- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
231.5K
2.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#355
Di Serang Gufron dan Barzam
“kenapa kamu baru nongol, kenapa nggak dari kemarin saat aku membutuhkanmu Shinta” aku berkata sambil mendekat pada nya
“kenapa Ryan ku si penakut? Kamu ini ya nggak pernah belajar dari dulu, selalu mengandalkan aku atau Aruna” Shinta mendekatiku juga dan sambil kemudian memeluku.
Rasa nyaman akan kehadirannya kini kembali lagi kurasakan setelah beberapa lama kita terpisah, Barzam yang datang bersama Shinta hanya bisa melihat kami melepas kangen satu sama lain.
“kemana saja kamu Shinta, kenapa sama sekali tak pernah menemui ku, bahkan auramu pun tak pernah aku rasakan” tanyaku sambil mendekap tubuhnya yang membuatku merasa nyaman akan kedatangannya
“seperti yang kamu tahu Ryan, saat aku berpamitan padamu waktu itu, aku melatih diriku bersama para panglima ini” Shinta melepas pelukannya dan menjelaskan kemana dia saat tak bersamaku, dia menunjuk Barzam dan Gufron, ternyata selama ini Shinta bersama mereka saling berlatih dan membantu tugas dari bang Damar.
“apakah setelah kita bertemu ini, kamu akan kembali lagi bersamaku Shinta?” tanyaku penuh harapan
“…………” Shinta hanya menjawab dengan senyuman saja, namun terlihat dimatanya ada hal yang ingin disampaikan
Saat Shinta tak menjawab, Aruna melangkah maju mendekati kita berdua yang sedang ngobrol, dan menjelaskan arti senyuman Shinta itu padaku
“belum Ryan, dia masih harus membantu Tuan Aji sampai nanti waktunya tiba, dan kamu akan tau kapan itu akan terjadi, aku tahu, Shinta juga sebenarnya sudah ingin kembali padamu, namun Den Ayu sudah memberi perintah untuk Shinta melatih dirinya dulu dan membantu Tuan Aji, tenang masih ada aku, dan mungkin Gufron yang akan terus bolak balik memberi kabar tentang Shinta” terang Aruna menjelaskan.
“terimakasih adiku, maaf aku malah jadi merepotkanmu” ucap Shinta pada aruna sambil menunduk
“ha, tunggu dulu, kalian ini kakak beradik, kenapa aku baru tahu” protesku dengan ekspresi penuh keheranan
“hahaha, kamu ini yan, masa iya nggak keliatan ya kalo kita ini kakak beradik, kita kan sering bertengkar itu karena apa, ya karena kita mau membuktikan siapa yang paling hebat dalam keluarga kita” terang Aruna
“sudah sudah, maklum lah kalo Ryan tidak tau Aruna, kan memang kita nggak begitu mirip hihihi” tambah Shinta menjelaskan
“haha Den Ryan ini memang polos dan lucu ya, jadi selama ini tidak tau ya kalo mereka ini kakak beradik hahaha” Tanya Barzam padaku
Aku menggelengkan kepala sambil terus memperhatikan kedua wajah Shinta dan Aruna melihat apakah ada kemiripan atau tidak, beberapa kali di amati tetap tidak ada persamaan mereka sama sekali, wajah, mata, hidung, telinga, bibir, apapun itu sama sekali tak ada yang mirip.
“Aku sama sekali nggak percaya kalian kakak beradik, nggak ada yang mirip sama sekali” protesku pada mereka semua
“haha kamu ini yan, coba lihat lagi pasti ada kok” terang Shinta padaku
“oh iya iya ada ternyata yang sama” jawabku sambil terus memperhatikan wajah mereka
“oh ya apa coba yang mirip” Aruna bertanya sambil tersenyum riang
“ada kok ternyata, sama bahkan sangat sama tak ada bedanya sedikitpun” jawabku sambil sedikit tersenyum
“apa itu Ryan?” Tanya Aruna dan Shinta penasaran
“ada satu dan kenapa baru saja ku sadari ya, yang sama persis itu adalah ………. , sifat centil kalian, sifat penggoda kalian hehehe sangat mirip sekali itu” jawabku sambil tertawa
Tak kusangka respon dari mereka berdua duluar dugaan, dengan bersama sama Aruna dan Shinta menjitak kepalaku tepat sekali di ubun ubun, rasa pegal di jitak sangat terasa.
“dasar kamu ini yan masih aja kaya dulu, selalu nyleneh jawabanmu, biarin lah aku centil, aku suka godain kamu, itu kan suka suka aku” protes Shinta dengan wajah cemberutnya yang khas.
Di saat aku sedang di omeli Shinta karena guyonanku itu, gufron melerai dan mulai bebicara serius kenapa kita disini dan kenapa Gufron dan Aruna mengajak Shinta dan Barzam kemari, sungguh tak kusangka ternyata setelah aku cidera pun, tubuh astral ku ini harus terus berlatih (entah benar atau bukan ini tubuh astral, tapi yang jelas saat bangun akan terasa efeknya), memang tidak terasa sakit kakiku yang cidera itu, tapi nanti rasa lelah atau efek dari latihan itu akan ku rasakan saat aku terbangun nanti.
“sudah ya reuninya cukup kan, kita akan mulai latihannya, oh iya sebelum itu, sedekat apa sih tuan putri Shinta dan tuan putri Aruna ini dengan Den Ryan” Barzam berkata dengan sopannya
“kalo ditanya sudah sedekat apa, aku merasa sudah bukan dekat lagi, mereka ini sudah menjadi bagian dari hidupku wahai Barzam, saat Shinta pergi, aku merasa ada hal atau sesuatu yang benar benar hilang dan tak kan kutemui gantinya, bahkan walau masih ada Aruna di sisihku pun aku masih merasa kehilangan, karna bagiku mereka berdua ini satu paket”jelasku pada Barzam.
Terlihat Shinta melirik kearahku sambil tersipu malu mendengar penjelasanku ini, tapi memang itu lah yang aku rasakan selama dia tak ada di dekatku, aku memiliki ruang kosong yang entah harus mengisinya dengan apa
“memang kenapa kau tanyakan itu Barzam” Tanya Shinta pada Barzam
“kita akan berlatih menggunakan itu, supaya den Ryan bisa mengatur cakra dasar perlindungan ini” jelas Gufron pada ku dan Shinta
“tunggu maksudnya apa ini” Tanya Aruna kebingungan
“Tuan Putri Shinta, maaf saya mau bertanya, bukan bermaksud menyombongkan, tapi Tuan Putri sudah mengetahui kekuatan saya dan Gufron kan, bagaimana menurut anda” Tanya Barzam pada Shinta
“kekuatan kalian sangat besar, aku bahkan belum bisa menandingi kekuatan kalian” terang Shinta pada Barzam
“ok, maka dari itu kita…….. MULAI BERLATIH PERTAHAN” dengan suara menggelegar, Barzam dan Gufron berteriak sambil mengantamkan sebuah Kampak dan mengayunkan pedang kearah Shinta dan Aruna.
Aku yang terkejut bukanya mengindar malah hanya menundukan kepala sambil menutup kepalaku menggunakan tanganku, sebuah pedang yang di ayunkan oleh Gufron hampir saja menebas badanku jika Shinta tak menariku dan membawaku ke area yang aman, dari kejauhan terlihat Barzam sedang mengayun kan kampak nya ke Arah Aruna, dan terlihat Aruna seperti kualahan menghadapu sosok Barzam.
“HOOYYY JANGAN LENGAH, MATILAH KALIAN KALO SEPERTI ITU” sosok Gufron berteriak keras dengan suara yang besar seperti seorang raksasa, dan diikuti sebuah teriakan khas dari Burung saat sedang terbang.
DDUUAARRR DDDUUAARRRR
Terlihat tanah mulai berterbangan akibat hentakan yang dihasilkan oleh pukulan kampak milik Barzam
Beberapa kali aku terus diselamatkan oleh Shinta, dimana dia juga terkejut dengan kejadian ini, mungkin tadi dia tidak di briefing dulung sama Barzam dan Gufron dan langsung dihadapkan pada posisi ini, di tambah lagi tadi Shintu sudah mengatakan kalo kekuatan mereka berdua ini sangat lah kuat dibanding Shinta dan Aruna, aku terus dibawa oleh aruna untuk mengindar.
“Ryan ini latian kita, ayo mulailah berfokus membuat sebuah prisai, kamu pasti bisa, atau kita akan binasa dengan cara seperti ini” ucap Shinta terlihat serius.
Aku mulai mencoba membuat prisai dengan cara memfokuskan fikiranku dan membayangkan sebuah prisai yang nantinya entah akan keluar darimana karena jika di fikir menggunakan logika ini tidak akan pernah bisa masuk
Shinta membawa ku kesana dan kemari, hantaman demi hantaman terus di lancarakan oleh Barzam, kilatan kilatan mulai mucul dari kampak yang dia ayunkan, menunjukan Barzam dalam mode serius, dengan tubuhnya yang berupa singa putih ini membuat gerakannya sangat cepat, namun aku masih aman karena Shinta masih bisa mengimbangi kecepatan dari si Barzam ini.
Aku terus berfokus dan terus mencoba untuk membuat sebuah perisai, beberapa kali kucoba terus saja gagal, hingga pada akhirnya aku melihat Aruna yang terlihat sedang terpojok oleh serangan dari Gufron, mungkin maklum Karena Aruna belum pernah berlatih atau bekerja sama dalam hal bertempur seperti ini.
Sebuah pedang yang di lancarkan oleh Gufron terayun dan akan segera mungkin merobek bagian perut Aruna, satu celah dari Aruna ini membuatnya akan terluka oleh serangan Gufron, namun saat ujung pedang akan merobek perut Aruna, Gufron kemudian memutar pedangnya hingga yang mengenai perut dari Aruna adalah gagang pedang yang akhirnya membuat Aruna terpental lumayan jauh dengan beberapa kali mengantam tanah, terlihat serangan Gufron sangat kuat hingga sosok Aruna yang dulu dikenal lebih cepat dari Shinta saja sampai bisa kecolongan serangan seperti itu.
Aku berteriak pada Shinta untuk segera menolong Aruna yang terlihat terlempar sangat jauh, sosok Barzam tak henti hentinya menghujani kita dengan serangan Kampak petirnya, kilatan kilatan yang di hasilkan oleh Kampak itu mulai menyerang kita berdua, terlihat wajah panik dari Shinta melihat serangan dari Barzam ini, mungkin dia tidak menyangka, serangan yang biasa di lancarkan untuk musuh musuh Barzam, kini malah harus di arahkan ke kita yang sudah jelas dalam kubu yang sama.
Sosok Aruna tak terlihat bangkit setelah mendapat serangan dari Gufron, dan terlihat juga sosok Gufron terbang tinggi kearah langit sambil berteriak keras.
“RYAAAANNNNN LIIHHAATTT IINII, AKIBAT ULAHMU BELUM MENGUASAI ILMU PERTAHANAN, TEMANMU AKAN BINASA HAHAHAHA” teriak Gufron dari langit
Aku yang merasa khawatir dengan keadaan seperti ini mencoba meminta Shinta untuk bergerak mendekati Aruna yang terkapar di tanah akibat serangan dari Gufron, namun sepertinya sosok Barzam ini paham apa yang sedang aku pikirkan, Barzam memperkuat serangannya dengan menambah kecepatan serangnya, hal itu membuat kita tak memiliki celah lagi untuk mengindar dan mendekat kea rah Aruna.
“Ryan gimana ini, aku tak melihat celah bisa lepas dari serangan Barzam, Barzam ini sudah dikenal tak akan pernah melepaskan musuh atau target nya dari tangannya dan itu yang membuat kami sering menang saat melakukan pertempuran dengan Tuan Aji” terang Shinta padaku
“HUUAAAHAHAHAHAHA, TIDAK AKAN PENAH AKU BIARKAN KAMU PERGI MENOLONG ARUNA” teriak Barzam sambil terus melancarakan serangannya
Aku yang kebingungan malah tak bisa berkonsentrasi untuk membuat Perisai, di tambah sosok Gufron mulai terbang menukik kebawah dangan pedang yang diarahkan kebawah kearah Aruna yang tergeletak, aku mulai cemas dengan keadaan ini, kenapa karena akau tak bisa menguasai teknik yang ku pelajari maka temanku menjadi korban.
Aku mulai membayangkan hal hal yang pernah aku lalui bersama Aruna dan Shinta, tawa, tangis, sedih, suka semua kembali muncul di ingatanku, aku merasa tak akan terima jika benar Aruna terkena serangan itu dan akan mati untuk selamanya.
Saat aku sedang terbayang hal hal itu, Shinta malah melakukan kesalahan karena sudah tidak ada ruang untuk menghindar, Shinta mencoba untuk bermanufer namun yang terjadi kita malah terjatuh dan aku terlempar menjauh dari Shinta.
Shinta yang terjatuh tak kan bisa langsung bangkit dan malah tubuhnya di injak oleh Barzam yang sudah bersiap siap akan menghantamkan kampaknya kearah tubuh Shinta, melihat kedua temanku ini, atau lebih tepat disebut sesuatu yang sudah menjadi bagian hidupku ini dalam bahaya dimana Aruna sudah dalam kucian serangan Gufron dan dalam keadaan tak sadarkan diri tergeletak, dan Shinta yang terjatuh dan di injak Barzam pada tubuhnya dan akan segera di hantam oleh kampak, tiba tiba……
Dari dalam diriku muncul sebuah …………..
“kenapa Ryan ku si penakut? Kamu ini ya nggak pernah belajar dari dulu, selalu mengandalkan aku atau Aruna” Shinta mendekatiku juga dan sambil kemudian memeluku.
Rasa nyaman akan kehadirannya kini kembali lagi kurasakan setelah beberapa lama kita terpisah, Barzam yang datang bersama Shinta hanya bisa melihat kami melepas kangen satu sama lain.
“kemana saja kamu Shinta, kenapa sama sekali tak pernah menemui ku, bahkan auramu pun tak pernah aku rasakan” tanyaku sambil mendekap tubuhnya yang membuatku merasa nyaman akan kedatangannya
“seperti yang kamu tahu Ryan, saat aku berpamitan padamu waktu itu, aku melatih diriku bersama para panglima ini” Shinta melepas pelukannya dan menjelaskan kemana dia saat tak bersamaku, dia menunjuk Barzam dan Gufron, ternyata selama ini Shinta bersama mereka saling berlatih dan membantu tugas dari bang Damar.
“apakah setelah kita bertemu ini, kamu akan kembali lagi bersamaku Shinta?” tanyaku penuh harapan
“…………” Shinta hanya menjawab dengan senyuman saja, namun terlihat dimatanya ada hal yang ingin disampaikan
Saat Shinta tak menjawab, Aruna melangkah maju mendekati kita berdua yang sedang ngobrol, dan menjelaskan arti senyuman Shinta itu padaku
“belum Ryan, dia masih harus membantu Tuan Aji sampai nanti waktunya tiba, dan kamu akan tau kapan itu akan terjadi, aku tahu, Shinta juga sebenarnya sudah ingin kembali padamu, namun Den Ayu sudah memberi perintah untuk Shinta melatih dirinya dulu dan membantu Tuan Aji, tenang masih ada aku, dan mungkin Gufron yang akan terus bolak balik memberi kabar tentang Shinta” terang Aruna menjelaskan.
“terimakasih adiku, maaf aku malah jadi merepotkanmu” ucap Shinta pada aruna sambil menunduk
“ha, tunggu dulu, kalian ini kakak beradik, kenapa aku baru tahu” protesku dengan ekspresi penuh keheranan
“hahaha, kamu ini yan, masa iya nggak keliatan ya kalo kita ini kakak beradik, kita kan sering bertengkar itu karena apa, ya karena kita mau membuktikan siapa yang paling hebat dalam keluarga kita” terang Aruna
“sudah sudah, maklum lah kalo Ryan tidak tau Aruna, kan memang kita nggak begitu mirip hihihi” tambah Shinta menjelaskan
“haha Den Ryan ini memang polos dan lucu ya, jadi selama ini tidak tau ya kalo mereka ini kakak beradik hahaha” Tanya Barzam padaku
Aku menggelengkan kepala sambil terus memperhatikan kedua wajah Shinta dan Aruna melihat apakah ada kemiripan atau tidak, beberapa kali di amati tetap tidak ada persamaan mereka sama sekali, wajah, mata, hidung, telinga, bibir, apapun itu sama sekali tak ada yang mirip.
“Aku sama sekali nggak percaya kalian kakak beradik, nggak ada yang mirip sama sekali” protesku pada mereka semua
“haha kamu ini yan, coba lihat lagi pasti ada kok” terang Shinta padaku
“oh iya iya ada ternyata yang sama” jawabku sambil terus memperhatikan wajah mereka
“oh ya apa coba yang mirip” Aruna bertanya sambil tersenyum riang
“ada kok ternyata, sama bahkan sangat sama tak ada bedanya sedikitpun” jawabku sambil sedikit tersenyum
“apa itu Ryan?” Tanya Aruna dan Shinta penasaran
“ada satu dan kenapa baru saja ku sadari ya, yang sama persis itu adalah ………. , sifat centil kalian, sifat penggoda kalian hehehe sangat mirip sekali itu” jawabku sambil tertawa
Tak kusangka respon dari mereka berdua duluar dugaan, dengan bersama sama Aruna dan Shinta menjitak kepalaku tepat sekali di ubun ubun, rasa pegal di jitak sangat terasa.
“dasar kamu ini yan masih aja kaya dulu, selalu nyleneh jawabanmu, biarin lah aku centil, aku suka godain kamu, itu kan suka suka aku” protes Shinta dengan wajah cemberutnya yang khas.
Di saat aku sedang di omeli Shinta karena guyonanku itu, gufron melerai dan mulai bebicara serius kenapa kita disini dan kenapa Gufron dan Aruna mengajak Shinta dan Barzam kemari, sungguh tak kusangka ternyata setelah aku cidera pun, tubuh astral ku ini harus terus berlatih (entah benar atau bukan ini tubuh astral, tapi yang jelas saat bangun akan terasa efeknya), memang tidak terasa sakit kakiku yang cidera itu, tapi nanti rasa lelah atau efek dari latihan itu akan ku rasakan saat aku terbangun nanti.
“sudah ya reuninya cukup kan, kita akan mulai latihannya, oh iya sebelum itu, sedekat apa sih tuan putri Shinta dan tuan putri Aruna ini dengan Den Ryan” Barzam berkata dengan sopannya
“kalo ditanya sudah sedekat apa, aku merasa sudah bukan dekat lagi, mereka ini sudah menjadi bagian dari hidupku wahai Barzam, saat Shinta pergi, aku merasa ada hal atau sesuatu yang benar benar hilang dan tak kan kutemui gantinya, bahkan walau masih ada Aruna di sisihku pun aku masih merasa kehilangan, karna bagiku mereka berdua ini satu paket”jelasku pada Barzam.
Terlihat Shinta melirik kearahku sambil tersipu malu mendengar penjelasanku ini, tapi memang itu lah yang aku rasakan selama dia tak ada di dekatku, aku memiliki ruang kosong yang entah harus mengisinya dengan apa
“memang kenapa kau tanyakan itu Barzam” Tanya Shinta pada Barzam
“kita akan berlatih menggunakan itu, supaya den Ryan bisa mengatur cakra dasar perlindungan ini” jelas Gufron pada ku dan Shinta
“tunggu maksudnya apa ini” Tanya Aruna kebingungan
“Tuan Putri Shinta, maaf saya mau bertanya, bukan bermaksud menyombongkan, tapi Tuan Putri sudah mengetahui kekuatan saya dan Gufron kan, bagaimana menurut anda” Tanya Barzam pada Shinta
“kekuatan kalian sangat besar, aku bahkan belum bisa menandingi kekuatan kalian” terang Shinta pada Barzam
“ok, maka dari itu kita…….. MULAI BERLATIH PERTAHAN” dengan suara menggelegar, Barzam dan Gufron berteriak sambil mengantamkan sebuah Kampak dan mengayunkan pedang kearah Shinta dan Aruna.
Aku yang terkejut bukanya mengindar malah hanya menundukan kepala sambil menutup kepalaku menggunakan tanganku, sebuah pedang yang di ayunkan oleh Gufron hampir saja menebas badanku jika Shinta tak menariku dan membawaku ke area yang aman, dari kejauhan terlihat Barzam sedang mengayun kan kampak nya ke Arah Aruna, dan terlihat Aruna seperti kualahan menghadapu sosok Barzam.
“HOOYYY JANGAN LENGAH, MATILAH KALIAN KALO SEPERTI ITU” sosok Gufron berteriak keras dengan suara yang besar seperti seorang raksasa, dan diikuti sebuah teriakan khas dari Burung saat sedang terbang.
DDUUAARRR DDDUUAARRRR
Terlihat tanah mulai berterbangan akibat hentakan yang dihasilkan oleh pukulan kampak milik Barzam
Beberapa kali aku terus diselamatkan oleh Shinta, dimana dia juga terkejut dengan kejadian ini, mungkin tadi dia tidak di briefing dulung sama Barzam dan Gufron dan langsung dihadapkan pada posisi ini, di tambah lagi tadi Shintu sudah mengatakan kalo kekuatan mereka berdua ini sangat lah kuat dibanding Shinta dan Aruna, aku terus dibawa oleh aruna untuk mengindar.
“Ryan ini latian kita, ayo mulailah berfokus membuat sebuah prisai, kamu pasti bisa, atau kita akan binasa dengan cara seperti ini” ucap Shinta terlihat serius.
Aku mulai mencoba membuat prisai dengan cara memfokuskan fikiranku dan membayangkan sebuah prisai yang nantinya entah akan keluar darimana karena jika di fikir menggunakan logika ini tidak akan pernah bisa masuk
Shinta membawa ku kesana dan kemari, hantaman demi hantaman terus di lancarakan oleh Barzam, kilatan kilatan mulai mucul dari kampak yang dia ayunkan, menunjukan Barzam dalam mode serius, dengan tubuhnya yang berupa singa putih ini membuat gerakannya sangat cepat, namun aku masih aman karena Shinta masih bisa mengimbangi kecepatan dari si Barzam ini.
Aku terus berfokus dan terus mencoba untuk membuat sebuah perisai, beberapa kali kucoba terus saja gagal, hingga pada akhirnya aku melihat Aruna yang terlihat sedang terpojok oleh serangan dari Gufron, mungkin maklum Karena Aruna belum pernah berlatih atau bekerja sama dalam hal bertempur seperti ini.
Sebuah pedang yang di lancarkan oleh Gufron terayun dan akan segera mungkin merobek bagian perut Aruna, satu celah dari Aruna ini membuatnya akan terluka oleh serangan Gufron, namun saat ujung pedang akan merobek perut Aruna, Gufron kemudian memutar pedangnya hingga yang mengenai perut dari Aruna adalah gagang pedang yang akhirnya membuat Aruna terpental lumayan jauh dengan beberapa kali mengantam tanah, terlihat serangan Gufron sangat kuat hingga sosok Aruna yang dulu dikenal lebih cepat dari Shinta saja sampai bisa kecolongan serangan seperti itu.
Aku berteriak pada Shinta untuk segera menolong Aruna yang terlihat terlempar sangat jauh, sosok Barzam tak henti hentinya menghujani kita dengan serangan Kampak petirnya, kilatan kilatan yang di hasilkan oleh Kampak itu mulai menyerang kita berdua, terlihat wajah panik dari Shinta melihat serangan dari Barzam ini, mungkin dia tidak menyangka, serangan yang biasa di lancarkan untuk musuh musuh Barzam, kini malah harus di arahkan ke kita yang sudah jelas dalam kubu yang sama.
Sosok Aruna tak terlihat bangkit setelah mendapat serangan dari Gufron, dan terlihat juga sosok Gufron terbang tinggi kearah langit sambil berteriak keras.
“RYAAAANNNNN LIIHHAATTT IINII, AKIBAT ULAHMU BELUM MENGUASAI ILMU PERTAHANAN, TEMANMU AKAN BINASA HAHAHAHA” teriak Gufron dari langit
Aku yang merasa khawatir dengan keadaan seperti ini mencoba meminta Shinta untuk bergerak mendekati Aruna yang terkapar di tanah akibat serangan dari Gufron, namun sepertinya sosok Barzam ini paham apa yang sedang aku pikirkan, Barzam memperkuat serangannya dengan menambah kecepatan serangnya, hal itu membuat kita tak memiliki celah lagi untuk mengindar dan mendekat kea rah Aruna.
“Ryan gimana ini, aku tak melihat celah bisa lepas dari serangan Barzam, Barzam ini sudah dikenal tak akan pernah melepaskan musuh atau target nya dari tangannya dan itu yang membuat kami sering menang saat melakukan pertempuran dengan Tuan Aji” terang Shinta padaku
“HUUAAAHAHAHAHAHA, TIDAK AKAN PENAH AKU BIARKAN KAMU PERGI MENOLONG ARUNA” teriak Barzam sambil terus melancarakan serangannya
Aku yang kebingungan malah tak bisa berkonsentrasi untuk membuat Perisai, di tambah sosok Gufron mulai terbang menukik kebawah dangan pedang yang diarahkan kebawah kearah Aruna yang tergeletak, aku mulai cemas dengan keadaan ini, kenapa karena akau tak bisa menguasai teknik yang ku pelajari maka temanku menjadi korban.
Aku mulai membayangkan hal hal yang pernah aku lalui bersama Aruna dan Shinta, tawa, tangis, sedih, suka semua kembali muncul di ingatanku, aku merasa tak akan terima jika benar Aruna terkena serangan itu dan akan mati untuk selamanya.
Saat aku sedang terbayang hal hal itu, Shinta malah melakukan kesalahan karena sudah tidak ada ruang untuk menghindar, Shinta mencoba untuk bermanufer namun yang terjadi kita malah terjatuh dan aku terlempar menjauh dari Shinta.
Shinta yang terjatuh tak kan bisa langsung bangkit dan malah tubuhnya di injak oleh Barzam yang sudah bersiap siap akan menghantamkan kampaknya kearah tubuh Shinta, melihat kedua temanku ini, atau lebih tepat disebut sesuatu yang sudah menjadi bagian hidupku ini dalam bahaya dimana Aruna sudah dalam kucian serangan Gufron dan dalam keadaan tak sadarkan diri tergeletak, dan Shinta yang terjatuh dan di injak Barzam pada tubuhnya dan akan segera di hantam oleh kampak, tiba tiba……
Dari dalam diriku muncul sebuah …………..
itkgid dan 61 lainnya memberi reputasi
62
Tutup