- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Cinta Dari Masa Silam
...
TS
beqichot
Dendam Cinta Dari Masa Silam
WARNING!!!!
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua hanyalah kebetulan belaka.
Khusus untuk usia 17++

Prolog
Hai...namaku Aji, lengkapnya Bayu Satriaji.
Aku baru saja pulang dari PETUALANG MASA LALU
Terakhir yang kuingat, aku beserta Zulaikha dan Menik, dua jin cantik.yang selalu mendampingiku selain dari Sang Pamomong, baru saja keluar dari portal yang membawa kami pulang dari masa lalu ratusan tahun silam.
Aku memgerjapkan mataku yang silau oleh cahaya yang menyorot di atas mataku.
Ah...rupanya cahaya lampu.
Perlahan, pandangan mataku menjadi semakin jelas. Kulihat langit-langit kamar yang putih dengan lampu yang menyilaukan mataku tadi.
Di mana aku gerangan? Bukankah aku baru saja keluar dari portal yang menghubungkan masa kini dan masa lalu?
"Mas Aji.... Kau sudah sadar?" sebuah suara menyapaku.
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku itu. Seraut wajah cantik dengan mata yang berair, menatapku.
"Desi...?"
"Iya mas... Ini aku!" jawabnya.
"Mas Aji...!" sebuah suara lain menyapaku.
Aku menoleh ke asal suara itu..
"Anin...? Kamu kok di sini? Aku di mana?" tanyaku.
"Sebentar mas, biar aku kasih tahu bapak dan dokter.kalau kamu sudah sadar!" katanya sambil beranjak pergi.
Bapak? Dokter?
Kok bapak juga ada di sini? Dokter? Berarti aku di rumah sakit...
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada di rumah sakit?
"Des...ini di rumah sakit?"
"Iya Mas...!"
"Kok aku bisa disini?"
"Ssttt...mas istirahat saja dulu. Kita tunggu dokter dulu!" sahutnya sambil mengelus-elus tanganku.
Saat itulah pintu terbuka, dan dua wanita dengan pakaian serba putih menghampiriku. Seorang diantaranya memeriksa nadiku, menyenteri mataku, dan menempelkan stetoskop di dadaku.
"Bagaimana dokter?" sebuah suara yang berat terdengar beetanya.
"Keadaannya normal pak! Mungkin butuh pemulihan sebentar, dan 2 atau 3 hari kemudian sudah bisa pulang!" kata bu dokter.
'Syukurlah...!" kata Bapak.
"Bapak.....!" panggilku.
"Hai..cah bagus... Bikin panik orang tua saja kamu!" kata bapak sambil mengacak-acak rambutku.
"Maaf pak... Sudah bikin khawatir bapak..!" ucapku.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah ga papa sekarang!" ujar bapak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanyaku.
"Kamu ditemukan orang terbaring di jalanan setelah hujan. Lalu dibawa ke rumah sakit ini. Lalu orang itu membuka kontak hpmu dan menghubungi bapak. Bapak dsn Anin segera kemari. Dan kamu baru sadar setelah 3 hari pingsan!" kata bapak.
Hah.3 hari? Padahal aku ada di masa lalu selama 35 hari.
Jadi apakah kejadian di masa lalu itu hanyalah mimpi di saat aku tak sadar?
Kalau memang hanya mimpi, syukurlah...
Dan aku berharap itu semua memang hanya mimpi.
Aku menoleh pada Zulaikha dan Menik yang sedari tadi berdiri di samping ranjangku.
Mereka cuma mengangkat bahu dan menggeleng. .
Yah...semoga saja semua itu hanya mimpi belaka. Kembang tidur di saat aku pingsan. .
Semoga....
Aku masih dirawat selama 2 hari, dan Desi setia memungguku jika sudah pulang kuliah.
Sementara, bapak dan Anin jika malam istirahat di kostku.
Setelah dirasa sehat, aku diperbolehkan pulang.
Bersama bapak dan Anin, kami nakk taksi menuju kostan.
Zulaikha dan Menik melayang di samping mobil.
Di kostan sudah ada pacar tersayang dan adiknya yang menunggu kedatangan kami....
Yah...aku kembali berada di jamanku. Pengalaman di masa lalu itu, entah nyata ataukah sekedar mimpi belaka?
Only time will tell.....
INDEX:
Prolog
The Begining
Naning
The Truth
Lanjutan
Naning Lagi....
Melati's Pov
Godaan Nenek Bohai
Menik's Pov
Tukang Ojek
Masalah Cewe Dino
Di Rumah Firda
Menolong Naning....
One By One
Pulang....
Di Madrasah 1
Di Madrasah 2
It's Begin...
Bingung
Masih Di Rumah Naning
Menik's Pov
Pengakuan Firda
Desi Cemburu
Pertempuran
Bendera Perang Sudah Dikibarkan
Masalah mulai bertambah
Firda's Pov
Liburan Semester
Kejadian Di Kamar Kost.....
Di Gazebo..
Tekad Naning
Pov nya Kunyil
Balada Lontong Opor
Kunyil Ember
Ditinggal.....
Pengusiran
Pulang....
Nenek Tua
Mimpi
RSJ
Pertempuran Seru
Serangan Susulan
Menuju Sumber....
Lanjutannya..
Kurnia
Sebuah Pengakuan
Interogasi
Menepati Janji
Malam Minggu
Piknik....
Di Curug
Ki Sarpa
Berlatih
Ketiduran
Kejadian Aneh
Kyai Punggel
Pagi Absurd
Pov: Naning
Latihan Di Gunung
Wejangan
Aku Dipelet?
Lebih Hebat Dari Pelet
Terusan Kemarin
Tante Fitri Yang....
She's Back
Bros
Makhluk Paling Absurd
Makhluk Absurd 2
Part Kesekian
Cowo Tajir
Jangan Buat Naning Menangis
Surprise
Kejadian Aneh
Quote:
Menghentikan Perang
Ahaha ..
Jatuh Bangun
Selaras
Mulai Dari Awal
Kembali
Rencana Bapak
Gadis Galak
Pengobatan
Sang Dukun
Sandra
A Little Bonus: Sandra's Pov
Pulang Ke Kost
Nenek Tukang Pijat
Upgrade
Si Galak Sakit
Fight....
Proyek Besar
Kesurupan Massal
Kalahkan Biangnya
Kosong
Dreamin'
About Renita
Kenapa Dengan Sandra?
Teluh
Serangan kedua
Gelud Lagi...
Hadiah Nyi Rambat
Kembalinya Trio Ghaib
Kepergian Zulaikha
Kurnia's Pov
Lanjutan Indeks
Diubah oleh beqichot 18-09-2021 19:54
xue.shan dan 199 lainnya memberi reputasi
190
401.1K
12.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#89
The Truth
Malam udah larut banget, tapi aku belum bisa memejamkan mataku.
Kejadian siang tadi di warteg, mengganggu pikiranku.
Benarkah aku melihat sosok Wening pada diri Naning?
Atau itu hanyalah ilusi optik belaka?
Harapanku sih, itu cuma ilusi belaka. Aku ga ingin diganggu oleh segala macam urusan dari masa silam.
Kuanggap petualanganku ke masa silam hanya mimpi saat aku tak sadarkan diri.
Saat aku sedang kesulitan memejamkan mata dan mataku menerawang jauh, tiba-tiba sosok Nyi Among menampakkan diri di sampingku.
Aku sedikit terkejut karenanya...
"Ibu...?"
"Iya nak... Kenapa sampai selarut ini engkau belum tidur? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Nyi Among.
Akupun menceritakan semua yang membuatku gundah.
Dan pertanyaan yang paling menganggu adalah apakah benar aku memang bertualang ke masa lalu?
"Sebenarnya, kau memang melakuksn perjalanan itu nak. Kau berads di masa lalu selama selapan (35) hari. Dan dengan kedatanganmu di sana, engkau sudah " sedikit" mengubah sejarah!"
"Maksudnya Bu?"
