- Beranda
- Sejarah & Xenology
Ketika Ibnu Nadim Menjelaskan Tentang Yahudi, Kristen, Hindu, dan Buddha
...
TS
tyrodinthor
Ketika Ibnu Nadim Menjelaskan Tentang Yahudi, Kristen, Hindu, dan Buddha

Jika kita sering bergaul dengan kitab-kitab Arab klasik, kita akan menjumpai kekayaan khazanah literatur berbahasa Arab sejak abad ke-7 sampai 9. Dan biasanya, saya pun akan merujuk kitab Al-Fihristyang ditulis oleh Ibnu Nadim (w. 385 Hijriyyah / 995) untuk menelusuri berbagai kitab Arab klasik yang beredar sejak abad ke-7 sampai 9, baik itu kitab-kitabnya para 'ulama salaf Muslim, hingga kitab-kitabnya para rabi Yahudi generasi Ge'onim. Sebagai suatu kitab bibliografi berbentuk katalog ensiklopedia, kitab yang berjudul asli Al-Fihristul-'Ulum ("Katalog Ilmu-ilmu") merangkum banyak nama-nama tokoh-tokoh penting dari berbagai madzhab dan firqah selain daripada ilmu-ilmu sekuler. Namun tidak hanya sebagai katalog, tapi juga deskripsi ringkas tentang suatu madzhab dan firqah yang waktu itu sangat banyak dan beragam.
Di masa sekarang, apabila kita mendengar kata madzhab, maka akan selalu merujuk pada berbagai metode/sekolah fiqh Islam. Sedangkan untuk kata firqah, maka akan selalu merujuk pada sekte-sekte 'aqidah dan kalam Islam. Namun sebenarnya, pada masa ketika madzhab dan firqah itu sedang berkembang, kedua kata ini senantiasa merujuk suatu kelompok khusus dalam skala luas. Misalnya, untuk kata madzhab, kata ini juga merujuk pada "agama" lain. Sedangkan kata firqah, kata ini merujuk pada "sekte-sekte" dalam berbagai agama. Para 'ulama di masa itu tidak mempersempit makna din untuk sebatas "agama". Demikian juga Ibnu Nadim. Sebagai seorang 'alim (jamak: 'ulama), yang seharusnya diartikan sebagai "ilmuwan" daripada sebagai "ahli agama Islam", Ibnu Nadim dengan cermat mencatat segala macam nama-nama tokoh besar dari berbagai agama dan sekte-sektenya sejak abad ke-7 sampai 9 di masa hidupnya, dengan menggunakan kata madzhab dan firqah, serta nama-nama kitab yang mereka tulis.
Dari banyak madzhab dan firqah itu, saya tertarik membahas yang paling dikenal saja sampai saat ini, yaitu Yahudi, Kekristenan, dan Buddhisme. Ibnu Nadim menulis deskripsi yang singkat namun padat tentang ketiga agama ini, disertai tokoh-tokoh dan kitab-kitabnya, yang saat itu memang berada dalam lingkungan intelektual yang sama dengan ummat Muslim. Pada thread ini, saya akan menerjemahkan bagian-bagian itu dalam kitab ini per paragraf, dengan harapan agar membuka cakrawala berpikir kita tentang zaman yang digadang-gadang sebagai Islamic Golden Age, sebagai suatu zaman yang terbuka, beragam, dan berpikir bebas, tanpa tendensi keimanan atau keagamaan tertentu.
Sebagai pembuka, kita perlu mengenal sedikit tentang Ibnu Nadim dan kitab Al-Fihrist-nya. Dia adalah seorang cendikiawan Baghdad di masa 'Abbasiyyah, dengan nama asli Muhammad bin Ishaq, kun'yah-nya Abu Ya'qub, laqab-nya "Al-Warraq" (Tinta), dan masyhur disebut Ibnu Nadim. Setidaknya ada 2 (dua) 'ulama di abad pertengahan (yaitu Dzahabi dan Ibnu Hajar) yang menduga dia menganut Syi'ah dalam hal 'aqidah, sementara juga menganut Mu'tazilah dalam hal kalam. Dalam hal ini, saya akan membahas bantahan khusus tentang ini dilandasi oleh berbagai analisis linguistik dan kesejarahan dari banyak tarajim yang beredar tentang dia:
Yang perlu ditegaskan adalah, bahwa Ibnu Nadim tidak memiliki tendensi keimanan ketika menulis kitab ini (yang akan kita buktikan bersama dari catatan dia tentang madzhab dan firqah yang ada (dan yang pernah ada) di sekitar dia. Artinya, kitab Al-Fihrist terbebas dari bias iman. Kitab Al-Fihrist semata-mata merupakan usaha kecendikiaan yang dilakukan Ibnu Nadim untuk membuat suatu ensiklopedia, atau buku pintar, yang bertujuan melestarikan berbagai kebudayaan yang ada di masa hidupnya sepengetahuannya. Dengan kinerja intelektual luar biasa, Ibnu Nadim dapat merangkum berbagai informasi dengan sangat akurat. Dia pun menyebutkan tokoh-tokoh 'ulama salaf dengan menggunakan tarajim dan manaqib, juga menggunakan hadits-hadits Sunni. Yang perlu diperhatikan bahwa dia tidak ingin mengambil sumber dari yang berlawanan. Maksudnya, ketika dia menjelaskan tentang Yahudi (seperti yang akan kita ulas bersama di bawah), dia menukilnya dari tokoh Yahudi langsung. Demikian juga ketika dia merangkum ilmu-ilmu hadits (yang maksudnya adalah hadits-hadits Sunni), dia juga menukilnya dari para muhadditsin Sunni. Lebih spesial lagi, kitab Al-Fihrist ini tidak hanya merangkum berbagai sekte, namun juga ilmu-ilmu lain. Ibnu Nadim sendiri menulis judulnya Al-Fihristul-'Ulum ("Katalog ilmu-ilmu"), dimana sudah barang tentu di dalamnya terdapat ensiklopedia tentang ilmu gramatika Arab (nahwu), logika, filsafat, matematika, fisika dan pengobatan, biologi, astronomi, arsitektur, dan beberapa ilmu-ilmu yang sekarang sudah tergolong pseudosains seperti astrologi (an-nujum), alkemi (al-kimya), dan supranatural (al-'ajib).
Oleh sebab itu, selain thread ini ditulis dalam rangka edukasi dan pencerahan, namun juga thread ini saya persembahkan khusus bagi seluruh pecinta sejarah, kebudayaan, dan peradaban manusia. Semoga dapat berkontribusi dalam pengembangan wawasan dan wacana toleransi antar umat beragama.
Selamat membaca!
INDEX
Tentang Yahudi (1)
Tentang Yahudi (2)
Tentang Kekristenan
Tentang Sekte-sekte Kristen dan Gnostik (1)
Tentang Sekte-sekte Kristen dan Gnostik (2)
Tentang India (1)
Tentang India (2)
Tentang India (3)
Tentang Buddhisme dan Sang Buddha
Diubah oleh tyrodinthor 20-04-2021 21:41
starcrazy dan 62 lainnya memberi reputasi
63
15.4K
197
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#74
APA SEKTENYA IBNU NADIM? (2)
Lanjutan dari (1)
DUGAAN IBNU NADIM SEBAGAI SYI'AH OLEH IBNU HAJAR
Di atas, kita telah mengetahui bahwa para 'ulama salaf menilai seseorang dari kemampuannya. Jika demikian, masih pentingkah mempertanyakan keyakinan Ibnu Nadim? Daripada mempertanyakan itu, sebaliknya, mari kita kritisi dugaan bahwa dia adalah Syi'ah. Biasanya, mereka yang menyebut Ibnu Nadim sebagai Syi'ah akan menyebut pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 Hijriyyah / 1449). Dan saya yakin, mereka sendiri tidak pernah membaca kitab Ibnu Hajar, sehingga mereka tidak tahu bahwa ternyata Ibnu Hajar sendiri pun menukil pendapat/komentar Ibnu Nadim dalam Al-Fihrist untuk menjelaskan berbagai tokoh perawi hadits dan perawi Al-Qur'an.
Ibnu Hajar dalam Lisanul-Mizan Vol. 5 No. 237, Ibnu Hajar menulis sbb:
محمد بن إسحاق بن محمد بن إسحاق النديم الوراق، مصنف كتاب فهرست العلماء، روى فيه عن أبي إسحاق السيرافي وأبي الفرج الأصبهاني، وروى بالإجازة من إسماعيل الصفار قال بن النجار: لا أعلم لاحد عنه رواية، وقال أبو طاهر الكرخي: مات في شعبان سنة ثمان وثلاثين، قلت: وهو غير موثوق به ومصنفه المذكور ينادي على من صنفه بالإعتزال والزيغ نسأل الله السلامة، وقد ذكر له الذهبي ترجمة في تاريخ الإسلام فيمن لم يعرف له وحده على رأس الأربع مائة فقال: محمد بن إسحاق بن النديم أبو الفرج الأخباري الأديب الشيعي المعتزلي ذكر انه صنف الفهرست سنة سبع وسبعين وثلاث مائة قال ولا أعلم متى توفي قلت ورأيت في الفهرست موضعا ذكر انه كتب في سنة اثنتي عشرة وأربع مائة فهذا يدل على تاخيره إلى ذلك الزمان ولما طالعت كتابه ظهر لي انه رافضي معتزلي فإنه يسمي أهل السنة الحشوية ويسمى الأشاعرة المجبرة ويسمي كل من لم يكن شيعيا عاميا وذكر في ترجمة الشافعي شيئا مختلقا ظاهر الإفتراء فمما في كتابه من الإفتراء ومن عجائبه انه وثق عبد المنعم بن إدريس والواقدي وإسحاق بن بشير وغيرهم من الكذابين وتكلم في محمد بن إسحاق وأبي إسحاق الفزاري وغيرهما من الثقات
Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Ishaq An-Nadim Al-Warraq, penulis kitab Fihristul-'Ulama. Dia guru bagi Abu Ishaq As-Sirafidan Abul-Faraj Al-Ashbahani. Dia berguru dan mendapat ijazah dari Isma'il Ash-Shafar. Ibnu Najjar berkata: "Aku tidak tahu riwayat apapun tentang dia". Abu Thahir Al-Kurkhi berkata: "Dia wafat di bulan Sya'ban pada tahun tiga ratus delapan puluh [Hijriyyah]". Aku mengatakan: "Dia selain daripada tsiqah, dan [kitab] tulisannya tersebut adalah dari kalangan penulis Mu'tazilah, semoga Allah mengampuninya". Adz-Dzahabi menyebutkan dalam [kitab] Tarikhul-Islam bahwa tidak ada yang mengenalnya di atas tahun empat ratus [Hijriyyah], lantas berkata: "Muhammad bin Ishaq bin Nadim, seorang Akhbari, Adib, Syi'ah, dan Mu'tazilah". Disebutkan pula [oleh Dzahabi] bahwa dia mengumpulkan Fihrist dari tahun tujuh puluh tujuh sampai tahun tiga ratus [Hijriyyah], dan berkata: "Aku tidak tahu kapan dia wafat". Aku mengatakan: "Aku melihat di dalam Fihrist sebuah bagian yang menyatakan bahwa dia ditulis pada tahun empat ratus dua belas [Hijriyyah]. Ini menandakan ada perbedaan waktu. Dan ketika aku membacanya, yang tampak padaku adalah tulisan seorang Rafidhi Mu'tazili. Dia menyebut Ahlus-Sunnah sebagai "Al-Hasyawiyyah", dia menyebut Asya'irah sebagai "Al-Mujbirah", dan menyebut orang-orang selain Syi'ah sebagai "kalangan umum". Dan dia menyebutkan riwayat hidup [Imam] Syafi'i adalah fitnah lahiriah dan fitnah yang dibuat-buat dari apa yang ada di dalam kitabnya [Imam Syafi'i]. Sementara di bidang Aja'ib (supranatural), dia men-tsiqah-kan 'Abdul-Mun'im bin Idris, Al-Waqidi, Ishaq bin Bisyir, dan lainnya dari kalangan pendusta. Namun dia juga ber-kalam pada Muhammad bin Ishaq, Abu Ishaq Al-Fazari, dan lainnya dari kalangan tsiqah.
Penjelasan Ibnu Hajar tentang Ibnu Nadim di atas memang terlihat sangat negatif. Namun, sebelum kita kupas satu per satu, kita harus menyadari beberapa fakta:
Setelah memahami ketiga fakta di atas, maka sekarang kita kupas pendapat Ibnu Hajar saja. Di atas, Ibnu Hajar mengklaim bahwa Ibnu Nadim menyebut "Al-Hasyawiyyah" terhadap Ahlus-Sunnah, dan "Al-Mujbirah" terhadap Asy'ariyyah. Yang perlu kita lakukan hanyalah membaca kembali kitab Fihrist, bab tentang "Al-Hasyawiyyah" dan "Al-Mujbirah". Dalam Al-Fihrist Hal. 254, Ibnu Nadim mengawali bab ini tentang seorang 'ulama sekte "Al-Mujbirah" sbb:
أبو عبد الله الحسين بن محمد بن عبد الله النجار، وكان حايكا في طراز العباس بن محمد الهاشمي، من جلة المجبرة ومتكلميهم، وقد قيل إنه كان يعمل الموازين، من أهل قم، وإذا تكلم كان كلامه صوت الخفاش، وكان من الناظرين. وله مع النظام مجالس ومناظرات، والسبب في موت الحسين النجار، انه اجتمع مع إبراهيم النظام عند بعض اخوانه، فسلم الحسين، فقال له إبراهيم: تجلس حتى أكلمك فجلس، فقال له إبراهيم: يجوز ان تفعل خلق الله. فقال الحسين: يجوز ان افعل الذي هو خلق الله. قال إبراهيم: فالذي هو خلق الله، خلق الله، أو ليس بخلق له. قال الحسين: هو خلق الله. قال إبراهيم: فقد فعلت خلق الله، فلم لا يجوز ان تخلق خلق الله، كما جاز ان تفعل خلق الله. قال حسين: لم افعل خلق الله، وانما فعلت الذي هو خلق الله. قال إبراهيم: والذي هو خلق الله خلق لله، أو ليس بخلق له، قال الحسين: فهو خلق الله. فرفسه إبراهيم وقال قم، أخزى الله من ينسبك إلى شئ من العلم والفهم، وانصرف محموما، وكان ذلك سبب علته التي مات فيها
Abu 'Abdullah Al-Husain bin Muhammad bin 'Abdullah An-Najjar. Dia adalah tukang tenun di gudang milik Al-'Abbas bin Muhammad Al-Hasyimi, dan tokoh kenamaan Al-Mujbirah dan mutakallimin("para ahli dialektika")-nya. Dikatakan bahwa dia sering angkat beban, salah seorang penduduk Qumm, dan jika dia berbicara maka suaranya mirip seperti suara kelelawar. Dia memiliki ketajaman kalam, dan dia terbiasa bergabung dalam majlis An-Nazham dan berdebat dengan mereka. Sebab kematian Al-Husain An-Najjar adalah bahwasanya saat itu dia sedang berada di rumah Ibrahim An-Nazham. Setelah Al-Husain mengucap salam, Ibrahim berkata kepadanya: "Duduklah, sehingga aku bisa mengobrol denganmu". Setelah dia duduk, Ibrahim bertanya: "Apakah layak bagimu untuk menjelaskan tentang ciptaan Allah?". Al-Husain menjawab: "Layak bagiku untuk menjelaskan semua ciptaan Allah, yang berarti datang dari Allah". Ibrahim berkata: "Terhadap ciptaan Allah, maksudnya [semuanya] ciptaan Allah, atau ada sesuatu yang tidak diciptakan-Nya?". Al-Husain menjawab: "Ciptaan Allah". Ibrahim berkata: "Jika menurutmu semua yang datang dari Allah adalah ciptaan Allah, maka mengapa menurutmu ada yang bukan ciptaan Allah?". Al-Husain berkata: "Aku tidak mengatakan segalanya ciptaan Allah, tapi aku mengatakan semua yang telah diciptakan Allah adalah [berarti] datang dari-Nya". Ibrahim berkata: "[Aku ulangi], terhadap ciptaan Allah, maksudnya [semuanya] ciptaan Allah, atau ada sesuatu yang tidak diciptakan-Nya?". Al-Husain menjawab: "Ciptaan Allah". Lantas Ibrahim menendang Al-Husain hingga tersungkur, dan berkata: "Berdirilah, Allah akan mengutuk siapapun orang yang berhubungan denganmu, dengan segala pengetahuan dan pemahamanmu!". Setelah [kejadian] itu, dia [Al-Husain] meriang, dan karena itu dia jatuh sakit hingga meninggal".
Untuk memahami atestasi di atas, kita harus tahu dulu konteks yang sedang dibicarakan antara Al-Husain An-Najjar dengan Ibrahim An-Nazham. Ibrahim adalah seorang 'ulama Mu'tazilah. Bagi yang belum mengetahui, secara garis besar, sekte Mu'tazilah adalah sekte yang meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluq (ciptaan Allah). Karena Al-Qur'an sebagai makhluq, maka kedudukan Al-Qur'an itu sederajat dengan manusia. Sekte Mu'tazilah memang dikenal memiliki banyak ahli kalam, logika, dan filsafat. Sekte ini pada masa itu adalah sekte yang mayoritas di 'Abbasiyyah. Bahkan, khalifah Al-Ma'mun menetapkan Mu'tazilah sebagai sekte resmi negara melalui kebijakan inkuisisi yang disebut Mihnah yang mewajibkan seluruh pegawai berikrar bahwa Al-Qur'an adalah makhluq (Imam Ahmad bin Hanbal yang tadinya adalah faqih dari kalangan Ahlul-Hadits harus dipenjara karena menolak berikrar). Perdebatan perihal kedudukan Al-Qur'an sebagai makhluq (Mu'tazilah) VS bukan makhluq (Non-Mu'tazilah) adalah polemik yang sangat hangat di masa itu. Mereka yang menolak kedudukan Al-Qur'an sebagai makhluq biasanya menyatakan bahwa hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an sendiri, bahwa "firman Allah" (kalamullah) adalah salah satu sifat Allah. Karena sifat, maka firman tidak terpisah dan mengikat terhadap yang berfirman, sehingga firman bukanlah ciptaan.
Nah, pada atestasi Ibnu Nadim di atas, Al-Husain An-Najjar adalah 'ulama dari sekte "Al-Mujbirah" yang paling menonjol, dan dia memberikan jawaban kepada Ibrahim sebuah jawaban yang tegas namun terlihat membingungkan. Di satu sisi, dia mengatakan bahwa semua ciptaan Allah itu datang dari Allah. Namun di sisi lain, dia mengatakan bahwa segala yang datang dari Allah belum tentu diciptakan Allah. Hal ini terlihat membingungkan karena kita belum memahami konteksnya. Dalam hal ini, Al-Husain An-Najjar membantah argumen Ibrahim (Mu'tazilah) bahwa semuanya adalah ciptaan Allah, karena ada yang datang dari Allah tapi bukan sebagai ciptaan Allah, yaitu wahyu Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Husain adalah non-Mu'tazilah, dan sekte "Al-Mujbirah" bukanlah sekte Mu'tazilah. Namun, pertanyaan kemudian timbul, apakah semua sekte yang non-Mu'tazilah berarti adalah Ahlus-Sunnah Asy'ariyyah? Tentu saja tidak. Yang menolak ajaran Mu'tazilah tidak hanya dari kalangan Asy'ariyyah, namun juga Syi'ah, bahkan juga Kristen. Misalnya, uskup Tawadrus Abu Qurrah (uskup Kristen sekte Melkites dari Harran) pernah berdebat melawan khalifah Al-Ma'mun tentang kedudukan firman Allah, dan menyatakan bahwa firman Allah bukanlah ciptaan Allah. Lantas, apakah kita ingin mengatakan bahwa Kristen Melkites adalah Ahlus-Sunnah Asy'ariyyah? Tentu saja tidak, bukan?
Satu hal yang pasti bahwa Ibnu Nadim tidak menjelaskan apa yang diajarkan sekte "Al-Mujbirah". Dia hanya menyebutkan beberapa nama 'ulama dari sekte "Al-Mujbirah", nama-nama kitab mereka, dan beberapa riwayat yang berhubungan tentang 'ulama-'ulama mereka. Tidak ada indikasi bahwa Ibnu Nadim berusaha menyebut sekte "Al-Mujbirah" untuk merujuk sekte Asy'ariyyah. Satu-satunya yang mengindikasikan bahwa "Al-Mujbirah" adalah Asy'ariyyah, adalah semata-mata karena Ibnu Nadim menempatkan nama Abu Al-Hasan Al-Asy'ari (w. 324 Hijriyyah / 936, pendiri Asy'ariyyah) ke dalam deretan nama-nama 'ulama "Al-Mujbirah". Dalam Al-Fihrist Hal. 257 (masih dalam bab tentang sekte "Al-Mujbirah"), Ibnu Nadim menulis sbb:
(ابن أبي بشر)
وهو أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر الأشعري من أهل البصرة. وكان أولا معتزليا، ثم تاب من القول بالعدل وخلق القرآن، في المسجد الجامع بالبصرة في يوم الجمعة رقى كرسيا ونادى بأعلى صوته، من عرفني فقد عرفني: ومن لم يعرفني فانا أعرفه نفسي، انا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرآن. وان الله لا يرى بالابصار. وان أفعال الشر انا أفعلها. وانا تائب مقلع معتقد للرد على المعتزلة، مخرج لفضائحهم ومعايبهم. وكان فيه دعابة ومزح كبير ....
Ibnu Abi Bisyir
Dia bernama lengkap Abul-Hasan 'Ali bin Isma'il bin Abu Bisyir Al-Asy'ari, berasal dari kalangan ahlul-Bashrah. Pada mulanya, dia adalah seorang Mu'tazili, kemudian bertobat dari qaul[doktrin] 'adl dan terciptakannya Al-Qur'an. Ketika dia berada di masjid Al-Jami' ("perkumpulan") di Bashrah pada hari jumat, dia bangkit dari kursinya dan berpidato dengan suara lantang dari pangkal paru-parunya: "Siapapun yang mengenalku, maka dia telah mengenalku. Siapapun yang tidak mengenalku, maka baginya aku perkenalkan diriku. Aku adalah fulan bin fulan yang dulu mengatakan Al-Qur'an adalah ciptaan dan Allah tidak akan pernah bisa dilihat [oleh mata kepala sendiri]. Dan jika ada orang yang bersalah, maka akulah yang bersalah. Dan aku sekarang di hadapan kalian bertobat dan menyangkal Mu'tazilah, membantah semua kekeliruan dan aib mereka yang sangat memalukan".
Nah, inilah sebabnya mengapa Ibnu Hajar menduga bahwa "Al-Mujbirah" itu adalah Al-Asy'ariyyah, karena pendirinya dikelompokkan oleh Ibnu Nadim ke dalam kelompok "Al-Mujbirah". Lantas, bagaimana menyikapi hal ini?
Perlu diketahui bahwa Abul-Hasan Al-Asy'ari memang sebelumnya adalah seorang Mu'tazili. Dia berguru kepada seorang 'ulama Mu'tazilah yang bernama Abu 'Ali Al-Jubba'i (w. 303 Hijriyyah / 915). Dia kemudian bertobat dan mulai menulis berbagai kitab/traktat yang menyanggah ajaran Mu'tazilah sekaligus merumuskan 'aqidah Ahlus-Sunnah menjadi sebuah kanon teologi yang sampai sekarang menjadi teologi yang paling banyak dianut oleh Sunni. Namun, tentu saja ketika Ibnu Nadim menulis tentang Asy'ari, dia memperoleh informasi tsb sebelum Al-Asy'ari mendirikan sekolah/majlis kalam-nya yang sekarang dikenal Asy'ariyyah ini.
Bersambung ke (3)
DUGAAN IBNU NADIM SEBAGAI SYI'AH OLEH IBNU HAJAR
Di atas, kita telah mengetahui bahwa para 'ulama salaf menilai seseorang dari kemampuannya. Jika demikian, masih pentingkah mempertanyakan keyakinan Ibnu Nadim? Daripada mempertanyakan itu, sebaliknya, mari kita kritisi dugaan bahwa dia adalah Syi'ah. Biasanya, mereka yang menyebut Ibnu Nadim sebagai Syi'ah akan menyebut pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 Hijriyyah / 1449). Dan saya yakin, mereka sendiri tidak pernah membaca kitab Ibnu Hajar, sehingga mereka tidak tahu bahwa ternyata Ibnu Hajar sendiri pun menukil pendapat/komentar Ibnu Nadim dalam Al-Fihrist untuk menjelaskan berbagai tokoh perawi hadits dan perawi Al-Qur'an.
Ibnu Hajar dalam Lisanul-Mizan Vol. 5 No. 237, Ibnu Hajar menulis sbb:
محمد بن إسحاق بن محمد بن إسحاق النديم الوراق، مصنف كتاب فهرست العلماء، روى فيه عن أبي إسحاق السيرافي وأبي الفرج الأصبهاني، وروى بالإجازة من إسماعيل الصفار قال بن النجار: لا أعلم لاحد عنه رواية، وقال أبو طاهر الكرخي: مات في شعبان سنة ثمان وثلاثين، قلت: وهو غير موثوق به ومصنفه المذكور ينادي على من صنفه بالإعتزال والزيغ نسأل الله السلامة، وقد ذكر له الذهبي ترجمة في تاريخ الإسلام فيمن لم يعرف له وحده على رأس الأربع مائة فقال: محمد بن إسحاق بن النديم أبو الفرج الأخباري الأديب الشيعي المعتزلي ذكر انه صنف الفهرست سنة سبع وسبعين وثلاث مائة قال ولا أعلم متى توفي قلت ورأيت في الفهرست موضعا ذكر انه كتب في سنة اثنتي عشرة وأربع مائة فهذا يدل على تاخيره إلى ذلك الزمان ولما طالعت كتابه ظهر لي انه رافضي معتزلي فإنه يسمي أهل السنة الحشوية ويسمى الأشاعرة المجبرة ويسمي كل من لم يكن شيعيا عاميا وذكر في ترجمة الشافعي شيئا مختلقا ظاهر الإفتراء فمما في كتابه من الإفتراء ومن عجائبه انه وثق عبد المنعم بن إدريس والواقدي وإسحاق بن بشير وغيرهم من الكذابين وتكلم في محمد بن إسحاق وأبي إسحاق الفزاري وغيرهما من الثقات
Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Ishaq An-Nadim Al-Warraq, penulis kitab Fihristul-'Ulama. Dia guru bagi Abu Ishaq As-Sirafidan Abul-Faraj Al-Ashbahani. Dia berguru dan mendapat ijazah dari Isma'il Ash-Shafar. Ibnu Najjar berkata: "Aku tidak tahu riwayat apapun tentang dia". Abu Thahir Al-Kurkhi berkata: "Dia wafat di bulan Sya'ban pada tahun tiga ratus delapan puluh [Hijriyyah]". Aku mengatakan: "Dia selain daripada tsiqah, dan [kitab] tulisannya tersebut adalah dari kalangan penulis Mu'tazilah, semoga Allah mengampuninya". Adz-Dzahabi menyebutkan dalam [kitab] Tarikhul-Islam bahwa tidak ada yang mengenalnya di atas tahun empat ratus [Hijriyyah], lantas berkata: "Muhammad bin Ishaq bin Nadim, seorang Akhbari, Adib, Syi'ah, dan Mu'tazilah". Disebutkan pula [oleh Dzahabi] bahwa dia mengumpulkan Fihrist dari tahun tujuh puluh tujuh sampai tahun tiga ratus [Hijriyyah], dan berkata: "Aku tidak tahu kapan dia wafat". Aku mengatakan: "Aku melihat di dalam Fihrist sebuah bagian yang menyatakan bahwa dia ditulis pada tahun empat ratus dua belas [Hijriyyah]. Ini menandakan ada perbedaan waktu. Dan ketika aku membacanya, yang tampak padaku adalah tulisan seorang Rafidhi Mu'tazili. Dia menyebut Ahlus-Sunnah sebagai "Al-Hasyawiyyah", dia menyebut Asya'irah sebagai "Al-Mujbirah", dan menyebut orang-orang selain Syi'ah sebagai "kalangan umum". Dan dia menyebutkan riwayat hidup [Imam] Syafi'i adalah fitnah lahiriah dan fitnah yang dibuat-buat dari apa yang ada di dalam kitabnya [Imam Syafi'i]. Sementara di bidang Aja'ib (supranatural), dia men-tsiqah-kan 'Abdul-Mun'im bin Idris, Al-Waqidi, Ishaq bin Bisyir, dan lainnya dari kalangan pendusta. Namun dia juga ber-kalam pada Muhammad bin Ishaq, Abu Ishaq Al-Fazari, dan lainnya dari kalangan tsiqah.
Penjelasan Ibnu Hajar tentang Ibnu Nadim di atas memang terlihat sangat negatif. Namun, sebelum kita kupas satu per satu, kita harus menyadari beberapa fakta:
- Ibnu Hajar masih mendoakan semoga Ibnu Nadim diampuni Allah.
- Ibnu Hajar sendiri juga sering mengutip dari Fihrist Ibnu Nadim bila membahas suatu tokoh tertentu, selama itu bagi dia bisa dipercaya. Seperti misalnya dalam Lisanul-Mizan Vol. 3 No. 912, 1027, 1103, 1228, dan masih banyak lagi. Artinya, Ibnu Hajar tidak segan mengutip dari seseorang yang dia duga sebagai Syi'ah dan Mu'tazilah, selama itu memang dapat diandalkan menurut dia.
- Ibnu Hajar hanya mengutip 3 (tiga) pendapat 'ulama saja, di antaranya Ibnu Najjar yang tidak tahu apapun tentang Ibnu Nadim, Kurkhi yang hanya menyebutkan tahun wafatnya Ibnu Nadim, dan Dzahabi yang menyebutnya Syi'ah dan Mu'tazilah. Sisanya adalah analisis/penafsiran Ibnu Hajar sendiri terhadap tulisan Ibnu Nadim sehingga dia memiliki pendapat yang senada dengan Dzahabi.
Setelah memahami ketiga fakta di atas, maka sekarang kita kupas pendapat Ibnu Hajar saja. Di atas, Ibnu Hajar mengklaim bahwa Ibnu Nadim menyebut "Al-Hasyawiyyah" terhadap Ahlus-Sunnah, dan "Al-Mujbirah" terhadap Asy'ariyyah. Yang perlu kita lakukan hanyalah membaca kembali kitab Fihrist, bab tentang "Al-Hasyawiyyah" dan "Al-Mujbirah". Dalam Al-Fihrist Hal. 254, Ibnu Nadim mengawali bab ini tentang seorang 'ulama sekte "Al-Mujbirah" sbb:
أبو عبد الله الحسين بن محمد بن عبد الله النجار، وكان حايكا في طراز العباس بن محمد الهاشمي، من جلة المجبرة ومتكلميهم، وقد قيل إنه كان يعمل الموازين، من أهل قم، وإذا تكلم كان كلامه صوت الخفاش، وكان من الناظرين. وله مع النظام مجالس ومناظرات، والسبب في موت الحسين النجار، انه اجتمع مع إبراهيم النظام عند بعض اخوانه، فسلم الحسين، فقال له إبراهيم: تجلس حتى أكلمك فجلس، فقال له إبراهيم: يجوز ان تفعل خلق الله. فقال الحسين: يجوز ان افعل الذي هو خلق الله. قال إبراهيم: فالذي هو خلق الله، خلق الله، أو ليس بخلق له. قال الحسين: هو خلق الله. قال إبراهيم: فقد فعلت خلق الله، فلم لا يجوز ان تخلق خلق الله، كما جاز ان تفعل خلق الله. قال حسين: لم افعل خلق الله، وانما فعلت الذي هو خلق الله. قال إبراهيم: والذي هو خلق الله خلق لله، أو ليس بخلق له، قال الحسين: فهو خلق الله. فرفسه إبراهيم وقال قم، أخزى الله من ينسبك إلى شئ من العلم والفهم، وانصرف محموما، وكان ذلك سبب علته التي مات فيها
Abu 'Abdullah Al-Husain bin Muhammad bin 'Abdullah An-Najjar. Dia adalah tukang tenun di gudang milik Al-'Abbas bin Muhammad Al-Hasyimi, dan tokoh kenamaan Al-Mujbirah dan mutakallimin("para ahli dialektika")-nya. Dikatakan bahwa dia sering angkat beban, salah seorang penduduk Qumm, dan jika dia berbicara maka suaranya mirip seperti suara kelelawar. Dia memiliki ketajaman kalam, dan dia terbiasa bergabung dalam majlis An-Nazham dan berdebat dengan mereka. Sebab kematian Al-Husain An-Najjar adalah bahwasanya saat itu dia sedang berada di rumah Ibrahim An-Nazham. Setelah Al-Husain mengucap salam, Ibrahim berkata kepadanya: "Duduklah, sehingga aku bisa mengobrol denganmu". Setelah dia duduk, Ibrahim bertanya: "Apakah layak bagimu untuk menjelaskan tentang ciptaan Allah?". Al-Husain menjawab: "Layak bagiku untuk menjelaskan semua ciptaan Allah, yang berarti datang dari Allah". Ibrahim berkata: "Terhadap ciptaan Allah, maksudnya [semuanya] ciptaan Allah, atau ada sesuatu yang tidak diciptakan-Nya?". Al-Husain menjawab: "Ciptaan Allah". Ibrahim berkata: "Jika menurutmu semua yang datang dari Allah adalah ciptaan Allah, maka mengapa menurutmu ada yang bukan ciptaan Allah?". Al-Husain berkata: "Aku tidak mengatakan segalanya ciptaan Allah, tapi aku mengatakan semua yang telah diciptakan Allah adalah [berarti] datang dari-Nya". Ibrahim berkata: "[Aku ulangi], terhadap ciptaan Allah, maksudnya [semuanya] ciptaan Allah, atau ada sesuatu yang tidak diciptakan-Nya?". Al-Husain menjawab: "Ciptaan Allah". Lantas Ibrahim menendang Al-Husain hingga tersungkur, dan berkata: "Berdirilah, Allah akan mengutuk siapapun orang yang berhubungan denganmu, dengan segala pengetahuan dan pemahamanmu!". Setelah [kejadian] itu, dia [Al-Husain] meriang, dan karena itu dia jatuh sakit hingga meninggal".
Untuk memahami atestasi di atas, kita harus tahu dulu konteks yang sedang dibicarakan antara Al-Husain An-Najjar dengan Ibrahim An-Nazham. Ibrahim adalah seorang 'ulama Mu'tazilah. Bagi yang belum mengetahui, secara garis besar, sekte Mu'tazilah adalah sekte yang meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluq (ciptaan Allah). Karena Al-Qur'an sebagai makhluq, maka kedudukan Al-Qur'an itu sederajat dengan manusia. Sekte Mu'tazilah memang dikenal memiliki banyak ahli kalam, logika, dan filsafat. Sekte ini pada masa itu adalah sekte yang mayoritas di 'Abbasiyyah. Bahkan, khalifah Al-Ma'mun menetapkan Mu'tazilah sebagai sekte resmi negara melalui kebijakan inkuisisi yang disebut Mihnah yang mewajibkan seluruh pegawai berikrar bahwa Al-Qur'an adalah makhluq (Imam Ahmad bin Hanbal yang tadinya adalah faqih dari kalangan Ahlul-Hadits harus dipenjara karena menolak berikrar). Perdebatan perihal kedudukan Al-Qur'an sebagai makhluq (Mu'tazilah) VS bukan makhluq (Non-Mu'tazilah) adalah polemik yang sangat hangat di masa itu. Mereka yang menolak kedudukan Al-Qur'an sebagai makhluq biasanya menyatakan bahwa hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an sendiri, bahwa "firman Allah" (kalamullah) adalah salah satu sifat Allah. Karena sifat, maka firman tidak terpisah dan mengikat terhadap yang berfirman, sehingga firman bukanlah ciptaan.
Nah, pada atestasi Ibnu Nadim di atas, Al-Husain An-Najjar adalah 'ulama dari sekte "Al-Mujbirah" yang paling menonjol, dan dia memberikan jawaban kepada Ibrahim sebuah jawaban yang tegas namun terlihat membingungkan. Di satu sisi, dia mengatakan bahwa semua ciptaan Allah itu datang dari Allah. Namun di sisi lain, dia mengatakan bahwa segala yang datang dari Allah belum tentu diciptakan Allah. Hal ini terlihat membingungkan karena kita belum memahami konteksnya. Dalam hal ini, Al-Husain An-Najjar membantah argumen Ibrahim (Mu'tazilah) bahwa semuanya adalah ciptaan Allah, karena ada yang datang dari Allah tapi bukan sebagai ciptaan Allah, yaitu wahyu Al-Qur'an. Dengan demikian, Al-Husain adalah non-Mu'tazilah, dan sekte "Al-Mujbirah" bukanlah sekte Mu'tazilah. Namun, pertanyaan kemudian timbul, apakah semua sekte yang non-Mu'tazilah berarti adalah Ahlus-Sunnah Asy'ariyyah? Tentu saja tidak. Yang menolak ajaran Mu'tazilah tidak hanya dari kalangan Asy'ariyyah, namun juga Syi'ah, bahkan juga Kristen. Misalnya, uskup Tawadrus Abu Qurrah (uskup Kristen sekte Melkites dari Harran) pernah berdebat melawan khalifah Al-Ma'mun tentang kedudukan firman Allah, dan menyatakan bahwa firman Allah bukanlah ciptaan Allah. Lantas, apakah kita ingin mengatakan bahwa Kristen Melkites adalah Ahlus-Sunnah Asy'ariyyah? Tentu saja tidak, bukan?
Satu hal yang pasti bahwa Ibnu Nadim tidak menjelaskan apa yang diajarkan sekte "Al-Mujbirah". Dia hanya menyebutkan beberapa nama 'ulama dari sekte "Al-Mujbirah", nama-nama kitab mereka, dan beberapa riwayat yang berhubungan tentang 'ulama-'ulama mereka. Tidak ada indikasi bahwa Ibnu Nadim berusaha menyebut sekte "Al-Mujbirah" untuk merujuk sekte Asy'ariyyah. Satu-satunya yang mengindikasikan bahwa "Al-Mujbirah" adalah Asy'ariyyah, adalah semata-mata karena Ibnu Nadim menempatkan nama Abu Al-Hasan Al-Asy'ari (w. 324 Hijriyyah / 936, pendiri Asy'ariyyah) ke dalam deretan nama-nama 'ulama "Al-Mujbirah". Dalam Al-Fihrist Hal. 257 (masih dalam bab tentang sekte "Al-Mujbirah"), Ibnu Nadim menulis sbb:
(ابن أبي بشر)
وهو أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر الأشعري من أهل البصرة. وكان أولا معتزليا، ثم تاب من القول بالعدل وخلق القرآن، في المسجد الجامع بالبصرة في يوم الجمعة رقى كرسيا ونادى بأعلى صوته، من عرفني فقد عرفني: ومن لم يعرفني فانا أعرفه نفسي، انا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرآن. وان الله لا يرى بالابصار. وان أفعال الشر انا أفعلها. وانا تائب مقلع معتقد للرد على المعتزلة، مخرج لفضائحهم ومعايبهم. وكان فيه دعابة ومزح كبير ....
Ibnu Abi Bisyir
Dia bernama lengkap Abul-Hasan 'Ali bin Isma'il bin Abu Bisyir Al-Asy'ari, berasal dari kalangan ahlul-Bashrah. Pada mulanya, dia adalah seorang Mu'tazili, kemudian bertobat dari qaul[doktrin] 'adl dan terciptakannya Al-Qur'an. Ketika dia berada di masjid Al-Jami' ("perkumpulan") di Bashrah pada hari jumat, dia bangkit dari kursinya dan berpidato dengan suara lantang dari pangkal paru-parunya: "Siapapun yang mengenalku, maka dia telah mengenalku. Siapapun yang tidak mengenalku, maka baginya aku perkenalkan diriku. Aku adalah fulan bin fulan yang dulu mengatakan Al-Qur'an adalah ciptaan dan Allah tidak akan pernah bisa dilihat [oleh mata kepala sendiri]. Dan jika ada orang yang bersalah, maka akulah yang bersalah. Dan aku sekarang di hadapan kalian bertobat dan menyangkal Mu'tazilah, membantah semua kekeliruan dan aib mereka yang sangat memalukan".
Nah, inilah sebabnya mengapa Ibnu Hajar menduga bahwa "Al-Mujbirah" itu adalah Al-Asy'ariyyah, karena pendirinya dikelompokkan oleh Ibnu Nadim ke dalam kelompok "Al-Mujbirah". Lantas, bagaimana menyikapi hal ini?
Perlu diketahui bahwa Abul-Hasan Al-Asy'ari memang sebelumnya adalah seorang Mu'tazili. Dia berguru kepada seorang 'ulama Mu'tazilah yang bernama Abu 'Ali Al-Jubba'i (w. 303 Hijriyyah / 915). Dia kemudian bertobat dan mulai menulis berbagai kitab/traktat yang menyanggah ajaran Mu'tazilah sekaligus merumuskan 'aqidah Ahlus-Sunnah menjadi sebuah kanon teologi yang sampai sekarang menjadi teologi yang paling banyak dianut oleh Sunni. Namun, tentu saja ketika Ibnu Nadim menulis tentang Asy'ari, dia memperoleh informasi tsb sebelum Al-Asy'ari mendirikan sekolah/majlis kalam-nya yang sekarang dikenal Asy'ariyyah ini.
Bersambung ke (3)
Diubah oleh tyrodinthor 19-04-2021 22:48
diknab memberi reputasi
1