- Beranda
- Stories from the Heart
ADIK GHAIB 2
...
TS
sandal.swallow
ADIK GHAIB 2
PROLOG
Seorang anak lelaki berumur 5 tahun sedang asik bermain sendiri.
Sendiri? Tampaknya memang sendiri... Tapi dia tampak seperti sedang ngobrol dengan seseorang...
Tampak asik sekali ngobrolnya...
Orang-orang yang lewat menatap aneh pada anak itu.
Juga pengunjung taman yang saat itu berada di taman kota itu.
Semua orang terheran melihat tingkah laku anak itu... Bercakap sendiri.
Waktu sudah menjelang maghrib... Seorang wanita muda yang cantik menghamplri anak lelaki itu.
'Sindhu, Cindy...ayo kita pulang!" katanya.
Hah...Shindu mungkin nama anak itu? Lalu Cindy? Siapa itu?
"Baik Ma....!" jawab anak itu. "Ayo Cindy, kita pulang...!"
Cindy lagi... Dimana Cindy itu berada?
Anak lelaki itu seperti meraih sesuatu dengan tangan kanannya.
Lalu dia berjalan mendahului wanita cantik itu sambil tangannya seolah menggandeng seseorang.
Mari kita ikuti kemana mereka pulang..!
Dengan berlari kecil, anak itu berjalan di trotoar jalan. Tangannya masih dalam mode yang sama seperti tadi.
Wanita cantik itu tersenyum melihat anaknya tampak senang.
Tampak lesung pipit di wajahnya, menambah kecantikannya.
Usianya baru di kisaran 30 tahunan. Badannya langsing namun sekal berisi...maksudnya tidak kurus.
Langkahnya gemulai mengikuti langkah anaknya.
"Shindu...hati-hati... Lihat jalannya." serunya.
"Iya Ma....!" teriak anak lelaki itu.
Anak itu terus saja berlari kecil dengan riangnya.
Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
Tiba-tiba sebuah mobil minibus berhenti di dekat anak itu.
Shindu terkejut dan berhenti untuk memperhatikan mobil itu.
Seorang lelaki gagah dengan pakaian berwarna biru muda dengan dasi yang senada, serta celana panjang hitam tampak keluar dari mobil dan menghampiri anak itu.
"Ayah.....!" teriak Shindu dan segera menghambur menuju lelaki itu.
Pria itu mengembangkan tangannya, dan Shindu menubruknya lalu memeluknya erat.
Pria itu tertawa dan mengangkat anaknya dengan wajah yang terlihat bahagia.
Pria itu lalu menurunkan Shindu, dan berpaling pada wanita cantik tadi. Ups...bukan...pandangannya tertuju pada ruang kosong di samping kiri si cantik.
"Cindy...ga mau meluk ayah juga?"
Cindy lagi dan lagi... Dimana dia sebenarnya?
Wanita itu melihat ruang kosong di sisi kirinya dan tersenyum lalu mengangguk.
Terlihat pria itu tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.
Tak lama kemudian, dia seolah memeluk sesuatu...tapi tak tampak apa yang ia peluk.
Hmm...apakah dia mengalami gangguan jiwa?
Si cantik menghampiri pria itu dan bertanya..
"Mas Dewo, tumben pulang awal hari ini?'
" Iya Idha sayang... Kerjaan di.kantor sudah beres, jadi aku bisa pulang lebih awal!"
Dewo..?? Idha..?? Kayaknya nama itu ga asing deh...
Hmm...siapa ya?
"Ayo..semua naik ke mobil.. Kita pulang...!" ajak Dewo pada istri dan anaknya.
Setelah semua masuk mobil, mobilpun segera beranjak menjauhi tempat itu.
Tak sampai 5 menit, mobil itu swmpai di sebuah rumah yang asri. Rumah yang tidak terlalu besar, namun tertata apik.
Di depan rumah ditanami 2 pohon mangga yang sudah lumayan besar, sehingga memberi kesan sejuk.
Mobil berhenti, dan pintu terbuka.
Sindhu berlarian menuju seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu teras.
"Nenekkk.......!" serunya sambil menubruk wanita itu!
"Aduh Shindu...kamu bikin kaget nenek saja...!" katanya sambil mengelus kepala Shindu dengan penuh rasa sayang.
"Hehehe....!" Shindu terkekeh geli.
"Ibu....!" Dewo menyapa wanita itu dan mencium tangannya.
Demikian juga dengan Idha.
Kemudian wanita paruh baya itu berjongkok di depan Shindu.
"Tadi main di mana sama mama?"
"Di taman Nek... Sama Cindy juga!" sahut anak itu.
"Oh...sekarang Cindy di mana?"
"Ini di samping kananku Nek...!"
Wanita itu menatap ruang kosong di samping Shindu.
"Cindy...maafin nenek ga bisa lihat kamu ya? Nenek pengin banget bisa lihat kamu. Kamu pasti cantik seperti mamamu!"
"Ah...nenek salah...!" sergah Shindu.
"Salah? Salah nenek di mana coba?"
"Cindy itu cantik, tapi bukan kayak mama. Cantiknya Cindy kayak bibi Dewi...!"
Sebentar.....sebentar...
Cindy ga bisa dilihat oleh neneknya?
Trus bibi Dewi itu siapa?
Dewo, Idha, Dewi...sepertinya familiar banget.
Tapi sudah cukup lama nama-nama itu ga terdengar lagi.
Dewo berbalik arah dan tersenyum...lalu berkata:
Indeks:
-Prolog
-Part 00: perkenalan singkat
-Part 01: She's back
-Part 02: Petualangan Bermula
-Part 3: Sekolah
-Part 4: Kunti Merah
-Part 05: Ujian Pertama
-Part 06: Menang.....!!!
Part 07: Erin
WARNING
Cerita ini adalah fiksi belaka.
Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka.
Cerita ini adalah fiksi belaka.
Jika ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka.
Seorang anak lelaki berumur 5 tahun sedang asik bermain sendiri.
Sendiri? Tampaknya memang sendiri... Tapi dia tampak seperti sedang ngobrol dengan seseorang...
Tampak asik sekali ngobrolnya...
Orang-orang yang lewat menatap aneh pada anak itu.
Juga pengunjung taman yang saat itu berada di taman kota itu.
Semua orang terheran melihat tingkah laku anak itu... Bercakap sendiri.
Waktu sudah menjelang maghrib... Seorang wanita muda yang cantik menghamplri anak lelaki itu.
'Sindhu, Cindy...ayo kita pulang!" katanya.
Hah...Shindu mungkin nama anak itu? Lalu Cindy? Siapa itu?
"Baik Ma....!" jawab anak itu. "Ayo Cindy, kita pulang...!"
Cindy lagi... Dimana Cindy itu berada?
Anak lelaki itu seperti meraih sesuatu dengan tangan kanannya.
Lalu dia berjalan mendahului wanita cantik itu sambil tangannya seolah menggandeng seseorang.
Mari kita ikuti kemana mereka pulang..!
Dengan berlari kecil, anak itu berjalan di trotoar jalan. Tangannya masih dalam mode yang sama seperti tadi.
Wanita cantik itu tersenyum melihat anaknya tampak senang.
Tampak lesung pipit di wajahnya, menambah kecantikannya.
Usianya baru di kisaran 30 tahunan. Badannya langsing namun sekal berisi...maksudnya tidak kurus.
Langkahnya gemulai mengikuti langkah anaknya.
"Shindu...hati-hati... Lihat jalannya." serunya.
"Iya Ma....!" teriak anak lelaki itu.
Anak itu terus saja berlari kecil dengan riangnya.
Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
Tiba-tiba sebuah mobil minibus berhenti di dekat anak itu.
Shindu terkejut dan berhenti untuk memperhatikan mobil itu.
Seorang lelaki gagah dengan pakaian berwarna biru muda dengan dasi yang senada, serta celana panjang hitam tampak keluar dari mobil dan menghampiri anak itu.
"Ayah.....!" teriak Shindu dan segera menghambur menuju lelaki itu.
Pria itu mengembangkan tangannya, dan Shindu menubruknya lalu memeluknya erat.
Pria itu tertawa dan mengangkat anaknya dengan wajah yang terlihat bahagia.
Pria itu lalu menurunkan Shindu, dan berpaling pada wanita cantik tadi. Ups...bukan...pandangannya tertuju pada ruang kosong di samping kiri si cantik.
"Cindy...ga mau meluk ayah juga?"
Cindy lagi dan lagi... Dimana dia sebenarnya?
Wanita itu melihat ruang kosong di sisi kirinya dan tersenyum lalu mengangguk.
Terlihat pria itu tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.
Tak lama kemudian, dia seolah memeluk sesuatu...tapi tak tampak apa yang ia peluk.
Hmm...apakah dia mengalami gangguan jiwa?
Si cantik menghampiri pria itu dan bertanya..
"Mas Dewo, tumben pulang awal hari ini?'
" Iya Idha sayang... Kerjaan di.kantor sudah beres, jadi aku bisa pulang lebih awal!"
Dewo..?? Idha..?? Kayaknya nama itu ga asing deh...
Hmm...siapa ya?
"Ayo..semua naik ke mobil.. Kita pulang...!" ajak Dewo pada istri dan anaknya.
Setelah semua masuk mobil, mobilpun segera beranjak menjauhi tempat itu.
Tak sampai 5 menit, mobil itu swmpai di sebuah rumah yang asri. Rumah yang tidak terlalu besar, namun tertata apik.
Di depan rumah ditanami 2 pohon mangga yang sudah lumayan besar, sehingga memberi kesan sejuk.
Mobil berhenti, dan pintu terbuka.
Sindhu berlarian menuju seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu teras.
"Nenekkk.......!" serunya sambil menubruk wanita itu!
"Aduh Shindu...kamu bikin kaget nenek saja...!" katanya sambil mengelus kepala Shindu dengan penuh rasa sayang.
"Hehehe....!" Shindu terkekeh geli.
"Ibu....!" Dewo menyapa wanita itu dan mencium tangannya.
Demikian juga dengan Idha.
Kemudian wanita paruh baya itu berjongkok di depan Shindu.
"Tadi main di mana sama mama?"
"Di taman Nek... Sama Cindy juga!" sahut anak itu.
"Oh...sekarang Cindy di mana?"
"Ini di samping kananku Nek...!"
Wanita itu menatap ruang kosong di samping Shindu.
"Cindy...maafin nenek ga bisa lihat kamu ya? Nenek pengin banget bisa lihat kamu. Kamu pasti cantik seperti mamamu!"
"Ah...nenek salah...!" sergah Shindu.
"Salah? Salah nenek di mana coba?"
"Cindy itu cantik, tapi bukan kayak mama. Cantiknya Cindy kayak bibi Dewi...!"
Sebentar.....sebentar...
Cindy ga bisa dilihat oleh neneknya?
Trus bibi Dewi itu siapa?
Dewo, Idha, Dewi...sepertinya familiar banget.
Tapi sudah cukup lama nama-nama itu ga terdengar lagi.
Dewo berbalik arah dan tersenyum...lalu berkata:
SELAMAT DATANG DI CERITA: ADIK GHAIB Season 2..
Indeks:
-Prolog
-Part 00: perkenalan singkat
-Part 01: She's back
-Part 02: Petualangan Bermula
-Part 3: Sekolah
-Part 4: Kunti Merah
-Part 05: Ujian Pertama
-Part 06: Menang.....!!!
Part 07: Erin
Diubah oleh sandal.swallow 02-07-2021 11:25
bukhorigan dan 27 lainnya memberi reputasi
26
10K
122
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sandal.swallow
#17
Part 01: She's Back
Aku sedang serius mengerjakan sesuatu di laptop, saat Cindy dengan manjanya naik ke pangkuanku dan duduk di atas pahaku.
Aku tersenyum dan mengelus kepalanya.
Shindu dan mamanya sudah terlelap di ranjang. Segera aku save dulu pekerjaanku.
Cindy memandangku dan tersenyum... Kalau sudah begitu, pasti dia pengin main game.
"Mau main game cantik?" tanyaku.
"Enggak....!"
"Trus dedek mau ngapain?"
"Pengin belajar kayak mas Shindu... Yang tadi di sekolah...!"
'Emm..pelajaran apa dek?"
"Yang begini...'this is a bag' gitu yah...!"
Walah...anak tk sekarang sudah diajarin bahasa inggris rupanya...
Untuk memuaskan Cindy, aku membuka pelajaran bahasa inggris untuk TK, tentunya lewat aplikasi.
Begitu ketemu, Cindy dengan asyik mulai bermain di laptop.
Sudah sering dia mainan laptop, tapi pasti nunggu kakaknya tidur dulu.
Cindy malah lebih pintar mainan laptop daripada Shindu...
"Cindy bisa sendiri khan? Ayah mau bikin kopi dulu dan duduk di teras ya?"
"Pasti mau ngerokok ya Yah?"
'Hehe...tahu aja kamu. Ayah tinggal dulu ya?"
"Iya yah...!"
Aku meninggalkan Cindy, dan pergi ke dapur membuat kopi. Lalu nongkrong di teras buat merokok. Aku ga bisa merokok di dalam kamar, karena ada Idha dan Shindu. Kasihan kalau mereka terkena asap rokok.
Sambil menghembuskan asap rokok, pikiranku melayang pada masa lalu anak kembarku.
Shindu dan Cindy terlahir hanya berbeda 10 menit saja. Shindu lahir lebih dulu dan terlihat sehat. Sedang Cindy lahir 10 menit kemudian, tapi tubuhnya membiru. Perkiraan pertama, dia tetlalu banyak terminum air ketuban. Tapi ternyata diagnosa tersebut salah. Setelah diperiksa secara teliti, ternyata ada kelainan pada katup jantungnya. Disarankan untuk dioperasi. Maka aku segera memutuskan bahwa Cindy harus dioperasi. Namun, walaupun tindakan medis sudah dilakukan, Allah berkehendak lain. Cindy hanya bertahan selama 2 hari, dan akhirnya meninggal.
Shindu menangis tiada hentinya saat itu. Seolah dia tahu bahwa adik kembarnya sudah pergi meninggalkannya.
Idha dan aku juga sangat sedih karena kematian Cindy.
Beberapa hari setelah kematian Cindy, aku mendapat kabar dari Dewi bahwa jin qorin Cindy tetap tinggal.di dunia ini. Dan saat itu, jin qorin itu dipelihara oleh Dewi.
Sampai saat Shindu berusia 2 tahun, Cindy mulai menemui kakaknya itu. Bermain bersama dan ngobrol bareng. Walaupun kata-kata mereka masih belum terlalu jelas buatku, tapi tampaknya mereka bisa saling mengerti.
Hubungan mereka kian lama kian erat, dan aku sedikit mengkhawatirkan proses sosialisasi Shindu dengan teman-tenan sebayanya. Memang sih, di lingkungan kami ga banyak anak seusia Shindu. Tapi yang kukhawatirkan adalah saat dia masuk sekolah nantinya.
Aku sudah membicarakan hal ini dengan Idha, dan Idha menyarankan untuk memberitahu dengan pelan-pelan agar Shindu paham tentang kondisi Cindy, dan dia bersosialosasi dengan kawan-kawannya.
Walaupun sulit, dan butuh kesabaran ekstra, syukurlah Shindu bisa mulai mengerti keadaan Cindy, adiknya.
Kami juga berbicara dengan Cindy hal yang sama tapi dengan pendekatan berbeda. Dan Cindy lebih mudah mengerti, karena dia sudah melihat perbedaan dengan kakaknya.
Dia bisa menghilang, kakaknya tidak.
Dia bisa menembus tembok, Shindu tidak bisa.
Tapi tetap ada kesedihan karena dia berbeda dengan kami. Beruntung Dewi dengan sabar menghiburnya, dan memberi tugas untuk melindungi kakaknya itu.
Yah...begitulah suka dukanya mempunyai dua anak yang berlainan alam.
Kami harus sering mengingatkan Shindu jika dia bercakap dengan adiknya saat ada orang lain.
Ya...kami takut anak kami dianggap.aneh oleh orang lain.
Karena kami juga pernah mengalami itu. Yang lebih kami takutkan sebagai orang tua adalah pengaruh psikologis pada Shindu karena dianggap aneh. .
Maka kami jadi lebih protektif pada Shindu.
Butuh waktu lama untuk memberitahukan pada Shindhu tentang kemampuannya yang tidak dimiliki orang lain.
Saat sedang mengingat masa lalu, Sawerti tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Selamat malam mas Dewo!"
"Kamu Sawerti... Apa kabar? Lama ga ketemu, kemana saja kamu?"
"Kabarku baik Mas... Selama ini aku ada urusan di alamku."
'Selama 6 tahun?" tanyaku.
"Ah ..di tempatku hanya beberapa puluh hari kok...! Lagipula aku ga mau mengganggu kehidupan mas Dewo dan keluarga!"
"Kamu sudah kuanggap keluarga juga Werti... Jadi sekarang kamu kembali ke sini untuk sementara atau seterusnya?"
"Kalau aku masih diterima di keluarga ini, aku akan terus tinggal.di sini!" jawabnya.
'Kalau begitu...temuilah Idha dan Dewi. Tanyakan pada mereka. Kalau aku sih ga masalah jika kamu mau tetap di sini. Aku malah senang kok!"
"Iya Mas... Nanti aku temui mereka!"
Perlahan sosok Sawerti menghilang dari pandanganku. Sawerti...sawerti.. Sejak Idha hamil, dia menghilang tanpa pamit. Dan sekarang baru muncul lagi.
Masih cantik dan seksi seperti dulu..malah tampak makin cantik...hehe.
Coba dia bukan siluman ular...bakal aku jadiin pacar tuh...
Aku meraih gelasku dan hendak meminum kopiku, tapi ternyata sudah habis.
Ga kerasa kalau sudah kuminum sampai habis...
Ah...saatnya istirahat. Besok harus kerja.
Aku masuk kamar dan bersiap untuk tidur.. Kulihat Cindy masih asyik di depan laptop.
"Cindy nggak bobok?" tanyaku.
"Enggak yah... Belum ngantuk...!"
"Ya sudah, ayah tidur dulu ya.. Jangan lupa nanti laptopnya dimatikan."
"Iya yah.... Selamat tidur...!"
"Makasih sayang ..!" kataku sambil mencium pipinya.
Lalu aku beranjak ke ranjang untuk tidur...
Selamat malam
Aku tersenyum dan mengelus kepalanya.
Shindu dan mamanya sudah terlelap di ranjang. Segera aku save dulu pekerjaanku.
Cindy memandangku dan tersenyum... Kalau sudah begitu, pasti dia pengin main game.
"Mau main game cantik?" tanyaku.
"Enggak....!"
"Trus dedek mau ngapain?"
"Pengin belajar kayak mas Shindu... Yang tadi di sekolah...!"
'Emm..pelajaran apa dek?"
"Yang begini...'this is a bag' gitu yah...!"
Walah...anak tk sekarang sudah diajarin bahasa inggris rupanya...
Untuk memuaskan Cindy, aku membuka pelajaran bahasa inggris untuk TK, tentunya lewat aplikasi.
Begitu ketemu, Cindy dengan asyik mulai bermain di laptop.
Sudah sering dia mainan laptop, tapi pasti nunggu kakaknya tidur dulu.
Cindy malah lebih pintar mainan laptop daripada Shindu...

"Cindy bisa sendiri khan? Ayah mau bikin kopi dulu dan duduk di teras ya?"
"Pasti mau ngerokok ya Yah?"
'Hehe...tahu aja kamu. Ayah tinggal dulu ya?"
"Iya yah...!"
Aku meninggalkan Cindy, dan pergi ke dapur membuat kopi. Lalu nongkrong di teras buat merokok. Aku ga bisa merokok di dalam kamar, karena ada Idha dan Shindu. Kasihan kalau mereka terkena asap rokok.
Sambil menghembuskan asap rokok, pikiranku melayang pada masa lalu anak kembarku.
Shindu dan Cindy terlahir hanya berbeda 10 menit saja. Shindu lahir lebih dulu dan terlihat sehat. Sedang Cindy lahir 10 menit kemudian, tapi tubuhnya membiru. Perkiraan pertama, dia tetlalu banyak terminum air ketuban. Tapi ternyata diagnosa tersebut salah. Setelah diperiksa secara teliti, ternyata ada kelainan pada katup jantungnya. Disarankan untuk dioperasi. Maka aku segera memutuskan bahwa Cindy harus dioperasi. Namun, walaupun tindakan medis sudah dilakukan, Allah berkehendak lain. Cindy hanya bertahan selama 2 hari, dan akhirnya meninggal.
Shindu menangis tiada hentinya saat itu. Seolah dia tahu bahwa adik kembarnya sudah pergi meninggalkannya.
Idha dan aku juga sangat sedih karena kematian Cindy.
Beberapa hari setelah kematian Cindy, aku mendapat kabar dari Dewi bahwa jin qorin Cindy tetap tinggal.di dunia ini. Dan saat itu, jin qorin itu dipelihara oleh Dewi.
Sampai saat Shindu berusia 2 tahun, Cindy mulai menemui kakaknya itu. Bermain bersama dan ngobrol bareng. Walaupun kata-kata mereka masih belum terlalu jelas buatku, tapi tampaknya mereka bisa saling mengerti.
Hubungan mereka kian lama kian erat, dan aku sedikit mengkhawatirkan proses sosialisasi Shindu dengan teman-tenan sebayanya. Memang sih, di lingkungan kami ga banyak anak seusia Shindu. Tapi yang kukhawatirkan adalah saat dia masuk sekolah nantinya.
Aku sudah membicarakan hal ini dengan Idha, dan Idha menyarankan untuk memberitahu dengan pelan-pelan agar Shindu paham tentang kondisi Cindy, dan dia bersosialosasi dengan kawan-kawannya.
Walaupun sulit, dan butuh kesabaran ekstra, syukurlah Shindu bisa mulai mengerti keadaan Cindy, adiknya.
Kami juga berbicara dengan Cindy hal yang sama tapi dengan pendekatan berbeda. Dan Cindy lebih mudah mengerti, karena dia sudah melihat perbedaan dengan kakaknya.
Dia bisa menghilang, kakaknya tidak.
Dia bisa menembus tembok, Shindu tidak bisa.
Tapi tetap ada kesedihan karena dia berbeda dengan kami. Beruntung Dewi dengan sabar menghiburnya, dan memberi tugas untuk melindungi kakaknya itu.
Yah...begitulah suka dukanya mempunyai dua anak yang berlainan alam.
Kami harus sering mengingatkan Shindu jika dia bercakap dengan adiknya saat ada orang lain.
Ya...kami takut anak kami dianggap.aneh oleh orang lain.
Karena kami juga pernah mengalami itu. Yang lebih kami takutkan sebagai orang tua adalah pengaruh psikologis pada Shindu karena dianggap aneh. .
Maka kami jadi lebih protektif pada Shindu.
Butuh waktu lama untuk memberitahukan pada Shindhu tentang kemampuannya yang tidak dimiliki orang lain.
Saat sedang mengingat masa lalu, Sawerti tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Selamat malam mas Dewo!"
"Kamu Sawerti... Apa kabar? Lama ga ketemu, kemana saja kamu?"
"Kabarku baik Mas... Selama ini aku ada urusan di alamku."
'Selama 6 tahun?" tanyaku.
"Ah ..di tempatku hanya beberapa puluh hari kok...! Lagipula aku ga mau mengganggu kehidupan mas Dewo dan keluarga!"
"Kamu sudah kuanggap keluarga juga Werti... Jadi sekarang kamu kembali ke sini untuk sementara atau seterusnya?"
"Kalau aku masih diterima di keluarga ini, aku akan terus tinggal.di sini!" jawabnya.
'Kalau begitu...temuilah Idha dan Dewi. Tanyakan pada mereka. Kalau aku sih ga masalah jika kamu mau tetap di sini. Aku malah senang kok!"
"Iya Mas... Nanti aku temui mereka!"
Perlahan sosok Sawerti menghilang dari pandanganku. Sawerti...sawerti.. Sejak Idha hamil, dia menghilang tanpa pamit. Dan sekarang baru muncul lagi.
Masih cantik dan seksi seperti dulu..malah tampak makin cantik...hehe.
Coba dia bukan siluman ular...bakal aku jadiin pacar tuh...

Aku meraih gelasku dan hendak meminum kopiku, tapi ternyata sudah habis.
Ga kerasa kalau sudah kuminum sampai habis...

Ah...saatnya istirahat. Besok harus kerja.
Aku masuk kamar dan bersiap untuk tidur.. Kulihat Cindy masih asyik di depan laptop.
"Cindy nggak bobok?" tanyaku.
"Enggak yah... Belum ngantuk...!"
"Ya sudah, ayah tidur dulu ya.. Jangan lupa nanti laptopnya dimatikan."
"Iya yah.... Selamat tidur...!"
"Makasih sayang ..!" kataku sambil mencium pipinya.
Lalu aku beranjak ke ranjang untuk tidur...
Selamat malam
dimaschevy62 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup