- Beranda
- Stories from the Heart
Bandara, Pesawat dan Cinta
...
TS
annastasia81
Bandara, Pesawat dan Cinta

Kami adalah saksi di mana cinta tumbuh, dipertemukan, berpisah dan mati. Bandara, Pesawat dan Cinta inilah kisah kami.
Story #1
The Angels
4 landings, 10 hours, 2 nights layover, 5 consecutives days, 600 weeks.
"Cabin Crew Take Off Position."
"Capt..."
"Yes?"
"Gw galau nih!"
"Kenapa lo Galau Yo?"
"Pacar gw Linda udah minta dinikahin, tapi gw lagi suka banget sama si Dinar selingkuhan gw Capt."
"Ah gitu aja galau, cemen lo! Ga apa-apa kalo belum merit pilih-pilih, tapi jangan sampai kalo udah nikah lo blangsat."
"Kayak lo ya Capt, setia sama istri salut gw, udah berapa tahun lo nikah Capt? 5 tahun? 7 tahun? Gila masih ada jaman sekarang Captain yang perawan di antara the angels, gokil gokil!"
"Ya intinya sih saling percaya aja Bro! Eh lo mau minum nggak? Gw mau pesen kopi, gw call cabin ya."
"Eh mbak Anindya baru aja divorce katanya, gw mau loh nikahin dia kalo dia mau sama gw Capt."
"Hahaha kurang apa lo? Udah ada dua, mau nambah satu lagi nggak tambah puyeng?"
"Nah itu seninya Capt! No body's perfect jadi kekurangan cewek-cewek itu bisa ditutupi dengan kelebihan yang lain!"
"Gila sampai segitunya lo mikir Yo, eh bentar ya gw panggil cabin dulu."
Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berambut sebahu meminta izin untuk masuk ke dalam flight deck. Rambut merahnya berkilau, terpantul cahaya matahari yang masuk dari cockpitwindow number 2.
"Mbak Anindya boleh saya minta kopi hitam?"
"Boleh Captain, Mas Aryo mau minum juga?"
"Hehehe... Saya cukup mbak makasih."
"Bener nih Yo? Tadi katanya mau minta apa gitu sama mbak Anindya?"
"Ah bercanda aja nih Captain, kalo Saya cukup, Mbak. Makasih."
"Ok saya buatkan minumannya dulu ya Capt."
Ketika Anindya keluar dan menutup pintu, Aryo mengacungkan ibu jari kanannya ke atas udara.
"Mantaaab!!! Cari perempuan tuh yang kaya gitu tuh Capt! Cantik, mulus, badannya oke banget, padahal anaknya udah satu!"
"Ah Lo berani ngomong doang Yo, gw kasih umpan tadi, lo ga makan!"
"Grogi gw Capt, wangi banget doi."
"Hahaha mana ada cabin yang nggak wangi! Bisa kena complaint penumpang nanti kalau bau Yo, bagaimana sih lo!"
"Btw Capt serius, lo ga pernah selingkuh? Sekali aja ga pernah khilaf? Beneran?"
"Yup never, i love my wife."
"Keren, jarang nih gw nemu cockpit kaya begini KEREN KEREN!"
"Eh prepare for descent Yo!"
"Roger Capt."
✈✈✈
"Pagi Capt..."
"Oh Pagi Mbak Anindya, yang lain kemana? Kok nggak breakfast?"
"Mereka lebih pilih tidur Capt karena kita landing cukup malam kemarin. Capt sendirian?
Mas Aryo nggak ikut turun Capt?"
"Tadi saya telepon dia ngajakin breakfast bareng, eh nggak diangkat. Masih molor kayanya
dia hehehe..."
"Oh begitu."
"Duduk sini Mbak, daripada sendirian kita duduk bareng aja di sini."
"Baik Capt."
"Mbak Anindya vegetarian ya? Kok cuma makan salad aja kayanya."
"Iya Capt, sudah 5 tahun.”
"Oh bagus dong! Saya juga mau mulai jadi vegetarian tapi istri saya ngajak makan steik
terus, jadi saya nggak sampai hati nolak ajakan dia hehehe..."
"Mungkin Capt bisa ajak istri Capt. Lebih sehat loh Capt."
"Iya nanti saya coba, biar kami jadi lebih sehat. Oh ya kalau olahraga, Kamu suka olahraga
apa?"
"Kalau saya suka joging Capt."
"Wah saya juga! Kalau leaving hotelnya siang, pasti saya joging di sekitar hotel, setelah ini
saya juga mau joging. Mbak Anindya mau ikut?"
"Iya boleh Capt. Kalau begitu saya ganti sepatu dulu Capt."
"Baik saya tunggu di lobby ya.
✈✈✈
"Cabin ready for boarding Capt.”
"Ok Mbak Anindya, kita boarding ya. Oh ya Mbak, next time kalau dapat schedule bareng kita joging lagi ya, seru juga ternyata kalau joging ada temannya!"
"Baik Capt."
Co-pilotAryo yang sedang memasang headset berbalik dan berseru excited.
"Eh Capt, kapan kalian jadi akrab?"
"Kita deket biasa aja kok, kebetulan kita joging bareng tadi pagi."
"Hati-hati pecah perawan Capt hahaha...."
"Gila lo Yo! Nggak enak kalau sampai kedengaran dia! Mbak Anindya juga bukan tipe
seperti itu, dia orangnya dewasa dan smart, gw kagum sama dia!"
"Hati-hati Capt dari kagum bisa jadian!"
"Ngaco lo Yo!"
"Gw contact tower dulu Yo... Position xx runaway ready, permitted to take off."
"Mbak... Saya mau ke lavatory tolong di cockpit dulu ya."
"Baik Mas Aryo."
Pintu cockpit tertutup, perempuan yang hampir berusia 30 tahun itu masuk ke dalam dan duduk di kursi observer.
"Mbak Anindya tinggal di mana?"
"Saya tinggal di Kemayoran Capt."
"Wah jangan-jangan kita tetanggaan nih, Mbak Anindya tinggal di apartemen mana?"
"Saya di Mediterania."
"Oh dekat dong, saya di Grand palace. Joging di sekitar apartemen saya enak loh suasananya.
Istri saya nggak suka olahraga, dia lebih suka nonton Drakor sambil ngemil hihihi... jadi kalo joging saya suka nggak ada temennya Kalo besok libur, joging di tempat saya aja. Saya catat nomer Kamu ya? Jadi kita bisa chat janjian joging."
✈✈✈
"Lumayan juga kita joging-nya hari ini ya Capt."
"Iya Nin, sampai habis nafas saya ini. Eh kalau tidak pakai seragam panggil saya Mas aja jangan panggil Capt. Nggak enak didenger orang nanti, kesannya saya sombong minta dipanggil Capt terus padahal nggak lagi duty hehehe...."
"Baik Mas."
"Eh Kamu kalau beli vegetarian food di mana?"
"Ada tokonya di dekat Tanjung Duren, nanti saya kasih alamatnya Capt, eh Mas."
"Hehehe kagok ya, nanti lama-lama juga biasa Nin."
"Kamu besok terbang ke mana Nin?"
"Besok saya standby Mas."
"Nah gitu dong sudah mulai biasa kan, eh iya sama dong saya juga standby. Kalau nggak kena revised terbang besok kita joging bareng lagi yuk."
✈✈✈
"Baik Mas"
"Loh Nin kamu kena revised ya?"
"Iya Capt... Capt juga?"
"Iya Capt Bernard sakit, saya yang gantiin. Ayo Kita briefing dulu ya!"
"Baik Capt."
"Nin... Ternyata kita delay, pesawat yang mau kita pakai dari KL belum landing."
"Oh baik Capt."
"Nin... Kamu mau ikut saya ngopi di Starbucks?"
"Iya boleh Capt."
✈✈✈
"Hallo Nin, kamu ada rencana mau keluar hotel nggak? Temenin aku cari running shoes yuk?
"Kemana Capt?"
"Ke Beach walk aja.”
"Ok kita ketemu di lobby dua puluh menit lagi ya!"
✈✈✈
Di depan pintu masuk parkiran hotel, motor datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
"Awas Nin! Dasar tuh Bule nggak hati-hati naik motornya. Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang luka?"
"Lutut aku aja ini berdarah, jatuh di aspal.”
"Maaf ya Nin, di kamar saya ada betadine, kita obati disitu ya."
Kamar pintu tertutup dan mereka duduk saling berhadapan di sofa.
"Terima kasih Capt biar saya saja yang bersihin lukanya.”
"Biar saya bantu, kamu kan luka karena mau nemenin saya cari sepatu.”
Mereka berdua secara tidak sengaja bersentuhan tangan, bertatapan dan laki-laki itu memajukan wajahnya inci demi inci hingga bibir mereka saling bersentuhan.
✈✈✈
"Nin... Aku kangen sama kamu. Aku ke apartemen ya?"
"Aku juga Mas... Jam 1 ayahnya Rio mau ngajak nonton, kamu ke sini jam 2 ya.”
"Iya aku juga lagi tunggu Ria dan anak-anak pergi ke rumah neneknya."
"Besok kamu jadi tukeran sama Capt Martin kan?"
"Iya jadi, besok kita layover bareng sayang, kamu bilang sama roomate kamu, nginep di rumah saudara aja, nanti kamu tidur di kamar aku."
"Ok sayang.”
✈✈✈
"Siapa? Istri kamu? Kan aku sudah bilang kalau lagi sama aku di silent dulu itu hp."
"Iya iya sorry, tapi aku harus angkat, kalau nggak nanti dia curiga."
"Nyebelin!"
5 menit laki-laki itu kembali naik ke ranjang.
"Maafin aku ya Nin, tadi Ria telepon, nanya aku sudah makan malam atau belum. Kalau nggak aku angkat, nanti dia curiga. Maafin aku ya cinta!"
"Ya nyebelin banget sih. Awas ya kalo sampai Kamu ulangi lagi, aku ga akan mau maafin Kamu."
"Iya cinta, maafin aku ya. Kamu tuh tambah cantik ya kalau lagi marah begitu!"
Mereka kembali berpangutan dan menyelesaikan kegiatan mereka yang tertunda.
✈✈✈
"Nin kamu harusnya ngertiin aku, aku kan sudah berkeluarga, tidak mungkin setiap hari aku bisa bersama kamu. Apalagi Ria sudah mulai curiga denganku!"
"Ya terus mau kamu bagaimana?"
"Ya kita jaga jarak dulu biar istriku tidak curiga"
"Enak banget ya kamu! Aku tuh kaya disposal bag. Habis kamu pake, Kamu buang. Dasar laki-laki buaya!"
"Bukan begitu Nin, kamu tahu kan aku sudah menikah, nggak mungkin aku menceraikan istriku bagaimana nasib anak-anakku nanti. Belum lagi apa kata orangtuaku!"
"Bisa ya kamu tidur sama aku, bilang cinta sama aku, terus kamu pulang, kamu tidur juga istri kamu! Bajingan banget Kamu, cinta sama dua perempuan!”
"Nin, Kamu juga sudah tahu bagaimana posisiku dari awal! Aku nggak bisa nikahi kamu karena aku nggak bisa cerai sama istriku."
"Fine! Let's over it right now. We are done!"
"But Nin... I love you!"
"Bullshit! Kalo bener Kamu cinta sama aki. Ayo pilih, aku atau dia?”
"I'm sorry Nin, Kamu kan tahu kondisi aku!”
"Okay, you made your decision then! Now leave!"
✈✈✈
One Month Later,
"Eh Capt... Lo tau nggak Mbak Anindya baru aja merit sama Captain Andri.”
"Iya gw diundang Yo, tapi gw nggak bisa datang, bini gw lagi mules-mules mau lahiran."
"Oh gitu, jackpot banget tuh Capt Andri dapat Mbak Anindya. Eh Capt gw mau pesen minum, gw call cabin ya.”
Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berambut sebahu meminta izin untuk masuk ke dalam flight deck. Rambut merahnya berkilau terpantul cahaya matahari yang masuk dari cockpit window number 2.
"Mbak Anindya boleh saya minta kopi hitam?"
"Boleh Captain, Mas Aryo mau minum juga?"
4 landings, 10 hours, 2 nights layover, 5 consecutives days, 600 weeks.
✈✈✈
INDEX
1.THE ANGELS
2.CINTA DI NEGERI 1001 MALAM
3.SATU PAGI DI CGK
4.SETAHUN LALU
5.REROUTE
6.MAKASSAR BERDARAH
Diubah oleh annastasia81 10-05-2021 13:57
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
22
5.8K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
annastasia81
#10
Bandara, Pesawat dan Cinta
Kami adalah saksi di mana cinta tumbuh, dipertemukan, berpisah dan mati. Bandara, Pesawat dan Cinta inilah kisah kami.
1 landing, 14 hours, 362 layovers, 4 consecutives days.
Story #4
Setahun Lalu
Aku hanya tahu cara mencintaimu tanpa tahu bagaimana cara melupakanmu.
Hari berganti Hari, Minggu berganti Minggu, Bulan berganti Bulan. Tanpa terasa satu tahun terlewati sudah.
Di sini di Benua Afrika, ketika bulan Februari datang maka musim dingin segera berganti dengan musim panas. Dan tidak terkecuali di Bamako. Kota yang dikelilingi daratan yang gersang. Di antara 1,2 juta jiwa penduduknya aku juga turut merasakan perubahan iklim yang sangat mencolok.
Hembusan angin dingin tidak lagi bertiup, berganti dengan hawa panas yang terasa menyengat kulit.
Aku memakai kacamata hitam dan menutupi kepalaku dengan blazer seragam demi menghalau sengatan matahari Mali yang terasa menggigit di kulit. Bukan aku tidak terbiasa dengan teriknya matahari, tetapi entah mengapa di awal musim panas ini, matahari Mali terasa lebih ganas dari biasanya dan membuat kulitku seperti tersengat api.
Ini adalah kedua kalinya aku menginjakkan kaki di Bamako. Penerbangan perdanaku ke sini adalah bersama Captain David, Captain sekaligus pemilik dari perusahaan penerbangan pesawat charter tempat bekerjaku sekarang. Captain David adalah seorang pebisnis asal Amerika. Captain tua genit yang senang sekali mengintimidasi pramugari dengan power-nya sebagai Captain sekaligus owner. Sehingga kita memberinya julukan Ambar "Anjing berbar."
Semua cabin crewyang bekerja disini berasal dari Indonesia. "Ambar" senang merekrut cabin crew indonesia karena profesionalisme kami yang tinggi.
Bisa kalian bayangkan... Kami mau dan sanggup bekerja lebih dari 14 jam sehari, ditambah lagi beberapa jam kerja tambahan jika terjadi delay.
Walau dalam keadaan lelah kami masih bisa tersenyum dan melayani penumpang dengan ramah.
Belum lagi dengan kondisi pesawat yang selalu rusak. Sialnya semua APU pesawat milik Captain David tidak berfungsi dengan baik sehingga sistem pendingin udara di kabin juga rusak.
Dengan kondisi kabin yang panas, kami harus selalu me-retouch make up puluhan kali pada saat kami sedang melakukan persiapan di pesawat sebelum .
Kalian semua tahu kan bagaimana ribetnya perempuan dandan! Apalagi dengan keringat yang mengalir deras. Rasanya seperti jadi potong bebek angsa yang dimasak di dalam kuali panas.
Sebenarnya bukan hanya karena alasan itu saja alasan Ambar senang mempekerjakan kami, tetapi karena crew Indonesia tidak pernah berani mengeluh tentang gaji yang kami terima.
Meskipun gaji kami berada di bawah standar gaji tenaga kerja asing di luar negeri, kami tidak pernah berani mengeluh pada Ambar apalagi sampai meminta kenaikan gaji padanya.
Siapa suruh ya kita nggak berani speak up jadinya makan hati sendiri. Mungkin karena culture kita yang tidak pernah berani bicara di depan dan hanya mau mengeluh dibelakang saja sehingga membuat kita kurang dihargai dan sering jadi sasaran empuk oleh pengusaha macam si Ambar ini.
✈✈✈
"I think you should call the driver, Rana?"
Suara berat Captain Mark membuyarkan lamunanku tentang kesulitan-kesulitan yang kami alami di sini.
"Yes Captain" Aku menoleh pada Capt. Mark dan segera melakukan perintahnya.
"Tut... Tut... Tut..."
Setelah beberapa kali mencoba menelepon nomer driver yang akan menjemput kami di Bandara Internasional Mali, akhirnya aku menyerah dan menutup sambungan teleponku.
"I'm sorry Capt, i tried but no answer."
"Crap! I know this is Africa, but at least they have the decent to pick up us right on time ini the middle this god damn sun!"
Entah apakah pengaruh dari panasnya suhu di kota ini yang mencapai suhu hampir 52 derajat celcius, sehingga membuat tekanan darah Captain naik dan membuat ia terus bersungut, mengutuk supir yang belum juga datang.
"Look Captain! i think that's our driver!" Aku menunjuk seorang laki-laki berkulit hitam, berusia sekitar 40 tahun dan berpakaian serba putih sedang berjalan tergesa-gesa menuju kami.
"Je suis vraiment désolée, de vous chercher en retard." Segera ku terjemahkan permintaan maaf driver itu kepada Captaindan crew-ku yang lain.
Memang selain sebagai pramugari, tugas tidak resmiku juga sebagai penerjemah di penerbangan ini. Karena Mali adalah negara jajahan Perancis maka otomatis bahasa utama yang digunakan di sini adalah bahasa Perancis dan karena aku adalah satu-satunya crew yang dapat berbahasa Prancis maka secara tidak resmi aku pun diangkat sebagai translator di sini.
✈✈✈
Setelah selesai menyampaikan maksudnya, supir itu mengantar kami ke tempat mobilnya di parkir.
Kami sangat terkejut melihat keadaan mobil yang akan mengantar kami ke hotel.
"Oh Jesus Christ... Rana can you ask him to change this with a decent car?"
Captain Mark tidak dapat menyembunyikan wajah horornya melihat bentuk mobil yang akan mengantar kami.
Walaupun aku tahu permintaan Captain Mark adalah sesuatu yang mustahil di sini, tetapi aku tetap juga menyampaikannya pada driver itu.
"Maaf Captain hanya mobil ini saja yang ia miliki untuk mengantar kita."
Begitulah jawaban driver yang berhasil aku terjemahkan.
"Damn... Aku harap mobil ini tidak mogok di jalan."
Captain Mark bersungut-sungut kesal dan masuk ke dalam mobil.
Mobil VW combi yang aku taksir berusia lebih tua dariku, memiliki kondisi yang sangat memprihatikan.
Hampir seluruh kaca mobilnya retak tidak beraturan dan berlubang seperti mobil korban perusakan aksi huru hara di kerusuhan. Benar-benar mobil yang tidak layak untuk kami naiki sebagai awak pesawat yang berhak mendapatkan kenyamanan pada saat pengantaran dan penjemputan ketika sedang bertugas.
✈✈✈
Setelah menempuh hampir 20 menit perjalanan, "bangkai mobil" ini berhasil mengantar kami ke hotel tujuan.
Setelah proses check in hotel selesai, aku masuk ke dalam kamar hotel dan merebahkan tubuhku di kasur. Berusaha keras memejamkan mata, tetapi tampaknya pikiranku tidak sejalan dengan tubuhku yang super lelah.
Perjalanan hampir 10 jam antara Jeddah dan Mali tampaknya tidak membuat pikiranku lelah untuk minta diistirahatkan. Otakku terus mengulang peristiwa itu seperti kaset rusak yang mengulang di satu adegan yang sama. Kamu... penyebab aku terdampar di sini.
✈✈✈
Tepat setahun lalu....
Aku memasuki mobil dengan senyum yang mengembang.
"Thanks ya babe udah mau jemput aku meski kamu baru turun terbang." kataku sambil membelai sayang kepala Ben.
Ben hanya mengangguk dengan senyum kecut sebelum kembali tenggelam dalam diamnya selama perjalanan.
"Kamu tadi terbangnya capek banget ya babe?" Tanyaku melihat wajah Ben yang seperti sedang murung akan sesuatu.
"Nggak kok." Jawab Ben singkat.
Bagiku Ben tampak tidak biasa hari ini dan tidak biasanya juga aku harus memaksa dia untuk menjemputku di bandara karena beberapa hari belakangan ini kami sulit sekali untuk bertemu.
Aku dan Ben telah berpacaran selama empat tahun, sejak awal aku diterima bekerja di maskapai yang sama dengannya sampai dengan detik ini. Ben adalah kopilot senior yang digilai banyak pramugari dan aku adalah Rana, pramugari junior yang selalu merasa kagum dengan kebaikan hati dan ketampanan Ben.
Aku masih ingat momen awal pertemuan kami yang berujung dengan kedekatan, dan yang pada akhirnya menyatukan kami sebagai kekasih. Rumahku yang searah dengan rumah Ben membuat kami selalu berada dalam satu mobil antaran dan jemputan yang sama. Untuk efisiensi, maskapai biasanya menyatukan crew yang rumahnya berdekatan di dalam satu mobil. Hari itu mobil yang mengantar kami pulang mengalami masalah.
"Yah mas, mbak! Kok mobilnya ngadat begini sih?"
Suara Pak Sadi, driver yang mengantar kami terdengar sedikit khawatir.
"Kenapa mobilnya Pak?" Tanya Ben mencoba memastikan kerusakan apa yang dialami mobil yang ditumpangi kami.
"Ini tiba-tiba mobilnya nyala mati nyala mati padahal ini baru kemarin saya servis di bengkel loh. Coba deh saya lihat dulu mesinnya!" Pak Sadi menepikan mobilnya di pinggir jalan yang tidak ada markah jalan bertanda S coret.
Setelah sepuluh menit mengecek mesin mobil, Pak Sadi membuka pintu mobil dan menyembulkan kepalanya ke dalam mobil.
"Mas, Mbak sepertinya fan belt-nya rusak jadi mobilnya ngadat begini. Saya sudah kontek ke kantor, kata pengatur driver daripada menunggu lama Mas dan Mbak lebih baik naik taksi aja biar nanti biayanya diganti kantor."
"Tapi ini sudah malam begini Pak, saya nggak berani naik taksi sendirian.” Keluhku pada pak Sadi.
Ben menoleh padaku, lalu mengutarakan idenya pada Pak Sadi.
"Biar Rana bareng sama saya aja Pak." Ben menoleh ke arahku, "Bagaimana kalau begitu Na?"
Tanpa banyak berpikir aku mengangguk setuju. Kami pulang dengan taksi, kali ini Ben duduk di belakang bersamaku dan tidak duduk di depan bersama driver, sebagai gantinya ia meletakkan tas terbangnya di kursi depan.
"Alamat kamu di mana biar supirnya antar ke rumahmu dulu." Aku segera memberikan alamat lengkapku ke supir taksi.
"Oh ya tadi pesawat kamu delay ya? Kamu dari Balikpapan kan?" Kata Ben memulai percakapan denganku.
"Iya delay 30 menit Mas, pesawat dari Surabaya yang mau kami pakai ke Jakarta telat landing di Balikpapan jadinya kita ikutan delay deh. Kalau Mas Ben dari mana?"
"Aku dari DPS. Pesawatku landing lima menit setelah pesawat kamu tadi. Eh kamu tinggal di Salemba ya, kamu SMA-nya di mana?"
"Di SMA 68."
"Wah kita satu SMA dong."
"Kamu ambil jurusan IPA atau IPS Na?"
"Aku IPA Mas."
"Wah sama lagi, eh dulu kamu Fisika diajar Pak Iga nggak?"
"Hehehe iya ya Mas. Memang dulu mas diajar Pak Iga juga?"
"Iya dong murid kesayangan, alias suka banget dihukum sama dia di tengah lapangan." Ben tersenyum lebar.
"Iya sih Pak Iga semua murid juga dihukum sama dia, ngerjain PR salah nggak ngerjain PR salah." Kataku sambil tersenyum.
"Iya makanya aku suka cabut dulu pelajaran dia hahaha...." Tawa Ben terdengar sangat riang.
"Mau sih cabut tapi aku nggak pernah berani, jadi ya udah kalau dihukum karena salah jawab pertanyaan Pak Iga aku pasrah aja. Paling juga diminta berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran selesai." Tawa Ben menular padaku.
Semenjak malam itu, setiap kami berada di mobil yang sama kami selalu mengobrol dengan seru. Begitu juga jika kami berada di satu penerbangan yang sama, kami akan meluangkan waktu untuk pergi makan bersama di kota tujuan.
✈✈✈
Masa pendekatan adalah waktu yang paling indah. Ben yang tampan dan baik, selalu mau melakukan apapun untukku. Ben yang romantis, selalu membuka pintu untukku ketika pergi bersamanya, atau mengantri di bank bersamaku ketika ATM-ku tertelan ketika sedang mengambil uang. Ben yang asyik dan seru ketika diajak jalan dan bercerita. Ben yang selalu mengisi hari-hariku.
Berbeda dengan Ben yang sekarang sedang duduk di sampingku, ia lebih banyak diam dan menutup diri. Dan beberapa hari belakangan ini, ia terus saja menghindariku.
"Kamu lagi kepikiran apa sih Babe? Sudah empat tahun loh kita sama-sama, aku sangat tahu kalau kamu lagi banyak pikiran."
Ben tidak menjawabku, dan ketika ia memberhentikan mobilnya dengan sempurna di depan rumahku. Ia memanggilku pelan, "Na."
"Ya Ben." Mataku memandang lurus ke bola matanya, sementara Ben berusaha untuk terus menghindari tatapanku. Ia kini menunduk lesu.
"Na i'm so sorry." Lama Ben diam berusaha melanjutkan kata-katanya yang terasa berat, "Aku minta putus Na.”
"Maksud kamu putus itu, kita udahan pacaran? Ini kamu lagi bercanda kan?” Tawaku terdengar getir. “Nggak lucu ah becandanya! Aku lagi nggak mood bercanda nih!" Suaraku mulai meninggi.
"A-aku nggak lagi bercanda Na, aku minta maaf tapi kita harus putus, kita selesai sampai di sini." Kata Ben pelan.
"Tapi... Tapi kenapa Ben? Apa ada yang salah sama aku? Apa kamu suka sama orang lain?" Tanyaku menahan tangis yang ingin menyeruak keluar.
"Bukan Na bukan itu." Kata Ben setengah putus asa, kepalanya terus saja tertunduk.
"Lalu? Lalu apa?" Tangisku mulai pecah membayangkan aku harus berpisah dengan Ben.
"Aku Na." Ben menghela nafasnya panjang, "aku sudah buat salah Na."
"Ya apa? Salah kamu apa?"
"Rana... Aku ini brengsek, kamu berhak mendapat laki-laki yang lebih baik dari aku."
"Ben please, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. I love you Ben. Coba cerita sama aku biar aku ngerti apa masalahnya." Tanyaku dengan isak yang tertahan.
Aku meraih tangannya dan mengenggamnya erat.
"Na aku ini bodoh, tolol, stupid." Suara Ben terdengar sangat emosi.
Aku hanya menangis menunggu Ben menyelesaikan penjelasannya atau tepatnya pengakuan dosanya kepadaku karena ia tampak seperti seorang pendosa yang sedang menyesali perbuatannya.
"Nadia hamil Na."
Kata-kata Ben membuatku melepaskan tangannya.
"Mbak Nadia? Mbak Nadia Larissa?"
Ben mengangguk lesu.
"Lalu, kenapa? Apa hubungan...." Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku takut apa yang ada di pikiranku menjadi nyata.
"Aku harus tanggung jawab Na.” Jawab Ben pelan.
"Kenapa? Kenapa harus kamu yang tanggung jawab?"
Ben tidak menjawab, ia hanya menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.
"Jawab? Jawab Ben, kamu tidur sama dia?" Teriakanku semakin menjadi.
Ben mengangguk lemah. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. Tubuhnya sedikit bergetar, aku tahu ia sedang menangis.
"Kamu selingkuhin aku?” Aku terus terisak, “Sudah berapa lama kamu selingkuhin aku?”
Ben akhirnya membuka kedua tangannya, "Please Na believe me, it's just a mistake. A-aku, aku dan dia, hanya sekali dan itu pun aku sedang di bawah pengaruh alkohol Na."
"Oh God." Aku terus menangis, hatiku terasa sakit.
Ben berusaha memelukku.
"Don't! Just... please don't!" Aku menjauhkan tubuh Ben dan mendorongnya kasar. Dengan histeris aku memukuli lengan Ben yang terus berusaha memelukku.
"Rana please...." Ben memegang kedua bahuku erat, mencoba menenangkanku.
"Lepasin! Kamu nggak berhak, kamu nggak lagi punya hak untuk menyentuhku Ben." Aku menghapus airmata yang masih deras mengalir di pipiku.
"I'm really sorry Na, i love you."
Ben masih berusaha menyentuh punggung tanganku dengan hati-hati.
Aku menggeleng keras. Menepis sentuhannya.
"I have to go." Kataku membuka pintu mobil.
Suara Ben yang terdengar lirih menghentikan sedikit gerakanku.
"Maafin aku yang brengsek Na, tapi kamu harus tahu hanya kamu wanita yang paling aku cintai di dunia ini."
Aku menutup telingaku dengan kedua tangan dan berlari, masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ben yang masih terpekur di dalam mobil.
Di dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya. Memukul-mukul dadaku yang sakit. Menangis nyaris menjerit, mencoba mengikhlaskan cintaku pergi.
✈✈✈
Selama dua hari aku mengurung diri di kamar, dan selama itu juga aku bolos terbang dengan berpura-pura sakit. Meski benar karena terus-menerus menolak makan dan menangis seharian membuat tubuhku demam. Aku berbohong kepada mama kalau aku tidak enak badan karena kecapekan terbang.
"Na i'm really sorry, maaf aku sudah buat kamu sakit hati. Maafin aku yang bodoh ini."
"Na kamu sudah makan belum? I really miss you Na. Aku menyesali ini semua Na please forgive me."
Aku ingin sekali membalas semua pesan Ben, memaafkannya, mengerti dirinya tapi semua tidak aku lakukan karena aku takut pada kenyataan. Nadia tetap hamil dan Ben tetap harus bertanggung jawab dengan menikahinya.
"Na, i find a solution for us. Aku akan menceraikan Nadia segera setelah anaknya lahir. Kamu mau menungguku kan?"
Pesan Ben sekarang bertambah gila ketika jawaban dariku tak kunjung datang. Meski tawarannya mengiurkan tetapi akal sehatku menolak untuk menerimanya. Aku bisa saja memaafkan seribu pengkhianatan Ben, jika saja... jika saja Nadia tidak hamil... jika saja Ben tidak tidur dengan Nadia... jika tidak karena alkohol sialan itu!
✈✈✈
Setelah dua hari izin sakit, aku menyiapkan diri untuk kembali bertugas. Meskipun hatiku terasa hancur tetap aku memasang senyum dan bersikap profesional di lingkungan kerjaku. Aku bertekad untuk tidak menangis apabila bertemu dengan Ben di crew room.
Untungnya semesta masih berbaik hati. Tidak ada tanda Ben di sini, hatiku mulai merasa tenang sampai aku mendengar pembicaraan dua pramugari senior yang sedang bergunjing bersama pramugari lainnya.
"Lo tahu nggak kalo Mas Ben mau merit sama Nadia minggu depan."
"Serius lo? Kok merit? Emang kapan mereka pacaran?"
"Nah itu!"
"Bukannya Mas Ben pacarannya sama Rana?"
"Sini gue kasih tahu tapi jangan bilang siapa-siapa ya."
"Iya bagaimana sih ceritanya."
"Gue denger dari Sekar, sahabatnya Nadia, kalau mereka MBA."
"WHAT? Seriously?"
"Iya dua riously!"
"Jadi si Rana diselingkuhin? Zong banget sih."
"Iya, gue denger sekali tidur langsung tokcer!"
"Ah mungkin udah sering kali, bobo barengnya."
"Nggak sih katanya cuma sekali, tapi waktu itu dua-duanya pas lagi sama-sama mabok, balik dugem di DPS terus lanjut ke kamar."
"Oh pas lagi ngeron di DPS? Sial banget sih mereka."
"Ya buat si Rana, kalau buat Nadia sih jackpot banget dapetin Mas Ben."
Tidak tahan mendengar gunjingan mereka, aku berjalan melewati mereka menuju meja FOO .
"Mas pesawat saya sudah landing?" Ucapku serak pada FOO.
Aku merasa pramugari-pramugari yang mengunjingkanku terus mengawasi, berharap melihat reaksiku, sebagai bahan untuk gunjingan mereka berikutnya.
Mataku panas menahan airmata yang ingin mengalir.
"Oh baru aja landing tuh Mbak Rana, kalau Mbak sama crew mau ke pesawat sudah bisa kok."
Aku mengangguk berterima kasih karena informasi dari petugas ini menyelamatkanku dari tangisan histeris yang mungkin aku lakukan di sini.
Dadaku terasa sakit, meski demikian aku terus menahannya dan berjalan menuju ke pesawat. Meninggalkan pramugari-pramugari di crew room yang masih saja menatapku dengan berbagai emosi; kasihan, iba, atau bahkan senang dengan kemalanganku.
✈✈✈
Setahun lalu aku masih bersama Ben, tetapi siang ini aku sendiri, terpekur di Bandara Internasional Mali, menunggu mobil hotel yang tak kunjung datang menjemput. Di sudut Benua yang panas mataharinya senantiasa membakar kulit, yang hembusan anginnya tidak memberikan kesejukan malahan menyengat kulit, tetapi semua itu tidak membuatku keberatan, selama itu bisa sedikit mengalihkan pikiranku dari Ben.
Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk.
"Apa kamu jadi pulang minggu depan Nak?" Sebuah pesan dari mama yang tidak pernah berhenti menanyakan kepulanganku.
Setahun lalu aku memutuskan untuk resign dari maskapai di Jakarta dan bekerja di sebuah maskapai di Mali.
Tanganku mengetik jawaban untuk Mama lalu kembali menghapusnya. Dan aku terus melakukan itu.
Pikiranku liar mengembara.
Ah Jakarta....
Apa aku sanggup menjejakkan kakiku lagi di sana tanpa merasa dadaku teriris-iris mengingatnya.
Ben,
Cinta sekaligus lukaku. Kebahagiaan sekaligus dukaku. Sosok yang paling kurindu sekaligus setengah mati ingin ku lupa.
Ben,
Yang mungkin sekarang telah bahagia setelah menghancurkan hidupku.
Yang telah membuatku menjadi manusia tanpa nyawa
Yang meski begitu masih tetap saja ku cinta...
✈✈✈
Diubah oleh annastasia81 24-04-2021 16:05
dayflying dan 6 lainnya memberi reputasi
7