- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Mencintai Bandot Tua
...
TS
blackgaming
Aku Mencintai Bandot Tua
Aku Mencintai Bandot Tua


Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuhentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois, setelah itu aku segera berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah dan ibu sedang duduk termangu dan lesu.
Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Rumah yang dahulu bak surga, kini berubah seperti neraka yang panas dan selalu membuat aku muak.
Tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja.
Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai.
Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit menimpa tanah menembus ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli.
Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini?
Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah.
Aku ingin berontak rasanya tak mungkin, pacarku si Bagas pun angkat tangan saat aku mengajaknya kimpoi lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!"
Dasar pengecut! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii!
Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak.
Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku.
Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam.
Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya.
Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya.
Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh.
Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya.
Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa.
Aku hanya bisa mengelus dada serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti.
Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban.
Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka.
🖤🖤🖤
Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini.
Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan.
Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya.
Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung.
Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi mahkota gold dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku.
"Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku.
Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul.
Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
"Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah.
Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. 'Pangeran apaan? Pangeran kodok kali,' sungutku dalam hati.
Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini.
"Saya terima nikah dan kimpoinya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kimpoi satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."
Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka ini. Tidaaaaaak!
Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya.
Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai gembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini.
Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan.
Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax.
Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju.
Kuhempaskan tubuh di ranjang, menghela napas panjang memindai kamar ini. Mencebik dan merutuk, meski sia-sia tapi itu bisa membuatku lega dan merasa lebih baik.
Kemudian aku berdiri, sudah saatnya menanggalkan 'pakaian lenong' ini, aku ingin mandi dan istirahat dengan tenang dan damai.
Saat pakaian dan semua atribut tanggal, pintu diketuk. "Pasti itu si Batu alias Bandot Tua," sungutku geram.
Dengan wajah masam aku membuka pintu, tanpa menegurnya aku kembali masuk menyambar handuk kimono yang tergantung di paku. Tanpa menoleh kepada dia, aku bergegas pergi meninggalkannya.
Sesampainya didalam kamar mandi, aku segera membersihkan diri. Hampir 2 jam lamanya aku semedi didalam kamar mandi, karena kewalahan mengurai rambut setelah disasak tadi.
Setelah berhasil mengurai rambut yang kusut, aku pun segera membasuh seluruh tubuh. Segar rasanya, apalagi setelah keramas kepala ini jadi enteng sekali.
Di dalam kamar, aku pakai baju kebesaran emak-emak yaitu daster. Usai mengoleskan pelembab muka, aku pun langsung berbaring di atas spring bed yang empuk dan nyaman. Si Bandot Tua tidak ada di sini, membuatku sangat damai dan tenteram tentunya.
Namun ketika akan terlelap, pintu kamar kembali diketuk dan terdengar suara derap langkah si Bandot Tua memanggil namaku.
"Dek, ini Mas Fian tolong buka pintunya!"
Aarrrgghh!
Aku merutuk dalam hati, dengan wajah kesal segera kubuka kunci pintu. Setelah itu kembali ke formasi awal tadi.
Suara sepatunya membuat telinga ini sakit, dia menggantungkan jasnya di kastop dekat lemari pakaian.
Kuintip dengan mata yang pura-pura dipejamkan, dia sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Dek, bisa minta tolong ambilkan handuk?" Tangannya mengusap pundakku.
Tanpa menjawab aku bangun dan beranjak membuka lemari, untuk mengambilkan benda yang dia butuhkan.
'Uh beneran ya nih si Bandot Tua ini, ngeganggu ketenangan gue aja!' Kedua kalinya aku merutuk dalam hati.
"Makasih ya, Dek. Mas mandi dulu," ucapnya sok imut.
'Mandi aja sono, kaya gue nungguin lo aja dasar 'Batu' alias Bandot Tua.'
Aku tersenyum dan mengangguk, berusaha tidak menunjukkan rasa kesalku padanya, semuanya kulakukan demi keluarga.
Sepeninggal dia, aku pun pulas tertidur. Beberapa kali dia membangunkan aku untuk salat, tapi aku tak menggubrisnya. Aku beralasan aku sedang haid.
Selepas isya setelah selesai makan malam bersama, dia mencoba mengajakku bicara berdua di dalam kamar sebelum kami terlelap.
"Mas tahu, Dek Amel belum siap dengan pernikahan ini. Tapi mas minta, Dek Amel harus mulai belajar menerimanya ya," ucapnya pelan tapi tegas.
"Om Fian, eh ... Mas Fian jangan bicara kaya gitu, dengan aku bersedia menikah, itu artinya aku sudah menerima Mas Fian. Suka gak suka, toh aku gak punya pilihan."
"Alhamdulillah kalau begitu, mas lega dengarnya. Mudah-mudahan saja pernikahan kita ini bisa membawa kebaikan untuk kita dan diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ya, Dek."
"Aamiin," jawabku tampak penuh harap, padahal penuh rutukan.
Beberapa saat kemudian Mas Fian meraih dan mencium punggung tangan ini dengan lembut, rambutku ia usap perlahan. Tanpa menunggu izin, dia mendaratkan ciuman di kening, lalu turun ke pipi dan bibir.
Aku tidak memberi respon, bukan tidak bisa berciuman tapi aku merasa jijik ketika bibirnya menyentuh dan mamagut bibirku. Tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah ini.
"Kok diam, Dek? Kamu belum siap ya?"
"Eng-enggak, Mas. Aku gak tahu cara berciuman, aku bingung harus bagaimana," kilahku bohong. Padahal waktu pacaran dengan Bagas, sering aku berciuman alias baik.
"Maaf Mas Fian, aku belum bisa malam ini." Tanganku mendorong dada bidang itu pelan, menghentikan aksinya.
"Kenapa, Sayang?" Kata 'sayang' yang dia ucapkan barusan, benar-benar bikin aku gumoh, huweekk!
"Aku sedang ada tamu bulanan, Mas. Makanya tadi aku gak salat." Harap-harap cemas berharap ia percaya, dan tidak meraba apakah aku memakai pembalut atau tidak.
Ia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Iya mas tahu, tadinya mas kepingin mesra-mesraan aja gitu." Kulihat ada gurat kecewa di wajahnya, tapi aku gak peduli yang penting aku berhasil-berhasil horeeee.
Itu artinya aku harus bersandiwara mendapat tamu bulanan selama seminggu lamanya, hal itu tidak membuatku aman tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu.
Hari ini, adalah hari pernikahan kami yang kelima, dan sesuai dengan perjanjian awal aku akan meninggalkan rumah dan ikut bersama Mas Fian ke rumahnya.
Rasanya sangat berat aku berpamitan dengan orang tua dan kedua adikku, air mata ini tumpah. Aku tidak kuasa harus berpisah dengan mereka.
Walaupun aku bisa setiap saat bertemu dengan mereka, karena rumah Mas Fian dan orang tuaku hanya berjarak kurang lebih 100km. Namun, tetap saja itu suatu hal yang membuatku sangat bersedih.
"Ingat ya, Nak, pesan ayah! Harus hormat dan patuh pada suami, ayah selalu berdoa yang terbaik untukmu," bisik Ayah ketika memelukku.
Kujawab petuah Ayah dengan anggukan, lelaki paruh baya itu tahu betul seperti apa perasaanku saat ini. Tapi, Ayah tidak mau tahu dan terkesan tidak peduli. Aku merasa dijual pada si Bandot Tua, diri ini tak ubahnya seperti budak pemuas nafsu yang dipersembahkan untuk pejabat pada masa kerajaan dulu.
Aku dan mas Fian memasuki mobil, tak kuasa menahan tangis saat besi yang mewah yang ditumpangi meninggalkan rumah yang selama kurang lebih tiga tahun ini aku tempati.
Aku menangis sesegukan didalam mobil, lambaian tangan mereka tidak bisa hilang dari ingatan.
Mas Fian yang duduk di sebelah memeluk erat, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak juga bisa membuatku luluh untuk mencintainya.
"Jangan sedih lagi, Dek, setiap saat Adek ingin ke rumah Ayah bilang saja, mas akan antar."
Aku mengangguk dan terus menangis, di sepanjang perjalanan menuju rumah mas Fian.
Lebih satu jam kemudian, kami tiba di rumah mewah yang begitu asri dan nyaman. Aku dan mas Fian turun dari mobil, Pak Zaki, sang supir segera membuka bagasi dan menurunkan koper-koper.
"Asslamualaikum," ucap Fian ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya bersanggul, dengan wajah menor yang sedang asik membaca majalah di sofa ruang tengah.
Wanita bergaya bak ibu sosialita itu adalah ibu mertuaku, Ibu Siska namanya. Dari raut wajahnya sepertinya ia tidak suka padaku, terbukti pada saat pernikahan dulu dan sekarang tatapannya tetap sama, sinis.
Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Bodo amat lah, toh aku juga nikah karena terpaksa. Seandainya wanita itu mengusirku suatu hari nanti, hal itu akan jadi senjata ampuh untuk bisa lepas dari belenggu pernikahan ini.
Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, kemudian ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Aku bersikap sama, mencium tangan mertuaku yang sebelumnya menatapku dari atas sampai bawah, seperti aneh melihatku. Padahal jelas-jelas dia yang menurutku aneh.
Kami berbincang sebentar dengan Bu Siska, setelah itu Mas Fian mengajakku untuk beristirahat di kamarnya.
Tangan ini dituntun masuk, menuju ruangan pribadi yang terletak di dekat ruang tengah. Sesampainya di dalam, aku takjub dengan kamar tidurnya, begitu nyaman dan wangi sekali. Mataku berkeliling menatap ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan perabotan modern dan tentunya mahal.
Dahulu, kehidupanku juga bisa dibilang mampu. Tapi rumah masa kecilku tidak semewah rumah Mas Fian, haruskah aku merasa beruntung karena mempunyai suami tajir?
"Dek, lemari pakaian yang tiga pintu itu baru. Mas sengaja belikan untuk menyimpan semua pakaianmu. Karena lemari Mas sudah penuh, hehe."
"I-iya Mas, terima kasih." Aku merasa kikuk dan canggung di rumah mewah ini.
"Mas, aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucapku memecahkan kecanggungan dengannya.
Mas Fian mengangguk dan mengeret koper kami kedekat lemari pakaian. Segera aku membuka dan mengambil pakaian santai juga handuk, membawanya ke kamar mandi yang lagi-lagi membuat aku takjub dibuatnya.
Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang. Menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil. Mas Fian tidak mau jauh dariku, ia duduk menemani dan menawarkan diri untuk membantu mengeringkan mahkota indah ini.
Jujur, aku merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuannya. Bulu romaku merinding saat wajahnya mendekat, dari pantulan cermin aku lihat matanya terpejam saat menghidu bau harum yang menguar dari rambutku. Embusan napasnya membuat tengkuk meremang, adegan tidak senonoh pun terbayang dalam benak.
Tidak tahan dengan perasaan jijik yang menguasai, aku bangkit dan menyibukkan diri menyusun pakaian dari dalam koper ke lemari.
"Bibik saja nanti yang ngerjain, Dek," katanya sembari menatapku lekat.
Aku menggeleng dan tersenyum sok manis. "Aku bisa sendiri, Mas. Gak puas kalau barang pribadi, orang lain yang ngerjain."
Mas Fian mengangguk, lama kelamaan dia merasa bosan melihatku tak memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk menghabiskan waktu berduaan, dia berpamitan untuk keluar kamar setelah sebelumnya bertanya aku mau makan apa saat makan malam nanti.
"Apa aja, aku makan, Mas."
"Baik, mas keluar ya."
"Iya."
Sepeninggal Mas Fian, aku berhenti bersandiwara. Kuhempaskan bokong ini, melepas lelah setelah berusaha lolos dari cengkeraman singa tua, hehe.
Saat jam makan malam tiba, aku duduk di depan meja makan malam yang mewah dan indah. Berbagai macam menu masakan lezat tersaji di atasnya, lengkap dengan makanan penutup dan buah-buahan.
Diubah oleh blackgaming 07-03-2021 14:59
sormin180 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
21.9K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#35
Chapter 19
"Yaelah, emangnya gue cowok apaan?" godanya sembari mendelik nakal ke arahku
"Cowok gemesin."
"Ow-ow, kebukti dong ya sekarang kalau Mas ini gemesin."
"Iyaa, tapi nyebelin!"
"Nyebelin kenapa?"
"Nyebelin kalau udah marah-marah. Kadang aku suka sedih dan pengen nangis."
"Belajar kebal dengan kebiasaan Mas yang satu itu. Jangan didenger kalau Mas marah-marah, kan cuma saat nemu sesuatu yang kotor atau berantakan aja. Demi kebaikan dan kesehatan kita juga."
"Tapi, nyebelin!"
"Tapi, suka kan?"
"Terpaksa, hehe."
Tawa kami seketika berderai, aku memilih untuk tidak memperpanjang masalah si Nenek Gambreng tadi. Cuma buat stress saja kalau dipikirkan sampai berlarut-larut.
🖤🖤🖤
Mas Fian membangunkan di saat tidurku tengah lelap, aku mengerjap lalu kulirik jam dinding, waktu menunjukan pukul dua pagi. Aku menguap dan menggeliat, kutoleh Mas Fian sedang tergesa berpakaian.
"Ada apa, Mas?" tanyaku sambil menutup mulut karena aku menguap lagi.
"Kita harus segera ke rumah sakit," jawabnya lesu.
"Ada apa? Siapa yang sakit?"
"Desi. Desi ... meninggal dunia."
"Innalillahiwainailaihi rojiun," gumamku hingga tidak kusadari bulir bening menyeruak di sudut mata.
"Desi sakit apa, Mas?"
"Kata Ibu, Desi mengalami preeklampsia."
Aku tidak membuang waktu, segera aku bersiap.Setengah jjam kemudian kami berangkat, beruntung kondisi jalanan lengang sehingga dengan Mas Fian memacu mobilnya dengan kecepatan yang lumayan.
Ketika sampai di tempat tujuan,Ibu dan Devi tampak mereka sedang berpelukan sambil menangis.
"Sudah bisa dibawa pulang belum bu jenazah Desi?" tanya mas Fian kepada ibunya.
"Sedang menunggu mobil ambulance, semua administrasi sudah selesai," jawab Devi.
Ibu tidak kuasa menjawab, kematian Desi memukul telak jiwanya, mengguncang hebat batinnya, serta mengoyak hatinya. Anak kesayangan yang selalu kompak dalam hal apa pun, harus pergi secara tiba-tiba.
"Syukur alhamdulillah, kalau begitu."
Saat mendekati waktu subuh, jenazah Desi yang berada di atas blankar dorong dibawa masuk kedalam mobil ambulance.
Ibu dan Devi menemani jenazah Desi, sementara aku dan Mas Fian dalam mobil pribadi sekalian menjadi petunjuk jalan menuju rumah.
Sesampainya di rumah duka, suasana sudah ramai karena banyak orang berdatangan untuk membantu prosesi pemakaman. Diantaranya para tetangga dan keluarga besar Mas Fian.
Jenazah Desi segera dimandikan dan dikafani. Setelah itu ia disalatkan dan sehingga sebelum waktu duhur, prosesi pemakaman sudah selesai dilaksanakan dengan baik.
Beruntung cuaca sangat bersahabat, tidak terik dan tidak juga mendung. Aku tidak turut ke area pemakaman, sedari mula datang aku terus menjaga dan menemani putra almarhumah.
Lamunanku seketika buyar, saat pintu kamar diketuk. Segera kuseka air mata yang meninggalkan jejak di pipi ini, aku bangkit dan bergegas membukanya.
"Bik Nani," sapaku sembari tersenyum
"Neng, ini susu Atha." Bik Nani memberikan sebotol susu hangat.
"Makasih banyak ya, Bik."
Bik Nani mengangguk dan kemudian berpamitan untuk kembali ke dapur.
Kutempelkan ujung karet dot ke bibir mungil Atha, mulutnya terbuka seraya menghisap susu dalam motol kecil itu hingga tandas dalam waktu yang singkat, rupanya dia haus dalam tidurnya.Setelah puas minum susu kulihat bibir Atha tersenyum bersuara pelan, aku tertawa melihat tingkah Atha yang menggemaskan itu.
Usianya belum genap 40 hari, tepatnya baru tiga minggu. Namun tingkahnya sungguh sangat lucu dan selalu membuatku rindu.
Lama-lama berduaan dengan Atha membuatku mengantuk. Ditambah embusan angin sejuk yang berasal dari mesin pendingin ruangan, menyihir mata hingga sulit untuk tidak terpejam. Dalam hitungan detik, aku pun terlelap di samping malaikat kecil yang sangat menggemaskan itu.
Beberapa saat berselang, kurasakan sentuhan lembut di pipi. Kubuka mata perlahan, ternyata Mas Fian yang sudah pulang sehabis turut menguburkan adiknya.
"Dek, kalau kita menginap di sini sampai acara tahlil ketujuh hari selesai, mau?"
"Iya mau, tapi Atha nanti bobonya sama kita ya."
"Iya, nanti Mas yang bilang ke Ibu."
"Alhamdulillah, makasih ya Mas."
"Iya, Sayang. Sudah Dek Amel tidur lagi saja."
"Aku siapin makan siang buat Mas dulu."
"Gak usah, Sayang. Di meja makan sudah terhidang banyak makanan. Nanti kalau lapar, Mas ambil sendiri. Dek Amel temani saja Atha di sini."
"Ya udah, aku siapin baju ganti untuk Mas ya."
"Iya, Dek. Mas mandi dulu," pamitnya melangkah menuju kamar mandi.
Aku bangkit dan segera menyiapkan pakaian untuknya, kaus kerah dan celana jeans kugantungkan di ruang ganti.
Saat keluar dari ruang ganti, tangisan Atha menyambutku. Bayi menggemaskan itu sepertinya merasa haus, sehingga mulai merengek minta minum susu.
Aku menggendongnya dengan hati-hati, lalu melangkah menuju dapur untuk menemui Bik Nani.
"Neng, kok ke dapur?" Bik Nani tergopoh menghampiri aku yang baru sampai di ambang pintu.
"Ini Bik, Atha kayanya haus."
"Oh gitu, baik Bibik buatkan dulu susunya. Oh iya, Neng ... tolong diperiksa juga diapersnya, apa sudah penuh?"
"Baik, Bik. Diapers gantinya masih ada?"
"Ada, Neng. Di kamar Non Desi. Nanti Bibik ambilkan, sekalian antar susu."
"Oke, makasih banyak, Bik."
Aku melangkah sembari mengayun pelan bayi yang mulai mereda tangisnya. Saat hendak masuk ke dalam kamar, aku berpapasan dengan Ibu. Tanpa diduga ia merebut paksa Atha hingga hampir terjatuh. Bayi itu seketika menangis.
Aku yang terkejut, refleks berteriak.
"Bu! Hati-hati, itu Atha badannya masih lunak. Kok main rebut paksa, kan kasihan!" seruku dengan nada suara agak tinggi.
Sanak saudara Mas Fian, sontak memperhatikan kami.
"Apa hak kamu? Ngatur-ngatur saya."
"Bukan mengatur, Bu. Kan Ibu bisa bicara baik-baik minta Atha kalau memang Ibu mau gendong. Lagian Ibu baru pulang dari makam, rasanya kurang baik kalau langsung gendong Atha."
"Memangnya kenapa? Saya dari makam anak saya, mamanya Atha. Kamu anggap anak saya hantu, dedemit, yang bisa mengganggu ketenangan cucu saya, hah?"
"Ya Allah, Ibu kenapa sih selalu kasar sama aku?"
Tak sanggup jadi bulan-bulanan Ibu, aku yang malu karena menjadi pusat perhatian keluarga pun berlalu ke dalam kamar dengan perasaan malu dan tidak enak hati.
"Kak Amel," panggil Devi berusaha untuk mencegahku pergi, tapi aku bergeming dan tetap pergi.
"Bu, jangan kaya gitu dong, Bu. Kak Amel itu baik lho, mau jaga Atha." Kudengar sayup perkataan Devi kepada ibunya, sesaat sebelum aku masuk.
"Itu pencitraan, biar bisa dapat simpati dari Kakakmu, Fian. Supaya dia bisa dapat uang lebih banyak, buat maranin keluarganya."
Hatiku seketika hancur remuk redam dengan hinaan yang menjurus ke arah fitnah itu, tubuhku yang bersandar ke daun pintu pun luruh bersimpuh ke lantai.
Wajah yang kuyu ini tertunduk, air mata yang menggenang tak kuasa kutahan lagi, membanjir tak terkendali.
Mas Fian yang baru selesai mandi pun terkejut melihatku dalam keadaan seperti ini, ia segera menghampiri. Memeluk lalu membawaku duduk di atas sofa.
"Mas, aku mau pulang. Mas Fian saja pulang nanti setelah tahlil selesai, lalu kembali lagi besok pagi usai salat subuh."
"Ada apa?"
Aku tidak kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi, toh sudah tentu Mas Fian pun sudah tahu apa penyebabnya. Apalagi Atha tidak ada bersamaku, semakin jelas tergambar tanpa mesti aku bercerita penyebab kesedihan yang tercipta ini.
"Sabar ya, Sayang. Mas mohon pengertian Dek Amel, jangan dimasukkan ke dalam hati."
"Aku malu, Mas."
"Sssstt, saudara Mas insya Allah mengerti. Gak akan ada yang menyalahkan Adek."
Kulingkarkan kedua tangan ini di pinggangnya, memeluknya erat tanpa menjawab apa-apa.
🖤🖤🖤
Acara tahlil untuk mendoakan almarhumah Desi, telah rampung dilaksanakan, semua berjalan baik tanpa hambatan sedikit pun.
Pagi hari setelah acara tahlil terakhir yang digelar semalam, Mas Fian meminta Ibu, Devi beserta suaminya berkumpul di ruang tengah.
Aku yang sebenarnya enggan hadir dalam rapat keluarga inti pun meminta syarat pada Mas Fian, syarat yang harus dipenuhi baru aku bersedia hadir.
Setelah mendengar syaratku, Mas Fian pun setuju. Aku minta dibela olehnya jika Ibu kembali berbuat onar, menurutku adalah syarat yang sangat mudah dilaksanakan bukan?
Aku duduk di samping Mas Fian, menggamit sebelah tangannya. Hal ini aku lakukan sebagai bentuk butuhnya perlindungan dari ancaman mulut pedasnya si Nenek Gambreng.
"Jadi begini Bu, Devi dan Wildan. Maksud aku ajak kalian berkumpul di sini adalah ingin membicarakan hal yang sangat penting. Hal itu berhubungan dengan putra almarhumah, yaitu Atha. Ibunya kan sudah tiada jadi aku dan Dek Amel berniat untuk merawatnya. Kemudian menyematkan nama kami sebagai orang tua di dalam akte kelahirannya."
"Semua ini kami lakukan semata-mata demi kebaikan bersama. Bukan kami meragukan kesanggupan Ibu dalam mengurus Atha, tapi kasihan Ibu sudah seharusnya menikmati masa tenang di usianya yang memasuki senja. Atau, kalau perlu ... Ibu boleh ikut tinggal bersama kami. Kami akan sangat senang sekali, bukan begitu, Dek?"
Aku yang dilirik Mas Fian terpaksa mengangguk, padahal di dalam hati aku tidak mau jika harus tinggal satu atap dengan si Nenek Gambreng. Meski rumah yang aku tempati kini tidak sebesar dan semewah rumah ini, tapi aku sangat bahagia dan tenang karena jauh dari bayang-bayangnya.
Ibu yang duduk di sofa single itu bergeming, wajahnya kuyu tiada semangat.
"Aku minta pendapatmu, Dev."
Suara Mas Fian memecah hening.
"Kalau aku dan Mas Wildan tidak keberatan dengan usul Mas Fian, ya Mas?" ucap Devi sembari melirik ke arah suaminya.
"Iya Mas, yang dikatakan oleh Devi benar. Ada baiknya jika Atha dirawat Mas Fian dan Kak Amel," timpal Wildan, membawa angin segar yang membuat hati ini bahagia.
"Alhamdulillah, lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Mas Fian menatap wajah ibunya yang masih terlihat sedih.
"Ibu akan tinggal di sini saja, lagian ada Nani dan Asep yang menemani. Masalah Atha, Ibu izinkan dia tinggal bersama kalian, tapi setiap kamu libur kerja wajib berkunjung ke sini bersama Atha ya, Fian!" jawaban Ibu membuatku bahagia.
Mas Fian bangkit dan berjalan menghampiri ibunya, ia berjongkok dan kemudian mencium kedua tangan yang bertumpu di atas pangkuan itu. Lalu ibu dipeluknya. "Terima kasih banyak Bu, Fian akan sering berkunjung ke sini. Kalau besok atah lusa Ibu berubah pikiran mau tinggal bersama kami, telepon saja ya bu, biar Fian segera menjemput Ibu."
"Iya, Ibu titip Atha ya, Fian. Tolong jaga dan rawat dia! ibu juga setuju masalah identitas Atha di akte kelahiran mencantumkan namamu dan Amelia sebagai orang tuanya, sayangi dia sepertu anak kandung sendiri. Jangan dibeda-bedakan jika memang suatu hari nanti kalian punya momongan."
"Insya Allah, kami akan menjaga Atha. Malaikat kecil itu adalah amanat untuk kami. Amanat yang wajib kami jaga dengan sepenuh hati. Ibu jangan kbawatir soal kasih sayang kami untuk Atha."
"Janji ya, Fian!"
"Iya, Bu. Kami berjanji akan merawat Atha dengan baik. Ibu jangan sedih lagi ya!" tutur Mas Fian, membuatku terharu dan menangis.
"Ibu kalau mau tinggal bersama kami juga boleh, aku dan Mas Wildan tentu akan sangat senang."
"Ibu di sini saja, kalian saja yang sering mampir datang ke sini, tengokin Ibu."
"Insya Allah, kami akan sering datang berkunjung." Devi melakukan apa yang dilakukan Mas Fian, ketiganya berpelukan penuh rasa haru.
Aku bahagia melihat pemandangan itu, meski masih terselip rasa kesal pada Ibu yang tidak jua menganggapku sebagai menantu. Biarlah apa maunya, yang jelas saat ini aku merasa sangat lega dengan hasil akhir musyawarah keluarga ini, aku bahagia dapat menjadi ibu angkat bagi Atha.
Aku berpamitan kepada Mas Fian, saat musyawarah keluarga ini selesai. Aku mulai mengemasi pakaian, serta barang-barang yang diperlukan oleh anakku nanti. Ya, Atha sudah menjadi anakku dan Mas Fian.
Aku benar-benar sangat bahagia.
Sebelum petang datang, aku dan Mas Fian memutuskan untuk berpamitan pulang.
"Kami pamit, Bu. Ibu jangan banyak pikiran ya," ucap Mas Fian sembari mencium punggung tangan Ibu, lalu disusul olehku.
Ibu menciumi cucunya yang berada dalam gendongan. Wanita paruh baya itu seketika menangis, lalu setelahnya menatapku dengan tatapan sendu.
"Titip Atha ya, Mel, " ucap ibu pelan.
Tuhan! Apakah ini mimpi? Untuk pertama kalinya aku ditatap dan diajak bicara lemah lembut tanpa mengandung rasa benci, sikap dan ucapnya melunak selunak daging yang lama dimarinasi bersamaan dengan buah nanas.
Aku yang terkejut pun berusaha tenang dan kemudian mengangguk.
Dengan ramah aku serta merta menjawab, "Iya, Bu. Jangan khawatir, aku akan menjaga serta merawat Atha dengan sepenuh hati ini. Aku sangat menyayanginya, Bu."
Ibu tidak berkata apa-apa lagi, entah dia malas untuk menanggapi ucapanku atau memang merasa sungkan karena selama ini sudah salah dalam menilaiku.
"Mari, Dek." Mas Fian mengajakku bergegas untuk masuk ke dalam mobil.
Kuda besi yang dikemudikan Mas Fian perlahan melaju, meninggalkan Ibu dan Devi yang mengantar kepergian kami sampai di muka ruang garasi.
Bayi Atha tertidur pulas dalam dekapanku, bayi mungil ini seakan tahu bahwa aku sangat mencintai dirinya.
Aku yang bahagia tidak sadar senyum-seny sendiri, hal itu membuat Mas Fian tertawa kecil.
"Kenapa?" tanyaku mendelik.
Alih-alih menjawab, Mas Fian malah mencubit pipiku sampai aku mengaduh kesakitan.
"Sakit, Mas!" Kupukul lengannya karena kesal.
"Eits, jangan marah-marah di depan Atha! Tar dia sedih lihat Ayahnya yang baik hati ini dianiaya sama Bundanya yang galak," ledeknya membuat tawaku berderai.
***
"Mas, bisa pulang gak? Ini Atha badannya demam," ucapku panik.
"Iya, Sayang. Aku pulang sekarang."
Kututup sambungan telepon, lalu aku kembali menggendong Atha yang terus menangis.
Kewalahan juga jika bayi sedang sakit, bukan aku mengeluh tapi karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan membuat aku selalu panik sendiri hingga berujung pada keadaan di mana aku merasa terpuruk dan tidak jarang menangis.
Aku harus segera mencari seseorang yang bisa membantu semua pekerjaan rumah dan juga yang bisa menjaga Atha jika nanti aku sudah mulai aktif kuliah lagi.
Akhirnya aku menghubungi Ricca, untuk membuat iklan kalau aku sedang membutuhkan tenaga baby sitter di medsos miliknya. Karena kebetulan sahabatku itu cukup aktif di FB dan IG.
"Thanks, Ric."
"Gak usah, Mas Fian mau datang bawa Atha ke dokter."
"Oke, bye."
Tidak lama kemudian kudengar suara mobil Mas Fian memasuki halaman rumah, aku lega saat mendengar suaranya mengucap salam.
"Waalaikumsalam, kita berangkat sekarang ke rumah sakit!"
"Iya, Sayang. Sini aku bawa tasnya."
Tidak menunggu lama kami pun segera berangkat. Kurang lebih satu jam kemudian sampailah kami di pelataran parkir rumah sakit ibu dan anak. Aku yang kewalahan menenangkan Atha yang rewel, malah ikut menangis.
"Sini, Mas yang gendong," katanya merasa kasihan padaku.
Di dalam lobi gedung berlantai lima tersebut aku segera mendaftar, setelah menunggu setengah jam lamanya akhirnya nama Atha dipanggil dan kami pun segera memasuki ruang periksa dokter spesialis anak.
"Sayang kamu masuk dulun ya, aku terima telepon dulu." Mas Fian memberikan Atha, kemudian ia berdiri di ambang pintu.
"Iya, Mas. Aku duluan."
Aku dan perawat berlalu masuk,di dalam ruangan segera aku merebahkan Atha di atas tempat tidur. Lalu kemudian seorang dokter muda yang cantik, datang memeriksanya.
Setelah semuanya dicek, dokter bermata belok itu kembali duduk dan kemudian disusul olehku.
"Begini bu Amelia-" Ucapan wanita muda berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya itu terhenti, karena pintu diketuk oleh seseorang yang aku yakin itu adalah Mas Fian.
Dugaanku benar, Mas Fian memasuki ruangan dengan tergesa karena tidak ingin melewatkan informasi tentang putranya.
Dokter muda dan Mas Fian bertatapan cukup lama, suasana canggung menyergap keduanya. Bisa kutangkap dari bahasa tubuh keduanya, bahwa mereka sudah saling mengenal bahkan pernah memiliki hubungan yang tidak biasa.
"A-Ayu," panggil Mas Fian, lalu melirikku kikuk.
"Hai, Fian."
"Kamu," ucap keduanya berbarengan, seperti sudah sehati ingin mengucapkan apa.
Tawa mereka berderai rendah, lalu sang dokter mempersilahkan Mas Fian untuk duduk.
"Makasih, Yu."
"Jadi ... Athalla ini putramu?"
Kenapa yang ditanya Athalla? Harusnya dia bertanya aku siapanya Mas Fian! Hmmm aseum, gak beres ini.
"I-iya Yu, Athalla putraku. Kamu praktek di rumah sakit ini ternyata. Sejak kapan kamu kembali ke kota ini?"
"Baru enam bulan aku dinas di sini, tepatnya aku yang mengajukan mutasi supaya dekat dengan orang tua."
"S-suamimu?"
"Aku sudah ... bercerai."
"M-maaf, aku gak tahu."
"It's oke, Fian. Kamu apa kabar?"
"B-baik, sebaliknya kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik juga."
Mereka terus berbicara berdua, tanpa menghiraukan keberadaanku di sini. Bahkan menganggap aku tidak ada, kurang asem!Aku yang kesal pun menyela percakapan mereka.
"Maaf, Dok! Boleh minta dibuatkan resepnya sekarang? Karena anak saya sudah tidak nyaman berlama-lama di sini." Kulirik Mas Fian yang juga tertangkap sedang melirikku.
"Maaf, Bu Amelia. Saya keasikan ngobrol dengan Fian, ini saya sudah buatkan resep. Nanti bisa ditebus di apotik depan ya, Bu."
Si Dokter Ganjen pun menuliskan resep, kusambar segera tanpa sikap ramah.
"Terima kasih banyak, Dok. Saya permisi," pungkasku berlalu tanpa mengajak Mas Fian untuk mengikuti.
"Yu, aku pamit dulu," ucap mas Fian.
"Wait Fian, ini kartu namaku kalau ada apa-apa dengan Atha kamu bisa calling aku." Si Dokter Ganjen menyodorkan sebuah kartu nama ke hadapan Mas Fian.
Aku yang muak pun memutar bola mata dan mempercepat langkah menuju apotik.
"Oke, makasih banyak Yu."
Dengan muka masam aku memberikan resep kepada apoteker yang bertugas, dengan resah aku berdiri menunggu panggilan.Hingga beberapa menit menunggu, akhirnya obat yang ditunggu sudah kudapat.
"Kamu kenapa sedari tadi kok cemberut terus, Sayang?" tanya Mas Fian saat sudah keluar dari gedung.
"Aku capek, pusing."
"Mau beli vitamin atau sesuatu yang bisa membuat tubuh Dek Amel vit kembali?"
"Aku hanya butuh istirahat," sungutku ketus.
"Oke-oke, jangan marah-marah gitu, dong!"
"Masnya nanya terus, bikin aku ribet."
Mas Fian menghela napas panjang, lalu ia segera mengemudikan mobilnya tanpa lagi bertanya.
Kami saling diam di sepanjang perjalanan menuju rumah, aku mencoba mengingat wajah dokter itu. Wajah itu sepertinya pernah kulihat tapi di mana?
Lama sekali aku memutar otak untuk mengingat sosok Ayu, hingga akhirnya aku ingat kalau dia adalah wanita yang berbicara di lobi hotel saat kami hendak melakukan bulan madu beberapa tahun lalu.
Aku sempat bertanya siapa sosok wanita yang menyapanya,Mas Fian menjawab kalau itu mantan pacarnya yang menikah dengan orang lain.
Meski awalnya Mas Fian tidak mau bercerita banyak, tapi setelah aku memaksa barulah terungkap bahwa Ayulah yang menjadi penyebab suamiku betah membujang.
Ayu adalah cinta pertama Mas Fian, maka sangat wajar jika saat patah hati ia merasa depresi berlebih hingga menimbulkan rasa trauma akan memulai kembali suatu hubungan dengan wanita lain.
Kenapa aku merasa minder? Aku bukan apa-apa dibandingkan Ayu yang seorang dokter spesialis. Apalagi saat tadi di dalam ruangan periksa, dia bilang kalau dia sudah bercerai dengan suaminya.
Pikiranku benar-benar kacau, hatiku panas. Aku cemburu! Sosok Dokter Ayu nyaris sempurna dibandingkan aku.
Seandainya bisa, kalian akan melihat dua buah tanduk muncul di kedua sisi kepalaku dan juga asap yang keluar dari hidung juga telingaku.
Tuhan! Mungkinkah mereka akan CLBK?
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
6