- Beranda
- Stories from the Heart
PACARKU HIDUP KEMBALI
...
TS
Martincorp
PACARKU HIDUP KEMBALI

Permisi Gan/Sis pembaca setia cerita cinta Hayati dan Asnawi, dalam trit baru ini ane mau cerita lanjutan petualangan Hayati setelah berpisah sama Asnawi.
Spoiler for Sinopsis:
KARAKTER
Spoiler for Karakter Utama:
Spoiler for Mahluk Gaib dan Bangsa Siluman:
Spoiler for Karakter Pendukung:
Quote:
Soundtrack cerita biar kayak film-film ANIME....


Spoiler for Opening Song:
BAGIAN 1
ALAM BAKA
part 1
ALAM BAKA
part 1
Malam itu setelah petarungan besar antara Bendoro dan Hayati, keadaan tampak sangat memilukan. Asnawi dan Hayati saling berpelukan dalam waktu lama, tubuh Hayati yang masih mengeluarkan darah tidak menjadi batu sandungan buat dirinya untuk memeluk Hayati.
Hayati menangis tersedu sedu dalam pelukan Asnawi. akhirnya setelah sekian lama, dia bisa bersatu dengan Asnawi tanpa harus mengalami berbagai gangguan. Bendoro yang selama ini muncul di kehidupannya, telah lenyap begitu saja. Memang Bendoro mempunyai tujuan yang baik demi membela kamu arwah penasaran yang diperbudak oleh bangsa siluman bangsawan, namun dia telah merenggut kebahagiaan Hayati dengan memaksanya untuk ikut berjuang. Bagi diri Hayati, Asnawi berperan sebagai pahlawan besar dalam kahidupannya sebagai arwah penasaran. Dimulai dengan pertemuan pertamanya yang sangat menyeramkan sampai mereka menjadi satu seperti sekarang ini. Banyak lika liku kehidupan cinta diantara mereka berdua ditengah jurang perbedaan yang menganga.
Hayati merasa sangat bahagia kala itu, hatinya merasa sangat tenang dan jiwanya berbunga bunga. Tubuhnya mulai menghangat seperti manusia hidup. Detak jantungnya mulai terasa dan aliran darahnya mulai menggelora. Tiba tiba seberkas cahaya berwana keemasan muncul dari langit dan menerpa tubuh Hayati yang masih beperlukan dengan Asnawi. Hayati langsung kaget dengan cahaya itu dan melapaskan pelukannya dengan Asnawi.
“mas...sinar ini?”
“maksudnya apa Hayati?”
“hatiku sekarang tenang banget dan jiwaku juga terasa hangat...jangan jangan ini tanda tanda...”
“maksudnya arwah kamu udah nggak penasaran lagi?”
“iya mas ku...huft..huft..mas.....mas..........gimana ini?”
“Hayati....kamu jangan tinggalin aku... kita udah berjanji mau hidup bersama”
“aku juga sama mas aku...hiks ...hiks...aku nggak mau pisah sama kamu mas”
Tubuh Hayati menjadi sangat hangat dan perlahan mulai memudar. Panggilan dari alam baka mulai menggema, Hayati mau tidak mau harus pergi kesana dan meninggalkan Asnawi di dunia ini. Asnawi semakin erat memeluk Hayati. Dia histeris dan tidak mau melepas Hayati.
“Hayati....tolong tetap disini, jangan pergi dulu ke alam baka..hiks..hiks”
“maafin aku mas, aku juga nggak bisa berkehendak....ini udah takdir...udah seharusnya aku berada di alam sana”
“HAYATIIIIII...........TOLONG HAYATI....TETEP JADI ARWAH PENASARAN....JANGAN TINGGALIN AKU”
“mas.....kayanya aku udah nggak bisa....aku udah pasrah akan keadaan sekarang..mas...denger aku mas...”
Hayati berusaha menegakkan kepala Asnawi yang tertunduk. Tampak mata Asnawi yang merah karena menangis dan wajahnya yang basah terkena air mata. Hayati berusaha tegar dan menguatkan Asnawi yang tengah jatuh dan larut dalam kesedihan. Hayati harus menyampaikan pesan yang bisa dijadikan bekal hidup Asnawi ditengah waktu yang samakin sempit. Lama kelamaan tubuh Hayati semakin memudar, dia harus berpacu dengan waktu.
“mas....maafin aku yah...mas...aku pengen kamu janji...aku pengen kamu berjanji sebelum aku pergi selamanya ke alam baka”
“nggak mau....kamu harus tetep disini Hayati..”
“mas...ku sayang...tolong aku yah mas.....mas harus ngerelain kepergianku yah...dan aku pengen mas berjanji”
Asnawi terdiam beberapa saat. Dia tampak berusaha untuk ikhlas untuk melepas Hayati pergi ke alam baka. Dia mulai mengatur napasnya dan menghentikan tangisannya.
“hiks...hiks....hiks..............iya aku berjanji”
“aku pengen kamu berjanji untuk menyayangi Cascade sabagaimana kamu menyayangi ku...aku pengen kamu melanjutkan hidupmu bersama dia....aku pengen kamu balikan lagi sama dia.....janji mas!”
“aku janji Hayati.........aku akan melaksanakan janji janjimu Hayati”
“makasih banget mas ku sayang...sekarang aku bisa pergi dengan tenang”
“iya Hayati sayang...aku sayang banget sama kamu...aku cinta banget sama kamu...aku nggak akan ngelupain kamu..Hayati...hatiku udah milik kamu....aku nggak akan ngasihin sama orang lain”
“mas....hiks..hiks....kamu harus tetap sehat yah mas, kamu harus rajin mandi, makan makanan sehat, nggak boleh ngerokok dan rajin olahraga mas....mas.....kayanya waktuku udah tiba...peluk aku mas”
Asnawi kembeli berpelukan dengan erat disertai tangisan yang luar biasa yang membuat suasan semakin menyedihkan.
“mas...walaupun di dunia ini kita nggak bisa bersatu...semoga di akhirat kelak kita akan ketemu lagi dan hidup bersama selamanya”
“iya Hayati..aku janji...aku akan selalu mendoakan mu dan akan melakukan semua yang kamu perintahin ka aku.....Hayati aku akan menemuimu di akhirat nanti...tunggu aku disana yah sayang....capet atau lambat aku juga akan menyusulmu ke alam sana....terima kasih Pacar Kuntilanak Ku tersayang...kamu udah mewarnai hidupku yang menyedihkan ini....”
Hayati pun akhirnya menghilang dari pelukan Asnawi. dan cahaya keemasan yang berasal dari langit pun juga ikut menghilang. Kejadian itu sama persis seperti yang Asnawi saksikan ketika 6 kuntilanak anak buah Wewe Gombel yang juga pergi ke alam baka. Asnawi kembali menangis dan berteriak teriak menyebut nama Hayati. Dia seakan akan tidak sanggup ditinggal Hayati dalam keadaan seperti itu.
Hayati terbang di dalam sebuah pusaran energi dalam tuangan yang tak terbatas. Dia melayang tanpa arah yang jelas, Hayati mencoba untuk berbalik arah melawan arus tarikan gaya,akan tetap usahanya itu gagal. Hayati menangis selama berada dalam pusaran itu. Dalam hatinya dia terus berkeluh kesah dengan keadaan yang dialaminya.
“Oh Tuhan....kenapa Engkau melakukan ini kepadaku?.....aku cuma ingin hidup bahagia bersama kekasihku....kenapa Tuhan??” gerutu Hayati dalam tangisannya.
Tiba tiba seberkas cahaya putih kecil mulai muncul diujung pusaran. Hayati langsung melihat kearah cahaya itu, dia tampak mengernyitkan dahinya. “Mungkin itu adalah pintu alam baka” gumam Hayati dalam hati. Lama-lama cahaya putih itu semakin membesar dan mendekati Hayati. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika dia mendekatinya dan akhirnya dia masuk kedalam cahaya putih itu.
Tiba-tiba Hayati berbaring diatas tanah yang tandus. Dia menghela napas dengan kencang dan berusaha membuka matanya pelan-pelan. Hayati mulai berdiri dan melihat keadaan disekitarnya. Ternyata tempat itu adalah sebuah padang tandus yang sangat luas dan memiliki kontur permukaan tanah yang datar. Hayati tampak sangat kebingungan dengan tempat itu. Dia kemudian berjalan untuk mencari tahu tempat yang baru didatanginya itu. Padang tandus itu dipenuhi oleh kabut dan bersuhu panas, seperti suasana Kota Bandung di siang hari.
Hayati berjalan lurus kedepan untuk mengetahui tempat itu. Dia tidak bisa melihat jauh karena terhalang oleh kabut, jarak pandangnya sangat terbatas. Akhirnya dia menemukan sebuah pohon kering yang menjulang cukup tinggi. Hayati memiliki ide untuk memanjat pohon itu dengan tujuan dapat melihat keadaan di sekitarnya. Dia pun memanjat pohon itu dengan susah payah.
Wujud Hayati berubah menjadi seperti manusia, dia tidak bisa melayang dan terbang seperti biasanya, tampak tubuhnya juga memadat. Hayati masih memakai baju gaun putih kuntinya yang berlumuran darah akibat pertarungan dengan Bendoro. Ketika sampai di puncak pohon, Hayati mulai melihat lihat kondisi sekitar yang masih tertutup kabut.
Tak lama berselang, tiba-tiba angin kencang bertiup dan menyingkirkan kabut yang mengahalangi pandangannya. Hayati tampak menutup matanya ketika diterpa angin tersebut. Setelah angin itu hilang, Hayati kembali membuka matanya. Betapa kagetnya dia ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dia melihat orang-orang yang sangat banyak tampak antri untuk masuk ke dalam sebuah pintu besar yang berada di sebuah benteng yang sangat tinggi dan panjang di ujung cakrawala. Orang-orang yang kira kira berjumlah jutaan itu tampak bersabar dalam menunggu antrian masuk ke gerbang itu. Mereka tampak mengenakan kain kafan yang digunakan untuk menutup tubuh. Tergambar berbagai macam ekspresi yang tersirat di raut wajah mereka, ada ekspresi senyum bahagia, sedih, menangis dan penuh penyesalan.
................................................................
Spoiler for Closing Song:
Polling
0 suara
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Asnawi ?
Diubah oleh Martincorp 06-12-2019 08:04
gembogspeed dan 207 lainnya memberi reputasi
196
686.5K
6.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Martincorp
#3210
BAGIAN 45
WONGSO SUSENO
part 1
Hujan deras mengguyur Jakarta. Beberapa wilayah tergenang sehingga membuat arus lalu lintas tersendat. Hayati termenung di dalam mobil bersama Wongso yang berada dibalik kemudi. Mereka tak saling bicara selama ini. Baik Hayati maupun Wongso sama sama merasa canggung. Sesekali Wongso ingin mencairkan gunung es, namun hal itu selalu urung dilakukan. sampai suatu ketika suara keroncongan keluar dari perut Hayati.
Wongso tertawa terbahak-bahak mendengar duara perut Hayati yang keroncongan. Hayati tampak malu saat itu. Mukanya merona merah dan memalingkan pandangannya dari Wongso. Akan tetapi, Wongso malah semakin mengencangkan tawanya hingga Hayati pun kesal dan membentaknya.
"UDAH JANGAN KETAWA TERUS MAS!!!!" Hayati menatap tajam Wongso.
Wongso seketika terdiam ketika terjadi kontak mata antara dirinya dengan Hayati. Wajah Hayati yang memerah membuat perasaan Wongso bergetar dan seakan akan dia melihat sosok bidadari dihadapannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan itu.
"Maaf Mal...maafin aku" sahut Wongso grogi.
Hayati kembali memandang ke arah depan dan tak mau melihat wajah Wongso. Suasana kembali hening. Wongso semakin grogi menghadapi keadaan yang serba canggung itu. akhirnya ia pun mulai membuka obrolan.
"Kamu laper ya Mal?"
"Enggak Mas"
"Perut kamu gak bisa bo'ong"
"Iya aku laper...aku pengen cepet nyampe rumah"
"Mending kita makan dulu yuk...lalu lintas macet banget nih, pasti bakalan lama kalo nyampe rumah kamu"
"Gak mau Mas"
"Emang rumah kamu dimana?"
"Komplek ABRI Jakarta Timur Blok C-29"
"Hmmm...masih jauh dong Mal...mending makan dulu yuk!! Siapa tau pas kita udah beres makan, lalu lintas udah lancar lagi"
"Gak mau Mas...aku gak bisa"
Tiba-tiba perut Hayati kembali berbunyi. Hayati semakin tak bisa menyembunyikan rasa laparnya.
"Tuh perut kamu protes! Kita makan yah! deket kok resto nya"
"Tapi Mas...aku ngerasa gak enak"
"Gak enak gimana?"
"Ya kamu kan pacarnya Tisha...masa makan bareng sama aku...aku gak mau selingkuh lho...aku gak mau khianatin Tisha"
"Astagfirulloh Hal Adzim!! Kamu berpikir sejauh itu? Gak mungkin Mala...kamu ada-ada aja"
"Tapi mungkin banget Mas Wong...tiap cowok yang kenal sama aku, ujung-ujugnya mereka jatuh cinta"
"Alaaaaah...aku gak akan kali Mal...aku kan udah punya Tisha"
"Aku pengen kamu janji dulu?"
"Janji apa?"
"Jangan jatuh cinta sama aku! Jangan jadiin aku selingkuhan kamu dan kamu harus setia"
"Banyak banget janjinya?"
"Soalnya aku gak mau jahatin orang yang udah baik sama aku"
"Hmmm...aku cuman ngajak makan malem aja persyaratannya kayak gitu, lagian aku gak tertarik sama kamu...kamu juga kan udah punya pacar sama Kang Ojol tadi...aku cuman pengen niat baik tapi malah kamu begituin...yaudah kalo gitu, aku mending gak jadi neraktir kamu makan"
"Lho...lho...kok gak jadi Mas?" Hayati kaget.
"Ya aku disuruh janji sama kamu...kamu udah suuzon banget sama aku"
Suara perut keroncongan Hayati semakin mengencang. Hayati mulai meringis karena merasakan perih di lambung.
"Sakit kan Mal?" tannya Wongso.
"Iya Mas"Hayati mengangguk.
"Kalo kamu bersikeras, aku gak akan neraktir kamu...bahkan kalo kamu pingsan karena kelaparan...aku gak akan tanggung jawab yah" gertak Wongso dengan muka seriusnya.
"Maaf Mas...aku cuma takut" sahut Hayati sambil tertunduk
"Kamu takut aku jatuh cinta sama kamu?"
"Iya Mas"
"Haha...kamu geer banget Mala, siapa juga yang jatuh cinta sama kamu? Kamu itu gak ada apa apanya dibanding sama Tisha...aku beruntung udah jadi pacaranya dia...gak terasa udah 3 tahun aku menjalin hubungan sama dia...dia terlalu sempurna kalo dibandingin kamu Mal...atau jangan jangan, kamu kali yang jatuh cinta sama aku?"
Wongso pun mengeluarkan omongan yang menohok Hayati, sehingga membuatnya semakin malu.
"Aku gak jatuh cinta sama kamu kok!!" bentak Hayati dengan waiah merona merah bagaikan buah tomat ranum.
"Wajahmu memerah Mal...haha" Wongso kembalu tertawa.
"UDAH JANGAN DIBAHAS LAGI!!" teriak Hayati sambil menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.
Suasana serba canggung pun terpecahkan dengan berteriaknya Hayati. Mulai dari sana, Wongso dengan mudah bisa menguasai keadaan. Hayati tampak tersipu malu, ketika Wongso terus menerus menyindirnya.
"Aku menyerah Mas...aku gak akan minta kamu janji...aku nerima ajakanbmakan malam ini...aku laper banget Mas"
"Nah gitu dong! Jangan lebay sama aku lah Mal...toh aku niatnya cuman mau ngajak makan, gak ada salahnya kan?"
"Iya Mas Wong...maafin aku"
Wongso pun membelokan mobilnya di sebush perempatan jalan. Hayati semakin tersipu malu dan salah tingkah akibat tindakannya yang berlebihan. Tak lama berselang, mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah bangunan besar dimana banyakbsekali mobil mobil yang terparkir di halamannya.
"Waw...ini restoran apa Mas? Gede banget" tanya Hayati yang terkesima.
"The Gardner Resto...ini adalah resto punyanya Chef Kartika"
"Chef Kartika Asih? "
"Iya...siapa yang gak tau sama dia"
"Waaaw...hebat"
"Ayo kita masuk"
Wongso mengajak Hayati memasuki restoran itu. Ia memesan sebuah meja ekslusif di bagian rooftop dengan meja yang menghadap ke sebuah pemandangan indah. Seorang pelayan dengan setelan rapi mendatangi mereka. Wongso langsung menanyakan kabar Bi Asih kepada pelayan itu. Hayati merasa takut kalau Bi Asih benar benar ada di restoran itu. Ia mendadak salah tingkah karena Bi Asih pasti akan langsung mengenali dirinya. Akan terapi pelayan itu menyebut kalau Bi Asih sedang tidak berada disana.
Setelah itu, sang pelayan memberikan sebuah buku menu kepada Wongso. Hayati membaca daftar menu yang harganya membuat dirinya sakit jantung.
"Mas...kok harga makanan disini mahal mahal semua ya, aku takut bikin Mas bangkrut"
"Tenang aja Mal...kamu pesen aja makanan yang kamu mau, gak usah mikirin bayar"
"Tapi aku gak enak sama kamu Mas, kan tau sendiri, aku makannya kayak gimana"
"Oh iya juga yah, kamu itu makannya banyak...hmmm...dulu aku kaget pas liat kamu makan di rumah Tisha haha"
"Makanya, aku takut bikin kamu bangkrut Mas"
"Gak apa apa Mal...semua makanan disini gratis kok buat aku"
"Yang bener Mas?"
"Benee Mal, soalnya aku ini rekan bisnis Chef Kartika"
"Oalah...bisnis apa Mas?"
"Selain bisnis ekspor impor barang, aku ini juga punya bisnis butcher"
"Bisnis apaan itu Mas?"
"Jagal daging Mal...aku punya tempat pemotongan sapi...aku mensuplai daging sapi ekslusif ke beberapa restoran elit di Jakarta dan Bali...salah satunya ke restoran ini, makanya aku dapet gratisan makan di resto ini"
"Baiklah kalo gitu Mas, aku pengen pesen daging steak disini"
"Baiklah, kami bebas mau pesen apapun"
Mata Hayati langsung berbinar ketika makanan yang ia pesan telah tina dan disajikan dihadapannya. Tanpa ragu, Hayati langsung melahap semia hidangan yang ada. Wongso kembali dibuat tercengang dengan nafsu Hayati yang kerasukan iblis.
"Mala...pelan pelan dong makannya!! Nanti keselek lho"
Wongso berusaha memperingati Hayati, namun ia tak digubris. Hayati terus melahap daging steak itu dengan cepat. Beberapa menit kemudian, Hayati berhasil menghabiskan semuanya.
"Aku udah beres makannya Mas...pulang yuk!!'
"Astaga Mala!! Kamu udah beres aja, aku baru 3 suap"
"Mas kelamaan makannya"
"Buset!! Kelamaan gimana? Kamu yang makannya kecepetan kayak orang yang kelaperan"
"Yaudah kamu cepetan makannya!"
"Santai Mal...makan gak boleh diburu buru...mending kamu ngobrol aja deh sambil nunggu aku beres makan"
"Hmmm...baiklah, kamu mau aku ngobrol apa? "
"Apa kek, yang jelas kamu ngomong gitu"
"Yaudah...aku mau cerita kisah seekor kancil"
"Jangan dong!! Itu dongeng buat bocah!"
"Oalah...tadi kamu bilang aku harus cerita apa saja"
"Ya tapi jangan mendongeng juga kali"
"Mas maunya aku cerita apa?"
"Gini aja, ceritain kehidupan kamu...kayak darimana kamu berasal dan kenapa bisa jadi asisten pacarku...soalnya pacarku itu orangnya galak dan perfeksionis, selama ini gak ada orang yang bisa tahan lama jadi asistennya"
"Baiklah...aku cerita dari aku lahir aja gimana"
"Terserah deh, asal jangan terlalu detil"
Hayati mulai bercerita tentang dirinya sendiri dihadapan Wongso yang sambil menikmati makan malamnya.
"Orang tuaku pertama kali ketemu ketika lagi ada demo besar besaran di Jakarta...bapakku adalah tentara dan ibuku seorang aktivis mahasiswa"
"Wah mantap tuh, demo reformasi 98 ya?"
"Bukan...demo tahun 1965"
"Kamu canda aja Mal...itu mah jadul banget dong...hahaha"
"Itu hak kamu kalo gak percaya"
"Iya aku percaya...demo reformasi 98"
"Terserah kamu Mas"
"Oke...lanjut Mal" pinta Wongso sambil menggak segelas air.
"Bapakku jatuh cinta sama ibuku ketika mereka saling baku hantam...waktu itu setelah demo bubar, bapakku nyamperin langsung ke ibuku dan nyatain perasaannya...dan abis itu dia langsung ngelamarin ibuku"
"Bener bener prajurit pemberani nih bapakmu Mal...aku bangga...cowok jaman sekarang, mana ada yang berani kayak gitu ke cewek"
"Iya Mas...terus bapakku akhirnya nikah sama ibu, tapi walaupun gitu mereka masih tetep baku hantam kalo demo, bahkan pas ibu lagi mengandung aku, dia masih bisa orasi dijalanan dan akhirnya dia pecah ketuban waktu itu, lalu dia ngelahirin aku"
Wongso sangat kagum dengan kisah cinta orang tua Hayati. Menurutnya itu adalah hal yang paling romantis untuk didengar. Ia pun menyanjung orang tua Hayati setinggi langit. Hayati senang ketika mendengarnya.
"Orang tua kamu sekarang gimana kabarnya Mal? Kayaknya aku pengen kenal sama mereka...soalnya kisah cintanya luar biasa"
"Mereka udah gak ada Mas" jawab Hayati yang mendadak sedih.
"Innalillahi!! Maaf-maaf aku gak tau kalo mereka udah gak ada" Wongso menjadi salah tingkah.
"Gak apa apa kok Mas, aku ngerti kok" kata Hayati yang mulai berlinang air mata.
"Jadi kamu yatim piatu Mal?"
"Iya Mas...mereka meninggal ketika aku lagi kuliah kedokteran, itu sebabnya kenapa aku gak bisa nerusin kuliah...dan aku harus kerja jadi petugas kebersihan...entah kebetulan, aku diangkat jadi asistennya Tisha karena dia liat aku berbakat ngobatin orang"
Hayati melanjutkan cerita pengalaman hidupnya yang getir. Tentunya ia mengarangnya agar bisa diterima oleh akal Wongso. Ia dengan lemampuan ratu dramanya yang luar biasa berhasil membuat Wongso menangis ketika mendengar kisahnya. Mulutnya bergetar dan air mata berlinang ketika menceritakan dirinya yang menderita.
"Cukup Mal...cukup!! Aku gal sanggup lagi dengernya, kisah hidupmu begitu menyakitkan" Wongso memelas sambil terisak.
"Baiklah kalo gitu...maafin aku ya Mas, aku gak bermaksud bikin kamu nangis"
"Kamu adalah cewek yang paling menyedihkan yang pernah kukenal"
"Menyedihkan?"
"Iya maksudku...masa lalu mu yang kelam banget sampe bikin hatiku teriris...seumur hidup aku gak pernah nangis...tapi pas denger ceritamu, aku gak sangup nahan kesedihan"
"Emang bener kamu gak pernah nangis? Kalo kamu jaman masih kecil kan pasti pernah nangis"
"Aku gak pernah Mal, karena aku juga sama kayak kamu, aku seorang yatim piatu"
"Apaaaaaah!!! Bukannya orang tuamu kaya?"
"Aku sebenernya anak adopsi Mal...orang tuaku yang sebenernya udah meninggal"
"Jadi gimana ceritanya Mas?"
"Orang tua kandungku meninggal karena kecelakaan maut...waktu itu aku masih berumur 4 tahun...kita rencana mau mudik ke Malang pake motor, tapi di jalan kita ngalamin kecelakaan...dari situ cuman aku yang selamat...aku sama sekali gak nangis Mal, walaupun aku sedih banget...abis semua itu, aku diurus sama tanteku, tapi karena tenteku punya banyak anak, jadinya aku gak keurus sampe akhirnya aku dimasukan ke panti asuhan biar aku bisa sekolah...aku berada di panti itu selama 3 tahun...aku tiap hari giat bekerja untuk menambah uang sakuku...aku berjualan asongan di emperan...kadang aku jadi tukang semir sepatu atau kuli angkut di pasar"
"Mas waktu itu baru berumur 7 tahun?"
"Iya Mala...aku masih anak anak...aku selalu giat bekerja karena aku bertekad ingin jadi orang kaya...bapakku dulu kerja sebagai buruh pabrik...dia selalu bilang sama aku untuk giat belajar dan bekerja"
"Terus gimana kamu bisa diadopsi?"
"Waktu itu, aku lagi jualan asongan di emperan pertokoan...aku lagi jalan menyuri gang-gang disana...tina tiba aku liat seorang bapak terkapar gak sadar...aku panik, aku langsung menolong bapak itu, aku berusaha menyadarkannya...setelah sadar si bapak itu ngomong kalo dia kepeleset pas keluar dari bangunan di gang itu...aku berisaha memapah bapak itu menuju puskesma terdekat buat ngobatin lukanya karena kepalanya berdarah...ya mungkin karena benturan...sore harinya keluarga si bapak itu dateng untuk menjemputnya...aku ditawari imbalan gede karena udah nolongin bapak itu, tapi kutolak...aku ikhlas menolong orang itu tanpa pamrih...walaupun aku lagi butuh uang tapi aku gak mau nerima imbalan itu...sampe akhirnya si bapak itu nanyain dimana aku tinggal...dua bulan kemudian bapak itu sama istrinya ngedatengin panti asuhan...dia langsung pengen nge adopsi aku sebagai anak"
"Oalah...kamu beruntung banget Mas bisa diadopsi sama orang kaya"
"Alhamdulillah Mal...bapak angkatku orangnya baik banget...aku selama ini disekolahin sama dia bahkan aku dikuliahin di luar negeri dan selarang aku dikasih tugas buat ngurusin bisnisnya"
Hayati mengambil sebuah serbet, lalu ia mengusapkan serbet itu ke wajah Wongso yang dipenuhi air mata. Seketika Wongso terkesima dengan apa yang dilakukan Hayati.
"Makasih ya Mal"
"Sama sama Mas...udah ya kamu jangan sedih lagi!"
Wongso melihat arlojinya, ia kemudian mengajak Hayati untuk pulang.
"Mal...kita pulamg yuk!! Udah jam sebelas"
"Ayo Mas...tapi makananmu belum abis"
"Aku udah gak selera Mal gara-gara dengerin kisahmu yang sedih itu"
"Boleh aku abisin?"
"Jangan Mal...itu makanan bekas!"
"Gak apa apa Mas, gak boleh mubazir"
Hayati dengan tanpa malu langsung menghabiskan porsi makan milik Wongso. Hal itu membuat Wongso kembali tercengang. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan restoran.
Mereka tiba di depan rumah Hayati setengah jam kemudian. Kondisi lalu lintas sudah kembali normal ketika hujan deras berhenti. Hayati pun turun dari mobil.
"Makasih ya Mas udah neraktir aku makan dan nganterin pulang"
"Ya sama sama Mal..."
"Kalo gitu aku pulang dulu ya"
"Iya Mal...sampai jumpa lagi"
Wongso pun pergi meninggalkan Hayayi di depan rumahnya. Sesekali ia melihat Hayati dari refleksi kaca spion mobilnya. Ia tampak melambaikan tangan kepada dirinya Hatinya kini mulai bergetar dan perasaannya bercampur aduk.
"Please Wongso!! Lu udah punya Tisha yang perfect banget...lu jangan kegoda sama Mala!!" gumam Wongso dalam pikirannya.
...
WONGSO SUSENO
part 1
Hujan deras mengguyur Jakarta. Beberapa wilayah tergenang sehingga membuat arus lalu lintas tersendat. Hayati termenung di dalam mobil bersama Wongso yang berada dibalik kemudi. Mereka tak saling bicara selama ini. Baik Hayati maupun Wongso sama sama merasa canggung. Sesekali Wongso ingin mencairkan gunung es, namun hal itu selalu urung dilakukan. sampai suatu ketika suara keroncongan keluar dari perut Hayati.
Wongso tertawa terbahak-bahak mendengar duara perut Hayati yang keroncongan. Hayati tampak malu saat itu. Mukanya merona merah dan memalingkan pandangannya dari Wongso. Akan tetapi, Wongso malah semakin mengencangkan tawanya hingga Hayati pun kesal dan membentaknya.
"UDAH JANGAN KETAWA TERUS MAS!!!!" Hayati menatap tajam Wongso.
Wongso seketika terdiam ketika terjadi kontak mata antara dirinya dengan Hayati. Wajah Hayati yang memerah membuat perasaan Wongso bergetar dan seakan akan dia melihat sosok bidadari dihadapannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan itu.
"Maaf Mal...maafin aku" sahut Wongso grogi.
Hayati kembali memandang ke arah depan dan tak mau melihat wajah Wongso. Suasana kembali hening. Wongso semakin grogi menghadapi keadaan yang serba canggung itu. akhirnya ia pun mulai membuka obrolan.
"Kamu laper ya Mal?"
"Enggak Mas"
"Perut kamu gak bisa bo'ong"
"Iya aku laper...aku pengen cepet nyampe rumah"
"Mending kita makan dulu yuk...lalu lintas macet banget nih, pasti bakalan lama kalo nyampe rumah kamu"
"Gak mau Mas"
"Emang rumah kamu dimana?"
"Komplek ABRI Jakarta Timur Blok C-29"
"Hmmm...masih jauh dong Mal...mending makan dulu yuk!! Siapa tau pas kita udah beres makan, lalu lintas udah lancar lagi"
"Gak mau Mas...aku gak bisa"
Tiba-tiba perut Hayati kembali berbunyi. Hayati semakin tak bisa menyembunyikan rasa laparnya.
"Tuh perut kamu protes! Kita makan yah! deket kok resto nya"
"Tapi Mas...aku ngerasa gak enak"
"Gak enak gimana?"
"Ya kamu kan pacarnya Tisha...masa makan bareng sama aku...aku gak mau selingkuh lho...aku gak mau khianatin Tisha"
"Astagfirulloh Hal Adzim!! Kamu berpikir sejauh itu? Gak mungkin Mala...kamu ada-ada aja"
"Tapi mungkin banget Mas Wong...tiap cowok yang kenal sama aku, ujung-ujugnya mereka jatuh cinta"
"Alaaaaah...aku gak akan kali Mal...aku kan udah punya Tisha"
"Aku pengen kamu janji dulu?"
"Janji apa?"
"Jangan jatuh cinta sama aku! Jangan jadiin aku selingkuhan kamu dan kamu harus setia"
"Banyak banget janjinya?"
"Soalnya aku gak mau jahatin orang yang udah baik sama aku"
"Hmmm...aku cuman ngajak makan malem aja persyaratannya kayak gitu, lagian aku gak tertarik sama kamu...kamu juga kan udah punya pacar sama Kang Ojol tadi...aku cuman pengen niat baik tapi malah kamu begituin...yaudah kalo gitu, aku mending gak jadi neraktir kamu makan"
"Lho...lho...kok gak jadi Mas?" Hayati kaget.
"Ya aku disuruh janji sama kamu...kamu udah suuzon banget sama aku"
Suara perut keroncongan Hayati semakin mengencang. Hayati mulai meringis karena merasakan perih di lambung.
"Sakit kan Mal?" tannya Wongso.
"Iya Mas"Hayati mengangguk.
"Kalo kamu bersikeras, aku gak akan neraktir kamu...bahkan kalo kamu pingsan karena kelaparan...aku gak akan tanggung jawab yah" gertak Wongso dengan muka seriusnya.
"Maaf Mas...aku cuma takut" sahut Hayati sambil tertunduk
"Kamu takut aku jatuh cinta sama kamu?"
"Iya Mas"
"Haha...kamu geer banget Mala, siapa juga yang jatuh cinta sama kamu? Kamu itu gak ada apa apanya dibanding sama Tisha...aku beruntung udah jadi pacaranya dia...gak terasa udah 3 tahun aku menjalin hubungan sama dia...dia terlalu sempurna kalo dibandingin kamu Mal...atau jangan jangan, kamu kali yang jatuh cinta sama aku?"
Wongso pun mengeluarkan omongan yang menohok Hayati, sehingga membuatnya semakin malu.
"Aku gak jatuh cinta sama kamu kok!!" bentak Hayati dengan waiah merona merah bagaikan buah tomat ranum.
"Wajahmu memerah Mal...haha" Wongso kembalu tertawa.
"UDAH JANGAN DIBAHAS LAGI!!" teriak Hayati sambil menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.
Suasana serba canggung pun terpecahkan dengan berteriaknya Hayati. Mulai dari sana, Wongso dengan mudah bisa menguasai keadaan. Hayati tampak tersipu malu, ketika Wongso terus menerus menyindirnya.
"Aku menyerah Mas...aku gak akan minta kamu janji...aku nerima ajakanbmakan malam ini...aku laper banget Mas"
"Nah gitu dong! Jangan lebay sama aku lah Mal...toh aku niatnya cuman mau ngajak makan, gak ada salahnya kan?"
"Iya Mas Wong...maafin aku"
Wongso pun membelokan mobilnya di sebush perempatan jalan. Hayati semakin tersipu malu dan salah tingkah akibat tindakannya yang berlebihan. Tak lama berselang, mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah bangunan besar dimana banyakbsekali mobil mobil yang terparkir di halamannya.
"Waw...ini restoran apa Mas? Gede banget" tanya Hayati yang terkesima.
"The Gardner Resto...ini adalah resto punyanya Chef Kartika"
"Chef Kartika Asih? "
"Iya...siapa yang gak tau sama dia"
"Waaaw...hebat"
"Ayo kita masuk"
Wongso mengajak Hayati memasuki restoran itu. Ia memesan sebuah meja ekslusif di bagian rooftop dengan meja yang menghadap ke sebuah pemandangan indah. Seorang pelayan dengan setelan rapi mendatangi mereka. Wongso langsung menanyakan kabar Bi Asih kepada pelayan itu. Hayati merasa takut kalau Bi Asih benar benar ada di restoran itu. Ia mendadak salah tingkah karena Bi Asih pasti akan langsung mengenali dirinya. Akan terapi pelayan itu menyebut kalau Bi Asih sedang tidak berada disana.
Setelah itu, sang pelayan memberikan sebuah buku menu kepada Wongso. Hayati membaca daftar menu yang harganya membuat dirinya sakit jantung.
"Mas...kok harga makanan disini mahal mahal semua ya, aku takut bikin Mas bangkrut"
"Tenang aja Mal...kamu pesen aja makanan yang kamu mau, gak usah mikirin bayar"
"Tapi aku gak enak sama kamu Mas, kan tau sendiri, aku makannya kayak gimana"
"Oh iya juga yah, kamu itu makannya banyak...hmmm...dulu aku kaget pas liat kamu makan di rumah Tisha haha"
"Makanya, aku takut bikin kamu bangkrut Mas"
"Gak apa apa Mal...semua makanan disini gratis kok buat aku"
"Yang bener Mas?"
"Benee Mal, soalnya aku ini rekan bisnis Chef Kartika"
"Oalah...bisnis apa Mas?"
"Selain bisnis ekspor impor barang, aku ini juga punya bisnis butcher"
"Bisnis apaan itu Mas?"
"Jagal daging Mal...aku punya tempat pemotongan sapi...aku mensuplai daging sapi ekslusif ke beberapa restoran elit di Jakarta dan Bali...salah satunya ke restoran ini, makanya aku dapet gratisan makan di resto ini"
"Baiklah kalo gitu Mas, aku pengen pesen daging steak disini"
"Baiklah, kami bebas mau pesen apapun"
Mata Hayati langsung berbinar ketika makanan yang ia pesan telah tina dan disajikan dihadapannya. Tanpa ragu, Hayati langsung melahap semia hidangan yang ada. Wongso kembali dibuat tercengang dengan nafsu Hayati yang kerasukan iblis.
"Mala...pelan pelan dong makannya!! Nanti keselek lho"
Wongso berusaha memperingati Hayati, namun ia tak digubris. Hayati terus melahap daging steak itu dengan cepat. Beberapa menit kemudian, Hayati berhasil menghabiskan semuanya.
"Aku udah beres makannya Mas...pulang yuk!!'
"Astaga Mala!! Kamu udah beres aja, aku baru 3 suap"
"Mas kelamaan makannya"
"Buset!! Kelamaan gimana? Kamu yang makannya kecepetan kayak orang yang kelaperan"
"Yaudah kamu cepetan makannya!"
"Santai Mal...makan gak boleh diburu buru...mending kamu ngobrol aja deh sambil nunggu aku beres makan"
"Hmmm...baiklah, kamu mau aku ngobrol apa? "
"Apa kek, yang jelas kamu ngomong gitu"
"Yaudah...aku mau cerita kisah seekor kancil"
"Jangan dong!! Itu dongeng buat bocah!"
"Oalah...tadi kamu bilang aku harus cerita apa saja"
"Ya tapi jangan mendongeng juga kali"
"Mas maunya aku cerita apa?"
"Gini aja, ceritain kehidupan kamu...kayak darimana kamu berasal dan kenapa bisa jadi asisten pacarku...soalnya pacarku itu orangnya galak dan perfeksionis, selama ini gak ada orang yang bisa tahan lama jadi asistennya"
"Baiklah...aku cerita dari aku lahir aja gimana"
"Terserah deh, asal jangan terlalu detil"
Hayati mulai bercerita tentang dirinya sendiri dihadapan Wongso yang sambil menikmati makan malamnya.
"Orang tuaku pertama kali ketemu ketika lagi ada demo besar besaran di Jakarta...bapakku adalah tentara dan ibuku seorang aktivis mahasiswa"
"Wah mantap tuh, demo reformasi 98 ya?"
"Bukan...demo tahun 1965"
"Kamu canda aja Mal...itu mah jadul banget dong...hahaha"
"Itu hak kamu kalo gak percaya"
"Iya aku percaya...demo reformasi 98"
"Terserah kamu Mas"
"Oke...lanjut Mal" pinta Wongso sambil menggak segelas air.
"Bapakku jatuh cinta sama ibuku ketika mereka saling baku hantam...waktu itu setelah demo bubar, bapakku nyamperin langsung ke ibuku dan nyatain perasaannya...dan abis itu dia langsung ngelamarin ibuku"
"Bener bener prajurit pemberani nih bapakmu Mal...aku bangga...cowok jaman sekarang, mana ada yang berani kayak gitu ke cewek"
"Iya Mas...terus bapakku akhirnya nikah sama ibu, tapi walaupun gitu mereka masih tetep baku hantam kalo demo, bahkan pas ibu lagi mengandung aku, dia masih bisa orasi dijalanan dan akhirnya dia pecah ketuban waktu itu, lalu dia ngelahirin aku"
Wongso sangat kagum dengan kisah cinta orang tua Hayati. Menurutnya itu adalah hal yang paling romantis untuk didengar. Ia pun menyanjung orang tua Hayati setinggi langit. Hayati senang ketika mendengarnya.
"Orang tua kamu sekarang gimana kabarnya Mal? Kayaknya aku pengen kenal sama mereka...soalnya kisah cintanya luar biasa"
"Mereka udah gak ada Mas" jawab Hayati yang mendadak sedih.
"Innalillahi!! Maaf-maaf aku gak tau kalo mereka udah gak ada" Wongso menjadi salah tingkah.
"Gak apa apa kok Mas, aku ngerti kok" kata Hayati yang mulai berlinang air mata.
"Jadi kamu yatim piatu Mal?"
"Iya Mas...mereka meninggal ketika aku lagi kuliah kedokteran, itu sebabnya kenapa aku gak bisa nerusin kuliah...dan aku harus kerja jadi petugas kebersihan...entah kebetulan, aku diangkat jadi asistennya Tisha karena dia liat aku berbakat ngobatin orang"
Hayati melanjutkan cerita pengalaman hidupnya yang getir. Tentunya ia mengarangnya agar bisa diterima oleh akal Wongso. Ia dengan lemampuan ratu dramanya yang luar biasa berhasil membuat Wongso menangis ketika mendengar kisahnya. Mulutnya bergetar dan air mata berlinang ketika menceritakan dirinya yang menderita.
"Cukup Mal...cukup!! Aku gal sanggup lagi dengernya, kisah hidupmu begitu menyakitkan" Wongso memelas sambil terisak.
"Baiklah kalo gitu...maafin aku ya Mas, aku gak bermaksud bikin kamu nangis"
"Kamu adalah cewek yang paling menyedihkan yang pernah kukenal"
"Menyedihkan?"
"Iya maksudku...masa lalu mu yang kelam banget sampe bikin hatiku teriris...seumur hidup aku gak pernah nangis...tapi pas denger ceritamu, aku gak sangup nahan kesedihan"
"Emang bener kamu gak pernah nangis? Kalo kamu jaman masih kecil kan pasti pernah nangis"
"Aku gak pernah Mal, karena aku juga sama kayak kamu, aku seorang yatim piatu"
"Apaaaaaah!!! Bukannya orang tuamu kaya?"
"Aku sebenernya anak adopsi Mal...orang tuaku yang sebenernya udah meninggal"
"Jadi gimana ceritanya Mas?"
"Orang tua kandungku meninggal karena kecelakaan maut...waktu itu aku masih berumur 4 tahun...kita rencana mau mudik ke Malang pake motor, tapi di jalan kita ngalamin kecelakaan...dari situ cuman aku yang selamat...aku sama sekali gak nangis Mal, walaupun aku sedih banget...abis semua itu, aku diurus sama tanteku, tapi karena tenteku punya banyak anak, jadinya aku gak keurus sampe akhirnya aku dimasukan ke panti asuhan biar aku bisa sekolah...aku berada di panti itu selama 3 tahun...aku tiap hari giat bekerja untuk menambah uang sakuku...aku berjualan asongan di emperan...kadang aku jadi tukang semir sepatu atau kuli angkut di pasar"
"Mas waktu itu baru berumur 7 tahun?"
"Iya Mala...aku masih anak anak...aku selalu giat bekerja karena aku bertekad ingin jadi orang kaya...bapakku dulu kerja sebagai buruh pabrik...dia selalu bilang sama aku untuk giat belajar dan bekerja"
"Terus gimana kamu bisa diadopsi?"
"Waktu itu, aku lagi jualan asongan di emperan pertokoan...aku lagi jalan menyuri gang-gang disana...tina tiba aku liat seorang bapak terkapar gak sadar...aku panik, aku langsung menolong bapak itu, aku berusaha menyadarkannya...setelah sadar si bapak itu ngomong kalo dia kepeleset pas keluar dari bangunan di gang itu...aku berisaha memapah bapak itu menuju puskesma terdekat buat ngobatin lukanya karena kepalanya berdarah...ya mungkin karena benturan...sore harinya keluarga si bapak itu dateng untuk menjemputnya...aku ditawari imbalan gede karena udah nolongin bapak itu, tapi kutolak...aku ikhlas menolong orang itu tanpa pamrih...walaupun aku lagi butuh uang tapi aku gak mau nerima imbalan itu...sampe akhirnya si bapak itu nanyain dimana aku tinggal...dua bulan kemudian bapak itu sama istrinya ngedatengin panti asuhan...dia langsung pengen nge adopsi aku sebagai anak"
"Oalah...kamu beruntung banget Mas bisa diadopsi sama orang kaya"
"Alhamdulillah Mal...bapak angkatku orangnya baik banget...aku selama ini disekolahin sama dia bahkan aku dikuliahin di luar negeri dan selarang aku dikasih tugas buat ngurusin bisnisnya"
Hayati mengambil sebuah serbet, lalu ia mengusapkan serbet itu ke wajah Wongso yang dipenuhi air mata. Seketika Wongso terkesima dengan apa yang dilakukan Hayati.
"Makasih ya Mal"
"Sama sama Mas...udah ya kamu jangan sedih lagi!"
Wongso melihat arlojinya, ia kemudian mengajak Hayati untuk pulang.
"Mal...kita pulamg yuk!! Udah jam sebelas"
"Ayo Mas...tapi makananmu belum abis"
"Aku udah gak selera Mal gara-gara dengerin kisahmu yang sedih itu"
"Boleh aku abisin?"
"Jangan Mal...itu makanan bekas!"
"Gak apa apa Mas, gak boleh mubazir"
Hayati dengan tanpa malu langsung menghabiskan porsi makan milik Wongso. Hal itu membuat Wongso kembali tercengang. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan restoran.
Mereka tiba di depan rumah Hayati setengah jam kemudian. Kondisi lalu lintas sudah kembali normal ketika hujan deras berhenti. Hayati pun turun dari mobil.
"Makasih ya Mas udah neraktir aku makan dan nganterin pulang"
"Ya sama sama Mal..."
"Kalo gitu aku pulang dulu ya"
"Iya Mal...sampai jumpa lagi"
Wongso pun pergi meninggalkan Hayayi di depan rumahnya. Sesekali ia melihat Hayati dari refleksi kaca spion mobilnya. Ia tampak melambaikan tangan kepada dirinya Hatinya kini mulai bergetar dan perasaannya bercampur aduk.
"Please Wongso!! Lu udah punya Tisha yang perfect banget...lu jangan kegoda sama Mala!!" gumam Wongso dalam pikirannya.
...
symoel08 dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Tutup























