- Beranda
- Stories from the Heart
Adzhar
...
TS
nanitriani
Adzhar

Doa yang selalu terlantun dalam percakapan manis antara aku dan Rabb-ku, “Hembuskanlah rasa ke dalam dadanya.”
Tiada angin yang terlampau kencang, tiada hujan yang terlampau deras, tiada siang yang terlampau sesak, dan tiada malam yang terlampau kelam dan sunyi, tiada yang mampu meluluhlantakkan untaian doaku yang dengan ganas menerobos seluruh penjuru langit. Meski dengan wujud yang kian hancur, menjadi kepingan, serpihan, berantakan. Doa-doaku terseret-seret, perih, berusaha menggapai penghujung angkasa.
***
Hari ini adalah hari pertamaku memasuki dunia perkuliahan. Sastra Inggris, yang entah mengapa menarik perhatianku secara tiba-tiba sebelum aku memutuskan untuk mendaftar di kampus ini, salah satu kampus negeri yang terletak di kota Bandung. Sebelumnya, tak pernah sedikit pun terbesit untuk meminati jurusan tersebut. Namun, inilah takdir yang telah tertulis, takdir yang mengguratkan namaku dan namanya untuk bertemu di tempat ini, kampus kami tercinta.
“Permisi, gedung V arahnya kemana, ya?” Aku yang sedang berdiri mematung di depan gerbang kampus untuk menunggu teman baruku, tiba-tiba dikagetkan dengan suara lembut yang merenggut lamunan.
Butuh waktu sepersekian detik untuk mengembalikan fokusku sebelum akhirnya aku menjawab secara spontan, “Oh, gedung V? Kita berangkat sama-sama saja.”
Matanya terbelalak, “Maaf?”
Ah, ya, terkadang ucapanku terhempas begitu saja tanpa hambatan. Dia laki-laki, aku perempuan, dan kami tak saling mengenal sebelumnya. Tidak kah ucapanku untuk mengajaknya berangkat bersama dianggap kurang sopan? “Ah, maaf, maksudku... aku juga ada kelas di gedung V. Kita bisa berangkat bersama jika kau mau. Ya, jika kau mau. Tentu saja.”
“Oh... kau mahasiswi baru?” Tanyanya dengan segurat senyum di wajah, manis.
“Emmm, iya. Kau juga?” Ucapku sedikit canggung.
“Ya, aku mahasiswa baru. Maka dari itu, aku tidak tahu letak gedung yang akan aku tempati di hari pertama ini,” seulas senyum lagi-lagi terpancar.
Aku balas tersenyun, “Jangan katakan kau kelas A.”
“Ok, kita satu kelas.”
Kebetulan? Mungkin saja. Namun, bukan kah setiap kejadian tidak pernah ada yang kebetulan? Entahlah, lupakan saja. Kami pun berjalan beriringan menuju gedung V, tempat dimana kami belajar di hari pertama perkuliahan ini. Masalah teman baruku yang sudah kuajak janjian di depan gerbang? Sepertinya lupakan saja. Toh laki-laki ini pun termasuk teman baruku.
Sesampainya di kelas, tanpa berpikir panjang, dia langsung menempati kursi di barisan pertama. Kesan pertamaku, dia mungkin laki-laki yang rajin. Ya, mungkin saja. Sedangkan, aku menempati kursi di barisan ketiga, tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang, cukup. Selang beberapa lama, teman baruku, Rania, sampai di kelas dengan pandangan berkeliling ke seluruh sisi ruangan, sebelum akhirnya terfokus kepadaku.
“Naya, kan?” Tanyanya dengan napas sedikit tersengal.
“Iya. Kamu... Rania?” Balasku tanpa merasa berdosa.
“Betul! Kau memang selalu tega seperti ini, ya, sepertinya?” Dengus Rania kesal.
Aku hanya tersenyum tanpa rasa sesal, “Maafkan aku.” Sungguh pertemuan pertama dengan kesan yang buruk.
Sepanjang pelajaran berlangsung, aku selalu mencuri pandang untuk menatapi sosoknya. Sosok yang dari tempat dudukku tampak punggungnya saja. Siapa tadi namanya? Akhyar? Samar-samar aku mendengar namanya disebutkan dosen sebelum tangannya terangkat sebagai tanda hadir. Namanya Akhyar? Betul, kah? Sial, aku tak mendengarnya.
“Siapa namanya?” Tanyaku kepada teman yang ada di sebelahku, Rania.
“Siapa?”
“Yang itu.”
“Yang mana?”
“Laki-laki dengan kemeja berwarna biru dan celana creamdengan rambut tertata rapi ke belakang”
“Ya? Emm... Adzhar?”
“Adhar?”
“Adzhar.”
“Adzhar?”
“Betul, Adzhar. Kenapa? Kau suka? Ini baru hari pertama, tak usah gegabah,” kata demi kata tertutur bebas dari mulut Rania.
“Tidak... emm... mungkin.”
“Mungkin? Kau keterlaluan, ya, Nay. Ini masih hari pertama.”
“Tidak mungkin. Aku tak pernah bilang aku menyukainya, aku hanya menanyakan namanya,” jawabku ketus.
Cinta pada pandangan pertama? Terdengar seperti omong kosong saja.
***
Hari demi hari terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Berjalan? Tidak, sepertinya melesat. Dari mulai UTS, UAS, sampai libur akhir semester satu selama satu bulan. Semuanya melesat begitu saja.
Sekarang sudah memasuki semester ke dua, rasanya baru kemarin pertemuanku dengan Adzhar. Ya, Adzhar, sosok laki-laki pandai dengan tutur kata yang lembut dan sikap santunnya yang tiada dua, sukses membuat kehidupan perkuliahanku begitu berwarna. Soal penampilannya? Tak perlu ditanya, setiap harinya dia selalu memakai kemeja dan rambut rapi yang tersisir ke belakang. Tak hanya itu, lengan kemejanya pun selalu digulung sampai sikut. Sempurna. Dia sosok yang tak banyak bicara, bersuara seperlunya saja. Dia pun tak banyak tertawa, seulas senyum cukup menghidupkan raut wajahnya. Dia termasuk mahasiswa yang menonjol di kelas, selalu menjawab dan bertanya ketika proses pembelajaran berlangsung. Dia pintar, nilai-nilai mata kuliahnya tak pernah mengecewakan. Semangat belajarnya sungguh luar biasa. Satu lagi yang membuatku kagum, dia sangat religious. Wawasan tentang agamanya sangat luas. Bahkan, dia selalu bercerita bahwa dia ingin berkuliah di Kairo, Mesir. Betul, Universitas Al-Azhar. Dia selalu berangan, suatu hari, dia bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Luar biasa, bukan? Kurasa, dia sempurna tanpa celah. Dia... ya, aku, menyukainya.
Aku menatap langit dengan awan putih tergulung indah, lamunanku terbang mengangkasa. Di lantai dua gedung V, sembari menunggu mata kuliah yang akan dimulai sekitar setengah jam lagi, aku hanya termangu dengan pikiran tak tentu arah. Hembusan angin menerpa wajah. Mungkin, pukul satu siang adalah waktu yang tepat untuk tertidur. Kenapa suasana panas seperti ini harus digunakan untuk belajar?
“Nay!”
Aku terperanjat, lamunanku buyar. Apakah dia selalu seperti ini, muncul tanpa ada tanda-tanda kehadiran sebelumnya? “Ya? Adzhar, kau mengagetkanku saja.”
“Maaf,” dia menyeringai.
“Kenapa?” Tanyaku berbasa-basi.
“Aku mau pinjam buku catatanmu, basic structure.”
“Bukannya itu mata kuliah semester satu?”
“Ya, betul. Aku hanya ingin memahaminya kembali. Salah satu mata kuliah sulit bagiku.”
Beruntung, mata kuliah tersebut adalah mata kuliah yang sangat kusukai. Lebih tepatnya, aku selalu mencari celah darinya. Jika ada mata kuliah yang dirasa kurang dimengerti olehnya, aku selalu belajar mati-matian untuk menguasainya. Untuk apa? Kau akan tahu semuanya, “Oh, basic structure, ya? Sepertinya catatannya masih ada. Nanti kucarikan.”
