- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#92
Penyelamatan Yang Aneh
Aku berlari mengejar kuntilanak yang terbang kearah Inas dan Sri dengan meminta bantuan kepada sesosok makhluk.
"Nyai...datanglah...," Ucapku perlahan sembari membayangkan sosok wanita gaib yang dulu pernah mendampingiku melawan para makhluk gaib kiriman Sukirman.
Hening.
Aku tak merasakan ada sesuatu yang bergejolak ataupun bergetar didalam tubuhku. Sepertinya, apa yang bapak katakan dulu memang benar. Nyai emas hanya dititipin kepadaku saat aku melawan Sukirman saja.
"Huuufft...,"
Aku menghela nafas panjang.
Kekecewaan sedikit menggumpal didalam dada ini. Tapi aku ingat akan sesuatu.
Sesaat setelah masalah yang dialami oleh keluargaku selesai, dan aku tak kembali diteror oleh Sukirman. Aku meminta agar bapak menarik semua ilmu gaib yang aku miliki saat itu. Juga karena rasa trauma, akupun meminta agar bapak mau untuk menutup ataupun mengurangi kepekaanku terhadap hal-hal yang berbau gaib.
Tapi kini, aku menyesali akan keputusanku itu. Ternyata, tak selamanya hal-hal seperti itu akan merugikanku, bahkan ilmu-ilmu seperti itu, kini sangat aku butuhkan.

Tapi yah...mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Saat ini, aku hanyalah manusia biasa seperti kebanyakan orang. Tak memiliki hal-hal gaib seperti dulu lagi. Meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi niatanku untuk membantu teman-temanku.
Aku memang sudah tak lagi lagi memiliki ilmu yang membuatku bisa menghajar para makhluk gaib itu. Tapi, aku masih memiliki sedikit pengetahuan tentang mereka. Dan, inilah senjataku sekarang.
Pengetahuan...dan sedikit keberanian.
"Akh... ya udahlah kalau gitu. Yang penting selamatin dulu Sri sekarang ini. Baru mikir yang lainnya kemudian," kataku dalam hati.
Aku lalu terus berlari melewati semak-semak dan pohon-pohon yang tumbuh didekat hutan ini.
Patokanku adalah suara jeritan yang diteriakan oleh Sri dan Inas.
Sambil berlari, aku juga memperhatikan jalanan didepanku.
"Bangke, kenapa malah jadi masuk kedalam hutan ini," gumamku setelah aku memperhatikan jalur didepanku.
Ya, didepanku kini sudah banyak pohon-pohon yang sedikit rapat. Bukan lagi semak-semak kecil seperti saat di awal tadi.
"Kenapa mereka berdua malah lewat jalan ini?" Tanyaku tak habis pikir.
Suara jeritan itu semakin dekat.
Didalam gelapnya malam, kini aku bisa melihat keberadaan kedua temanku. Sri dan juga Inas.
Sri saat itu ada dalam posisi jatuh telentang. Sedangkan Inas hanya berdiri terpaku tak jauh dibelakangnya.
Aku menarik kesimpulan bahwa saat kedua temanku itu berlari, Sri tiba-tiba saja terjatuh entah karena apa. Dan Inas yang segera menyadari Sri terjatuh, lalu berhenti di tempat ia berdiri sekarang.
Lalu, dimanakah keberadaan kuntilanak yang mengejar keduanya?
Mataku jelalatan mencari keberadaannya. Karena pohon-pohon ini tumbuh semakin rapat, aku jadi tak bisa dengan leluasa mencari keberadaannya.
Tapi, hal ini tak berlangsung lama.
Disaat aku tengah berusaha untuk mendekat kearah teman-temanku. Tiba-tiba saja terdengar suara tawa yang sangat khas.
"Hihihihihi....,"
Meskipun sudah sering kudengar, tetapi tetap saja mendengar suara tawa ini membuat bulu kudukku berdiri. Darahku yang mengalir ke kepala seperti semakin banyak. Dan itu membuat kepalaku menjadi berat.
Tapi aku berusaha untuk mengenyahkan perasaan itu. Aku mencoba fokus untuk mengatur nafasku yang memburu. Sambil tak lupa tanganku mencoba mengambil dahan, atau apa saja yang yang sekiranya bisa kugunakan sebagai senjata.
Di tanganku ini sudah ada ada sebatang kayu sepanjang satu meter. Kayu itu bukan kayu kering yang jatuh dari atas pohon. Melainkan kayu basah yang sepertinya dijatuhkan oleh para penduduk sekitar, saat mereka sedang mencari kayu bakar di dalam hutan.
Meskipun hanya hanya dengan sebatang kayu, tapi aku berhasil mengusir sebagian besar rasa takut.
"Masih mending ada senjata, daripada gak ada sama sekali," kataku dalam hati.
Dengan keberanian dan senjata di tangan, aku kembali melangkah maju.
Tetapi, samar-samar terlihat sosok kuntilanak itu.

Di dalam gelapnya malam, di bawah tetesan air hujan, aku bisa melihat sosoknya yang kini berdiri tepat di depan Sri.
Aku ingin berteriak.
Tapi aku tiba-tiba saja memiliki sebuah ide yang aneh. Meskipun cukup aneh, tapi menurutku itu adalah hal yang masuk akal. Bila menuruti persepsiku tentang dunia gaib.
Aku berjalan kian dekat mendekati ketiga perempuan berbeda alam itu. Tanganku semakin erat menggenggam kayu itu. Meskipun ketakutan itu tak bisa aku enyahkan sepenuhnya, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang dan menguasai diri.
Apalagi di depan Inas

Kuntilanak itu sepertinya tak menggubris kehadiranku ditempat itu. Sepertinya ia hanya fokus menatap ke arah Sri.
Inas yang melihatku mendekat hanya bisa diam. Dari wajahnya saja, aku bisa melihat bagaimana ketakutannya saat itu.
Aku mencoba memberikan ketenangan kepadanya dengan memberikan isyarat anggukan.
Entah ia mengerti atau tidak, aku juga tak begitu paham. Karena saat ini, aku harus segera mencari cara untuk mengusir kuntilanak yang saat itu berdiri didepan Sri.
Setelah aku cukup dekat dengan sosok kuntilanak itu, aku lalu berteriak kearah Inas dengan suara sedikit bergetar.
"Inas, cepat buka kaosmu itu dan lemparkan kearah Sri sekarang!"
Inas terkejut mendengar perintahku.
"Cepat!" Teriakku lagi.
Inas meskipun ragu, akhirnya mengikuti arahanku.
Ia akhirnya melepas kaos putihnya, lalu melemparkannya ke arah Sri yang masih terbaring ketakutan.
Mataku sedikit silau dengan pemandangan yang hot didepanku. Ianas yang hanya mengenakan tank top putih ketat plus dibawah siraman air hujan.
Meskipun menurut kalian aku mesum, tapi hal ini membuatku melupakan rasa takut yang masih ada didalam diri ini.
Ketakutan itu tiba-tiba saja lenyap. Tergeser oleh rasa yang lainnya.

Mungkin karena takut, lemparan Inas tak sampai ditempat Sri terbaring. Kaosnya masih ada sekitar setengah meter dari Sri.
Aku berinisiatif untuk mengambil alih keadaan.
Dengan sedikit berlari, aku melewati sosok kuntilanak itu dan berhenti didekat Sri. Aku lalu meraih kaos milik Inas. Kemudian, aku berjongkok tepat disamoing Sri yang masih terbaring ketakutan ditanah.
Dengan berbisik, aku lalu berkata.
"Sri, maaf ya,"
Tak sempat Sri mengunyah kata-kataku. Dengan cepat aku melakukan hal yang kurencanakan tadi.
Kaos yang ada ditangan kanan, segera kugenggam ditangan kiri. Lalu, tangan kananku dengan cepat menyingkap rok yang Sri kenakan.
"Aaahhh...!" Sri tampak terkejut dan mengerang, tapi aku tak perduli.
Aku lalu dengan cepat memasukan kaos Inas kedalam rok si Sri dan mengusap-usapkan kaos itu disana.
Tentu saja melihat kelakuanku itu Sri langsung jejeritan dan berusaha meronta, menolaknya. Tapi aku menahannya dengan tangan kanan.
Setelah cukup, aku segera melemparkan kaos yang ada darah menstruasi itu kearah si kuntilanak.
Susana tiba-tiba saja menjadi hening. Sri berhenti meronta dan berteriak. Bahkan air hujan juga seperti tak terdengar di telingaku. Aku sungguh sangat fokus dengan akibat dari perbuatanku.
Jantungku berdebar-debar menunggu hasilnya. Berhasil, atau tidak.
Dan, hasilnya segera terlihat.
Kuntilanak itu tiba-tiba saja tertawa keras. Lebih keras daripada suara tawanya yang biasa kudengar.
Dengan gerakan pelan, kuntilanak itu meraih kaos milik Inas. Lalu, ia dengan anggun terbang melayang keatas. Dan... wusss, ia pergi meninggalkan kami dengan hanya meninggalkan suara tawanya saja.
"Huuufft,"
Aku terduduk lemas begitu suara tawa kuntilanak tadi sudah menghilang. Rasa-rasanya semua tulang ditubuhku hilang.
Aku mendongak keatas. Memandang ke arah langit yang sedikit tertutup rimbunnya pepohonan hutan.
Aku tak berani menatap kesamping, karena aku lupa, tadi belum sempat membetulkan posisi rok milik Sri.
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang hangat menempel di punggungku ( kalian belum lupakan, kalau aku saat itu bertelanjang dada ).
Seketika aku ingin menoleh kebelakang. Tapi, sebuah suara yang kudengar bisa menahan keinginanku itu.
"Terima kasih, ndra," ujar sosok dibelakangku.
Dia Inas.
Aku bergumam dalam hati, "andai aja...sepi."

Aku menepuk tangan Inas yang melingkar di leherku sambil berkata.
"Iya, Alhamdulillah kalian berdua gak papa,"
Inas hanya mengangguk dibelakangku.
Aku ingin melepaskan pelukannya, tapi jujur, sangat disayangkan apabila itu aku lakukan. Tapi, disisi lain keadaanlah yang membuatku harus melakukan itu.
Dengan hati tak ikhlas, aku lalu melepaskan pelukan Inas. Aku lalu membantu Sri yang masih terbaring ditanah.
Aku hanya bisa nyengir saat Sri menatapku tajam.
"Hehehe...maaf ya, Sri," kataku waktu itu.
Ia tak menjawab. Hanya saja ia langsung merapikan kembali roknya yang tadi kusingkapkan keatas demi menyelamatkan mereka tentunya.
Inas lalu membantu Sri berdiri. Lalu, aku segera membantu mereka berdua untuk keluar dari hutan ini.
Ditengah perjalanan, aku bertanya kepada mereka. Kenapa malah memilih masuk kedalam hutan.
Sri yang sepertinya masih marah denganku memilih diam. Hingga akhirnya Inas yang menjawab pertanyaanku.
"Saat kami berdua berlari, saat itu aku berlari paling depan dan Sri berlari dibelakangku. Tadinya aku juga ingin berlari lurus ke depan, bukannya malah masuk ke dalam hutan. Tapi, di depanku itu tiba-tiba saja aku seperti melihat banyak sekali sosok-sosok aneh, yang melayang beriringan menuju kearah kompleks villa kita. Makanya itu aku spontan berbelok lari kedalam hutan."
Aku terdiam mendengar jawaban dari Inas.
"Ya udahlah, yang penting sekarang kalian berdua sudah selamat. Dan untuk Sri, aku minta maaf karena perbuatanku tadi. Aku terpaksa melakukan itu, karena menurut pengetahuanku. Kuntilanak itu sangat tertarik dengan darah menstruasi wanita. Tapi aku juga nggak tahu kenapa bisa se-agresif itu," kataku.
Sri hanya mengangguk.
Saat itu, kami berjalan dengan Sri ada didepan. Sedangkan Inas, berjalan tepat disampingku. Aku sengaja menempatkan Sri di depan, agar aku bisa memantaunya apabila ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Dan Inas sengaja aku taruh di sampingku, agar aku bisa fokus melihat kedepan dan mengarahkan Sri kemana harus melangkah.


Mungkin, riwayatku akan tamat apabila ada orang yang melihat keadaan kami saat itu. Seorang laki-laki dengan bertelanjang dada, berjalan bersama seorang perempuan yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Setelah keluar dari hutan, kami berjalan menyusuri jalanan yang bersebrangan dengan kami datang. Inas yang mengusulkan ide itu.
"Kita masuk lewat gerbang depan komplek villa ini aja, ndra. Tebing disana gak terlalu tinggi deh kayaknya. Jadi kita bisa naik," katanya waktu aku akan berjalan kearah dimana kami datang.
Setelah berpikir sesaat, akupun mengangguk setuju.
Dan benar seperti yang Inas katakan, kami akhirnya menemukan tebing yang tak terlalu tinggi. Hanya sekitar satu meteran. Aku lalu membantu kedua perempuan itu naik.
Kami naik tepat setelah gerbang masuk, pas didepan villa pertama.
Kami menarik nafas lega.
Selanjutnya, aku memimpin berjalan didepan. Tak lupa aku juga mencari dulu alat yang sekiranya bisa dijadikan senjata. Dan kini, kami bertiga masing-masing menggenggam sebatang kayu sebagai senjata bila diperlukan.
Aku berjalan dengan hati-hati melewati villa pertama itu. Sesekali aku menoleh kebelakang, memastikan kedua temanku itu aman.
Kami lalu melewati villa kedua juga dengan aman.
Tapi, disaat itu, aku tiba-tiba melihat ada sesuatu yang ganjil ada didepanku.
Maaf, bukan ganjil. Tetapi sesuatu yang menakutkan.
Sangat menakutkan!
Disana, didepan sana. Aku bisa melihat Villa yang kami tempati itu, kini dikepung oleh berbagai macam makhluk halus dengan berbagai macam bentuk dan ukuran.
***
sulkhan1981 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tutup