Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#57
Malam Penuh Teror







"BRAK!"

"wah...ini sih udah gak beres,"pikirku.

Semua laki-laki yang berada diruang tamu ini menunjukkan wajah yang penuh dengan ketegangan.

Bulir-bulir keringat tak terasa mulai tampak diwajahku. Padahal cuaca sangat dingin. Tapi yang aku rasakan saat itu adalah hawa panas seperti menyelimuti seluruh ruangan ini.

Yusuf tiba-tiba saja berkata, suaranya terdengar sedikit bergetar, pertanda ia juga tengah menahan rasa takut.
emoticon-Takut

"Tenang semuanya, tenang. Tak apa-apa. Makhluk atau apapun namanya, yang saat ini tengah mengganggu kita itu, tidak akan bisa masuk kedalam rumah ini. Oke...percaya padaku," katanya.

Dari perkataannya, sepertinya Yusuf sudah melakukan sesuatu. Mungkin penangkal atau apapun itu. Tapi ia sendiri seperti kurang yakin dengan kemampuannya. Itu terlihat dari nadanya berbicara.

Perkataan Yusuf itu tampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadap perasaan kami yang saat ini tengah dicekam oleh ketakutan.
emoticon-Takut

Aku, kemudian berinisiatif untuk memberanikan diri mendekat kearah jendela samping. Jika kita melihat dari sana, maka kita akan bisa melihat teras depan villa ini.

Sebuah cahaya tiba-tiba seperti masuk kedalam villa, yang disusul oleh suara ledakan petir yang menggelegar dilangit. Dan hal itu sangat cukup untuk membuat rasa takut kembali memuncak. Kilatan satu, kemudian disusul oleh suara gelegar petir. Begitupun dengan kilatan kedua serta seterusnya.


Kaki yang tadinya hendak kugerakan mendadak kaku. Alam seolah-olah ikut mempermainkan perasaan kami yang ada diruangan itu.

Awalnya sulit untuk bisa menata perasaan takut ini. Tetapi, lambat laun, aku akhirnya mulai bisa mengendalikan diri. Yang pertama kali kulakukan adalah mencoba untuk meneruskan niatanku tadi. Yaitu mengintip apa yang ada didepan villa ini. Tepatnya didepan pintu masuk.
denah villa

kaskus-image

"Bissmilah...,"aku mengucapkan doa agar hati serta pikiranku ini menjadi tenang dan kuat.

"Brak!"

Suara benturan keras itu terdengar lagi.

Meskipun Yusuf sudah bilang bahwa makhluk itu tidak akan bisa masuk kedalam villa. Tapi tetap saja, kejadian itu membuatku ketar-ketir.


Aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut. Debaran jantung yang tadinya berdetak dengan kencang mulai sedikit kendor. Maka, aku lalu mulai menggerakkan kedua kaki ini.

Selangkah demi selangkah.

Meskipun pelan, tapi usahaku membuahkan hasil juga. Perlahan, aku mulai mendekat kearah jendela samping.

Tanganku kini sudah menggenggam erat kain gorden. Hanya tinggal membukanya saja, maka aku bisa melihat, makhluk apa yang sebenarnya mengganggu kami itu.

Sebelum memulai, aku seperti meminta persetujuan dulu dari teman-temanku. Mereka juga rupanya memang tengah memperhatikan gerakan ku.

Hampir serentak, mereka mengangguk.

Dengan sedikit menyipitkan mata, karena takut kena jumpscare, aku lalu perlahan-lahan mulai membuka gorden jendela.

Awalnya hanya kegelapan saja yang terpampang disana. Jujur, aku sedikit heran, karena seingatku, lampu diteras villa sudah menyala. Tapi kok hanya gelap saja yang tampak?
emoticon-Bingung

Suara petir, bisa kudengar dengan jelas. Apakah aku terkena serangan gaib sehingga aku mendadak menjadi buta?

Bila memang benar itu yang terjadi. Maka sungguh aku sangat sial. Atau bisa jadi, kebutaan mendadak yang kualami karena perbuatan "selingkuh" yang kulakukan.

"Ndra," tiba-tiba aku mendengar Slamet berkata, meskipun sangat pelan.

Aku diam. Mencoba menyimak perkataan Slamet selanjutnya.

Dan, apa yang ia katakan memang benar-benar membuatku terkejut.

Slamet lalu berkata...

"Ndra, buka matamu apa. Kamu gimana bisa lihat kalah kamu merem gitu,"

"Astaga,"


Sungguh bodoh sekali. Pantesan gelap. Lha wong saat menyipitkan mata, karena takut di jumpscare, aku malah kebablasan merem.
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

"bodoh...bodoh," kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum emoticon-Malu

Begitu aku membuka mata, aku bisa melihat dengan jelas sesuatu yang sedari tadi menabrak-nabrak pintu villa kami.

"Ular buntung...," Spontan aku menyebutkan nama makhluk itu.
kaskus-image
si jin baperan


Ya, ternyata, makhluk yang sedari tadi mengganggu kami adalah sesosok ular buntung yang tadi sore kami lihat.

Aku bisa melihat dengan jelas bentuk tubuhnya yang aneh. Bila kalian ingin membayangkan, bentuknya seperti bantal guling. Tidak ada yang lancip dikedua ujungnya yang menandakan dimana ekor ataupun kepalanya.

Ular buntung itu, bergerak seperti ulat kilan, yang melentingkan tubuhnya saat bergerak.

Dan begitulah yang kulihat, ular buntung itu bergerak membentuk setengah lingkaran dengan kedua ujungnya sebagai tumpuan. Lalu, dengan tiba-tiba ia melentingkan tubuhnya dengan cepat kearah pintu villa kami.

"Brak!"

Benturan keras antara tubuh si ular, dengan daun pintu, membuat suara keras yang kami dengar tadi.

"Brak!"

Keanehan lain kulihat didalam kejadian ini.

Normalnya, dengan benturan keras yang si ular buntung itu lakukan, maka daun pintu itu akan dengan mudahnya terbuka. Apalagi pintu memang tidak kami kunci. Hanya ditutup saja. Tapi ini kok aneh, si ular tetap tidak bisa masuk mau sekeras apapun ia berusaha.

"Apakah memang Yusuf sehebat itu? Hingga ia bisa membuat pagar gaib sekuat ini,"Tanyaku dalam hati sambil melirik kearah anak muda yang setengah tua itu.

Yusuf masih diam terpaku ditempatnya. Kedua matanya juga tampak fokus menghadap ke arah pintu villa.

"Sepertinya sedang ada adu kekuatan diantara mereka deh," kataku kembali didalam hati.

Dan untuk kali ini, aku berharap Yusuf dapat memenangkan pertandingan adu kekuatan itu.

Diantara derasnya hujan serta petir yang menggelar diatas langit. Kami masih terus terdiam sembari mendengarkan suara gebrakan di pintu villa. Yang awalnya takut, lama kelamaan malah menjadi terbiasa, hingga kami akhirnya bisa kembali berfikir dengan tenang. Hanya Yusuf saja yang masih tetap fokus menahan gempuran itu.

Dengan semua keadaan ini, aku bertanya-tanya akan satu hal.

"Apakah para perempuan didapur sana tidak ada yang mendengar keributan ini apa?" Begitu pikirku.

Karena sungguh aneh bila semua keributan ini tidak terdengar oleh mereka yang berada dibelakang. Suara gebrakan yang dilakukan oleh ular buntung itu sangat keras.

"Masa iya sih gak kedengaran?" Kembali pertanyaan itu terulang dibenakku.

Penasaran, aku secara perlahan berjalan menuju ke dapur guna melihat mereka.

Untuk kedapur, aku harus melewati ruang tengah yang cukup besar.

"Singgg...,"

Aneh, disini, diruang tengah. Tidak terdengar sama sekali suara gedubrakan pintu didepan sana. Padahal hanya berbeda beberapa langkah saja. Hanya suara hujan saja yang terdengar.

Menyadari hal ini, bisa dimaklumi jika teman-temanku yang ada didapur tidak tahu sama sekali dengan kondisi kami didepan.

Saat aku mulai melangkah, hanya sekilas...ya, sekilas.

Aku seperti melihat ada bayangan seseorang yang bergerak dikamar yang ditempati oleh Sri dan Wulan.

Didalam penglihatanku yang sekilas itu, aku seperti melihat sesosok tinggi yang saking tingginya, hanya badan saja yang terlihat. Karena keadaan sangat terang, semua lampu di villa dinyalakan, aku bisa melihat pakaian sosok itu.

Pakaiannya seperti long dress dengan warna putih kumal. Rambut panjangnya sangat lebat sampai menjuntai hampir melewati pinggangnya.
kayak gini

kaskus-image

"Set...,"

Sosok tinggi itu bergerak didalam kamar begitu saja. Dari posisi tubuhnya, sepertinya ia menuju kearah kamar mandi.

Seketika aku menoleh kearahnya.

Namun, tak ada apapun disana.

"Deg,"

Aku mulai mencium aroma-aroma alam gaib.

Sebuah kilatan yang disusul dengan gelegar petir kembali terdengar. Menyadarkanku agar aku kembali bergerak kearah dapur.

Aku lalu mulai berjalan kembali dengan tangan meraba tengkuk. Menahan agar bulu kudukku tidak berdiri.

Entah kenapa, semakin aku berjalan mendekati dapur, feelingku mengatakan bahwa aku harus waspada.

Dengan segala keadaan yang ganjil saat ini, aku mengikuti kata hatiku.

Dengan mengendap-endap, aku mulai mendekati dapur.

Dari arah dapur tidak terdengar suara apapun. Padahal, mereka setahuku sedang memasak. Masa iya gak ada suaranya sama sekali.

"Emm...gak beres lagi aja ini mah,"kataku dalam hati.

Meskipun takut, tapi aku masih berani ( sedikit sih ). Karena keadaan villa yang terang.

Aku lalu mengintip kearah dapur...

"Astaghfirullah...,"

Mataku melotot demi melihat dapur yang kosong!

Tidak ada siapapun disana.

Aku gugup dan panik.

"Kemana mereka semua?" Pertanyaan yang menggelayut di otakku ini tidak ada yang menjawab.

Mataku nyalang memandangi seluruh dapur. Dan, sebuah pintu yang terbuka seolah menjadi jawaban atas semua pertanyaanku.

Pintu yang terbuka itu adalah pintu belakang villa, yang bisa digunakan sebagai akses keluar villa dan berhadapan langsung dengan hutan lindung gunung Slamet.

Jantungku dag-dig-dug mencoba menerka tentang apa yang terjadi dengan tidak adanya teman-teman perempuanku didapur. Juga tentang kenapa pintu belakang ini terbuka, disaat malam dan hujan yang sedang deras-derasnya.

Untuk keluar villa sendirian, jujur aku tak berani. Selain memang gelap, yang kutakutkan adalah bila tiba-tiba saja muncul gadis cantik, ataupun bantal guling berwarna putih berdiri disana.

gadis cantik

kaskus-image

bantal guling

kaskus-image


Aku kemudian berinisiatif untuk memanggil beberapa orang temanku, untuk menemaniku mencari para perempuan dan juga Gatot.

Aku segera berbalik.

Dan...

Mataku melotot melihat apa yang tampak dikedua mata ini.

Sebuah pemandangan yang sangat menyeramkan terpampang disana. Tepatnya dibatas antara ruang tamu dan juga ruang tengah.

Kalian mau tahu apa yang aku lihat malam itu?

4 sosok kuntilanak setinggi 4 meteran! Tinggi mereka hampir menyentuh plafon villa.
kaskus-image
x 4 aja yang model ginian


Keempat makhluk gaib itu berdiri tepat ditengah-tengah. Seolah menghalangiku untuk bisa bertemu kembali dengan teman-temanku didepan.

Meskipun demikian, ada hal yang sedikit membuatku tak begitu takut.

Kenapa?

Itu karena ke 4 sosok kuntilanak itu berdiri membelakangi ku. Jadi, aku hanya bisa melihat tubuh mereka.

Merasa bahwa percuma saja menerobos pagar yang mereka buat. Aku mengurungkan niatku untuk pergi kedepan.

Kini yang kutakutkan adalah, jika keempat makhluk itu tiba-tiba saja berbalik!

Bisa berabe nantinya.

Maka, satu-satunya jalan yang kutempuh adalah, aku memutuskan untuk mencari tahu tentang keberadaan para perempuan didapur, serta Gatot.

"Sebodo amatlah...,"Pikirku saat itu.

Dengan bergerak secara perlahan, berusaha untuk tidak membuat suara, aku mulai melangkah mundur.

Setelah tubuhku terhalang oleh tembok. Aku lalu segera berjalan kearah daun pintu yang terbuka itu.

Dan, baru saja aku menyentuh daun pintu yang terbuka itu. Tiba-tiba saja telingaku mendadak menjadi sangat sensitif.

"Huhuhuhu...,"

"Ada suara menangis....," Desahku dalam hati.





***
piripiripuru
mas444
sulkhan1981
sulkhan1981 dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.