Senyumnya terkulum. “Apa perlu aku ajarkan juga? Aku dapat nilai A untuk mata kuliah tersebut,” ucapku sedikit membanggakan diri.
“Sungguh?”
“Ya, betul. Bagaimana?”
“Bagaimana... apanya?”
“Mau kuajarkan?”
“Emm... jika kau tak keberatan.”
“Tentu saja tidak. Aku yang menawarkan. Besok akan kubawa buku catatannya,” ujarku sambil tersenyum simpul. Dia tidak tahu dan tidak pernah tahu, ada gejolak luar biasa yang berusaha sekeras mungkin untuk keluar dari dalam ragaku. Membayangkan bisa belajar berdua dengannya saja membuat jantungku berdebar tak karuan.
~Bersambung~
Adzhar [PART 2]
Adzhar [PART 3]
Adzhar [PART 4]
Adzhar (PART 5/SELESAI)
Sumber Gambar
Diubah oleh nanitriani 17-03-2022 00:00
bukhorigan dan 14 lainnya memberi reputasi
15
3.4K
58
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nanitriani
#2
Adzhar [PART 2]

Hari ini hanya ada dua mata kuliah, dari pukul 7 pagi sampai pukul 12 siang. Oleh karena itu, kami, aku dan Adzhar, merencakan untuk belajar bersama selepas salat zuhur, sekitar pukul satu siang. Untuk tempatnya, sederhana saja, kami memilih untuk belajar di koridor depan kelas di gedung V.
Sudah pukul satu lewat lima belas menit. Namun, dia belum nampak batang hidungnya. Padahal dia orang yang rajin, tak pernah terlambat masuk kelas. Sekali pun tak pernah.
“Maaf, aku terlambat,” ucapnya dengan napas memburu.
“Kau berlari?”
“Bisa dikatakan, iya,” jawabnya dengan wajah merah padam.
“Santai saja, kenapa kau harus berlari?”
“Aku sadar aku telat. Aku mengajak Ardi, oleh karenanya aku terlambat,” terlihat Ardi yang juga salah satu teman sekelasku, berlari menyusul Adzhar, tersengal.
Baik, untuk urusan janji yang terbilang cukup terlambat, meskipun hanya 15 menit, aku masih bisa memaafkan, mood-ku masih baik-baik saja. Tapi, mengajak orang lain? Kukira, pertemuan ini hanya akan dihabiskan oleh kami berdua. Rasa sesal dan kecewa sedikit mencekat kerongkonganku.
Sekitar 10 menit pertama, aku masih tak banyak bicara dan sebetulnya memang tak niat untuk berbicara. Namun, sedikit demi sedikit, aku mulai terbiasa. Karena memang aku sudah membaca kembali materi tentang Basic Structure malam tadi, rasanya sia-sia kalau aku hanya bungkam. Betul, aku sudah belajar. Tujuannya, agar aku terlihat sedikit menarik di hadapannya. Itu saja.
“Bisa kau jelaskan materi tentang compound sentence?” Tanya Adzhar dengan semangat belajar yang dimilikinya. Sudah tiga jam kami belajar, Ardi sudah terkapar tak berdaya di atas hamparan ubin yang memberikan sensasi dingin, tak peduli para mahasiswa yang berlalu lalang masuk dan keluar dari kelas. Namun Adzhar? Sepertinya dia masih menyimpan segudang pertanyaan yang siap dihantamkan tanpa ampun.
Aku yang sudah kehilangan tenaga untuk menjawab, untuknya, kupaksakan seulas senyum, “Mudah saja. Compound sentence adalah perpaduan dari dua kalimat sederhana yang dihubungkan oleh conjunction,” jelasku tanpa ada rincian tambahan.
“Lalu...”
“Emm... Adzhar, sepertinya sudah sore, rasanya aku pun sudah lelah. Bagaimana kalau kita lanjutkan di lain waktu?” Seruku memotong ucapan Adzhar. Aku tidak berbohong, mentari memang sudah enggan menyuguhkan terik. Sepertinya, balutan jingga sang senja akan segera menyelimuti langit.
