- Beranda
- Stories from the Heart
Jejak Kematian Koleksi Agustian.
...
TS
simsol...
Jejak Kematian Koleksi Agustian.

Quote:
KATA PENGANTAR

Ane akan menulis sebuah kisah yang terinspirasi dengan serial TVRI yang berjudul Friday The 13th.
Kisah tentang barang-barang antik yang mengandung unsur magis dan membuat sang pemiliknya mendapat kekuatan magis yang tidak masuk di akal.
Letnan Didi akan menjadi karakter utama di cerita ane.
Seorang anggota kepolisian yang nantinya akan bertugas khusus memburu dan menghentikan kekejaman benda antik tersebut beserta pemiliknya.
Sersan @adolfsbasthian dan Sersan @adekgantengomakan menjadi karakter pembantu dari Letnan Didi dalam tugas ini.
Sersan Basthian adalah seorang profiler kriminal sedangkan Sersan Adek adalah seorang polisi cyber.
Mereka bertiga akan bahu membahu menyelesaikan kasus per kasus akibat penggunaan barang antik ini.
Semoga tulisan ane bisa menghibur agan dan sista semua.
Mohon maap bila ada kekurangannya.

Quote:
Semua Bermula Dari Sini
Hujan deras dan sambaran kilat menyambar kesana kemari membuat malam ini terasa mencekam.
Siapapun akan malas beranjak keluar dari rumahnya melihat kondisi cuaca malam ini.
Terlebih jaringan listrik saat itu padam hampir di sebagian wilayah kota Jakarta.
Namun tidak bagi dua sosok ini.
Mengenakan baju hitam dan membawa tas ransel yang cukup besar di punggung mereka.
Mereka turun dengan menggunakan tali, dari pagar tembok belakang rumah besar dan mewah tersebut.
Sesampainya di halaman belakang rumah mewah tersebut.
Tampak kini sebuah kolam renang ada di hadapan mereka.
Mereka berdua mengendap-endap memperhatikan sekeliling mereka yang hanya di terangi oleh kilat yang menyambar.
"Bedu, kau yakin para penjaga rumah ini sudah terlelap tidur?"sosok tinggi kurus tersebut bertanya setengah berbisik pada rekannya yang mempunyai postur lebih pendek dari dia namun berbadan cukup gempal.
"Entahlah....Roni!"jawabnya berbisik sambil terus memandang ke arah rumah mewah tersebut.
Seolah-olah sedang menunggu seseorang yang ada di dalam rumah tersebut.
Tak lama berselang sebuah cahaya senter yang berasal dari dalam rumah tersebut menyinari halaman belakang.
Cahaya senter tersebut menyala kemudian mati hingga tiga kali.
Melihat hal tersebut, Bedu dan Roni berjalan perlahan menuju sebuah pintu besar.
"Yudi....Yud!"panggil Bedu pelan sambil mengetuk pintu besar tersebut dengan ketukan pelan dan berulang kali.
Tak lama berselang pintu tersebut terbuka perlahan.
Kemudian sosok berbaju putih dan bercelana hitam nampak berdiri di hadapan mereka.
"Gimana Yud...aman kah sudah!"tanya Bedu dengan suara berbisik kepada sosok tersebut.
"Aman bang Bedu, aku sudah mencampuri obat tidur di minuman kopi mereka.
Kini mereka sudah terlelap!"katanya dengan suara berbisik.
Bedu dan Roni masuk ke dalam rumah mengikuti langkah dari Yudi yang berjalan pelan menuju sebuah kamar di rumah mewah dan besar tersebut.
Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang cukup besar.
Bedu dan Roni kini menyalakan senter mereka yang sudah sedari tadi mereka bawa.
Tampak isi kamar tersebut penuh berisikan lukisan,patung dan benda-benda antik.
Bagi yang melihatnya dalam situasi seperti ini pasti merinding karena pemandangan kamar tersebut.
Namun bagi mereka, justru sangat indah karena barang-barang di ruangan tersebut sangat bernilai tinggi.
Pandangan liar Bedu menyapu semua benda yang ada di ruangan tersebut, terutama di sebuah kotak kaca tebal mirip dengan akuarium ikan di atas lemari buffet.
Benda-benda di dalam kotak kaca tersebut beralaskan kain beludru ungu yang cukup tebal.
Benda tersebut berjumlah lima dan benda tersebut terliat seperti benda biasa yang sering dia temui.
"Yud....coba kesini!"panggilnya pelan kepada Yudi.
Yudi pun berjalan menuju berdirinya Bedu di kamar tersebut.
"Ada apa bang Bedu?" tanyanya pelan.
"Coba liat isi kotak kaca ini!.
Isinya barang biasa tapi sepertinya sangat di rawat sekali!".
"Saya kurang paham bang dengan benda-benda ini, namun tuan besar melarang siapapun menyentuh kotak kaca ini dan hanya Beliau saja dan putranya yang boleh membuka kotak kaca ini!"jawab Yudi dengan suara berbisik pelan sekali.
"Apa kita bawa saja yaa benda-benda ini.
Siapa tau benda-benda ini bernilai sangat mahal di luar sana!" Kata Bedu dengan mata berbinar mengkhayalkan akan mendapatkan uang yang banyak.
Roni tampak selesai memasukan barang tertentu ke dalam tas ranselnya.
Melihat kedua rekannya asyik mengobrol maka dia pun memutuskan tuk menghampiri mereka.
"Ayooo kerja...jangan buang waktu dengan obrolan tidak ada gunanya!"tegur Roni dengan suara cukup nyaring karena kesal.
"Sssttttttt......!Bedu dan Yudi serempak menyuruh Roni tuk diam.
Roni hanya melengos kesal.
Mereka bertiga di kejutkan oleh sebuah suara pintu yang di buka.
Secara serempak, mereka mematikan senter mereka bersamaan.
Suasana kembali hening.
"Apakah ada penjaga yang terbangun Yud?"tanya Roni pelan.
"Mungkin, sebentar saya cek dulu.
Kalian tunggu disini dan ambil seperlunya barang yang bisa di ambil!"kata yudi pelan kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut.
Bedu dan Roni pun mulai memasukan barang-barang ke dalam tas ranselnya.
Setelah di rasa cukup,mereka pun berjalan pelan dan mengendap-endap keluar dari kamar tersebut.
Suasana masih gelap di rumah mewah tersebut.
Mereka masih menunggu kedatangan Yudi sambil bersembunyi di sudut rumah tersebut.
Sekian lama mereka menunggu,sosok Yudi belum juga nampak.
"Gimana ini Bedu?"bisik Roni bertanya.
"Kita pergi saja dari rumah ini,mungkin Yudi sibuk dengan penjaga rumah ini yang terbangun dari efek obat tidur tersebut!".jawabnya pelan.
Kedua orang tersebut pun berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang rumah.
Dengan bantuan cahaya kilat, mereka terus berjalan menghampiri pintu yang kini tak jauh dari mereka.
Quote:
Awal Sebuah Tugas Letnan Didi
Tiga bulan kemudian.....
Sosok tinggi besar namun terlihat gagah tampak duduk di hadapan Didi.
Usianya sekitar limapuluh tahunan.
Dengan mengenakan seragam Kepolisian dan di pundaknya berjejer tiga bintang makin membuat penampilan sosok ini sangat berwibawa.
Didi tampak berdiri dengan gagahnya di hadapan komandan besarnya.
"Letnan Didi...!"
"Siap Pak...!"
"Saya memanggil anda kemari untuk memberi sebuah tugas besar yang rumit dan sebisa mungkin di rahasiakan!"
"Siap laksanakan Pak..!".
"Ini surat perintah penugasan anda Letnan Didi!"katanya sambil menyerahkan sebuah amplop besar coklat.
Letnan Didi pun dengan sigap menyambut amplop besar tersebut dan kemudian di kempitkannya di lengannya tuk berdiri seperti semula.
"Semua detail kerja tim anda, sudah saya tugaskan kepada Sersan Basthian tuk menjelaskan kepada anda!".
"Siap laksanakan Pak..!".
Perawakan Letnan Didi cukup kekar,di imbangi tinggi tubuhnya berkisar 175 cm dan berkulit kuning langsat.
Suasana ruangan yang kini di masukin oleh Didi terlihat kecil.
Hanya satu meja besar dan kursi mengeliling meja tersebut.
Nampak dua sosok lagi asyik dengan kesibukannya masing-masing.
"Selamat pagi semua...!"sapa Didi.
Kedua sosok tersebut langsung bangkit dan memberi hormat kepada Didi.
Didi pun membalas hormat.
Sersan Basthian bertubuh gempal dan mempunyai tinggi sekitar 180 cm, berkulit sawo matang.
Sersan Adek bertubuh kurus berisi dan mempunyai tinggi sekitar 170 cm, berkulit putih.
"Kita bertiga akan berkerjasama menangani kasus-kasus khusus, jadi dalam kondisi informal,saya harapkan kalian berdua memanggil saya cukup dengan panggilan bang yaa...! Kata Didi dan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Siap laksanakan Pak..!"sahut mereka serempak.
"Silahkan duduk dan beri saya detail kasus yang akan kita tangani ini!".
"Jadi begini Pak...eh bang,dalam beberapa bulan ini ada kasus kematian yang cukup aneh di kota ini.
Para penyidik di buat kebingungan dengan kasus ini.
Korbannya para wanita muda dan wajah para korban tampak sama yaitu wajah penuh ketakutan dan atas perintah atasan, kasus ini di limpahkan kepada tim khusus ini bang !"Sersan Basthian menjelaskan sembari memberi foto para korban kepada Didi.
Dahi Didi tampak mengernyit saat melihat foto-foto korban yang telah meninggal tersebut.
"Ada petunjuk soal kasus pembunuhan ini Basthian...?"tanyanya.
"Saya mencoba mencocokan semua data-data para korban tapi hanya dapat satu petunjuk yaitu para korbannya adalah wanita muda dengan usia tujuh belas tahun hingga dua puluh lima tahun.
Mereka semua tidak punya keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Sersan Adek sudah memeriksa segala aktivitas mereka di dunia maya dan hasilnya tidak menemukan keterkaitan satu sama lainnya bang!".
"Berarti kita minim petunjuk dalam kasus ini ?".
"Awalnya begitu bang,namun seseorang memberi informasi bahwa dia bisa menolong kita dalam kasus ini!"jawab Sersan Adek.
"Betul bang dan hari ini kita di tunggu oleh Beliau di rumahnya!"Sersan Basthian menambahkan keterangan.
"Oke,kita meluncur kesana tuk menggali informasi, sapa tau bisa jadi petunjuk baru dalam kasus ini!"ajak Didy yang beranjak dari kursinya.
Mereka bertiga meluncur kerumah orang yang akan memberi informasi kasus pembunuhan aneh tersebut.
Sebuah rumah yang besar dan sangat mewah berwarna coklat dengan banyak di hiasi patung-patung kecil di berbagai tempat.
Didi dan timnya kini memasuki rumah tersebut di temani pelayan pria rumah tersebut.
"Ini adalah rumah seorang mantan aktor film besar bang, Beliau juga terkenal sebagai kolektor barang-barang bersejarah maupun barang-barang yang bernilai seni tinggi bang !"Sersan Adek menjelaskan kepada Didi siapa yang akan mereka temui nanti.
Mereka bertiga di bawa menuju ruang belakang.
Di area kolam renang tepatnya mereka kini berhenti.
"Ahhhh...Sungguh saya sangat merasa terhormat dengan kedatangan tamu para Polisi muda dan tampan ini!"seorang pria berusia limapuluh tahunan menyapa mereka.
Mengenakan kemeja biru dan celana kain putih,pria ini masih terlihat sangat tampan.
Sosoknya yang tinggi dan body badannya yang terlihat sering ngegym ini makin memperkuat kharisma dia sebagai mantan aktor besar.
"Ayo silahkan duduk di little gazebo saya ini !"pintanya dengan ramah.
"Perkenalkan nama saya,Gustian Atmawijaya!"kata pria tersebut memperkenalkan diri.
"Mohon maap apabila kedatangan kami mengganggu aktivitas Bapak!"kata Didi sambil tersenyum semanis mungkin.
"Tidak apa-apa,justru kedatangan kalian, sangat saya harapkan karena tugas yang kalian emban saat ini sangat berkaitan dengan saya dan hanya saya yang bisa membantu kalian dalam menyelesaikan tugas yang di berikan sahabat saya, Indrawan yang kini menjadi komandan besar kalian!".
"Perkenalkan,saya Letnan Didi kemudian di sebelah saya ini Sersan Basthian dan Sersan Adek.
Kami adalah tim kecil khusus yang di bentuk Beliau!".
"I see....I see,sebenarnya tim ini adalah permintaan saya kepada Indrawan karena ini akan jadi kasus yang sangat pelik dan akan memakan banyak korban nyawa!".
Didi,Basthian dan Adek tampak terkejut mendengar perkataan Gustian.
Agustian mengeluarkan sebuah buku kecil yang di lapisi kulit berwarna merah dalam tas kecilnya dan kemudian menyerahkan kepada Didi.
"Di buku kecil tersebut, sudah saya catatkan keterangan tentang benda-benda yang telah di curi tiga bulan yang lalu.
Benda-benda tersebut bukan sembarang benda.
Mereka adalah benda berkekuatan magis.
Siapapun pemiliknya, bila dia tau manfaat besar benda tersebut, maka akan mempergunakannya dan sialnya benda-benda tersebut butuh korban nyawa agar kekuatan magisnya bisa berfungsi!"Gustian menjelaskan penuh keseriusan.
"Tugas kalian kini memburu benda-benda tersebut.
Agar bisa mencegah banyak kematian!"tambahnya menjelaskan.
"Apakah benda tersebut bisa di hancurkan Pak ?"tanya Adek penuh keheranan.
"Bisa namun tak mudah tapi itu biar urusan saya yang menghancurkannya.
Karena keteledoran saya dan napsu serakah saya akan benda-benda antik, membuat saya malah menyimpannya bukan menghancurkannya!"kata Gustian dengan wajah penuh penyesalan.
"Lalu bagaimana kami menemukan benda-benda tersebut pak ?.
Karena yang saya baca sedikit dari buku ini,semua benda tersebut adalah benda yang biasa orang gunakan?"tanya Didi.
Gustian hanya tertawa sebentar dan kemudian berteriak memanggil nama pelayannya.
Tak lama kemudian, pelayan yang di panggil tersebut menghampiri sambil membawa kotak kayu lalu menyerahkannya kepada Didi.
"Didalam kotak kayu tersebut ada sebuah kompas kuno.
Kompas tersebut hanya berfungsi bila benda magis tersebut ada di sekitarnya.
Ikuti saja arah jarumnya maka kalian akan menemukan sang pemilik benda-benda tersebut!"katanya menjelaskan.
"Jangan sampai kalian kehilangan kompas tersebut, tanpa kompas tersebut akan sulit menemukan jejak para pemilik benda magis tersebut karena setiap kematian tidak akan meninggalkan jejak apapun termasuk jejak DNA sang pemilik akibat daya magisnya benda-benda ini!" Gustian memperingatkan kepada ketiga polisi ini.
Setelah berbincang panjang lebar dengan Gustian.
Didi beserta anak buahnya berpamitan tuk pulang.
Ketika mereka sudah masuk dalam mobil.
Gustian menghampiri mereka dan kemudian berkata.
"Kasus kematian para gadis muda yang sedang terjadi di kota ini sangat erat dengan salah satu benda magis saya yang telah di curi yaitu"Cermin Kecantikan Abadi !....".
BERSAMBUNG
chapter one:cermin kematian (BAB SATU)
BAB DUA
BAB KETIGA(TAMAT)
Chapter two:Serigala Kematian(BAB SATU).
BAB DUA
Diubah oleh simsol... 16-04-2021 20:57
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
5.1K
Kutip
144
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
simsol...
#5
Spoiler for Peristiwa Paling Mencekam Malam Ini:

Pak Siwi memang seorang pemburu handal dan sangat berpengalaman di area perkebunan di desa Citarem.
Hari itu kami berempat mendatangi lokasi penemuan korban terakhir dari keganasan makhluk misterius tersebut.
Setiap jejak masih terlihat disana karena kawasan tersebut sudah di sterilkan dan di atapi tenda agar kondisinya tidak berubah karena hujan.
"Melihat jejak kakinya sepertinya bukan jejak binatang buas,lebih mirip jejak kaki manusia tapi mana ada manusia yg berkuku tajam seperti ini!"katanya yang terlihat asyik memperhatikan bekas jejak kaki yang berada disana.
Dia pun bangkit dari duduk jongkoknya kemudian menyusuri jejak kaki berikutnya.
"Manusia normal tidak akan mampu bisa melompat sejauh ini kecuali dia mantan atlet lompat jauh,gilaaa...!Makhluk apa sebenarnya ini?"decaknya kagum dalam kebingungannya.
Kami terus menginvestigasi seluruh TKP , hingga akhirnya senja mulai turun.
Sudah beberapa hari, kami terus mengadakan penyelidikan.
Aku dan Basthian sibuk bertanya kepada warga desa citarem dan berharap akan ada saksi mata yang bisa membuat profil pembunuhnya lebih jelas.
Tentuny kami membawa kompas antik itu tuk membantu tugas kami.
Namun sejauh ini yang kami dapatkan informasinya adalah sosok berbulu hitam dan bermata merah menyala.
Penduduk disana beranggapan pelakunya makhluk siluman genderuwo.
Sementara itu warga desa dibantu pihak kepolisian termasuk kami bertiga, setiap malam bergantian tuk ngeronda menjaga keamanan desa.
Sudah beberapa malam ini,tidak ada kejadian yang mencurigakan.
Malam ini, aku dan Basthian ikut berpartisipasi dalam menjaga kampung ini.
Kami berdua dan dua warga desa lainnya, rajin berpatroli mengelilingi desa dengan menggunakan beberapa motor.
Bulan di awan tampak penuh, menandakan ini bulan purnama.
Waktu sudah menunjukan jam 2 malam.
Kami berjalan pelan menyusuri pinggiran sawah dan perkebunan.
Sesekali kami berhenti tuk mengecek lokasi tertentu yang pernah jadi lokasi pembunuhan.
Suara lolongan anjing tampak terdengar dari kejauhan.
Kini kami berhenti di sebuah kebun pisang.
Kang Sani tanpa sengaja melihat sebuah gerakan mencurigakan di kebun tersebut.
Basthian dengan sigap turun dari motornya bersama Kang Luwi berlari menuju perkebunan tersebut.
Aku dan Kang Sani bergegas mengikuti mereka.
Pistolku telah keluar dari sarungnya.
Sedangkan Kang Sani memegang erat ujung goloknya.
Kami berdua berlari menyusul Basthian dan Kang Luwi.
Tak berapa lama, kami melihat mereka sedang berbincang dengan seseorang disana.
"Kang Awin, ada apa malam-malam begini ada di kebun pisang?.
Sebuah pertanyaan dari Kang Luwi terdengar setibanya kami disana.
"Ada temu janji atuh Kang Luwi sama..!.
Belum selesai menjawab, dari belakang punggung Kang Awin, terlihat sosok hitam menerjangnya dan langsung mengigit lehernya.
Terdengar pekikan pilu dari mulut Kang Awin kemudian di barengi tembakan pistol dari Basthian.
Aku pun dengan sigap melepaskan tembakan ke makhluk tersebut.
Namun makhluk tersebut tampak berhenti sejenak lalu kemudian terus merobek leher korbannya.
Sungguh pemandangan mengerikan terjadi di hadapan kami berempat.
Kang Sani dan Kang luwi terdiam kaku menatap makhluk tersebut.
Hanya aku dan Basthian yang terus menghujani makhluk tersebut dengan peluru yang ada di pistol kami.
Tubuh Kang Awin kini terhempaskan di tanah.
Makhluk tersebut menyeringai menatap kami berempat.
Aku dan Basthian sudah kehabisan peluru dan tuk mengisi ulangnya terasa berat karna di cengkram ketakutan yang teramat sangat.
Sosok makhluk di hadapan kami cukup besar dan cukup tinggi namun masih terhitung ukuran manusia.
Wajahnya sangat menyeramkan,berhiaskan taring panjang di kedua ujung bibirnya yang kini berlumuran darah.
Tangan dan kakinya terhiaskan kuku hitam yang cukup panjang dan tajam.
Sosok tersebut perlahan mendekati Basthian dan mengayunkan tangannya tuk mencakar kepala Basthian.
Aku dengan gugupnya berhasil mengisi peluru pistolku kembali dan memberanikan diri maju sambil menembak kepala makhluk tersebut.
Sebuah peluruku tampak mengenai matanya.
Makhluk tersebut mengerang kesakitan.
Tangannya langsung memegang matanya yang terkena peluru tersebut.
Kang Sani pun menendang keras tubuh makhluk tersebut hingga termundur ke belakang.
Kesempatan itu membuat kami segera berlari menuju motor kami dan langsung tancap gas menuju pos utama ronda malam desa Citarem.
Ternyata makhluk tersebut mengejar kami dari samping.
Dia berlari layaknya serigala di sepanjang pinggiran kebun dan sawah yang kami lewati.
Kini dia mulai mendekati kami yang duduk di atas motor yang melaju kencang.
Aku yang di bonceng Kang Luwi, mau tidak mau panik dengan mendekatnya ini makhluk.
Maka dengan sigap aku melepaskan tembakan ke arah kepalanya.
Aku berharap peluruku ada yang bisa mengenai matanya.
Puji Tuhan, satu dari sekian peluru yang kutembakan mengenai matanya dan membuatnya berhenti sejenak sambil mengerang kesakitan.
Di depan kami tampak nyala api unggun, bertanda kami akan sampai di pos utama ronda.
Tampak beberapa warga segera menyambut kami setelah berhenti di pos tersebut.
"Ada apa kang...? Tanya mereka serempak.
"Makhluk itu bukan genderuwo tapi manusia serigala! Teriak Kang Luwi ketakutan.
Aku dan Basthian langsung dalam posisi siaga tuk antisipasi kedatangan makhluk tersebut.
Kang Sani langsung memerintahkan warga yang ngeronda mengambil batangan kayu api unggun dan bersiap-siap membakar makhluk tersebut.
Petugas Polisi yang ada di pos utama ronda sibuk berkomunikasi dengan rekannya tuk meminta bantuan.
"Pak Basthian dan Pak Adek, Bapak Kapolsek dan Pak Didi bersama team bantuan sedang menuju kemari, laporan selesai!"katanya kepada kami lalu berdiri di samping kami dengan pistol di gengamannya.
Suasana hening dan mencekam terasa sekali bagi kami yang ada di pos ronda.
Tidak ada yang bicara dan semuanya menatap jalan yang tadi kami lewati.
Kini rasa mencekam itu semakin menjadi ketika sosok makhluk tersebut terlihat berdiri di antara pepohonan tak jauh dari kami.
Keringat dingin tampak membasahi tubuh dan wajahku.
Pistolku kini ku arahkan ke arah makhluk tersebut.
Makhluk tersebut tiba-tiba melolong panjang di hadapan kami kemudian memutar tubuhnya berlari ke dalam gelapnya kebun tersebut,seiring dengan datangnya dua mobil patroli Polisi ke arah kami.
Diubah oleh simsol... 16-04-2021 20:40
phyu.03 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas