Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#69
Tangisan Di Malam Hari





"Ada suara menangis....,"Desahku dalam hati.

Saat ini, posisi menjadi serba salah. Mau maju, ada suara tangisan. Mau mundur, takut ada anggota blekping yang tinggi-tinggi tadi tau-tau nengok. Kan berabe urusannya.

"Waduh...," Gumamku kebingungan plus ketakutan.

"Dahlah... daripada lawan 4 cewek, mendingan ngadepin 1 cewek aja," kataku memutuskan untuk maju saja.

Dan, dengan diiringi bacaan basmalah. Aku mulai melangkahkan kakiku kebelakang villa.



Di belakang villa, ada sebuah teras yang bisa digunakan untuk bersantai sambil memandang pemandangan alam dengan view gunung Slamet.

Tadinya, kami semua merencanakan untuk melakukan acara api unggun dan bakar-bakar di belakang villa ini. Tetapi apalah daya, villa kami malam ini malah mendapatkan tamu yang tak diundang, sehingga menggagalkan acara ini.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari-cari sumber suara tangisan itu.

Tapi lagi-lagi aku tak menemukan siapapun disana.

Sebenarnya saat itu aku ingin berteriak memanggil nama-nama teman-teman perempuanku dan Gatot. Akan tetapi setelah aku pikir-pikir lagi, takutnya suara teriakan itu mengundang perhatian dari sesuatu yang sedang menangis itu.

Karena kondisi teras belakang villa yang cukup terang, membuat keberanianku sedikit muncul.

Sebelum bergerak, aku menutup pintu belakang villa itu terlebih dahulu. Takutnya, ada salah satu dari keempat anggota blekping itu yang menyusul ku kesini emoticon-Ngakak.

Dengan menajamkan indera pendengaranku, aku berusaha mencari arah dari sumber suara tangisan itu.

Di antara derasnya air hujan yang turun dari langit, serta suara petir yang menggelegar bersahut-sahutan. Aku terus mencoba mendeteksi di mana keberadaannya.

"Dari arah hutan," desisku setelah aku merasa yakin, bahwa suara tangisan itu berasal dari sana.

Jujur, aku merasakan ada kejanggalan dari suara tangisan itu. Jika, itu adalah suara tangisan dari makhluk yang bernama kuntilanak. Maka sesuai dari pengalamanku yang sudah-sudah, suaranya pasti akan terdengar dalam dan membuat tubuhku seperti dijalari oleh ratusan semut. Selain itu, suara tangisan dari kuntilanak, itu seperti datar tapi masuk kedalam kepala. Sehingga mau sepelan apapun suara tangisannya, pasti akan terdengar oleh telinga kita.

Nah kalau yang ini nggak.

Suara tangisannya itu itu sedikit naik turun. Seperti tertahan tahan. Dan yang membuatku lebih yakin lagi kalau suara tangisan ini bukan tangisan dari kuntilanak adalah, ada suara sesenggukan yang keluar dari mulut yang menangis ini. Suaranya cempreng, tanpa bisa membuat bulu kudukku berdiri, yah...meskipun aku tetap aja merasa takut sih emoticon-Takut.

Tapi, aku tidak begitu saja mempercayai bahwa tangisan ini adalah tangisan manusia.

Kenapa?

Siapa juga orang yang mau maunya nangis-nangis malam-malam di dalam hutan plus, kondisi cuaca lagi hujan deras.

Tapi rasa penasaran membuatku ingin lebih tahu tentang sosok yang menangis ini.

Aku berjalan lebih mendekat kearah pagar yang menghalangi villa ini dengan tepian hutan.

FYI, diantara villa bagian belakang, dengan tepian hutan. Itu ada sebuah tebing, yang kira-kira sedalam 3 meteran. Sehingga villa ini, posisinya lebih tinggi daripada tepian hutan.

kaskus-image
denah belakang villa


Sebuah pikiran tiba-tiba datang dan terlintas di kepalaku.

"Apa mungkin itu teman-teman perempuan?"

Berpikir sampai situ, aku segera bergegas menuruni anak tangga yang berjumlah 4 itu.

Aku sudah tidak memperdulikan lagi derasnya air hujan yang turun dari langit yang membuat pakaianku basah kuyup.

Dan saat aku menginjak tanah, sini aku bisa melihat jelas ada banyak sekali di cap kaki yang mengarah ke arah tebing.

"Oh, mudah-mudahan bener ini mereka,"kataku dalam hati sambil bergegas berjalan.

Sesampainya di tebing yang menjorok ke bawah, aku melongokkan kepala.

Dan benar saja, ternyata di sana ada lima orang temanku.

Inas, Sofi, Sri, Wulan, dan Gatot!

Mereka berlima kulihat tengah meringkuk saling berdempetan. Dan, yang menangis ternyata adalah Gatot emoticon-Hammer2.

Dari jejak-jejak yang ada di tanah, kemungkinan besar mereka berlima seperti terperosok atau sengaja menjatuhkan diri ke tebing itu. Karena ada bekas seperti garis besar yang memanjang persis ditepian jurang.

Aku melihat ke kiri dan ke kanan, untuk bisa melihat adakah jalan yang bisa kulalui untuk bisa menghampiri mereka. Tapi sayangnya jalan itu tidak ada.

Karena takut suara tangisan Gatot terdengar oleh ke 4 mahluk tinggi di dalam villa. Aku mencoba memberikan isyarat dengan cara berbisik.

Tapi karena aku juga masih ada rasa takut, maka tak ada satupun suara bisikan yang keluar dari mulutku.

Karena terburu-buru ingin memberikan isyarat, aku lalu memutuskan untuk membuka kaosku dan melemparnya ke arah Gatot.

"Plak,"

Kaosku yang sudah basah itu tepat menimpa kepala Gatot.

Kelima temanku sontak terkejut dan terdiam. Hampir secara bersamaan mereka melihat ke atas.

Aku segera melambaikan tanganku saat mereka melihat ke arahku. Kemudian, aku segera meletakkan telunjuk dimulutku, memberikan isyarat kepada Gatot agar diam.



Wulan kulihat mengerti dengan isyarat yang kuberikan.

Iya aku lihat segera menekap mulut Gatot agar ia diam.

Untungnya, Gatot juga paham dengan perbuatan Wulan. Ia kulihat mengangguk.

Tiba-tiba, dari arah dalam villa, terdengar suara teriakan yang sangat keras.



Mendengar suara itu, sontak tubuhku seperti dialiri listrik. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Tubuhku gemetaran.

Lalu, tanpa menunggu lama lagi, aku segera memprosotkan diri kebawah tebing. Bergabung dengan Inas dkk.

Naas, karena terburu-buru, aku malah jatuh tepat ditengah-tengah mereka.

"Bruk,"

"Aduh...,"


Aku sendiri merasa tak ada yang sakit. Tapi, aku sangat terkejut melihat tubuhku, ternyata jatuh diatas Wulan!

Dan tanganku...

Tanganku ini tepat bertumpu diatas...

Akh...itulah pokoknya.
emoticon-Malu

Aku segera bangkit dan duduk.

Teman berpura-pura sedikit kesakitan, aku menoleh kearah semua orang.

"Maaf...maaf, ada yang sakit gak?" Tanyaku pada mereka, dan agak sedikit kikuk, melihat kearah Wulan.

"Gak papa, mas," jawab Wulan seperti mengerti bahwa pertanyaanku itu ada sangkut pautnya dengan yang terjadi barusan. Untungnya, karena keadaan yang agak gelap, kejadian tadi sepertinya, luput dari pandangan yang lainnya.

Dikelompok kami, memang wulanlah yang berusia paling muda. Bila rata-rata kami semua kelahiran 89-90, Wulan sendiri kelahiran 91. Dan, sudah menjadi kebiasaan Wulan untuk memanggil orang-orang yang berusia diatasnya dengan sebutan mas, atau mbak. Meskipun kami sekelas. Memang anak yang sopan. Dan karena itulah, hanya Wulan, satu-satunya anak perempuan cantik di kelasku waktu itu, yang tidak aku dekati.

Karena dari dulu aku selalu memegang sebuah prinsip.

Aku akan menghormati seorang perempuan, yang mampu menghormati dirinya sendiri.


Aku pun lalu bertanya kepada Gatot dengan setengah berbisik.

"Kamu kenapa bisa nangis begini? Terus kenapa juga kalian bisa berada disini?"

Sofi menjawab.

"Gatot kakinya luka. Dan lukanya itu tidak wajar. Coba kamu lihat kakinya,"

Akupun mengikuti perkataan Sofi. Saat kulihat kaki Gatot dibagian betisnya, aku bisa melihat ada bekas sebuah cakaran disana.

kaskus-image
contoh


"Ulah siapa?"Tanyaku sambil tetap memandangi betis Gatot.

"Kuntilanak," jawab Sofi lagi.

Aku terkejut mendengar perkataan Sofi.
emoticon-Entahlah

Karena baru kali ini, aku melihat secara langsung akibat dari perbuatan makhluk gaib.

"Dicakar?" Tanyaku pada Sofi.

Ia mengangguk.

"Edan," gumamku.

"Kalau tidak ada ada kekuatan yang besar, tidak akan mungkin makhluk gaib bisa mencelakakan kita secara langsung," kataku menjelaskan kepada mereka.

"Tapi ini, buktinya ada," kata Gatot seraya mengelus-elus area sekitar cakaran.

Aku masih berpikir, mengapa hal ini dapat terjadi. Pasti ada faktor lain yang membuat hal ini bisa terjadi.

"Bisa jadi," kataku dalam hati setelah aku menyimpulkan hal ini.

"Nah, sekarang coba ceritakan kepadaku kenapa kalian bisa berada di sini?" Tanyaku kembali sambil memandang wajah cantik Sofi.

Sofi terdiam sebentar.

Sambil tetap memandangku, ia kemudian bercerita...




***
cos44rm
mas444
sulkhan1981
sulkhan1981 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.