- Beranda
- Ask da Boys
Pengalaman Sunat Dewasa?
...
TS
antoni84
Pengalaman Sunat Dewasa?
Halo agan2, mau nanya soal pengalaman setelah beberapa tahun sunat dewasa, apa yg dirasain?
1. Mulai dr glan perubahan glan penis?
2. Sensitivitas dr glan penis?
3. Performance saat berhubungan sex?
4. Puas dengan hasil sunatnya?
Terima kasih
1. Mulai dr glan perubahan glan penis?
2. Sensitivitas dr glan penis?
3. Performance saat berhubungan sex?
4. Puas dengan hasil sunatnya?
Terima kasih
rooney47 dan 13 lainnya memberi reputasi
10
18.1K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Ask da Boys
3.7KThread•5.7KAnggota
Tampilkan semua post
endang1990
#31
Aku jadi ingat pengalaman waktu pertama kali mengkhitan seorang diri. Bermula ketika dua sahabatku menghubungiku menanyakan kesediaan ku untuk membantu mereka mengkhitan 3 orang anak jalanan asuhan mereka. Mendengar permintaan itu aku juga jadi bimbang. Aku memang sudah pernah beberapa kali mengkhitan tapi anak umur 5-10 tahun (info dari reman umur 17 an). Tapi, kebimbangan itu berhasil aku atasi, aku yakinkan diriku sendiri tidak terjadi apa2.
Di hari “H” hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil, pertama kali seorang diri dan langsung 3 orang sekaligus. Aku memandang wajah anak-anak yang akan ku khitan, “ah kasihan memang sudah waktunya mereka harus dikhitan, dua orang berusia 17 thn dan satu orang 19 thn,” sambil terus berdoa memohon kemudahan dan keselamatan. Tanganku juga gemetar ketika akan memulai. Untungnya semua pasienku sudah besar dan tenang, aku merasa jauh lebih mudah ketimbang mengkhitan anak kecil yg biasanya mengamuk dan menendang-nendangkan karena ketakutan.
Pasien Saya suruh Buka celana dan berbaring (selama aku melakukan proses anastesi dan membersihkan smegmanya) dia terus memandangi wajahku.. Sesaat aku sudah akan memotong foreskin-nya, dia menangis sambil menggigit bibirnya. Aku sempat berpikir “wah kok ketakutan juga ya.” Kemudian terlintas dalam hatiku “wah gawat kalau dia sampai ngamuk dan nendang-nendang, pasti lebih sulit dipegangin, apalagi hanya dengan tenaga dua orang perempuan sahabatku yg mendampinginya.”
Salah seorang sahabatku mencoba menenangkan dia dengan mengatakan “ga sakit kok, ga lama kok.” Sahabatku yang lain pun bertanya “takut ya, sakit ya?” anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian aku bertanya “kalo ga takut kok kamu nangis ?” Sambil masih nangis sesegukan anak itu menjawab terima kasih sudah disunat dan tidak sakit seperti yg dibayangkan”
Di hari “H” hatiku tetap dag dig dug, masih ragu dengan pilihan yang kuambil, pertama kali seorang diri dan langsung 3 orang sekaligus. Aku memandang wajah anak-anak yang akan ku khitan, “ah kasihan memang sudah waktunya mereka harus dikhitan, dua orang berusia 17 thn dan satu orang 19 thn,” sambil terus berdoa memohon kemudahan dan keselamatan. Tanganku juga gemetar ketika akan memulai. Untungnya semua pasienku sudah besar dan tenang, aku merasa jauh lebih mudah ketimbang mengkhitan anak kecil yg biasanya mengamuk dan menendang-nendangkan karena ketakutan.
Pasien Saya suruh Buka celana dan berbaring (selama aku melakukan proses anastesi dan membersihkan smegmanya) dia terus memandangi wajahku.. Sesaat aku sudah akan memotong foreskin-nya, dia menangis sambil menggigit bibirnya. Aku sempat berpikir “wah kok ketakutan juga ya.” Kemudian terlintas dalam hatiku “wah gawat kalau dia sampai ngamuk dan nendang-nendang, pasti lebih sulit dipegangin, apalagi hanya dengan tenaga dua orang perempuan sahabatku yg mendampinginya.”
Salah seorang sahabatku mencoba menenangkan dia dengan mengatakan “ga sakit kok, ga lama kok.” Sahabatku yang lain pun bertanya “takut ya, sakit ya?” anak itu menggelengkan kepalanya. Kemudian aku bertanya “kalo ga takut kok kamu nangis ?” Sambil masih nangis sesegukan anak itu menjawab terima kasih sudah disunat dan tidak sakit seperti yg dibayangkan”
5samuel543 memberi reputasi
1
Tutup