- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#100
Chapter 66
Seseorang berdiri di depan suatu bangunan yang mirip rumah dengan dua lantainya, memakai jubah berwarna hitam yang serasi dengan suasana malam hari di sektor 15. Dua buah garis polisi melintang menutupi semua bagian berpintu. Dan lebih anehnya lagi semua akses menuju dalam rumah juga disegel, seperti bagian jendela. Rumah dua lantai ini terletak dipinggiran sektor 15, yang jauh dari hiruk pikuk.
Seseorang itu terdiam, lalu ada sebuah cahaya yang menyorot dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Orang berjubah itu pun pergi dari tempatnya berdiri, hilang di tengah gelapnya malam. Turun seorang yang tidak asing, yaitu Davies sang anggota BASS. Sama seperti tim 13 yang mendapatkan supir resmi, tim 15 juga demikian. Ia pergi ke rumah ini diantarkan oleh anggota barunya itu menggunakan mobil SUV hitam, karena tidak mungkin membawa mobil truk besar jika tidak melakukan misi.
“Benar juga, bahkan tempat ini pun disegel,” ucap Davies. “eh sampai bagian jendelanya juga?” ia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya bahwa kantor pusat sampai berbuat sejauh ini. “Pak Adrian bilang, bahwa dokter yang memberikanku serum penguat itu sudah ditahan. Namun ia tidak memberitahu di mana dokter ditahan….”
Melihat Davies yang berbicara sendiri, rekannya ini mulai tidak sabaran. “Oi! Sudah belum? Tempat ini tidak berpenghuni, ayo pulang sekarang juga,” ucapnya.
“Ya! Tunggu sebentar,” Davies menggerutu dengan suara pelan. “dia kan cuman supir, kenapa memberikan perintah?!”
Ada alasan kuat mengapa supir tim 15 yang bernama Jackson ini bersikap seperti itu, pertama karena Davies mengajaknya bukan dalam rangka menjalankan tugas sebagai pemburu Beaters. Dan kedua, jika kapten James tahu maka mereka berdua akan diberikan hukuman. Bagi Jackson yang baru saja bekerja, memiliki perilaku yang buruk di mata atasan tidak bisa ia maafkan. Untuk itu ia meminta kepada Davies agar cepat pulang sambil menunggu jadwal patroli.
Davies naik ke dalam mobil, setelah ia tidak bisa menemukan jalan masuk ke dalam rumah itu. Ia pun tidak berani merusak segel yang ada, karena akan menimbulkan masalah yang baru dan nantinya pasti kapten James yang dibuat repot. Lagipula Davies sudah diberikan ‘kesembuhan’ berkat mengikuti program Mechanism, ia akan dicap tidak tahu diuntung jika berbuat seenaknya.
Jackson menjalankan mobilnya, setelah sedikit menjauh, barulah ia bertanya suatu hal pada Davies. “Hei, apakah kamu tadi melihatnya?” tanyanya dengan suara yang agak menggetar.
“Melihat apa?” Davies tidak mengerti dengan pertanyaan dari Jackson.
“Tadi, sebelum kita berhenti tepat di depan rumah yang tersegel itu, aku melihat sesosok yang menggunakan jubah berwarna hitam. Lalu ketika----,” Davies malah menertawainya.
“Tidak, aku tidak melihatnya, lagipula untuk apa malam-malam ada seseorang berjubah hitam berkeliaran di jalan,” mata Davies mengecil, “ah…jangan-jangan kamu mengira itu hantu? Ayo Jackson, BASS saja sudah membuat baju tempur super canggih masa kamu masih percaya hantu?” menahan tawanya.
“Bukan begitu….,” Jackson tidak ingin memanjangkan obrolannya, ia memilih untuk mengalah dan diam. “iya…mungkin aku salah lihat,” seketika menyesali perkataanya barusan, menurutnya Davies orang yang sangat bodoh.
Keadaan Bar tidak terlalu ramai, waktu yang cukup senggang itu dimanfaatkan betul oleh Djohan untuk melamun. Selain obrolan tentang Red Sun yang sudah bangkit dan bisa kapanpun beraksi di mana saja termasuk di Surban City. Tetapi yang jadi perhatian bagi Djohan adalah kata-kata Cetrune, yang mengisyarakatkan bahwa dirinya masih berada di level bawah. Lio menghampirinya karena melihat Djohan yang merenung seperti itu.
“Oi, ada apa?” sapa Lio. “Red Sun kah?” mulai sok tahu. “ya jika kau memikirkannya sih wajar saja, dia sosok yang begitu menyeramkan. Menurut cerita dari Tuan Stam, bangkitnya Red Sun merupakan pertanda datangnya bencana yang besar. Aku sih berharap monster itu bisa sedikit santai dan tidak terburu-buru melakukan aksi besar.”
“Kau sudah selesai?” tanggapan Djohan yang begitu dingin.
“Cih! Kalau tahu begini aku tidak menyapamu bodoh!” emosi Lio naik. “kuingatkan, aku ini senior di sini!” lalu beranjak pergi, Gonzalo dan Solo yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
“Red Sun kah?” pikir Djohan sejenak, lalu tiba-tiba beranjak dari tempatnya dan menghampiri Lio.
Kali ini mereka berbincang secara privat, dibagian belakang bar tepatnya ke arah dapur. Di sini secara langsung Djohan meminta Lio untuk mengukur sejauh mana kekuatannya berkembang. Ia sedikit memaksa Lio untuk membantunya, dengan alasan yang paling logis karena senior mereka yaitu Sterling tidak ada di tempat ini sekarang. Mungkin sedang mencari informasi untuk buruan selanjutnya.
“Ah…ada apa ini? kenapa kau berubah dengan cepat begitu sih…,” keluh Lio.
“Ayo tolonglah….,” Djohan teringat perkataan Lio barusan. “kumohon….senior…,” pintanya setengah tulus.
Mendengar kata ‘senior’ dari mulut Djohan membuat Lio kembali angkuh dan akhirnya mau menuruti permintaan dari Djohan. Keduanya izin pamit sebentar kepada Solo, 10 menit saja cukup bagi Lio untuk menghajar Djohan, begitu pikirnya. Ruangan bawah tanah yang digunakan sebagai latihan dimasuki oleh keduanya. Tidak banyak yang berubah, bahkan bekas latihan terakhir antara Djohan dan Sterling masih nampak.
“Jadi kau mulai berpikir, bagaimana jika Red Sun tiba-tiba datang kemari? Makanya kau meminta untuk mengetes kemampuan?” Lio berulah dengan banyak berbicara. “kita memang mempunyai waktu yang cukup ‘banyak’, karena Royal Clan yang lain pun---,” Djohan sudah muak dengan Lio yang terus berbicara.
“Bisa kita mulai sekarang?”
“Haha! Tidak sabaran….,” Lio memberikan tanda bahwa dirinya siap.
Djohan melancarkan serangan pertamanya, soal kecepatan tentu saja Lio tidak kalah dengannya. Serangannya itu dengan mudah dihindarinya. Lio bahkan berdiri dengan santai, seperti tidak menggunakan tenaganya untuk menghindari serangan Djohan barusan. Ia meminta Djohan untuk tidak segan-segan menyerangnya. Bayangkan saja bahwa mereka berdua sedang bertarung sungguhan.
“Baiklah, akan kunaikan….,” Djohan kembali meluncur cepat, Lio masih dapat melihatnya. Tetapi kali ini kerah baju miliknya dapat disentuh sebelum Lio kembali menghindar.
“Ok, sudah mulai cepat. Tetapi apa bisa menandingi yang ini?” sosok Lio menghilang dari pandangan Djohan, lalu sebuah tendangan keras mendarat di pipi. Membuat Djohan sedikit terpental.
Djohan memegangi pipinya, tidak ada bekas luka yang berarti. “Memilihnya untuk mengetes kecepatanku memanglah pilihan yang tepat!” gumam Djohan yang suaranya tidak terdengar oleh Lio.
Pertarungan menjadi lebih sengit, di mana jual beli serangan terjadi antaranya keduanya. Lio masih mengungguli Djohan soal kecepatan. Karena ingin meningkatkannya lagi, Djohan mulai serius dengan melapisi bagian kakinya dengan sel beaters yang mengeras. Lio pun tidak masalah, karena tujuan latihan ini adalah sejauh mana Djohan dapat bergerak, mengukur kecepatan.
“Ini?” Lio sedikit terkejut karena ia yakin betul melihat dua Djohan sekaligus saat ini, satu di belakang sedang bersiap dan satu lagi tepat didepannya. Ketika tinju Djohan mulai mendekat, Lio berhasil menepisnya. Ketika itu terjadi sosok Djohan di depan Lio pun menghilang seperti pantulan di air yang terkena arus. “sangking cepatnya sekarang dia mampu menciptakan ilusi akan dirinya sendiri.”
Ilusi-ilusi lainnya pun bermunculan dan terus menyerang Lio, dirinya semakin terpojok karena lambat laun Lio tidak mampu menandingi kecepatan Djohan yang sudah menggunakan kekuatan armored nya itu. Pilihan yang bijak bagi Lio adalah bertahan sambil mencari celah kelemahan jurus dari Djohan. Matanya bergerak cepat mengikuti arah serangan dari Djohan. Lalu pada suatu kesempatan Lio menyerang balik karena sosok Djohan yang asli terdiam diposisinya tidak bergerak.
Analisa sederhana dari Lio adalah, ketika Djohan menciptakan ilusi dirinya untuk menyerang maka yang dilakukan sebenarnya adalah menyerang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga saat sudah melakukan serangan, Djohan akan kembali ke posisi awalnya. Diperlukan jarak yang cukup agar kecepatan yang membuat ilusi itu bisa terjadi, tidak mungkin dari jarak yang sangat dekat Djohan mampu menciptakan ilusi.
Lio memunculkan cakarnya, “Kena kau!” saat cakarnya menebas sosok Djohan itu, hal yang mengejutkan terjadi. Ternyata yang diserang oleh Lio adalah sosok ilusi dari Djohan, sedangkan tubuh aslinya berada tepat di posisi Lio berada sebelumnya.
“Aku sudah memikirkannya, ketika kau malah menyerang balik. Di situ aku tidak kembali melainkan tetap berada di sini.”
“Hmm…menarik, lanjut?” tanpa disadari Lio malah tertantang untuk mengetes kemampuannya juga.
Quote:
Seseorang berdiri di depan suatu bangunan yang mirip rumah dengan dua lantainya, memakai jubah berwarna hitam yang serasi dengan suasana malam hari di sektor 15. Dua buah garis polisi melintang menutupi semua bagian berpintu. Dan lebih anehnya lagi semua akses menuju dalam rumah juga disegel, seperti bagian jendela. Rumah dua lantai ini terletak dipinggiran sektor 15, yang jauh dari hiruk pikuk.
Seseorang itu terdiam, lalu ada sebuah cahaya yang menyorot dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Orang berjubah itu pun pergi dari tempatnya berdiri, hilang di tengah gelapnya malam. Turun seorang yang tidak asing, yaitu Davies sang anggota BASS. Sama seperti tim 13 yang mendapatkan supir resmi, tim 15 juga demikian. Ia pergi ke rumah ini diantarkan oleh anggota barunya itu menggunakan mobil SUV hitam, karena tidak mungkin membawa mobil truk besar jika tidak melakukan misi.
“Benar juga, bahkan tempat ini pun disegel,” ucap Davies. “eh sampai bagian jendelanya juga?” ia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya bahwa kantor pusat sampai berbuat sejauh ini. “Pak Adrian bilang, bahwa dokter yang memberikanku serum penguat itu sudah ditahan. Namun ia tidak memberitahu di mana dokter ditahan….”
Melihat Davies yang berbicara sendiri, rekannya ini mulai tidak sabaran. “Oi! Sudah belum? Tempat ini tidak berpenghuni, ayo pulang sekarang juga,” ucapnya.
“Ya! Tunggu sebentar,” Davies menggerutu dengan suara pelan. “dia kan cuman supir, kenapa memberikan perintah?!”
Ada alasan kuat mengapa supir tim 15 yang bernama Jackson ini bersikap seperti itu, pertama karena Davies mengajaknya bukan dalam rangka menjalankan tugas sebagai pemburu Beaters. Dan kedua, jika kapten James tahu maka mereka berdua akan diberikan hukuman. Bagi Jackson yang baru saja bekerja, memiliki perilaku yang buruk di mata atasan tidak bisa ia maafkan. Untuk itu ia meminta kepada Davies agar cepat pulang sambil menunggu jadwal patroli.
Davies naik ke dalam mobil, setelah ia tidak bisa menemukan jalan masuk ke dalam rumah itu. Ia pun tidak berani merusak segel yang ada, karena akan menimbulkan masalah yang baru dan nantinya pasti kapten James yang dibuat repot. Lagipula Davies sudah diberikan ‘kesembuhan’ berkat mengikuti program Mechanism, ia akan dicap tidak tahu diuntung jika berbuat seenaknya.
Jackson menjalankan mobilnya, setelah sedikit menjauh, barulah ia bertanya suatu hal pada Davies. “Hei, apakah kamu tadi melihatnya?” tanyanya dengan suara yang agak menggetar.
“Melihat apa?” Davies tidak mengerti dengan pertanyaan dari Jackson.
“Tadi, sebelum kita berhenti tepat di depan rumah yang tersegel itu, aku melihat sesosok yang menggunakan jubah berwarna hitam. Lalu ketika----,” Davies malah menertawainya.
“Tidak, aku tidak melihatnya, lagipula untuk apa malam-malam ada seseorang berjubah hitam berkeliaran di jalan,” mata Davies mengecil, “ah…jangan-jangan kamu mengira itu hantu? Ayo Jackson, BASS saja sudah membuat baju tempur super canggih masa kamu masih percaya hantu?” menahan tawanya.
“Bukan begitu….,” Jackson tidak ingin memanjangkan obrolannya, ia memilih untuk mengalah dan diam. “iya…mungkin aku salah lihat,” seketika menyesali perkataanya barusan, menurutnya Davies orang yang sangat bodoh.
Keadaan Bar tidak terlalu ramai, waktu yang cukup senggang itu dimanfaatkan betul oleh Djohan untuk melamun. Selain obrolan tentang Red Sun yang sudah bangkit dan bisa kapanpun beraksi di mana saja termasuk di Surban City. Tetapi yang jadi perhatian bagi Djohan adalah kata-kata Cetrune, yang mengisyarakatkan bahwa dirinya masih berada di level bawah. Lio menghampirinya karena melihat Djohan yang merenung seperti itu.
“Oi, ada apa?” sapa Lio. “Red Sun kah?” mulai sok tahu. “ya jika kau memikirkannya sih wajar saja, dia sosok yang begitu menyeramkan. Menurut cerita dari Tuan Stam, bangkitnya Red Sun merupakan pertanda datangnya bencana yang besar. Aku sih berharap monster itu bisa sedikit santai dan tidak terburu-buru melakukan aksi besar.”
“Kau sudah selesai?” tanggapan Djohan yang begitu dingin.
“Cih! Kalau tahu begini aku tidak menyapamu bodoh!” emosi Lio naik. “kuingatkan, aku ini senior di sini!” lalu beranjak pergi, Gonzalo dan Solo yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
“Red Sun kah?” pikir Djohan sejenak, lalu tiba-tiba beranjak dari tempatnya dan menghampiri Lio.
Kali ini mereka berbincang secara privat, dibagian belakang bar tepatnya ke arah dapur. Di sini secara langsung Djohan meminta Lio untuk mengukur sejauh mana kekuatannya berkembang. Ia sedikit memaksa Lio untuk membantunya, dengan alasan yang paling logis karena senior mereka yaitu Sterling tidak ada di tempat ini sekarang. Mungkin sedang mencari informasi untuk buruan selanjutnya.
“Ah…ada apa ini? kenapa kau berubah dengan cepat begitu sih…,” keluh Lio.
“Ayo tolonglah….,” Djohan teringat perkataan Lio barusan. “kumohon….senior…,” pintanya setengah tulus.
Mendengar kata ‘senior’ dari mulut Djohan membuat Lio kembali angkuh dan akhirnya mau menuruti permintaan dari Djohan. Keduanya izin pamit sebentar kepada Solo, 10 menit saja cukup bagi Lio untuk menghajar Djohan, begitu pikirnya. Ruangan bawah tanah yang digunakan sebagai latihan dimasuki oleh keduanya. Tidak banyak yang berubah, bahkan bekas latihan terakhir antara Djohan dan Sterling masih nampak.
“Jadi kau mulai berpikir, bagaimana jika Red Sun tiba-tiba datang kemari? Makanya kau meminta untuk mengetes kemampuan?” Lio berulah dengan banyak berbicara. “kita memang mempunyai waktu yang cukup ‘banyak’, karena Royal Clan yang lain pun---,” Djohan sudah muak dengan Lio yang terus berbicara.
“Bisa kita mulai sekarang?”
“Haha! Tidak sabaran….,” Lio memberikan tanda bahwa dirinya siap.
Djohan melancarkan serangan pertamanya, soal kecepatan tentu saja Lio tidak kalah dengannya. Serangannya itu dengan mudah dihindarinya. Lio bahkan berdiri dengan santai, seperti tidak menggunakan tenaganya untuk menghindari serangan Djohan barusan. Ia meminta Djohan untuk tidak segan-segan menyerangnya. Bayangkan saja bahwa mereka berdua sedang bertarung sungguhan.
“Baiklah, akan kunaikan….,” Djohan kembali meluncur cepat, Lio masih dapat melihatnya. Tetapi kali ini kerah baju miliknya dapat disentuh sebelum Lio kembali menghindar.
“Ok, sudah mulai cepat. Tetapi apa bisa menandingi yang ini?” sosok Lio menghilang dari pandangan Djohan, lalu sebuah tendangan keras mendarat di pipi. Membuat Djohan sedikit terpental.
Djohan memegangi pipinya, tidak ada bekas luka yang berarti. “Memilihnya untuk mengetes kecepatanku memanglah pilihan yang tepat!” gumam Djohan yang suaranya tidak terdengar oleh Lio.
Pertarungan menjadi lebih sengit, di mana jual beli serangan terjadi antaranya keduanya. Lio masih mengungguli Djohan soal kecepatan. Karena ingin meningkatkannya lagi, Djohan mulai serius dengan melapisi bagian kakinya dengan sel beaters yang mengeras. Lio pun tidak masalah, karena tujuan latihan ini adalah sejauh mana Djohan dapat bergerak, mengukur kecepatan.
“Ini?” Lio sedikit terkejut karena ia yakin betul melihat dua Djohan sekaligus saat ini, satu di belakang sedang bersiap dan satu lagi tepat didepannya. Ketika tinju Djohan mulai mendekat, Lio berhasil menepisnya. Ketika itu terjadi sosok Djohan di depan Lio pun menghilang seperti pantulan di air yang terkena arus. “sangking cepatnya sekarang dia mampu menciptakan ilusi akan dirinya sendiri.”
Ilusi-ilusi lainnya pun bermunculan dan terus menyerang Lio, dirinya semakin terpojok karena lambat laun Lio tidak mampu menandingi kecepatan Djohan yang sudah menggunakan kekuatan armored nya itu. Pilihan yang bijak bagi Lio adalah bertahan sambil mencari celah kelemahan jurus dari Djohan. Matanya bergerak cepat mengikuti arah serangan dari Djohan. Lalu pada suatu kesempatan Lio menyerang balik karena sosok Djohan yang asli terdiam diposisinya tidak bergerak.
Analisa sederhana dari Lio adalah, ketika Djohan menciptakan ilusi dirinya untuk menyerang maka yang dilakukan sebenarnya adalah menyerang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga saat sudah melakukan serangan, Djohan akan kembali ke posisi awalnya. Diperlukan jarak yang cukup agar kecepatan yang membuat ilusi itu bisa terjadi, tidak mungkin dari jarak yang sangat dekat Djohan mampu menciptakan ilusi.
Lio memunculkan cakarnya, “Kena kau!” saat cakarnya menebas sosok Djohan itu, hal yang mengejutkan terjadi. Ternyata yang diserang oleh Lio adalah sosok ilusi dari Djohan, sedangkan tubuh aslinya berada tepat di posisi Lio berada sebelumnya.
“Aku sudah memikirkannya, ketika kau malah menyerang balik. Di situ aku tidak kembali melainkan tetap berada di sini.”
“Hmm…menarik, lanjut?” tanpa disadari Lio malah tertantang untuk mengetes kemampuannya juga.
Diubah oleh the.collega 06-06-2021 11:32
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup