- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#42
Siapa Itu?
Aku berdiri diam melihatnya menatapku tajam. Aku merasakan, ia ingin mengatakan sesuatu.
Perlahan, aku mendekatinya.
Oya, saat itu aku berpapasan dengannya didapur. Sedangkan teman-temanku yang lain masih berkumpul diruang tamu dan ruang depan.
"Ada apa?"Tanyaku padanya.
Sofi diam.
Ia malah mengeluarkan HP dan tampak sedikit mengetik sebentar. Kemudian ia menghadapkan layar HP nya.
Disitu terpampang jelas ebuah tulisan yang mau tidak mau, membuatku menghela nafas panjang.
Dengan nada dalam, Sofi berkata, "Apakah kamu mau menjadi sosok Sukirman diceritamu ini?"
Jujur, disitu jantungku seakan berdegup keras mendengar hal ini. Ditambah lagi Sofi yang masih menunjukkan sebuah judul tulisan di Hpnya.
"Apa kamu melihat apa yang aku dan Inas lakukan?" Tanyaku pelan sambil menatap dalam wajahnya.
Sofi mengangguk.
"Aku sedang berjalan-jalan memutari villa ini, ketika aku tak sengaja melihatmu yang sedang berjalan dengan Inas. Lalu, kalian berdua tiba-tiba saja berciuman... astaga, ndra. Ingat kamu dengan keluargamu. Seharusnya kamu sadar, bagaimana perasaan istri kamu kalau tahu, kamu bermesraan dengan perempuan lain."
Dadaku seolah tertimpa alugora demi mendengar perkataan Sofi. Dadaku tiba-tiba seresa sesak.
Aku kembali tak bisa berkata-kata. Memang, apa yang Sofi katakan adalah sebuah perkataan yang harus aku telan bulat-bulat.
Didalam hati aku bergumam, "iya ya, bagaimana perasaanku bila aku tahu. Kalau ternyata istriku bermesraan dengan laki-laki lain?"
Nyeri hati ini bila benar hal itu pernah terjadi. Sofi kembali berkata.
"Jangan kamu lupa, bahwa setiap perbuatan kita itu ada balasannya. Mungkin saja itu balasan kamu karena perbuatanmu ini," setelah itu ia berlalu. Meninggalkanku dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Sama seperti saat dahulu aku menyatakan perasaanku kepadanya. Setelah Inas meninggalkanku.

Aku sedikit mendongak sambil menatap langit-langit ruangan. Di sana aku seperti bisa melihat wajah anak dan istriku.
"Benar kata Sofi, aku tidak boleh menghianati kepercayaan istriku. Sebisa mungkin, aku harus bisa menghindari diri dari perbuatan yang seperti tadi," ucapku dalam hati.
Aku lalu kembali berjalan untuk menuju ke kamar mandi.
Sepanjang siang itu, inas selalu saja mencoba untuk mengajakku pergi keluar. Jujur saja, jika sofi tidak mengingatkanku tadi, mungkin hubungan antara aku dan Inas akan semakin intens.

Aku selalu mencoba untuk mencari berbagai macam alasan untuk menolak ajakannya yang sangat menggiurkan Imin jr.
"Kamu kenapa sih, ndra. Kok kamu kayaknya terus-menerus mencoba untuk menghindari aku, sih," begitu kata Inas saat terakhir kali ia mencoba untuk mengajakku keluar bersama.
Aku hanya tersenyum kecut.
"Gak papa, nas. Aku hanya nggak enak sama anak-anak yang lain. Nanti aja dulu ya," kataku.
Inas akhirnya menyerah. Ia kemudian kembali berkumpul bersama dengan teman-teman yang lainnya.
Sore hari sekitar pukul setengah lima. Kami bersepuluh berjalan-jalan mengitari wilayah tempat kami menginap.

Gatot yang kami percaya sebagai leader, tak henti-hentinya untuk mengingatkan kami agar jangan sampai masuk ke dalam hutan.
Setiap ada diantara kami yang bertanya kenapa. Gatot selalu bilang kalau di dalam hutan itu kata pak penjaga banyak sekali ular ular berbisa.
Meskipun ada beberapa orang yang kurang percaya dengan omongan Gatot, tetapi akhirnya kami juga tak begitu peduli dengan hutan yang ada di samping kami itu.
Sepanjang kami berputar-putar, Inas selalu saja ada di sisiku. Sering sekali ya menggodaku dengan cara menggesek-gesekkan lengannya ke lenganku.
"Shit...," Ucapku kesal.
Kesal karena aku seperti dibelenggu oleh statusku yang sudah berkeluarga. Tapi aku kemudian selalu berusaha untuk mengingat-ingat perkataan Sofi. Maka dari itu aku masih terus berusaha untuk bisa menjaga diri dari segala godaan yang Inas berikan.
"Kalau aja Sofi tadi nggak sempet ngomong. Udah gw eksekusi nih cewek," gumamku dalam hati sambil melirik Inas yang tersenyum-senyum penuh arti.

Takut tidak kuat menahan godaan, aku berpura-pura berhenti sejenak untuk membetulkan posisi tali sepatu. Aku kembali berdiri saat Inas sudah berjalan didepan sana.
Sialnya, saat aku berdiri dan kembali berjalan. Aku malah berdiri disamping Sofi.

"Alamat ceramah no jutsu, nih," ucapku dalam hati.
Dan benar saja. Baru beberapa langkah berjalan. Sofi sudah berkata pelan padaku.
"Semoga kamu bisa bertahan dari godaannya, ndra. Ingat kata-kataku tadi siang. Jangan sampai kamu jadi Sukirman yang kamu benci itu,"
Aku mengangguk.
Sebenarnya kalau Sofi ini nggak cerewet, aku akan merasa betah berjalan disampingnya. Tapi lidah perempuannya itu loh, beehh... Bikin gak nyaman.

"Hadeh...tau gini mendingan di samping inas aja tadi," kataku dalam hati.
Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar berfoto-foto bersama. Guna mengabadikan momen momen kebersamaan ini, yang tidak datang setiap hari.
Sekitar pukul 6 sore, saat kami masih berjalan-jalan mengelilingi area itu. Hujan tiba-tiba saja datang.
"Waduh, hujan nih. Ayok buruan," kata Nova setengah berteriak.
Dengan sedikit terburu-buru, kami bersepuluh berjalan sedikit berlari menuju ke villa kami.
"Ndra, tolong," ucap Inas sambil mengulurkan tangannya kearahku.
Aku yang saat itu bersiap untuk berlari, tanpa berpikir panjang lagi segera meraih tangannya.
Dengan diiringi hujan yang semakin deras, kami semua berlari semakin cepat melewati beberapa bangunan villa yang kosong.
Hingga saat kami tengah berlari, secara tidak sengaja kaki Yusuf menendang sesuatu yang berada di samping sebuah villa, tak jauh dari villa kami.
"Aduh!" Teriak Yusuf kesakitan.
Kami semua sontak berhenti berlari. Dengan bergegas kami kembali ketempat Yusuf yang tengah terduduk sambil memegang ujung kakinya.
"Kenapa, suf?" Tanya Wulan yang memang tadi berlari disamping Yusuf.
"Aku nendang ini tadi," kata Yusuf sambil menunjuk sebuah benda yang terbuat dari tanah liat.
Aku sedikit mencium bau aroma yang pekat dan terasa sangat familiar.
"Kemenyan," desisku pelan.
"Hmm, apa ndra? Kamu tadi ngomong apa?" Tanya Inas.
Aku menoleh kearahnya. Ia juga tengah melihat kearahku. Tapi, ternyata semua anak-anak itu juga tengah memperhatikanku.
Mau tak mau, aku pun mengatakan apa yang kurasakan.
"Bau kemenyan," kataku.
Semuanya terdiam.
Aku lalu berjongkok didepan benda yang Yusuf tendang tadi.
Ternyata itu adalah sebuah tungku kecil tempat dupa dan juga tempat untuk membakar kemenyan.
Aku juga bisa melihat kemenyan kemenyan yang berserakan karena tertendang oleh kaki Yusuf tadi. Juga ternyata ada beberapa macam bunga yang sudah layu.
Karena aku memiliki feeling yang tak enak. Aku pun mengumpulkan kemenyan-kemenyan itu kembali, beserta beberapa bunga-bunga yang sudah layu untuk aku taruh kembali di tungku kecil tadi.
"Kamu gak papakan, suf?" Tanyaku sambil merapikan kemenyan itu.
"Iya," jawabnya.
Ikhwan dan juga Slamet membantu Yusuf untuk kembali berdiri.
"Ya udah ayo kita lanjut jalan lagi. Tapi pelan-pelan aja ya, lagian juga kita udah basah kuyup kayak gini," kata Sofi.
Akhirnya kami pun kembali melanjutkan langkah kaki kami yang sempat terhenti tadi. Tapi kini kami berjalan biasa saja, karena mau cepat-cepat juga kan baju udah basah. Juga takutnya Yusuf ada apa-apa dengan kakinya.
Aku yang berjalan di belakang bersama dengan ikhwan, menoleh kebelakang. Kearah villa tadi.
Entah karena sugesti, atau karena saat itu hari sudah mulai gelap sehingga aku berhalusinasi. Samar-samar aku melihat ada sesuatu didekat sesajen tadi. Sesuatu itu bergerak layaknya seekor ulat. Tapi ini berukuran besar. Mungkin sebesar bantal guling. Dan warnanya agak kecoklatan.

google
Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa melihat bagian ekornya saja. Karena bagian tubuhnya dari tengah sampai atas terhalang oleh semak-semak perdu yang ada disekitar villa itu.

kalo dikampung saya namanya tetean
Ikhwan menepukku, emm...lebih ke memukul sih, dengan keras sampai aku kesakitan.
"Kamu liatin apa?"Tanyanya padaku.
"Oh...anu, enggak papa, wan," jawabku sedikit gugup karena kaget dengan tepukannya.
"Tukang jagal ayam emang beda tangannya," kataku sedikit bercanda sambil memijat-mijat pundakku.
Ikhwan tertawa.
Akupun ikutan tertawa.
Tetapi di dalam hatiku berbagai macam pertanyaan mulai muncul.
"Apakah itu ular besar? Ah, tapi dari cara jalannya itu bukan ular. Tapi lebih kecara jalannya ulat. Tapi, mana ada ulat segede itu,"
"Itu ular buntung...," Tiba-tiba saja Yusuf berkata.
"Hah!" Aku sontak saja kaget mendengar perkataan Yusuf.
Dan yang membuatku lebih terkejut, karena saat Yusuf berkata bahwa itu adalah ular buntung, teman-teman yang lainnya juga ikut mendengarkan.
Aku bisa melihat dengan jelas berbagai macam jenis ekspresi wajah yang mereka tunjukan. Beberapa ada yang malah penasaran dengan gestur wajah yang langak-longok ingin melihat seperti apa ular buntung yang Yusuf katakan. Tapi ada juga yang menunjukkan raut wajah ketakutan, terutama teman-teman yang perempuan.
"Sompral...sompral," kataku dalam hati melihat perbuatan Yusuf yang blak-blakan.

"Mana...mana...mana?" Pertanyaan dari orang-orang yang penasaran mulai terdengar.
Aku, yang tak ingin hal ini berlanjut. Segera menengahi hal itu dengan cara mendorong tubuh-tubuh mereka agar segera kembali berjalan kearah villa.
"Cuman ular biasa, udah udah, ayok jalan lagi," kataku setengah memaksa.
Meskipun awalnya susah, tapi lambat laun mereka akhirnya menuruti perkataanku.
"Udah mau Maghrib, takut ada apa-apa," kataku sambil berjalan dibelakang mereka.
Sambil berjalan, aku merasakan ada sesuatu yang mengawasi langkah kaki kami dari belakang. Tepatnya dari villa yang ada sesajennya tadi.
Hawa dingin yang lain dari hawa dinginnya pegunungan tiba-tiba menyergap punggungku. Membuatku sedikit tersentak kedepan.
Namun tak kuindahkan hal itu. Karena aku tak mau kembali membuat kehebohan di kelompok ini.
Hanya saja, aku sudah memiliki firasat bakal terjadi hal buruk yang akan menimpa kami.
Hujan semakin deras saat kami semua sampai di villa. Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib berkumandang dari desa di kaki bukit sana.
Susana horor yang sempat kurasakan sedikit menghilang saat kami semua sudah berada didalam villa.
Kami semua lalu bergantian untuk mandi dan dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, dengan Yusuf sebagai imamnya.
Setelah beribadah, kami, para lelaki duduk-duduk di ruang tamu sambil menunggu makanan yang saat itu tengah disiapkan oleh para perempuan + Gatot.

Hujan yang turun masih cukup deras disertai angin yang lumayan kencang. Hal itu membuat kami malas membuka pintu villa. Selain karena hujan, suasananya juga sedikit seram.
Nova, yang saat itu duduk disamping Yusuf kembali mengungkit perkataan Yusuf tadi.
"Suf, emang apaan sih ular buntung itu?" Tanyanya.
Yang lainnya, termasuk aku, juga penasaran dengan jawaban Yusuf. Ya, meski aku juga sebenarnya sudah sedikit tahu tentang apa itu ular buntung tersebut.
Sebelum menjawab, Yusuf terlebih dahulu menyuruput kopinya.
"Ular buntung itu adalah ular jadi-jadian. Maksudku, mereka adalah sejenis ular siluman yang melakukan perjanjian gaib dengan manusia. Ya contohnya kaya tadi. Ular buntung itu mungkin ditugaskan untuk menjaga villa tadi oleh pemiliknya. Bisa juga digunakan sebagai media penglaris, agar villanya laris manis."
"Oh...gitu," kata Slamet.
"Dan sebagai seorang muslim, aku sangat membenci tentang persekutuan seperti itu. Makanya, tadi itu aku sengaja menendangnya saat aku melihat hal itu. Kirain gak ada penunggunya, eh ternyata ada. Si ular buntung itu, hehehe...," Kembali Yusuf berkata sambil tertawa-tawa.
Aku hanya bisa memejamkan mata mendengar perkataannya. Aku tak menyangka, bahwa ia sengaja melakukan hal tersebut.
Sebenarnya aku ingin membantah perkataannya. Bahwa perbuatannya itu bisa saja mencelakakan teman-temannya. Tapi setelah dipikir-pikir kembali, hal itu sepertinya akan percuma saja. Karena Yusuf termasuk orang yang keras kepala bila menyangkut keyakinannya.
"Mungkin Yusuf bisa menghadapi gangguan apapun. Tetapi kami ini yang orang-orang biasa yang bisa menjadi korban," keluhku.
"Liat saja nanti lah...," Kataku lagi dalam hati.
Dan...apa yang kutakutkan rupanya benar-benar terjadi.
Tiba-tiba saja dari pintu depan villa yang tertutup, seperti ada yang menggebrak.

google
"Brak!"
"Astaghfirullah...!"
Serentak kami semua yang ada diruang tamu berdiri kaget.
"Apa itu?"
Sebuah pertanyaan terlontar. Dan, pertanyaan itu adalah sesuatu yang ingin kutanyakan pula.
Serentak kami memandang kearah Yusuf. Ia juga kulihat memasang wajah tegang.
"Suf...,"Baru saja aku hendak berkata, dari arah pintu kembali terdengar suara gebrakan.
"Brak!"
***
sulkhan1981 dan 34 lainnya memberi reputasi
35
.