- Beranda
- Stories from the Heart
Jejak Kematian Koleksi Agustian.
...
TS
simsol...
Jejak Kematian Koleksi Agustian.

Quote:
KATA PENGANTAR

Ane akan menulis sebuah kisah yang terinspirasi dengan serial TVRI yang berjudul Friday The 13th.
Kisah tentang barang-barang antik yang mengandung unsur magis dan membuat sang pemiliknya mendapat kekuatan magis yang tidak masuk di akal.
Letnan Didi akan menjadi karakter utama di cerita ane.
Seorang anggota kepolisian yang nantinya akan bertugas khusus memburu dan menghentikan kekejaman benda antik tersebut beserta pemiliknya.
Sersan @adolfsbasthian dan Sersan @adekgantengomakan menjadi karakter pembantu dari Letnan Didi dalam tugas ini.
Sersan Basthian adalah seorang profiler kriminal sedangkan Sersan Adek adalah seorang polisi cyber.
Mereka bertiga akan bahu membahu menyelesaikan kasus per kasus akibat penggunaan barang antik ini.
Semoga tulisan ane bisa menghibur agan dan sista semua.
Mohon maap bila ada kekurangannya.

Quote:
Semua Bermula Dari Sini
Hujan deras dan sambaran kilat menyambar kesana kemari membuat malam ini terasa mencekam.
Siapapun akan malas beranjak keluar dari rumahnya melihat kondisi cuaca malam ini.
Terlebih jaringan listrik saat itu padam hampir di sebagian wilayah kota Jakarta.
Namun tidak bagi dua sosok ini.
Mengenakan baju hitam dan membawa tas ransel yang cukup besar di punggung mereka.
Mereka turun dengan menggunakan tali, dari pagar tembok belakang rumah besar dan mewah tersebut.
Sesampainya di halaman belakang rumah mewah tersebut.
Tampak kini sebuah kolam renang ada di hadapan mereka.
Mereka berdua mengendap-endap memperhatikan sekeliling mereka yang hanya di terangi oleh kilat yang menyambar.
"Bedu, kau yakin para penjaga rumah ini sudah terlelap tidur?"sosok tinggi kurus tersebut bertanya setengah berbisik pada rekannya yang mempunyai postur lebih pendek dari dia namun berbadan cukup gempal.
"Entahlah....Roni!"jawabnya berbisik sambil terus memandang ke arah rumah mewah tersebut.
Seolah-olah sedang menunggu seseorang yang ada di dalam rumah tersebut.
Tak lama berselang sebuah cahaya senter yang berasal dari dalam rumah tersebut menyinari halaman belakang.
Cahaya senter tersebut menyala kemudian mati hingga tiga kali.
Melihat hal tersebut, Bedu dan Roni berjalan perlahan menuju sebuah pintu besar.
"Yudi....Yud!"panggil Bedu pelan sambil mengetuk pintu besar tersebut dengan ketukan pelan dan berulang kali.
Tak lama berselang pintu tersebut terbuka perlahan.
Kemudian sosok berbaju putih dan bercelana hitam nampak berdiri di hadapan mereka.
"Gimana Yud...aman kah sudah!"tanya Bedu dengan suara berbisik kepada sosok tersebut.
"Aman bang Bedu, aku sudah mencampuri obat tidur di minuman kopi mereka.
Kini mereka sudah terlelap!"katanya dengan suara berbisik.
Bedu dan Roni masuk ke dalam rumah mengikuti langkah dari Yudi yang berjalan pelan menuju sebuah kamar di rumah mewah dan besar tersebut.
Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang cukup besar.
Bedu dan Roni kini menyalakan senter mereka yang sudah sedari tadi mereka bawa.
Tampak isi kamar tersebut penuh berisikan lukisan,patung dan benda-benda antik.
Bagi yang melihatnya dalam situasi seperti ini pasti merinding karena pemandangan kamar tersebut.
Namun bagi mereka, justru sangat indah karena barang-barang di ruangan tersebut sangat bernilai tinggi.
Pandangan liar Bedu menyapu semua benda yang ada di ruangan tersebut, terutama di sebuah kotak kaca tebal mirip dengan akuarium ikan di atas lemari buffet.
Benda-benda di dalam kotak kaca tersebut beralaskan kain beludru ungu yang cukup tebal.
Benda tersebut berjumlah lima dan benda tersebut terliat seperti benda biasa yang sering dia temui.
"Yud....coba kesini!"panggilnya pelan kepada Yudi.
Yudi pun berjalan menuju berdirinya Bedu di kamar tersebut.
"Ada apa bang Bedu?" tanyanya pelan.
"Coba liat isi kotak kaca ini!.
Isinya barang biasa tapi sepertinya sangat di rawat sekali!".
"Saya kurang paham bang dengan benda-benda ini, namun tuan besar melarang siapapun menyentuh kotak kaca ini dan hanya Beliau saja dan putranya yang boleh membuka kotak kaca ini!"jawab Yudi dengan suara berbisik pelan sekali.
"Apa kita bawa saja yaa benda-benda ini.
Siapa tau benda-benda ini bernilai sangat mahal di luar sana!" Kata Bedu dengan mata berbinar mengkhayalkan akan mendapatkan uang yang banyak.
Roni tampak selesai memasukan barang tertentu ke dalam tas ranselnya.
Melihat kedua rekannya asyik mengobrol maka dia pun memutuskan tuk menghampiri mereka.
"Ayooo kerja...jangan buang waktu dengan obrolan tidak ada gunanya!"tegur Roni dengan suara cukup nyaring karena kesal.
"Sssttttttt......!Bedu dan Yudi serempak menyuruh Roni tuk diam.
Roni hanya melengos kesal.
Mereka bertiga di kejutkan oleh sebuah suara pintu yang di buka.
Secara serempak, mereka mematikan senter mereka bersamaan.
Suasana kembali hening.
"Apakah ada penjaga yang terbangun Yud?"tanya Roni pelan.
"Mungkin, sebentar saya cek dulu.
Kalian tunggu disini dan ambil seperlunya barang yang bisa di ambil!"kata yudi pelan kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut.
Bedu dan Roni pun mulai memasukan barang-barang ke dalam tas ranselnya.
Setelah di rasa cukup,mereka pun berjalan pelan dan mengendap-endap keluar dari kamar tersebut.
Suasana masih gelap di rumah mewah tersebut.
Mereka masih menunggu kedatangan Yudi sambil bersembunyi di sudut rumah tersebut.
Sekian lama mereka menunggu,sosok Yudi belum juga nampak.
"Gimana ini Bedu?"bisik Roni bertanya.
"Kita pergi saja dari rumah ini,mungkin Yudi sibuk dengan penjaga rumah ini yang terbangun dari efek obat tidur tersebut!".jawabnya pelan.
Kedua orang tersebut pun berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang rumah.
Dengan bantuan cahaya kilat, mereka terus berjalan menghampiri pintu yang kini tak jauh dari mereka.
Quote:
Awal Sebuah Tugas Letnan Didi
Tiga bulan kemudian.....
Sosok tinggi besar namun terlihat gagah tampak duduk di hadapan Didi.
Usianya sekitar limapuluh tahunan.
Dengan mengenakan seragam Kepolisian dan di pundaknya berjejer tiga bintang makin membuat penampilan sosok ini sangat berwibawa.
Didi tampak berdiri dengan gagahnya di hadapan komandan besarnya.
"Letnan Didi...!"
"Siap Pak...!"
"Saya memanggil anda kemari untuk memberi sebuah tugas besar yang rumit dan sebisa mungkin di rahasiakan!"
"Siap laksanakan Pak..!".
"Ini surat perintah penugasan anda Letnan Didi!"katanya sambil menyerahkan sebuah amplop besar coklat.
Letnan Didi pun dengan sigap menyambut amplop besar tersebut dan kemudian di kempitkannya di lengannya tuk berdiri seperti semula.
"Semua detail kerja tim anda, sudah saya tugaskan kepada Sersan Basthian tuk menjelaskan kepada anda!".
"Siap laksanakan Pak..!".
Perawakan Letnan Didi cukup kekar,di imbangi tinggi tubuhnya berkisar 175 cm dan berkulit kuning langsat.
Suasana ruangan yang kini di masukin oleh Didi terlihat kecil.
Hanya satu meja besar dan kursi mengeliling meja tersebut.
Nampak dua sosok lagi asyik dengan kesibukannya masing-masing.
"Selamat pagi semua...!"sapa Didi.
Kedua sosok tersebut langsung bangkit dan memberi hormat kepada Didi.
Didi pun membalas hormat.
Sersan Basthian bertubuh gempal dan mempunyai tinggi sekitar 180 cm, berkulit sawo matang.
Sersan Adek bertubuh kurus berisi dan mempunyai tinggi sekitar 170 cm, berkulit putih.
"Kita bertiga akan berkerjasama menangani kasus-kasus khusus, jadi dalam kondisi informal,saya harapkan kalian berdua memanggil saya cukup dengan panggilan bang yaa...! Kata Didi dan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Siap laksanakan Pak..!"sahut mereka serempak.
"Silahkan duduk dan beri saya detail kasus yang akan kita tangani ini!".
"Jadi begini Pak...eh bang,dalam beberapa bulan ini ada kasus kematian yang cukup aneh di kota ini.
Para penyidik di buat kebingungan dengan kasus ini.
Korbannya para wanita muda dan wajah para korban tampak sama yaitu wajah penuh ketakutan dan atas perintah atasan, kasus ini di limpahkan kepada tim khusus ini bang !"Sersan Basthian menjelaskan sembari memberi foto para korban kepada Didi.
Dahi Didi tampak mengernyit saat melihat foto-foto korban yang telah meninggal tersebut.
"Ada petunjuk soal kasus pembunuhan ini Basthian...?"tanyanya.
"Saya mencoba mencocokan semua data-data para korban tapi hanya dapat satu petunjuk yaitu para korbannya adalah wanita muda dengan usia tujuh belas tahun hingga dua puluh lima tahun.
Mereka semua tidak punya keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Sersan Adek sudah memeriksa segala aktivitas mereka di dunia maya dan hasilnya tidak menemukan keterkaitan satu sama lainnya bang!".
"Berarti kita minim petunjuk dalam kasus ini ?".
"Awalnya begitu bang,namun seseorang memberi informasi bahwa dia bisa menolong kita dalam kasus ini!"jawab Sersan Adek.
"Betul bang dan hari ini kita di tunggu oleh Beliau di rumahnya!"Sersan Basthian menambahkan keterangan.
"Oke,kita meluncur kesana tuk menggali informasi, sapa tau bisa jadi petunjuk baru dalam kasus ini!"ajak Didy yang beranjak dari kursinya.
Mereka bertiga meluncur kerumah orang yang akan memberi informasi kasus pembunuhan aneh tersebut.
Sebuah rumah yang besar dan sangat mewah berwarna coklat dengan banyak di hiasi patung-patung kecil di berbagai tempat.
Didi dan timnya kini memasuki rumah tersebut di temani pelayan pria rumah tersebut.
"Ini adalah rumah seorang mantan aktor film besar bang, Beliau juga terkenal sebagai kolektor barang-barang bersejarah maupun barang-barang yang bernilai seni tinggi bang !"Sersan Adek menjelaskan kepada Didi siapa yang akan mereka temui nanti.
Mereka bertiga di bawa menuju ruang belakang.
Di area kolam renang tepatnya mereka kini berhenti.
"Ahhhh...Sungguh saya sangat merasa terhormat dengan kedatangan tamu para Polisi muda dan tampan ini!"seorang pria berusia limapuluh tahunan menyapa mereka.
Mengenakan kemeja biru dan celana kain putih,pria ini masih terlihat sangat tampan.
Sosoknya yang tinggi dan body badannya yang terlihat sering ngegym ini makin memperkuat kharisma dia sebagai mantan aktor besar.
"Ayo silahkan duduk di little gazebo saya ini !"pintanya dengan ramah.
"Perkenalkan nama saya,Gustian Atmawijaya!"kata pria tersebut memperkenalkan diri.
"Mohon maap apabila kedatangan kami mengganggu aktivitas Bapak!"kata Didi sambil tersenyum semanis mungkin.
"Tidak apa-apa,justru kedatangan kalian, sangat saya harapkan karena tugas yang kalian emban saat ini sangat berkaitan dengan saya dan hanya saya yang bisa membantu kalian dalam menyelesaikan tugas yang di berikan sahabat saya, Indrawan yang kini menjadi komandan besar kalian!".
"Perkenalkan,saya Letnan Didi kemudian di sebelah saya ini Sersan Basthian dan Sersan Adek.
Kami adalah tim kecil khusus yang di bentuk Beliau!".
"I see....I see,sebenarnya tim ini adalah permintaan saya kepada Indrawan karena ini akan jadi kasus yang sangat pelik dan akan memakan banyak korban nyawa!".
Didi,Basthian dan Adek tampak terkejut mendengar perkataan Gustian.
Agustian mengeluarkan sebuah buku kecil yang di lapisi kulit berwarna merah dalam tas kecilnya dan kemudian menyerahkan kepada Didi.
"Di buku kecil tersebut, sudah saya catatkan keterangan tentang benda-benda yang telah di curi tiga bulan yang lalu.
Benda-benda tersebut bukan sembarang benda.
Mereka adalah benda berkekuatan magis.
Siapapun pemiliknya, bila dia tau manfaat besar benda tersebut, maka akan mempergunakannya dan sialnya benda-benda tersebut butuh korban nyawa agar kekuatan magisnya bisa berfungsi!"Gustian menjelaskan penuh keseriusan.
"Tugas kalian kini memburu benda-benda tersebut.
Agar bisa mencegah banyak kematian!"tambahnya menjelaskan.
"Apakah benda tersebut bisa di hancurkan Pak ?"tanya Adek penuh keheranan.
"Bisa namun tak mudah tapi itu biar urusan saya yang menghancurkannya.
Karena keteledoran saya dan napsu serakah saya akan benda-benda antik, membuat saya malah menyimpannya bukan menghancurkannya!"kata Gustian dengan wajah penuh penyesalan.
"Lalu bagaimana kami menemukan benda-benda tersebut pak ?.
Karena yang saya baca sedikit dari buku ini,semua benda tersebut adalah benda yang biasa orang gunakan?"tanya Didi.
Gustian hanya tertawa sebentar dan kemudian berteriak memanggil nama pelayannya.
Tak lama kemudian, pelayan yang di panggil tersebut menghampiri sambil membawa kotak kayu lalu menyerahkannya kepada Didi.
"Didalam kotak kayu tersebut ada sebuah kompas kuno.
Kompas tersebut hanya berfungsi bila benda magis tersebut ada di sekitarnya.
Ikuti saja arah jarumnya maka kalian akan menemukan sang pemilik benda-benda tersebut!"katanya menjelaskan.
"Jangan sampai kalian kehilangan kompas tersebut, tanpa kompas tersebut akan sulit menemukan jejak para pemilik benda magis tersebut karena setiap kematian tidak akan meninggalkan jejak apapun termasuk jejak DNA sang pemilik akibat daya magisnya benda-benda ini!" Gustian memperingatkan kepada ketiga polisi ini.
Setelah berbincang panjang lebar dengan Gustian.
Didi beserta anak buahnya berpamitan tuk pulang.
Ketika mereka sudah masuk dalam mobil.
Gustian menghampiri mereka dan kemudian berkata.
"Kasus kematian para gadis muda yang sedang terjadi di kota ini sangat erat dengan salah satu benda magis saya yang telah di curi yaitu"Cermin Kecantikan Abadi !....".
BERSAMBUNG
chapter one:cermin kematian (BAB SATU)
BAB DUA
BAB KETIGA(TAMAT)
Chapter two:Serigala Kematian(BAB SATU).
BAB DUA
Diubah oleh simsol... 16-04-2021 20:57
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
5.2K
Kutip
144
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
simsol...
#3
Spoiler for Kaca Cermin Kematian Bab 3 (Tamat).:

Merinita menatap wajahnya di cermin kaca meja riasnya.
Dia seakan-akan tak percaya bahwa secara perlahan-lahan wajahnya makin terlihat muda.
"Aku ingin memiliki kaca cermin ajaib ini Yu, tuk selamanya!" katanya pada Rahayu yang ada di belakang punggungnya.
"Kita harus menyingkirkan Ibu itu secepatnya mungkin beserta putranya...Hahahaha!".
Dengan langkah tergesa-gesa, Sersan Adek bergegas menuju ruang tim khususnya.
"Bang...saya menemukan petunjuk baru soal kasus ini!".katanya sesaat setelah masuk ruangan.
Didi dan Basthian yang asyik dengan pekerjaannya masing-masing seketika menoleh ke arah pintu, dimana Adek sedang berdiri.
Adek pun segera duduk di hadapan komandanya tuk menjelaskan apa yang ditemukannya.
"Untuk rekaman cctv,saya mendapat gambar jelas korban di jemput dari sebuah Mall oleh sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru, Bang!".
"Sayangnya mobil tersebut tanpa plat dan sudah banyak terbeli oleh masyarakat namun merupakan petunjuk yang akan mempermudah tuk mencari tersangkanya dengan temuan saya tadi malam, setelah melacak lebih dalam jejak digital para korban!" kata Adek penuh semangat.
"Teruskan..!".sahut Didi.
"Dari ke enam korban berdasarkan histori timeline mereka,semuanya bermimpi ingin menjadi artis,awalnya saya pikir banyak diluar sana wanita yang ingin menjadi artis namun saat di ingatkan Basthian kemarin lusa, apapun yang terlihat sama dari para korban bisa menjadi petunjuk keterkaitan para korban ini dan ternyata kesamaannya para korban ialah bermimpi ingin menjadi artis terkenal!".
"Lalu saya menyusuri para pembeli mobil terbaru tersebut dan mendapatkan tiga nama pembelinya berasal dari artis terkenal, ini Bang daftarnya artis yang membelinya!" Adek menyerahkan selembar kertas kepada komandannya.
"Joseline,Erika dan Firda..!"sebut Didi.
"Kita punya kompas tersebut dan bisa jadi alat bantu penunjuk keberadaan benda tersebut,Sersan Adek !, Kamu bawa salah satu Petugas Lalu lintas tuk mengecek mereka bertiga dan usahakan mengecek mereka di tempat tinggal mereka karena kecil kemungkinan cermin tersebut akan di bawa oleh pemiliknya kesana kemari, karena bagi pelaku, cermin itu sangat berharga baginya!".
"Siap...laksanakan !"kata Adek sambil berdiri memberi hormat kemudian pamit tuk melaksakan tugasnya.
"Bang....Saya udah memprofile pelaku dengan petunjuk-petunjuk yang ada, Pelakunya kemungkinan besar adalah wanita berdasarkan petunjuk buku kecil tersebut yang mengatakan bahwa kaca cermin ini berfungsi tuk membuat pemiliknya cantik jelita, Setiap bulan terjadi dua korban dan sekarang menjadi enam korban gadis muda, ini membuktikan bahwa kaca cermin tersebut kinerjanya hanya menarik jiwa mudanya saja lalu mentransfer ke pemiliknya hingga tetap awet muda!".
Basthian memperlihatkan kepada komandannya secarik kertas coretannya.
"Kalau berdasarkan rentang waktu kematian korban sama korban lainnya maka ada pola yang sama Bang!".
Didi memperhatikan coretan basthian di atas kertas yang berisikan tanggal kematian para korban.
"Rentang waktunya ada sekitar 14 atau 15 hari antara korban satu dengan yang lainnya..!"
"Benar Bang, berarti kaca cermin tersebut meminta tumbal setiap dua minggu sekali polanya, Setiap wanita pasti ingin awet muda dan cantik terlebih wanita yang usianya sudah di atas 30 tahunan ke atas.
Golongan mereka lah yang lebih berhasrat tuk tetap awet muda,secara psikologisnya biasanya dari kaum wanita sosialita dan selebritis,karena di dunia ini mereka di tuntut serba lebih dan sempurna"!.
"Berarti kita fokuskan tersangka pada golongan ini berdua berarti?".
"Benar Bang, namun tuk petunjuk lebih lanjut masih saya harus teliti lagi karena minimnya bukti dan petunjuk yang ada sekarang ini!".
"Bagaimana kalau kita mencoba cara yang cukup extreme dengan bantuan kompas tuk melacak pada hari-hari kaca cermin itu minta tumbal, catatan dari tanggal kematian korban yang terakhir adalah 3 hari yang lalu, maka tersisa 10 atau 11 hari ke depan akan ada korban baru lagi!".
"Maksud Abang, kita akan keliling jakarta dengan menggunakan kompas itu tuk melacak keberadaan mereka yang akan memangsa korban baru!".
Didi hanya mengangguk pelan, tersirat di wajahnya kurangnya kepercayaan dirinya akan ide nya ini.
Basthian hanya tersenyum kecut membayangkan dua malam mereka mengelilingi kota Jakarta yang luas ini tuk mencari pelaku sekaligus pemilik kaca cermin tersebut.
Sore harinya,Adek kembali bergabung dengan Basthian dan Didi.
Wajahnya tampak lesu menandakan bahwa tidak ada petunjuk berharga yang dia dapat setelah memeriksa beberapa artis tersebut.
"Kompasnya tidak bereaksi saat saya ada dirumah mereka Bang!".katanya sambil menghempaskan diri di sebuah kursi sofa kecil.
Didi dan Basthian hanya tersenyum melihat Adek yang nampak kesal tersebut.
Adek sendiri kini nampak sibuk dengan laptopnya, entah sedang mencari petunjuk apa lagi disana.
"Ketiga artis tersebut sepertinya akan di coret dari list tersangka, namun menurut saya Bang, demi membersihkan jejaknya bisa saja pemilik kaca cermin tersebut membeli dengan perantara orang lain,dia juga mungkin sudah memperhitungkan secara matang modus operasinya terlebih kini makin matang dengan 6 korban yang makin sulit terlacak!".kata Basthian menatap foto para korban.
"Benar Basthian,Pelaku berani memakai mobil terbaru dan sangat mahal harganya dalam aksinya ini, jelas tidak akan memakai namanya tuk membeli mobil mewah ini.
Mobil ini pelaku gunakan hanya tuk memperlihatkan kemapanan dirinya yang membuat para korban terpesona akan kehidupannya!".
"Mobil ini Bang cukup ngetrend dalam tahun ini,harganya bisa membeli mobil saya hingga 5 kondisi baru...Heheehe!"sahut Basthian terkekeh geli.
Didi pun tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya membayangkan harga mobil yang selangit itu.
"Rahayu....!!" teriak Adek seketika.
"Pacarmu yaa Dek atau demenanmu yakk Dek?".goda Basthian yang di buat terkejut oleh teriakan Adek.
"Bukan Basthian, Rahayu ini salah satu pembeli mobil mewah tersebut dan tebak apa pekerjaannya?" tanya Adek kegirangan.
"Apa Dek...?"tanya Didi dan Basthian serempak sambil menatap ke arah Adek duduk.
"Rahayu adalah asisten pribadi dari seorang artis yang kembali jaya dalam 2 bulan ini yaitu artis Merinita!"jawab Adek penuh semangat.
"Seorang asisten pribadi artis mampu membeli mobil mewah ini, cukup mencurigakan dan waktu tenarnya artis ini hampir berdekatan dengan kematian korban pertama!"seru Basthian yang kembali bersemangat.
"Oke....kalian berdua besok pagi bawa kompas ini kerumahnya dan jangan lupa bawa satu petugas lalu lintas sebagai dalih pemeriksaan disana,jangan sampai menimbulkan kecurigaan kepada terduga ini!"perintah Didi.
"Siap laksanakan Bang....!"kata Basthian dan adek serempak.
Keesokan malamnya,Basthian dan Adek kembali keruangan mereka.
Nampak wajah cerah mereka menandakan mereka membawa petunjuk yang sangat berarti.
"Bang,kompasnya bereaksi saat kami ada dirumah mereka!" kata Basthian kemudian dia duduk bersamaan dengan Adek yang iku duduk pula di hadapan komandannya.
"Bagus, kita akan menangkap basah mereka saat melakukan aksi, saya akan memerintahkan beberapa petugas tuk mengawasi pergerakan mereka 24 jam di 9 dan 10 hari ke depan!"kata Didi penuh semangat.
'Boleh bertanya Bang..?"tanya Basthian dengan mimik serius.
"Boleh Basthian, mau bertanya apa?".
"Alat pembunuhnya cuman cermin kaca, jelas sangat tidak masuk di akal bila di sidangkan dengan bukti alat pembunuhnya hanya cermin kaca yang masih utuh pula Bang ?".tanya Basthian.
"Kita tetap akan menangkapnya Basthian demi keadilan para korban,masalah alat pembunuhannya nanti kita buat sedemikian rupa, masyarakat harus kita tenangkan akibat kengerian pembunuhan berantai ini, saya sudah berkomunikasi dengan jaksa dan beliau akan mengaturnya dengan hakim bila si pelaku sudah tertangkap!".jawab Didi.
Malam ini kota Jakarta di guyur hujan gerimis.
Kendis tampak gelisah menunggu seseorang.
Tak lama kemudian sebuah mobil sedan mewah berhenti di hadapannya.
Lalu dia masuk ke dalam mobil tersebut kemudian mobil itu kembali berjalan.
Tak lama berselang mobil itu di hadang beberapa mobil patroli polisi dari segala arah.
Tampak Didi,Basthian dan Adek turun dari mobil mereka dan bergerak cepat membuka pintu mobil tersebut.
Tubuh kendis tampak bergetar hebat saat di temukan oleh mereka.
Hingga beberapa petugas polisi segera melarikannya ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu Rahayu langsung di tangkap dan di borgol oleh Adek.
Sementara itu Merinita tampak mengamuk ketika Didi dan Basthian merampas kaca cermin di tangannya.
Merinita berteriak histeris meminta kaca cerminnya di kembalikan.
"Cermin itu milikku bhangsaattt,jangan kalian ambil cerminku,dia milikku selamanya!!"jeritnya sambil meronta-ronta saat di amankan petugas.
Ketika di dalam mobil tahanan pun dia masih terus berteriak-teriak meminta kaca cerminnya di kembalikan.
Seminggu telah berlalu.
"Merinita terpaksa di rawat di rumah sakit jiwa dan Rahayu meninggal terbunuh oleh rekan selnya dalam satu malam, sungguh tragis nasib mereka berdua!"kata Basthian.
Adek hanya menghela napas panjang melihat ini semua.
"Kejahatan terbentuk karena ada rasa rakus akan sesuatu di dalam pikiran kita!".kata Letnan Didi menatap kosong ke depan.
Diubah oleh simsol... 16-04-2021 20:46
phyu.03 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas