- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.2K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#733
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Hari-hari puasa di tahun ketiga gue sekolah terus berlanjut. Meskipun berat gue coba melakukannya sekuat tenaga. Gimana ga berat, hari-hari biasa aja gue udah kesusahan buat ngikutin pelajaran, ditambah kondisi perut yang laper dan tenggorokan yang haus. Lapernya mah gapapa, hausnya itu loh.
Kalo biasanya jam istirahat kedua gue paling semangat buat langsung keluar kelas, selama bulan puasa gue lebih memilih buat tinggal di dalem kelas. Gila, panasnya ga ngerti gue, kalo kata orang-orang mah udah kaya neraka bocor. Dan sepertinya bukan gue doang yang punya pemikiran yang sama, anak-anak kelas gue juga, karena kita selalu ngerebutin posisi ac yang kadang suka dirubah secara sepihak.
Sama seperti kebanyakan sekolah lainnya, selama bulan puasa sekolah gue pulang cepet. Sekitar jam setengah dua atau jam dua. Itu artinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Bobby. Kalo gue inget-inget lagi, kayaknya gue lebih sering buka di luar kalo lagi hari biasa dibandingkan di rumah. Belom lagi kalau sabtu minggu ada ajakan bukber.
Tapi bukan disitu masalahnya. Hanya karena bulan puasa bukan berarti semuanya juga pada puasa, Seenggaknya buat Rico. Si kampret ini udah ga keitung buka di tengah hari bolong, dengan alasan yang lebih anjing. ‘Gue makan biar kuat puasa sampe sore.’ Gitu katanya. Kampret kan.
Jangan harap dia makannya ngumpet-ngumpet biar ga ketauan yang lain atau paling enggak ngehormatin yang puasa, kaga cuy, dia makan di depan komuk gue. Terus dengan santainya bilang, ‘Sumpah Tre, pecel ayam cak tris rasanya lebih enak pas siang-siang pas lagi puasa, kenapa bisa gitu yee.’ Yaaa mana gue tau nyet, lo yang makan pas puasa malah nanya ke gue.
Kira-kira begitu lah cobaan yang gue rasakan ketika mencoba puasa di tengah-tengah calon penghuni neraka, wkwkwk (padahal sekarang gue juga gitu). Tapi tetep ada satu hal yang ngebuat gue semangat selama ngejalanin puasa. Simple, karena gue masih harus anter jemput Putri. Meskipun kedengeran klise, kalau lagi bareng sama seseorang yang spesial jelas beda, wkwkwk.
Meskipun kadang gue suka ngeluh juga sih. Bukan karena gue harus nganterin Putri ke rumahnya, tapi karena gue harus balik lagi ke rumah Bobby dengan kondisi panas-panasan, meskipun ga setiap hari juga sih. Kadang pengen gitu gue nyeletuk buat nunggu di rumah Putri aja sampe sorean baru balik lagi, tapi gue terlalu takut tanpa alasan yang pasti.
*****
Menjadi orang yang mencintai terkadang ada perasaan ga enaknya juga, dan gue baru menyadarinya beberapa hari belakangan. Ini bukan karena faktor internal kaya kebiasaan gue atau kebiasaan Putri yang mengganggu satu sama lain, kalau itu bisa gue bilang kalau kita udah terbiasa karena udah saling kenal lama juga. Yang lebih mengganggu justru datang dari pihak-pihak eksternal.
Misalnya aja cakcakan dari temen gue waktu kita jalan ngelewatin kelasnya Putri, karena mau ga mau emang harus ngelewatin kalau mau ke lantai bawah. Temen gue yang manggil Putri dari luar pas lewat udah jadi makanan sehari-hari, bahkan intensitasnya bertambah dibandingkan waktu kita kelas sebelas dulu. Bukan apa-apa, gue cuman takut mengganggu kenyamanan Putri.
selitingan suara-suara juga kadang terdengar dari temen-temennya Putri, entah waktu gue dan Putri jalan bareng menuju kelas masing-masing atau ketika gue nungguin Putri pas balik. Tapi untungnya Putri ga pernah ngebahas dan gue juga ga mau ngebahas. Kita bersikap layaknya seorang temen aja yang emang kebetulan rumahnya rada searah.
Tapi sebenernya yang lebih mengganggu gue adalah cowok-cowok yang berusaha ngedeketin Putri, entah itu bercanda sekalian aji mumpung atau yang emang beneran serius. Misalnya, beberapa anak IPS yang emang terkenal di angkatan yang urat malunya rada-rada putus. Kalau mereka ada keperluan atau nyamperin temennya yang ada di kelas IPA, godain Putri dengan sekedar manggil namanya atau ngajak ngobrol bareng bukan hal yang terjadi sekali dua kali. Gue tau orang-orang itu juga dari kelas sepuluh karena mereka kadang-kadang main ke kelas gue, yang juga adalah kelasnya Putri.
Atau misalnya Kiwas, temen sekelas gue yang emang suka beneran sama Putri. Gue pernah denger ini langsung dari temen kelasan gue juga waktu awal-awal kelas sebelas dan waktu gue masih deket sama Putri. Jadi, mungkin bagi Kiwas sekelas sama Putri adalah salah satu kesempatan buat dia deket sama Putri, meskipun selama ini gue liat Progresnya masih gitu-gitu aja. Gimana mau maju, orang anter jemputnya sama gue, wkwkwk. Tapi gue ga mau jumawa dulu.
Ada yang masih inget si Hasan? Kalau ga inget ga papa sih, ga penting juga. Dulu dia ketua kelas waktu gue kelas sepuluh. Sekarang dia menjabat sebagai salah satu pemimpin ekskul rohis dan juga ana taekwondo. Bukan sebuah appeal yang menarik sih sebenernya, wkwkwk. Tapi sekali-sekali waktu dia juga masih berusaha deketin Putri, Entah dari sekedar nyapa atau ngajak ngobrol.
Yang paling mengganggu gue sebenenrya adalah si Andra, yaitu mantannya Putri. Kelasnya sebelahan sama Putri soalnya. Dan temen-temennya Andra yang ada di kelasnya Putri mau ga mau ngebuat Putri jadi deket juga sama temen-temennya dia, baik cewek, maupun cowok, makin banyak dah tuh celah buat masuk. Ditambah lagi dari gelagatnya dia sih keliatan banget kalau dia masih ngejar-ngejar Putri. Kebanyakan saat jam istirahat dia melancarkan aksi-aksinya. Karena anak kelasan gue dan anak kelasan Putri maupun Andra ga ada yang satu sirkel, jadi gue cuman bisa ngeliatin dari jauh. Paling Sam doang yang bisa gue mintain info. Dia kan beda kelas sendiri.
Gue baru menyadari itu semua setelah lama jauh sama Putri, gue sadar kalau selama ini yang ngincer Putri emang banyak. Anaknya rada pendiem, ga banyak tingkah, cantiknya natural tanpa make up dibanding cewe-cewe yang emang terkenal di angkatan atau yang emang sering nongkrong di tongkrongan sekolah, terus Putri tuh baik ke semua orang. Kayaknya gue harus menerima kenyataan kalau saingan gue emang banyak. Itu yang di dalem sekolah, belom yang di luar sekolah.
Pernah suatu hari di bulan puasa,gue udah janji buat jemput Putri dari tempat bimbelnya dan Putri mengiyakan. Seperti biasa, buat menghabiskan waktu gue nunggu di rumah Bobby. Banyak temen-temen kelasan gue yang lainnya juga, cuman mereka emang males balik, paling engga yang rumahnya rada jauh dari sekolah.
Selepas maghrib abis buka puasa, temen-temen gua yang lainnya lagi pada ngerokok di balkon rumah Bobby. Sementara gue kekenyangan, ga bisa gerak, kalap buka puasa, akhirnya gue cuman bisa rebahan di kamarnya Bobby yang kalo siang-siang jadi tempat ngadem kita selama puasa.
Tiba-tiba aja mata gue jadi ngantuk. Perut kenyang, tiduran di bawah ac, enak banget ini kalau tidur. Gue liat jam dinding yang ada di kamar Bobby, masih sekitar jam setengah tujuh. Itu artinya gue punya waktu kurang lebih satu setengah jam buat tidur dulu.
Baru ngerasa bentar gue tidur udah dibangunin. Gue belom tau siapa yang ngebangunin, tapi cara ngebanguninnya ngeselin banget, gue ditendang-tendang kakinya sambil ada suara ‘woy Tre, bangun.’ Sebenenrnya gue rada bales nanggepinnya, karena becandaan klasik jaman dulu ‘woy bangun, katnya mau tidur.’ Emang baik kalo digituin.
“Apaan sih elah.” Omel gue berusaha lanjut tidur lagi.
“Kaga jemput Putri lo?”
“Jam berapa emang sekarang.”
“Jam delapan nyet.”
Dari suara yang ngomong sih suaranya Rico, ngedenger suara dia yang ngomong makin kaga percaya gue kalau sekarang udah jam delapan. Dengan terpaksa gue bangkit dari tempat tidur. Gue liat ada Rico yang berdiri di sebelah kasur, terus gue liat jam dinding yang ada di belakang dia sambil ngucek-ngucek mata.
“Nyet, jam delapan Nyet.” Buru-buru gue keluar kamar buat ngerapihin barang-barang gue.
“Kan gue bilang juga apa.” Jawab Rico nyantai sambil ngikutin gue keluar kamar.
“Kok lo kaga ngebangunin gue dah, telat nih gue.” Kata gue panik.
“Yeee anjing, ini gue bangunin.”
“Hp gue mana hp gue.” Sekarang gue malah kelimpungan nyariin hp yang kaga ada di kantong celana.
“Mana gue tau nyet, di kasur kali.”
Buru-buru gue balik lagi ke kamar Bobby dan ngecek kasurnya dia, ternyata hp gue ada di sebelah bantal. Kebiasaan emang lupa naro gini. Tau gitu gue ngeset alarm dulu tadi. Pas gue cek ternyata ada bbm dari Putri yang ngabarin kalau dia udah keluar kelas dan nanyain gue dimana. Baru banget gue mau bales ternyata batre hp gue abis. Kampreet kampret, ada-ada aja dah PR.
Gue langsung pamitan sama temen-temen gue yang lain dang langsung buru-buru pergi ke tempat bimbelnya Putri. Tadi gue sempet liat jam dikit udah nunjukin angka delapan lewat sedikit. Kalo bawa motor nyantai bisa sepuluh sampe lima belas menit, tapi kalo masuk enter god mode bawa motornya, yaaa bisa lah lima menit kurang dari blok A ke rempoa, asal kaga macet aja.
Satu-satunya rintangan gue adalah pas ngelewatin pondok pinang, yang pas di turunan terus tanjakannya lagi tuh, kalau jam-jam pulang kantor gini emang pasti macet, apalagi pas bulan puasa. Dan emang gue harus ketahan sebentar disana, tapi bakat-bakat joki terpendam gue keluarin kaya orang baru belajar motor. Ada celah dikit salip, lenggang dikit gas.
Sampe di tempat bimbelnya Putri gue rada ngos-ngosan juga, padahal kan naik motor yak, harusnya motornya yang ngos-ngosan. Pandangan gue langsung menyapu ke seluruh penjuru tepat bimbel. Biasanya gue hanya akan menunggu di parkiran, tapi karena telat gue mau ga mau harus nyamperin bangunannya, paling engga di pintu depannya dah, soalnya gue belom ngeliat sosok Putri.
Gue udah berdiri di depan pintu masuk tempat bimbelnya Putri, sayangnya gue ga bisa ngeliat ke dalem karena kacanya gelap. Sempet bingung juga apa gue harus masuk biar langsung dapet kepastian atau nunggu ga jelas.
Untungnya ga lama gue berdiri di depan pintu, akhirnya kebuka juga pintunya karena ada yang mau keluar. Beruntungnya lagi yang keluar dari dalem pintu tersebut adalah Putri. Kita berdua langsung tatap-tatapan, dan ga lama setelahnya ada cowok yang keluar dari dalem pintu. Dari seragamnya sih sama putih abu-abu, tapi dia make dasi yang menunjukkan berasal dari sekolah lain.
Gue perhatikan cowok tersebut, kayaknya ini bukan pertama kalinya gue ngeliat dia. Waktu dari pertama kali gue jemput Putri gue udah sering liat, dan beberapa kali selama gue jemput Putri gue juga ngeliat dia bareng temen kelasan bimbelnya mungkin.
"Eh gue dijemput, berarti ga jadi yaa." Kata Putri ke cowo tersebut.
"Yaaah, tapi Put." Cowo tersebut terlihat berusaha mencari kata-kata lanjutan, tapi tiba-tiba berhenti. "Yaudah deh, gue cabut duluan yaa Put." Dia pun dadah-dadahan ke Putri, dan Putri membalesnya dengan durasi lebih singkat.
Waktu dia ngelewatin gue, dia sempet ngeliatin gue dengan tatapan ga enak, kemudian berlalu begitu aja menuju ke sebuah mobil yang terparkit. Shit, feeling gue ga enak, nambah saingan lagi nih gue. Kayaknya sih dia tadi udah nawarin Putri balik bareng karena gue telat jemput, mungkin ditambah iming-iming naik mobil? gue ga tau. Untungnya gue belom terlambat nyampenya.
Gue balik arah ke Putri sekarang, tampangnya sih rada ceberut, bete kayaknya nunggu kelamaan.
"Lama banget sih Tre." Geritu Putri sambil kita berdua jalan menuju motor gue.
"Sorry sorry Put."
"Kenapa di read doang bbm gue?" Kayaknya beneran ngambek nih orang.
"Pas mau bales hp gue mati, sumpah deh Put." Kata gue sambil nunjukkin hp gue yang mati.
"Terus kenapa telat?"
"Ketiduran Put, hehehe." Jawab gue polos.
Tanpa ngebales omongan gue Putri langsung naik ke motor gue setelah make helm. Selama di perjalanan dia juga lebih banyak diem. Tuh kan, beneran ngambek. Gue sengaja memacu motor gue dengan kecepatan pelan sambil mikir gimana caranya biar Putri ga ngambek lagi. Ga tau kepikiran dari mana, gue ngebelokin motor gue ke mini market yang kita lewatin.
"Ngapain Tre?" tanya Putri masih dengan nada ketus.
"Beli eskrim, bm gue, hahaha." Jawab gue sambil ketawa garing, Sementara Putri masih ga ngerespon. Meski begitu dia tetep ngikuitn gue ke dalem mini market, dan langsung ke kotak eskrim.
Kalau refrensi gue film-film romantis mungkin gue bakal langsung beliik eskrim rasa stroberi sebagai permintaan maaf, tapi otak iseng gue lebih maju selangkah dibanding otak romantis gue.
Waktu lagi milih eskrim, sekangaja gue ga nawarin Putri, gue malah asik sendiri milih eskrim. Pilihan gue jatuh ke eskrim cup yang ukurannya rada gede, terus nutup lagi tempat eskrimnya.
"Udah?" Tanya Putri dengan nada bete.
"Udah nih." Kata gue sambil nunjukin eskrim yang gue pegang. Tapi anehnya ga ada satupun dari kita yang beranjak. "Mau Put?" tanya gue akhirnya.
"Engga ah, males." Jawabnya masih bete.
"Gue bayarin."
"Bener yaaa?"
"Iyeee."
"Yang mana aja boleh?"
"Bebas."
Abis itu dia jalan begitu aja ngelewatin gue, terus milih-milih eskrim. Gue malah jadi senyum-senyum sendiri ngeliat tingkah laku dia yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Udah Put?"
"Udah, nih." Kata Putri sambil nunjukin eskrim yang dia ambil.
"Buset dah, cornetto." Bisa-bisanya yang ngebayarin beli yang lebih murah.
"Ga ikhlas?"
"Ikhlas ikhlas."
"Yeeeee." Sahut dia kegirangan. Apa sih yang engga buat Putri, wkwkwkwk.
Akhirnya kita malah duduk di pinggir mini market sambil ngabisin eskrim yang kita beli. Eh sorry, eskrim yang gue beli, wkwkwk.
Selagi makan, gue sempet mau nanya cowok yang tadi bareng dia di tempat bimbel itu siapa, anak mana, terus hubungan sama Putri apa. Tapi gue sadar diri, masa iya tiba-tiba posesif. Apa lagi gue dan Putri juga ga ada hubungan apa-apa. Gue bukan siapa-siapanya Putri.
"Eh Tre, anak X6 mau ngadain bukber katanya?"
"Ga tau sih, kata anak-anak yang di IPS ya?"
"Iyaa, lo dateng ga?"
"Ga tau deh, lo dateng ga Put?"
"Belom tau sih, tergantung dimana dulu. Tapi kalo lo ikut gue bareng yaa Tre."
"Sip. selow."
Setelah eskrim abis, kita pun melanjutkan perjalanan pulang.
Hari-hari puasa di tahun ketiga gue sekolah terus berlanjut. Meskipun berat gue coba melakukannya sekuat tenaga. Gimana ga berat, hari-hari biasa aja gue udah kesusahan buat ngikutin pelajaran, ditambah kondisi perut yang laper dan tenggorokan yang haus. Lapernya mah gapapa, hausnya itu loh.
Kalo biasanya jam istirahat kedua gue paling semangat buat langsung keluar kelas, selama bulan puasa gue lebih memilih buat tinggal di dalem kelas. Gila, panasnya ga ngerti gue, kalo kata orang-orang mah udah kaya neraka bocor. Dan sepertinya bukan gue doang yang punya pemikiran yang sama, anak-anak kelas gue juga, karena kita selalu ngerebutin posisi ac yang kadang suka dirubah secara sepihak.
Sama seperti kebanyakan sekolah lainnya, selama bulan puasa sekolah gue pulang cepet. Sekitar jam setengah dua atau jam dua. Itu artinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Bobby. Kalo gue inget-inget lagi, kayaknya gue lebih sering buka di luar kalo lagi hari biasa dibandingkan di rumah. Belom lagi kalau sabtu minggu ada ajakan bukber.
Tapi bukan disitu masalahnya. Hanya karena bulan puasa bukan berarti semuanya juga pada puasa, Seenggaknya buat Rico. Si kampret ini udah ga keitung buka di tengah hari bolong, dengan alasan yang lebih anjing. ‘Gue makan biar kuat puasa sampe sore.’ Gitu katanya. Kampret kan.
Jangan harap dia makannya ngumpet-ngumpet biar ga ketauan yang lain atau paling enggak ngehormatin yang puasa, kaga cuy, dia makan di depan komuk gue. Terus dengan santainya bilang, ‘Sumpah Tre, pecel ayam cak tris rasanya lebih enak pas siang-siang pas lagi puasa, kenapa bisa gitu yee.’ Yaaa mana gue tau nyet, lo yang makan pas puasa malah nanya ke gue.
Kira-kira begitu lah cobaan yang gue rasakan ketika mencoba puasa di tengah-tengah calon penghuni neraka, wkwkwk (padahal sekarang gue juga gitu). Tapi tetep ada satu hal yang ngebuat gue semangat selama ngejalanin puasa. Simple, karena gue masih harus anter jemput Putri. Meskipun kedengeran klise, kalau lagi bareng sama seseorang yang spesial jelas beda, wkwkwk.
Meskipun kadang gue suka ngeluh juga sih. Bukan karena gue harus nganterin Putri ke rumahnya, tapi karena gue harus balik lagi ke rumah Bobby dengan kondisi panas-panasan, meskipun ga setiap hari juga sih. Kadang pengen gitu gue nyeletuk buat nunggu di rumah Putri aja sampe sorean baru balik lagi, tapi gue terlalu takut tanpa alasan yang pasti.
*****
Menjadi orang yang mencintai terkadang ada perasaan ga enaknya juga, dan gue baru menyadarinya beberapa hari belakangan. Ini bukan karena faktor internal kaya kebiasaan gue atau kebiasaan Putri yang mengganggu satu sama lain, kalau itu bisa gue bilang kalau kita udah terbiasa karena udah saling kenal lama juga. Yang lebih mengganggu justru datang dari pihak-pihak eksternal.
Misalnya aja cakcakan dari temen gue waktu kita jalan ngelewatin kelasnya Putri, karena mau ga mau emang harus ngelewatin kalau mau ke lantai bawah. Temen gue yang manggil Putri dari luar pas lewat udah jadi makanan sehari-hari, bahkan intensitasnya bertambah dibandingkan waktu kita kelas sebelas dulu. Bukan apa-apa, gue cuman takut mengganggu kenyamanan Putri.
selitingan suara-suara juga kadang terdengar dari temen-temennya Putri, entah waktu gue dan Putri jalan bareng menuju kelas masing-masing atau ketika gue nungguin Putri pas balik. Tapi untungnya Putri ga pernah ngebahas dan gue juga ga mau ngebahas. Kita bersikap layaknya seorang temen aja yang emang kebetulan rumahnya rada searah.
Tapi sebenernya yang lebih mengganggu gue adalah cowok-cowok yang berusaha ngedeketin Putri, entah itu bercanda sekalian aji mumpung atau yang emang beneran serius. Misalnya, beberapa anak IPS yang emang terkenal di angkatan yang urat malunya rada-rada putus. Kalau mereka ada keperluan atau nyamperin temennya yang ada di kelas IPA, godain Putri dengan sekedar manggil namanya atau ngajak ngobrol bareng bukan hal yang terjadi sekali dua kali. Gue tau orang-orang itu juga dari kelas sepuluh karena mereka kadang-kadang main ke kelas gue, yang juga adalah kelasnya Putri.
Atau misalnya Kiwas, temen sekelas gue yang emang suka beneran sama Putri. Gue pernah denger ini langsung dari temen kelasan gue juga waktu awal-awal kelas sebelas dan waktu gue masih deket sama Putri. Jadi, mungkin bagi Kiwas sekelas sama Putri adalah salah satu kesempatan buat dia deket sama Putri, meskipun selama ini gue liat Progresnya masih gitu-gitu aja. Gimana mau maju, orang anter jemputnya sama gue, wkwkwk. Tapi gue ga mau jumawa dulu.
Ada yang masih inget si Hasan? Kalau ga inget ga papa sih, ga penting juga. Dulu dia ketua kelas waktu gue kelas sepuluh. Sekarang dia menjabat sebagai salah satu pemimpin ekskul rohis dan juga ana taekwondo. Bukan sebuah appeal yang menarik sih sebenernya, wkwkwk. Tapi sekali-sekali waktu dia juga masih berusaha deketin Putri, Entah dari sekedar nyapa atau ngajak ngobrol.
Yang paling mengganggu gue sebenenrya adalah si Andra, yaitu mantannya Putri. Kelasnya sebelahan sama Putri soalnya. Dan temen-temennya Andra yang ada di kelasnya Putri mau ga mau ngebuat Putri jadi deket juga sama temen-temennya dia, baik cewek, maupun cowok, makin banyak dah tuh celah buat masuk. Ditambah lagi dari gelagatnya dia sih keliatan banget kalau dia masih ngejar-ngejar Putri. Kebanyakan saat jam istirahat dia melancarkan aksi-aksinya. Karena anak kelasan gue dan anak kelasan Putri maupun Andra ga ada yang satu sirkel, jadi gue cuman bisa ngeliatin dari jauh. Paling Sam doang yang bisa gue mintain info. Dia kan beda kelas sendiri.
Gue baru menyadari itu semua setelah lama jauh sama Putri, gue sadar kalau selama ini yang ngincer Putri emang banyak. Anaknya rada pendiem, ga banyak tingkah, cantiknya natural tanpa make up dibanding cewe-cewe yang emang terkenal di angkatan atau yang emang sering nongkrong di tongkrongan sekolah, terus Putri tuh baik ke semua orang. Kayaknya gue harus menerima kenyataan kalau saingan gue emang banyak. Itu yang di dalem sekolah, belom yang di luar sekolah.
Pernah suatu hari di bulan puasa,gue udah janji buat jemput Putri dari tempat bimbelnya dan Putri mengiyakan. Seperti biasa, buat menghabiskan waktu gue nunggu di rumah Bobby. Banyak temen-temen kelasan gue yang lainnya juga, cuman mereka emang males balik, paling engga yang rumahnya rada jauh dari sekolah.
Selepas maghrib abis buka puasa, temen-temen gua yang lainnya lagi pada ngerokok di balkon rumah Bobby. Sementara gue kekenyangan, ga bisa gerak, kalap buka puasa, akhirnya gue cuman bisa rebahan di kamarnya Bobby yang kalo siang-siang jadi tempat ngadem kita selama puasa.
Tiba-tiba aja mata gue jadi ngantuk. Perut kenyang, tiduran di bawah ac, enak banget ini kalau tidur. Gue liat jam dinding yang ada di kamar Bobby, masih sekitar jam setengah tujuh. Itu artinya gue punya waktu kurang lebih satu setengah jam buat tidur dulu.
Baru ngerasa bentar gue tidur udah dibangunin. Gue belom tau siapa yang ngebangunin, tapi cara ngebanguninnya ngeselin banget, gue ditendang-tendang kakinya sambil ada suara ‘woy Tre, bangun.’ Sebenenrnya gue rada bales nanggepinnya, karena becandaan klasik jaman dulu ‘woy bangun, katnya mau tidur.’ Emang baik kalo digituin.
“Apaan sih elah.” Omel gue berusaha lanjut tidur lagi.
“Kaga jemput Putri lo?”
“Jam berapa emang sekarang.”
“Jam delapan nyet.”
Dari suara yang ngomong sih suaranya Rico, ngedenger suara dia yang ngomong makin kaga percaya gue kalau sekarang udah jam delapan. Dengan terpaksa gue bangkit dari tempat tidur. Gue liat ada Rico yang berdiri di sebelah kasur, terus gue liat jam dinding yang ada di belakang dia sambil ngucek-ngucek mata.
“Nyet, jam delapan Nyet.” Buru-buru gue keluar kamar buat ngerapihin barang-barang gue.
“Kan gue bilang juga apa.” Jawab Rico nyantai sambil ngikutin gue keluar kamar.
“Kok lo kaga ngebangunin gue dah, telat nih gue.” Kata gue panik.
“Yeee anjing, ini gue bangunin.”
“Hp gue mana hp gue.” Sekarang gue malah kelimpungan nyariin hp yang kaga ada di kantong celana.
“Mana gue tau nyet, di kasur kali.”
Buru-buru gue balik lagi ke kamar Bobby dan ngecek kasurnya dia, ternyata hp gue ada di sebelah bantal. Kebiasaan emang lupa naro gini. Tau gitu gue ngeset alarm dulu tadi. Pas gue cek ternyata ada bbm dari Putri yang ngabarin kalau dia udah keluar kelas dan nanyain gue dimana. Baru banget gue mau bales ternyata batre hp gue abis. Kampreet kampret, ada-ada aja dah PR.
Gue langsung pamitan sama temen-temen gue yang lain dang langsung buru-buru pergi ke tempat bimbelnya Putri. Tadi gue sempet liat jam dikit udah nunjukin angka delapan lewat sedikit. Kalo bawa motor nyantai bisa sepuluh sampe lima belas menit, tapi kalo masuk enter god mode bawa motornya, yaaa bisa lah lima menit kurang dari blok A ke rempoa, asal kaga macet aja.
Satu-satunya rintangan gue adalah pas ngelewatin pondok pinang, yang pas di turunan terus tanjakannya lagi tuh, kalau jam-jam pulang kantor gini emang pasti macet, apalagi pas bulan puasa. Dan emang gue harus ketahan sebentar disana, tapi bakat-bakat joki terpendam gue keluarin kaya orang baru belajar motor. Ada celah dikit salip, lenggang dikit gas.
Sampe di tempat bimbelnya Putri gue rada ngos-ngosan juga, padahal kan naik motor yak, harusnya motornya yang ngos-ngosan. Pandangan gue langsung menyapu ke seluruh penjuru tepat bimbel. Biasanya gue hanya akan menunggu di parkiran, tapi karena telat gue mau ga mau harus nyamperin bangunannya, paling engga di pintu depannya dah, soalnya gue belom ngeliat sosok Putri.
Gue udah berdiri di depan pintu masuk tempat bimbelnya Putri, sayangnya gue ga bisa ngeliat ke dalem karena kacanya gelap. Sempet bingung juga apa gue harus masuk biar langsung dapet kepastian atau nunggu ga jelas.
Untungnya ga lama gue berdiri di depan pintu, akhirnya kebuka juga pintunya karena ada yang mau keluar. Beruntungnya lagi yang keluar dari dalem pintu tersebut adalah Putri. Kita berdua langsung tatap-tatapan, dan ga lama setelahnya ada cowok yang keluar dari dalem pintu. Dari seragamnya sih sama putih abu-abu, tapi dia make dasi yang menunjukkan berasal dari sekolah lain.
Gue perhatikan cowok tersebut, kayaknya ini bukan pertama kalinya gue ngeliat dia. Waktu dari pertama kali gue jemput Putri gue udah sering liat, dan beberapa kali selama gue jemput Putri gue juga ngeliat dia bareng temen kelasan bimbelnya mungkin.
"Eh gue dijemput, berarti ga jadi yaa." Kata Putri ke cowo tersebut.
"Yaaah, tapi Put." Cowo tersebut terlihat berusaha mencari kata-kata lanjutan, tapi tiba-tiba berhenti. "Yaudah deh, gue cabut duluan yaa Put." Dia pun dadah-dadahan ke Putri, dan Putri membalesnya dengan durasi lebih singkat.
Waktu dia ngelewatin gue, dia sempet ngeliatin gue dengan tatapan ga enak, kemudian berlalu begitu aja menuju ke sebuah mobil yang terparkit. Shit, feeling gue ga enak, nambah saingan lagi nih gue. Kayaknya sih dia tadi udah nawarin Putri balik bareng karena gue telat jemput, mungkin ditambah iming-iming naik mobil? gue ga tau. Untungnya gue belom terlambat nyampenya.
Gue balik arah ke Putri sekarang, tampangnya sih rada ceberut, bete kayaknya nunggu kelamaan.
"Lama banget sih Tre." Geritu Putri sambil kita berdua jalan menuju motor gue.
"Sorry sorry Put."
"Kenapa di read doang bbm gue?" Kayaknya beneran ngambek nih orang.
"Pas mau bales hp gue mati, sumpah deh Put." Kata gue sambil nunjukkin hp gue yang mati.
"Terus kenapa telat?"
"Ketiduran Put, hehehe." Jawab gue polos.
Tanpa ngebales omongan gue Putri langsung naik ke motor gue setelah make helm. Selama di perjalanan dia juga lebih banyak diem. Tuh kan, beneran ngambek. Gue sengaja memacu motor gue dengan kecepatan pelan sambil mikir gimana caranya biar Putri ga ngambek lagi. Ga tau kepikiran dari mana, gue ngebelokin motor gue ke mini market yang kita lewatin.
"Ngapain Tre?" tanya Putri masih dengan nada ketus.
"Beli eskrim, bm gue, hahaha." Jawab gue sambil ketawa garing, Sementara Putri masih ga ngerespon. Meski begitu dia tetep ngikuitn gue ke dalem mini market, dan langsung ke kotak eskrim.
Kalau refrensi gue film-film romantis mungkin gue bakal langsung beliik eskrim rasa stroberi sebagai permintaan maaf, tapi otak iseng gue lebih maju selangkah dibanding otak romantis gue.
Waktu lagi milih eskrim, sekangaja gue ga nawarin Putri, gue malah asik sendiri milih eskrim. Pilihan gue jatuh ke eskrim cup yang ukurannya rada gede, terus nutup lagi tempat eskrimnya.
"Udah?" Tanya Putri dengan nada bete.
"Udah nih." Kata gue sambil nunjukin eskrim yang gue pegang. Tapi anehnya ga ada satupun dari kita yang beranjak. "Mau Put?" tanya gue akhirnya.
"Engga ah, males." Jawabnya masih bete.
"Gue bayarin."
"Bener yaaa?"
"Iyeee."
"Yang mana aja boleh?"
"Bebas."
Abis itu dia jalan begitu aja ngelewatin gue, terus milih-milih eskrim. Gue malah jadi senyum-senyum sendiri ngeliat tingkah laku dia yang langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Udah Put?"
"Udah, nih." Kata Putri sambil nunjukin eskrim yang dia ambil.
"Buset dah, cornetto." Bisa-bisanya yang ngebayarin beli yang lebih murah.
"Ga ikhlas?"
"Ikhlas ikhlas."
"Yeeeee." Sahut dia kegirangan. Apa sih yang engga buat Putri, wkwkwkwk.
Akhirnya kita malah duduk di pinggir mini market sambil ngabisin eskrim yang kita beli. Eh sorry, eskrim yang gue beli, wkwkwk.
Selagi makan, gue sempet mau nanya cowok yang tadi bareng dia di tempat bimbel itu siapa, anak mana, terus hubungan sama Putri apa. Tapi gue sadar diri, masa iya tiba-tiba posesif. Apa lagi gue dan Putri juga ga ada hubungan apa-apa. Gue bukan siapa-siapanya Putri.
"Eh Tre, anak X6 mau ngadain bukber katanya?"
"Ga tau sih, kata anak-anak yang di IPS ya?"
"Iyaa, lo dateng ga?"
"Ga tau deh, lo dateng ga Put?"
"Belom tau sih, tergantung dimana dulu. Tapi kalo lo ikut gue bareng yaa Tre."
"Sip. selow."
Setelah eskrim abis, kita pun melanjutkan perjalanan pulang.
japraha47 dan 18 lainnya memberi reputasi
19