Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.1K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#101
Tipu Daya



kaskus-image





Aku menelan ludah begitu melihat fenomena yang menakutkan ini. Aku hanya bisa berdiri mematung, seperti tak merasakan lagi dinginnya malam dan juga udara yang sudah seperti menusuk tulang ini.

Sebuah pemandangan yang luar biasa.

Ada begitu banyak makhluk gaib yang tengah berkerumun mengelilingi Villa kami. Dari makhluk yang aku tahu namanya, sampai makhluk yang hanya berupa bayangan saja yang aku tak tahu namanya apa. Dari yang tingginya normal seperti manusia pada umumnya, sampai yang setinggi villa itu sendiripun ada.

"Gila,"gumamku dalam hati.

Aku tiba-tiba saja tersadar saat ada yang menepuk pundakku.

Seketika aku menoleh.

Ternyata itu adalah Inas.

"Ada apa, ndra? Kenapa kamu malah bengong?" Tanyanya.

"Hah?" Aku tak mengerti pertanyaannya.

Inas menghirup nafas panjang dulu, baru kemudian ia menjawab pertanyaanku.

"Aku tanya kenapa kamu malah bengong di situ? Bukanya lanjut jalan," ujarnya.

"Tapi...," Perkataan itu hanya tersangkut di tenggorokan. Tak jadi aku keluarkan.

Aku memandang Sri. Mencoba melihat apakah ada perubahan diraut wajahnya. Tapi ternyata dia juga menunjukkan wajah penuh tanya sama seperti Inas.
emoticon-Bingung

"Jangan-jangan mereka berdua tidak melihat apa yang aku lihat?" Tanyaku dalam hati.

Dan untuk memastikan hal itu, aku kemudian bertanya kepada mereka.

"Kalian berdua, apakah kalian tidak melihat ada hal yang aneh yang terjadi Villa kita?" Tanyaku.

Untuk sesaat keduanya memandangi ke arah Villa yang sudah berada tak jauh di depan kami. Lalu kedua perempuan itu hampir serempak menggelengkan kepalanya.

"Enggak ada yang aneh kok," balas Inas.

Aku menarik nafas panjang lalu berkata.

"Jadi, berarti benar kalau memang kalian berdua tidak melihat apa yang aku lihat,"

"Maksudnya apa sih, ndra?"
Tanya Inas.

Aku terdiam sejenak. Berusaha menimbang-nimbang apakah baik atau buruk jika aku memberitahu keduanya.

Tapi kemudian aku pun mengambil keputusan aku harus memberitahu mereka. Karena di dalam kondisi seperti ini, informasi sangat penting untuk kami dapatkan. Karena informasi itu bisa digunakan untuk langkah selanjutnya nanti.

"Akan kukatakan, tapi kalian jangan kaget ya. Sebenarnya, di depan kita ini sudah banyak berkumpul banyak sekali makhluk gaib. Yang saat ini tengah mengerumuni Villa yang kita sewa," kataku sambil memandang ke arah villa.

Keduanya terdiam seolah mencerna perkataanku.

"Tapi aku tidak melihat apa-apa," ujar Sri.

Aku memandangnya lalu menarik nafas panjang.

"Aku juga tidak tahu, kenapa hanya aku saja yang bisa melihat ini. Tapi sungguh, apa yang aku kelihatan katakan ini adalah yang sebenarnya terjadi,"

"Lalu, kalau memang apa yang kamu katakan itu benar. Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Tanya Inas pada akhirnya.

Aku terdiam sejenak.

"Sebaiknya kita menghindari villa itu. Saranku kita harus segera keluar dari komplek Villa ini. Dan berjalan ke perkampungan terdekat," jawabku sedikit ragu.

"Apakah di perjalanan nanti, kita akan baik-baik saja?" Tanya Sri.

Aku diam.

"Jarak dari sini sampai ke kampung terdekat itu lumayan jauh lho, ndra. Belum lagi kita harus melewati tepian hutan yang sepi," kata Inas yang membuatku kembali berpikir ulang dengan keputusan tadi.

Aku selalu berkacak pinggang. Dan sambil memejamkan mata, aku mendongak keatas dan menghirup udara gunung dalam-dalam. Otakku terus berusaha memilih keputusan apa yang tepat untuk saat ini.

Sekarang, keadaan tidak memungkinkan untuk kami pergi masuk kedalam villa. Karena meskipun kedua temanku itu tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa. Dan yang kutakutkan adalah, para makhluk gaib itu tertarik dengan Sri yang tengah haid.

Kemudian opsi kedua adalah kami bertiga berjalan kaki ke perkampungan terdekat, tempat si bapak penjaga Villa. Lalu meminta bantuan disana untuk menyelamatkan teman-teman kami yang masih ada di sini. Opsi ini juga mengandung bahaya. Karena nantinya, kami bertiga akan berjalan di tepian hutan yang sepi. Dan aku tidak bisa memprediksikan bahwa nantinya tidak ada gangguan selama perjalanan.

Lalu opsi terakhir, kami bertiga bersembunyi saja disebuah tempat yang sekiranya aman. Mungkin dengan memilih opsi ini, kami bertiga akan aman. Tetapi bagaimana dengan teman-temanku yang lainnya?

"Aaakh...," Kataku sedikit menggeram sambil mengacak-ngacak rambut.

Aku membuka mata dan menatap ke langit yang masih terus menurunkan air hujan dengan intensitas yang mulai mengecil, dan kini sudah tidak lagi terlihat kilatan petirnya.



"Hufft...," Aku menghembuskan nafas panjang lalu menatap kearah mereka berdua, eh tunggu, mereka bertiga.

Bertiga?
emoticon-Entahlah

Sontak saja mataku langsung melebar. Tak sadar, aku melangkah mundur beberapa langkah saking kagetnya. Mulutku terbuka ingin mengatakan sesuatu.

Ya, entah darimana asalnya. Tiba-tiba saja dibelakang kedua temanku itu muncul sesosok makhluk bertubuh tinggi. Makhluk ini mengenakan pakaian terusan berwarna putih kecoklatan. Tingginya yang hampir 3 kali lipat dari tinggi manusia biasa itu, mengingatkanku dengan keempat makhluk gaib yang kulihat didalam villa.
kaskus-image

Atau mungkin, ia adalah salah satu diantaranya?
emoticon-Takut

Inas dan Sri terkejut dan heran melihat tingkah lakuku. Tapi, Inas yang mungkin memiliki insting yang kuat, segera menyadari bahwa ada bahaya yang berada dibelakang tubuhnya.

Karena itu, ia bisa berlari kencang kearahku. Hanya saja ia lupa untuk mengajak Sri berlari.

"Bruk,"

Tubuh Inas yang berlari kencang kutangkap. Tapi, karena inas berlari dengan cepat dan sekuat tenaga, aku tak bisa menangkapnya dengan sempurna. Sehingga kami berdua pun terjatuh ke belakang.

Dengan cepat, aku segera berdiri sambil membantu Inas. Lalu kualihkan pandangan mataku ketempat Sri berdiri.

"Hah!"

Aku terkejut.


Sri sudah tidak ada ditempatnya. Juga makhluk gaib yang tadi berdiri dibelakangnya, juga sudah tidak ada.

"Kemana mereka?" Tanyaku sambil jelalatan mencari keberadaan Sri.

Nihil.

Sri seperti menghilang ditengah kegelapan malam.

Tapi Inas kemudian menarik-narik tanganku meminta perhatianku.

Aku menoleh kearahnya.

Inas menunjuk ke sebuah arah. Arah dimana jalan menuju ke villa kami berada. Segera kuikuti arah tangannya itu menunjuk.

Dan benar saja dugaanku.

Saat ini, Sri kulihat tengah berlari kearah villa. Yang mana, disana masih berkerumun berbagai macam jenis makhluk gaib mengelilingi Villa kami.

"SRI...!" Teriakku keras sambil berlari kearahnya. Tak lupa kuambil tongkat kayu yang terjatuh saat tadi Inas menubrukku.

Tak ada jawaban. Sri terus saja berlari kesana. Menuju kearah villa.

"Anjing! Keparat kalian semua!" Teriakku marah.
emoticon-Marah

Aku sudah lelah, takut, kedinginan, dan juga kebingungan dengan semua ini. Ditambah lagi dengan kejadian ini. Membuat otak ini serasa blank. Semua beban yang bertumpuk-tumpuk itu kini menggumpal menjadi satu. Menjadi perasaan marah yang amat sangat.

Aku marah kepada Sri yang gampang sekali terlibat dengan makhluk gaib. Aku marah dengan Gatot, yang salah dalam memilih tempat. Yusuf, yang dengan sombongnya memporak-porandakan sesajen orang tanpa memikirkan bagaimana akibatnya. Dan yang paling utama, dan mungkin yang sebenarnya adalah, aku marah kepada diriku sendiri yang bersikap naif. Sok tidak butuh dengan kemampuan itu.

"Tailah...," Geramku sambil terus berlari kearah Sri.

"Anjing! Berhenti lu setaaan!" Teriakku kesetanan.

Setan teriak setan...
emoticon-Ngakak

Lalu,

"Bruk,"

Aku berhasil menubruk tubuh Sri sebelum ia sampai dihalaman depan villa.

Tubuhnya sedikit meronta. Tapi, aku yang sudah hampir hilang akal itu tak membiarkannya.

Aku yang sedikit memiliki pengalaman dalam menghadapi orang yang tengah kesurupan tahu. Bahwa aku akan kalah apabila aku hanya menahan tubuhnya secara biasa saja.

Maka dari itu, aku langsung merangkul Sri sekuat tenaga dengan cara mengunci sendi-sendi tubuhnya. Seperti siku, pinggang, dan lutut dengan seluruh tubuhku.

Tapi, karena rangkulanku yang sedikit tergesa-gesa. Membuatnya belum sempurna. Sri berhasil memberontak. Aku hampir saja terpelanting akibat dari tenaga Sri yang sangat besar.

Tapi aku tak hilang akal.

Kembali kuraih kaki Sri saat ia hendak mulai berbalik badan.

Tubuhnya jatuh telentang.

Aku segera melompat bangkit dan berhasil menindihnya. Kedua tanganku menahan kedua sikunya dengan erat. Pinggangnya kutahan dengan tubuh bagian bawahku. Lalu kakiku kususupkan kebawah guna menahan kedua lututnya.

Aku bernafas dengan sangat cepat. Melakukan hal ini butuh kecepatan dan ketepatan. Salah sedikit saja, maka usahaku akan percuma.

Wajah kami berhadapan.

Kulihat Sri menyeringai melihatku.


Tiba-tiba saja ia tertawa tak wajar.

"Hahahaha...,"

Aku terkejut mendengarnya. Bukan, bukan karena takut. Tapi karena kaget. Suara tawa ini lebih mirip suara tawa laki-laki. Berat dan kasar. Padahal aku sangat yakin, bahwa makhluk gaib yang merasuki diri Sri, adalah makhluk yang tadi berdiri dibelakang tubuhnya. Dan makhluk itu, sangat yakin berjenis perempuan. Tapi ini kenapa suaranya suara laki-laki?

Apakah aku tertipu?

Memikirkan hal ini, aku sontak teringat dengan Inas.

Dengan masih memegangi tubuh Sri, aku menoleh ke belakang.

"Inas...,"

Hanya itu saja yang bisa kukatakan.

Karena ternyata, Inas juga saat ini tengah kerasukan. Ia berjalan pelan melewati tubuh kami berdua. Saat tubuhnya berjalan disampingku, ia memalingkan wajahnya. Sebuah senyuman tiba-tiba muncul dari wajahnya yang pucat.

Lalu...

"Hihihihihi....,"

Suara tawa yang melengking tinggi tiba-tiba saja terdengar menusuk gendang telingaku.

Aku sampai memalingkan wajah dan menutup mata saking tajamnya suara tawa itu.

"baik, ternyata yang masuk kedalam tubuh Sri bukan makhluk tinggi itu. Tapi makhluk lainnya. Dan aku sudah terpancing, sehingga aku ceroboh meninggalkan Inas sendirian. Ternyata, makhluk itu malah merasuki tubuh Inas," kataku dalam hati merutuk kebodohanku.

Cengkraman ku melemah.

Tubuh Sri langsung meronta dan lepas.

Aku terpelanting kebelakang.

Bisa kulihat Sri bangkit berdiri, lalu ia mulai berjalan mengikuti langkah kaki Inas yang tengah berjalan memasuki halaman villa.

Aku hanya bisa terdiam menatap nanar kearah mereka. Aku sangat marah. Kecewa. Aku yang berpikir bahwa sudah tahu tentang dunia mereka, ternyata masih bisa dibodohi oleh makhluk-makhluk itu.

"Sungguh sombong sekali diriku ini,"

Aku lalu menjatuhkan diriku ketanah.

Lelah...aku ingin beristirahat...persetan dengan mereka semua...persetan dengan teman-temanku...dan persetan dengan para setan.
kaskus-image






***
Diubah oleh papahmuda099 19-10-2021 08:37
piripiripuru
mas444
sulkhan1981
sulkhan1981 dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.