- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#90
Chapter 60
Kondisi menjadi tidak kondusif semenjak kedatangan seorang wanita yang dipanggil Prof Leonie itu. Perkataannya menyulut emosi kapten Vela yang saat ini sedang dilanda kegalauan karena anggotanya dalam posisi hidup dan mati. Lebih parahnya akan menjadi Beaters jika tidak segera disembuhkan atau dicarikan solusi pengobatannya.
“Darah yang tertumpah masih basah, belum menjadi kering. Aku masih ingat ketika kalian memusnahkan semua orang yang terlibat dalam pabrik yang kalian sebut pabrik Beaters itu. Padahal aku secara pribadi mengajukan diri untuk melakukan penelitian apakah orang-orang itu bisa dijadikan manusia normal seutuhnya atau tidak. Tapi mereka berkilah putusan dari ‘atas’ yang meminta tuk memusnahkan mereka yang telah disuntikan sel Beaters. Jadi menurutku wajar jika karma sedang melakukan aksinya sekarang, di mana seorang yang menumpas para monster itu tetapi terkena suntikan sel Beaters,” ucap Prof Leonie secara gamblang.
“Jadi maksudmu, Leah yang harus disalahkan atas semua kejadian ini?”
“Aku tidak bilang seperti itu, anggap saja wanita muda itu sedang sial…,” nada bicaranya seperti mengajak seseorang bertarung.
Adrian tidak bisa mencegahnya, ia sudah paham betul sifat Prof Leonie yang selalu berbicara tanpa saringan seperti itu. Ia hanya memberikan sinyal kepada kapten Vela agar lebih tenang dan menahan emosinya.
“Hmm… seberapa besar kalian memberikan dosisnya kepada wanita muda itu, serum penahannya?”
“Kami memberikan dosis paling tinggi, untungnya tubuhnya dapat bertahan…,” ucap Adrian
“Baiklah, berikan aku satu hari,” kapten Vela tercengang, ia tidak bisa menunggu selama itu. “akan ku ambil sampel darahnya yang mengandung sel Beaters. Persiapkan saja lab nya,” ucap Prof Leonie dengan santai lalu melirik ke arah kapten Vela. “dengan satu syarat tentunya, aku ingin pria ini memintaku secara tulus. Maka akan kuusahakan selesai lebih cepat,” jarinya menunjuk kepala kapten Vela.
Kapten Vela terdiam, sedangkan Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja tidak menyangka keadaannya akan menjadi seperti ini. Jika kapten Vela tidak tersulut emosinya maka semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa adanya insiden kecil ini. Kapten Vela terpaksa melakukannya karena nyawa rekannya berada di garis antara hidup dan mati.
“Ku mohon, sembuhkanlah Leah. Dia sangat berarti bagi saya dan tim. Saya yakin anda dapat melakukannya,” sambil membungkuk.
“Baiklah….,” prof Leonie melewati kapten Vela yang masih membungkuk.
Setelah menjauh barulah kapten Vela berdiri dengan posisi normal, sambil benar-benar berharap orang itu mampu menyembuhkan Leah.
Pagi hari sudah menyapa Surban City, selain banyaknya orang yang sudah memulai aktivitasnya dan sebagian bahkan belum menemukan jam istirahatnya, Lio sudah bersiap dengan berdandan rapih. Waktunya untuk membeli berbagai kebutuhan, selain kebutuhan anggota Silver Clan. Kebutuhan dapur Gonzalo juga harus dipenuhi. Ketika sudah bersiap untuk pergi, Djohan menghadangnya. Meminta uang yang dipegang oleh Lio, ia ingin melakukannya sendiri.
“Hmm..,” Lio melirik ke arah Solo, ia mengangguk. “baiklah, dan ini catatannya. Jangan sampai ada yang tertinggal. Senyum Djphan membuat perasaan Lio tidak enak.
Djohan berjalan keluar, menghirup udara pagi diharapkan mampu menghapuskan segala kekhawatirannya. Dirinya tidak mengetahui keadaan Leah sekarang, apakah mereka sudah berhasil mengeluarkan sel Beaters nya atau belum. Ketika berjalan sambil melamun seperti itu, seseorang muncul dihadapannya. Dengan jaket panjang yang hampir menyentuh tanah.
“Tuan Stam?” sosok dihadapannya itu adalah tuan Stam.
“Ikut denganku sekarang,” pintanya.
Tuan Stam membawa Djohan ke sebuah caffe, tempat orang-orang memesan ‘morning coffe’. Keadaanya cukup ramai namun tidak terlalu berpengaruh bagi tuan Stam, ia masih tetap tenang seperti biasanya.
“Kamu masih memikirkannya?” tuan Stam bertanya.
Seketika Djohan kembali murung, “Ya, aku masih memikirkannya. Bukannya aku tidak percaya dengan kemampuan orang-orang di organisasi BASS. Tapi aku ingin sekali menyelamatkannya, jika masih sempat.”
Sudah cukup alasan bagi tuan Stam untuk memberitahunya, “Sebenarnya ada cara untuk menyelamatkan Leah, tapi ini digunakan jika mereka tidak mampu memusnahkan sel Beaters nya.”
“Benarkah?” mata Djohan mendadak bersinar terang, lalu mendengar dengan seksama penjelasan dari tuan Stam.
Sementara itu waktu yang dibutuhkan oleh Prof Leonie tuk menyelesaikan serumnya di luar dugaan lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Sekarang tinggal mengetesnya langsung kepada pasien yaitu Leah. Prof Leonie tidak menjanjikan apa-apa, karena kasus ini pertama kalinya dikerjakan olehnya. Jika pada saat orang-orang yang disuntikan sel di pabrik Beaters diberikan padanya maka bukan tidak mungkin serumnya sudah lebih siap dan teruji.
“Semuanya akan ditentukan oleh wanita itu sendiri, apakah tubuhnya mampu menerima serum ini dengan baik atau tidak. Saya sudah melakukan sebaik mungkin bersama staff lab.”
Kapten Vela kembali membungkuk, “Terima kasih atas kerja keras yang telah anda lakukan,” namun kali ini Prof Leonie malah terlihat jijik.
“Hei, sudahlah. Aku bukan orang yang gila hormat,” Prof Leonie izin untuk pergi menghirup udara pagi terlebih dahulu. “Kutinggal kalian sebentar, aku butuh udara segar. Biar nanti staff yang menyuntikan serumnya, aku akan segera diberitahu jika terjadi apa-apa. dah….,” ia pergi dari tempat itu.
Penyuntikan pun dilakukan dengan hati-hati, reaksinya pun langsung terlihat. Urat-urat yang nampak berwarna keunguan itu hilang dari permukaan kulit Leah. Kapten Vela dan Adrian lega melihatnya, raut wajah berseri terpancar dari keduanya. Keadaan Leah pun stabil, hanya tinggal melakukan tes pada darahnya tuk melihat masih ada sel Beaters pada dirinya atau tidak.
“Aku harus berterima kasih pada wanita itu,” ucap kapten Vela.
“Ya, setelah ia kembali ke sini. Kita tidak boleh menganggu waktu istirahatnya sekarang,” ucap Adrian.
Baru saja keduanya merasa bahwa semuanya telah terkendali, datang salah satu petugas medis yang memantau kondisi Leah. Dengan suara yang terbata-bata petugas itu mengabarkan bahwa kondisi Leah mendadak memburuk dan urat-urat berwarna keunguan muncul kembali dan bertambah banyak. Kapten Vela lari masuk ke dalam, melihat langsung kondisi Leah.
“Astaga….,” tidak tega melihat kondisi Leah yang seperti itu. urat-urat itu bercabang hingga hampir menutupi seluruh wajah Leah. “cepat panggilkan Prof Leonie sekarang!” dalam keadaan panik kapten Vela meminta petugas medis tuk menghubungi Prof Leonie.
Posisi Prof Leonie saat ini sedang berada di cafetaria, ia terlihat sedang menengguk segelas teh hangat. Di saat waktu bersantainya itu ia dikagetkan dengan getaran yang berasal dari ponselnya. Ia sudah mengetahui bahwa panggilan masuk yang datang bukanlah pertanda yang baik.
“Hm, ternyata belum cukup. Memang harus dilakukan beberapa uji medis terlebih dahulu, baiklah aku meluncur ke sana,” tanpa menjawab telepon masuk Prof Leonie berjalan menuju tempat bawah tanah.
Di saat bersamaan kapten Vela mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak diketahui, “Siapa?...,” kapten Vela mengangkatnya, ekspresinya langsung berubah dan tanpa basa-basi langsung keluar dari ruangan yang merawat Leah.
Kepulan asap muncul dari sepatu yang dikenakan oleh Djohan, dengan kekuatannya jarak waktu yang ditempuh dari sektor 8 menuju sektor 1 dapat dipangkasnya. Ia berada di depan gedung media televisi yang menayangkan video pabrik Beaters. Menyangka bahwa gedung disebelahnya adalah markas dari BASS.
“Ayolah, di mana keberadaanmu kapten Vela?” sambil meliuk-liukan kepalanya mencari kapten Vela.
“Djohan!” sebuah teriakan terdengar dari kejauhan, kapten Vela memanggilnya.
“Itu dia!” tanpa membuang banyak waktu Djohan menghampirinya. “tunjukan di mana kalian merawat Leah,” pinta Djohan. Kapten Vela pun mengantarnya.
Djohan dapat masuk ke dalam markas BASS dengan mudah berkat adanya kapten Vela disisinya kali ini. Ia di bawa ke ruangan bawah tanah yang menjadi tempat divisi persenjataan berada. Saat tiba di sana sudah ada Prof Leonie yang sedang berbincang dengan Adrian.
“Dia?” tanya Adrian.
“Maafkan aku, tapi ini adalah keadaan darurat. Orang ini adalah anggota Silver Clan,” sontak membuat prof dan Adrian terkejut. “dia bilang, dia bisa mengeluarkan sel Beaters di dalam tubuh Leah.”
“Izinkan aku melakukannya,” ucap Djohan.
Raut wajah meragukan muncul pada Prof Leonie dan juga Adrian. Apakah benar pemuda dihadapan mereka ini mampu membuat keadaan Leah menjadi seperti sedia kala.
“Aku tidak keberatan, lagipula jika memang benar dia bisa melakukannya aku akan sangat terbantu. Karena pemuda ini, aku dapat kembali beristirahat,” ucap Prof Leonie sedikit mengejek.
“Hm,” Adrian sudah tahu tentang tuan Stam yang ia temui ketika pemberian sampel. Bahwa pemimpin itu bisa diandalkan, tetapi untuk anggotanya masih ada keraguan. “baiklah, lagipula kita tidak punya banyak waktu lagi. Kebetulan sekali kamu datang.”
Djohan langsung teringat kata-kata tuan Stam, bahwa intinya pengendalian sel Beaters sangat berperan penting. Jika Djohan sudah sepenuhnya mampu mengontrol sel Beaters dalam dirinya bukan tidak mungkin Leah dapat diselamatkan. Pertama-pertama Djohan meminta petugas untuk menancapkan selang pada nadinya. Lalu ujung selang satunya ditancapkan pada tubuh Leah sehingga keduanya terhubung.
“Hm, memasukan darahnya ke dalam tubuh Leah? Baiklah akan kuperhatikan,” Prof Leonie memantau dari luar ruangan.
Keadaannya menjadi sangat sulit ketika Djohan harus memerintahkan sel Beaters miliknya di tubuh orang lain. Dirinya berkonsentrasi penuh untuk melakukannya. Skenarionya adalah sel Beaters milik Djohan akan memakan sel Beaters yang ada di tubuh Leah. Jika semuanya sudah dimusnahkan, Djohan akan mengeluarkan keseluruhan miliknya dari tubuh Leah. Djohan tidak perlu khawatir kehilangan banyak sel Beaters, karena Beat dalam tubuhnya selalu memompa sel yang baru.
Perlahan namun pasti urat-urat berwarna ungu mulai pudar dan semakin lama semakin tidak nampak. Djohan masih memejamkan matanya, mencoba untuk terus fokus agar semua usahanya tidak sia-sia. Para penonton di luar ruangan pun mulai yakin bahwa Djohan dapat melakukannya. Djohan membuka matanya dan terlihat seperti berbicara dengan petugas.
“Apa yang terjadi?” ucap kapten Vela melihat petugas mencabut selang yang menancap di lengan Djohan maupun lengan Leah. “sudah selesai?”
Tiba-tiba muncul sesuatu dari bekas selang di lengan Leah yang bentuknya seperti semut. Secara cepat benda itu bergerak hingga menyelimuti seluruh tubuh Leah. Ketiganya masuk ke dalam ruangan, semuanya terkejut ketika melihat Leah seperti menjadi monster Beaters lengkap dengan tanduk dan kuku tajamnya.
“Tenanglah, aku sudah memakan sel Beaters yang ada di tubuh Leah,” ucap Djohan dengan tenang. “yang kalian lihat sekarang adalah bentuk armor yang kumiliki, kalian bisa menghancurkannya dengan mudah karena aku sudah tidak mengontrolnya lagi.”
“Hmm, menarik,” Prof Leonie memperhatikan Djohan.
“Baiklah tugasku sudah sampai di sini,” Djohan pamit kepada semuanya lalu keluar ruangan dengan tenang. Kapten Vela menyusulnya pun menyusulnya untuk mengucapka terima kasih.
Adrian memegang baju yang melapisi tubuh Leah, benar saja ketika dipegang baju itu pecah.
“Selain menyelamatkan Leah, orang itu juga memberikan sumber data padaku….,” senyum Adrian.
Seminggu setelah Leah tersadar, dan berniat untuk mengucapkan terima kasih secara langsung pada Djohan. Sehingga ia menyempatkan diri untuk mampir ke Wilson Bar dan Caffe. Ketika Leah ada sampai, ada wanita yang tampak seumuran dengannya berdiri di depan pintu. Wanita itu tampak gugup untuk masuk.
“Permisi,” ucap Leah.
“Ah maaf, aku tidak bermaksud menghalangi pintu masuknya.”
Leah membuka pintunya, dan masuk ke dalam diikuti oleh wanita muda dibelakangnya.
“Ah Leah selamat datang,” sambut Solo.
“Apa Djohan ada?” tanya Leah yang kemudian diikuti oleh wanita muda disebelahnya.
“Eh…kamu ingin bertemu dengannya juga?” keduanya saling melirik.
Tiba-tiba Djohan turun dari lantai dua, siap tuk bekerja hari ini. Kedatangannya itu disaksikan oleh kedua wanita yang mencarinya.
“Djohan!” keduanya mengucapkan secara bersamaan.
“Eh?” dengan wajah yang bingung Djohan melihat kedua wanita itu.
Quote:
Kondisi menjadi tidak kondusif semenjak kedatangan seorang wanita yang dipanggil Prof Leonie itu. Perkataannya menyulut emosi kapten Vela yang saat ini sedang dilanda kegalauan karena anggotanya dalam posisi hidup dan mati. Lebih parahnya akan menjadi Beaters jika tidak segera disembuhkan atau dicarikan solusi pengobatannya.
“Darah yang tertumpah masih basah, belum menjadi kering. Aku masih ingat ketika kalian memusnahkan semua orang yang terlibat dalam pabrik yang kalian sebut pabrik Beaters itu. Padahal aku secara pribadi mengajukan diri untuk melakukan penelitian apakah orang-orang itu bisa dijadikan manusia normal seutuhnya atau tidak. Tapi mereka berkilah putusan dari ‘atas’ yang meminta tuk memusnahkan mereka yang telah disuntikan sel Beaters. Jadi menurutku wajar jika karma sedang melakukan aksinya sekarang, di mana seorang yang menumpas para monster itu tetapi terkena suntikan sel Beaters,” ucap Prof Leonie secara gamblang.
“Jadi maksudmu, Leah yang harus disalahkan atas semua kejadian ini?”
“Aku tidak bilang seperti itu, anggap saja wanita muda itu sedang sial…,” nada bicaranya seperti mengajak seseorang bertarung.
Adrian tidak bisa mencegahnya, ia sudah paham betul sifat Prof Leonie yang selalu berbicara tanpa saringan seperti itu. Ia hanya memberikan sinyal kepada kapten Vela agar lebih tenang dan menahan emosinya.
“Hmm… seberapa besar kalian memberikan dosisnya kepada wanita muda itu, serum penahannya?”
“Kami memberikan dosis paling tinggi, untungnya tubuhnya dapat bertahan…,” ucap Adrian
“Baiklah, berikan aku satu hari,” kapten Vela tercengang, ia tidak bisa menunggu selama itu. “akan ku ambil sampel darahnya yang mengandung sel Beaters. Persiapkan saja lab nya,” ucap Prof Leonie dengan santai lalu melirik ke arah kapten Vela. “dengan satu syarat tentunya, aku ingin pria ini memintaku secara tulus. Maka akan kuusahakan selesai lebih cepat,” jarinya menunjuk kepala kapten Vela.
Kapten Vela terdiam, sedangkan Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja tidak menyangka keadaannya akan menjadi seperti ini. Jika kapten Vela tidak tersulut emosinya maka semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa adanya insiden kecil ini. Kapten Vela terpaksa melakukannya karena nyawa rekannya berada di garis antara hidup dan mati.
“Ku mohon, sembuhkanlah Leah. Dia sangat berarti bagi saya dan tim. Saya yakin anda dapat melakukannya,” sambil membungkuk.
“Baiklah….,” prof Leonie melewati kapten Vela yang masih membungkuk.
Setelah menjauh barulah kapten Vela berdiri dengan posisi normal, sambil benar-benar berharap orang itu mampu menyembuhkan Leah.
Pagi hari sudah menyapa Surban City, selain banyaknya orang yang sudah memulai aktivitasnya dan sebagian bahkan belum menemukan jam istirahatnya, Lio sudah bersiap dengan berdandan rapih. Waktunya untuk membeli berbagai kebutuhan, selain kebutuhan anggota Silver Clan. Kebutuhan dapur Gonzalo juga harus dipenuhi. Ketika sudah bersiap untuk pergi, Djohan menghadangnya. Meminta uang yang dipegang oleh Lio, ia ingin melakukannya sendiri.
“Hmm..,” Lio melirik ke arah Solo, ia mengangguk. “baiklah, dan ini catatannya. Jangan sampai ada yang tertinggal. Senyum Djphan membuat perasaan Lio tidak enak.
Djohan berjalan keluar, menghirup udara pagi diharapkan mampu menghapuskan segala kekhawatirannya. Dirinya tidak mengetahui keadaan Leah sekarang, apakah mereka sudah berhasil mengeluarkan sel Beaters nya atau belum. Ketika berjalan sambil melamun seperti itu, seseorang muncul dihadapannya. Dengan jaket panjang yang hampir menyentuh tanah.
“Tuan Stam?” sosok dihadapannya itu adalah tuan Stam.
“Ikut denganku sekarang,” pintanya.
Tuan Stam membawa Djohan ke sebuah caffe, tempat orang-orang memesan ‘morning coffe’. Keadaanya cukup ramai namun tidak terlalu berpengaruh bagi tuan Stam, ia masih tetap tenang seperti biasanya.
“Kamu masih memikirkannya?” tuan Stam bertanya.
Seketika Djohan kembali murung, “Ya, aku masih memikirkannya. Bukannya aku tidak percaya dengan kemampuan orang-orang di organisasi BASS. Tapi aku ingin sekali menyelamatkannya, jika masih sempat.”
Sudah cukup alasan bagi tuan Stam untuk memberitahunya, “Sebenarnya ada cara untuk menyelamatkan Leah, tapi ini digunakan jika mereka tidak mampu memusnahkan sel Beaters nya.”
“Benarkah?” mata Djohan mendadak bersinar terang, lalu mendengar dengan seksama penjelasan dari tuan Stam.
Sementara itu waktu yang dibutuhkan oleh Prof Leonie tuk menyelesaikan serumnya di luar dugaan lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Sekarang tinggal mengetesnya langsung kepada pasien yaitu Leah. Prof Leonie tidak menjanjikan apa-apa, karena kasus ini pertama kalinya dikerjakan olehnya. Jika pada saat orang-orang yang disuntikan sel di pabrik Beaters diberikan padanya maka bukan tidak mungkin serumnya sudah lebih siap dan teruji.
“Semuanya akan ditentukan oleh wanita itu sendiri, apakah tubuhnya mampu menerima serum ini dengan baik atau tidak. Saya sudah melakukan sebaik mungkin bersama staff lab.”
Kapten Vela kembali membungkuk, “Terima kasih atas kerja keras yang telah anda lakukan,” namun kali ini Prof Leonie malah terlihat jijik.
“Hei, sudahlah. Aku bukan orang yang gila hormat,” Prof Leonie izin untuk pergi menghirup udara pagi terlebih dahulu. “Kutinggal kalian sebentar, aku butuh udara segar. Biar nanti staff yang menyuntikan serumnya, aku akan segera diberitahu jika terjadi apa-apa. dah….,” ia pergi dari tempat itu.
Penyuntikan pun dilakukan dengan hati-hati, reaksinya pun langsung terlihat. Urat-urat yang nampak berwarna keunguan itu hilang dari permukaan kulit Leah. Kapten Vela dan Adrian lega melihatnya, raut wajah berseri terpancar dari keduanya. Keadaan Leah pun stabil, hanya tinggal melakukan tes pada darahnya tuk melihat masih ada sel Beaters pada dirinya atau tidak.
“Aku harus berterima kasih pada wanita itu,” ucap kapten Vela.
“Ya, setelah ia kembali ke sini. Kita tidak boleh menganggu waktu istirahatnya sekarang,” ucap Adrian.
Baru saja keduanya merasa bahwa semuanya telah terkendali, datang salah satu petugas medis yang memantau kondisi Leah. Dengan suara yang terbata-bata petugas itu mengabarkan bahwa kondisi Leah mendadak memburuk dan urat-urat berwarna keunguan muncul kembali dan bertambah banyak. Kapten Vela lari masuk ke dalam, melihat langsung kondisi Leah.
“Astaga….,” tidak tega melihat kondisi Leah yang seperti itu. urat-urat itu bercabang hingga hampir menutupi seluruh wajah Leah. “cepat panggilkan Prof Leonie sekarang!” dalam keadaan panik kapten Vela meminta petugas medis tuk menghubungi Prof Leonie.
Posisi Prof Leonie saat ini sedang berada di cafetaria, ia terlihat sedang menengguk segelas teh hangat. Di saat waktu bersantainya itu ia dikagetkan dengan getaran yang berasal dari ponselnya. Ia sudah mengetahui bahwa panggilan masuk yang datang bukanlah pertanda yang baik.
“Hm, ternyata belum cukup. Memang harus dilakukan beberapa uji medis terlebih dahulu, baiklah aku meluncur ke sana,” tanpa menjawab telepon masuk Prof Leonie berjalan menuju tempat bawah tanah.
Di saat bersamaan kapten Vela mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak diketahui, “Siapa?...,” kapten Vela mengangkatnya, ekspresinya langsung berubah dan tanpa basa-basi langsung keluar dari ruangan yang merawat Leah.
Kepulan asap muncul dari sepatu yang dikenakan oleh Djohan, dengan kekuatannya jarak waktu yang ditempuh dari sektor 8 menuju sektor 1 dapat dipangkasnya. Ia berada di depan gedung media televisi yang menayangkan video pabrik Beaters. Menyangka bahwa gedung disebelahnya adalah markas dari BASS.
“Ayolah, di mana keberadaanmu kapten Vela?” sambil meliuk-liukan kepalanya mencari kapten Vela.
“Djohan!” sebuah teriakan terdengar dari kejauhan, kapten Vela memanggilnya.
“Itu dia!” tanpa membuang banyak waktu Djohan menghampirinya. “tunjukan di mana kalian merawat Leah,” pinta Djohan. Kapten Vela pun mengantarnya.
Djohan dapat masuk ke dalam markas BASS dengan mudah berkat adanya kapten Vela disisinya kali ini. Ia di bawa ke ruangan bawah tanah yang menjadi tempat divisi persenjataan berada. Saat tiba di sana sudah ada Prof Leonie yang sedang berbincang dengan Adrian.
“Dia?” tanya Adrian.
“Maafkan aku, tapi ini adalah keadaan darurat. Orang ini adalah anggota Silver Clan,” sontak membuat prof dan Adrian terkejut. “dia bilang, dia bisa mengeluarkan sel Beaters di dalam tubuh Leah.”
“Izinkan aku melakukannya,” ucap Djohan.
Raut wajah meragukan muncul pada Prof Leonie dan juga Adrian. Apakah benar pemuda dihadapan mereka ini mampu membuat keadaan Leah menjadi seperti sedia kala.
“Aku tidak keberatan, lagipula jika memang benar dia bisa melakukannya aku akan sangat terbantu. Karena pemuda ini, aku dapat kembali beristirahat,” ucap Prof Leonie sedikit mengejek.
“Hm,” Adrian sudah tahu tentang tuan Stam yang ia temui ketika pemberian sampel. Bahwa pemimpin itu bisa diandalkan, tetapi untuk anggotanya masih ada keraguan. “baiklah, lagipula kita tidak punya banyak waktu lagi. Kebetulan sekali kamu datang.”
Djohan langsung teringat kata-kata tuan Stam, bahwa intinya pengendalian sel Beaters sangat berperan penting. Jika Djohan sudah sepenuhnya mampu mengontrol sel Beaters dalam dirinya bukan tidak mungkin Leah dapat diselamatkan. Pertama-pertama Djohan meminta petugas untuk menancapkan selang pada nadinya. Lalu ujung selang satunya ditancapkan pada tubuh Leah sehingga keduanya terhubung.
“Hm, memasukan darahnya ke dalam tubuh Leah? Baiklah akan kuperhatikan,” Prof Leonie memantau dari luar ruangan.
Keadaannya menjadi sangat sulit ketika Djohan harus memerintahkan sel Beaters miliknya di tubuh orang lain. Dirinya berkonsentrasi penuh untuk melakukannya. Skenarionya adalah sel Beaters milik Djohan akan memakan sel Beaters yang ada di tubuh Leah. Jika semuanya sudah dimusnahkan, Djohan akan mengeluarkan keseluruhan miliknya dari tubuh Leah. Djohan tidak perlu khawatir kehilangan banyak sel Beaters, karena Beat dalam tubuhnya selalu memompa sel yang baru.
Perlahan namun pasti urat-urat berwarna ungu mulai pudar dan semakin lama semakin tidak nampak. Djohan masih memejamkan matanya, mencoba untuk terus fokus agar semua usahanya tidak sia-sia. Para penonton di luar ruangan pun mulai yakin bahwa Djohan dapat melakukannya. Djohan membuka matanya dan terlihat seperti berbicara dengan petugas.
“Apa yang terjadi?” ucap kapten Vela melihat petugas mencabut selang yang menancap di lengan Djohan maupun lengan Leah. “sudah selesai?”
Tiba-tiba muncul sesuatu dari bekas selang di lengan Leah yang bentuknya seperti semut. Secara cepat benda itu bergerak hingga menyelimuti seluruh tubuh Leah. Ketiganya masuk ke dalam ruangan, semuanya terkejut ketika melihat Leah seperti menjadi monster Beaters lengkap dengan tanduk dan kuku tajamnya.
“Tenanglah, aku sudah memakan sel Beaters yang ada di tubuh Leah,” ucap Djohan dengan tenang. “yang kalian lihat sekarang adalah bentuk armor yang kumiliki, kalian bisa menghancurkannya dengan mudah karena aku sudah tidak mengontrolnya lagi.”
“Hmm, menarik,” Prof Leonie memperhatikan Djohan.
“Baiklah tugasku sudah sampai di sini,” Djohan pamit kepada semuanya lalu keluar ruangan dengan tenang. Kapten Vela menyusulnya pun menyusulnya untuk mengucapka terima kasih.
Adrian memegang baju yang melapisi tubuh Leah, benar saja ketika dipegang baju itu pecah.
“Selain menyelamatkan Leah, orang itu juga memberikan sumber data padaku….,” senyum Adrian.
Seminggu setelah Leah tersadar, dan berniat untuk mengucapkan terima kasih secara langsung pada Djohan. Sehingga ia menyempatkan diri untuk mampir ke Wilson Bar dan Caffe. Ketika Leah ada sampai, ada wanita yang tampak seumuran dengannya berdiri di depan pintu. Wanita itu tampak gugup untuk masuk.
“Permisi,” ucap Leah.
“Ah maaf, aku tidak bermaksud menghalangi pintu masuknya.”
Leah membuka pintunya, dan masuk ke dalam diikuti oleh wanita muda dibelakangnya.
“Ah Leah selamat datang,” sambut Solo.
“Apa Djohan ada?” tanya Leah yang kemudian diikuti oleh wanita muda disebelahnya.
“Eh…kamu ingin bertemu dengannya juga?” keduanya saling melirik.
Tiba-tiba Djohan turun dari lantai dua, siap tuk bekerja hari ini. Kedatangannya itu disaksikan oleh kedua wanita yang mencarinya.
“Djohan!” keduanya mengucapkan secara bersamaan.
“Eh?” dengan wajah yang bingung Djohan melihat kedua wanita itu.
ARC III : MECHA-NISM, END!
redrices dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas