- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#101
Chapter 67
Latihan menguji kemampuan masing-masing antara Djohan dan juga Lio masih berlanjut, bahkan sangking semangatnya mereka berdua sampai membuat kebisingan hingga terdengar ke lantai atas di mana bar dan caffe berada. Lagi-lagi tugas Solo untuk membuat alasan-alasan bagi pelanggan yang penasaran dengan apa yang terjadi. Alasan paling logis saat ini adalah sedang ada perbaikan pipa saluran air.
Djohan ingin mencoba sesuatu yang lain, yaitu membuat banyak ilusi yang mengecoh lawan. Awal mulanya ia membuat tiga, Lio sempat bingung namun kesalahan terbesar Djohan adalah belum bisa memaksimalkan kemampuannya itu. Sehingga ketika ingin menyerang dengan salah satu ilusinya, gambaran yang dibuatnya goyang dan bergetar. Menjadi pertanda untuk Lio dan dapat menghindari serangan Djohan itu.
“Jangan memaksakan, teknik barusan sangat mudah ditebak,” ucap Lio.
“Tidak ada salahnya kan jika aku ingin melakukan sesuatu yang lain,” sahut Djohan.
“Eh…diberitahu senior tapi tidak mendengar…”
Kebisingan yang terasa di lantai atas mulai menganggu, apalagi meja-meja bundar kayu yang tertata rapih mulai bergetar dan cangkir-cangkir yang berisi minuman hangat ikut merasakannya. Solo yang sedang merapikan meja pelanggan dibuat kesal. Ia membanting kain ke atas meja, dan muka yang tidak bersahabat berjalan menuju ruangan bawah tanah.
“Dua bocah itu…akan kuhabisi!” Gonzalo hanya tersenyum canggung ketika mendengar Solo mengucapkan hal itu.
Saat sudah sampai di lorong secara kebetulan Solo melihat Djohan dan juga Lio yang sudah selesai melakukan kegiatannya. Kebisingan dan getaran juga sudah berhenti, karena Solo dalam keadaan emosi maka detil seperti itu tidak dihiraukannya.
“Solo? ada apa?” tanya Djohan. Sebelum Solo menjawab, Djohan sudah memberikannya pertanyaan lain. “ah untung kamu menyusul ke sini, aku tadi bertanya pada Lio. Bahwa satu-satunya dari kita yang menggunakan senjata dari sel beaters itu adalah kamu, ada tips dan trik bagaimana melakukannya?” mata Solo membesar ketika dibredel pertanyaan seperti itu.
Saat sedang berlatih barusan, Djohan sempat membahas bagaimana seorang dari Bronze Clan dapat membuat senjata keluar dari tubuhnya. Lio berucap bahwa Solo juga bisa melakukannya juga, bahkan hanya dirinyalah yang menggunakan teknik lain seperti itu. Sedangkan anggota yang lainnya hanya berfokus pada kekuatan yang dihasilkan oleh tanduk mereka masing-masing. Lanjut Lio bercerita, bahwa kekuatan Solo adalah mengeluarkan akar-akar lembut berduri dari seluruh tubuhnya. Tetapi karena ketika menggunakannya ia terlihat jelek, berdasarkan pendapat pribadi Solo sendiri. Maka ketika misi penghancuran pabrik Beaters, Solo memodifikasinya menjadi sebuah cambuk akar berduri dan itu sangat efektif.
“Itu…,” yang tadinya Solo ingin memarahi mereka malah tidak jadi, karena harus menjawab pertanyaan dari Djohan. “ah..bukan apa-apa,” malah tersipu malu.
“Jadi bagaimana kamu melakukannya?” raut wajah Solo mulai serius dan menjabarkannya secara sederhana.
Kekuatan milik Solo adalah mengeluarkan akar yang mirip dengan akar tanaman, dan juga memiliki duri. Karena Solo sama sekali membenci bentuk organik miliknya dan tidak cukup mahir dalam menggunakan mode armored, maka ia melakukan cara lain untuk mengeluarkan kekuatannya. Yaitu dengan cara membuat senjata dari sel beaters. Yang harus dilakukan sangat mudah, yaitu membentuk sendiri sel beaters menjadi senjata yang kita mau. Dalam kasus Solo karena bentuk akarnya sudah mirip dengan cambuk maka hal itu mudah dilakukan.
“Keuntungan Solo ada di situ, bentuk kekuatannya sudah mirip dengan salah satu senjata yaitu cambuk. Aku sendiri sangat kesulitan menjaga bentuk armored…,” ujar Djohan.
“Eh…jadi kalian membuat ribut dari tadi hanya untuk menguasai teknik itu?” tanya Solo yang kembali akan murka.
“Lebih baik tanyakan langsung pada mereka, orang-orang dari Bronze Clan itu. Bau mereka sudah kukenali dan dengan mudahnya bisa aku deteksi,” ucap Lio menghiraukan Solo.
“Ah! Benar juga, tapi apakah bisa? kepergian mereka sudah beberapa hari yang lalu,” Djohan pun ikut menghiraukan Solo.
“Kau meremehkanku hah?!” Lio tidak terima dan langsung mendeteksi dua orang Bronze Clan itu. “dapat!” senyumnya meledek.
Tanpa membuang waktu keduanya pamit dari lorong itu kepada Solo, sementara dirinya sudah sangat kesal dan kedua tangannya sudah mengepal dengan sangat keras.
“AWAS SAJA KALIAN!!!!”
Lio dan Djohan sangatlah beruntung karena ternyata orang dari Bronze Clan masih berada di Surban City, letaknya memang cukup jauh dari sektor 8 tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka berdua. Dengan kecepatan masing-masing keduanya meliuk-liuk tanpa terdeteksi orang-orang yang mereka lewati dengan mudah. Lalu Lio memberitahu Djohan bahwa lokasi target yaitu orang dari Bronze Clan sudah dekat.
“Tinggal belok dipersimpangan ini,” ucap Lio diikuti anggukan oleh Djohan.
Keduanya melesat dan dilihatnya orang dari Bronze Clan sedang bersantai dipinggiran jalan, meneduh di bawah pepohonan yang rindang. Seperti orang yang sedang menunggu taxi datang, dengan jubah lusuh yang melapisi tubuh dua orang itu.
“Eh?” Cetrune mengetahui kedatangan Lio dan Djohan.
“Maaf menganggu waktu kalian, ada yang ingin kutanyakan,” ucap Djohan, sedangkan Ilo nampaknya tidak terlalu perduli.
“Tanyakan tentang apa?”
Djohan menjelaskannya, bagaimana cara membuat senjata dari sel beaters. Setaunya ketika membuat baju jirah dari sel beaters, itu membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Bahkan ketika menerima serangan dari lawan, tidak jarang bagian-bagian yang sudah dibuat oleh Djohan retak bahkan pecah sangking rapuhnya. Apalagi dalam hal ini membuat senjata yang begitu solid dan mampu menyerang dengan kekuatan yang besar.
“Hm,” Cetrune berpikir sebentar. “bagaimana yah, kami di Bronze Clan sudah diajarkan dari awal. Karena misi dari Bronze Clan sendiri sebagai pemburu, maka seperti pemburu pada umumnya kami harus membekali diri dengan senjata. Milikku tombak, orang di sana busur panah, lalu ada ketua dengan kampak besarnya. Jadi membuat sel beaters menjadi sebuah senjata adalah hal alamiah….”
“Begitu kah, jadi tidak ada cara bagi clan lain untuk membuatnya juga?”
Cetrune menyanggahnya, setaunya selain dari Bronze Clan ada juga Troy dari Golden Clan yang membuat pedang cahaya dari sel beaters miliknya. Teknik ini bisa dilatih, tidak sesulit ketika menjelma menjadi mode armored. Ia menyarankan agar Djohan kembali memikirkannya, apakah membuat senjata dari sel beaters dibutuhkan olehnya ketika adanya pertarungan atau tidak. Karena tidak semua orang cocok menggunakan senjata, ada yang beranggapan bahwa memegang senjata membuat serangannya mudah terbaca dan membuat pergerakan sedikit melambat.
“Menurutku pribadi, kau tidak perlu menggunakan teknik ini dalam pertarungan. Maksudku, tinjumu sudah kuat dan kecepatanmu juga di atas rata-rata. Hanya perlu mengasah teknikmu dalam bertarung agar tidak mudah terbaca oleh lawan,” Cetrune tersenyum. “setiap orang memiliki keunggulan masing-masing, kita tidak perlu menguasai segala hal. Cukup mantapkan kemampuan yang sudah dimiliki agar lebih unggul dari yang lainnya,” Ilo menatapnya dengan sinis sambil menggelengkan kepalanya.
Menurut Djohan benar apa yang dikatakan oleh Cetrune, mungkin karena terobsesi menjadi lebih kuat mampu membutakan dirinya. Apalagi dengan desas desus kehadiran Red Sun membuatnya menjadi lebih bergairah lagi untuk menjadi kuat. Lio pun setuju bahwa mengasah lebih keras kemampuan yang sudah dimiliki akan lebih jauh terasa dibandingkan mencoba semuanya tetapi masih kurang dalam prakteknya.
“Mumpung kalian berdua ada di sini, bagaimana jika aku traktir minuman? Kebetulan cuaca juga sedang terik-teriknya, mumpung kami belum pergi ke kota selanjutnya,” ucap Cetrune menawarkan minuman gratis.
Djohan dan Lio melirik tajam ke arah Cetrune, pakaian yang bertemakan ‘alam liar’ dengan jubah yang compang-camping cenderung kotor. Orang-orang juga akan melihat Bronze Clan sebagai gelandangan jika berpakaian seperti ini.
“Ada apa dengan tatapan kalian itu?! kalian kira aku tidak memiliki uang!” Djohan dan Lio pun saling melirik, lalu ujung bibir mereka naik ke atas.
Quote:
Latihan menguji kemampuan masing-masing antara Djohan dan juga Lio masih berlanjut, bahkan sangking semangatnya mereka berdua sampai membuat kebisingan hingga terdengar ke lantai atas di mana bar dan caffe berada. Lagi-lagi tugas Solo untuk membuat alasan-alasan bagi pelanggan yang penasaran dengan apa yang terjadi. Alasan paling logis saat ini adalah sedang ada perbaikan pipa saluran air.
Djohan ingin mencoba sesuatu yang lain, yaitu membuat banyak ilusi yang mengecoh lawan. Awal mulanya ia membuat tiga, Lio sempat bingung namun kesalahan terbesar Djohan adalah belum bisa memaksimalkan kemampuannya itu. Sehingga ketika ingin menyerang dengan salah satu ilusinya, gambaran yang dibuatnya goyang dan bergetar. Menjadi pertanda untuk Lio dan dapat menghindari serangan Djohan itu.
“Jangan memaksakan, teknik barusan sangat mudah ditebak,” ucap Lio.
“Tidak ada salahnya kan jika aku ingin melakukan sesuatu yang lain,” sahut Djohan.
“Eh…diberitahu senior tapi tidak mendengar…”
Kebisingan yang terasa di lantai atas mulai menganggu, apalagi meja-meja bundar kayu yang tertata rapih mulai bergetar dan cangkir-cangkir yang berisi minuman hangat ikut merasakannya. Solo yang sedang merapikan meja pelanggan dibuat kesal. Ia membanting kain ke atas meja, dan muka yang tidak bersahabat berjalan menuju ruangan bawah tanah.
“Dua bocah itu…akan kuhabisi!” Gonzalo hanya tersenyum canggung ketika mendengar Solo mengucapkan hal itu.
Saat sudah sampai di lorong secara kebetulan Solo melihat Djohan dan juga Lio yang sudah selesai melakukan kegiatannya. Kebisingan dan getaran juga sudah berhenti, karena Solo dalam keadaan emosi maka detil seperti itu tidak dihiraukannya.
“Solo? ada apa?” tanya Djohan. Sebelum Solo menjawab, Djohan sudah memberikannya pertanyaan lain. “ah untung kamu menyusul ke sini, aku tadi bertanya pada Lio. Bahwa satu-satunya dari kita yang menggunakan senjata dari sel beaters itu adalah kamu, ada tips dan trik bagaimana melakukannya?” mata Solo membesar ketika dibredel pertanyaan seperti itu.
Saat sedang berlatih barusan, Djohan sempat membahas bagaimana seorang dari Bronze Clan dapat membuat senjata keluar dari tubuhnya. Lio berucap bahwa Solo juga bisa melakukannya juga, bahkan hanya dirinyalah yang menggunakan teknik lain seperti itu. Sedangkan anggota yang lainnya hanya berfokus pada kekuatan yang dihasilkan oleh tanduk mereka masing-masing. Lanjut Lio bercerita, bahwa kekuatan Solo adalah mengeluarkan akar-akar lembut berduri dari seluruh tubuhnya. Tetapi karena ketika menggunakannya ia terlihat jelek, berdasarkan pendapat pribadi Solo sendiri. Maka ketika misi penghancuran pabrik Beaters, Solo memodifikasinya menjadi sebuah cambuk akar berduri dan itu sangat efektif.
“Itu…,” yang tadinya Solo ingin memarahi mereka malah tidak jadi, karena harus menjawab pertanyaan dari Djohan. “ah..bukan apa-apa,” malah tersipu malu.
“Jadi bagaimana kamu melakukannya?” raut wajah Solo mulai serius dan menjabarkannya secara sederhana.
Kekuatan milik Solo adalah mengeluarkan akar yang mirip dengan akar tanaman, dan juga memiliki duri. Karena Solo sama sekali membenci bentuk organik miliknya dan tidak cukup mahir dalam menggunakan mode armored, maka ia melakukan cara lain untuk mengeluarkan kekuatannya. Yaitu dengan cara membuat senjata dari sel beaters. Yang harus dilakukan sangat mudah, yaitu membentuk sendiri sel beaters menjadi senjata yang kita mau. Dalam kasus Solo karena bentuk akarnya sudah mirip dengan cambuk maka hal itu mudah dilakukan.
“Keuntungan Solo ada di situ, bentuk kekuatannya sudah mirip dengan salah satu senjata yaitu cambuk. Aku sendiri sangat kesulitan menjaga bentuk armored…,” ujar Djohan.
“Eh…jadi kalian membuat ribut dari tadi hanya untuk menguasai teknik itu?” tanya Solo yang kembali akan murka.
“Lebih baik tanyakan langsung pada mereka, orang-orang dari Bronze Clan itu. Bau mereka sudah kukenali dan dengan mudahnya bisa aku deteksi,” ucap Lio menghiraukan Solo.
“Ah! Benar juga, tapi apakah bisa? kepergian mereka sudah beberapa hari yang lalu,” Djohan pun ikut menghiraukan Solo.
“Kau meremehkanku hah?!” Lio tidak terima dan langsung mendeteksi dua orang Bronze Clan itu. “dapat!” senyumnya meledek.
Tanpa membuang waktu keduanya pamit dari lorong itu kepada Solo, sementara dirinya sudah sangat kesal dan kedua tangannya sudah mengepal dengan sangat keras.
“AWAS SAJA KALIAN!!!!”
Lio dan Djohan sangatlah beruntung karena ternyata orang dari Bronze Clan masih berada di Surban City, letaknya memang cukup jauh dari sektor 8 tetapi itu bukanlah masalah bagi mereka berdua. Dengan kecepatan masing-masing keduanya meliuk-liuk tanpa terdeteksi orang-orang yang mereka lewati dengan mudah. Lalu Lio memberitahu Djohan bahwa lokasi target yaitu orang dari Bronze Clan sudah dekat.
“Tinggal belok dipersimpangan ini,” ucap Lio diikuti anggukan oleh Djohan.
Keduanya melesat dan dilihatnya orang dari Bronze Clan sedang bersantai dipinggiran jalan, meneduh di bawah pepohonan yang rindang. Seperti orang yang sedang menunggu taxi datang, dengan jubah lusuh yang melapisi tubuh dua orang itu.
“Eh?” Cetrune mengetahui kedatangan Lio dan Djohan.
“Maaf menganggu waktu kalian, ada yang ingin kutanyakan,” ucap Djohan, sedangkan Ilo nampaknya tidak terlalu perduli.
“Tanyakan tentang apa?”
Djohan menjelaskannya, bagaimana cara membuat senjata dari sel beaters. Setaunya ketika membuat baju jirah dari sel beaters, itu membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Bahkan ketika menerima serangan dari lawan, tidak jarang bagian-bagian yang sudah dibuat oleh Djohan retak bahkan pecah sangking rapuhnya. Apalagi dalam hal ini membuat senjata yang begitu solid dan mampu menyerang dengan kekuatan yang besar.
“Hm,” Cetrune berpikir sebentar. “bagaimana yah, kami di Bronze Clan sudah diajarkan dari awal. Karena misi dari Bronze Clan sendiri sebagai pemburu, maka seperti pemburu pada umumnya kami harus membekali diri dengan senjata. Milikku tombak, orang di sana busur panah, lalu ada ketua dengan kampak besarnya. Jadi membuat sel beaters menjadi sebuah senjata adalah hal alamiah….”
“Begitu kah, jadi tidak ada cara bagi clan lain untuk membuatnya juga?”
Cetrune menyanggahnya, setaunya selain dari Bronze Clan ada juga Troy dari Golden Clan yang membuat pedang cahaya dari sel beaters miliknya. Teknik ini bisa dilatih, tidak sesulit ketika menjelma menjadi mode armored. Ia menyarankan agar Djohan kembali memikirkannya, apakah membuat senjata dari sel beaters dibutuhkan olehnya ketika adanya pertarungan atau tidak. Karena tidak semua orang cocok menggunakan senjata, ada yang beranggapan bahwa memegang senjata membuat serangannya mudah terbaca dan membuat pergerakan sedikit melambat.
“Menurutku pribadi, kau tidak perlu menggunakan teknik ini dalam pertarungan. Maksudku, tinjumu sudah kuat dan kecepatanmu juga di atas rata-rata. Hanya perlu mengasah teknikmu dalam bertarung agar tidak mudah terbaca oleh lawan,” Cetrune tersenyum. “setiap orang memiliki keunggulan masing-masing, kita tidak perlu menguasai segala hal. Cukup mantapkan kemampuan yang sudah dimiliki agar lebih unggul dari yang lainnya,” Ilo menatapnya dengan sinis sambil menggelengkan kepalanya.
Menurut Djohan benar apa yang dikatakan oleh Cetrune, mungkin karena terobsesi menjadi lebih kuat mampu membutakan dirinya. Apalagi dengan desas desus kehadiran Red Sun membuatnya menjadi lebih bergairah lagi untuk menjadi kuat. Lio pun setuju bahwa mengasah lebih keras kemampuan yang sudah dimiliki akan lebih jauh terasa dibandingkan mencoba semuanya tetapi masih kurang dalam prakteknya.
“Mumpung kalian berdua ada di sini, bagaimana jika aku traktir minuman? Kebetulan cuaca juga sedang terik-teriknya, mumpung kami belum pergi ke kota selanjutnya,” ucap Cetrune menawarkan minuman gratis.
Djohan dan Lio melirik tajam ke arah Cetrune, pakaian yang bertemakan ‘alam liar’ dengan jubah yang compang-camping cenderung kotor. Orang-orang juga akan melihat Bronze Clan sebagai gelandangan jika berpakaian seperti ini.
“Ada apa dengan tatapan kalian itu?! kalian kira aku tidak memiliki uang!” Djohan dan Lio pun saling melirik, lalu ujung bibir mereka naik ke atas.
Diubah oleh the.collega 06-06-2021 11:33
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas