana anggaran penelitian dan pengembangannya mencapai proporsi 4,35% dari PDB. Bahrullah juga mengatakan dari berbagai studi ditunjukkan bahwa kenaikan anggaran penelitian dan pengembangan suatu negara mendorong naiknya angka pertumbuhan PDB.
Bahrullah berujar saat ini negara-negara di dunia pun sudah menyadari bahwa tren ekonomi global saat ini semakin bergantung pada pengembangan pengetahuan. Bila dilihat dari dana penelitian dan pengembangan global, terjadi peningkatan anggaran sejak tahun 2000.
Mengutip data dari Global Funding Forecast 2021, dana penelitian dan pengembangan secara global di 2020 mencapai US$ 2,37 triliun, sebesar US$ 2,32 triliun di 2020, sedangkan di 2000 sekitar US$ 676 miliar. "Indikasi dari global funding forecast 2021, dimana kita melihat [dana penelitian dan pengembangan] melonjak 3 kali lipat dibandingkan tahun 2000," ujar Bahrullah.
Meski anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia paling rendah dibandingkan negara ASEAN, Bahrullah pun berharap agar hal tersebut tak menghentikan adanya riset dan penelitian. Apalagi menurutnya penelitian dan pengembangan ini turut mendorong agar transparansi dan akuntabilitas tata kelola keuangan negara semakin baik.
Menurutnya, penelitian kebijakan di bidang keuangan diperlukan oleh lembaga keilmuan dalam konteks pra implementasi maupun pasca implementasi kebijakan. Hal ini untuk mendapatkan justifikasi atau klasifikasi ilmiah. "Penelitian tentang substansi implementasi maupun kinerja kebijakan di bidang keuangan negara diharapkan melahirkan rekomendasi yang bermutu bagi pengelolaan keuangan negara," ujar Bahrullah.
https://amp.kontan.co.id/news/bpk-an...endah-di-asean
Ini PR bagi pemerintah, liat saja beda anggaran R&D Indonesia dan Amerika, bagaikan bumi dan langit..
Anggaran Penelitian Indonesia: 26 Triliun
Anggaran Penelitian Amerika Serikat: 7.938 Triliun
lihat betapa ngeri bedanya

anggaran penelitian amerika hampir 8 ribu triliun

nomorelies dan 2 lainnya memberi reputasi
3
1K
41
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
692.4KThread•57.5KAnggota
Tampilkan semua post
rogermore2
#5
indonesia itu apanya yang diriset..
penelitian..khususnya ranah perguruan tinggi sebagian besar adalah penelitian ilmu2 sosial..
hubungan, pengaruh, implikasi anu terhadap anu....kagak ada gunanya..kagak nambah pengetahuan yang membacanya, yang penting penelitian dipublish dosen bersangkutan dapat duit...
selain itu dosen juga rata2 publish dari hasil penelitian mahasiswa bimbingannya, jadi gak efektif penelitian itu..
yang efektif itu semua dana riset ditarik trus bikin pabrik mobil..kalau kayak gini tiap tahun kita bisa produksi mobil, mesin diesel, RPG dan keperluan lainnya yang wajib diimport..
ingat kalau kita perang, rawan diblokade..AL kita lemah sementara kita dikelilingi negara 2 british commonwealth..ama antek amerika..jadi harus kudu bisa produksi barang sendiri
OPM itu berani..karena ada dukungan luar..dan orang luar dukung karena anggap kita lemah..
kita gak perlu alutsista banyak2, yang diperlukan rudal anti udara, rudal anti kapal sama RPG anti tank yang banyak,
kalau suatu saat kapal nelayan kita nembakin rudal anti kapal pada kapal induk asing yang nyelonong tanpa izin..itu baru
orang gak berani semena2..ngerecokin dalam negeri kita
penelitian..khususnya ranah perguruan tinggi sebagian besar adalah penelitian ilmu2 sosial..
hubungan, pengaruh, implikasi anu terhadap anu....kagak ada gunanya..kagak nambah pengetahuan yang membacanya, yang penting penelitian dipublish dosen bersangkutan dapat duit...
selain itu dosen juga rata2 publish dari hasil penelitian mahasiswa bimbingannya, jadi gak efektif penelitian itu..
yang efektif itu semua dana riset ditarik trus bikin pabrik mobil..kalau kayak gini tiap tahun kita bisa produksi mobil, mesin diesel, RPG dan keperluan lainnya yang wajib diimport..
ingat kalau kita perang, rawan diblokade..AL kita lemah sementara kita dikelilingi negara 2 british commonwealth..ama antek amerika..jadi harus kudu bisa produksi barang sendiri
OPM itu berani..karena ada dukungan luar..dan orang luar dukung karena anggap kita lemah..
kita gak perlu alutsista banyak2, yang diperlukan rudal anti udara, rudal anti kapal sama RPG anti tank yang banyak,
kalau suatu saat kapal nelayan kita nembakin rudal anti kapal pada kapal induk asing yang nyelonong tanpa izin..itu baru
orang gak berani semena2..ngerecokin dalam negeri kita
Diubah oleh roger_more2 09-05-2021 17:19
baaay dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup