- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.7K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#704
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Cuma butuh waktu beberapa hari buat Rico bersikap seperti biasa lagi. Banyak ngebacot, jail, dan berisik. Mungkin bisa diitung pake jari tangan, satu tangan doang lagi. Meski begitu gue ga atau apakah yang dia lakukan hanya untuk menutupi kesedihan dia atau beneran udah balik sableng lagi.
Hari itu seperti biasa, sore hari di balkon rumah Bobby. Kita semua lagi ngumpul dan menunggu waktu untuk pergi bimbel. Jam masuk bimbel adalah jam lima, dan sekolah gue keluar jam tiga. Itu artinya masih ada rentang waktu dua jam buat istirahat dan ngosongin pikiran dari pelajaran di sekolah sebelum dihantem lagi sama pelajaran di bimbel.
“Lo kapan Tre?” Rico yang lagi ngerokok tiba-tiba bertanya pertanyaan yang sama sekali gue ga ngerti.
“Kapan apanya? Ga jelas lo nyet.”
“Lo kapan mau baikan sama Putri lagi, dari pas Putri putus sama cowoknya gue liat lo diem-diem ae.” Kata Rico. “Gue aja udah ngambil sikap buat putus sama Nadia.”
Gue terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang dikatakan Rico. “Urusannya apaan nyet lo putus sama gue baikan sama Putri.”
“Maksudnya, gue aja udah bertindak, lo masih gini-gini ae. Lo sebenernya masih suka sama Putri ga sih?”
“Gimana yaaa, gue ga pernah ngerasain kenyamanan sama cewek lain senyaman gue deket sama Putri sih.” Jelas gue ambigu.
“Intinya?”
“Gue gagal move on, hahaha.” Kata gue disusul dengan ketawa kecut. “Susah cuy move on buat gue kalau masih ngeliat setiap hari, apalagi semenjak dia putus gue malah lebih sering papasan sama dia.”
“Nah, itu lo udah yakin sama perasaan lo. Yaudah tinggal lakuin.”
“Gampang lo ngomong.”
“Nanti gue bantuin.”
“Perasaan gue malah ga enak kalau lo bantuin.”
“Ga usah ga enak gitu lah sama temen sendiri.”
“Bukannya gue ga enak sama lo bego, gue ga yakin rencana lo berhasil.”
“Hahahaha, santai ae, percaya sama gue.”
“Iye iye, lo atur dah.” Kata gue akhirnya. “Tapi gue kasih tau sama lo yee, gue sama Putri ga musuhan, cuman salah paham.”
“Iye ngab, percaya gue-_-.”
Sampai akhirnya gue jalan ke tempat bimbel, omongan Rico masih terus terngiang-ngiang di kepala gue. Sedikit gue berharap kalau ‘pertolongan’ yang Rico lakukan benar-benar akan membuat gue dan Putri bisa berbicara lagi. Tapi gue penasaran, ini bocah bakal ngapain. Dan gue terus berpikir kalau ini beneran terjadi, gimana gue harus bersikap di depan Putri lagi, apa yang harus kita bicarakan, dan apa yang sekarang Putri pikirkan tentang gue.
Fuck it, what will be will be. Gue udah tinggal nothing to lose aja.
Ada satu hal yang benar-benar membuat gue yakin kalau gue masih suka sama Putri. Di tempat bimbel gue, ada anak-anak dari sekolah lain juga yang ikut bimbel. Kebanyakan sekolah yang ada di kawasan kebayoran baru, kaya sekolah negeri yang terkenal di mahakam atau bulungan. Atau sekolah-sekolah medioker lainnya seperti sekolah gue.
Gue baru sadar, ternyata banyak cewek-cewek cantik dari sekolah lain, terutama yang dari mahakam dan bulungan. Malah kalau dibandingin, sekolah gue anak ceweknya biasa aja. Tapi di benak gue, saat melihat cewek cantik dari sekolah lain, gue ngeliatnya biasa aja. Cantik sih, tapi yaudah. Mungkin dunia gue terlalu penuh sama yang namanya Putri.
Balik lagi ke sekolah ke esokan harinya. Sebelum istirahat kedua, kelas gue lagi masuk pelajaran TIK dan harus pindah ke ruang komputer. Ini adalah mata pelajaran yang gue tunggu. Namanya doang mata pelajaran, tapi isinya main. Bukan belajar sambil main, atau pelajarannya gampang dan jadi kayak main, tapi bener-bener main.
Biasanya guru TIK gue cuman ngasih tugas di LKS buat murid-muridnya kerjain. Beberapa anak cewek yang ambis pasti pada langsung ngerjain, anak cewek sisanya pada ngerumpi sambil nunggu jawaban. Sementara anak-anak cowoknya pada main dota 1 atau counter strike. Ga tau juga siapa yang ngeinstal game di komputer buat pelajaran. Terus guru TIK gue ngapain? yaaa main juga. Di komputer dia bahkan ada PB, atau gue pernah mergokin dia lagi main game web. Kampret emang tuh guu, wkwkwk, tapi gue suka guru-guru model begini.
“Gimana Tre tawaran gue?” Tanya Rico tiba-tiba yang duduk di sebelah gue. Tapi pandangannya masih terus menatap ke arah komputer dan kedua tangan yang sibuk dengan mouse dan keyboard.
“Tawaran apaan?” Jawab gue dengan kondisi yang sama dengan Rico.
“Bentar, gue lagi fokus mukulin creep.” Ga jelas nih orang.
“Iye iyeee” Ini adalah awal-awal gue main dota, bukan di warnet bukan di game center, tapi di ruang TIK sekolah.
“Gue bantuin biar lo bisa ngobrol lagi sama Putri.”
“Caranya gimana?”
“Harash itu Tinynya, dari tadi dia ngedeny mulu.”
“Bentar, skill dua cd.”
“Udah, lo ikutin aja alur mainya.” Kata Rico yang sulit buat gue percaya.
“Lo atur aja dah.”
Ternyata Rico benar-benar menepati janjinya. Gue ga tau apakah ini beneran rencana dia atau emang kebetulan, tapi saat itu yang gue rasakan adalah, entah lah, gue juga bingung. Sepertinnya semua terjadi karena kebetulan dan tiba-tiba.
Selesai pelajaran TIK adalah waktunya istirahat kedua. Setelah nyalin jawaban LKS dari temen gue yang udah selesai, gue dan temen-temen gue berlima pergi ke kantin atas buat istirahat. Ga langsung pergi sih, selesain game dulu yang tanggung. Jadi kita ke kantin pas, waktu istirahat udah kebuang hampir lima belas menit buat kita nyelesain game.
Seperti biasa, kita berlima duduk di meja kantin paling pojok, sambil makan cireng yang baru digoreng. Kebetulan yang jual cireng ada di deket meja kita, jadi ga perlu jauh-jauh buat ngambilnya begitu udah jadi.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk kantin ada Putri yang baru dateng bareng satu temanya. Rico yang duduk di sebelah gue, yang juga melihat apa yang gue lihat, langsung nyikut-nyikut lengan gue.
"Apaan sih lo Co, elah."
"Itu Tre, itu." Rico menunjuk ke arah Putri yang lagi berjalan ke arah kita. Ke arah kita yee, bukan ke meja kita, gatau mau beli apaan. Sementara gue bisa melihat senyum jahat dari temen-temen gua yang lain, yang pastiya juga melihat yang sama.
Entah karena kebetulan lagi, Putri dan temannya sampai di dekat meja kita, Dan gue ga ngerti apa yang ada di kepala Rico, dia tiba-tiba manggil Putri buat duduk di meja bareng kita.
"Mau beli apaan Put? Duduk sini aja dulu." Ajak Rico sambil cengengesan. Sekarang giliran gue yang nyikut-nyikut lengannya Rico. Kampret ini orang.
"Mau beli cireng Co." Emang udah kenal, jadi ga ada alasan buat Putri ga jawab.
"Duduk sini aja dulu." Ajak Iman tiba-tiba, yang ternyata dia kenal sama temen yang lagi bareng sama Putri.
"Bentar yaaa Man, beli cireng dulu." Mereka akhirnya berlalu untuk membeli cireng. Dari tempat duduk gue, gue bisa melihat temannya Putri membisikkan sesuatu ke Putri yang ga bisa gue dengar, kemudian disambut dengan pukulan ringa tangan Putri ke temannya yang ngebuat temannya ketawa.
Di sisi lain, gue masih bisa merasakan senyuman dan tatapan jahat dari teman-teman gue. Rico, Bobby, Rian, dan Iman. Meskipun obrolan kita selajutnya terhenti, dan ga ada satupun dari kita yang berbicara selama beberapa saat, tapi gue seolah merasakan konspirasi-konspirasi besar dunia yang sebentar lagi akan terjadi, wkwkwk.
Ga lama mereka berdua pun mendatangi meja kita, dan selayaknya tradisi yang sudah terjalin lama, setiap ketemu dan nongkrong bareng, tos-tosan adalah menjadi hal yang wajib, apa pun jenis kelaminnya.
Putri dan temannya tos-tosan dengan teman gue yang lain. Inti dari kegiatan ini adalah basa-basi pengganti salaman. Sampailah pada giliran terakhir, yaitu gue. Pas tos-tosan sama temennya Putri sih biasa aja yaa, cuman yang terakhir ini nih bos, waduuuh ga ngerti lagi gue ngomongnya gimana.
Temennya Putri udah duduk di sebelah Iman yang berada di serong seberang tempat duduk gue, yang berarti masih menyisakan tepat duduk tepat di hadapan gue. Sebenernya ini bagian dari konspirasi tadi, karena tanpa gue sadari temen-temen gue udah melakukan rekayasa tempat duduk.
Saat itu, Putri tepat berada di sebelah gue, di sisi meja. Dengan keberanian dan kekuatan penuh, gue berusaha untuk berani menatapnya.
"Hai Put." Ucap gue dengan suara yang sedikit bergetar. Disitu gue bisa melihat wajah dan senyumnya Putri lagi dari dekat.
"Hai Tre." Ini, ini nih, hal yang gue harapkan akhirnya terjadi lagi. Gue kembali berbicara dengan Putri, meskipun hanya sekedar hai.
Ga sampai disitu, gue pun akhirnya mengangkat tangan kanan gue, begitu juga dengan Putri. Dan kita Pun tos-tosan. Ga cuman bertukar hai, tapi gue kembali bersentuhan dengan Putri. Sentuhan yang dulu selalu gue rasakan saat jemput dan nganter pulang Putri. Tos-tosan. Lebay yak gue, bodo amat, wkwkwk.
Putri Pun duduk di sisa kursi yang tersedia, yaitu di depan gue. Nyeeeeeet, otak gue langsung ngeblank. Lo tau episode spongebob yang otaknya kebakaran dan dia harus ngebersihin kertas-kertas ga penting? itu yang gue rasakan yang ada di otak gue saat itu. Kayak banyak hal yang terjadi di otak gue, padahal kosong.
Temannya Putri dan Iman pun mulai membuka pembicaraan, diikuti dengan teman-teman gue yang lain. Putri bahkan sesekali menimpali omongan mereka. Sementara gue udah kaya kambing cengo yang cuma bisa ketawa dengan obrolan-obrolan yang mereka ucapkan. Gue bagian mbeenya doang dah. Sebenernya gue bahka ga tau apa yang mereka omongin.
Tapi obrolan itu ga berlangsung lama karena dihentikan oleh bel masuk. Putri dan temannya langsung balik ke kelas sambil bawa cireng yang belum dimakan. Sementara gue dan temen-temen gue yang rada begundal memilih untuk nongkrong dulu di kantin.
Gue terus memperhatikan Putri yang berjalan menjauh. Sampai akhirnya mereka beruda menghilang dari balik pintu kantin, meledak lah tawa teman-teman gue.
"HAHAHAHA Treee Treee, malah cengo doang lagi lo."
"Yaaa gue harus gimana Co?" Jawab gue bodoh.
"Ngapain kek, ajak ngobrol kek. Biarin aja kita, anggep aja ga ada." Sahut iman tiba-tiba.
"Gampang lo ngomong Man."
"Tapi tadi lo liat ga sih Treya ngeliatin Putri terus, wkwkwkwk."
"Bacot lo Yan."
"Muka lo biru Tre."
"Lo juga Bob, ga usah ikut-ikutan."
Sepertiya sore itu topik utamanya adalah gue yang cengo di depan Putri. Gue cuman bisa diem ketika teman-teman gue yang lain ngecak-ngecakkin gue, dan gue rasa ga butuh waktu lama buat kabar ini sampai di telinga teman-teman gue yang lain.
Kesialan gue terus berlanjut, tapi kali ini lebih tepatnya kesialan kita semua. Tanpa Kita sadari Jombang udah berdiri di sebelah meja kita.
"Bagus yaaa kalian, udah bel masuk masih ada di sini." Ucap Jombang dengan suara marahnya.
"Eh pak, ini kita mau masuk kok." Sahut Rico.
Satu persatu dari kita mulai meninggalkan meja dan berjalan menuju keluar kantin. Tapi belom ada lima meter kita jalan, tiba-tiba Jombang manggil lagi.
"Hei kalian, kesini dulu sebentar."
Mampus dah. Tanpa banyak bicara kita ngelakuin hal yang Jombang suruh, bahkan ngelakuin yang bahkan Jombang ga suruh. Kita berbaris menghadap dia.
Dengan entangya, Jombang mulai menempelkan tangan kanannya ke masing-masing kepala kita. Bobby, Iman, dan Rian lewat. Aman. Ketika giliran gue. Poni gue diturunin, kemudian tanpa bersuara, Jombang mengeluarkan gunting dari saku celananya, dan mulai motong ngasal rambut gue.
"Nah kan gini bagus, rapih. Biar ganteng kaya saya." Bapak lo ganteng.
Tapi gue cukup bersyukur karena Rico mendapatkan hadiah yang sama dengan gue. WKwkwkwk, bodo amat, yang penting gue ga sendiri.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, karena gue selalu mendapatkan hadian ini setiap tahun, gue dan Rico langsung menuju kamar mandi buat ngaca. Dan gue udah mau nangis liat rambut gue abis dicukur Jombang.
"Pendek banget lagi nyet si Jombang motongnya." Gerutu Rico waktu lagi ngaca.
"Lo masih mending, ini Jombang motongnya dalem banget, sampe mau pitak gue. Mana kaga rata lagi." Bales gue menggerutu.
Entah lah, hari itu gue dapet kesialan gara-gara rambut kena potong, atau keberuntungan karena bisa ngobrol sama Putri lagi. Iye iye, gue tau, cuman bilang hai doang sama tos-tosan
Cuma butuh waktu beberapa hari buat Rico bersikap seperti biasa lagi. Banyak ngebacot, jail, dan berisik. Mungkin bisa diitung pake jari tangan, satu tangan doang lagi. Meski begitu gue ga atau apakah yang dia lakukan hanya untuk menutupi kesedihan dia atau beneran udah balik sableng lagi.
Hari itu seperti biasa, sore hari di balkon rumah Bobby. Kita semua lagi ngumpul dan menunggu waktu untuk pergi bimbel. Jam masuk bimbel adalah jam lima, dan sekolah gue keluar jam tiga. Itu artinya masih ada rentang waktu dua jam buat istirahat dan ngosongin pikiran dari pelajaran di sekolah sebelum dihantem lagi sama pelajaran di bimbel.
“Lo kapan Tre?” Rico yang lagi ngerokok tiba-tiba bertanya pertanyaan yang sama sekali gue ga ngerti.
“Kapan apanya? Ga jelas lo nyet.”
“Lo kapan mau baikan sama Putri lagi, dari pas Putri putus sama cowoknya gue liat lo diem-diem ae.” Kata Rico. “Gue aja udah ngambil sikap buat putus sama Nadia.”
Gue terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang dikatakan Rico. “Urusannya apaan nyet lo putus sama gue baikan sama Putri.”
“Maksudnya, gue aja udah bertindak, lo masih gini-gini ae. Lo sebenernya masih suka sama Putri ga sih?”
“Gimana yaaa, gue ga pernah ngerasain kenyamanan sama cewek lain senyaman gue deket sama Putri sih.” Jelas gue ambigu.
“Intinya?”
“Gue gagal move on, hahaha.” Kata gue disusul dengan ketawa kecut. “Susah cuy move on buat gue kalau masih ngeliat setiap hari, apalagi semenjak dia putus gue malah lebih sering papasan sama dia.”
“Nah, itu lo udah yakin sama perasaan lo. Yaudah tinggal lakuin.”
“Gampang lo ngomong.”
“Nanti gue bantuin.”
“Perasaan gue malah ga enak kalau lo bantuin.”
“Ga usah ga enak gitu lah sama temen sendiri.”
“Bukannya gue ga enak sama lo bego, gue ga yakin rencana lo berhasil.”
“Hahahaha, santai ae, percaya sama gue.”
“Iye iye, lo atur dah.” Kata gue akhirnya. “Tapi gue kasih tau sama lo yee, gue sama Putri ga musuhan, cuman salah paham.”
“Iye ngab, percaya gue-_-.”
Sampai akhirnya gue jalan ke tempat bimbel, omongan Rico masih terus terngiang-ngiang di kepala gue. Sedikit gue berharap kalau ‘pertolongan’ yang Rico lakukan benar-benar akan membuat gue dan Putri bisa berbicara lagi. Tapi gue penasaran, ini bocah bakal ngapain. Dan gue terus berpikir kalau ini beneran terjadi, gimana gue harus bersikap di depan Putri lagi, apa yang harus kita bicarakan, dan apa yang sekarang Putri pikirkan tentang gue.
Fuck it, what will be will be. Gue udah tinggal nothing to lose aja.
Ada satu hal yang benar-benar membuat gue yakin kalau gue masih suka sama Putri. Di tempat bimbel gue, ada anak-anak dari sekolah lain juga yang ikut bimbel. Kebanyakan sekolah yang ada di kawasan kebayoran baru, kaya sekolah negeri yang terkenal di mahakam atau bulungan. Atau sekolah-sekolah medioker lainnya seperti sekolah gue.
Gue baru sadar, ternyata banyak cewek-cewek cantik dari sekolah lain, terutama yang dari mahakam dan bulungan. Malah kalau dibandingin, sekolah gue anak ceweknya biasa aja. Tapi di benak gue, saat melihat cewek cantik dari sekolah lain, gue ngeliatnya biasa aja. Cantik sih, tapi yaudah. Mungkin dunia gue terlalu penuh sama yang namanya Putri.
Balik lagi ke sekolah ke esokan harinya. Sebelum istirahat kedua, kelas gue lagi masuk pelajaran TIK dan harus pindah ke ruang komputer. Ini adalah mata pelajaran yang gue tunggu. Namanya doang mata pelajaran, tapi isinya main. Bukan belajar sambil main, atau pelajarannya gampang dan jadi kayak main, tapi bener-bener main.
Biasanya guru TIK gue cuman ngasih tugas di LKS buat murid-muridnya kerjain. Beberapa anak cewek yang ambis pasti pada langsung ngerjain, anak cewek sisanya pada ngerumpi sambil nunggu jawaban. Sementara anak-anak cowoknya pada main dota 1 atau counter strike. Ga tau juga siapa yang ngeinstal game di komputer buat pelajaran. Terus guru TIK gue ngapain? yaaa main juga. Di komputer dia bahkan ada PB, atau gue pernah mergokin dia lagi main game web. Kampret emang tuh guu, wkwkwk, tapi gue suka guru-guru model begini.
“Gimana Tre tawaran gue?” Tanya Rico tiba-tiba yang duduk di sebelah gue. Tapi pandangannya masih terus menatap ke arah komputer dan kedua tangan yang sibuk dengan mouse dan keyboard.
“Tawaran apaan?” Jawab gue dengan kondisi yang sama dengan Rico.
“Bentar, gue lagi fokus mukulin creep.” Ga jelas nih orang.
“Iye iyeee” Ini adalah awal-awal gue main dota, bukan di warnet bukan di game center, tapi di ruang TIK sekolah.
“Gue bantuin biar lo bisa ngobrol lagi sama Putri.”
“Caranya gimana?”
“Harash itu Tinynya, dari tadi dia ngedeny mulu.”
“Bentar, skill dua cd.”
“Udah, lo ikutin aja alur mainya.” Kata Rico yang sulit buat gue percaya.
“Lo atur aja dah.”
Ternyata Rico benar-benar menepati janjinya. Gue ga tau apakah ini beneran rencana dia atau emang kebetulan, tapi saat itu yang gue rasakan adalah, entah lah, gue juga bingung. Sepertinnya semua terjadi karena kebetulan dan tiba-tiba.
Selesai pelajaran TIK adalah waktunya istirahat kedua. Setelah nyalin jawaban LKS dari temen gue yang udah selesai, gue dan temen-temen gue berlima pergi ke kantin atas buat istirahat. Ga langsung pergi sih, selesain game dulu yang tanggung. Jadi kita ke kantin pas, waktu istirahat udah kebuang hampir lima belas menit buat kita nyelesain game.
Seperti biasa, kita berlima duduk di meja kantin paling pojok, sambil makan cireng yang baru digoreng. Kebetulan yang jual cireng ada di deket meja kita, jadi ga perlu jauh-jauh buat ngambilnya begitu udah jadi.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk kantin ada Putri yang baru dateng bareng satu temanya. Rico yang duduk di sebelah gue, yang juga melihat apa yang gue lihat, langsung nyikut-nyikut lengan gue.
"Apaan sih lo Co, elah."
"Itu Tre, itu." Rico menunjuk ke arah Putri yang lagi berjalan ke arah kita. Ke arah kita yee, bukan ke meja kita, gatau mau beli apaan. Sementara gue bisa melihat senyum jahat dari temen-temen gua yang lain, yang pastiya juga melihat yang sama.
Entah karena kebetulan lagi, Putri dan temannya sampai di dekat meja kita, Dan gue ga ngerti apa yang ada di kepala Rico, dia tiba-tiba manggil Putri buat duduk di meja bareng kita.
"Mau beli apaan Put? Duduk sini aja dulu." Ajak Rico sambil cengengesan. Sekarang giliran gue yang nyikut-nyikut lengannya Rico. Kampret ini orang.
"Mau beli cireng Co." Emang udah kenal, jadi ga ada alasan buat Putri ga jawab.
"Duduk sini aja dulu." Ajak Iman tiba-tiba, yang ternyata dia kenal sama temen yang lagi bareng sama Putri.
"Bentar yaaa Man, beli cireng dulu." Mereka akhirnya berlalu untuk membeli cireng. Dari tempat duduk gue, gue bisa melihat temannya Putri membisikkan sesuatu ke Putri yang ga bisa gue dengar, kemudian disambut dengan pukulan ringa tangan Putri ke temannya yang ngebuat temannya ketawa.
Di sisi lain, gue masih bisa merasakan senyuman dan tatapan jahat dari teman-teman gue. Rico, Bobby, Rian, dan Iman. Meskipun obrolan kita selajutnya terhenti, dan ga ada satupun dari kita yang berbicara selama beberapa saat, tapi gue seolah merasakan konspirasi-konspirasi besar dunia yang sebentar lagi akan terjadi, wkwkwk.
Ga lama mereka berdua pun mendatangi meja kita, dan selayaknya tradisi yang sudah terjalin lama, setiap ketemu dan nongkrong bareng, tos-tosan adalah menjadi hal yang wajib, apa pun jenis kelaminnya.
Putri dan temannya tos-tosan dengan teman gue yang lain. Inti dari kegiatan ini adalah basa-basi pengganti salaman. Sampailah pada giliran terakhir, yaitu gue. Pas tos-tosan sama temennya Putri sih biasa aja yaa, cuman yang terakhir ini nih bos, waduuuh ga ngerti lagi gue ngomongnya gimana.
Temennya Putri udah duduk di sebelah Iman yang berada di serong seberang tempat duduk gue, yang berarti masih menyisakan tepat duduk tepat di hadapan gue. Sebenernya ini bagian dari konspirasi tadi, karena tanpa gue sadari temen-temen gue udah melakukan rekayasa tempat duduk.
Saat itu, Putri tepat berada di sebelah gue, di sisi meja. Dengan keberanian dan kekuatan penuh, gue berusaha untuk berani menatapnya.
"Hai Put." Ucap gue dengan suara yang sedikit bergetar. Disitu gue bisa melihat wajah dan senyumnya Putri lagi dari dekat.
"Hai Tre." Ini, ini nih, hal yang gue harapkan akhirnya terjadi lagi. Gue kembali berbicara dengan Putri, meskipun hanya sekedar hai.
Ga sampai disitu, gue pun akhirnya mengangkat tangan kanan gue, begitu juga dengan Putri. Dan kita Pun tos-tosan. Ga cuman bertukar hai, tapi gue kembali bersentuhan dengan Putri. Sentuhan yang dulu selalu gue rasakan saat jemput dan nganter pulang Putri. Tos-tosan. Lebay yak gue, bodo amat, wkwkwk.
Putri Pun duduk di sisa kursi yang tersedia, yaitu di depan gue. Nyeeeeeet, otak gue langsung ngeblank. Lo tau episode spongebob yang otaknya kebakaran dan dia harus ngebersihin kertas-kertas ga penting? itu yang gue rasakan yang ada di otak gue saat itu. Kayak banyak hal yang terjadi di otak gue, padahal kosong.
Temannya Putri dan Iman pun mulai membuka pembicaraan, diikuti dengan teman-teman gue yang lain. Putri bahkan sesekali menimpali omongan mereka. Sementara gue udah kaya kambing cengo yang cuma bisa ketawa dengan obrolan-obrolan yang mereka ucapkan. Gue bagian mbeenya doang dah. Sebenernya gue bahka ga tau apa yang mereka omongin.
Tapi obrolan itu ga berlangsung lama karena dihentikan oleh bel masuk. Putri dan temannya langsung balik ke kelas sambil bawa cireng yang belum dimakan. Sementara gue dan temen-temen gue yang rada begundal memilih untuk nongkrong dulu di kantin.
Gue terus memperhatikan Putri yang berjalan menjauh. Sampai akhirnya mereka beruda menghilang dari balik pintu kantin, meledak lah tawa teman-teman gue.
"HAHAHAHA Treee Treee, malah cengo doang lagi lo."
"Yaaa gue harus gimana Co?" Jawab gue bodoh.
"Ngapain kek, ajak ngobrol kek. Biarin aja kita, anggep aja ga ada." Sahut iman tiba-tiba.
"Gampang lo ngomong Man."
"Tapi tadi lo liat ga sih Treya ngeliatin Putri terus, wkwkwkwk."
"Bacot lo Yan."
"Muka lo biru Tre."
"Lo juga Bob, ga usah ikut-ikutan."
Sepertiya sore itu topik utamanya adalah gue yang cengo di depan Putri. Gue cuman bisa diem ketika teman-teman gue yang lain ngecak-ngecakkin gue, dan gue rasa ga butuh waktu lama buat kabar ini sampai di telinga teman-teman gue yang lain.
Kesialan gue terus berlanjut, tapi kali ini lebih tepatnya kesialan kita semua. Tanpa Kita sadari Jombang udah berdiri di sebelah meja kita.
"Bagus yaaa kalian, udah bel masuk masih ada di sini." Ucap Jombang dengan suara marahnya.
"Eh pak, ini kita mau masuk kok." Sahut Rico.
Satu persatu dari kita mulai meninggalkan meja dan berjalan menuju keluar kantin. Tapi belom ada lima meter kita jalan, tiba-tiba Jombang manggil lagi.
"Hei kalian, kesini dulu sebentar."
Mampus dah. Tanpa banyak bicara kita ngelakuin hal yang Jombang suruh, bahkan ngelakuin yang bahkan Jombang ga suruh. Kita berbaris menghadap dia.
Dengan entangya, Jombang mulai menempelkan tangan kanannya ke masing-masing kepala kita. Bobby, Iman, dan Rian lewat. Aman. Ketika giliran gue. Poni gue diturunin, kemudian tanpa bersuara, Jombang mengeluarkan gunting dari saku celananya, dan mulai motong ngasal rambut gue.
"Nah kan gini bagus, rapih. Biar ganteng kaya saya." Bapak lo ganteng.
Tapi gue cukup bersyukur karena Rico mendapatkan hadiah yang sama dengan gue. WKwkwkwk, bodo amat, yang penting gue ga sendiri.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, karena gue selalu mendapatkan hadian ini setiap tahun, gue dan Rico langsung menuju kamar mandi buat ngaca. Dan gue udah mau nangis liat rambut gue abis dicukur Jombang.
"Pendek banget lagi nyet si Jombang motongnya." Gerutu Rico waktu lagi ngaca.
"Lo masih mending, ini Jombang motongnya dalem banget, sampe mau pitak gue. Mana kaga rata lagi." Bales gue menggerutu.
Entah lah, hari itu gue dapet kesialan gara-gara rambut kena potong, atau keberuntungan karena bisa ngobrol sama Putri lagi. Iye iye, gue tau, cuman bilang hai doang sama tos-tosan
Diubah oleh gitartua24 30-03-2021 00:19
efti108 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup