- Beranda
- Stories from the Heart
Bandara, Pesawat dan Cinta
...
TS
annastasia81
Bandara, Pesawat dan Cinta

Kami adalah saksi di mana cinta tumbuh, dipertemukan, berpisah dan mati. Bandara, Pesawat dan Cinta inilah kisah kami.
Story #1
The Angels
4 landings, 10 hours, 2 nights layover, 5 consecutives days, 600 weeks.
"Cabin Crew Take Off Position."
"Capt..."
"Yes?"
"Gw galau nih!"
"Kenapa lo Galau Yo?"
"Pacar gw Linda udah minta dinikahin, tapi gw lagi suka banget sama si Dinar selingkuhan gw Capt."
"Ah gitu aja galau, cemen lo! Ga apa-apa kalo belum merit pilih-pilih, tapi jangan sampai kalo udah nikah lo blangsat."
"Kayak lo ya Capt, setia sama istri salut gw, udah berapa tahun lo nikah Capt? 5 tahun? 7 tahun? Gila masih ada jaman sekarang Captain yang perawan di antara the angels, gokil gokil!"
"Ya intinya sih saling percaya aja Bro! Eh lo mau minum nggak? Gw mau pesen kopi, gw call cabin ya."
"Eh mbak Anindya baru aja divorce katanya, gw mau loh nikahin dia kalo dia mau sama gw Capt."
"Hahaha kurang apa lo? Udah ada dua, mau nambah satu lagi nggak tambah puyeng?"
"Nah itu seninya Capt! No body's perfect jadi kekurangan cewek-cewek itu bisa ditutupi dengan kelebihan yang lain!"
"Gila sampai segitunya lo mikir Yo, eh bentar ya gw panggil cabin dulu."
Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berambut sebahu meminta izin untuk masuk ke dalam flight deck. Rambut merahnya berkilau, terpantul cahaya matahari yang masuk dari cockpitwindow number 2.
"Mbak Anindya boleh saya minta kopi hitam?"
"Boleh Captain, Mas Aryo mau minum juga?"
"Hehehe... Saya cukup mbak makasih."
"Bener nih Yo? Tadi katanya mau minta apa gitu sama mbak Anindya?"
"Ah bercanda aja nih Captain, kalo Saya cukup, Mbak. Makasih."
"Ok saya buatkan minumannya dulu ya Capt."
Ketika Anindya keluar dan menutup pintu, Aryo mengacungkan ibu jari kanannya ke atas udara.
"Mantaaab!!! Cari perempuan tuh yang kaya gitu tuh Capt! Cantik, mulus, badannya oke banget, padahal anaknya udah satu!"
"Ah Lo berani ngomong doang Yo, gw kasih umpan tadi, lo ga makan!"
"Grogi gw Capt, wangi banget doi."
"Hahaha mana ada cabin yang nggak wangi! Bisa kena complaint penumpang nanti kalau bau Yo, bagaimana sih lo!"
"Btw Capt serius, lo ga pernah selingkuh? Sekali aja ga pernah khilaf? Beneran?"
"Yup never, i love my wife."
"Keren, jarang nih gw nemu cockpit kaya begini KEREN KEREN!"
"Eh prepare for descent Yo!"
"Roger Capt."
✈✈✈
"Pagi Capt..."
"Oh Pagi Mbak Anindya, yang lain kemana? Kok nggak breakfast?"
"Mereka lebih pilih tidur Capt karena kita landing cukup malam kemarin. Capt sendirian?
Mas Aryo nggak ikut turun Capt?"
"Tadi saya telepon dia ngajakin breakfast bareng, eh nggak diangkat. Masih molor kayanya
dia hehehe..."
"Oh begitu."
"Duduk sini Mbak, daripada sendirian kita duduk bareng aja di sini."
"Baik Capt."
"Mbak Anindya vegetarian ya? Kok cuma makan salad aja kayanya."
"Iya Capt, sudah 5 tahun.”
"Oh bagus dong! Saya juga mau mulai jadi vegetarian tapi istri saya ngajak makan steik
terus, jadi saya nggak sampai hati nolak ajakan dia hehehe..."
"Mungkin Capt bisa ajak istri Capt. Lebih sehat loh Capt."
"Iya nanti saya coba, biar kami jadi lebih sehat. Oh ya kalau olahraga, Kamu suka olahraga
apa?"
"Kalau saya suka joging Capt."
"Wah saya juga! Kalau leaving hotelnya siang, pasti saya joging di sekitar hotel, setelah ini
saya juga mau joging. Mbak Anindya mau ikut?"
"Iya boleh Capt. Kalau begitu saya ganti sepatu dulu Capt."
"Baik saya tunggu di lobby ya.
✈✈✈
"Cabin ready for boarding Capt.”
"Ok Mbak Anindya, kita boarding ya. Oh ya Mbak, next time kalau dapat schedule bareng kita joging lagi ya, seru juga ternyata kalau joging ada temannya!"
"Baik Capt."
Co-pilotAryo yang sedang memasang headset berbalik dan berseru excited.
"Eh Capt, kapan kalian jadi akrab?"
"Kita deket biasa aja kok, kebetulan kita joging bareng tadi pagi."
"Hati-hati pecah perawan Capt hahaha...."
"Gila lo Yo! Nggak enak kalau sampai kedengaran dia! Mbak Anindya juga bukan tipe
seperti itu, dia orangnya dewasa dan smart, gw kagum sama dia!"
"Hati-hati Capt dari kagum bisa jadian!"
"Ngaco lo Yo!"
"Gw contact tower dulu Yo... Position xx runaway ready, permitted to take off."
"Mbak... Saya mau ke lavatory tolong di cockpit dulu ya."
"Baik Mas Aryo."
Pintu cockpit tertutup, perempuan yang hampir berusia 30 tahun itu masuk ke dalam dan duduk di kursi observer.
"Mbak Anindya tinggal di mana?"
"Saya tinggal di Kemayoran Capt."
"Wah jangan-jangan kita tetanggaan nih, Mbak Anindya tinggal di apartemen mana?"
"Saya di Mediterania."
"Oh dekat dong, saya di Grand palace. Joging di sekitar apartemen saya enak loh suasananya.
Istri saya nggak suka olahraga, dia lebih suka nonton Drakor sambil ngemil hihihi... jadi kalo joging saya suka nggak ada temennya Kalo besok libur, joging di tempat saya aja. Saya catat nomer Kamu ya? Jadi kita bisa chat janjian joging."
✈✈✈
"Lumayan juga kita joging-nya hari ini ya Capt."
"Iya Nin, sampai habis nafas saya ini. Eh kalau tidak pakai seragam panggil saya Mas aja jangan panggil Capt. Nggak enak didenger orang nanti, kesannya saya sombong minta dipanggil Capt terus padahal nggak lagi duty hehehe...."
"Baik Mas."
"Eh Kamu kalau beli vegetarian food di mana?"
"Ada tokonya di dekat Tanjung Duren, nanti saya kasih alamatnya Capt, eh Mas."
"Hehehe kagok ya, nanti lama-lama juga biasa Nin."
"Kamu besok terbang ke mana Nin?"
"Besok saya standby Mas."
"Nah gitu dong sudah mulai biasa kan, eh iya sama dong saya juga standby. Kalau nggak kena revised terbang besok kita joging bareng lagi yuk."
✈✈✈
"Baik Mas"
"Loh Nin kamu kena revised ya?"
"Iya Capt... Capt juga?"
"Iya Capt Bernard sakit, saya yang gantiin. Ayo Kita briefing dulu ya!"
"Baik Capt."
"Nin... Ternyata kita delay, pesawat yang mau kita pakai dari KL belum landing."
"Oh baik Capt."
"Nin... Kamu mau ikut saya ngopi di Starbucks?"
"Iya boleh Capt."
✈✈✈
"Hallo Nin, kamu ada rencana mau keluar hotel nggak? Temenin aku cari running shoes yuk?
"Kemana Capt?"
"Ke Beach walk aja.”
"Ok kita ketemu di lobby dua puluh menit lagi ya!"
✈✈✈
Di depan pintu masuk parkiran hotel, motor datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
"Awas Nin! Dasar tuh Bule nggak hati-hati naik motornya. Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang luka?"
"Lutut aku aja ini berdarah, jatuh di aspal.”
"Maaf ya Nin, di kamar saya ada betadine, kita obati disitu ya."
Kamar pintu tertutup dan mereka duduk saling berhadapan di sofa.
"Terima kasih Capt biar saya saja yang bersihin lukanya.”
"Biar saya bantu, kamu kan luka karena mau nemenin saya cari sepatu.”
Mereka berdua secara tidak sengaja bersentuhan tangan, bertatapan dan laki-laki itu memajukan wajahnya inci demi inci hingga bibir mereka saling bersentuhan.
✈✈✈
"Nin... Aku kangen sama kamu. Aku ke apartemen ya?"
"Aku juga Mas... Jam 1 ayahnya Rio mau ngajak nonton, kamu ke sini jam 2 ya.”
"Iya aku juga lagi tunggu Ria dan anak-anak pergi ke rumah neneknya."
"Besok kamu jadi tukeran sama Capt Martin kan?"
"Iya jadi, besok kita layover bareng sayang, kamu bilang sama roomate kamu, nginep di rumah saudara aja, nanti kamu tidur di kamar aku."
"Ok sayang.”
✈✈✈
"Siapa? Istri kamu? Kan aku sudah bilang kalau lagi sama aku di silent dulu itu hp."
"Iya iya sorry, tapi aku harus angkat, kalau nggak nanti dia curiga."
"Nyebelin!"
5 menit laki-laki itu kembali naik ke ranjang.
"Maafin aku ya Nin, tadi Ria telepon, nanya aku sudah makan malam atau belum. Kalau nggak aku angkat, nanti dia curiga. Maafin aku ya cinta!"
"Ya nyebelin banget sih. Awas ya kalo sampai Kamu ulangi lagi, aku ga akan mau maafin Kamu."
"Iya cinta, maafin aku ya. Kamu tuh tambah cantik ya kalau lagi marah begitu!"
Mereka kembali berpangutan dan menyelesaikan kegiatan mereka yang tertunda.
✈✈✈
"Nin kamu harusnya ngertiin aku, aku kan sudah berkeluarga, tidak mungkin setiap hari aku bisa bersama kamu. Apalagi Ria sudah mulai curiga denganku!"
"Ya terus mau kamu bagaimana?"
"Ya kita jaga jarak dulu biar istriku tidak curiga"
"Enak banget ya kamu! Aku tuh kaya disposal bag. Habis kamu pake, Kamu buang. Dasar laki-laki buaya!"
"Bukan begitu Nin, kamu tahu kan aku sudah menikah, nggak mungkin aku menceraikan istriku bagaimana nasib anak-anakku nanti. Belum lagi apa kata orangtuaku!"
"Bisa ya kamu tidur sama aku, bilang cinta sama aku, terus kamu pulang, kamu tidur juga istri kamu! Bajingan banget Kamu, cinta sama dua perempuan!”
"Nin, Kamu juga sudah tahu bagaimana posisiku dari awal! Aku nggak bisa nikahi kamu karena aku nggak bisa cerai sama istriku."
"Fine! Let's over it right now. We are done!"
"But Nin... I love you!"
"Bullshit! Kalo bener Kamu cinta sama aki. Ayo pilih, aku atau dia?”
"I'm sorry Nin, Kamu kan tahu kondisi aku!”
"Okay, you made your decision then! Now leave!"
✈✈✈
One Month Later,
"Eh Capt... Lo tau nggak Mbak Anindya baru aja merit sama Captain Andri.”
"Iya gw diundang Yo, tapi gw nggak bisa datang, bini gw lagi mules-mules mau lahiran."
"Oh gitu, jackpot banget tuh Capt Andri dapat Mbak Anindya. Eh Capt gw mau pesen minum, gw call cabin ya.”
Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berambut sebahu meminta izin untuk masuk ke dalam flight deck. Rambut merahnya berkilau terpantul cahaya matahari yang masuk dari cockpit window number 2.
"Mbak Anindya boleh saya minta kopi hitam?"
"Boleh Captain, Mas Aryo mau minum juga?"
4 landings, 10 hours, 2 nights layover, 5 consecutives days, 600 weeks.
✈✈✈
INDEX
1.THE ANGELS
2.CINTA DI NEGERI 1001 MALAM
3.SATU PAGI DI CGK
4.SETAHUN LALU
5.REROUTE
6.MAKASSAR BERDARAH
Diubah oleh annastasia81 10-05-2021 13:57
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
22
5.7K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
annastasia81
#11
Bandara, Pesawat dan Cinta
Kami adalah saksi di mana cinta tumbuh, dipertemukan, berpisah dan mati. Bandara, Pesawat dan Cinta inilah kisah kami.
2 landings, 4 hours, 4 consecutives days, 600 weeks.
Story #4
Reroute
Cinta... What is it actually? I really don't get it!
Bukankah kalau kita hidup bersama selama 5 tahun, kita bisa menamai hubungan itu cinta? Atau... jika kita memberi label hubungan itu berpacaran serius, bukankah pasti ada cinta didalamnya?
Cinta... Satu kata yang mudah diucap tapi sangat sulit dicerna.
Jika aku dapat memutar waktu maka aku akan segera kembali ke masa lalu... untuk tidak mencintaimu, tidak berpacaran denganmu dan tidak hidup bersamamu selama 5 tahun dan membuang-buang masa mudaku dengan percuma.
Jika cinta itu kamu... maka aku akan memilih untuk berbalik lari dan pergi menjauhimu, segera... sebelum kembali aku terseret ke dalamnya dan mati terkubur di sana.
Jika cinta itu kamu, maka aku tidak mau kamu kembali menemuiku dan memulai kisah ini kembali bersamaku.
"Capt..." Suara copilot di sebelah membuat konsentrasiku terpecah; antara melakukan calling dengan ATC atau menanggapi panggilannya.
Aku mengangkat tangan kananku untuk menghentikan ia berkata lebih jauh dan segera melakukan kontak dengan ATC "FCN requesting for descent..."
Setelah selesai mendengarkan jawaban ATC aku memutar kepalaku dan mendelik tajam ke arah copilot senior di sebelahku, copilot incompetent yang bersikap seolah ia baru saja lulus dari akademi penerbangan.
"What?" Kataku singkat, padat dan jelas, menunjukkan emosiku yang sedang tidak stabil belakangan ini.
"Sorry Capt, saya cuma mau mengingatkan untuk request descent" Walaupun suaranya tidak bergetar, jelas terselip kegugupan dibalik kata-katanya ketika berhadapan denganku, EL Rigel... Captain senior yang terkenal kalem, tetapi mematikan lawannya dengan menerjang mereka melalui lisanku yang tajam.
Aku mengibaskan tanganku tanda bahwa semua sudah teratasi dan bahwa aku kembali tidak ingin di ganggu dengan obrolan singkat oleh rekan kerjaku di cockpit ini.
Pikiranku kembali melayang bebas meninggalkan kesibukanku untuk mendaratkan pesawat ini kembali ke base-nya. Walaupun hanya 5 menit aku perlu sejenak untuk melamunkan Natasha, perempuan bermata teduh yang selama beberapa minggu ini telah menganggu konsentrasiku bekerja sehingga mendapat julukan "Capt El Gelo" - Captain yang memiliki mood swing akut.
✈✈✈
Dengan malas aku menekan passworddan membuka pintu apartemen, melepaskan sepatu dan menaruhnya di dalam lemari sepatu. Tidak ada sepatu Nat di sana, berarti wanita itu belum kembali dari tempat hang out - nya bersama rekan-rekan kerjanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.55 dan tampaknya Nat akan kembali lebih larut dari biasanya. Aku mengambil ponsel dan meninggalkan sebuah pesan whatsApp, karena tidak mungkin juga suara percakapan kami dapat mengalahkan bisingnya musik di club tempatnya berada sekarang.
"Baby i'm home, i think i'm going to bed early, so tired today. See you at home"
Selesai mengetik kata terakhir aku meletakkan lenganku diatas dahi dan mulai memejamkan mata. Bayangan pertengkaran terakhir kami mengulang kembali di kepalaku.
"El... Aku belum siap untuk menikah! Masih banyak mimpiku yang belum terwujud. Saat ini aku sedang meniti karirku, my dream to become a chief editor, is this close baby." suara Natasha mencoba meyakinkanku untuk menunda niatku untuk melamarnya.
"Yeah i know Nat, but i'm not young anymore. My parents huh they pushing me to get marry right away. Babe we have been living together for almost 5 years, what's the different with getting married anyway?"
"El menikah itu adalah one life commitment and i'm not sure we are ready with that kind of thing" Aku menghela nafas panjang berusaha meredam emosiku ketika berdebat dengan Natasha, wanita yang sangat keras kepala, tetapi sangat ku cintai itu.
"Well listen hon, i love you and i'm sure that you are the one. Don't you feel the same?"
Natasha meletakkan kedua tangannya di bahuku dan berusaha membuatku sedikit menunduk mensejajarkan pandangan kami. Mataku tenggelam di dalam kedalaman tatapannya.
"El Rigel i love you, you know that for sure. I no i mean we are not ready for marriage life, please trust me!" Selesai menyampaikan maksudnya ia meraih wajahku dan menciumku dalam. Aku terhanyut dalam cumbuannya dan lupa akan niat awalku untuk membujuknya menikah.
Dan ketika pagi menjelang, Natasha telah bersiap untuk kembali bekerja dengan blusnya yang berwana pink salem, warna yang membuat kulitnya tampak lebih cerah dari biasanya.
"El aku sudah menyiapkan breakfast untukmu di meja, hari ini aku harus berangkat lebih awal karena ada meeting penting. Don't forget to eat babe, love you" Natasha mengecup bibirku sekilas. Dan sebelum sempat aku membalas kecupannya ia telah pergi meninggalkan apartemen kami.
Begitulah... setiap kali aku mengungkit tentang pernikahan, kami selalu berakhir dengan pertengkaran dan make up sex yang hebat. Dan tentu saja di keesokan harinya, Nat bersikap seolah tidak ada masalah yang terjadi. Kami tidak sempat membahas kembali pertengkaran kami, entah aku yang harus berangkat terbang lebih dulu atau Nat yang harus pergi lebih awal untuk meeting pentingnya.
✈✈✈
Malam ini Nat kembali pulang ketika aku sudah memejamkan mata, padahal aku telah berusaha menukar schedule dengan Captain lain agar aku bisa pulang lebih awal untuk merayakan anniversary kami yang ke 5 malam ini.
"Hey..." Nat mencium keningku ketika aku terbangun mendengar ia masuk ke dalam kamar.
"What time is it?" Suaraku parau menanyakan waktu kepadanya.
"Go back to sleep babe!"
Aku meraih jam weker yang berada di nakas di samping tempat tidur kami.
"Ini jam 3 pagi Nat, apakah kamu lembur sampai selarut ini?"
"Kamu tahu Mr. Faisal kan? kita baru saja mengadakan pesta perpisahan untuknya, and it's mean that the chief editor position is now available. Itu artinya Babe... kesempatan besar untukku dipromosikan!" Nat memelukku erat hingga sesak.
"I'm happy for you honey, aku harap kamu akan mendapatkan impianmu segera." Walaupun sebenarnya aku merasa kesal karena Natasha melupakan hari anniversary kami, tetapi aku berusaha memasang wajah bahagia untuknya.
"The youngest chief editor in company, i'm so excited babe." Nat kembali memelukku.
Aku tahu seharusnya aku juga merasa bahagia untuknya tetapi sayangnya aku tidak. Meskipun begitu aku turut tersenyum juga di depannya.
Dan hari itu pun berlalu dengan sia-sia, Nat dengan kegembiraannya dan aku dengan kekesalanku. Tidak ada percakapan mengenai anniversary ataupun tentang kelanjutan hubungan ini. Meskipun kami berbagi ranjang yang sama, kami tidak saling bercakap. Masing-masing larut dalam pikirannya sampai kami memejamkan mata dan menutup hari ini.
✈✈✈
"El... Kamu ada schedule terbang pagi ini?" Natasha baru saja terbangun karena suara bising yang aku buat karena tersandung tas kerjanya di lantai.
"Oh ya aku lupa bilang kalau aku tukeran schedule dengan Capt Roy untuk anniversary kita kemarin" Aku sengaja menyelipkan kata anniversary, berharap ia ingat dan menyesali kealpaannya.
"Ok safe flight hon, aku mau meremin mata 5 menit lagi" Natasha pun kembali menggunakan penutup matanya. Meninggalkanku yang masih menatapnya dengan kesal.
Dan tentu saja kekesalanku padanya kulampiaskan ke seluruh crew yang bertugas denganku hari ini.
Mulai dari petugas ground handling, flight operasional officer, cabin crew dan tentu saja rekan pilotku di cockpit.
Setelah habis semua emosiku terkuras bersama crew yang tidak tahu alasan mengapa aku "mengamuk" hari ini, aku menyelesaikan tugasku sebagai pimpinan penerbangan dan kembali ke apartemen. Lagi-lagi suasana apartemen menyambutku dengan kesunyian, persis seperti tadi pagi aku meninggalkannya.
Tentu saja Nat belum pulang, ia masih sibuk berkutat dengan kehidupannya yang dinamis. Sedangkan aku seperti biasanya memilih untuk membersihkan badan dan berbaring di ranjang sambil memikirkan wanita yang ku cinta sekaligus ku benci. Lama menunggunya dengan berbaring, membuatku tertidur hingga fajar datang mengetuk alam dan pagi menjelang.
✈✈✈
"Kamu baru pulang Nat?" Aku duduk di tepi kasur ketika Natasha baru saja hendak membaringkan tubuhnya yang masih berpakaian kantor lengkap.
"Iya babe... Aku lembur seminggu ini, pekerjaan Mr. Faisal masih menumpuk, ternyata dia meninggalkan banyak PR buat penggantinya... Yaitu Aku!" Nada kesalnya jelas ditujukan kepadaku, orang yang dianggap mengganggunya untuk beristirahat.
"Bukannya itu mimpimu untuk mendapatkan jabatannya, kenapa harus komplain!"
"Udah lah kamu nggak ngerti, aku capek mau tidur!" Tangannya mengibas di udara tanda pembicaraan kami harus terhenti disitu.
Aku bangkit dari tempat tidur dan memulai rutinitasku; mandi, sarapan lalu bersiap untuk jemputan terbang, marah-marah di pesawat dan kembali ke apartemen menunggu Nat pulang.
✈✈✈
Di hari berikutnya, aku pikir aku akan menjalani rutinitasku yang biasanya, ternyata tiba-tiba otakku tersadar dari mantra manis ketergantungan hubungan semu dengan Natasha.
Aku tersadar seperti baru saja menemukan epiphany-ku, seperti halnya Archimedes menemukan momen Eureka-nya. Aku mengepak semua barangku dan pergi dari apartemen sialan ini. Meninggalkan pesan di whassap Natasha.
"Nat it's over, i'm sorry tapi aku udah beresin barang-barangku dari apartemen."
"Maksud kamu El? Can we talk this at home! i'm in the middle of meeting" pesan dari Nat hanya ku lihat sekilas kemudian segera ku delete.
✈✈✈
Pukul 5 pagi keesokan hari, tampaknya Nat baru saja kembali ke apartemen dan menemukan bahwa aku dan semua barang-barangku sudah tidak ada di sana. Sehingga membuat ia meninggalkan banyak pesan balasan di ponselku.
"El... Apa salahku kenapa tiba-tiba kamu mutusin aku. Apa kamu ada affair sama cewek lain?"
"El ada apa sebenarnya, i don't get it, please do explain!"
"El siapa perempuan itu? Apa dia pramugari?"
"Dasar kamu brengsek El, answer me!"
"Ok aku mau merit sama kamu kalo itu mau kamu. Kapan dan di mana. Just tell me! Aku akan setuju dengan semua mau Kamu."
Seharian pesan-pesan Nat hanya ku baca tanpa pernah kubalas. Hingga datang pesan terakhir tanda ia sudah menyerah memperjuangkanku.
"Dasar kamu laki-laki brengsek El Rigel!"
Pesan itu menandakan aku sudah menjadi laki-laki bebas sekarang. Tidak ada lagi hubungan tanpa ikatan selama 5 tahun, tidak ada lagi Natasha dalam hidupku.
✈✈✈
Setelah selama sebulan, aku memberikan waktu diriku untuk berkabung, sahabatku, Geo, mengenalkanku dengan sahabat istrinya di airlines kami. Dan setelah saling mengenal selama kurang lebih dua bulan aku melamarnya.
"Saya tidak mencari cinta saya mencari seorang istri.... Apa kamu ingin menikah denganku?"
Tentu saja ia menerimaku dengan senang hati. Tapi bagaimana denganku? Apa aku senang? Bahagia? Entahlah... aku rasa aku sudah mati rasa.
Yang aku tahu aku cukup senang dapat berbakti pada orangtuaku dengan pernikahan yang akan segera berlangsung.
Dan untuk Natasha aku yakin dia akan cukup marah dan menyesal untuk tidak memperjuangkanku, terlebih lagi ketika ia tahu mengenai pernikahanku melalui undangan yang aku post melalui media sosial.
Well,
"Apa itu cinta? Satu kata yang mudah diucap tapi sangat sulit dicerna? Yet again, I'm not sure"
✈✈✈
Diubah oleh annastasia81 25-04-2021 12:29
dwiyant95 dan 5 lainnya memberi reputasi
6