“Ah, betul, pukul berapa sekarang? Ternyata sudah pukul empat sore. Kita belum salat, ya? Maaf, aku lupa waktu,” serunya setengah panik.
“Tak apa, Adzhar. Aku pulang dulu, ya.”
“Biar kuantar sampai depan gerbang,” ucapnya tanpa ragu.
Diantar? Aku, diantarkan Adzhar? Sungguh? Tentu saja aku mau, sangat mau, “Tak usah, terima kasih,” senyum bodoh terpancar di seluruh permukaan wajahku.
“Itu bukan penawaran.”
“Lalu?”
“Aku bukan hanya menawarkan yang meminta jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ darimu. Namun, aku memang akan melakukannya meski kau bersikeras untuk menolaknya.”
Aku tertegun, berusaha mencerna kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulutnya.
“Kalian sudah selesai?” Ardi terbangun ketika menyadari kami telah berkemas dan bersiap untuk pulang.
“Ya. Kau pulang duluan saja,” Ucap Adzhar kepada Ardi yang kesadarannya belum terkumpul sempurna.
“Nay, aku belikan makanan di kantin ya,”
“Kau menyuruhku pulang hanya untuk membelikan makanan untuk Naya? Sepertinya hubungan pertemanan kita patut dipertanyakan,” dengus Ardi berpura-pura kesal.
“Dia yang berjasa. Kau tak layak mendapatkan apa-apa. Setidaknya, jika kau tak mengerti, kau harus ikut belajar, bukan tertidur,” seru Adzhar kepada temannya.
“Baiklah, aku pulang saja,” ucap Ardi dengan raut muka yang kesal, tidak berpura-pura.
Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Emm... kurasa tidak, kata “beriringan” kurang cocok bahkan tidak cocok untuk mendeskripsikan keadaan kami. Karena, dia berjalan dengan cepat di depanku. Aku yang ada di belakangnya, berjalan bahkan setengah berlari untuk mengejarnya. Perjalanan dari gedung V ke kantin kampus cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, ada beberapa fakultas dan gedung kuliah yang harus dilewati.
“Kau mau apa?” Tanyanya dengan nada bicara yang santai. Sepertinya dia tidak lelah sama sekali.
“Aku mau minum saja,” jawabku tersengal.
“Minum?”
“Ya, mungkin jus mangga saja,” minuman yang terbesit di kepalaku saat rasa haus menyergap tenggorokan.
“Makanannya?”
“Tidak.”
“Sungguh?”
“Sungguh, aku tak mau apa-apa. Minuman saja.”
“Kalau begitu, baiklah.”
Hari yang cukup menyenangkan bagiku. Malam ini, ketika gemintang sudah terlukis di permukaan langit yang menggulita, rembulan yang terselimut awan, dan angin malam yang menelisik ke celah-celah jendela kamar, mataku masih enggan terpejam. Bayangan wajahnya sibuk memasuki pikiranku tanpa jeda. Mata kecilnya yang sendu, senyumannya yang terkulum sederhana, warna kulitnya yang bisa dikatakan kuning langsat, rambut yang tersisir rapi, semuanya sempurna menurutku. Kata orang, bukan kah jika dua orang yang berjodoh itu mempunyai kemiripan dalam segi fisik? Baik, mari berkaca, mataku bulat dengan tatapan tajam, senyumku... kata temanku, Rania, senyumanku percis seperti Ms. Sri, dosen ter-killer sepanjang masa, menyeramkan. Dan kulitku? Sawo matang, tentu saja. Lantas, apakah kami bisa berjodoh? Mengingat, dari segi fisik sampai kepribadian, tak ada satu pun kemiripan. Berbicara tentang kepribadian, aku adalah orang yang sangat mudah tersulut emosi. Aku bahkan tak segan untuk menumpahkan amarahku kepada sahabatku sendiri, Rania. Namun, jika terlampau kesal, aku memilih untuk diam dengan mulut tertekuk sempurna. Dan tentunya, menjauh dari semua orang yang ada di sekitarku. Untuk kepribadian Adzhar, sungguh, aku tak pernah melihat dia marah. Wajah tenangnya selalu memancarkan senyuman. Namun, mungkin saja aku tidak tahu. Baiklah, lupakan saja, malam sudah terlalu larut untuk memikirkan hal semacam itu.
Sudah pukul satu lewat lima belas menit. Namun, dia belum nampak batang hidungnya. Padahal dia orang yang rajin, tak pernah terlambat masuk kelas. Sekali pun tak pernah.
“Maaf, aku terlambat,” ucapnya dengan napas memburu.
“Kau berlari?”
“Bisa dikatakan, iya,” jawabnya dengan wajah merah padam.
“Santai saja, kenapa kau harus berlari?”
“Aku sadar aku telat. Aku mengajak Ardi, oleh karenanya aku terlambat,” terlihat Ardi yang juga salah satu teman sekelasku, berlari menyusul Adzhar, tersengal.
Baik, untuk urusan janji yang terbilang cukup terlambat, meskipun hanya 15 menit, aku masih bisa memaafkan, mood-ku masih baik-baik saja. Tapi, mengajak orang lain? Kukira, pertemuan ini hanya akan dihabiskan oleh kami berdua. Rasa sesal dan kecewa sedikit mencekat kerongkonganku.
Sekitar 10 menit pertama, aku masih tak banyak bicara dan sebetulnya memang tak niat untuk berbicara. Namun, sedikit demi sedikit, aku mulai terbiasa. Karena memang aku sudah membaca kembali materi tentang Basic Structure malam tadi, rasanya sia-sia kalau aku hanya bungkam. Betul, aku sudah belajar. Tujuannya, agar aku terlihat sedikit menarik di hadapannya. Itu saja.
“Bisa kau jelaskan materi tentang compound sentence?” Tanya Adzhar dengan semangat belajar yang dimilikinya. Sudah tiga jam kami belajar, Ardi sudah terkapar tak berdaya di atas hamparan ubin yang memberikan sensasi dingin, tak peduli para mahasiswa yang berlalu lalang masuk dan keluar dari kelas. Namun Adzhar? Sepertinya dia masih menyimpan segudang pertanyaan yang siap dihantamkan tanpa ampun.
Aku yang sudah kehilangan tenaga untuk menjawab, untuknya, kupaksakan seulas senyum, “Mudah saja. Compound sentence adalah perpaduan dari dua kalimat sederhana yang dihubungkan oleh conjunction,” jelasku tanpa ada rincian tambahan.
“Lalu...”
“Emm... Adzhar, sepertinya sudah sore, rasanya aku pun sudah lelah. Bagaimana kalau kita lanjutkan di lain waktu?” Seruku memotong ucapan Adzhar. Aku tidak berbohong, mentari memang sudah enggan menyuguhkan terik. Sepertinya, balutan jingga sang senja akan segera menyelimuti langit.
“Ah, betul, pukul berapa sekarang? Ternyata sudah pukul empat sore. Kita belum salat, ya? Maaf, aku lupa waktu,” serunya setengah panik.
“Tak apa, Adzhar. Aku pulang dulu, ya.”
“Biar kuantar sampai depan gerbang,” ucapnya tanpa ragu.
Diantar? Aku, diantarkan Adzhar? Sungguh? Tentu saja aku mau, sangat mau, “Tak usah, terima kasih,” senyum bodoh terpancar di seluruh permukaan wajahku.
“Itu bukan penawaran.”
“Lalu?”
“Aku bukan hanya menawarkan yang meminta jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ darimu. Namun, aku memang akan melakukannya meski kau bersikeras untuk menolaknya.”
Aku tertegun, berusaha mencerna kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulutnya.
“Kalian sudah selesai?” Ardi terbangun ketika menyadari kami telah berkemas dan bersiap untuk pulang.
“Ya. Kau pulang duluan saja,” Ucap Adzhar kepada Ardi yang kesadarannya belum terkumpul sempurna.
“Nay, aku belikan makanan di kantin ya,”
“Kau menyuruhku pulang hanya untuk membelikan makanan untuk Naya? Sepertinya hubungan pertemanan kita patut dipertanyakan,” dengus Ardi berpura-pura kesal.
“Dia yang berjasa. Kau tak layak mendapatkan apa-apa. Setidaknya, jika kau tak mengerti, kau harus ikut belajar, bukan tertidur,” seru Adzhar kepada temannya.
“Baiklah, aku pulang saja,” ucap Ardi dengan raut muka yang kesal, tidak berpura-pura.
Kami pun berjalan beriringan menuju kantin. Emm... kurasa tidak, kata “beriringan” kurang cocok bahkan tidak cocok untuk mendeskripsikan keadaan kami. Karena, dia berjalan dengan cepat di depanku. Aku yang ada di belakangnya, berjalan bahkan setengah berlari untuk mengejarnya. Perjalanan dari gedung V ke kantin kampus cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, ada beberapa fakultas dan gedung kuliah yang harus dilewati.
“Kau mau apa?” Tanyanya dengan nada bicara yang santai. Sepertinya dia tidak lelah sama sekali.
“Aku mau minum saja,” jawabku tersengal.
“Minum?”
“Ya, mungkin jus mangga saja,” minuman yang terbesit di kepalaku saat rasa haus menyergap tenggorokan.
“Makanannya?”
“Tidak.”
“Sungguh?”
“Sungguh, aku tak mau apa-apa. Minuman saja.”
“Kalau begitu, baiklah.”
***
Hari yang cukup menyenangkan bagiku. Malam ini, ketika gemintang sudah terlukis di permukaan langit yang menggulita, rembulan yang terselimut awan, dan angin malam yang menelisik ke celah-celah jendela kamar, mataku masih enggan terpejam. Bayangan wajahnya sibuk memasuki pikiranku tanpa jeda. Mata kecilnya yang sendu, senyumannya yang terkulum sederhana, warna kulitnya yang bisa dikatakan kuning langsat, rambut yang tersisir rapi, semuanya sempurna menurutku. Kata orang, bukan kah jika dua orang yang berjodoh itu mempunyai kemiripan dalam segi fisik? Baik, mari berkaca, mataku bulat dengan tatapan tajam, senyumku... kata temanku, Rania, senyumanku percis seperti Ms. Sri, dosen ter-killer sepanjang masa, menyeramkan. Dan kulitku? Sawo matang, tentu saja. Lantas, apakah kami bisa berjodoh? Mengingat, dari segi fisik sampai kepribadian, tak ada satu pun kemiripan. Berbicara tentang kepribadian, aku adalah orang yang sangat mudah tersulut emosi. Aku bahkan tak segan untuk menumpahkan amarahku kepada sahabatku sendiri, Rania. Namun, jika terlampau kesal, aku memilih untuk diam dengan mulut tertekuk sempurna. Dan tentunya, menjauh dari semua orang yang ada di sekitarku. Untuk kepribadian Adzhar, sungguh, aku tak pernah melihat dia marah. Wajah tenangnya selalu memancarkan senyuman. Namun, mungkin saja aku tidak tahu. Baiklah, lupakan saja, malam sudah terlalu larut untuk memikirkan hal semacam itu.
***
Sekarang, sering kali aku dan Adzhar belajar bersama atau sekadar mengerjakan tugas bersama. Tidak berdua, tentu saja, Rania dan Ardi pun ikut. Bisa dibilang, kami berempat menjadi sahabat dekat sekaligus kelompok belajar. Perkuliahan sudah memasuki pertengahan semester, dimana tugas-tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok mulai berdatangan. Entah suatu kebetulan atau memang semesta sudah merangkainya sedemikian indah untukku, ada lima tugas kelompok dimana aku dan Adzhar berada di kelompok yang sama. Bahkan, dua di antaranya hanya beranggotakan kami berdua, aku dan Adzhar, tak ada yang lain. Tak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan keadaan hatiku kecuali “senang bukan kepalang”. Aku memang telah menyukai dan mengaguminya dari mulai hari pertama kami bertemu sampai sekarang. Tidak ada yang tahu, sama sekali tidak, bahkan sahabatku pun tidak tahu. Namun, aku tidak tahu pasti apakah Adzhar akan menyadarinya jika melihat gelagatku yang sering kali salah tingkah ketika dekat dengannya. Yang jelas, aku sudah menyembunyikan perasaan ini rapat-rapat. Biarkan hal ini menjadi topik hangat dalam perbincangan antara aku dan Tuhan. Bagiku, rutin memandangi punggungnya dari tempat dudukku di kelas, sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Tak ada yang harus diungkapkan, hanya dengan mengenalnya, setengah dari permasalahan hatiku sudah tuntas.
“Naya!?” Adzhar menghampiri ketika aku sedang berkemas usai kelas berakhir.
“Ya? Ada apa?”
“Aku mau bicara. Kita ngobrol dulu, ya, di koridor sebelum pulang,” ucapnya sedikit ragu.
Aku terdiam sejenak, ada apa? Akhirnya aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
“Ada beberapa tugas yang mana kita satu kelompok, betul?”
“Ya, lebih tepatnya ada 5 mata kuliah dan dua di antaranya hanya beranggokatan kita berdua,” ujarku yakin.
“Emm... begini, Nay, sepertinya aku tidak bisa melakukannya,” ucapnya tertunduk.
Aku tertegun, seperti ada hentakan ringan yang menerpa dadaku, “Kenapa?”
“Kau ingat tentang impianku yang ingin berkuliah di Kairo, Mesir?”
“Tentu saja,” aku masih menahan napas.
“Aku selalu sedih ketika memandangi hamparan langit dan melihat pesawat terbang melintasinya,” dia terdiam sejenak, “Aku teringat teman-temanku yang sudah berhasil mengenyam pendidikan di Al-Azhar.”
Aku hanya terdiam, memandangi matanya yang selalu seperti itu, sendu.
“Aku sudah mendaftarkan diri untuk kuliah di sana. Dan minggu depan, pelatihannya sudah dimulai,” lagi-lagi dia terdiam untuk beberapa detik, “Jika aku berhasil, aku bisa langsung berangkat ke sana.”
Denting waktu seolah berhenti untuk beberapa saat. Seperti ada duri yang mencekat tenggorokanku. Rasa dingin mengaliri tubuh, dari mulai kepala sampai ujung kaki. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, suaraku mulai bergetar, “Lalu?”
“Jika aku lolos, mungkin kita tak akan bertemu lagi,” jelasnya dengan senyumnya yang masih terukir sempurna.
Aku terdiam. Perlahan kupandangi sosoknya dengan kemeja yang lengannya selalu tergulung sampai sikut, rambutnya yang hitam pekat, tetap tertata rapi, selalu. Rasa panas mulai menghadang kedua bola mata, ada bulir-bulir air mata yang memaksa untuk terbebas, mereka terpaksa kubendung. Aku tahu, sebesar apapun perasaanku untuknya, di matanya, aku bukan siapa-siapa. Dengan segera, aku akan terlupakan begitu saja. Ya, mudah saja baginya untuk melupakanku. Sekali lagi, kutatap seseorang yang sedang berdiri di hadapanku, seseorang yang sedang menungguku untuk membalas ucapannya. Selanjutnya, aku tersenyum, “Semoga berhasil! Aku turut bahagia.”
Dia mengangguk, masih dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, “Terima kasih,” dia menarik napas perlahan, “Kalau begitu, aku pulang dulu.” Dia melangkah, menjauh, berlalu, dan pergi.
Aku terdiam mematung, pijakanku seolah tak sanggup menahan kedua kakiku yang lunglai. Dia terus berjalan, perlahan, menjauh, semakin jauh. Aku menyaksikan punggungnya yang kian menghilang dari pandangan. Punggung itu, yang setiap harinya selalu kupandangi ketika suasana di kelas kian membosankan. Punggung itu, yang selalu kutatap lamat-lamat dan berhasil menciptakan segaris senyum di wajahku. Air mataku yang sedari tadi kubendung, kini perlahan luruh membasahi pipi. Luka di hati siap untuk menganga.
~Bersambung~
Sumber Gambar
Diubah oleh nanitriani 28-04-2021 10:59
0