Nyi Among lalu mulai menceritakan bahwa dalam sejarah yang sebenarnya, memang Melati berjodoh dengan Arya Damar. Dan Wening, tidak bersuami seumur hidupnya. Karena memang hidupnya hanya sampai berumur 19 tahun saja. Wening, gugur dalam sebuah peperangan membela tanah perdikan Munggangsari.
Dengan kehadiranku di masa lalu, aku mengubah hati dua orang gadis itu.
Melati yang jatuh cinta padaku, juga Wening yang bersumpah tak akan menikah seumur hidupnya.
Itulah mengapa nyi among menyebutku "sedikit" mengubah sejarah.
Lebih kepada sejarah dua gadis itu. Bukan sejarah secara umum.
"Lalu, apakah Damar itu adalah Ki Panembahan leluhurku, Bu?"
"Bukan nak... Ki Panembahan adalah anak angkat dan murid kesayangan Damar. Cerita selengkapnya begini...."
Setelah menikah dengan Melati, Arya Damar memboyong istrinya ke tanah perdikan Munggangsari. Setahun setelahnya, Tanah perdikan itu diserbu musuh yang sangat kuat.
Maka terjadilah pertempuran besar yang membuat Wening gugur di medan laga membela tanah kelahirannya. Pasukan Munggangsari kalah dan Damar beserta istrinya menyingkir ke Manyaran. Tapi, karena takut jika musuh nantinya malah menyerbu ke Manyaran untuk memburunya, Damar memutuskan untuk pergi dari Manyaran. Dia takut rakyat Manyaran menjadi korban musuh yang mengejar dirinya. Maka dia memutuskan untuk berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Hingga di suatu tempat, dia menemukan seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Dipungutnya anak itu sebagai anak angkat, apalagi dia dan Melati belum juga dikaruniai keturunan. Damar dan Melati juga memutuskan untuk menetap di tempat itu dan membesarkan anak itu, yang mereka beri nama Joko Samsara. Setahun setelah mengangkat anak, Melati melahirkan seorang anak perempuan. Joko Samsara tumbuh menjadi anak yang kuat dan diajari ilmu kanuragan oleh Damar. Sehingga menjadi orang yang sakti mandraguna. Dialah kelak yang akhirnya bergelar Ki Panembahan yang menjadi kakek buyutmu.
Begitulah cerita dari Nyi Among. Aku jadi tahu bahwa Ki Panembahan adalah anak angkat dari Damar. Jadi Damar dan Melati bukanlah nenek moyangku.
"Lalu bagaimana dengan penglihatanku tadi? Aku melihat sosok Wening pada diri Naning?" tanyaku.
"Itu adalah tanda bahwa dia adalah titisan Wening! Makanya ibu bilang bahwa kamu sudah mengubah sejarah. Mungkin jika kau tidak ke masa lalu, sukma Wening akan langsunh menuju alam langgeng. Tapi karena kedatanganmu, sukmanya tak mau pergi menuju keabadian. Dia berkali-kali menitis hingga pada Naning." kata Nyi Among.
"Lalu bagaimana demgan Melati dan Menur, Bu?"
'Mereka sudah menitis sebagai kakak dan adik. Tapi belum menampakkannya kepadamu."
'Apa mungkin mereka itu Desi dan Renita?"
Nyi Among hanya tersenyum, lalu pamit pergi.
Aku menatap ke hpku... Sudah jam 1 dini hari.
Lama juga ngobrol dengan Nyi Among.
Sekarang semua pertanyaan yang mengganjal di hatiku sudah terjawab.
Menyisakan, siapa titisan Melati dan Menur?
Semoga saja itu adalah Desi dan Renita.
Tapi bagaimana mungkin? Mereka berasal dari daerah Sunda. Sedang Melati dan Menur berasal dari Jawa.
Tapi yang namanya sukma bisa pergi kemana saja. Tak terbatas ruang dan waktu.
Semua bisa saja terjadi...
Bisa ssja Melati dan Menur menitis pada orang Kalimantan atau Sulawesi.
Atau bahkan pada bule...WOW...
Berpikir begitu, ga terasa aku ketiduran.
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..........:Z
Aku terbangun di sebuah rumah besar berbentuk joglo.
DEGH....
Rumah Ki Gede Manyaran?
Masa sih aku kembali lagi ke situ?
Aku bengong di depan pendopo yang sangat ku kenal.
Tampak ssorang gadis berusia 15 tahunan berlari kecil menghampiriku.
"Menur. .???"
Gadis itu tersenyum manis, meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah joglo itu.
Aku mandah diseret olehnya ke dalam.
Suasana sepi banget..ga ada orang yang biasa bersliweran di dalam rumah.
Aku terus diseret oleh Menur ke Kaputren.
Aku sempat celungukan...takut ketahuan kalau masuk Kaputren, daerah larangan untuk laki-laki.
Tapi suasana sepi...tak tampak bayangan seorangpun.
Menur membawaku ke taman kaputren.
Di bangku dekat kebun bunga, duduk seorang gadis membelakangi kami.
Tapi aku tahu bahwa itu adalah Melati.
Tapi ternyata, saat dia memalingkan muka....
Ahhh......ternyata memang benar dia Melati.
Masih cantik dan menggairahkan....
Dia beranjak dari duduknya, menghampiriku, lalu meraih tangan kananku dan menciumnya.
"Kangmas...!" panggilnya merdu.
"Iya nimas....!"
"Saat ini aku bahagia sekali kangmas... Aku telah menemukan seseorang tempatku menitis untuk dapat bersatu dengan kangmas." tuturnya lembut dengan senyum yang begitu menggoda.
"Siapakah dia yang menjadi titisanmu Nimas?" tanyaku.
"Nanti kau akan tahu kangmas, dia akan membawa surat yang engkau berikan padaku itu kangmas...!" katanya tersenyum penuh arti.
"Nah..sekali ini kangmas harus benar-benar menjadi kangmasku." kata Menur padaku.
"Hei...memangnya kamu juga menitis nimas?"
"Iya kangmas... Jadi adiknya mbakyu Melati juga....!" katanya.
"Duh...kok jadi kompak begitu sih..?"
"Hihi...aku belum puas punya kakak laki-laki, jadi ikutan menitis deh. Biar punya kakak sebaik kangmas Aji...!" kata Menur dengan mata berbinar.
"Eh...kasih tahu dong, kamu menitis ke siapa?" kataku merayu Menur.
"Hehe ..rahasia kangmas. Biar jadi kejutan buat kangmas."
Ah. .kok pada main rahasia gitu sih... Eikeh khan jedong penasaran...!!! (Gagal jadi cowo ngondek..hehe)
"Wah..kalian ini bikin aku jadi penasaran saja deh. Kasih clue nya dong!" pintaku.
"Klu .. Apa itu klu? Kluwek?" tanya Menur polos.
Ngoahaha...aku lupa kalo mereka cewe jadul...
"Maksudku petunjuk....!"
Menur menatap mbakyunya, dan kulihat Melati dengan senyum manisnya mengangguk.
"Kami menitis pada dua orang gadis dari kulon." kata Menur.
"Iti saja? Sedikit amat...!" kataku.
"Biar kangmas penasaran dan berusaha mencari...!" kata Menur menggodaku...
"Baiklah. Aku akan mencari sekuat tenagaku." kataku akhirnya.
"Kangmas...!" panggil Melati dengan lembutnya.
"Iya Nimas...!"
"Sudah subuh kangmas... Silahkan kangmas bangun dan sholat!"katanya.
Aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Ternyata aku di kamar kostku.
Ah...jadi keingetan Melati yang cantik dan Menur yang lincah.
Kejadian siang tadi di warteg, mengganggu pikiranku.
Benarkah aku melihat sosok Wening pada diri Naning?
Atau itu hanyalah ilusi optik belaka?
Harapanku sih, itu cuma ilusi belaka. Aku ga ingin diganggu oleh segala macam urusan dari masa silam.
Kuanggap petualanganku ke masa silam hanya mimpi saat aku tak sadarkan diri.
Saat aku sedang kesulitan memejamkan mata dan mataku menerawang jauh, tiba-tiba sosok Nyi Among menampakkan diri di sampingku.
Aku sedikit terkejut karenanya...
"Ibu...?"
"Iya nak... Kenapa sampai selarut ini engkau belum tidur? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Nyi Among.
Akupun menceritakan semua yang membuatku gundah.
Dan pertanyaan yang paling menganggu adalah apakah benar aku memang bertualang ke masa lalu?
"Sebenarnya, kau memang melakuksn perjalanan itu nak. Kau berads di masa lalu selama selapan (35) hari. Dan dengan kedatanganmu di sana, engkau sudah " sedikit" mengubah sejarah!"
"Maksudnya Bu?"
Nyi Among lalu mulai menceritakan bahwa dalam sejarah yang sebenarnya, memang Melati berjodoh dengan Arya Damar. Dan Wening, tidak bersuami seumur hidupnya. Karena memang hidupnya hanya sampai berumur 19 tahun saja. Wening, gugur dalam sebuah peperangan membela tanah perdikan Munggangsari.
Dengan kehadiranku di masa lalu, aku mengubah hati dua orang gadis itu.
Melati yang jatuh cinta padaku, juga Wening yang bersumpah tak akan menikah seumur hidupnya.
Itulah mengapa nyi among menyebutku "sedikit" mengubah sejarah.
Lebih kepada sejarah dua gadis itu. Bukan sejarah secara umum.
"Lalu, apakah Damar itu adalah Ki Panembahan leluhurku, Bu?"
"Bukan nak... Ki Panembahan adalah anak angkat dan murid kesayangan Damar. Cerita selengkapnya begini...."
Setelah menikah dengan Melati, Arya Damar memboyong istrinya ke tanah perdikan Munggangsari. Setahun setelahnya, Tanah perdikan itu diserbu musuh yang sangat kuat.
Maka terjadilah pertempuran besar yang membuat Wening gugur di medan laga membela tanah kelahirannya. Pasukan Munggangsari kalah dan Damar beserta istrinya menyingkir ke Manyaran. Tapi, karena takut jika musuh nantinya malah menyerbu ke Manyaran untuk memburunya, Damar memutuskan untuk pergi dari Manyaran. Dia takut rakyat Manyaran menjadi korban musuh yang mengejar dirinya. Maka dia memutuskan untuk berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Hingga di suatu tempat, dia menemukan seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Dipungutnya anak itu sebagai anak angkat, apalagi dia dan Melati belum juga dikaruniai keturunan. Damar dan Melati juga memutuskan untuk menetap di tempat itu dan membesarkan anak itu, yang mereka beri nama Joko Samsara. Setahun setelah mengangkat anak, Melati melahirkan seorang anak perempuan. Joko Samsara tumbuh menjadi anak yang kuat dan diajari ilmu kanuragan oleh Damar. Sehingga menjadi orang yang sakti mandraguna. Dialah kelak yang akhirnya bergelar Ki Panembahan yang menjadi kakek buyutmu.
Begitulah cerita dari Nyi Among. Aku jadi tahu bahwa Ki Panembahan adalah anak angkat dari Damar. Jadi Damar dan Melati bukanlah nenek moyangku.
"Lalu bagaimana dengan penglihatanku tadi? Aku melihat sosok Wening pada diri Naning?" tanyaku.
"Itu adalah tanda bahwa dia adalah titisan Wening! Makanya ibu bilang bahwa kamu sudah mengubah sejarah. Mungkin jika kau tidak ke masa lalu, sukma Wening akan langsunh menuju alam langgeng. Tapi karena kedatanganmu, sukmanya tak mau pergi menuju keabadian. Dia berkali-kali menitis hingga pada Naning." kata Nyi Among.
"Lalu bagaimana demgan Melati dan Menur, Bu?"
'Mereka sudah menitis sebagai kakak dan adik. Tapi belum menampakkannya kepadamu."
'Apa mungkin mereka itu Desi dan Renita?"
Nyi Among hanya tersenyum, lalu pamit pergi.
Aku menatap ke hpku... Sudah jam 1 dini hari.
Lama juga ngobrol dengan Nyi Among.
Sekarang semua pertanyaan yang mengganjal di hatiku sudah terjawab.
Menyisakan, siapa titisan Melati dan Menur?
Semoga saja itu adalah Desi dan Renita.
