- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#97
Chapter 64
Djohan berencana mengalahkan orang didepannya dengan segera, ia tidak ingin Jenny menunggu lama. Apalagi detik waktu terus berjalan dan bulan semakin terang. Suasana taman yang sepi sangat pas untuk melakukan pertarungan singkat, tetap saja dalam lubuknya Djohan berharap tidak ada orang yang iseng lewat melalui taman ini. Orang bertombak itu memulai duluan, ia mengayunkan tombaknya dengan sangat lihai, Djohan pun serasa diajak menari bersamanya.
“Ayunannya kuat tetapi gerakannya sangat lambat!” Djohan menghilang dari tatapan, muncul dengan tendangannya yang sayangnya bisa ditangkis oleh orang bertombak. “refleknya boleh juga, bagaimana kalau ini,” Djohan menambah kecepatannya, belum menggunakan kekuatan Beaters nya.
“Hm, mengandalkan kecepatan rupanya,” tahu kalau cepat, ia mencoba bertahan dengan menundukan badannya sedikit lalu menyilangkan kedua tangannya tepat di depan wajahnya. Melalui celah kecil yang terbentuk ia memperhatikan Djohan.
“Seberapa kuat kau bisa bertahan!” Djohan membabi buta menyerang dari segala arah, orang bertombak itu seperti dihujani oleh peluru.
Orang bertombak itu terus mengamati gerakan Djohan walaupun yang dilihatnya hanya sekelibat saja. Tetapi matanya terus mencoba mengikuti ke mana serangan Djohan akan berlabuh. Tangan yang memegang tombak itu sedikit bergerak, nampaknya orang bertombak sudah mengetahui akan menyerang ke mana dalam kondisi seperti itu. Matanya membelalak saat akhirnya ia menemukan sebuah kesempatan untuk menyerang balik Djohan.
“Sekarang!” ia mengayunkan tombaknya kebelakang secara tiba-tiba.
“Apa?!” Djohan menghentikan serangannya dan menghindari serangan yang muncul tiba-tiba itu. Dirinya menunduk dan tombak itu lewat di atas kepalanya lalu melompat menjauh.
“Ku akui kecepatanmu sangat luar biasa, meskipun belum memakai kekuatan Beaters mu itu. Tetapi,” menghela nafas. “pola seranganmu itu biasa saja, mudah dibaca. Gerakanmu sangat monoton, aku yang melihatnya sebentar sudah tahu di mana letak kelemahan seranganmu tadi,” ucap orang bertombak dengan lantang.
“Oi! Sebelumnya juga kau mengatakan hal yang sama, Beaters? Siapa kau sebenarnya?” tunjuk Djohan.
“Ah…aku Cetrune, Bronze Clan,” ia mengangkat tangannya. “berita mengenai dirimu sudah tersebar luas, khususnya dikalangan royal…jadi aku ingin mengetes seberapa kuat dirimu.”
“Pantas saja, dia kalangan royal, aku tidak bisa meremehkannya.”
Pertarungan sepertinya akan berlanjut, namun tombak yang dipegang oleh Cetrune lepas dari pegangannya, terbang ke arah yang lainnya. Saat Cetrune ingin mengejarnya, seseorang menyerang dari atas, tetapi mampu dihindarinya.
“Eh….”
“Oi Cetrune, apa-apaan kau ini!” yang menyerangnya adalah Sterling. Sementara di sisi lain Vivian nampak sedang memegang tombak milik Cetrune.
“Meskipun terbuat dari sel Beaters, tombak ini dasarnya adalah besi…”
“Tenang, aku tidak berniat membunuhnya kok, kita kan sudah melakukan ini sejak lama. Adu kekuatan,” ucapnya dengan antusias.
Djohan masih mencerna semua kejadian yang terjadi secara cepat dihadapannya itu. berarti seorang Bronze Clan yang menyerang ini ternyata sudah saling mengenal dengan dua seniornya, Sterling dan juga Vivian. Kesempatan ini dimaksimalkan oleh Djohan, karena semuanya sudah diselesaikan saatnya ia pergi menuju apartemen sewaan milik Jenny untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Vivian.
“Iya, sebenarnya kami baru saja mulai,” Djohan menjawabnya dengan sedikit bercanda. “baiklah sepertinya situasinya sudah terkendali, aku pamit dulu,” sebelum pergi Djohan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Sterling dan juga Vivian.
“Ini, ambil,” Vivian melempar tombak milik Cetrune, ia membuka telapak tangannya dan tombaknya itu meluncur masuk
Tiba-tiba raut wajah Cetrune yang sedari tadi ceria mendadak berubah menjadi sangat serius. Kedatangannya ke Surban City selain untuk menghabisi para Beaters yang masih berkeliaran, tujuan lainnya adalah untuk memberikan berita penting pada pemimpin Silver Clan, yaitu tuan Stam.
“Berita apa?” tanya Sterling.
“Ilo akan memberitahunya secara mendetil, kan ku beritahu secara singkat di sini, Red Sun telah bangkit,” Sterling dan Vivian bergidik ketika mendengarnya.
“Red Sun, ah berarti perjalanan kita akan mendekati akhir yah,” Sterling masih sempat bercanda ketika menerima berita yang begitu besar dan mengancam keberadaannya.
Dengan langkah yang cepat akhirnya Djohan sampai di gedung apartemen tempat Jenny tinggal tuk sementara. Ia langsung menaiki lift menuju lantai sesuai alamat yang diberikan oleh Jenny. Situasi lorong lantai yang di maksud sangat sepi dan di dominasi oleh warna lampu yang hangat. Djohan mulai mengetuk pintu apartemen, tidak menunggu waktu lama Jenny membukakan pintunya.
“Maaf, telah membuatmu menunggu,” kalimat pertama yang diucapkan oleh Djohan.
Jenny melihat jam tangan yang dikenakannya, “Ah…tidak perlu dipikirkan, silahkan masuk,” ia membuka pintunya.
Keadaan apartemen sewaaan ini sangat berantakan, laptop yang bergelatakan di sembarang tempat, snack potato chip yang berhamburan dengan keadaan terbuka, belum lagi beberapa kaleng bir yang tersusun di dekat meja televisi. Lalu Jenny meminta Djohan untuk duduk terlebih dahulu, ia ingin menyiapkan ruangannya agar lebih rapi.
“Maaf, ini bukan karena kamu datang agak telat, tapi ini sudah berhari-hari seperti ini,” sambil merapikan semua kekacauan. “kamu ingin minum apa? aku ada kopi kalengan dan juga bir.”
“Kopi saja.”
Jenny kembali dengan kopi kalengan dingin, suasana apartemennya pun lebih baik dibandingkan yang tadi.
“Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu mau datang ke sini, untuk membicarakan tentang kondisimu,” ucap Jenny.
Djohan tersenyum, ia sedikit terpaksa. Jika tidak ketahuan waktu itu mungkin malam ini ia masih bekerja membantu Solo memberikan makanan dan minuman kepada pelanggan.
Jenny bercerita, tempatnya bekerja memang sedikit unik. Kantor beritanya sama sekali tidak meminati berita-berita ‘normal’ ataupun kriminal. Mereka lebih menyukai sesuatu yang unik bahkan tabu bagi sebagian masyarakat. Kisah-kisah urban sangat digemari oleh bagian redaksi, tetapi kadang kali mereka mendapati cerita-cerita yang sengaja dibuat-buat agar menjadi berita. Walaupun trafik media online tempat Jenny bekerja tidak terlalu kencang, banyak orang yang setia menunggu kabar terbaru dari dunia-dunia tersebut.
Makadari itu semenjak kasus Beaters menguap di udara, para atasan Jenny sangat senang sekali melihatnya. Karena sebelumnya desas-desus Beaters hanya berada di forum online, itu pun pada bagian yang paling dalam di forum tersebut. Walaupun kasusnya banyak beredar di Surban, tetap saja kecenderungan orang yang mendiami kota itu sangatlah cuek. Berbanding terbalik dengan beberapa kota yang dijadikan pabrik Beaters, warga di sana lebih waspada dan was-was. Tujuan Jenny pun untuk mendapati sudut pandang lain, kebetulan sekali kenalannya adalah seorang Beaters. Peristiwa di mana apartemennya hancur menjadi pembuka jalan baginya.
“Oh iya, bagaimana waktu itu kamu bisa lolos? Maksudku pasti pengelola akan sedikit bertanya bukan?” tanya Djohan.
“Ya, aku bilang pada mereka kalau sampah gas mini yang kusimpan meledak. Aku tidak membuangnya karena ingin mengisinya lagi, untungnya mereka percaya,” Jenny membuka laptopnya, Djohan mulai merasa tidak nyaman. “bisa kita mulai?”
Djohan masih belum yakin, apakah keputusannya kali ini tepat atau tidak. Tetapi ia memilih menyerah karena tertangkap basah dengan orang yang dikenalnya, meskipun memori Djohan akan Jenny masih buram.
Quote:
Djohan berencana mengalahkan orang didepannya dengan segera, ia tidak ingin Jenny menunggu lama. Apalagi detik waktu terus berjalan dan bulan semakin terang. Suasana taman yang sepi sangat pas untuk melakukan pertarungan singkat, tetap saja dalam lubuknya Djohan berharap tidak ada orang yang iseng lewat melalui taman ini. Orang bertombak itu memulai duluan, ia mengayunkan tombaknya dengan sangat lihai, Djohan pun serasa diajak menari bersamanya.
“Ayunannya kuat tetapi gerakannya sangat lambat!” Djohan menghilang dari tatapan, muncul dengan tendangannya yang sayangnya bisa ditangkis oleh orang bertombak. “refleknya boleh juga, bagaimana kalau ini,” Djohan menambah kecepatannya, belum menggunakan kekuatan Beaters nya.
“Hm, mengandalkan kecepatan rupanya,” tahu kalau cepat, ia mencoba bertahan dengan menundukan badannya sedikit lalu menyilangkan kedua tangannya tepat di depan wajahnya. Melalui celah kecil yang terbentuk ia memperhatikan Djohan.
“Seberapa kuat kau bisa bertahan!” Djohan membabi buta menyerang dari segala arah, orang bertombak itu seperti dihujani oleh peluru.
Orang bertombak itu terus mengamati gerakan Djohan walaupun yang dilihatnya hanya sekelibat saja. Tetapi matanya terus mencoba mengikuti ke mana serangan Djohan akan berlabuh. Tangan yang memegang tombak itu sedikit bergerak, nampaknya orang bertombak sudah mengetahui akan menyerang ke mana dalam kondisi seperti itu. Matanya membelalak saat akhirnya ia menemukan sebuah kesempatan untuk menyerang balik Djohan.
“Sekarang!” ia mengayunkan tombaknya kebelakang secara tiba-tiba.
“Apa?!” Djohan menghentikan serangannya dan menghindari serangan yang muncul tiba-tiba itu. Dirinya menunduk dan tombak itu lewat di atas kepalanya lalu melompat menjauh.
“Ku akui kecepatanmu sangat luar biasa, meskipun belum memakai kekuatan Beaters mu itu. Tetapi,” menghela nafas. “pola seranganmu itu biasa saja, mudah dibaca. Gerakanmu sangat monoton, aku yang melihatnya sebentar sudah tahu di mana letak kelemahan seranganmu tadi,” ucap orang bertombak dengan lantang.
“Oi! Sebelumnya juga kau mengatakan hal yang sama, Beaters? Siapa kau sebenarnya?” tunjuk Djohan.
“Ah…aku Cetrune, Bronze Clan,” ia mengangkat tangannya. “berita mengenai dirimu sudah tersebar luas, khususnya dikalangan royal…jadi aku ingin mengetes seberapa kuat dirimu.”
“Pantas saja, dia kalangan royal, aku tidak bisa meremehkannya.”
Pertarungan sepertinya akan berlanjut, namun tombak yang dipegang oleh Cetrune lepas dari pegangannya, terbang ke arah yang lainnya. Saat Cetrune ingin mengejarnya, seseorang menyerang dari atas, tetapi mampu dihindarinya.
“Eh….”
“Oi Cetrune, apa-apaan kau ini!” yang menyerangnya adalah Sterling. Sementara di sisi lain Vivian nampak sedang memegang tombak milik Cetrune.
“Meskipun terbuat dari sel Beaters, tombak ini dasarnya adalah besi…”
“Tenang, aku tidak berniat membunuhnya kok, kita kan sudah melakukan ini sejak lama. Adu kekuatan,” ucapnya dengan antusias.
Djohan masih mencerna semua kejadian yang terjadi secara cepat dihadapannya itu. berarti seorang Bronze Clan yang menyerang ini ternyata sudah saling mengenal dengan dua seniornya, Sterling dan juga Vivian. Kesempatan ini dimaksimalkan oleh Djohan, karena semuanya sudah diselesaikan saatnya ia pergi menuju apartemen sewaan milik Jenny untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Vivian.
“Iya, sebenarnya kami baru saja mulai,” Djohan menjawabnya dengan sedikit bercanda. “baiklah sepertinya situasinya sudah terkendali, aku pamit dulu,” sebelum pergi Djohan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Sterling dan juga Vivian.
“Ini, ambil,” Vivian melempar tombak milik Cetrune, ia membuka telapak tangannya dan tombaknya itu meluncur masuk
Tiba-tiba raut wajah Cetrune yang sedari tadi ceria mendadak berubah menjadi sangat serius. Kedatangannya ke Surban City selain untuk menghabisi para Beaters yang masih berkeliaran, tujuan lainnya adalah untuk memberikan berita penting pada pemimpin Silver Clan, yaitu tuan Stam.
“Berita apa?” tanya Sterling.
“Ilo akan memberitahunya secara mendetil, kan ku beritahu secara singkat di sini, Red Sun telah bangkit,” Sterling dan Vivian bergidik ketika mendengarnya.
“Red Sun, ah berarti perjalanan kita akan mendekati akhir yah,” Sterling masih sempat bercanda ketika menerima berita yang begitu besar dan mengancam keberadaannya.
Dengan langkah yang cepat akhirnya Djohan sampai di gedung apartemen tempat Jenny tinggal tuk sementara. Ia langsung menaiki lift menuju lantai sesuai alamat yang diberikan oleh Jenny. Situasi lorong lantai yang di maksud sangat sepi dan di dominasi oleh warna lampu yang hangat. Djohan mulai mengetuk pintu apartemen, tidak menunggu waktu lama Jenny membukakan pintunya.
“Maaf, telah membuatmu menunggu,” kalimat pertama yang diucapkan oleh Djohan.
Jenny melihat jam tangan yang dikenakannya, “Ah…tidak perlu dipikirkan, silahkan masuk,” ia membuka pintunya.
Keadaan apartemen sewaaan ini sangat berantakan, laptop yang bergelatakan di sembarang tempat, snack potato chip yang berhamburan dengan keadaan terbuka, belum lagi beberapa kaleng bir yang tersusun di dekat meja televisi. Lalu Jenny meminta Djohan untuk duduk terlebih dahulu, ia ingin menyiapkan ruangannya agar lebih rapi.
“Maaf, ini bukan karena kamu datang agak telat, tapi ini sudah berhari-hari seperti ini,” sambil merapikan semua kekacauan. “kamu ingin minum apa? aku ada kopi kalengan dan juga bir.”
“Kopi saja.”
Jenny kembali dengan kopi kalengan dingin, suasana apartemennya pun lebih baik dibandingkan yang tadi.
“Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu mau datang ke sini, untuk membicarakan tentang kondisimu,” ucap Jenny.
Djohan tersenyum, ia sedikit terpaksa. Jika tidak ketahuan waktu itu mungkin malam ini ia masih bekerja membantu Solo memberikan makanan dan minuman kepada pelanggan.
Jenny bercerita, tempatnya bekerja memang sedikit unik. Kantor beritanya sama sekali tidak meminati berita-berita ‘normal’ ataupun kriminal. Mereka lebih menyukai sesuatu yang unik bahkan tabu bagi sebagian masyarakat. Kisah-kisah urban sangat digemari oleh bagian redaksi, tetapi kadang kali mereka mendapati cerita-cerita yang sengaja dibuat-buat agar menjadi berita. Walaupun trafik media online tempat Jenny bekerja tidak terlalu kencang, banyak orang yang setia menunggu kabar terbaru dari dunia-dunia tersebut.
Makadari itu semenjak kasus Beaters menguap di udara, para atasan Jenny sangat senang sekali melihatnya. Karena sebelumnya desas-desus Beaters hanya berada di forum online, itu pun pada bagian yang paling dalam di forum tersebut. Walaupun kasusnya banyak beredar di Surban, tetap saja kecenderungan orang yang mendiami kota itu sangatlah cuek. Berbanding terbalik dengan beberapa kota yang dijadikan pabrik Beaters, warga di sana lebih waspada dan was-was. Tujuan Jenny pun untuk mendapati sudut pandang lain, kebetulan sekali kenalannya adalah seorang Beaters. Peristiwa di mana apartemennya hancur menjadi pembuka jalan baginya.
“Oh iya, bagaimana waktu itu kamu bisa lolos? Maksudku pasti pengelola akan sedikit bertanya bukan?” tanya Djohan.
“Ya, aku bilang pada mereka kalau sampah gas mini yang kusimpan meledak. Aku tidak membuangnya karena ingin mengisinya lagi, untungnya mereka percaya,” Jenny membuka laptopnya, Djohan mulai merasa tidak nyaman. “bisa kita mulai?”
Djohan masih belum yakin, apakah keputusannya kali ini tepat atau tidak. Tetapi ia memilih menyerah karena tertangkap basah dengan orang yang dikenalnya, meskipun memori Djohan akan Jenny masih buram.
Diubah oleh the.collega 06-06-2021 11:32
redrices dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas