- Beranda
- Sejarah & Xenology
Ketika Ibnu Nadim Menjelaskan Tentang Yahudi, Kristen, Hindu, dan Buddha
...
TS
tyrodinthor
Ketika Ibnu Nadim Menjelaskan Tentang Yahudi, Kristen, Hindu, dan Buddha

Jika kita sering bergaul dengan kitab-kitab Arab klasik, kita akan menjumpai kekayaan khazanah literatur berbahasa Arab sejak abad ke-7 sampai 9. Dan biasanya, saya pun akan merujuk kitab Al-Fihristyang ditulis oleh Ibnu Nadim (w. 385 Hijriyyah / 995) untuk menelusuri berbagai kitab Arab klasik yang beredar sejak abad ke-7 sampai 9, baik itu kitab-kitabnya para 'ulama salaf Muslim, hingga kitab-kitabnya para rabi Yahudi generasi Ge'onim. Sebagai suatu kitab bibliografi berbentuk katalog ensiklopedia, kitab yang berjudul asli Al-Fihristul-'Ulum ("Katalog Ilmu-ilmu") merangkum banyak nama-nama tokoh-tokoh penting dari berbagai madzhab dan firqah selain daripada ilmu-ilmu sekuler. Namun tidak hanya sebagai katalog, tapi juga deskripsi ringkas tentang suatu madzhab dan firqah yang waktu itu sangat banyak dan beragam.
Di masa sekarang, apabila kita mendengar kata madzhab, maka akan selalu merujuk pada berbagai metode/sekolah fiqh Islam. Sedangkan untuk kata firqah, maka akan selalu merujuk pada sekte-sekte 'aqidah dan kalam Islam. Namun sebenarnya, pada masa ketika madzhab dan firqah itu sedang berkembang, kedua kata ini senantiasa merujuk suatu kelompok khusus dalam skala luas. Misalnya, untuk kata madzhab, kata ini juga merujuk pada "agama" lain. Sedangkan kata firqah, kata ini merujuk pada "sekte-sekte" dalam berbagai agama. Para 'ulama di masa itu tidak mempersempit makna din untuk sebatas "agama". Demikian juga Ibnu Nadim. Sebagai seorang 'alim (jamak: 'ulama), yang seharusnya diartikan sebagai "ilmuwan" daripada sebagai "ahli agama Islam", Ibnu Nadim dengan cermat mencatat segala macam nama-nama tokoh besar dari berbagai agama dan sekte-sektenya sejak abad ke-7 sampai 9 di masa hidupnya, dengan menggunakan kata madzhab dan firqah, serta nama-nama kitab yang mereka tulis.
Dari banyak madzhab dan firqah itu, saya tertarik membahas yang paling dikenal saja sampai saat ini, yaitu Yahudi, Kekristenan, dan Buddhisme. Ibnu Nadim menulis deskripsi yang singkat namun padat tentang ketiga agama ini, disertai tokoh-tokoh dan kitab-kitabnya, yang saat itu memang berada dalam lingkungan intelektual yang sama dengan ummat Muslim. Pada thread ini, saya akan menerjemahkan bagian-bagian itu dalam kitab ini per paragraf, dengan harapan agar membuka cakrawala berpikir kita tentang zaman yang digadang-gadang sebagai Islamic Golden Age, sebagai suatu zaman yang terbuka, beragam, dan berpikir bebas, tanpa tendensi keimanan atau keagamaan tertentu.
Sebagai pembuka, kita perlu mengenal sedikit tentang Ibnu Nadim dan kitab Al-Fihrist-nya. Dia adalah seorang cendikiawan Baghdad di masa 'Abbasiyyah, dengan nama asli Muhammad bin Ishaq, kun'yah-nya Abu Ya'qub, laqab-nya "Al-Warraq" (Tinta), dan masyhur disebut Ibnu Nadim. Setidaknya ada 2 (dua) 'ulama di abad pertengahan (yaitu Dzahabi dan Ibnu Hajar) yang menduga dia menganut Syi'ah dalam hal 'aqidah, sementara juga menganut Mu'tazilah dalam hal kalam. Dalam hal ini, saya akan membahas bantahan khusus tentang ini dilandasi oleh berbagai analisis linguistik dan kesejarahan dari banyak tarajim yang beredar tentang dia:
Yang perlu ditegaskan adalah, bahwa Ibnu Nadim tidak memiliki tendensi keimanan ketika menulis kitab ini (yang akan kita buktikan bersama dari catatan dia tentang madzhab dan firqah yang ada (dan yang pernah ada) di sekitar dia. Artinya, kitab Al-Fihrist terbebas dari bias iman. Kitab Al-Fihrist semata-mata merupakan usaha kecendikiaan yang dilakukan Ibnu Nadim untuk membuat suatu ensiklopedia, atau buku pintar, yang bertujuan melestarikan berbagai kebudayaan yang ada di masa hidupnya sepengetahuannya. Dengan kinerja intelektual luar biasa, Ibnu Nadim dapat merangkum berbagai informasi dengan sangat akurat. Dia pun menyebutkan tokoh-tokoh 'ulama salaf dengan menggunakan tarajim dan manaqib, juga menggunakan hadits-hadits Sunni. Yang perlu diperhatikan bahwa dia tidak ingin mengambil sumber dari yang berlawanan. Maksudnya, ketika dia menjelaskan tentang Yahudi (seperti yang akan kita ulas bersama di bawah), dia menukilnya dari tokoh Yahudi langsung. Demikian juga ketika dia merangkum ilmu-ilmu hadits (yang maksudnya adalah hadits-hadits Sunni), dia juga menukilnya dari para muhadditsin Sunni. Lebih spesial lagi, kitab Al-Fihrist ini tidak hanya merangkum berbagai sekte, namun juga ilmu-ilmu lain. Ibnu Nadim sendiri menulis judulnya Al-Fihristul-'Ulum ("Katalog ilmu-ilmu"), dimana sudah barang tentu di dalamnya terdapat ensiklopedia tentang ilmu gramatika Arab (nahwu), logika, filsafat, matematika, fisika dan pengobatan, biologi, astronomi, arsitektur, dan beberapa ilmu-ilmu yang sekarang sudah tergolong pseudosains seperti astrologi (an-nujum), alkemi (al-kimya), dan supranatural (al-'ajib).
Oleh sebab itu, selain thread ini ditulis dalam rangka edukasi dan pencerahan, namun juga thread ini saya persembahkan khusus bagi seluruh pecinta sejarah, kebudayaan, dan peradaban manusia. Semoga dapat berkontribusi dalam pengembangan wawasan dan wacana toleransi antar umat beragama.
Selamat membaca!
INDEX
Tentang Yahudi (1)
Tentang Yahudi (2)
Tentang Kekristenan
Tentang Sekte-sekte Kristen dan Gnostik (1)
Tentang Sekte-sekte Kristen dan Gnostik (2)
Tentang India (1)
Tentang India (2)
Tentang India (3)
Tentang Buddhisme dan Sang Buddha
Diubah oleh tyrodinthor 20-04-2021 21:41
starcrazy dan 62 lainnya memberi reputasi
63
15.4K
197
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#73
APA SEKTENYA IBNU NADIM? (1)
Pada dasarnya, baik yang mengatakan Ibnu Nadim itu Syi'ah, maupun Sunni, adalah dugaan. Kita tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti iman seseorang. Namun, bagaimana teknik dan analisis sejarah dalam mempelajari keyakinan seseorang? Dan bagaimana sejarahwan menilai apa yang diyakini oleh Ibnu Nadim? Sebelum menjawab itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa Ibnu Nadim hidup di zaman akhir generasi salaf / salafush-shalih. Maka, yang harus kita ketahui adalah bagaimana sebenarnya kultur intelektual para 'ulama salaf.
KETERBUKAAN
Banyak di kalangan Muslim awam sendiri, yang mengaku ingin mengikuti 'ulama salaf, tapi tidak mengerti bagaimana tradisi keilmuan salaf. Sadar tidak sadar, sebenarnya generasi salaf bukanlah generasi yang fundamentalis, melainkan justru sebaliknya, generasi mereka itu pluralis. Pada masa itu, sudah biasa jika seseorang menganut Syi'ah, tapi berguru kepada seorang Imam Sunni. Begitu pula sebaliknya, seorang Sunni berguru kepada seorang Imam Syi'ah, itu sudah biasa.
Sebagai contoh, kita akan mundur ke zaman thabaqah ke-3 (Tabi'in senior / kibarut-tabi'in). Terdapat seorang Tabi'in senior dari thabaqah ke-3 yang sangat terkenal bernama Imam Abu Ishaq As-Sabi'i (w. 129 Hijriyyah / 746) di Kufah. Dia seorang perawi hadits terkenal yang memperoleh predikat (rathibah) tsiqah (terpercaya), dan salah seorang Tabi'in yang sangat dihormati di kalangan Sunni. Dia juga diketahui membangun dan memimpin sebuah lembaga otoritas pengawasan periwayatan hadits yang disebut sebagai ru'us muhadditsil-Kufah (رؤس محدثي الكوفة), yang secara harfiah artinya "ra'is / kepala otoritas muhaddits di Kufah" (lihat Tahdzibut-Tahdzib Vol. 8 Hal. 66). Dia diketahui juga membangun masjid sendiri dan mengajar di sana. Dan di sinilah yang menarik, bahwa ternyata, imam di masjid Abu Ishaq adalah seorang penganut Syi'ah, ber-'aqidah Mu'tazilah, dan ber-madzhab Hanafi, namanya 'Umar bin Ibrahim Al-'Alawi. Pada Lisanul-Mizan Vol. 6 Hal. 62 (No. 5574) diterangkan sbb:
عمر بن إبراهيم العلوي الزيدي الكوفي الحنفي الشيعي المعتزلي، إمام / مسجد أبي إسحاق السبيعي
"Umar bin Ibrahim Al-'Alawi Az-Zaidi Al-Kufi, seorang Hanafi, Syi'ah, dan Mu'tazilah, dia imam masjid Abu Ishaq As-Sabi'i"
Heran bukan? Tentu saja heran, karena kita menganggap sangat mustahil seorang Syi'ah menjadi imam di masjidnya Sunni, apalagi seorang Syi'ah menganut madzhab fiqhHanafi (Sunni). Keheranan ini dapat dimengerti, karena banyak dari ummat Muslim yang tidak mengerti sejarah agamanya sendiri, dan terjebak dalam pola pikir sektarian yang tertutup.
Lebih menarik lagi, bahwa Imam Abu Ishaq As-Sabi'i tidak hanya dihormati dan dianggap tsiqah oleh Sunni, tapi juga oleh Syi'ah. Kita dapat dengan mudah menemukan nama Abu Ishaq As-Sabi'i tidak hanya di kitab-kitab hadits Sunni, tapi juga kitab-kitab hadits Syi'ah. Misalnya, Ibnu Babawaih (seorang mukharrij / penulis hadits Syi'ah) juga menulis hadits Syi'ah dalam Al-'Amali Hal. 505 (Ibnu Babawaih No. 696) dimana terdapat nama Abu Ishaq As-Sabi'i. Selengkapnya sbb:
حدثنا أحمد بن محمد بن يحيى العطار (رحمه الله)، قال: حدثنا أبي، عن يعقوب بن يزيد، عن زياد بن مروان القندي، عن أبي وكيع، عن أبي إسحاق السبيعي، عن الحارث الأعور، عن علي (عليه السلام)، قال: لا يصلح من الكذب جد ولا هزل ...
"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Yahya Al-'Atharr.a.h., dia berkata: "Telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Ya'qub bin Yazid, dari Ziyad bin Marwan Al-Qandi, dari Abu Waki', dari Abu Ishaq As-Sabi'i, dari Al-Harits Al-Aur, dari 'Ali 'alaihis-salam, beliau berkata: "Tidak pantas seorang berdusta, baik ketika serius maupun bercanda ....".
Semua rijal (perawi hadits) dalam isnad hadits Syi'ah di atas adalah para 'ulama Syi'ah, kecuali Abu Ishaq As-Sabi'i.
Tentu saja tidak hanya Abu Ishaq As-Sabi'i, banyak sekali para 'ulama Sunni yang memiliki murid dari kalangan Syi'ah dan Mu'tazilah. Begitu juga sebaliknya, banyak juga para 'ulama Sunni yang berguru dengan Imam Syi'ah. Yang paling populer adalah Imam Abu Hanifah, Al-A'masy, Ibnu Juraij, dan bahkan, Abu Ishaq As-Sabi'i sendiri, juga berguru kepada Imam Al-Baqir (Imam ke-5 Syi'ah). Sebagai catatan, para 'ulama salaf tidak pernah berguru hanya kepada 1 (satu) guru, tapi puluhan hingga ratusan guru. Mereka tidak terjebak dalam pola pikir sektarian. Tidak peduli apakah orang itu Syi'ah atau Sunni, tapi selama orang itu tsiqah, maka para 'ulama salaf tidak segan akan menukil dari orang itu.
Selain itu, kita juga bahkan bisa dengan mudah menemukan beberapa perawi Syi'ah di dalam kitab Shahih Bukhari. Mereka di antaranya adalah 'Abbad bin Ya'qub (shaduq/jujur), 'Auf bin Abi Jamilah (tsiqah/terpercaya, padahal dia adalah seorang Syi'ah Rafidhah), 'Abdul-Malik bin A'yan (shaduq/jujur, dia seorang Syi'ah Ja'fari), 'Ubaidillah bin Musa (tsiqah), Aban bin Taghlib (tsiqah, dia juga seorang Syi'ah Rafidhah), dan masih banyak lagi. Kita bisa ambil contoh salah satunya, misalnya Aban bin Taghlib. Nama Aban dapat dengan mudah ditemukan di semua kitab kanon hadits Sunni, mulai dari Shahih Bukhari sampai Jami' Tirmidzi. Kita dapat menemui berbagai pendapat/komentar positif para 'ulama salaf tentang Aban bin Taghlib.
Aban bin Taghlib adalah seorang 'ulama Syi'ah yang berasal dari Kufah. Imam Dzahabi menulis dalam kitab rijal sanad-nya Siyar A'lamun-Nubala' Vol. 6 Hal. 308 sbb:
أبان بن تغلب، الإمام المقرىء أبو سعد وقيل أبو أمية الربعي الكوفي الشيعي
"Aban bin Taghlib, beliau adalah imam ahli Al-Qur'an, kun'yah-nya Abu Sa'id, dan kadang dipanggil Abu Umayyah Ar-Rabi', asal Kufah beraliran Syi'ah".
Pada kitab yang sama, kita juga menemui sejumlah Tabi'in junior yang berguru kepada Aban bin Taghlib, di antaranya adalah Syu'bah bin Al-Hajjajdan Sufyan bin 'Uyainah.
Meskipun kontroversial, tapi hampir semua 'ulama salaf memberikan komentar positif tentang Aban bin Taghlib. Misalnya dalam Tahdzibut-Tahdzib Vol. 1 No. 66, di situ dijelaskan bahwa Aban bin Taghlib adalah seorang Syi'ah Rafidhah, dikenal seorang yang gemar tasyayyu' (sikap menyanjung/memuja 'Ali bin Abi Thalib secara berlebihan), dan dikenal juga gemar ghulat/ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama). Tapi, di luar keyakinannya, dia memiliki pribadi yang sangat soleh, sangat jujur (shaduq), sangat terpercaya (tsiqah), dan hadits-haditsnya shahih. Jadi, ada dualisme reputasi yang ditampilkan Aban, reputasi sebagai seorang ulama Syi'ah yang tulen dan cekak, dan reputasi sebagai seorang yang sangat jujur dan terpercaya. Lantas bagaimana komentar para 'ulama salaf tsb? Imam Ahmad bin Hanbal berkomentar tentang Aban bin Taghlib sbb:
وقال العقيلي سمعت أبا عبد الله يذكر عنه عقلا وأدبا وصحة حديث إلا أنه كان غاليا في التشيع
"Al-'Uqaili berkata: "Aku mendengar Abu 'Abdullah [Ahmad bin Hanbal] menyebutkan hadits-hadits dia [Aban] itu masuk akal, bernilai, dan shahih, kecuali jika dia sudah mulai ghuluw dalam tasyayyu'".
Kita juga bisa menemukan komentar para 'ulama hadits Sunni lainnya di situ dengan nada yang sama:
وقال بن سعد كان ثقة وذكره بن حبان في الثقات وأرخ وفاته ومنه نقل ابن منجويه
"Ibnu Sa'adberkata: "Dia [Aban] tsiqah". Hadits-haditsnya disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya "Tsiqat", dan beliau [Ibnu Hibban] mencatat dengan rinci hingga beliau [Aban] wafat, hadits-haditsnya dinukil pula oleh Ibnu Manjuwaih".
catatan: Ibnu Manjuwaih adalah penulis kitab Rijal Shahih Muslim, kitab rijal sanad Shahih Muslim terbesar yang pernah dimiliki Sunni.
وقال الأزدي كان غاليا في التشيع وما أعلم به في الحديث بأسا
"Al-Azdiberkata: "Dia [Aban] dikenal sangat ghuluw dalam tasyayyu', tapi aku tidak menemukan satupun masalah terhadap haditsnya".
Imam Ibnu 'Adi Al-Jurjani punya sikap yang sangat bijaksana:
وقال بن عدي له نسخ عامتها مستقيمة إذا روى عنه ثقة وهو من أهل الصدق في الروايات وإن كان مذهبه مذهب الشيعة وهو في الرواية صالح لا بأس به قلت هذا قول منصف وأما الجوزجاني فلا عبرة بحطه على الكوفيين فالتشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلي الله عليه وسلم وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا لا سيما إن كان غير داعية وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة
"Ibnu 'Adi berkata: "Beliau [Aban] memiliki catatan langsung dari para perawi yang tsiqah, dan beliau termasuk golongan ahlush-shaduq (orang-orang yang jujur) dalam meriwayatkan sesuatu. Madzhab beliau adalah madzhab Syi'ah, dan beliau memiliki riwayat-riwayat yang saleh, tidak ada masalah dengan itu. Ini adalah pendapat yang adil. Adapun Al-Juzjani menyebut tidak ada 'ibrah (pelajaran) yang bisa dipetik dari penduduk Kufah yang gemar ber-tasyayyu' di kalangan mutaqaddimin (para ulama generasi awal), begitu juga kegemaran beliau menyanjung 'Ali di atas 'Utsman, beliau yakin 'Ali yang benar dalam perangnya [Jamal dan Shiffin], dan beliau berbeda pendapat dengan kedua guru beliau [Abu Ishaq dan Al-Hakam bin Utaibah] tentang kecondongannya [terhadap 'Ali]. Mungkin kebanyakan dari mereka [Syi'ah] percaya bahwa 'Ali adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah setelah Rasulullah SAW. Tapi, jika mereka berpegang pada riwayat-riwayat yang jujur dan lurus serta kokoh, maka jangan tolak riwayat-riwayat mereka, terutama jika itu bukan dalam rangka ber-tasyayyu' di kalangan muta'akhirin (para ulama generasi akhir di masa itu). Baginya kesesatannya, bagi kita kejujurannya. Mengingat beliau [Aban] adalah seorang Rafidhah tulen, maka jangan terima riwayat-riwayat para rafidhi yang mengandung ghuluw dan jangan diutamakan".
Bahkan, ada ahli hadits Syi'ah yang menulis sebuah kitab hadits yang sangat dipuji para 'ulama Sunni. meskipun bukan termasuk dalam kitab hadits kanon Sunni (Kutubus-Sittah), tapi kitab itu sangat dipuji di kalangan Sunni. Kitab hadits itu adalah kitab Al-Mushannafyang ditulis oleh 'Abdur-Razzaq Ash-Shan'ani, seorang 'ulama Syi'ah asal Shan'a, Yaman (kitab ini populer disebut Mushannaf 'Abdur-Razzaq). Dia dikenal akan kesolehannya, kejujurannya, keandalannya, dan kemampuan hapalannya, sehingga dia diberi predikat tsiqah. 'Abdur-Razzaq berguru kepada Ma'mar bin Rasyid Al-Azdi dari thabaqah ke-7 (Tabi'in junior), seorang perawi hadits Sunni yang sangat terkenal, yang juga salah seorang muridnya Qatadah bin Di'amah dan Ibnu Syihab Az-Zuhri. Kitab Mushannaf 'Abdur-Razzaq adalah kitab kedua tertua ummat Muslim setelah kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik, kira-kira hampir 100 tahun sebelum Imam Bukhari menulis kitab Shahih-nya.
Dari semua pembahasan di atas, kita memperoleh gambaran yang menarik, bahwa para 'ulama salaf menilai seseorang dari kemampuannya. Kadangkala memang keyakinan itu dipandang penting, terutama jika ybs telah membicarakan tentang teologi ataupun 'aqidah. Tapi, tradisi keilmuan mereka di atas mencerminkan keterbukaan berpikir. Sikap inklusif dan obyektif selalu dijunjung dalam menilai pemikiran, argumentasi, ataupun kemampuan seseorang. Sampai sini, kita telah memperoleh gambaran penting tentang tradisi intelektual generasi salaf.
Bersambung ke (2)
KETERBUKAAN
Banyak di kalangan Muslim awam sendiri, yang mengaku ingin mengikuti 'ulama salaf, tapi tidak mengerti bagaimana tradisi keilmuan salaf. Sadar tidak sadar, sebenarnya generasi salaf bukanlah generasi yang fundamentalis, melainkan justru sebaliknya, generasi mereka itu pluralis. Pada masa itu, sudah biasa jika seseorang menganut Syi'ah, tapi berguru kepada seorang Imam Sunni. Begitu pula sebaliknya, seorang Sunni berguru kepada seorang Imam Syi'ah, itu sudah biasa.
Sebagai contoh, kita akan mundur ke zaman thabaqah ke-3 (Tabi'in senior / kibarut-tabi'in). Terdapat seorang Tabi'in senior dari thabaqah ke-3 yang sangat terkenal bernama Imam Abu Ishaq As-Sabi'i (w. 129 Hijriyyah / 746) di Kufah. Dia seorang perawi hadits terkenal yang memperoleh predikat (rathibah) tsiqah (terpercaya), dan salah seorang Tabi'in yang sangat dihormati di kalangan Sunni. Dia juga diketahui membangun dan memimpin sebuah lembaga otoritas pengawasan periwayatan hadits yang disebut sebagai ru'us muhadditsil-Kufah (رؤس محدثي الكوفة), yang secara harfiah artinya "ra'is / kepala otoritas muhaddits di Kufah" (lihat Tahdzibut-Tahdzib Vol. 8 Hal. 66). Dia diketahui juga membangun masjid sendiri dan mengajar di sana. Dan di sinilah yang menarik, bahwa ternyata, imam di masjid Abu Ishaq adalah seorang penganut Syi'ah, ber-'aqidah Mu'tazilah, dan ber-madzhab Hanafi, namanya 'Umar bin Ibrahim Al-'Alawi. Pada Lisanul-Mizan Vol. 6 Hal. 62 (No. 5574) diterangkan sbb:
عمر بن إبراهيم العلوي الزيدي الكوفي الحنفي الشيعي المعتزلي، إمام / مسجد أبي إسحاق السبيعي
"Umar bin Ibrahim Al-'Alawi Az-Zaidi Al-Kufi, seorang Hanafi, Syi'ah, dan Mu'tazilah, dia imam masjid Abu Ishaq As-Sabi'i"
Heran bukan? Tentu saja heran, karena kita menganggap sangat mustahil seorang Syi'ah menjadi imam di masjidnya Sunni, apalagi seorang Syi'ah menganut madzhab fiqhHanafi (Sunni). Keheranan ini dapat dimengerti, karena banyak dari ummat Muslim yang tidak mengerti sejarah agamanya sendiri, dan terjebak dalam pola pikir sektarian yang tertutup.
Lebih menarik lagi, bahwa Imam Abu Ishaq As-Sabi'i tidak hanya dihormati dan dianggap tsiqah oleh Sunni, tapi juga oleh Syi'ah. Kita dapat dengan mudah menemukan nama Abu Ishaq As-Sabi'i tidak hanya di kitab-kitab hadits Sunni, tapi juga kitab-kitab hadits Syi'ah. Misalnya, Ibnu Babawaih (seorang mukharrij / penulis hadits Syi'ah) juga menulis hadits Syi'ah dalam Al-'Amali Hal. 505 (Ibnu Babawaih No. 696) dimana terdapat nama Abu Ishaq As-Sabi'i. Selengkapnya sbb:
حدثنا أحمد بن محمد بن يحيى العطار (رحمه الله)، قال: حدثنا أبي، عن يعقوب بن يزيد، عن زياد بن مروان القندي، عن أبي وكيع، عن أبي إسحاق السبيعي، عن الحارث الأعور، عن علي (عليه السلام)، قال: لا يصلح من الكذب جد ولا هزل ...
"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Yahya Al-'Atharr.a.h., dia berkata: "Telah menceritakan kepada kami bapakku, dari Ya'qub bin Yazid, dari Ziyad bin Marwan Al-Qandi, dari Abu Waki', dari Abu Ishaq As-Sabi'i, dari Al-Harits Al-Aur, dari 'Ali 'alaihis-salam, beliau berkata: "Tidak pantas seorang berdusta, baik ketika serius maupun bercanda ....".
Semua rijal (perawi hadits) dalam isnad hadits Syi'ah di atas adalah para 'ulama Syi'ah, kecuali Abu Ishaq As-Sabi'i.
Tentu saja tidak hanya Abu Ishaq As-Sabi'i, banyak sekali para 'ulama Sunni yang memiliki murid dari kalangan Syi'ah dan Mu'tazilah. Begitu juga sebaliknya, banyak juga para 'ulama Sunni yang berguru dengan Imam Syi'ah. Yang paling populer adalah Imam Abu Hanifah, Al-A'masy, Ibnu Juraij, dan bahkan, Abu Ishaq As-Sabi'i sendiri, juga berguru kepada Imam Al-Baqir (Imam ke-5 Syi'ah). Sebagai catatan, para 'ulama salaf tidak pernah berguru hanya kepada 1 (satu) guru, tapi puluhan hingga ratusan guru. Mereka tidak terjebak dalam pola pikir sektarian. Tidak peduli apakah orang itu Syi'ah atau Sunni, tapi selama orang itu tsiqah, maka para 'ulama salaf tidak segan akan menukil dari orang itu.
Selain itu, kita juga bahkan bisa dengan mudah menemukan beberapa perawi Syi'ah di dalam kitab Shahih Bukhari. Mereka di antaranya adalah 'Abbad bin Ya'qub (shaduq/jujur), 'Auf bin Abi Jamilah (tsiqah/terpercaya, padahal dia adalah seorang Syi'ah Rafidhah), 'Abdul-Malik bin A'yan (shaduq/jujur, dia seorang Syi'ah Ja'fari), 'Ubaidillah bin Musa (tsiqah), Aban bin Taghlib (tsiqah, dia juga seorang Syi'ah Rafidhah), dan masih banyak lagi. Kita bisa ambil contoh salah satunya, misalnya Aban bin Taghlib. Nama Aban dapat dengan mudah ditemukan di semua kitab kanon hadits Sunni, mulai dari Shahih Bukhari sampai Jami' Tirmidzi. Kita dapat menemui berbagai pendapat/komentar positif para 'ulama salaf tentang Aban bin Taghlib.
Aban bin Taghlib adalah seorang 'ulama Syi'ah yang berasal dari Kufah. Imam Dzahabi menulis dalam kitab rijal sanad-nya Siyar A'lamun-Nubala' Vol. 6 Hal. 308 sbb:
أبان بن تغلب، الإمام المقرىء أبو سعد وقيل أبو أمية الربعي الكوفي الشيعي
"Aban bin Taghlib, beliau adalah imam ahli Al-Qur'an, kun'yah-nya Abu Sa'id, dan kadang dipanggil Abu Umayyah Ar-Rabi', asal Kufah beraliran Syi'ah".
Pada kitab yang sama, kita juga menemui sejumlah Tabi'in junior yang berguru kepada Aban bin Taghlib, di antaranya adalah Syu'bah bin Al-Hajjajdan Sufyan bin 'Uyainah.
Meskipun kontroversial, tapi hampir semua 'ulama salaf memberikan komentar positif tentang Aban bin Taghlib. Misalnya dalam Tahdzibut-Tahdzib Vol. 1 No. 66, di situ dijelaskan bahwa Aban bin Taghlib adalah seorang Syi'ah Rafidhah, dikenal seorang yang gemar tasyayyu' (sikap menyanjung/memuja 'Ali bin Abi Thalib secara berlebihan), dan dikenal juga gemar ghulat/ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama). Tapi, di luar keyakinannya, dia memiliki pribadi yang sangat soleh, sangat jujur (shaduq), sangat terpercaya (tsiqah), dan hadits-haditsnya shahih. Jadi, ada dualisme reputasi yang ditampilkan Aban, reputasi sebagai seorang ulama Syi'ah yang tulen dan cekak, dan reputasi sebagai seorang yang sangat jujur dan terpercaya. Lantas bagaimana komentar para 'ulama salaf tsb? Imam Ahmad bin Hanbal berkomentar tentang Aban bin Taghlib sbb:
وقال العقيلي سمعت أبا عبد الله يذكر عنه عقلا وأدبا وصحة حديث إلا أنه كان غاليا في التشيع
"Al-'Uqaili berkata: "Aku mendengar Abu 'Abdullah [Ahmad bin Hanbal] menyebutkan hadits-hadits dia [Aban] itu masuk akal, bernilai, dan shahih, kecuali jika dia sudah mulai ghuluw dalam tasyayyu'".
Kita juga bisa menemukan komentar para 'ulama hadits Sunni lainnya di situ dengan nada yang sama:
وقال بن سعد كان ثقة وذكره بن حبان في الثقات وأرخ وفاته ومنه نقل ابن منجويه
"Ibnu Sa'adberkata: "Dia [Aban] tsiqah". Hadits-haditsnya disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya "Tsiqat", dan beliau [Ibnu Hibban] mencatat dengan rinci hingga beliau [Aban] wafat, hadits-haditsnya dinukil pula oleh Ibnu Manjuwaih".
catatan: Ibnu Manjuwaih adalah penulis kitab Rijal Shahih Muslim, kitab rijal sanad Shahih Muslim terbesar yang pernah dimiliki Sunni.
وقال الأزدي كان غاليا في التشيع وما أعلم به في الحديث بأسا
"Al-Azdiberkata: "Dia [Aban] dikenal sangat ghuluw dalam tasyayyu', tapi aku tidak menemukan satupun masalah terhadap haditsnya".
Imam Ibnu 'Adi Al-Jurjani punya sikap yang sangat bijaksana:
وقال بن عدي له نسخ عامتها مستقيمة إذا روى عنه ثقة وهو من أهل الصدق في الروايات وإن كان مذهبه مذهب الشيعة وهو في الرواية صالح لا بأس به قلت هذا قول منصف وأما الجوزجاني فلا عبرة بحطه على الكوفيين فالتشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلي الله عليه وسلم وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا لا سيما إن كان غير داعية وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة
"Ibnu 'Adi berkata: "Beliau [Aban] memiliki catatan langsung dari para perawi yang tsiqah, dan beliau termasuk golongan ahlush-shaduq (orang-orang yang jujur) dalam meriwayatkan sesuatu. Madzhab beliau adalah madzhab Syi'ah, dan beliau memiliki riwayat-riwayat yang saleh, tidak ada masalah dengan itu. Ini adalah pendapat yang adil. Adapun Al-Juzjani menyebut tidak ada 'ibrah (pelajaran) yang bisa dipetik dari penduduk Kufah yang gemar ber-tasyayyu' di kalangan mutaqaddimin (para ulama generasi awal), begitu juga kegemaran beliau menyanjung 'Ali di atas 'Utsman, beliau yakin 'Ali yang benar dalam perangnya [Jamal dan Shiffin], dan beliau berbeda pendapat dengan kedua guru beliau [Abu Ishaq dan Al-Hakam bin Utaibah] tentang kecondongannya [terhadap 'Ali]. Mungkin kebanyakan dari mereka [Syi'ah] percaya bahwa 'Ali adalah makhluk terbaik yang diciptakan Allah setelah Rasulullah SAW. Tapi, jika mereka berpegang pada riwayat-riwayat yang jujur dan lurus serta kokoh, maka jangan tolak riwayat-riwayat mereka, terutama jika itu bukan dalam rangka ber-tasyayyu' di kalangan muta'akhirin (para ulama generasi akhir di masa itu). Baginya kesesatannya, bagi kita kejujurannya. Mengingat beliau [Aban] adalah seorang Rafidhah tulen, maka jangan terima riwayat-riwayat para rafidhi yang mengandung ghuluw dan jangan diutamakan".
Bahkan, ada ahli hadits Syi'ah yang menulis sebuah kitab hadits yang sangat dipuji para 'ulama Sunni. meskipun bukan termasuk dalam kitab hadits kanon Sunni (Kutubus-Sittah), tapi kitab itu sangat dipuji di kalangan Sunni. Kitab hadits itu adalah kitab Al-Mushannafyang ditulis oleh 'Abdur-Razzaq Ash-Shan'ani, seorang 'ulama Syi'ah asal Shan'a, Yaman (kitab ini populer disebut Mushannaf 'Abdur-Razzaq). Dia dikenal akan kesolehannya, kejujurannya, keandalannya, dan kemampuan hapalannya, sehingga dia diberi predikat tsiqah. 'Abdur-Razzaq berguru kepada Ma'mar bin Rasyid Al-Azdi dari thabaqah ke-7 (Tabi'in junior), seorang perawi hadits Sunni yang sangat terkenal, yang juga salah seorang muridnya Qatadah bin Di'amah dan Ibnu Syihab Az-Zuhri. Kitab Mushannaf 'Abdur-Razzaq adalah kitab kedua tertua ummat Muslim setelah kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik, kira-kira hampir 100 tahun sebelum Imam Bukhari menulis kitab Shahih-nya.
Dari semua pembahasan di atas, kita memperoleh gambaran yang menarik, bahwa para 'ulama salaf menilai seseorang dari kemampuannya. Kadangkala memang keyakinan itu dipandang penting, terutama jika ybs telah membicarakan tentang teologi ataupun 'aqidah. Tapi, tradisi keilmuan mereka di atas mencerminkan keterbukaan berpikir. Sikap inklusif dan obyektif selalu dijunjung dalam menilai pemikiran, argumentasi, ataupun kemampuan seseorang. Sampai sini, kita telah memperoleh gambaran penting tentang tradisi intelektual generasi salaf.
Bersambung ke (2)
Diubah oleh tyrodinthor 19-04-2021 21:27
diknab memberi reputasi
1