- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#83
Chapter 56
Quote:
Sebuah mayat tergeletak bersender ke lantai yang penuh darah, untungnya klub ini tidak terlalu terang cenderung remang sehingga tidak sepenuhnya terlihat noda itu. Kepala sang mayat tidak tahu kemana dan dada bagian kanannya bolong, sebuah kaleng bir bisa diisi dengan kekosongan itu. Gareth berjalan santai menuju ruangan rahasia, aksesnya melalui dapur. Mayat dengan kondisi mengenaskan tadi adalah ulahnya.
Saat berjalan di lorong gelap dengan satu lampu kuning diatasnya. Sensor ditangannya berbunyi, ditempatnya melalui gelang yang tertanam di pakaian tempurnya. Pak Adrian sengaja memasangnya, padahal tambahan itu harusnya diberikan ketika pakaian tempur sudah selesai sempurna. Tetapi untuk Gareth dispesialkan karena kontribusinya sungguh besar dalam memberikan data selama pelatihan, selain Davies yang juga memberikan data yang besar meskipun tubuhnya masih belum pulih dan agak kaku digerakan tanpa pakaian tempur.
Gelang tersebut memiliki kamera kecil yang memberikan tampilan hologram, sehingga nantinya anggota Bass dapat melihatnya dengan jelas. Sensor menunjukan kekuatan yang besar dengan tanda lingkaran berwarna hitam pekat. Semakin gelap maka kekuatan Beaters nya semakin besar, sedangkan semakin cerah maka kekuatan Beaters nya semakin lemah.
“Dua Beaters berkekuatan besar?” Gareth melihat tampilannya, namun segera dimatikan dengan menekan kembali di bagian pergelangan tangannya. Fokusnya saat ini untuk menemukan Leah. Beaters lemah yang ia bunuh barusan sudah memberitahunya, agak kejam memang ketika sebuah informasi berharga dibayar dengan nyawa.
Dihadapan Gareth terdapat sebuah pintu yang ia yakini bahwa Leah berada di dalam, belatinya ia keluarkan. Dengan teknologi Laser Heat bagian pisaunya menyala, berwarna merah tandanya siap digunakan kapan saja. Gareth sedikit menurunkan tubuhnya, lalu mendobrak pintu didepannya itu. Terlihat seseorang dan juga Leah yang duduk terikat. Satu tebasan mampu memotongkan lengan orang itu, potongannya sangat rapih berkat teknologi laser heat. Lalu Gareth menancapkan belatinya ke dada orang yang kehilangan satu tangannya itu.
“Oi! Apa yang kau lakukan pada Leah?!” tanyanya kasar.
“Ahh…,” mencoba menumbuhkan lengannya, tetapi tidak keluar.
“Jawab pertanyaanku!” Gareth menurunkan Belatinya, bagian dada orang itu sedikit terbuka. Belum lagi darah yang mulai mengucur.
“Kau sudah liat video yang sempat viral itu bukan, bayangkan jika aku melakukannya pada temanmu ini….,” dengan nada mengancam.
Berita mengenai pabrik Beaters juga sampai kepada Gareth maupun kapten Vela ketika mereka terbaring di rumah sakit. Melihatnya saja sudah mengerikan, bagaimana orang-orang tersebut disuntikan sel Beaters. Ada yang mati dan ada juga yang berhasil menjadikan dirinya monster. Gareth melihat Leah yang tertunduk, lalu dirinya semakin bergetar ketika melihat sebuah alat suntik yang tergeletak di lantai. Dengan cairan berwarna keunguan keluar dari ujung jarumnya.
“HAHAHAHA…boss Maxs memang sungguh kejam terhadap wanita, andaikan wanita itu bukan seorang pemburu Beaters. Maka dirinya lebih beruntung lagi….,” perkataannya malah membuat Gareth semakin kesal.
Pertama-pertama belatinya itu ia gunakan untuk menyayat mulut orang itu, lalu ia tancapkan tepat dikeningnya. Efek dari laser heat membuat kepala orang itu mulai terbakar. Belum puas sampai situ, Gareth mencabut lagi belatinya. Incaran selanjutnya adalah bagian di mana Beat berada. Dengan mengeluarkan tenaganya, Gareth menusuknya dengan keras. Ia tekan terus hingga belati dan tangannya itu masuk ke area dada. Orang yang berkata buruk barusan sudah tidak bergerak dan mati.
“Leah!” Gareth menggoyangkan tubuh Leah, tidak ada respon darinya. Lalu Gareth mengangkat kepala Leah yang tertunduk. “Le…..ah….,” urat-urat terlihat jelas berwarna ungu dari bagian leher hingga setengah kepalanya. Gareth yang panik cepat membawa Leah keluar dari situ.
Kapten Vela beserta truk besar milik tim 13 sudah menunggu di luar, karena melihat mobil dinas milik mereka terparkir diseberang. Gareth memberi tahu bahwa Leah sudah disuntikan sel Beaters oleh seseorang, jika tidak segera ditangani maka keadaannya akan menjadi parah. Kapten Vela berinisiatif membawanya ke markas utama, terutama ke divisi persenjataan. Karena mereka juga membuat racun untuk membunuh sel Beaters. Dengan mobil dinas biasanya, kapten Vela tidak membuang banyak waktu.
“Gerard! Bawa Nakata bersamamu, pergilah ke markas,” kapten Vela bergegas.
“Kurang ajar!” Gareth memukul tanah, dirinya merasa terpuruk melihat Leah yang seperti itu. “akan kuhabisi…semuanya….” Gareth melesat, peluncur dikakinya dimaksimalkan kekuatannya. Tidak perduli bahwa kekuatan armor suit miliknya itu sangat terbatas.
“Markas?....,” Gerard berdiri di samping truknya, Nakata terbaring lemah di bagian belakang truk.
Maxs dengan keadaan armored mode mengeluarkan sayapnya, menerjang menuju Djohan. Baginya tentang kecepatan tidak ada yang bisa mengalahkannya, gerakan Maxs sangat mudah terbaca. Djohan mampu menghindar, namun sebelum menghindar ia merasakan telapak tangan Maxs berhasil menyentuhnya, ke arah perut.
Maxs terbang ke atas, lalu berucap “Boom!” seketika tubuh Djohan bergetar hebat.
“Apa?!” dirinya merasa seperti dihantam oleh sebuah bazooka, bahkan bagian kepala dan juga kedua tangannya yang telah dilapisi oleh sel Beaters yang mengeras pun sempat goyah.
Tubuhnya sempat goyah dan menggunakan satu lututnya untuk menopang dirinya. “kekuatan apa itu….,” ia melihat Maxs yang berada di atas membuka telapak tangannya. “itu dia!” Djohan menghindar.
Tanah didepannya seperti terkena efek ledakan, kerikil-kerikil kecil beterbangan lalu diikuti debu yang mengepul.
“Kau mempunyai mata yang bagus walaupun tertutup dengan helm yang rapat menutup kepalamu itu, tapi bagaimana kalau ini,” gerakan Maxs seperti melempar bola basket, dengan sedikit ayunan.
“Satu?...,” cara Djohan mengetahuinya dengan melihat adanya udara yang tiba-tiba terbelah “tidak!” Djohan mampu menghindari yang pertama, namun dirinya kena telak pada serangan kedua dan ketiga yang ternyata dibawakan secara bersamaan. Tubuhnya terseret jauh, perut dan pundaknya terasa sakit.
Dengan percaya diri Maxs memberitahu bahwa kemampuannya adalah membuat bola udara. Di mana bola itu memiliki daya hancur yang sama dengan sebuah bom. Dengan kata lain serangannya itu adalah bom yang tidak terlihat. Namun tetap saja sekuat apapun bola udaranya itu tidak mampu untuk melawan Allison bahkan dalam bentuk Beaters organiknya. Maka dari itu organisasinya dengan sangat terpaksa harus tunduk kepada Allison. Ia pun secara pribadi berterimakasih kepada Silver Clan yang berhasil memusnahkan Allison sehingga “Purple Line” dapat bergerak secara mandiri lagi.
“Sudah kuduga, tidak mungkin hanya kau seorang yang membunuh Allison. Pastinya seluruh skuad karena Allison sangat kokoh, si brengsek itu….”
“Bagaimana menghindari sesuatu yang tidak terlihat? aku asumsikan ia bisa membuat banyak bola udara, jika aku menerobos semuanya maka tamat sudah…,” Djohan memikirkan cara untuk dapat melawan musuhnya tanpa terkena serangan bola udara itu.
Sesuatu melesat cepat ke arah Maxs, hingga dirinya sama sekali tidak menyadari kedatangan sosok ini. Ketika menoleh ke belakang, sebuah tinju sudah berjalan cepat dan menghantam wajahnya. Maxs terjatuh, tubuhnya menghantam bangunan dibawahnya yang tampak masih dalam pengerjaan itu. Karena kejadiannya begitu cepat, Djohan tidak mampu melihat siapa yang menyerang Maxs. Lalu sosok itu berjalan mendekati Djohan, semakin jelas sosok yang menggunakan pakaian berteknologi tinggi ini. Ia adalah Gareth dari tim 13.
“Jangan ganggu tugasku….,” tuturnya dengan tatapan yang sangat dingin.
“Hmmm,” Djohan tidak mengiyakannya. Pakaian yang dipakai oleh Gareth menarik perhatian dari Djohan. Semenjak insiden melawan Allison waktu itu memang kabar terakhir yang ia terima adalah keadaan Gareth dan Kapten Vela dalam keadaan yang sangat buruk. Tapi melihat gerak-gerik Gareth barusan, Djohan yakin bahwa ia sudah sembuh.
Maxs menerobos reruntuhan, kembali naik ke atas. “Cih, sekarang ada dua. Menyusahkan!”
Saat berjalan di lorong gelap dengan satu lampu kuning diatasnya. Sensor ditangannya berbunyi, ditempatnya melalui gelang yang tertanam di pakaian tempurnya. Pak Adrian sengaja memasangnya, padahal tambahan itu harusnya diberikan ketika pakaian tempur sudah selesai sempurna. Tetapi untuk Gareth dispesialkan karena kontribusinya sungguh besar dalam memberikan data selama pelatihan, selain Davies yang juga memberikan data yang besar meskipun tubuhnya masih belum pulih dan agak kaku digerakan tanpa pakaian tempur.
Gelang tersebut memiliki kamera kecil yang memberikan tampilan hologram, sehingga nantinya anggota Bass dapat melihatnya dengan jelas. Sensor menunjukan kekuatan yang besar dengan tanda lingkaran berwarna hitam pekat. Semakin gelap maka kekuatan Beaters nya semakin besar, sedangkan semakin cerah maka kekuatan Beaters nya semakin lemah.
“Dua Beaters berkekuatan besar?” Gareth melihat tampilannya, namun segera dimatikan dengan menekan kembali di bagian pergelangan tangannya. Fokusnya saat ini untuk menemukan Leah. Beaters lemah yang ia bunuh barusan sudah memberitahunya, agak kejam memang ketika sebuah informasi berharga dibayar dengan nyawa.
Dihadapan Gareth terdapat sebuah pintu yang ia yakini bahwa Leah berada di dalam, belatinya ia keluarkan. Dengan teknologi Laser Heat bagian pisaunya menyala, berwarna merah tandanya siap digunakan kapan saja. Gareth sedikit menurunkan tubuhnya, lalu mendobrak pintu didepannya itu. Terlihat seseorang dan juga Leah yang duduk terikat. Satu tebasan mampu memotongkan lengan orang itu, potongannya sangat rapih berkat teknologi laser heat. Lalu Gareth menancapkan belatinya ke dada orang yang kehilangan satu tangannya itu.
“Oi! Apa yang kau lakukan pada Leah?!” tanyanya kasar.
“Ahh…,” mencoba menumbuhkan lengannya, tetapi tidak keluar.
“Jawab pertanyaanku!” Gareth menurunkan Belatinya, bagian dada orang itu sedikit terbuka. Belum lagi darah yang mulai mengucur.
“Kau sudah liat video yang sempat viral itu bukan, bayangkan jika aku melakukannya pada temanmu ini….,” dengan nada mengancam.
Berita mengenai pabrik Beaters juga sampai kepada Gareth maupun kapten Vela ketika mereka terbaring di rumah sakit. Melihatnya saja sudah mengerikan, bagaimana orang-orang tersebut disuntikan sel Beaters. Ada yang mati dan ada juga yang berhasil menjadikan dirinya monster. Gareth melihat Leah yang tertunduk, lalu dirinya semakin bergetar ketika melihat sebuah alat suntik yang tergeletak di lantai. Dengan cairan berwarna keunguan keluar dari ujung jarumnya.
“HAHAHAHA…boss Maxs memang sungguh kejam terhadap wanita, andaikan wanita itu bukan seorang pemburu Beaters. Maka dirinya lebih beruntung lagi….,” perkataannya malah membuat Gareth semakin kesal.
Pertama-pertama belatinya itu ia gunakan untuk menyayat mulut orang itu, lalu ia tancapkan tepat dikeningnya. Efek dari laser heat membuat kepala orang itu mulai terbakar. Belum puas sampai situ, Gareth mencabut lagi belatinya. Incaran selanjutnya adalah bagian di mana Beat berada. Dengan mengeluarkan tenaganya, Gareth menusuknya dengan keras. Ia tekan terus hingga belati dan tangannya itu masuk ke area dada. Orang yang berkata buruk barusan sudah tidak bergerak dan mati.
“Leah!” Gareth menggoyangkan tubuh Leah, tidak ada respon darinya. Lalu Gareth mengangkat kepala Leah yang tertunduk. “Le…..ah….,” urat-urat terlihat jelas berwarna ungu dari bagian leher hingga setengah kepalanya. Gareth yang panik cepat membawa Leah keluar dari situ.
Kapten Vela beserta truk besar milik tim 13 sudah menunggu di luar, karena melihat mobil dinas milik mereka terparkir diseberang. Gareth memberi tahu bahwa Leah sudah disuntikan sel Beaters oleh seseorang, jika tidak segera ditangani maka keadaannya akan menjadi parah. Kapten Vela berinisiatif membawanya ke markas utama, terutama ke divisi persenjataan. Karena mereka juga membuat racun untuk membunuh sel Beaters. Dengan mobil dinas biasanya, kapten Vela tidak membuang banyak waktu.
“Gerard! Bawa Nakata bersamamu, pergilah ke markas,” kapten Vela bergegas.
“Kurang ajar!” Gareth memukul tanah, dirinya merasa terpuruk melihat Leah yang seperti itu. “akan kuhabisi…semuanya….” Gareth melesat, peluncur dikakinya dimaksimalkan kekuatannya. Tidak perduli bahwa kekuatan armor suit miliknya itu sangat terbatas.
“Markas?....,” Gerard berdiri di samping truknya, Nakata terbaring lemah di bagian belakang truk.
Maxs dengan keadaan armored mode mengeluarkan sayapnya, menerjang menuju Djohan. Baginya tentang kecepatan tidak ada yang bisa mengalahkannya, gerakan Maxs sangat mudah terbaca. Djohan mampu menghindar, namun sebelum menghindar ia merasakan telapak tangan Maxs berhasil menyentuhnya, ke arah perut.
Maxs terbang ke atas, lalu berucap “Boom!” seketika tubuh Djohan bergetar hebat.
“Apa?!” dirinya merasa seperti dihantam oleh sebuah bazooka, bahkan bagian kepala dan juga kedua tangannya yang telah dilapisi oleh sel Beaters yang mengeras pun sempat goyah.
Tubuhnya sempat goyah dan menggunakan satu lututnya untuk menopang dirinya. “kekuatan apa itu….,” ia melihat Maxs yang berada di atas membuka telapak tangannya. “itu dia!” Djohan menghindar.
Tanah didepannya seperti terkena efek ledakan, kerikil-kerikil kecil beterbangan lalu diikuti debu yang mengepul.
“Kau mempunyai mata yang bagus walaupun tertutup dengan helm yang rapat menutup kepalamu itu, tapi bagaimana kalau ini,” gerakan Maxs seperti melempar bola basket, dengan sedikit ayunan.
“Satu?...,” cara Djohan mengetahuinya dengan melihat adanya udara yang tiba-tiba terbelah “tidak!” Djohan mampu menghindari yang pertama, namun dirinya kena telak pada serangan kedua dan ketiga yang ternyata dibawakan secara bersamaan. Tubuhnya terseret jauh, perut dan pundaknya terasa sakit.
Dengan percaya diri Maxs memberitahu bahwa kemampuannya adalah membuat bola udara. Di mana bola itu memiliki daya hancur yang sama dengan sebuah bom. Dengan kata lain serangannya itu adalah bom yang tidak terlihat. Namun tetap saja sekuat apapun bola udaranya itu tidak mampu untuk melawan Allison bahkan dalam bentuk Beaters organiknya. Maka dari itu organisasinya dengan sangat terpaksa harus tunduk kepada Allison. Ia pun secara pribadi berterimakasih kepada Silver Clan yang berhasil memusnahkan Allison sehingga “Purple Line” dapat bergerak secara mandiri lagi.
“Sudah kuduga, tidak mungkin hanya kau seorang yang membunuh Allison. Pastinya seluruh skuad karena Allison sangat kokoh, si brengsek itu….”
“Bagaimana menghindari sesuatu yang tidak terlihat? aku asumsikan ia bisa membuat banyak bola udara, jika aku menerobos semuanya maka tamat sudah…,” Djohan memikirkan cara untuk dapat melawan musuhnya tanpa terkena serangan bola udara itu.
Sesuatu melesat cepat ke arah Maxs, hingga dirinya sama sekali tidak menyadari kedatangan sosok ini. Ketika menoleh ke belakang, sebuah tinju sudah berjalan cepat dan menghantam wajahnya. Maxs terjatuh, tubuhnya menghantam bangunan dibawahnya yang tampak masih dalam pengerjaan itu. Karena kejadiannya begitu cepat, Djohan tidak mampu melihat siapa yang menyerang Maxs. Lalu sosok itu berjalan mendekati Djohan, semakin jelas sosok yang menggunakan pakaian berteknologi tinggi ini. Ia adalah Gareth dari tim 13.
“Jangan ganggu tugasku….,” tuturnya dengan tatapan yang sangat dingin.
“Hmmm,” Djohan tidak mengiyakannya. Pakaian yang dipakai oleh Gareth menarik perhatian dari Djohan. Semenjak insiden melawan Allison waktu itu memang kabar terakhir yang ia terima adalah keadaan Gareth dan Kapten Vela dalam keadaan yang sangat buruk. Tapi melihat gerak-gerik Gareth barusan, Djohan yakin bahwa ia sudah sembuh.
Maxs menerobos reruntuhan, kembali naik ke atas. “Cih, sekarang ada dua. Menyusahkan!”
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup