Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
User telah dihapus
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233.6K
2.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#351
Pertolongan Barzam

“Ah kau seperti biasa selalu mencampuri urusanku dasar kau kucing kecil” ucap Gufron membalas ucapan dari sosok yang mirip dengan Adiwilaga itu

“apa kau bilang burung kecil, nama ku ini Barzam si Panglima tempur dari bangsaku” Barzam, sosok yang mirip Adiwilaga itu menyebut diri Barzam si Panglima tempur

Benda seperti Gada besar yang dilempar sosok bernama Barzam ternyata itu adalah sebuah kampak, dan saat dilempar ternyata kampak ini tepat mengenai sosok anak kecil bermuka tua itu dibagian gagang kampak, tubuhnya terdorong hingga menabrak lemari etalase yang berisi beberapa laptop, lemari etalase yang tertabrak itu juga bergeser beberapa senti akibat hentakan dari hantaman itu, badan sosok anak kecil bermuka tua itu terhimpit oleh gada yang di lemparkan tadi, sehingga sosok itu tidak bisa bergerak kemana mana.

“hey burung kecil kau itu selalu tidak kapok mengambil kesempatan untuk bermain dengan makhluk busuk seperti ini” ucap sosok Barzam pada si Gufron

“halah kau ini, hanya bermain sebentar saja, ya sudah sana ambil saja, sekalian makhluk busuk itu kau bawa aku sudah tidak ada hasrat untuk bermain dengannya” Gufron melemparkan pedang itu ke arah Barzam

Barzam pun kemudian dia berjalan ke arah sosok anak kecil bermuka tua itu untuk di bawa ke Tuan Aji atau bang Damar, Sosok Barzam berjalan di depanku sambil melempar senyum padaku seolah memberi hormat, aku pun hanya membalas senyuman saja karena aku masih sedikit kaget dengan sosok tersebut, sosok yang besar dan juga tinggi, walau tingginya masih kalah dari Gufron, mungkin sosok Barzam ini hanya memiliki tinggu sekitar tiga meter saja.

Setelah mengambil makhluk yang menjadi targetnya untuk di bawa ke Tuan Aji atau Bang Damar, sosok Barzam kemudian memberi salam padaku dan kemudian pergi dari tempat ini sambil menggenggam kampak yang tadi dilempar ke sosok anak kecil itu sambil berkata

“ini mainanmu ku ambil dulu, nanti kalo masih belum puas bermain bilang saja pada Tuan Aji” ucap Barzam pada Gufron

Barzam ini salah satu Khodam milik Bang Damar yang memang di tugaskan untuk menyerang siapapun yang berani mengganggu atau berurusan dengan Bang Damar, entah itu keluarganya atau teman dekat dari Bang Damar.

Sosok Barzam langsung pergi meninggalkan kami disana, sosok Gufron sedikit kesal karena sosok Barzam datang saat dia sedang asik asiknya bermain dengan makhluk yang menggangguku, Aruna pun terlihat sedikit kecewa, tapi setelah itu dia mendekat padaku memastikan keadaanku tidak terluka parah karena jatuh dari tangga tadi.

“kamu tidak apa apa kan yan, maaf kan aku karena lengah dalam menjagamu” ucap Aruna karena merasa gagal menjagaku

“sudah lah tidak apa apa, ini karena aku yang belum bisa menjaga diriku sendiri hehe” sambil cengar cengir menahan rasa sakit pada kakiku.

“sudah tidak apa apa, lain kali pusatkan pikiranmu dan terus bayangkan prisai yang kamu buat itu, yakin lah kalau itu benar adanya, kamu mau sampai kapanpun dan mau berusaha seperti apapun jika belum percaya kalo kamu memiliki prisai itu, maka prisai yang kamu bayangkan itu tidak akan pernah keluar” Gufron menjelaskan padaku

Ya, mungkin itu yang membuat ku tidak berhasil mengeluarkan prisai untuk perlindunganku secara mandiri dan hanya berhasil jika aku dibantu oleh Aruna, tak kusangka kedekatanku dengan Aruna kini lebih terasa dibandingkan dulu saat masih ada Shinta dan belum mulai berlatih dengan Aruna dan Gufron, sosok Shinta perlahan bisa sedikit demi sedikit terhapus.

“Ryan sekarang kamu siap siap saja untuk pulang sebentar lagi bos mu akan datang, jelaskan kenapa kamu bisa jatuh dengan penjelasan yang bisa di terima akal manusia awam” terang Gufron padaku.

Setelah mengatakan hal tersebut Aruna dan Gufron pergi dari tempa ku berada saat itu, dan tak lama pak Alfa pun datang dengan nafas terburu buru, mungkin karena khawatir padaku dan ingin segera membawaku pulang dan mencarikan dokter atau tukang pijat untuk memberi pertolongan pertama dan memastikan keadaan kakiku tidak bermasalah karena tadi jatuh.

Pak Alfa kemudian memapahku untuk berjalan keluar dari toko dan mengarahkan ke mobilnya, dengan rasa sakit di bagian kaki ku coba berjalan sendiri, namun yang ada diriku hanya merasakan sakit dan akan terjatuh, entah kakiku ini patah atau hanya sekedar keseleo.

Saat aku dipapah keluar oleh Pak Alfa, sosok hitam tadi yang pergi dari sana saat ada Gufron kembali masuk ke toko dan kebetulan berpapasan lagi dengan ku, sambil terus berjalan sosok hitam itu melewatiku dan bergumam

“siapa sebenarnya anak ini hingga sosok sosok seperti mereka mau membela dan menjaga anak seperti ini” sambil melirik ku dan terus berjalan sosok itu bergumam

Aku pun akhirnya di antar pak Alfa hingga sampai dirumah, terlihat saat sampai dirumah, bapak dan mbah Margono sedang duduk santai di teras sambil berbincang bincang seperti biasanya.

Melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumah, bapak dan Mbah Margono terus memperhatikan mobil yang kunaiki bersama pak Alfa, tampah ekspresi bapak dan Mbah Margono sedikit bingung, mungkin bertanya Tanya siapa malam malam begini datang kerumah sambil membawa mobil.

Pak Alfa pun turun dari mobil dan berjalan kearah pintu dimana aku duduk, untuk kembali memapahku menuju rumah.

Pintu mobil pun dibuka oleh pak Alfa, bapak dan Mbah Margono sedikit terkejut karena ternyata aku pulang dengan keadaan cidera, ekspresi bapak yang tadinya terlihat santai langsung berubah menjadi sedikit tegang.

“ealah, Ryan tho, kamu kenapa lagi tho kok bisa cidera gitu” mbah Margono langsung datang dan mendekat padaku

“biasa lah mbah hehe, nggak papa paling Cuma keseleo aja kok” jawabku sambil cengar cengir

Bapak pun ikut datang dan hanya memperhatikan kakiku sambil menyapa pak Alfa

“waduh pak, maaf anak saya jadi ngrepotin bapak nih” ucap bapak menyapa pak Alfa

“nggak papa pak, mungkin tadi Ryan kepleset waktu ngambil barang di lantai dua makanya jatuh jadinya” pak Alfa menjelaskan pada bapak sesuai apa yang aku katakan saat di mobil

Aku pun di papah hingga masuk ke kamarku, sosok nenek Lasmi melihatku cemas seolah ini bukan serangan biasa namun serangan yang sudah di rencanakan oleh seseorang, entah kenapa ekspresi Bapak, nenek Lasmi dan Aruna sangat aneh dibandingkan dulu saat ada Shinta dan sebelum pertempuran itu.

Ibu yang tadinya sudah berada di kamar dan akan istirahat terpaksa harus bangun karena mendengar suara rampai dari bapak dan mbah Margono saat memapahku masuk ke kamar, ibu yang menyusul ku masuk kedalam kamar terlihat sangat khawatir dan terus bertanya aku kenapa, yang sakit sebelah mana saja, dan lain sebagainya, seperti ibu ibu yang lain yang sangat khawatir jika anaknya terjadi sesuatu.

Satu jam setelah aku sampai dirumah, kaki ku sudah di kompres dan sudah di balut dengan kain seperti orang yang baru saja patah tulang, kondisiku sekarang sudah sendiri di kamar, ibuk sudah kembali ke kamar nya untuk beristirahat dan bapak kembali ke depan menemui mbah Margono yang saat keluar dari kamar kedua nya memasang wajah serius dan berkata

“kamu harus lebih rajin lagi untuk berlatih supaya kamu bisa menghadapi seranganlainnya, waktu kita sebentar lagi dan kita akan menghadapi hal yang lebih berat dari sebelumnya” ucap bapak dan Mbah Margono sebelum keluar dari kamar ku

Entah apa yang mereka maksud tapi kurasa ini adalah hal yang serius hingga beberapa bulan ini mereka selalu membicarakan hal yang akan dilakukan kedepan.

Aku mencoba untuk tidur mengistirahatkan badanku yang sudah terasa sangat lelah karena aktifitas hari ini dan kejadian tadi di toko, saat aku sedang akan tidur, suara ledakan dari atas rumah kembali terdengar

DDDUUAARRRR

Aku yang kaget dengan keadaan kaki masih sakit tak bisa langsung keluar kamar dan melihat kondisi di luar sedang ada apa, apakah suara petasan atau ada gas meledak di sekitar rumah, Saat aku sedang ,mencoba untuk berdiri nenek Lasmi masuk kekamarku dan mencoba menenangkanku

“sudah tidak apa apa den barusan ada serangan kecil, namun pagar gaib yang melindungi rumah ini masih kuat kok, mereka belum bisa mengukur kekuatan pagar ini ku rasa, den Ryan tidur saja, kasihan badan den Ryan sudah sangat capek itu, sini saya bantu untuk cepat tidur” nenek Lasmi mencoba menenangkanku

Saat aku mau bertanya serangan dari siapa dan apa tujuannya, tangan nenek Lasmi sudah di tempelkan di keningku yang membuatku tiba tiba merasa sangat ngantuk dan langsung tertidur.

saat sedang tertidur aku kembali berada di alam sebelah, sosok Aruna sudah berada disana ditemani dengan Gufron yang mungkin kali ini mereka akan menceramahiku.

Namun sepertinya dugaanku salah, saat aku menghampiri mereka dengan ekspresi murung tiba tiba mereka berdua tersenyum sambil tertawa lirih, karna melihat ekspresiku, mereka kemudian berkata padaku

“sudah nggak usah pasang muka seperti itu, kita sekarang tidak akan berlatih dulu, dan kami juga tidak akan menceramahi mu tenang saja” ucap Gufron yang sedikit tertawa berbicara padaku

“hey Ryan coba liat dibelakangmu ada seseorang yang akan data, coba tebak siapa disana” ucap Aruna menunjukan kalo ada seseorang yang sedang berjalan dibelakangku menuju kemari

Terlihat dari jauh ada dua sosok yang belum jelas karena jarak yang masih cukup jauh sekitar tigaratus meter, terlihat sosok besar dan kekar dan satu lagi sosok wanita, suara rauman macan terdengar sangat keras dari arah mereka, mungkin itu adalah Barzam sosok yang tadi membantu ku mengambil sosok anak kecil bermuka tua di toko, tapi satu lagi itu siapa, sosok cewek? Apakah dia salah satu Khodam milik bang Damar lagi, pikirku dalam hati, ada berapa banyak memangnya dia punya pikirku.

Semakin kemari semakin jelas siapa sosok yang datang itu, satu sosok yang besar dan kekar ternyata benar dia adalah Barzam, namun satu lagi sosok wanita yang di sebelahnya itu membuatku merasa sangat senang dan hati berdebar kencang.

Ekspresikuberubah derastis, yang tadinya murung kini berubah sangat ceria, aku langsung berlari kearahnya, tak sabar ingin bertemu dengan nya.

“kenapa kamu baru nongol, kenapa nggak dari kemarin saat aku membutuhkanmu Sh…..”




Maaf pendek dulu gan, hanya sekedar nyempetin posting maaf terlalu nunggu lama untuk updatean ini
itkgid
sampeuk
bebyzha
bebyzha dan 57 lainnya memberi reputasi
58
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.