- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.1K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#78
Dapur Penuh Teror
Sofi terdiam sebentar.
Sambil tetap memandangku, ia kemudian bercerita...
"Setelah kita selesai melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Kami, para perempuan, dibantu dengan Gatot pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan ringan dan juga mempersiapkan acara bakar-bakar pada malam harinya,"kata Sofi memulai ceritanya.
Akupun segera menempatkan diri untuk mendengarkan ceritanya dengan seksama.
Sofi POV
"Masak apa nih kita?" Tanya Sri membuka obrolan di dapur.
Gatot, yang secara tidak langsung memimpin pasukan dapur, segera memberikan perintah.
"Sekarang kita masak yang ringan-ringan aja dulu. Soalnya nanti malamkan kita mau ngadain acara barbeque-an. Jadi biar nanti pas acara itu perut gak terlalu kenyang,"
Kami semua menyetujui perkataannya.
"Mumpung lagi ujan, plus udara lagi dingin. Kita masak pisang goreng aja," usulku.
"Oke, mbak," jawab Wulan.
Dan, kami semua dibawa arahan Gatot segera membagi-bagi tugas.
Aku dan Wulan bertugas untuk membuat pisang goreng. Semua bahan-bahannya memang kami bawa disebuah box besar, yang kami persiapkan dari rumah.
Box itu, sudah berada didapur. Isinya selain berbagai macam jenis bumbu-bumbu, juga ada pisang, singkong, dan daging. Maklum, ibu-ibu. Jadi setiap kemana-mana, pasti selalu detail dengan berbagi macam persiapan. Khususnya dapur.
Sedangkan Gatot, dibantu oleh Inas dan Sri. Mempersiapkan bumbu untuk acara barbeque-an nanti malam.
Hujan yang turun dengan lebat, disertai dengan gelegar petir tidak membuat pekerjaan kami didapur terganggu.
GIF
Aku justru merasa, bahwa tugasku dan juga Wulan harus segera diselesaikan dengan cepat. Kasihan para laki-laki didepan sana.
Terutama orang itu
.Akh...aku merasa sedikit malu mengingat dirinya. Aku berusaha keras untuk mencoba bersikap judes, agar perasaanku itu tak muncul kembali.
Ditengah asyiknya kami bergurau didapur, tiba-tiba Sri mengeluh sakit sambil memegangi perutnya.
Inas, yang duduk disampingnya segera bertanya.
"Kamu kenapa, Sri?"
"Aku lagi datang bulan, Nas. Jadi suka agak sakit diperut sini," jawab Sri sambil melanjutkan kegiatannya.
"Lho, kok sama," kataku sambil menunjuk kebawah.
"Ih...jorok," kata Gatot.
Seketika kami semua tertawa.
Ditengah-tengah kesibukan kami, Inas berkata.
"Tumben amet, itu yang didepan pada sepi. Biasanya laki-laki kalau pada kumpul suka teriak-teriak gak jelas,"
"Sama suka pada ngomongin yang mesum-mesum," timpal Sri sambil tertawa
."Dih, aku enggak gitu lho," kata Gatot sedikit merajuk.
"Iya iya, kalau bapak guru mah pasti sopan," kata Wulan menengahi.
"Tuh...dengerin," kata Gatot tersenyum.
Sebuah kilat tiba-tiba muncul, diiringi suara petir yang menggelar. Membuat kami terkejut.
"Gede banget petirnya," kataku pelan.
"Iya, kalau ujannya gak berhenti-henti. Bisa-bisa acara bakar-bakar kita jadi gagal," kata Inas.
"Mudah-mudahan cepet reda, mbak," timpal Wulan.
"Aamiin," jawab Gatot.
Sri tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya dan berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Gatot
"Kayaknya udah waktunya ganti pembalut nih," jawab Sri.
"Eh, bentar ya. Aku kekamar dulu," katanya kemudian seraya berjalan ke kamarnya yang bersebelahan dengan dapur.
Tapi, beberapa saat kemudian, Sri tiba-tiba saja kembali datang dengan wajah sedikit pucat.
Aku yang khawatir segera mendekatinya.
"Kamu kenapa, Sri?" Tanyaku sambil memegang tangannya.
Aku kaget karena kurasakan tangan Sri sangat dingin. Saat kulihat lebih dekat, tangannya banyak sekali mengeluarkan keringat dingin.
"Ayo sini-sini," kataku sambil membawa Sri untuk duduk ditengah-tengah kami.
Kami semua segera menghentikan kegiatan yang kami lakukan. Semuanya segera duduk didekat Sri.
Wulan berinisiatif untuk mengambil air minum diruang tengah. Dengan langkah cepat ia berjalan sambil membawa gelas.
Tapi, tiba-tiba saja ia kembali kedapur. Seperti terjadi sesuatu yang ganjil kepadanya.
Wulan kulihat langsung duduk didekat Gatot. Tak ada air yang dibawanya. Gelasnya masih kosong.
"Kenapa lagi anak ini?" Tanyaku dalam hati dengan terheran-heran.
Aku ingin bertanya padanya tentang apa yang terjadi kepadanya. Tapi kulihat, raut wajahnya seperti orang yang tidak ingin berkata apapun pada saat ini.
"Sri...," Kata Inas sambil memeluknya, "Ada apa? Coba ceritakan pada kami," bujuknya.
Sri memandang wajah Inas, lalu dengan sedikit menunduk ia berkata dengan terbata-bata.
"T...tadi, saat aku mau ganti pembalut dikamar mandi. Tiba-tiba saja ada wajah yang muncul dari tembok. Saking takutnya, aku gak jadi ganti. Aku langsung lari lagi kesini,"
Belum sempat Inas menanggapi ceritanya, Wulan tiba-tiba juga ikutan berkata.
"Iya mbak, aku juga liat sesuatu dideket kamar kita."
Kami semua, termasuk Sri, langsung melihat Wulan.
Wajahnya memang kulihat agak pucat dengan raut wajah yang menunjukkan ketakutan.
Gatot yang sedari tadi diam kemudian berkata.
"Makhluk cewek apa cowok?"
"Cewek, mas. Rambutnya panjang," jawab Wulan.
"Kuntilanak kali ya," ujar Gatot.
"Husss...," Aku langsung mencoba untuk menghentikan percakapan itu.
"Mereka itu sangat sensitif. Mereka akan tahu kalau kita lagi ngomongin mereka. Daripada tau-tau muncul, udahan aja ngomonginnya," kataku.
Mereka semua langsung terdiam.
"Jadi, sekarang kamu pakai pembalut enggak?" Tanyaku pada Sri.
Ia menggeleng pelan.
Aku menarik nafas panjang. Berusaha untuk mengatur perasaan hatiku saat ini.
Aku lalu menoleh kearah Gatot.
"Tot, kamu coba panggil anak-anak didepan. Suruh pada kesini," pintaku.
Gatot mengangguk.
Ia lalu berdiri dan hendak berjalan keluar dapur.
Tapi, tubuh gemuknya tiba-tiba saja kembali muncul dengan berjalan mundur.
"Ada apa, mas?" Tanya Wulan, ada sedikit raut kecemasan diwajahnya.
Gatot tak menjawab pertanyaan Wulan. Tapi ia seperti memanggil kami dengan isyarat tangannya.
Kami semua yang penasaran, segera berdiri mendekati Gatot yang berdiri sambil tetap mengarahkan pandangan matanya ke depan.
Keruang tengah.
Hanya Sri yang masih berdiri ditempatnya.
Saat kami menengok ke arah yang Gatot lihat, sekujur tubuhku langsung terasa menegang. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat daripada biasanya. Seluruh bulu halus ditubuhku seakan berdiri.
Gatot, aku, Inas dan Wulan berdiri membeku melihat 2 makhluk tinggi berwujud seperti kuntilanak, berjalan secara perlahan-lahan ditengah-tengah ruangan. Tinggi keduanya hampir menyentuh atap plafon villa.
Tapi, Inas ternyata melihat hal yang lainnya.
Tangannya tiba-tiba saja bergerak menunjuk ke satu titik.
Kamar mandi di seberang dapur!
Aku memicingkan mataku untuk melihat kearah yang Inas tunjukan.
Kebetulan, kamar mandi itu lampunya dimatikan. Tapi, samar-samar aku bisa melihat ada sesuatu disana.
mulustrasi

Ada sesosok tinggi berbaju putih kumal. Rambutnya yang panjang menjuntai kebawah. Tak bisa kulihat wajah sosok itu. Namun, ada satu hal yang cukup untuk membuatku mengambil sebuah keputusan.
Lari!
Samar-samar sosok dikamar mandi itu kulihat menunjukan jari jemari tangannya kearah kami!
"Teman-teman...,"Kataku tertahan.
Tak ada jawaban.
Masing-masing dari kami sibuk dengan perasaan masing-masing.
Dan, aku tiba-tiba saja baru menyadari akan satu hal.
Hening...
Ya, entah kenapa, semua suara tak ada yang terdengar. Baik itu suara hujan, ataupun suara dari teman-temanku yang sedang berada diruang tamu.
Didalam keheningan itu, tiba-tiba muncul sebuah suara daun pintu yang terbuka.
"Krieeeet...,"[/B]
Suaranya sungguh mengejutkanku.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, daun pintu yang terbuka adalah pintu dapur yang mengarah kebelakang!
GIF
Aku ingin menoleh ke arah sumber suara. Tapi leherku ini entah kenapa terasa sangat kaku. Sangat dingin rasanya. Seperti ada sebuah tangan yang menggenggam erat leherku.
Aku hanya bisa menggerakkan kedua buah bola mataku.
Ternyata, teman-temanku yang lain juga mengalami hal yang sama denganku. Mereka semua masih tetap berdiri di tempat masing-masing.
Kemudian dari belakang, tiba-tiba saja terasa seperti ada hawa dingin yang masuk kedalam area dapur

Disusul dengan munculnya sesosok tubuh tinggi berpakaian serba putih, dengan rambut panjangnya yang hampir menyentuh lantai.
GIF
Aku tak bisa melihat wajahnya. Karena sakit giginya sosok itu, juga karena aku tak bisa menggerakan tubuhku untuk mendongak keatas.
Tercium aroma busuk seperti bangkai yang sudah berbulan-bulan tak diurus. Baunya sangat busuk, hingga perutku seperti diaduk-aduk oleh sesuatu yang tak tampak. Yang menyebabkan aku ingin sekali muntah.
Setelah cukup lama, sosok itu lalu melewati kami begitu saja dan berjalan kearah ruang tengah.
Namun, keanehan kembali kulihat.
Diluar kondisi saat itu sedang hujan lebat. Juga, setahuku di belakang villa itu ada halaman kecil yang kesemuanya masih dalam bentuk tanah.
Jadi, seharusnya siapapun itu bila ia masuk setelah melewati halaman belakang pasti kakinya akan kotor. Tapi saat itu yang kulihat adalah, tidak ada bekas tapak kaki yang sosok itu tinggalkan di belakangnya.
Kami semua seperti terhipnotis dengan makhluk tinggi itu.
Dan sepertinya kami akan tetap terus berdiri disana, apabila tidak ada Sri yang tiba-tiba saja menyentuh pundak kami satu persatu.
[I]"Lari...," Ujarnya pelan.
"Hah?" Tanya Inas masih tak paham.
"A...ayo kita lari dari sini...," Kata Sri lagi dengan suara pelan dan terbata-bata.
Aku, yang memang sudah merencanakan akan hal ini langsung mengangguk.
"Kemana?" Tanya Wulan dengan wajah cemas.
Sri terdiam.
Ia juga sepertinya bingung, hendak lari kemana sekarang.
Berlari kedepan?
Jelas tidak mungkin. Karena diruang tengah itu, sudah berkumpul beberapa sosok tinggi berambut panjang itu.
"Kebelakang aja," kata Gatot mengusulkan.
Tanpa ada komando lagi, kami semua serentak berjalan cepat kearah pintu keluar.
Tapi, ditengah ketakutan kami, Gatot tiba-tiba saja berbalik.
"Ada apa?" Tanyaku cemas.
"Belum matiin kompor," jawabnya cepat
.Aku sedikit ngedumel, tapi memang ada benarnya juga tindakannya itu.
Setelah selesai mematikan kompor, Gatot kembali berkumpul bersama kami tepat didepan pintu dapur yang masih terbuka.
Kami berempat lalu mendorong Gatot agar ia memimpin di depan. Dan mau tak mau ia pun menurutinya.
Ia aku lihat sedikit melongokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, melihat apakah di belakang villa ini aman atau tidak.
Setelah Gatot merasa keadaan cukup aman, ia segera memberikan kode kepada kami agar kami berjalan keluar.
"Tutup lagi pintunya," kata Gatot setengah berbisik.
Sri, yang berjalan paling belakang segera bermaksud untuk menutup pintunya.
Tetapi, saat tangannya baru saja hendak mendorong gagang pintu. Sebuah tangan kasar tiba-tiba saja mencengkram tangannya.
"Grep,"
"Aaaaahhhhh.....!"
Sri langsung berteriak dengan histeris sembari menarik tangannya.
Sontak, mendengar teriakan Sri itu, sudah cukup untuk membuat derajat ketakutan kami semua memuncak.
Dan ya...
Kami semua ikutan menjerit, termasuk Gatot.
"Aaaaaaaahhhhh....!"
Kami berlima langsung berlari pontang panting menuju ke halaman belakang villa, yang berbatasan langsung dengan hutan lindung.
Didalam kegelapan malam, juga ditengah-tengah derasnya hujan. Membuat pandangan mata kami sedikit berkurang.
"Aduh!"
Gatot tiba-tiba saja berteriak seraya mengangkat sebelah kakinya.
Kakinya terluka dengan mengeluarkan sedikit darah segar.
Aku yang berlari tepat dibelakangnya, masih sempat melihat ada sesuatu, atau sesosok tubuh yang tengah berbaring diatas tanah. Dan tangan dari sosok inilah yang melukai kakinya Gatot.
Berpikir bahwa ditempat itu juga tak aman. Maka aku tak menghentikan lariku. Sehingga, badanku langsung saja menabrak ketubuh gemuknya Gatot.
"Bruk,"
"Aduh...,"
"Aaahhh...!"
Aku dan Gatot langsung terjatuh kedalam tebing.
"Bruk...bruk...bruk...,"
Teman-teman yang dibelakangku juga rupanya ikutan masuk dan terjatuh ketebing ini.
Tiba-tiba saja, terdengar suara cekikikan yang berasal dari atas kami.
"Hihihihihi...,"

Disusul kemudian, dengan sesosok tubuh yang terbang diatas kami. Lalu, sosok itu terbang masuk kedalam hutan.
***
Diubah oleh papahmuda099 03-04-2021 20:11
nanamo dan 30 lainnya memberi reputasi
31