Kaskus

Story

drupadi5Avatar border
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.

Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu




Kota Kenangan1

Kota Kenangan 2

Ardi Priambudi

Satrya Hanggara Yudha

Melisa Aryanthi

Made Brahmastra Purusathama

Altaffandra Nauzan

Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden

Altaffandra Nauzan : Patah Hati

Altaffandra Nauzan : the man next door

Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah

Expired

Adisty Putri Maharani

November Rain

Before Sunset

After Sunrise

Pencundang, pengecut, pencinta

Pencundang, pengecut, pencinta 2

Time to forget

Sebuah Hadiah

Jimbaran, 21 November 2018

Lagi, sebuah kebaikan

Lagi, sebuah kebaikan 2

Perkenalan

Temanku Malam Ini

Keluarga

03 Desember 2018

Jimbaran, 07 Desember 2018

Looking for a star

Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin

Pertemuan

BERTAHAN

Hamparan Keraguan

Dan semua berakhir

Fix you

One chapter closed, let's open the next one

Deja Vu

Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun

Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...

Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...

Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...

Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...

Damar Yudha

I Love You

Perjanjian...

Perjanjian (2)

Christmas Eve

That Day on The Christmas Eve

That Day on The Christmas Eve (2)

That Day on The Christmas Eve (3)

Di antara

William Oscar Hadinata

Tentang sebuah persahabatan...

Waiting for me...

Kebohongan, kebencian, kemarahan...

Oh Mama Oh Papa

Showing me another story...

Menjelajah ruang dan waktu

Keterikatan

Haruskah kembali?

Kematian dan keberuntungan

The ambience of confusing love

The ambience of love

Kenangan yang tak teringat...

Full of pressure

Persahabatan tidak seperti kepompong

Menunggu, sampai nanti...

Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji

Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak

Menjaga jarak, menjaga hati

First lady, second lady...

Teman

Teman?

Saudara

Mantan

Mantan (2)

Pacar?

Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
lengzhaiiiAvatar border
manik.01Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.9K
302
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
drupadi5Avatar border
TS
drupadi5
#169
Pacar?

Aku berjalan gontai memasuki pekarangan rumah dan menghempaskan diri di
kursi ayunan di halaman samping.

Aaahh… kenapa dunia ini sempit sekali, keluhku dalam hati.

Kusandarkan punggungku di sandaran besi kursi ini, meskipun terasa keras tapi cukup nyaman untuk meregangkan punggungku. Kupejamkan mata. Dan secara otomatis adegan Fandra yang menuntun Laras dengan setengah mendekap tubuh wanita itu melintas manis di pelupuk mataku.

Arrgghh!!!

Kenapa juga harus ada yang namanya cinta, kenapa juga ada yang namanya cemburu?!?! Rutukku dalam hati.

“Lo kenapa?!”

Aku terlonjak kaget, refleks terduduk tegak dan begitu mata terbuka, tampang Om Andre langsung mengisi ruang penglihatanku.

“Ish, bikin kaget aja!” semprotku kesal padanya

“Lo kenapa?”

Aku menghela nafas, “capek gw Om.”

Om Andre mengambil tempat duduk di sampingku.

“Lebih capek kayaknya temen lo yang kehilangan ibunya.”

“Jelaslah…”

Hening sejenak.

“Mau nge-mall ngga?”  tiba-tiba Om Andre mengeluarkan ide yang membuat aku menatapnya curiga. Ngga biasa-biasanya si om ngajakin ngemall.

“Lo kenapa om? Sakit?”

“Serius ini gw ngajakinnya, mau ngga?”

“Ngapain? Kalau cuma jalan-jalan aja males gw.”

“Gw mau beli hadiah buat Maya dia ulang tahun besok. Sekalian gw traktir lo makan, deh atau lo mau beli-beli juga.”

Rasa lelahku langsung menguap entah kemana, sebelum si om berubah pikiran secepat kilat aku mandi dan berdandan. Kesempatan besar tidak boleh disia-siakan.

***

“Hadiah apa yang bagus ya?”

Om Andre berkata entah padaku atau pada dirinya sendiri.

“Kira-kira apa ya, Vi?”

Aku berusaha berpikir apa kira-kira hadiah yang bisa diberikan oleh seorang pria pada wanita yang disuka.

“Lo udah pernah ngasi apa aja?” tanyaku, secara tidak langsung aku bisa tahu sudah berapa lama mereka bersama.

“Baju, gaun, cincin, kalung, gelang, boneka, make up, tas, sepatu, sandal, bros, parfume, skincare, jam tangan, lukisan, hm….. apa lagi ya?!?”

“Buset dah, pantes aja lo bingung!”

“Gw aja ngga pernah lo kasih hadiah,” gumamku pelan.

“Ngapain juga gw ngasiin lo hadiah.”

Aku meliriknya sinis.

“Dia sukanya apa?” tanyaku tak lama kemudian karena Om Andre sepertinya bener-bener bingung.

“Dia suka make up, fashion, assesoris, music, yang kayak gitu-gituanlah,” sahut Om Andre sambil kami berjalan disepanjang deretan toko-toko di dalam mall ini.

Aku menggiringnya masuk ke sebuah toko buku.

“Ngapain ke sini?” tanyanya sambil memandang ke sekitar

“Gw yakin pasti lo ngga pernah ngasi dia hadiah buku, ya kan?” tebakku

“Ehmm… ngga pernah.”

“Nah, kali ini lo harus kasi dia buku.”

“Buku apa?”

“Terserah…,” jawabku, “cari buku yang kira-kira dia bakalan suka, atau...buku yang bisa ngewakilin apa yang lo rasa selama ini ke dia, atau buku yang kira-kira bisa dia jadiin bahan referensi di karirnya dia atau mungkin personal life-nya dia.”

Sepertinya Om Andre tidak menolak ideku ini. Tanpa menghiraukanku lagi, dia mulai menjelajahi rak demi rak yang ada di sana.
Beberapa menit berlalu, masih belum ditemukan buku yang pas. Aku menghampirinya.

“Udah nemu?” tanyaku padanya yang sedang serius membuka-buka sebuah novel.

“Belom.”

“Gw ke toilet bentar ya,” ujarku kemudian keluar dari toko buku itu.

Kubawa langkahku menuju toilet untuk wanita, masuk ke dalam, tidak ada seorang pun. Aku memasuki salah satu biliknya dan ketika pintu kututup, terdengar suara wanita yang sepertinya pernah aku dengar sebelumnya. 

Seperti suaranya Nabila dan ada seorang lagi yang tidak begitu jelas terdengar karena volume suaranya yang rendah. Mereka sedang membicarakan tentang make up. Tentang warna lipstick yang mereka pakai.

“Aku suka yang natural,” sahut seorang lagi. 

Ah, iya itu mirip suaranya Mbak Maya.  Aku sengaja tidak menekan flush agar mereka berpikir tidak ada orang di salah satu bilik ini.

“Tapi kamu itu lebih bagus pake warna strong, jadi lebih cantik dan seksi,” suara Nabila terdengar lembut dan terkesan menggoda ketika dia mengucapkan kata ‘cantik’ dan ‘seksi’

Perlahan aku membuka sedikit pintu bilik toilet sehingga hanya meninggalkan celah kecil yang cukup untukku mengintip. Beruntungnya dari bilikku ini aku bisa melihat ke arah wastafel di mana mereka sekarang berada.

Aku bisa melihat wajah Mbak Maya dengan jelas karena dia berdiri menghadapku dan seorang wanita yang berdiri memunggungiku, yang kalau dari suara dan perawakannya kuduga adalah Nabila. Dia berdiri sangat dekat di depan Mbak Maya. Entah apa yang mereka lakukan.

“Nah, cantik kan?!” ujar wanita yang tidak bisa kulihat wajahnya itu pada Mbak Maya.

Keduanya kemudian berdiri menghadap ke cermin sehingga aku bisa melihat wajah wanita itu meskipun dari samping.

Dugaanku benar, itu adalah Nabila.

Mbak Maya tampak memperhatikan bayangannya di cermin di depannya.

“Bagus juga," katanya.

Tiba-tiba Nabila mendekat dan menarik pinggang Mbak Maya dan kemudian mencium bibirnya.

Aku menutup mulutku sendiri.

Oh, shit!!!

Apa yang mereka lakukan?

Jantungku berdebar tidak karuan demi melihat adegan yang terekam mataku ini.

Mereka berdua berciuman dengan mesra. Terlihat Nabila lebih agresif melumat bibir lawannya. Sampai akhirnya Mbak Maya yang melepaskan diri dari Nabila.

“Sweet, wangi juga,” suara Nabila terdengar senang sembari merangkul pinggang Mbak Maya.

“Jangan begini,” Mbak Maya dengan halus melepaskan tangan Nabila dari pinggangnya dan sebaliknya menggenggam jemari Nabila.

“Ayo,” Mbak Maya menarik pelan tangan Nabila dan mengajaknya keluar.

Aku menghembuskan nafas yang tertahan di dadaku.

Sial! Apa yang barusan kulihat?!

Jantungku masih berdetak cepat mengingat adegan ciuman dua wanita tadi.

Apa Om Andre tahu? Apa keluarganya Randy juga tahu? Oh, God, kenapa juga harus aku yang melihat mereka tadi?!

Aku keluar dari bilik toilet dan bergegas keluar. Sampai di depan toko buku aku baru sadar kalau tadi aku belum flush toiletnya.

Ah, masa bodoh, biarin aja!

Aku mencari-cari keberadaan Om Andre dan menemukannya sedang antri di kasir. Aku menghampirinya.

“Udah ketemu?”

“Sudah,” sahutnya tersenyum sambil mengacungkan sebuah buku padaku.

Aku tidak peduli buku apa yang dipilihnya, aku hanya memandang wajah Omku itu lekat.

“Kenapa lo?Kaya orang bingung gitu?” tanyanya

“Eee… ngga apa-apa,” sahutku pelan. 

Bagaimana kalau Om Andre tahu ya, pasti dia bakalan kecewa sekali.

Atau malah mungkin sama sekali tidak akan mempercayaiku.

***

“Om, lo udah lama kenal sama Mbak Maya?” tanyaku ketika kami sedang duduk menunggu pesanan take away di salah satu restoran di dalam mall ini.

“Lumayan,” sahutnya setelah meneguk kopinya.

“Lumayan apa?”

“Lumayan lama, ada sekitar 6 tahunan.”

“Kenal di mana?”

Dia mengangkat wajahnya melihat padaku

“Di rumah sakit, dia pasiennya client gw.”

“Emang dulu dia sakit apa?”

“Kenapa lo tiba-tiba pengen tahu?”

“Ya pengen tahu aja, kan lo suka sama dia, pengen tahu aja gimana dan kenapa lo sampe bisa suka sama dia.”

Om Andre terdiam.

“Maya konsul sama psikiater, yang kebetulan dokternya adalah client gw. Dan kebetulan beberapa kali gw ketemu dia di luar jam konsul. Dari sana gw mulai tertarik dan lama-lama jadi suka.”

“Dia kenapa sampai harus ke psikiater?” tanyaku

Om Andre memandangku lekat.

“Gw belum bisa cerita,” sahutnya kemudian membuatku kecewa.

“Gw janji jaga rahasia lo!” ujarku karena mungkin dia tidak mau membagi ceritanya karena takut aku akan bicara ke mama atau tante-tanteku yang lain.

Lagi-lagi dia hanya memandangku tanpa berkomentar.

“Gw ngga bakalan ngomong ke mama atau yang lain. Sumpah!Gw janji, demi Tuhan.”

“Ngga usah bawa-bawa Tuhan segala." Dia tersenyum kecil. "Gw curiga, kenapa lo jadi kepo banget sama Maya?”

“Ngga cuma sama Mbak Maya tapi kalian berdua,” ralatku.

Dia terdiam.

“Apa hubungan Mbak Maya dan Nabila?” tanyaku memberanikan diri membahas Nabila, “tempo hari, waktu lo ngajak gw ketemuan dengan Mbak Maya kan ketemu mereka berdua, Nabila itu ponakannya yang punya perusahaan tempat aku audit sekarang.”

“Iya gw tahu. Dia ponakannya Pak Suryo yang konglomerat itu.”

“Kenapa mereka berdua bisa saling kenal?”

Om Andre tampak menghela nafas dan mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai dengan bersandar pada sandaran kursi kayu ini.

“Hm… yang aku tahu, Maya dulunya dari keluarga yang berkecukupan, tapi setelah sebuah musibah yang membuat kedua orangnya meninggal dia menjadi yatim piatu dan tidak ada saudaranya yang mau menampungnya. Saat itu dia baru mulai kuliah dan Nabila adalah salah satu teman kuliahnya. Jadi, Nabila minta tolong sama pamannya agar Maya bisa di berikan beasiswa, yah seperti dijadikan anak asuh.”

“Kenapa tega sekali saudaranya sampai-sampai ngga ada yang mau bantu?”

Aku merasa geram sekali mendengar seorang anak yang diterlantarkan, bukan salah anak itu harus menghadapi kenyataan pahit dan bukankah keluarga adalah orang-orang terdekat yang seharusnya bisa diandalkan di saat-saat susah.

“Itu karena…Maya hamil.”

“Hah?! Hamil? Maksudnya, hamil di luar nikah?”

Om Andre menggeleng, “Bukan. Dia dirudapaksa, kedua orang tuanya dibunuh, dan hartanya dirampok.”

Deg! Jantungku berdetak cepat. Kukatupkan kedua rahangku kuat-kuat dan menahan air mata yang tiba-tiba saja menggenang di pelupuk mata.

Aku menahan emosiku yang tiba-tiba muncul seperti letusan gunung berapi. Kuremas-remas dress yang aku pakai, berusaha untuk menenangkan diri dan mengatur nafasku.

Om Andre menatapku, mungkin karena aku hanya diam saja setelah kalimatnya yang terakhir itu.

“Dia shock berat,” dia melanjutkan setelah menyesap lagi kopi dan meletakkan cangkirnya perlahan di meja di depan kami.

“Itu menurut dokter yang merawatnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana dia bisa melewati semua itu sendirian. Aku kenal dia setelah kondisinya membaik. Tapi dia tetap konsultasi karena menurut pengakuannya dia masih sulit mengendalikan emosinya.”

Apa karena kejadian itu dia berubah orientasi? Apa dia membenci laki-laki? Tapi…

“Apa berubah yang lo maksud dulu itu, karena ini?”

Om Andre menggeleng cepat.

“Justru gw pengen selalu ada di dekatnya di saat dia susah, tapi, dia ngga ngijinin gw masuk terlalu jauh…”

“Apa dia jadi membenci cowok?”

Om Andre menatapku tajam.

Aku diam, menghindari pandangan mata Om Andre. Seorang pelayan menghampiri kami membawakan makanan yang kami pesan.

“Apa Nabila ada bilang sesuatu ke elo?” lanjutnya lagi setelah pelayan itu pergi.

Aku terdiam.

“Vio?!” kali ini nadanya meninggi.

“Ng…ngga ada, tapi….”

“Tapi apa?”

“Tadi gw liat mereka,” sahutku ragu-ragu, sejujurnya aku bingung bagaimana harus menceritakannya pada Om Andre.

“Mereka? Maya dan Nabila maksud lo? Di mana?”

Aku memberanikan memandang mata Om Andre. Jelas sekali rasa penasaran terpancar di matanya.

“Gw liat mereka berdua di toilet…gw liat mereka ciuman, tapi mereka ngga tahu kalau ada gw di sana…”

Sesaat Om Andre memejamkan matanya dan mengusap kasar rambutnya.

Bukannya aku membanggakan omku sendiri tapi Om Andre adalah sosok yang nyaris tanpa cela sebagai seorang lelaki, physically dia tidak jelek, lumayan good looking dengan kulit bwrsih dan sangat terawat, karir bagus, orangnya supel dan tidak neko-neko, track recordnya positif selama masa hidupnya sampai saat ini dia berusia 38 tahun. Kenapa dia harus tertarik dengan Maya? Kalau saja dia bertemu dengan wanita lain, apa mungkin dia sudah menikah dan membina sebuah keluarga?

“Gw kaget,” ujarku lagi, “Lo tahu soal mereka?”

Om Andre mendengus, menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengangguk.

“Trus… lo gimana?”

Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bertanya.

“Gw berusaha terus maju, gw ngga mau Maya terus berjalan di jalan yang salah. Tapi, gw ngga tahu gimana lagi caranya membuat dia menjadi tegas ke Nabila. Gw yakin di satu sisi Maya ingin lepas dari hubungan itu, dia pun pernah mengakuinya, tapi di sisi lain Nabila pernah menjadi malaikat untuknya. Sulit untuk melakukan penolakan. Tapi, gw ngga akan menyerah. Hidup Maya selalu dalam kondisi sulit, gw ngga bisa ninggalin dia begitu saja.”

Aku memandang Om Andre, baru kali ini aku melihat wajahnya yang seperti ini, wajahnya yang menyiratkan keputusasaan sekaligus kebingungan.

“Lo bilang dia pernah… di rudapaksa dan hamil. Brrarti dia punya anak?”

“Ngga. Dia keguguran, mungkin karena terlalu depresi dan schock membuat kondisi fisiknya jadi sangat lemah.”

Aku mendengus ketika bayangan masa lalu itu terlintas lagi.

Tidak! Jangan membenci lagi, Vio, jangan!
Tak terasa aku membiarkan aliran air mata jatuh dari mataku.

“Lo kenapa?” tanya Om Andre ketika melihatku menangis

Sekuat tenaga aku berusaha mengendalikan diri dan emosiku.

Iya, tidak ada seorang pun yang tahu aku pernah mengalami kejadian buruk di masa remajaku. Mama menutupi semuanya dengan sangat rapat dari keluarga dan siapa pun di lingkungan kami. Apa ini yang namanya aib? Bau busuk yang tidak boleh siapa pun tahu demi nama baik dan masa depan. Tapi aku tidak mau terus menerus menyembunyikan bau busuk ini karena bukan aku sumber bau itu timbul.

Apa yang terjadi sama sekali bukan mauku dan bukan salahku, lalu kenapa aku yang harus sembunyi?!

Aku memandang Om-ku itu lalu memaksakan tersenyum, “gw bangga punya om kaya lo, Mbak Maya seharusnya tahu kalau dia beruntung bisa ketemu lo,” kataku dengan suara parau.

“Kenapa lo nangis?” Dia mengulangi pertanyaannya

“Gw bisa ngerasain apa yang Mbak Maya rasain…pasti sangat berat.”

Aku masih beruntung ada mama yang dengan kuat menemaniku. Aku masih beruntung tidak membuahkan hasil dari hubungan itu. Aku masih beruntung karena bertemu dengan Abrar. Aku masih jauh lebih beruntung dari Mbak Maya.

“Lo kenapa Vi?”

“Ngga apa-apa Om.”

“Bohong lo, ngga biasanya lo gini, sejak kapan lo berubah melow gini?”

Belum sempat aku menjawab Om Andre, ponselku berdering. Segera aku alihkan perhatian menghindari menjawab kecurigaan Om Andre.

 “Halo,” aku menyapa Oscar yang menelponku, membuar suaraku sewajar mungkin.

“Halo? Vio?”

“Iya, kenapa Os?”

“Suara kamu kok gitu?Kamu nangis? Kenapa? Ada apa?”

Sial, kenapa dia bisa tahu?!

“Siapa yang nangis? Aku pilek aja, kenapa telpon?”

“Kamu ngga bisa dateng ke rumah Bram, aku lagi di sini, ada tahlilan.”

Oh My, aku lupa. Aku melihat arloji di pergelangan tanganku, pukul tujuh malam.

“Oh, iya, aku usahakan ke sana, aku lagi di luar sama Om.”

“Ngga bisa juga ngga apa-apa, aku iseng aja telpon.”

“Aku bisa kok, jam delapan aku ke sana.”

“Ya sudah, nanti kabari aku ya.”

“Iya.”

“Om, pulang yuk!” ajakku pada Om Andre kemudian

“Ngga, lo jawab dulu gw!”

“Nanti ya,” sahutku berdiri dan bersiap cabut dari tempat itu.

“Duduk!” perintahnya dibarengi dengan tatapan tajamnya padaku

Kalau sudah begini artinya dia ngga bisa ditawar lagi. Aku beringsut kembali duduk di kursiku.

“Ada apa? Lo sembunyiin sesuatu dari gw kan?”

“Lo ada bilang sesuatu ke Maya atau Nabila? Atau mereka ada ngomong ke elo?”

Aku sedikit lega, Om Andre ternyata curiga kalau sikapku berhubungan dengan kedua wanita itu.

Aku menggeleng, “gw kan udah bilang mereka ngga tahu gw ada di sana.”

“Trus kenapa lo tiba-tiba nangis?”

“Sedih aja gw.”

“Ngga bohong kan lo?!”

“Buat apa gw bohong?”

“Ngga biasanya lo kayak gini, tiba-tiba nangis karena orang lain,” dia bergumam sendiri sambil berdiri dari duduknya dan mengambil bungkusan makanan kami.  

‘Lo ngga tahu sih Om apa yang gw rasain, saat tahu wanita yang lo sayangi ngalamin sakit seperti yang pernah gw alami juga,’ batinku.

Aku meminta Om Andre langsung menghantarkanku ke rumah Bram.
Sepertinya acara sudah dimulai ketika aku sampai di sana.  Sebenarnya aku merasa ragu untuk masuk, moodku masih belum bagus, dan masih bisa kurasakan detak jantungku yang tidak seperti biasanya.

Aku menghubungi Oscar melalui sebuah pesan. Tak lama dia muncul dari balik pintu depan dan segera menghampiriku, dan tampak memandangiku dengan seksama.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya

“Iya,” jawabku sambil mengangguk pelan.

“Ayo masuk,” ajaknya berjalan mendahuluiku menuju ke dalam rumah Bram.

“Yang cewek duduknya di ruang tengah, kamu masuk aja,” bisiknya ketika kami berada di ambang pintu depan.

Sudah banyak orang di sana, riuh rendah suara orang membacakan doa bersahutan tanpa henti. Bram berdiri dan menghampiriku, menghantarkanku masuk ke ruang tengah.

Aku duduk di sebelah seorang ibu-ibu yang tampak khusyuk membaca doa.  Aku memperhatikanya dengan seksama. Seperti aku mengenalnya, pernah bertemu di suatu tempat.

Hah, iya! Ibu itu mamanya Fandra. Beliau ada di sini? Apa keluarga Fandra dan Bram saling mengenal? Ada desiran aneh yang kurasa di dalam dadaku.

Ibu itu mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu denganku.  Bola matanya membulat memancarkan keterkejutan ketika melihatku.

“Nak…, kita pernah jumpa sepertinya, bukan?”

Aku tersenyum kecil, “Iya Tante, saya Vio, temannya Fandra. Kita ketemu dulu waktu di Bali, di toko kain."

“Ah, iya, bener, bener, maaf, tante lupa, maklumlah sudah tua,” ujarnya terkekeh.

“Tante kok bisa ada di sini?”

“Ah iya, ini kenalan tante yang meninggal. Teman lama, anaknya juga kebetulan temannya Fandra. Kamu ngga ketemu Fandra?”

“Iya saya sudah ketemu tadi pagi.”

“Kamu sendiri kok bisa ada di sini?”

“Ee…itu, Bram teman saya.”  Aku menunjuk ke arah Bram yang kebetulan terlihat jelas dari tempat kami duduk.

“Oh, Bramantya temen kamu. Kalau Fandra kenalnya sama Laras, adiknya Bram.”

“Iya saya tahu.”

Obrolan singkat terhenti sejenak ketika seseorang, yang sepertinya ulama, mulai berbicara untuk memimpin doa. Di tengah-tengah suara yang menggema membacakan doa-doa, aku merasa asing sendiri.

Kuedarkan pandangan ke semua orang yang ada di ruang depan di mana para pria berkumpul, mataku terpaut pada Fandra, menatapnya yang sedang khusyuk membaca doa.

Melihat Fandra seperti aku melihat Om Andre. Cerita mereka hampir sama. Jika aku mau aku bisa membuat ceritanya menjadi berbeda, benar-benar berbeda. Tapi, apakah masih mungkin?

Aku merasa ada dorongan emosi yang sangat kuat menghentak membuat dadaku sesak. Sepercik ketakutan menguasai hatiku. Seakan-akan aku sudah sangat jelas melihatnya akan berpaling dariku dan aku mulai menyalahkan diri sendiri.
disya1628
oktavp
JabLai cOY
JabLai cOY dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.