- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Cinta Dari Masa Silam
...
TS
beqichot
Dendam Cinta Dari Masa Silam
WARNING!!!!
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++

Prolog
Hai...namaku Aji, lengkapnya Bayu Satriaji.
Aku baru saja pulang dari PETUALANG MASA LALU
Terakhir yang kuingat, aku beserta Zulaikha dan Menik, dua jin cantik.yang selalu mendampingiku selain dari Sang Pamomong, baru saja keluar dari portal yang membawa kami pulang dari masa lalu ratusan tahun silam.
Aku memgerjapkan mataku yang silau oleh cahaya yang menyorot di atas mataku.
Ah...rupanya cahaya lampu.
Perlahan, pandangan mataku menjadi semakin jelas. Kulihat langit-langit kamar yang putih dengan lampu yang menyilaukan mataku tadi.
Di mana aku gerangan? Bukankah aku baru saja keluar dari portal yang menghubungkan masa kini dan masa lalu?
"Mas Aji.... Kau sudah sadar?" sebuah suara menyapaku.
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku itu. Seraut wajah cantik dengan mata yang berair, menatapku.
"Desi...?"
"Iya mas... Ini aku!" jawabnya.
"Mas Aji...!" sebuah suara lain menyapaku.
Aku menoleh ke asal suara itu..
"Anin...? Kamu kok di sini? Aku di mana?" tanyaku.
"Sebentar mas, biar aku kasih tahu bapak dan dokter.kalau kamu sudah sadar!" katanya sambil beranjak pergi.
Bapak? Dokter?
Kok bapak juga ada di sini? Dokter? Berarti aku di rumah sakit...
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada di rumah sakit?
"Des...ini di rumah sakit?"
"Iya Mas...!"
"Kok aku bisa disini?"
"Ssttt...mas istirahat saja dulu. Kita tunggu dokter dulu!" sahutnya sambil mengelus-elus tanganku.
Saat itulah pintu terbuka, dan dua wanita dengan pakaian serba putih menghampiriku. Seorang diantaranya memeriksa nadiku, menyenteri mataku, dan menempelkan stetoskop di dadaku.
"Bagaimana dokter?" sebuah suara yang berat terdengar beetanya.
"Keadaannya normal pak! Mungkin butuh pemulihan sebentar, dan 2 atau 3 hari kemudian sudah bisa pulang!" kata bu dokter.
'Syukurlah...!" kata Bapak.
"Bapak.....!" panggilku.
"Hai..cah bagus... Bikin panik orang tua saja kamu!" kata bapak sambil mengacak-acak rambutku.
"Maaf pak... Sudah bikin khawatir bapak..!" ucapku.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah ga papa sekarang!" ujar bapak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanyaku.
"Kamu ditemukan orang terbaring di jalanan setelah hujan. Lalu dibawa ke rumah sakit ini. Lalu orang itu membuka kontak hpmu dan menghubungi bapak. Bapak dsn Anin segera kemari. Dan kamu baru sadar setelah 3 hari pingsan!" kata bapak.
Hah.3 hari? Padahal aku ada di masa lalu selama 35 hari.
Jadi apakah kejadian di masa lalu itu hanyalah mimpi di saat aku tak sadar?
Kalau memang hanya mimpi, syukurlah...
Dan aku berharap itu semua memang hanya mimpi.
Aku menoleh pada Zulaikha dan Menik yang sedari tadi berdiri di samping ranjangku.
Mereka cuma mengangkat bahu dan menggeleng. .
Yah...semoga saja semua itu hanya mimpi belaka. Kembang tidur di saat aku pingsan. .
Semoga....
Aku masih dirawat selama 2 hari, dan Desi setia memungguku jika sudah pulang kuliah.
Sementara, bapak dan Anin jika malam istirahat di kostku.
Setelah dirasa sehat, aku diperbolehkan pulang.
Bersama bapak dan Anin, kami nakk taksi menuju kostan.
Zulaikha dan Menik melayang di samping mobil.
Di kostan sudah ada pacar tersayang dan adiknya yang menunggu kedatangan kami....
Yah...aku kembali berada di jamanku. Pengalaman di masa lalu itu, entah nyata ataukah sekedar mimpi belaka?
Only time will tell.....
INDEX:
Prolog
The Begining
Naning
The Truth
Lanjutan
Naning Lagi....
Melati's Pov
Godaan Nenek Bohai
Menik's Pov
Tukang Ojek
Masalah Cewe Dino
Di Rumah Firda
Menolong Naning....
One By One
Pulang....
Di Madrasah 1
Di Madrasah 2
It's Begin...
Bingung
Masih Di Rumah Naning
Menik's Pov
Pengakuan Firda
Desi Cemburu
Pertempuran
Bendera Perang Sudah Dikibarkan
Masalah mulai bertambah
Firda's Pov
Liburan Semester
Kejadian Di Kamar Kost.....
Di Gazebo..
Tekad Naning
Pov nya Kunyil
Balada Lontong Opor
Kunyil Ember
Ditinggal.....
Pengusiran
Pulang....
Nenek Tua
Mimpi
RSJ
Pertempuran Seru
Serangan Susulan
Menuju Sumber....
Lanjutannya..
Kurnia
Sebuah Pengakuan
Interogasi
Menepati Janji
Malam Minggu
Piknik....
Di Curug
Ki Sarpa
Berlatih
Ketiduran
Kejadian Aneh
Kyai Punggel
Pagi Absurd
Pov: Naning
Latihan Di Gunung
Wejangan
Aku Dipelet?
Lebih Hebat Dari Pelet
Terusan Kemarin
Tante Fitri Yang....
She's Back
Bros
Makhluk Paling Absurd
Makhluk Absurd 2
Part Kesekian
Cowo Tajir
Jangan Buat Naning Menangis
Surprise
Kejadian Aneh
Quote:
Menghentikan Perang
Ahaha ..
Jatuh Bangun
Selaras
Mulai Dari Awal
Kembali
Rencana Bapak
Gadis Galak
Pengobatan
Sang Dukun
Sandra
A Little Bonus: Sandra's Pov
Pulang Ke Kost
Nenek Tukang Pijat
Upgrade
Si Galak Sakit
Fight....
Proyek Besar
Kesurupan Massal
Kalahkan Biangnya
Kosong
Dreamin'
About Renita
Kenapa Dengan Sandra?
Teluh
Serangan kedua
Gelud Lagi...
Hadiah Nyi Rambat
Kembalinya Trio Ghaib
Kepergian Zulaikha
Kurnia's Pov
Lanjutan Indeks
Diubah oleh beqichot 18-09-2021 19:54
xue.shan dan 199 lainnya memberi reputasi
190
398.9K
12.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#222
One By One
Aku mengikuti Naning yang berkendara di depanku. Tak kupedulikan lagi, preman-preman kampung yang bergelimpangan tadi. Biar jadi pelajaran buat mereka deh...
Aku terus mengawal Naning hingga sampai ke rumahnya.
Setelah sampai runahnya tanpa gangguan, aku berniat langsung balik ke kost.
"Ning, lo ga papa khan? Gue langsung cabut ya?" kataku.
"Eits..nanti dulu Ji. Temenin aku laporan sama nyokap. Buat saksi...! Please...!"
"Lah ..lo khan bisa laporan sendiri!"
"Biar nyokap percaya sama ceritaku Ji..please...!" katanya.
"Iya deh .. Bentar aja tapinya!"
"Nah..gitu dong... Aduh...!" katanya meringis saat luka di bibirnya terbuka lagi.
"Halah..katanya jagoan, gitu aja meringis....!" ejekku.
"Biarin... Yuk masuk...!" katanya sambil masuk ke rumah.
Saat sampai di depan pintu, mendadak pintu terbuka dan keluar sesosok makhluk setengah baya yang masih cantik. Keknya emaknya deh...
Begitu melihat Naning...
"Aduh...dik... Kamu kenapa? Kok babak belur gini? Pasti berkelahi lagi ya? Gadis kok sukanya berkelahi lho, jadi luka gini khan? Biar mama telpon papa, biat ditangkap itu orang yang nyakitin kamu. Aduh...bibir kamu berdarah Dik... Ayo masuk, biar mama obati. Siapa sih yang tega buat kamu sampai begini....bla bla bla....!" mamanya Naning heboh sendiri melihat keadaan anaknya.
"Ma...aku ga papa kok!" kata Naning.
"Ga papa gimana... Pasti sakit ini... Atau kita ke rumah sakit sekarang. Bentar, biar mama nelpon papa dulu." kata mamanya sambil beranjak masuk rumah.
Naning meraih tangan mamanya.
"Ma...aku ga papa. Ini cuma luka dikit. Malu ah. . ada temen aku tuh!" kata Naning sambil menunjukku yang sedang bengong.
Ah..jadi kangen sama ibu....
"Eh..ada temennya adik. Ayo mas, silahkan masuk!"
"Iya tante .. Makasih...!"
"Ini gimana ceritanya mas, adik sampai babak belur begini?"
"Saya juga ga tahu tante. Saat saya datang, Naning sudah begitu. Dia dikeroyok sama preman tante."
"Aji ini yang bantuin aku ngelawan preman2 itu ma... Dan juga nganterin aku pulang!"
"Wah ..makasih ya mas...siapa tadi? Oh iya..mas Aji. Terima kasih banyak mau nolongin adik dan nganter pulang!"
"Sama-sama tante, kebetulan saya lewat situ, jadi saya bantuin sebisa saya!"
"Aji ini hebat lho Ma... Dua preman yang paling kuat dihajar sama dia sampai KO! Padahal mereka bawa belati lho Ma!"
"Hah...mereka pakai sajam? Kamu nggak papa Dik? Nggak terluka?"panik mamanya Naning meneliti tubuh anaknya...
"Dibuka sekalian bajunya tante...!" kataku.........dalam hati...
"Enggak ma... Aku ga luka kena sajam kok. Cuma lebam-lebam aja kena pukul kok."
"Ke rumah sakit ya sayang?"
"Ga mau ah ma... Mending dikompres aja, entar juga sembuh kok! Mama ga perlu khawatir!" kata Naning.
"Gimana ga khawatir, anak gadis mama satu-satunya sampai terluka begini. Ini semua gara-gara papa yang ngijinin kamu ikut latihan beladiri... Nanti bakal mama marahin papamu!"
Geli dan terharu melihat seorang ibu yang begitu khawatir dengan anaknya. Tapi yang dikhawatirin tenang-tenang aja.
Yah ..wujud perhatian seorang ibu yang kadang kala kita anggap over dan cenderung mengesalkan dan cerewet. Tapi saat jauh dari ibu, baru deh kangen diperhatiin kayak gitu.
Cuman seorang ibu yang perhatiannya sebegitu besarnya...
Yeah...ibu memang makhluk yang paling istimewa.
Ga ada duanya...
Mamanya Naning segera memanggil ART nya, dan meminta dibawakan obat untuk luka, air hangat dan es untuk mengompres luka lebam di tubuh Naning.
Dengan sangat hati-hati dan telaten , beliau membersihkan luka dengan air hangat, mengobatinya, lalu mengompres luka lebam di muka Naning
Si gadis galak itu berkali-kali mengaduh dan meringis menahan perih.
"Tante, mohon maaf, saya permisi pulang dulu." kataku.
"Kok buru-buru mas Aji? Nanti dulu lah. Tante sampai lupa belum dikasih minum...!"
"Ga perlu repot-repot tante.... Yang penting Naning dah sampai rumah dengan selamat!"
"Terima kasih banyak lho mas Aji. Sudah nolongin adik..!"
"Sama-sama tante... Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum...!"
"Wa'alaikum salam... Hati2 di jalan mas Aji..!"
"Baik tante...!" kataku sambil beranjak menuju pintu keluar.
"Buru-buru amat mau kemana sih Ji? Mbok nanti pulangnya!" kata Naning.
"Banyak tugas yang harus dikerjain nih...!" kataku sambil terus berjalan.
"Makasih banyak ya..!" teriak Naning.
Aku hanya mengangkat jempol sambil terus berjalan keluar.
Huft...selesai sudah.
Aku harus sedapat mungkin menghindar dari Naning yang merupakan titisan Wening. Daripada entar ribet urusannya.
Tapi yang aneh adalah, kenapa aku jadi sering berinteraksi dengan Naning ya? Seakan ada sebuah skenario yang harus dijalankan.
Tampak seperti sesuatu yang sudah diatur..
Ah..sudahlah. Manusia hanyalah wayang, tinggal menjalani apa yang diinginkan sang dalang.
Apa yang akan terjadi nanti, terjadilah .. Aku hanya harus berbuat yang terbaik...itu saja.
Sampai di kost, Desi belum pulang kuliah. Kulihat hp, ada beberapa chat dari Desi. Dia bilang, dia pulang agak sore, sedang ngerjain tugas di rumah temennya.
Dia berpesan supaya aku menjemput Renita jam 1 siang.
Aku melihat jam di hp...wah...sudah jam 12 lewat sedikit. Aku segera sholat dzuhur, dan setelahnya langsung cabut menuju fakultas TI.
Renita sudah nunggu sambil manyun... Bibir merahnya yang seksi, saat manyun nambah seksi.aja...
Ingat Ji...itu adik pacarmu....!!!
"Dih...jelek amat manyun gitu...?" sapaku.
"Ih..mas Aji kok telat sih? Khan aku jadi bt nungguin di sini!"
"Kenapa ga nunggu di kantin aja, khan enak?"
"Males, digodain cowo2 mulu...!" jawabnya sambil.naik ke motor.
"Ya ga papa... Itu tandanya banyak yang suka sama kamu. Pilih aja salah satu!" kataku sambil menjalankan motor.
"Belum ada yang cocok...!" jawabnya singkat.
"Eh..kamu dah makan? Aku laper nih, belum makan!"
"Belum... Sekalian makan yuk mas..!"
"Mau makan apa?"
"Nasi rames aja deh mas... Di warteg!"
"Siap tuan putri...!"
Aku segera mengarahkan motor menuju warung nasi rames langganan kami, yang ga terlalu jauh dari kost.
"Makan sini apa bungkus Ren?" tanyaku.
"Bungkus aja ya mas? Sekalian es teh. Lauknya ayam deh..!"
"Oke sip...!"
Aku memesan 2 bungkus nasi rames dengab lauk ayam dan 2 es teh
Ga perlu nunggu lama, pesanan kami dah jadi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju kost.
Sesampai di kost, aku langsung membagi makanan itu, dan berlalu menuju kamarku.
"Mas, makan bareng yuk... Ga enak makan sendirian!"
"Mau di mana? Kamarku atau kamarmu?"
"Kamarku aja mas. Nanti piringnya aku siapin sekalian."
"Oke, aku cuci tangan dan kaki dulu.ya?"
"Siap mas... Aku langsung ke kamar..!"
Selssai cuci tangan dan kaki, aku menyusul Renita ke kamarnya.
Sampai di kamar Renita, semua sudah disiapkan, tinggal makan saja.
Renita sudah ganti baju dengan kaos ketat yang wow....menonjolkan sesuatu yang sudah menonjol. Bikin aku menelan ludah aja deh...
G o d a a n.........
"Ayo mas, langsung kita sikat aja!" ajak Renita.
"Kalo.ga inget lo adik pacar gue, udah gue sikat.juga lo...!" pikirku.
Kami makan bersama, sambil.ngobrol ga jelas...
"Alhamdulillah.kenyang!" kata Renita yang sudah menghabiskan makanannya.
"Alhamdulillah...!" sahutku.
"Sini piringnya mas, biar aku cuci..!" kata Renita.
"Ah..biar kucuciin aja lah..!"
"Ga boleh... Mas diem aja di sini! Aku cuci piring dulu...!"
Sambil menunggu Renita cuci piring, aku duduk di teras dan merokok.
Lagi asyik menikmati asap nikotin itu, mendadak Nyi Rambat muncul di hadapanku sambil mengedip.kedipkan matanya.

"Ga usah ganggu aku Nyi.. Atau aku tusuk nyai pake tombak kyai Cemeng?"
"Ish..mas Aji galak sekarang... Takuutt...!* katanya sambil menghilang.
Fyuh...selamat... Ga dijahilin lagi sama demit genit...
Tak lama Renita kembali dari nyuci piring di dapur kostan.
"Kok di luar mas?"
"Gerah di dalam, lagian mau meeokok!"
"Hidupin aja kipas anginnya mas...!"
"Seger di luar gini kok Ren...!"
"Oh..ya udah... Aku ngerjain tugas dulu di dalam ya mas? Kalo mas butuh apa-apa bilang aja!"
"Iya...! Aku balik ke kamarku aja ya?"
"Iya mas.. Makasih udah njemput ya?" katanya sambil mendekat padaku dan....
CUP.. sebuah ciuman mendarat di pipiku...
Aku tersentak...
"Ucapan terima kasih mas...!"
"Oh... Sering-sering aja deh..!" sahutku sambil nyengir.
"Dih..maunya... Ntar bisa dilabrak teh Desi...!"
"Asal ga ketahuan ga papa kali...!"kataku sambil ketawa dan pergi menuju kamarku.
Duh..masalah demi masalah datang bertubi-tubi. Dan semua berhubungan dengan cewe.
Apa sih yang mereka lihat dari aku, sampai pada naksir aku...
Halah..sok kepedean lo Ji...Ji...
Satu yang pasti, aku bakalan pusing ke depannya.
Aku terus mengawal Naning hingga sampai ke rumahnya.
Setelah sampai runahnya tanpa gangguan, aku berniat langsung balik ke kost.
"Ning, lo ga papa khan? Gue langsung cabut ya?" kataku.
"Eits..nanti dulu Ji. Temenin aku laporan sama nyokap. Buat saksi...! Please...!"
"Lah ..lo khan bisa laporan sendiri!"
"Biar nyokap percaya sama ceritaku Ji..please...!" katanya.
"Iya deh .. Bentar aja tapinya!"
"Nah..gitu dong... Aduh...!" katanya meringis saat luka di bibirnya terbuka lagi.
"Halah..katanya jagoan, gitu aja meringis....!" ejekku.
"Biarin... Yuk masuk...!" katanya sambil masuk ke rumah.
Saat sampai di depan pintu, mendadak pintu terbuka dan keluar sesosok makhluk setengah baya yang masih cantik. Keknya emaknya deh...
Begitu melihat Naning...
"Aduh...dik... Kamu kenapa? Kok babak belur gini? Pasti berkelahi lagi ya? Gadis kok sukanya berkelahi lho, jadi luka gini khan? Biar mama telpon papa, biat ditangkap itu orang yang nyakitin kamu. Aduh...bibir kamu berdarah Dik... Ayo masuk, biar mama obati. Siapa sih yang tega buat kamu sampai begini....bla bla bla....!" mamanya Naning heboh sendiri melihat keadaan anaknya.
"Ma...aku ga papa kok!" kata Naning.
"Ga papa gimana... Pasti sakit ini... Atau kita ke rumah sakit sekarang. Bentar, biar mama nelpon papa dulu." kata mamanya sambil beranjak masuk rumah.
Naning meraih tangan mamanya.
"Ma...aku ga papa. Ini cuma luka dikit. Malu ah. . ada temen aku tuh!" kata Naning sambil menunjukku yang sedang bengong.
Ah..jadi kangen sama ibu....

"Eh..ada temennya adik. Ayo mas, silahkan masuk!"
"Iya tante .. Makasih...!"
"Ini gimana ceritanya mas, adik sampai babak belur begini?"
"Saya juga ga tahu tante. Saat saya datang, Naning sudah begitu. Dia dikeroyok sama preman tante."
"Aji ini yang bantuin aku ngelawan preman2 itu ma... Dan juga nganterin aku pulang!"
"Wah ..makasih ya mas...siapa tadi? Oh iya..mas Aji. Terima kasih banyak mau nolongin adik dan nganter pulang!"
"Sama-sama tante, kebetulan saya lewat situ, jadi saya bantuin sebisa saya!"
"Aji ini hebat lho Ma... Dua preman yang paling kuat dihajar sama dia sampai KO! Padahal mereka bawa belati lho Ma!"
"Hah...mereka pakai sajam? Kamu nggak papa Dik? Nggak terluka?"panik mamanya Naning meneliti tubuh anaknya...
"Dibuka sekalian bajunya tante...!" kataku.........dalam hati...

"Enggak ma... Aku ga luka kena sajam kok. Cuma lebam-lebam aja kena pukul kok."
"Ke rumah sakit ya sayang?"
"Ga mau ah ma... Mending dikompres aja, entar juga sembuh kok! Mama ga perlu khawatir!" kata Naning.
"Gimana ga khawatir, anak gadis mama satu-satunya sampai terluka begini. Ini semua gara-gara papa yang ngijinin kamu ikut latihan beladiri... Nanti bakal mama marahin papamu!"
Geli dan terharu melihat seorang ibu yang begitu khawatir dengan anaknya. Tapi yang dikhawatirin tenang-tenang aja.
Yah ..wujud perhatian seorang ibu yang kadang kala kita anggap over dan cenderung mengesalkan dan cerewet. Tapi saat jauh dari ibu, baru deh kangen diperhatiin kayak gitu.
Cuman seorang ibu yang perhatiannya sebegitu besarnya...
Yeah...ibu memang makhluk yang paling istimewa.
Ga ada duanya...
Mamanya Naning segera memanggil ART nya, dan meminta dibawakan obat untuk luka, air hangat dan es untuk mengompres luka lebam di tubuh Naning.
Dengan sangat hati-hati dan telaten , beliau membersihkan luka dengan air hangat, mengobatinya, lalu mengompres luka lebam di muka Naning
Si gadis galak itu berkali-kali mengaduh dan meringis menahan perih.
"Tante, mohon maaf, saya permisi pulang dulu." kataku.
"Kok buru-buru mas Aji? Nanti dulu lah. Tante sampai lupa belum dikasih minum...!"
"Ga perlu repot-repot tante.... Yang penting Naning dah sampai rumah dengan selamat!"
"Terima kasih banyak lho mas Aji. Sudah nolongin adik..!"
"Sama-sama tante... Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum...!"
"Wa'alaikum salam... Hati2 di jalan mas Aji..!"
"Baik tante...!" kataku sambil beranjak menuju pintu keluar.
"Buru-buru amat mau kemana sih Ji? Mbok nanti pulangnya!" kata Naning.
"Banyak tugas yang harus dikerjain nih...!" kataku sambil terus berjalan.
"Makasih banyak ya..!" teriak Naning.
Aku hanya mengangkat jempol sambil terus berjalan keluar.
Huft...selesai sudah.
Aku harus sedapat mungkin menghindar dari Naning yang merupakan titisan Wening. Daripada entar ribet urusannya.
Tapi yang aneh adalah, kenapa aku jadi sering berinteraksi dengan Naning ya? Seakan ada sebuah skenario yang harus dijalankan.
Tampak seperti sesuatu yang sudah diatur..
Ah..sudahlah. Manusia hanyalah wayang, tinggal menjalani apa yang diinginkan sang dalang.
Apa yang akan terjadi nanti, terjadilah .. Aku hanya harus berbuat yang terbaik...itu saja.
Sampai di kost, Desi belum pulang kuliah. Kulihat hp, ada beberapa chat dari Desi. Dia bilang, dia pulang agak sore, sedang ngerjain tugas di rumah temennya.
Dia berpesan supaya aku menjemput Renita jam 1 siang.
Aku melihat jam di hp...wah...sudah jam 12 lewat sedikit. Aku segera sholat dzuhur, dan setelahnya langsung cabut menuju fakultas TI.
Renita sudah nunggu sambil manyun... Bibir merahnya yang seksi, saat manyun nambah seksi.aja...

Ingat Ji...itu adik pacarmu....!!!
"Dih...jelek amat manyun gitu...?" sapaku.
"Ih..mas Aji kok telat sih? Khan aku jadi bt nungguin di sini!"
"Kenapa ga nunggu di kantin aja, khan enak?"
"Males, digodain cowo2 mulu...!" jawabnya sambil.naik ke motor.
"Ya ga papa... Itu tandanya banyak yang suka sama kamu. Pilih aja salah satu!" kataku sambil menjalankan motor.
"Belum ada yang cocok...!" jawabnya singkat.
"Eh..kamu dah makan? Aku laper nih, belum makan!"
"Belum... Sekalian makan yuk mas..!"
"Mau makan apa?"
"Nasi rames aja deh mas... Di warteg!"
"Siap tuan putri...!"
Aku segera mengarahkan motor menuju warung nasi rames langganan kami, yang ga terlalu jauh dari kost.
"Makan sini apa bungkus Ren?" tanyaku.
"Bungkus aja ya mas? Sekalian es teh. Lauknya ayam deh..!"
"Oke sip...!"
Aku memesan 2 bungkus nasi rames dengab lauk ayam dan 2 es teh
Ga perlu nunggu lama, pesanan kami dah jadi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju kost.
Sesampai di kost, aku langsung membagi makanan itu, dan berlalu menuju kamarku.
"Mas, makan bareng yuk... Ga enak makan sendirian!"
"Mau di mana? Kamarku atau kamarmu?"
"Kamarku aja mas. Nanti piringnya aku siapin sekalian."
"Oke, aku cuci tangan dan kaki dulu.ya?"
"Siap mas... Aku langsung ke kamar..!"
Selssai cuci tangan dan kaki, aku menyusul Renita ke kamarnya.
Sampai di kamar Renita, semua sudah disiapkan, tinggal makan saja.
Renita sudah ganti baju dengan kaos ketat yang wow....menonjolkan sesuatu yang sudah menonjol. Bikin aku menelan ludah aja deh...
G o d a a n.........

"Ayo mas, langsung kita sikat aja!" ajak Renita.
"Kalo.ga inget lo adik pacar gue, udah gue sikat.juga lo...!" pikirku.
Kami makan bersama, sambil.ngobrol ga jelas...
"Alhamdulillah.kenyang!" kata Renita yang sudah menghabiskan makanannya.
"Alhamdulillah...!" sahutku.
"Sini piringnya mas, biar aku cuci..!" kata Renita.
"Ah..biar kucuciin aja lah..!"
"Ga boleh... Mas diem aja di sini! Aku cuci piring dulu...!"
Sambil menunggu Renita cuci piring, aku duduk di teras dan merokok.
Lagi asyik menikmati asap nikotin itu, mendadak Nyi Rambat muncul di hadapanku sambil mengedip.kedipkan matanya.

"Ga usah ganggu aku Nyi.. Atau aku tusuk nyai pake tombak kyai Cemeng?"
"Ish..mas Aji galak sekarang... Takuutt...!* katanya sambil menghilang.
Fyuh...selamat... Ga dijahilin lagi sama demit genit...
Tak lama Renita kembali dari nyuci piring di dapur kostan.
"Kok di luar mas?"
"Gerah di dalam, lagian mau meeokok!"
"Hidupin aja kipas anginnya mas...!"
"Seger di luar gini kok Ren...!"
"Oh..ya udah... Aku ngerjain tugas dulu di dalam ya mas? Kalo mas butuh apa-apa bilang aja!"
"Iya...! Aku balik ke kamarku aja ya?"
"Iya mas.. Makasih udah njemput ya?" katanya sambil mendekat padaku dan....
CUP.. sebuah ciuman mendarat di pipiku...
Aku tersentak...
"Ucapan terima kasih mas...!"
"Oh... Sering-sering aja deh..!" sahutku sambil nyengir.
"Dih..maunya... Ntar bisa dilabrak teh Desi...!"
"Asal ga ketahuan ga papa kali...!"kataku sambil ketawa dan pergi menuju kamarku.
Duh..masalah demi masalah datang bertubi-tubi. Dan semua berhubungan dengan cewe.
Apa sih yang mereka lihat dari aku, sampai pada naksir aku...

Halah..sok kepedean lo Ji...Ji...

Satu yang pasti, aku bakalan pusing ke depannya.
MFriza85 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
Tutup