Tapi bagaimana mungkin? Mereka berasal dari daerah Sunda. Sedang Melati dan Menur berasal dari Jawa.
Tapi yang namanya sukma bisa pergi kemana saja. Tak terbatas ruang dan waktu.
Semua bisa saja terjadi...
Bisa ssja Melati dan Menur menitis pada orang Kalimantan atau Sulawesi.
Atau bahkan pada bule...WOW...
Berpikir begitu, ga terasa aku ketiduran.
Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..........:Z
Aku terbangun di sebuah rumah besar berbentuk joglo.
DEGH....
Rumah Ki Gede Manyaran?
Masa sih aku kembali lagi ke situ?
Aku bengong di depan pendopo yang sangat ku kenal.
Tampak ssorang gadis berusia 15 tahunan berlari kecil menghampiriku.
"Menur. .???"
Gadis itu tersenyum manis, meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah joglo itu.
Aku mandah diseret olehnya ke dalam.
Suasana sepi banget..ga ada orang yang biasa bersliweran di dalam rumah.
Aku terus diseret oleh Menur ke Kaputren.
Aku sempat celungukan...takut ketahuan kalau masuk Kaputren, daerah larangan untuk laki-laki.
Tapi suasana sepi...tak tampak bayangan seorangpun.
Menur membawaku ke taman kaputren.
Di bangku dekat kebun bunga, duduk seorang gadis membelakangi kami.
Tapi aku tahu bahwa itu adalah Melati.
Tapi ternyata, saat dia memalingkan muka....
Ahhh......ternyata memang benar dia Melati.
Masih cantik dan menggairahkan....

Dia beranjak dari duduknya, menghampiriku, lalu meraih tangan kananku dan menciumnya.
"Kangmas...!" panggilnya merdu.
"Iya nimas....!"
"Saat ini aku bahagia sekali kangmas... Aku telah menemukan seseorang tempatku menitis untuk dapat bersatu dengan kangmas." tuturnya lembut dengan senyum yang begitu menggoda.
"Siapakah dia yang menjadi titisanmu Nimas?" tanyaku.
"Nanti kau akan tahu kangmas, dia akan membawa surat yang engkau berikan padaku itu kangmas...!" katanya tersenyum penuh arti.
"Nah..sekali ini kangmas harus benar-benar menjadi kangmasku." kata Menur padaku.
"Hei...memangnya kamu juga menitis nimas?"
"Iya kangmas... Jadi adiknya mbakyu Melati juga....!" katanya.
"Duh...kok jadi kompak begitu sih..?"
"Hihi...aku belum puas punya kakak laki-laki, jadi ikutan menitis deh. Biar punya kakak sebaik kangmas Aji...!" kata Menur dengan mata berbinar.
"Eh...kasih tahu dong, kamu menitis ke siapa?" kataku merayu Menur.
"Hehe ..rahasia kangmas. Biar jadi kejutan buat kangmas."
Ah. .kok pada main rahasia gitu sih... Eikeh khan jedong penasaran...!!! (Gagal jadi cowo ngondek..hehe)
"Wah..kalian ini bikin aku jadi penasaran saja deh. Kasih clue nya dong!" pintaku.
"Klu .. Apa itu klu? Kluwek?" tanya Menur polos.
Ngoahaha...aku lupa kalo mereka cewe jadul...
"Maksudku petunjuk....!"
Menur menatap mbakyunya, dan kulihat Melati dengan senyum manisnya mengangguk.
"Kami menitis pada dua orang gadis dari kulon." kata Menur.
"Iti saja? Sedikit amat...!" kataku.
"Biar kangmas penasaran dan berusaha mencari...!" kata Menur menggodaku...
"Baiklah. Aku akan mencari sekuat tenagaku." kataku akhirnya.
"Kangmas...!" panggil Melati dengan lembutnya.
"Iya Nimas...!"
"Sudah subuh kangmas... Silahkan kangmas bangun dan sholat!"katanya.
Aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Ternyata aku di kamar kostku.
Ah...jadi keingetan Melati yang cantik dan Menur yang lincah.
arinu dan 75 lainnya memberi reputasi
76
Tutup