Kaskus

Story

gitartua24Avatar border
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT
LIMA BELAS MENIT



LIMA BELAS MENIT



PROLOG

"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.


Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.


Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.



Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.


Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.


Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai






INDEX

Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati

Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman

Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan

MULUSTRASI

Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
muhammadabiyyuAvatar border
fhy544Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.6K
1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
gitartua24Avatar border
TS
gitartua24
#720
Part 96 - Makan Malam

Menunggu emang salah satu hal yang paling membosankan dan ngeselin. Biasanya kalau gue janjian sama temen-temen gue pas mau cabut nongkrong di malem minggu, gue akan memberikan jeda waktu tiga puluh sampe satu jam di waktu yang udah kita tentukan. Itu juga biasanya masih ada aja yang belom dateng. Biasanya Rico.

Tapi sekarang beda. Entah sejak kapan menunggu menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan buat gue. Tentu aja bukan karena menunggunya, tapi siapa yang kita tunggu. Orang yang kita suka misalnya. Nunggu dia bales chat aja bisa semaleman atau berhari-hari, padahal lo tau dia ga bakalan bales chat lo, alias di ghosting, wkwkwk. Itu bukan nunggu namanya, tapi ngarep.

Tetapi setidaknya untuk sekarang gue ga perlu menganggap diri gue lagi ngarep karena gue emang sedang menunggu Putri keluar dari tempat bimbelnya. Gue bahkan rela menunggu lebih cepat sekitar lebih dari sepuluh menit buat sampe di tempat ini. Jangan harap gue melakukan hal yang sama kalau janjian sama temen-temen gue. Niat kita baik dateng sepuluh menit lebih awal, temen gue lebih baik lagi karena ngasih waktu satu jam buat nunggu-_-.

Gue sedang menunggu di atas motor gue di sebuah tempat bimbel yang ga jauh dari rumah Putri, ga terlalu jauh juga dari jalur gue pulang pergi sekolah. Tempat bimbel ini juga sejalur dengan jalan waktu dulu gue masih sering anter jemput Putri.

Sebenernya, kalau gue punya pendirian sendiri buat memilih tempat bimbel, maka gue akan bimbel di tempat ini, tempat bimbel yang sama dengan Putri. Selain karena merknya sama dengan tempat bimbel gue sekarang, cuman beda lokasi doang, tentu aja karena emang lebih deket dari rumah. Seandainya aja gue punya pendirian lebih, mungkin gue udah satu tempat bimbel bareng Putri sekarang.

Tapi kalau misalnya gue mikir kaya gitu, bisa aja gue ga bakalan jemput Putri sekarang. Ga ada jaminan dengan gue satu tempat bimbel sama Putri bakal bikin gue sama dia deket kaya dulu lagi. Bisa aja malah ga terjadi apa-apa. Emang, suatu pilihan akan menuntun pada sebuah konsekuensi dan opsi pilihan-pilihan lain. Dan hanya berandai-andai dan menyesali pilihan yang kita pilih sebelumnya ga akan mengubah keadaan sekarang, malah memperburuk.

Saat gue sadar dari lamunan gue, ternyata anak-anak yang bimbel di tempat ini satu persatu udah keluar. Gue liat jam di tangan gue, ternyata emang udah jam delapan lewat. Menyadari kalau sebentar lagi gue akan bertemu dengan Putri kembali, jantung gue kembali berdegup lebih kencang. Otak gue kembali membuat rencana tentang hal-hal apa aja yang nanti harus gue lakukan, ucapan-ucapan apa aja yang harus gue katakan. Ujung-ujungnya otak gue ngeblank lagi,wkwkwk.

Dalam kondisi normal, misalnya gue lagi nungguin temen gue, sebagai cowok SMA puber yang sedang mencari jati diri, ketika berada di lingkungan baru dan tau kalau di lingkungan tersebut banyak cewek-cewek seangkatan dari sekolah lain, mata gue seolah jadi kaya mata lalet yang bisa ngeliat 180 derajat buat mendeteksi kalau ada cewek-cewek cantik dari sekolah lain yang lewat. Ini juga berlaku waktu awal-awal gue baru masuk tempat bimbel gue yang sekarang.

Sayangnya kondisi otak dan perasaan gue sedang tidak dalam kondisi yang normal. Pikiran gue langsung memilih-milih setiap anak cewek yang keluar dari dalam pintu sampai akhirnya menemukan sosok yang gue cari dan gue tunggu. Dalam kalimat yang lebih sederhana, yang ada di otak gue saat ini adalah Putri, Putri, dan Putri.

Akhirnya orang yang gue tunggu-tunggu pun keluar. Gue memperhatikan Putri keluar bareng sama temen-temen kelasnya mungkin. Mereka ngobrol-ngobrol sebentar di depan pintu, sementara gue nunggu agak di depan di deket jalan raya, tempat gue ngedrop Putri tadi sore, tapi bisa melihat langsung ke arah pintu mereka berdiri.

Tadinya gue mau ngabarin Putri kalau gue nunggu di tempat tadi gue nurunin dia pas sore. Gue udah sampe buka HP buat nyari kontaknya Putri di bbm tapi ga ketemu, dan gue baru inget kalau kontak gue di delete, meskipun gue yakin yang ngedelete bukan Putri.

Sebenernya gue pengen langsung nyamperin Putri di depan pintu masuk, tapi ngeliat dia lagi bareng temen-temennya yang sepertinya dari sekolah lain dan gue ga kenal, ditambah kondisinya masih rame bubaran, jadi gue memutuskan untuk ga beranjak dari tempat gue menunggu saat ini.

Dari kejauhan gue bisa melihat Putri lagi ngobrol bareng temen-temennya, sepertinya lagi bahas pelajaran tadi, atau mungkin enggak juga. Gue ga tau persis ada berapa orang, tapi ada dua orang cowok disana, dan salah satu dari mereka keliatan berusaha deketin Putri. Perasaan gue doang mungkin karena posisi berdiri Putri sama si orang ini sebelahan.

Satu persatu temen Putri cabut, entah udah dijemput atau mereka bawa kendaraan sendiri. Sedari tadi gue bisa merhatiin Putri celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang, yaitu gue. Sampe lima belas menit kemudian suasana udah makin sepi dan temen-temen Putri yang cewek udah pada cabut. Tinggal Putri dan satu orang ini yang gue gak tau.

Sebenernya kalau Putri jalan sedikit ke depan seharusnya bisa langsung ngeliat gue, atau engga gue yang rada masuk sedikit ke dalem. Tapi gue tetep bertahan di tempat gue yang sekarang dan berharap Putri beranjak ke depan. Alasan gue jelas, biar ga bayar parkir, wkwkwk. ‘Gini Tre yang lo maksud perjuangan, perkara dua rebu aja jadi itung-itungan.’ Kalo beneran markir mah gapapa dah, lah ini cuman ditinggal bentar doang, wkwkwkwk.

Untungnya ga lama temen-temenya cabut Putri beranjak ke depan mencari gue, dan masih ditemani oleh seseorang yang gue ga tau siapa. Agak cemburu juga sih, tapi gue merasa untuk saat ini belom bisa bertindak banyak, jadi gue memutuskan buat menunggu.

Ternyata bener kan, ga jauh dari Putri jalan dia langsung bisa ngeliat keberadaan gue. Putri langsung ngomong sesuatu sama cowok yang dari tadi bareng sama dia, gue ga tau apa yang diomongin, tetapi sepertinya perkataan Putri cukup ngebuat dia pasrah dan balik lagi ke arah tempat bimbel, sementara Putri berjalan menghampiri gue.

“Udah lama Tre?” Tanya Putri begitu sampe di hadapan gue sambil gue kasih helm.

“Dari abis maghrib.” Jawab gue sambil ketawa.

“Seriusan ih.” Geplak, tangan gue dipukul. Ga sakit sih, cuman pura-pura aja, wkwkwk.

“Baru kok.” Jawab gue akhirnya meskipun agak kurang sesuai kenyataan. Ada kali setengah jam gue nunggu. Kalau temen gue yang bikin gue nunggu pasti udah gue maki-maki.

Waktu motor gue baru jalan, gue sebenernya sempet kepikiran buat nanya tadi yang bareng dia siapa. Cuman pengen tau aja. Agak kesel sih dikit, wkwkwk. Tapi pertanyaan tersebut gue tahan ga sampe keluar dari mulut gue. Gue takut dianggap terlalu posesif padahal bukan siapa-siapa, belom lagi takut ngebuat Putri ga nyaman. Jadi gue coba buat nyari topik lain.

“Udah makan belom Put?” Tanya gue waktu baru mulai jalan. Ujung-ujungnya nanya basa-basi.

Putri ga langsung ngejawab, gue bisa liat dari spion kalau dia lagi mikir. “Kalau sore belom sih Tre.”

Nah ini dia yang ditunggu. “Makan dulu yuk Put, mau gak? Laper nih gue.” Sambil berharap-harap cemas menunggu jawaban dari Putri, gue nyetir motor dengan kecepatan pelan.

"Makan apaan yaa enaknya?" Bukan jawab iya atau engga lagi, tapi langsung nanya balik mau makan apa.

"Nasi goreng nasi gorengan aja paling."

"Boleh deh, gue tau yang enak di deket rumah. Disitu aja yaa biar ga kejauhan."

"Okeee sip."

Akhirnya kita meluncur ke sebuah penjual nasi goreng pinggir jalan ga jauh dari rumahnya Putri. Gue coba inget-inget lagi dulu gue sering lewatin ga yaaa tukang nasi goreng ini. Tapi bodo amat dah, mau makan dimana juga yang penting bareng Putri, wkwkwk. Lagian nasi goreng gitu-gitu aja rasanya.

"Mau mesen apaan Put?" tanya gue waktu baru masuk tendanya da berdiri ga jauh dari abang yang jual.

"Hhhmmm apa yaa, lo mesen apa Tre?"

"Mi goreng paling."

"Katanya nasi goreng tadi."

"Kalau di tempat nasi goreng emang selalu pesen mi goreng kan gue Put."

"Oiya ya." Sahut Putri seolah ia baru megingat sesuatu. "Lo duluan aja deh Tre."

Akhirnya gue menyebutkan pesanan gue ke abang nasi goreng. "Bang, mi goreng satu, pedes banget, kecapnya banyakin, gorengnya digosogin."

"Ribet yaa Tre, hahaha."

"Emang udah kebiasaan kan. Jadinya lo mau mesen apaan."

"Samain aja deh."

"Yeee ribet-tibet ngikutin juga mesennya."

"Abis dulu gue pernah nyobain mi goreng yang lo pesen begitu enak sih, hehehe. Tapi gue jangan pedes yaaa." Dan gue pun menyebutkan pesanan Putri ke si penjual.

Kita akhirnya duduk berhadapa di bagian tengah meja panjang. Untungnya pembelinya lagi ga rame, jadi ga perlu nunggu lama dan gue bisa nyebutin BM gue setiap kali beli nasi goreng.

Sambil nunggu kita sempet diem-dieman beberapa saat. Jir, padahal tadi pas mesen nasi goreng udah bisa ngobrol lancar banget, ngapa sekarang jadi awkward gini.

Sempet kepikiran buat minta maaf sama Putri tentang kejadian yang dulu, waktu gue nyuekin dia pas baru naik kelas sebelas, yang akhirnya jadi penyesalan gue, tapi gue ngerasa kalau itu hanya akan ngerusak suasana. Malah ngebuat suasana jadi lebih canggung. Di otak gue terjadi beberapa skenario antara gue mengucapkan maaf atau engga. Sama-sama ana plus minusnya, tapi akhirnya gue lebih memilih untuk ga menyinggung hal itu dulu.

Gue ngerasa kalau hal itu emang ga perlu dilakukan, atau gue yang terlalu gengsi buat mengucapkan kata maaf. Tapi sebenernya gue lebih memilih menghindari drama roman picisan yang menjadi salah satu skenario yang mungkin terjadi dari otak gue. Anggap aja kita berdua udah melupakan hal tersebut dan memulai sesuatu yang baru. Untungnya Putri membuka pembicaraan duluan. Emang pecundang gue, sampe-sampe Putri yang harus buka pembicaraan, hahaha.

"Tre, tadi lo nunggu dari jam berapa sebenernya?"

Gue sempet berpikir buat bilang gue nyampe pas banget dia keluar, tapi entah kenapa hati gue memilih buat berkata yang sebenernya. "Jam delapan kurang lima belas Put, hehehe."

"Tuh kan, lo kan emang selalu dateng lebih cepet kalau jemput." Kata Putri dengan nada merasa bersalah. Lagian gue dateng lebih cepet kalau jemput Putri doang.

"Selow kali Put, dari pada telat. Lagian tadi gue ngeliat kok waktu lo baru keluar."

"Kenapa ga nyamperin aja."

"Ga enak lah, lo lagi bareng temen."

"Atau engga BBM gue gitu pas udah sampe."

"Coba lo cek lagi di hp lo ada kontak gue apa engga."

"Eh, ga ada yaaa...." Buru-buru ngeluarin hpnya dan ngecek kontanya dia. "Oiya ga ada, hehehe. Add lagi sih." Pinta Putri.

Putri menunjukkan, kemudian buru-buru gue add pinnya dia, "Lagian sih pake dihapus segala." Ucap gue tanpa berpikir.

"Bukan gue yang hapus, tapi Andra." Jawab Putri. Sekarang dia cemberut. Tuh kan salah langkah. Tadinya gue mau bilang 'kan bisa minta temen' atau alasan lainnya, tapi gue urungkan, dari pada memperburuk suasana.

"Udah yaaa..." Kata gue dengan nada datar, kemudian gue mengetik sesuatu dan dikirimkan ke Putri.

Ngeliat notif BBMnya bunyi Putri langsung ngecek hpnya, terus tertawa sambil malu-malu dan bilang "apaan sih." Melihat suasana yang gue rasa udah kembali cair, gue pun ikut tertawa.

Gue ngirim apaan emangnya di BBM Putri? Cuman ngechat dia doang kok bilang 'Hai cewek.' wkwkwk. Tapi itu cukup buat menghilangkan kecanggungan.

Ga lama makana kita pun dateng. Sambil makan kita ngobrol-ngobrol ringan tentang apa aja yang udah kita lewatin selama kelas sebelas karena kita emang ga berhubungan selama itu. Ga yang berat-berat sih, cuman ngebahas hal seru yang pernah terjadi. Tentunya kita ga membahas masalah romansa dan percintaan.

Ada satu hal yang baru gue sadari waktu lagi makan. Ini udah agak kemaleman buat nganterin Putri balik. Gue jadi ga enak sama bokap nyokapnya. Tapi Putri bilang gapapa, soalnnya dia juga ngabarin nyokapnya kalau dia balik bareng gue. Ga tau nyokapnya percaya aja atau masih inget sama gue, nyokapnya Putri cuman bales 'hati-hati.'

Menjelang jam sembilan kita memutuskan buat balik, makanannya juga udah abis. Sampai di depan rumah Putri gue sempet bilang mau salim sama bokap nyokapnya, tapi Putri bilang ga usah soalnya lagi pada istirahat juga.

Seperti kebiasaan gue dulu, gue pasti nunggui Putri sampe masuk ke dalem rumah baru gue cabut. Tapi kita sempet diem-dieman lagi beberapa saat. Gue berpikir kalau gue harus melakukan sesuatu.

"Put...."

"Iya."

"Besok gue jemput ya."

Putri ga menjawabnya dengan kata-kata, dia cuman tersenyum terus mengangguk. "Gue masuk dulu yaa, hati-hati Tre."

"Iyaa, gue cabut yaaa. Dadah."

"Daaah." Dan Putri pun masuk ke dalam rumahnya.

Di perjalanan gue kembali berpikir, sepertinya besok gue bakal melakukan rutinitas yang dulu sering gue jalanin, dan gue ga sabar buat kembali ke dalam rutinitas tersebut.
khodzimzz
itkgid
efti108
efti108 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.