- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#80
Chapter 54
Wanita penghibur masih saja meliuk-liukan tubuhnya dengan keadaan setengah tanpa busana. Nakata sama sekali tidak menikmatinya dan merasa terganggu dengan kegiatan ini, semua ia lakukan karena adanya misi saja. Apalagi wanita didepannya ini bertindak sangat liar sekali, berbeda dengan tipe wanitanya yang harus memiliki sikap lembut dan keibuan. Nakata mengangkat tubuhnya yang besar dari kursi, membetulkan jasnya yang kancingnya terbuka dan meminta izin untuk ke kamar kecil sebentar.
“Eh…kenapa tidak dikeluarkan di sini saja?” genit sang wanita penghibur.
“Tidak, aku ke kamar kecil bukan untuk itu….,” Nakata keluar dari ruangannya, wanita penghibur memberikan ciuman jarak jauh sebelum Nakata menutup pintunya.
Nakata mulai menyelidiki, ia berpura-pura berjalan menuju kamar mandi. Sambil melihat-lihat ternyata tempatnya tidak seluas yang dibayangkan. Jalur lainnya tepat ke arah dapur dan tentunya daerah dapur ada pintu belakang untuk membuang sampah. Lalu Nakata mulai menyelidiki lantai dua, sama seperti yang ia lihat dari bawah. Lantai dua ini diisi dengan sofa-sofa setengah lingkaran dengan tempat yang lebih nyaman dari meja yang memiliki tiang di lantai satu. Namun ada satu jalur di lantai dua yang dijaga oleh dua orang. Nampaknya Jalur itu cukup mencurigakan.
“Leah….,Leah….,” Nakata mencoba menghubungi Leah, namun tidak ada jawaban.
Nakata masih melihat-lihat bar dari lantai dua ini, siapa tau ada penggerakan yang mencurigakan. Ia menyender ke pagar pembatas dekat dengan tangga. Banyak pelayan yang wara-wiri dihadapannya, beberapa ada yang menawari minuman. Namun Nakata menolaknya. Ia berharap wanita penghibur bersamanya tidak keluar kamar dan malah mencarinya, kalau tidak misi ini bisa gagal atau bahkan terbongkar.
“Hmmm…,” untung saja Nakata memilih untuk menyelidiki terlebih dahulu seperti apa bar Purple Line ini.
Tempat ini hanya memiliki akses satu pintu masuk dan satu pintu keluar melalui area dapur. Jika mereka langsung mendobrak dari pintu belakang sudah dipastikan banyak orang yang terjebak di dalam. Tidak semua orang tahu bahwa area dapur memiliki akses pintu untuk membuang sampah. Lagipula orang-orang yang mengunjungi tempat ini hampir semuanya mabuk karena minuman, pikiran mereka tidak akan sampai ke sana. Jikalau semua pegawai yang memakai jas hitam dengan garis ungu adalah seorang monster Beaters maka orang-orang yang terjebak bisa dijadikan Sandra atau lebih parahnya dijadikan makanan bagi mereka.
Beberapa orang memakai setelan sama dengan para penjaga depan terlihat berjalan menuju tangga, mereka berjumlah empat orang dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Nakata mengamatinya dan sempat terjadi kontak mata antara keduanya. Namun hanya sampai situ saja karena sekumpulan orang ini langsung berjalan menuju sebuah jalur yang dijaga oleh dua orang penjaga. Tanpa banyak basa-basi dua penjaga ini mempersilahkan orang-orang ini masuk.
Nakata menilai sudah cukup untuknya dalam mengawasi tempat ini, dirinya turun ke bawah namun ada orang yang menghadangnya. “Hei pria besar, ku lihat penggerakanmu sangat mencurigakan. Bukankah kau sedang bersenang-senang dengan wanita tadi?”
“Bisakah kau minggir, aku sudah selesai dengan wanita itu,” jawab Nakata ingin melewati orang yang menghadangnya. Namun orang itu tidak mau mendengar, dan kemudian memanggil teman-temannya.
Nakata mencoba menghubungi kembali Leah, namun tetap tidak tersambungkan. Tidak ada jalan lain kecuali dengan melawan jika adanya penyerangan.
“Jangan kira kau yang berbadan besar lebih kuat dari kami semua,” mulai memainkan tangannya. Lalu dengan cepat memukul Nakata, sebelum tangannya menyentuh Nakata. Orang itu sudah terpental jauh karena pukulan Nakata lebih cepat.
Musik terhenti seketika, melihat tubuh seseorang terpental jauh dan merusak meja-meja didepannya.
“Bisakah aku pulang sekarang?” aksinya itu malah membuat yang lainnya terpelantik dan keributan di bar pun tidak bisa dihindari.
Leah yang masih mengamati dari luar sedikit terkejut ketika melihat beberapa orang berlari dari dalam bar, ia baru sadar bahwa sedari tadi alat komunikasi yang dipasangnya tidak diaktifkan. Leah merasa bersalah kepada seniornya itu dan buru-buru mengaktifkannya. Terdengar suara ribut-ribut, Leah memutuskan untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam untuk melihatnya sendiri ada kejadian ribut-ribut apa.
“Maafkan aku senior,” Leah berlari melewati orang-orang bahkan wanita-wanita penghibur yang pakaiannya seronok. Keadaan di dalam sudah kacau, banyak orang tergeletak di lantai dan mengerang kesakitan.
Nakata melihat Leah dengan tatapan yang kecewa, lebih disebabkan karena Leah sangat sulit dihubungi.
Leah menghampirinya, “Maaf, tadi….,” Nakata tidak mendengarnya, semuanya sudah kacau seperti ini. Layaknya nasi yang sudah menjadi bubur.
Ia melangkah naik ke atas diikuti dengan Leah, dua penjaga yang menjaga jalur ini pun sudah mengikuti rekannya yang mengerang kesakitan di bawah. Mereka semua bukanlah monster Beaters seperti yang ditemukan oleh Leah kemarin malam. Ada indikasi hanya orang-orang yang memiliki keanggotaan tingkat tinggilah yang merupakan seorang monster Beaters.
“Tidak apa-apa, ini salahku karena terlalu terlihat sebagai orang yang mencurigakan. Apa kamu membawa senjata?” tanya Nakata dengan lembut.
“Ya,” untungnya Leah dapat memperbaiki kesalahannya dengan membawakan pistol berisikan peluru racun Beaters kepada Nakata.
Jalur ini berupa lorong pendek, lalu di ujung ketika menoleh ke arah lain terdapat lorong panjang yang dibagian akhirnya terdapat pintu berwarna hitam dengan garis ungu. Leah bersiap diri dengan mengeluarkan pistolnya. Sedangkan Nakata berjalan pelan sambil waspada penuh. Karena sekumpulan orang yang dilihatnya tadi naik ke atas tidak ikut turun saat keributan terjadi. Besar kemungkinan merekalah Beaters dari tempat ini. Mereka harus memastikannya sendiri.
“Bagaimana?” tanya Leah ketika mereka dihadapkan pada sebuah pintu. Pilihannya masuk dengan cara mendobrak pintu atau masuk dengan cara sopan dengan membuka melalui gagangnya.
Nakata memilih masuk dengan sopan, menarik gagangnya secara perlahan. Pintu pun terbuka, terlihat orang yang sedang duduk di sofa panjang berwarna hitam dengan nyaman. Di samping kiri dan kanannya berdiri orang yang dilihat Nakata barusan.
Leah mengeluarkan kain potongan jas dari sakunya, lalu melemparnya. Kemudian ia menodongkan pistolnya, namun orang yang duduk di sofa itu terlihat santai.
“Ah…aku sudah bilang pada yang lain, jangan sampai bertindak gegabah. Apalagi berbuat yang tidak-tidak seorang diri, jadi begini akhirnya…”
“Bos…,” pengawalnya itu diminta diam, lalu orang ini bangkit.
“Padahal organisasi ini sedang merangkak, tidak ada cara lain”, ia menghilang dan muncul tiba-tiba di depan Nakata. “badanmu besar, akan sulit bagiku tuk menjualnya,” suara tembakan terdengar, dengan mudahnya peluru yang ditembakan Leah dihindarinya. Beberapa pengawalnya bergerak cepat, dengan menahan tubuh Leah.
Telapak tangannya sudah menempel ke tubuh Nakata, tiba-tiba tubuh Nakata bergetar. “Lepaskan!” pegangannya sangat kuat, Leah tidak bisa berkutik.
“Kubereskan yang satu ini dulu, lalu….,” melirik ke arah Leah. “ah, aku punya sesuatu yang menarik untukmu,” kodenya itu seakan sudah diketahui oleh pengawalnya, mereka membawa Leah keluar dari ruangan ini.
Nakata benar-benar tidak bisa bergerak, seperti ada sesuatu yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Percuma saja, sudah kelas aku lebih superior dari ras kalian yang hanya manusia biasa.”
“Apa?!” Nakata terpental jauh, tubuhnya terdorong sangat kuat hingga membuat dinding ruangan ini hancur.
Suaranya terdengar hingga lorong, Leah masih diseret mencoba melepaskan dirinya. Berbeda dengan Beaters yang ia temui, orang-orang ini terlihat lebih terlatih.
“Diamlah!” salah satunya memukul perut Leah, lalu pingsan seketika.
Ruangan yang ciamik penuh barang-barang berkilauan itu pun kehilangan daya tariknya setelah sebuah lubang besar terpapar nyata dihadapannya. “Cepat atau lambat mereka akan datang dengan kekuatan penuh, jadi aku harus bersiap,” Maxs memakai sarung tangan berwarna ungu gelap kepada kedua tangannya, lalu dengan santai membuka pintu didepannya.
Quote:
Wanita penghibur masih saja meliuk-liukan tubuhnya dengan keadaan setengah tanpa busana. Nakata sama sekali tidak menikmatinya dan merasa terganggu dengan kegiatan ini, semua ia lakukan karena adanya misi saja. Apalagi wanita didepannya ini bertindak sangat liar sekali, berbeda dengan tipe wanitanya yang harus memiliki sikap lembut dan keibuan. Nakata mengangkat tubuhnya yang besar dari kursi, membetulkan jasnya yang kancingnya terbuka dan meminta izin untuk ke kamar kecil sebentar.
“Eh…kenapa tidak dikeluarkan di sini saja?” genit sang wanita penghibur.
“Tidak, aku ke kamar kecil bukan untuk itu….,” Nakata keluar dari ruangannya, wanita penghibur memberikan ciuman jarak jauh sebelum Nakata menutup pintunya.
Nakata mulai menyelidiki, ia berpura-pura berjalan menuju kamar mandi. Sambil melihat-lihat ternyata tempatnya tidak seluas yang dibayangkan. Jalur lainnya tepat ke arah dapur dan tentunya daerah dapur ada pintu belakang untuk membuang sampah. Lalu Nakata mulai menyelidiki lantai dua, sama seperti yang ia lihat dari bawah. Lantai dua ini diisi dengan sofa-sofa setengah lingkaran dengan tempat yang lebih nyaman dari meja yang memiliki tiang di lantai satu. Namun ada satu jalur di lantai dua yang dijaga oleh dua orang. Nampaknya Jalur itu cukup mencurigakan.
“Leah….,Leah….,” Nakata mencoba menghubungi Leah, namun tidak ada jawaban.
Nakata masih melihat-lihat bar dari lantai dua ini, siapa tau ada penggerakan yang mencurigakan. Ia menyender ke pagar pembatas dekat dengan tangga. Banyak pelayan yang wara-wiri dihadapannya, beberapa ada yang menawari minuman. Namun Nakata menolaknya. Ia berharap wanita penghibur bersamanya tidak keluar kamar dan malah mencarinya, kalau tidak misi ini bisa gagal atau bahkan terbongkar.
“Hmmm…,” untung saja Nakata memilih untuk menyelidiki terlebih dahulu seperti apa bar Purple Line ini.
Tempat ini hanya memiliki akses satu pintu masuk dan satu pintu keluar melalui area dapur. Jika mereka langsung mendobrak dari pintu belakang sudah dipastikan banyak orang yang terjebak di dalam. Tidak semua orang tahu bahwa area dapur memiliki akses pintu untuk membuang sampah. Lagipula orang-orang yang mengunjungi tempat ini hampir semuanya mabuk karena minuman, pikiran mereka tidak akan sampai ke sana. Jikalau semua pegawai yang memakai jas hitam dengan garis ungu adalah seorang monster Beaters maka orang-orang yang terjebak bisa dijadikan Sandra atau lebih parahnya dijadikan makanan bagi mereka.
Beberapa orang memakai setelan sama dengan para penjaga depan terlihat berjalan menuju tangga, mereka berjumlah empat orang dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Nakata mengamatinya dan sempat terjadi kontak mata antara keduanya. Namun hanya sampai situ saja karena sekumpulan orang ini langsung berjalan menuju sebuah jalur yang dijaga oleh dua orang penjaga. Tanpa banyak basa-basi dua penjaga ini mempersilahkan orang-orang ini masuk.
Nakata menilai sudah cukup untuknya dalam mengawasi tempat ini, dirinya turun ke bawah namun ada orang yang menghadangnya. “Hei pria besar, ku lihat penggerakanmu sangat mencurigakan. Bukankah kau sedang bersenang-senang dengan wanita tadi?”
“Bisakah kau minggir, aku sudah selesai dengan wanita itu,” jawab Nakata ingin melewati orang yang menghadangnya. Namun orang itu tidak mau mendengar, dan kemudian memanggil teman-temannya.
Nakata mencoba menghubungi kembali Leah, namun tetap tidak tersambungkan. Tidak ada jalan lain kecuali dengan melawan jika adanya penyerangan.
“Jangan kira kau yang berbadan besar lebih kuat dari kami semua,” mulai memainkan tangannya. Lalu dengan cepat memukul Nakata, sebelum tangannya menyentuh Nakata. Orang itu sudah terpental jauh karena pukulan Nakata lebih cepat.
Musik terhenti seketika, melihat tubuh seseorang terpental jauh dan merusak meja-meja didepannya.
“Bisakah aku pulang sekarang?” aksinya itu malah membuat yang lainnya terpelantik dan keributan di bar pun tidak bisa dihindari.
Leah yang masih mengamati dari luar sedikit terkejut ketika melihat beberapa orang berlari dari dalam bar, ia baru sadar bahwa sedari tadi alat komunikasi yang dipasangnya tidak diaktifkan. Leah merasa bersalah kepada seniornya itu dan buru-buru mengaktifkannya. Terdengar suara ribut-ribut, Leah memutuskan untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam untuk melihatnya sendiri ada kejadian ribut-ribut apa.
“Maafkan aku senior,” Leah berlari melewati orang-orang bahkan wanita-wanita penghibur yang pakaiannya seronok. Keadaan di dalam sudah kacau, banyak orang tergeletak di lantai dan mengerang kesakitan.
Nakata melihat Leah dengan tatapan yang kecewa, lebih disebabkan karena Leah sangat sulit dihubungi.
Leah menghampirinya, “Maaf, tadi….,” Nakata tidak mendengarnya, semuanya sudah kacau seperti ini. Layaknya nasi yang sudah menjadi bubur.
Ia melangkah naik ke atas diikuti dengan Leah, dua penjaga yang menjaga jalur ini pun sudah mengikuti rekannya yang mengerang kesakitan di bawah. Mereka semua bukanlah monster Beaters seperti yang ditemukan oleh Leah kemarin malam. Ada indikasi hanya orang-orang yang memiliki keanggotaan tingkat tinggilah yang merupakan seorang monster Beaters.
“Tidak apa-apa, ini salahku karena terlalu terlihat sebagai orang yang mencurigakan. Apa kamu membawa senjata?” tanya Nakata dengan lembut.
“Ya,” untungnya Leah dapat memperbaiki kesalahannya dengan membawakan pistol berisikan peluru racun Beaters kepada Nakata.
Jalur ini berupa lorong pendek, lalu di ujung ketika menoleh ke arah lain terdapat lorong panjang yang dibagian akhirnya terdapat pintu berwarna hitam dengan garis ungu. Leah bersiap diri dengan mengeluarkan pistolnya. Sedangkan Nakata berjalan pelan sambil waspada penuh. Karena sekumpulan orang yang dilihatnya tadi naik ke atas tidak ikut turun saat keributan terjadi. Besar kemungkinan merekalah Beaters dari tempat ini. Mereka harus memastikannya sendiri.
“Bagaimana?” tanya Leah ketika mereka dihadapkan pada sebuah pintu. Pilihannya masuk dengan cara mendobrak pintu atau masuk dengan cara sopan dengan membuka melalui gagangnya.
Nakata memilih masuk dengan sopan, menarik gagangnya secara perlahan. Pintu pun terbuka, terlihat orang yang sedang duduk di sofa panjang berwarna hitam dengan nyaman. Di samping kiri dan kanannya berdiri orang yang dilihat Nakata barusan.
Leah mengeluarkan kain potongan jas dari sakunya, lalu melemparnya. Kemudian ia menodongkan pistolnya, namun orang yang duduk di sofa itu terlihat santai.
“Ah…aku sudah bilang pada yang lain, jangan sampai bertindak gegabah. Apalagi berbuat yang tidak-tidak seorang diri, jadi begini akhirnya…”
“Bos…,” pengawalnya itu diminta diam, lalu orang ini bangkit.
“Padahal organisasi ini sedang merangkak, tidak ada cara lain”, ia menghilang dan muncul tiba-tiba di depan Nakata. “badanmu besar, akan sulit bagiku tuk menjualnya,” suara tembakan terdengar, dengan mudahnya peluru yang ditembakan Leah dihindarinya. Beberapa pengawalnya bergerak cepat, dengan menahan tubuh Leah.
Telapak tangannya sudah menempel ke tubuh Nakata, tiba-tiba tubuh Nakata bergetar. “Lepaskan!” pegangannya sangat kuat, Leah tidak bisa berkutik.
“Kubereskan yang satu ini dulu, lalu….,” melirik ke arah Leah. “ah, aku punya sesuatu yang menarik untukmu,” kodenya itu seakan sudah diketahui oleh pengawalnya, mereka membawa Leah keluar dari ruangan ini.
Nakata benar-benar tidak bisa bergerak, seperti ada sesuatu yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Percuma saja, sudah kelas aku lebih superior dari ras kalian yang hanya manusia biasa.”
“Apa?!” Nakata terpental jauh, tubuhnya terdorong sangat kuat hingga membuat dinding ruangan ini hancur.
Suaranya terdengar hingga lorong, Leah masih diseret mencoba melepaskan dirinya. Berbeda dengan Beaters yang ia temui, orang-orang ini terlihat lebih terlatih.
“Diamlah!” salah satunya memukul perut Leah, lalu pingsan seketika.
Ruangan yang ciamik penuh barang-barang berkilauan itu pun kehilangan daya tariknya setelah sebuah lubang besar terpapar nyata dihadapannya. “Cepat atau lambat mereka akan datang dengan kekuatan penuh, jadi aku harus bersiap,” Maxs memakai sarung tangan berwarna ungu gelap kepada kedua tangannya, lalu dengan santai membuka pintu didepannya.
Diubah oleh the.collega 13-03-2021 20:35
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas