- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.3K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#86
Sang Kunti

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba untuk mengenyahkan perasaan sesak yang kurasakan saat mendengarkan cerita Sofi barusan.
Hening.
Tak ada yang berbicara.
Kami semua seakan terhipnotis dan tenggelam dengan cerita Sofi.
Hanya suara hujan dan petir saja yang sesekali menggelegar dilangit yang terdengar.
Kami semua mungkin akan tetap diam ditempat apabila tiba-tiba dari arah villa, kembali terdengar suara jeritan yang sangat keras.
"Aaaaaaaahhhhh...!"
Secara refleks, kepala kami semua menoleh kearah sumber suara diatas sana. Lalu kami berpandangan satu sama lain dengan tatapan mata penuh tanda tanya.
Bisa diartikan kalau tatapan mata mereka itu mengandung kalimat, "apa itu?"
Aku menggeleng cepat lalu berkata.
"Sudah dua kali ini terdengar suara jeritan seperti itu. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan teman-teman kita yang masih ada didalam villa."
Lalu kembali hening.
Sepertinya mereka juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Antara menolong teman-teman kami, atau mendiamkannya saja. Karena takut dengan makhluk-makhluk gaib yang berada didalam villa.
"Gimana, ndra?"Tanya Inas memecahkan kesunyian.
Aku masih diam. Mencoba berfikir harus apa.
"Kita kearah pintu depan saja kalau gitu," usul Gatot.
"Jangan," cegahku.
"Kenapa?" Tanya Gatot.
"Karena didepan villa sekarang ini ada ular buntung yang pernah kita lihat sore tadi," jawabku.
"Apa? Ular buntung?" Tanya Gatot.
Aku mengangguk.
"Pasti ini gara-gara Yusuf yang nendang sesajen disamping villa sana tadi," kata Gatot kesal.
"Mungkin saja," desahku.
"Terus, sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Sri yang sedari tadi diam.
Aku memandang perempuan berkulit sawo matang itu.
Bola hitam dimataku dengan spontan mengarah kebawah perutnya. Lalu tersenyum nakal.
"Sayang malam hari, jadi gelap gak keliatan," kataku dalam hati sambil mengulum senyum.

Sri yang mungkin sadar dengan cengiranku langsung mencubit lenganku dengan keras.
"Aduh," seruku sambil bergeser sedikit kebelakang.
"Matanya," kata Sri jengkel.
"Hehehe...," Aku tertawa.
Tiba-tiba aku teringat akan satu hal.
"Tot," kataku pada laki-laki bertulang lunak ini.
"Apa?"
"Kamu simpan nomer penjaga villa ini gak?" Tanyaku.
"Ada,"
"Mana? Sini, aku pinjam buat hubungin dua," kataku dengan tangan terjulur.
"Ketinggalan di dapur," jawabnya santai.
"Aduh...," Kataku sambil menepuk jidat.
Tapi, tiba-tiba saja ada kami mendengar seseorang yang tertawa. Oh maaf, tepatnya sesosok makhluk yang tertawa.
"Hihihihihi...,"
Serrr...

Leher ini seperti diguyur dengan air dingin. Semua bulu halus dilenganku tiba-tiba saja berdiri. Seluruh pori-pori diwajahku ikut mengembang. Yang membuat wajahku seperti digerayangi oleh ratusan semut.
Inas yang saat itu tengah menghadap kearah hutan, bergerak gelisah. Hal ini membuat kami penasaran. Apakah ia melihat sosok wanita bergaun panjang itu?
"Ada apa?" Tanyaku disela-sela kengerian.
Dengan mata masih terus menatap kearah hutan. Inas menggerakkan tangannya. Menunjuk kesebuah arah.
Kami semua mungkin tahu, apa yang Inas tunjuk. Tapi, tetap saja leher kami mengikuti arah yang Inas tunjukan.
Disana...
Diantara sela-sela pepohonan yang tumbuh didalam kerapatan hutan. Tampak sesosok makhluk yang bernama kuntilanak.

Sosoknya tak begitu jelas, karena sebagian tubuhnya terhalang oleh semak-semak perdu yang lumayan lebat. Juga karena hujan yang mengguyur dengan begitu derasnya.
Kami membeku.
Suara tawanya berubah menjadi tangisan ketika kami menyadari keberadaannya. Ia seolah-olah menangisi nasib kami semua yang terlihat begitu menyedihkan.
"huhuhuhu...,"
Suara tangisannya begitu dalam. Sehingga seolah-olah masuk jauh kedalam relung hatiku. Bahkan sampai saat ini, saat menulis part ini, aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ia menangis.

Suaranya tangisnya yang timbul tenggelam akibat berhadapan dengan suara hujan, terus terdengar beberapa saat. Dan anehnya lagi, kami berenam juga tidak bisa bergerak sama sekali.
Khusus bagiku, hal ini seharusnya sudah mulai biasa. Mengingat bagaimana pengalamanku beberapa bulan yang lalu. Disana, aku bahkan bisa dengan gagahnya berkelahi melawan mereka. Dan normalnya, kalau hanya harus menghadapi makhluk sebangsa kuntilanak ini, aku harusnya bisa melawannya, atau setidaknya biasa saja gitu.
Tapi...
Kenyataan berkata lain.
Ternyata aku masihlah manusia biasa yang penuh dengan rasa takut. Apalagi, aku saat ini dikelilingi oleh teman-temannku yang notabenenya awam dengan hal-hal seperti ini.
Mungkin, benar rumus matematika kini telah terjadi kepadaku. Positif ( berani ) X negatif ( takut ) hasilnya akan negatif ( takut ).
Kembali ke cerita...
Mendengar tangisan kuntilanak itu, membuat kami semua terdiam. Bukan menghayati, apalagi menikmati.
Akulah yang kemudian tersadar pertama kali. Aku menampar pipiku beberapa kali agar ketakutan yang menguasaiku sedikit menghilang dan aku bisa leluasa bergerak kembali. Sungguh, kami semua seperti terhipnotis olehnya.
Dan, begitu aku sadar, kuntilanak itu ternyata sudah bergerak maju!
posisi kami saat itu

Gatot, berada paling dekat dengan sang Kunti yang berjalan mendekat. Aku yang sadar bahwa akulah yang bisa bergerak, segera mengambil tindakan.
Kutarik tubuh gemuknya agar ia sedikit menjauh dari jangkauan sang Kunti. Ia segera kuletakan dideretan para perempuan. Kini, akulah yang berada paling depan.
Begitu kelima tubuh teman-temanku sudah berkumpul dibelakangku semua. Mereka berlima seperti tersadar dengan bersamaan.
Kulirik mereka semua tampak berpelukan satu sama lainnya. Dalam hati aku sedikit kesal.
"Kampret, kenapa aku juga enggak dipeluk,"

Lalu, entah ada angin apa yang masuk kedalam tubuh ini. Melihat kelima temanku tak berdaya, aku lalu berbuat nekat.
Tiba-tiba saja aku berdiri tegak. Berhadap-hadapan langsung dengan sang kuntilanak!
Jarak kami hanya sekitar 2 meter. Bisa kulihat dengan jelas wajahnya yang sedikit tertutup oleh rambutnya yang gimbal panjang. Kemudian wajahnya yang pucat, mata yang menatapku dengan tatapan mata yang kosong, hampa tanpa ada kilatan kehidupan didalamnya, lalu tingginya yang sama denganku.
"Berarti makhluk ini bukan satu kelompok dengan makhluk-makhluk yang ada didalam villa tadi," batinku.
Bau apek dan amis yang menguar dari tubuh si Kunti, membuatku kesulitan untuk bernafas. Megap-megap aku berusaha mencari udara segar untuk mengisi paru-paruku.
Tak ada suara.
Hening.
Hanya ada suara hujan, dan tangisan-tangisan kecil yang berada dibelakangku yang terdengar.
"Ep..p..pe...pergi...," Bentakku dengan suara yang hampir tak terdengar karena saking gugup dan takutnya.
Tak ada balasan.
Tak ada gerakan.
Sepi.
Matanya yang penuh kehampaan masih memandang kearah...Sri!
"Gawat," desisku begitu mengetahui ada sesuatu yang tidak beres. Dan ditambah lagi dengan kondisinya yang tengah haid. Tanpa pembalut lagi
.Kini, mau tak mau, aku harus membuat pilihan.
"Bangun...," Kataku pelan kepada kelima orang temanku.
Mungkin, karena tak terdengar, atau karena mereka berlima masih diselimuti oleh rasa takut. Mereka masih tetap duduk bersimpuh dibelakangku.
"Hi...hi...,"
Kuntilanak didepanku mulai membuat suara-suara aneh.
Jantungku mulai berpacu kembali.
"Secepat mungkin kami semua harus berlari, menghindari tempat ini," kataku dalam hati.
Lalu, dengan menekan rasa takut didalam diriku, aku lalu berkata keras, hampir berteriak malah karena saking gugupnya.
"LARI! SELAMATKAN DIRI KALIAN!"
Maka, seperti tersadar dari tidurnya yang panjang, kelima temanku itu langsung bangkit berdiri.
Dan...mereka langsung berlari... terpencar!

Aku, yang melihat hal ini dari sudut mataku menggeram marah. Sehingga membuatku kembali berteriak
"bodoh! JANGAN NYEBAR!"
Tapi sia-sia saja, karena mereka berlima sudah berlari menjauh.
Gatot, Sofi, dan Wulan, berlari ke arah kiri. Sedangkan Inas dan Sri, berlari kearah kanan.
Kini, tinggalah aku berdua dengan si kuntilanak itu. Berdiri berhadap-hadapan. Namun, meskipun demikian, mata makhluk ini tidaklah menatapku. Tapi, bola matanya yang kecil itu bergerak. Bergerak mengikuti arah lari seseorang.
Sri!
Entah kami memiliki ikatan batin atau apa. Tapi, saat aku bergerak untuk menerjangnya, si kuntilanak ini juga bergerak dan terbang, lalu melesat kearah larinya Sri dan juga Inas.
"Anj***!" Kataku marah.
Lalu, seperti orang gila, karena aku hanya berlari dengan menggunakan celana saja, tidak memakai baju ditengah hujan deras. Aku berlari sekuat tenaga kearah Sri dan juga Inas berlari.
Kemudian, tanpa alasan yang jelas, aku mencoba memanggil seseorang.
"Nyai...datanglah,"
***
Diubah oleh papahmuda099 10-04-2021 22:34
sulkhan1981 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
Tutup
.