- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Mencintai Bandot Tua
...
TS
blackgaming
Aku Mencintai Bandot Tua
Aku Mencintai Bandot Tua


Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuhentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois, setelah itu aku segera berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah dan ibu sedang duduk termangu dan lesu.
Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Rumah yang dahulu bak surga, kini berubah seperti neraka yang panas dan selalu membuat aku muak.
Tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja.
Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai.
Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit menimpa tanah menembus ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli.
Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini?
Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah.
Aku ingin berontak rasanya tak mungkin, pacarku si Bagas pun angkat tangan saat aku mengajaknya kimpoi lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!"
Dasar pengecut! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii!
Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak.
Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku.
Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam.
Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya.
Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya.
Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh.
Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya.
Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa.
Aku hanya bisa mengelus dada serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti.
Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban.
Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka.
š¤š¤š¤
Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini.
Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan.
Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya.
Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung.
Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi mahkota gold dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku.
"Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku.
Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul.
Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
"Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah.
Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. 'Pangeran apaan? Pangeran kodok kali,' sungutku dalam hati.
Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini.
"Saya terima nikah dan kimpoinya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kimpoi satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."
Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka ini. Tidaaaaaak!
Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya.
Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai gembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini.
Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan.
Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax.
Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju.
Kuhempaskan tubuh di ranjang, menghela napas panjang memindai kamar ini. Mencebik dan merutuk, meski sia-sia tapi itu bisa membuatku lega dan merasa lebih baik.
Kemudian aku berdiri, sudah saatnya menanggalkan 'pakaian lenong' ini, aku ingin mandi dan istirahat dengan tenang dan damai.
Saat pakaian dan semua atribut tanggal, pintu diketuk. "Pasti itu si Batu alias Bandot Tua," sungutku geram.
Dengan wajah masam aku membuka pintu, tanpa menegurnya aku kembali masuk menyambar handuk kimono yang tergantung di paku. Tanpa menoleh kepada dia, aku bergegas pergi meninggalkannya.
Sesampainya didalam kamar mandi, aku segera membersihkan diri. Hampir 2 jam lamanya aku semedi didalam kamar mandi, karena kewalahan mengurai rambut setelah disasak tadi.
Setelah berhasil mengurai rambut yang kusut, aku pun segera membasuh seluruh tubuh. Segar rasanya, apalagi setelah keramas kepala ini jadi enteng sekali.
Di dalam kamar, aku pakai baju kebesaran emak-emak yaitu daster. Usai mengoleskan pelembab muka, aku pun langsung berbaring di atas spring bed yang empuk dan nyaman. Si Bandot Tua tidak ada di sini, membuatku sangat damai dan tenteram tentunya.
Namun ketika akan terlelap, pintu kamar kembali diketuk dan terdengar suara derap langkah si Bandot Tua memanggil namaku.
"Dek, ini Mas Fian tolong buka pintunya!"
Aarrrgghh!
Aku merutuk dalam hati, dengan wajah kesal segera kubuka kunci pintu. Setelah itu kembali ke formasi awal tadi.
Suara sepatunya membuat telinga ini sakit, dia menggantungkan jasnya di kastop dekat lemari pakaian.
Kuintip dengan mata yang pura-pura dipejamkan, dia sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Dek, bisa minta tolong ambilkan handuk?" Tangannya mengusap pundakku.
Tanpa menjawab aku bangun dan beranjak membuka lemari, untuk mengambilkan benda yang dia butuhkan.
'Uh beneran ya nih si Bandot Tua ini, ngeganggu ketenangan gue aja!' Kedua kalinya aku merutuk dalam hati.
"Makasih ya, Dek. Mas mandi dulu," ucapnya sok imut.
'Mandi aja sono, kaya gue nungguin lo aja dasar 'Batu' alias Bandot Tua.'
Aku tersenyum dan mengangguk, berusaha tidak menunjukkan rasa kesalku padanya, semuanya kulakukan demi keluarga.
Sepeninggal dia, aku pun pulas tertidur. Beberapa kali dia membangunkan aku untuk salat, tapi aku tak menggubrisnya. Aku beralasan aku sedang haid.
Selepas isya setelah selesai makan malam bersama, dia mencoba mengajakku bicara berdua di dalam kamar sebelum kami terlelap.
"Mas tahu, Dek Amel belum siap dengan pernikahan ini. Tapi mas minta, Dek Amel harus mulai belajar menerimanya ya," ucapnya pelan tapi tegas.
"Om Fian, eh ... Mas Fian jangan bicara kaya gitu, dengan aku bersedia menikah, itu artinya aku sudah menerima Mas Fian. Suka gak suka, toh aku gak punya pilihan."
"Alhamdulillah kalau begitu, mas lega dengarnya. Mudah-mudahan saja pernikahan kita ini bisa membawa kebaikan untuk kita dan diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ya, Dek."
"Aamiin," jawabku tampak penuh harap, padahal penuh rutukan.
Beberapa saat kemudian Mas Fian meraih dan mencium punggung tangan ini dengan lembut, rambutku ia usap perlahan. Tanpa menunggu izin, dia mendaratkan ciuman di kening, lalu turun ke pipi dan bibir.
Aku tidak memberi respon, bukan tidak bisa berciuman tapi aku merasa jijik ketika bibirnya menyentuh dan mamagut bibirku. Tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah ini.
"Kok diam, Dek? Kamu belum siap ya?"
"Eng-enggak, Mas. Aku gak tahu cara berciuman, aku bingung harus bagaimana," kilahku bohong. Padahal waktu pacaran dengan Bagas, sering aku berciuman alias baik.
"Maaf Mas Fian, aku belum bisa malam ini." Tanganku mendorong dada bidang itu pelan, menghentikan aksinya.
"Kenapa, Sayang?" Kata 'sayang' yang dia ucapkan barusan, benar-benar bikin aku gumoh, huweekk!
"Aku sedang ada tamu bulanan, Mas. Makanya tadi aku gak salat." Harap-harap cemas berharap ia percaya, dan tidak meraba apakah aku memakai pembalut atau tidak.
Ia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Iya mas tahu, tadinya mas kepingin mesra-mesraan aja gitu." Kulihat ada gurat kecewa di wajahnya, tapi aku gak peduli yang penting aku berhasil-berhasil horeeee.
Itu artinya aku harus bersandiwara mendapat tamu bulanan selama seminggu lamanya, hal itu tidak membuatku aman tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu.
Hari ini, adalah hari pernikahan kami yang kelima, dan sesuai dengan perjanjian awal aku akan meninggalkan rumah dan ikut bersama Mas Fian ke rumahnya.
Rasanya sangat berat aku berpamitan dengan orang tua dan kedua adikku, air mata ini tumpah. Aku tidak kuasa harus berpisah dengan mereka.
Walaupun aku bisa setiap saat bertemu dengan mereka, karena rumah Mas Fian dan orang tuaku hanya berjarak kurang lebih 100km. Namun, tetap saja itu suatu hal yang membuatku sangat bersedih.
"Ingat ya, Nak, pesan ayah! Harus hormat dan patuh pada suami, ayah selalu berdoa yang terbaik untukmu," bisik Ayah ketika memelukku.
Kujawab petuah Ayah dengan anggukan, lelaki paruh baya itu tahu betul seperti apa perasaanku saat ini. Tapi, Ayah tidak mau tahu dan terkesan tidak peduli. Aku merasa dijual pada si Bandot Tua, diri ini tak ubahnya seperti budak pemuas nafsu yang dipersembahkan untuk pejabat pada masa kerajaan dulu.
Aku dan mas Fian memasuki mobil, tak kuasa menahan tangis saat besi yang mewah yang ditumpangi meninggalkan rumah yang selama kurang lebih tiga tahun ini aku tempati.
Aku menangis sesegukan didalam mobil, lambaian tangan mereka tidak bisa hilang dari ingatan.
Mas Fian yang duduk di sebelah memeluk erat, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak juga bisa membuatku luluh untuk mencintainya.
"Jangan sedih lagi, Dek, setiap saat Adek ingin ke rumah Ayah bilang saja, mas akan antar."
Aku mengangguk dan terus menangis, di sepanjang perjalanan menuju rumah mas Fian.
Lebih satu jam kemudian, kami tiba di rumah mewah yang begitu asri dan nyaman. Aku dan mas Fian turun dari mobil, Pak Zaki, sang supir segera membuka bagasi dan menurunkan koper-koper.
"Asslamualaikum," ucap Fian ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya bersanggul, dengan wajah menor yang sedang asik membaca majalah di sofa ruang tengah.
Wanita bergaya bak ibu sosialita itu adalah ibu mertuaku, Ibu Siska namanya. Dari raut wajahnya sepertinya ia tidak suka padaku, terbukti pada saat pernikahan dulu dan sekarang tatapannya tetap sama, sinis.
Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Bodo amat lah, toh aku juga nikah karena terpaksa. Seandainya wanita itu mengusirku suatu hari nanti, hal itu akan jadi senjata ampuh untuk bisa lepas dari belenggu pernikahan ini.
Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, kemudian ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Aku bersikap sama, mencium tangan mertuaku yang sebelumnya menatapku dari atas sampai bawah, seperti aneh melihatku. Padahal jelas-jelas dia yang menurutku aneh.
Kami berbincang sebentar dengan Bu Siska, setelah itu Mas Fian mengajakku untuk beristirahat di kamarnya.
Tangan ini dituntun masuk, menuju ruangan pribadi yang terletak di dekat ruang tengah. Sesampainya di dalam, aku takjub dengan kamar tidurnya, begitu nyaman dan wangi sekali. Mataku berkeliling menatap ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan perabotan modern dan tentunya mahal.
Dahulu, kehidupanku juga bisa dibilang mampu. Tapi rumah masa kecilku tidak semewah rumah Mas Fian, haruskah aku merasa beruntung karena mempunyai suami tajir?
"Dek, lemari pakaian yang tiga pintu itu baru. Mas sengaja belikan untuk menyimpan semua pakaianmu. Karena lemari Mas sudah penuh, hehe."
"I-iya Mas, terima kasih." Aku merasa kikuk dan canggung di rumah mewah ini.
"Mas, aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucapku memecahkan kecanggungan dengannya.
Mas Fian mengangguk dan mengeret koper kami kedekat lemari pakaian. Segera aku membuka dan mengambil pakaian santai juga handuk, membawanya ke kamar mandi yang lagi-lagi membuat aku takjub dibuatnya.
Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang. Menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil. Mas Fian tidak mau jauh dariku, ia duduk menemani dan menawarkan diri untuk membantu mengeringkan mahkota indah ini.
Jujur, aku merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuannya. Bulu romaku merinding saat wajahnya mendekat, dari pantulan cermin aku lihat matanya terpejam saat menghidu bau harum yang menguar dari rambutku. Embusan napasnya membuat tengkuk meremang, adegan tidak senonoh pun terbayang dalam benak.
Tidak tahan dengan perasaan jijik yang menguasai, aku bangkit dan menyibukkan diri menyusun pakaian dari dalam koper ke lemari.
"Bibik saja nanti yang ngerjain, Dek," katanya sembari menatapku lekat.
Aku menggeleng dan tersenyum sok manis. "Aku bisa sendiri, Mas. Gak puas kalau barang pribadi, orang lain yang ngerjain."
Mas Fian mengangguk, lama kelamaan dia merasa bosan melihatku tak memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk menghabiskan waktu berduaan, dia berpamitan untuk keluar kamar setelah sebelumnya bertanya aku mau makan apa saat makan malam nanti.
"Apa aja, aku makan, Mas."
"Baik, mas keluar ya."
"Iya."
Sepeninggal Mas Fian, aku berhenti bersandiwara. Kuhempaskan bokong ini, melepas lelah setelah berusaha lolos dari cengkeraman singa tua, hehe.
Saat jam makan malam tiba, aku duduk di depan meja makan malam yang mewah dan indah. Berbagai macam menu masakan lezat tersaji di atasnya, lengkap dengan makanan penutup dan buah-buahan.
Diubah oleh blackgaming 07-03-2021 14:59
sormin180 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
21.2K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThreadā¢52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#34
Chapter 18
Sejenak mas Fian menghela napasnya lagi, aku tahu semua ini berat ia ceritakan karena harus membuka kembali lembaran kisah kelam yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.
Aku mengusap-usap dadanya, kurasakan ada rasa sedih dan marah yang ia tahan di hatinya.
Ia tersenyum memandangku dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Ayah bahagia karena Mas mau berdamai dengan keadaan, perlahan Mas meredam rasa benci di dalam hati, berusaha menumbuhkan rasa sayang pada beliau. Pada tahun kedua kembalinya Ibu, Ibu mulai menunjukkan sifat aslinya. Beliau tidak berubah, Ibu masih sama seperti dulu, gila uang. Dengan uang Ayah, ia memanjakan Devi dan Desi, kerja mereka hanya jalan-jalan dan shoping."
"Sampai pada suatu hari Ayah sakit stroke, Ibu cuek saja tidak mau mengurusnya. Mas sempat emosi dan berniat mengusir Ibu, tapi Ayah bersikeras mencegahnya. Kejadian Ayah stroke membuat Mas tahu bahwa sebenarnya Ibu kembali bukan karena sayang dan rindu kepada kami, Ibu kembali hanya karena ingin berlindung dari kemiskinan."
"Ketidakpedulian Ibu semakin menjadi, tidak hanya sebatas tidak mau mengurus Ayah tapi beliau juga berani mengajak seorang pria muda ke rumah. Tanpa rasa malu beliau berduaan dengan pemuda di dalam kamar tamu. Bik Nani yang mengadukan semuanya, Mas yang sudah menghandle semua urusan Ayah pun segera pulang dan menghajar pemuda brengsek itu, rasa benci Mas pada Ibu semakin hebat. Mas sempat mengusir Ibu, tapi Ayah memohon dan demi Devi dan Desi akhirnya memaafkan beliau."
"Dari Devi, Mas baru tahu kalau ternyata Ibu diceraikan oleh ayahnya tanpa mendapatkan harta satu rupiah pun karena suami barunya itu sudah punya istri baru yang lebih muda yang licik, wanita itu menguasai harta suami baru Ibu."
Mas Fian kemudian menangis tersedu, kudekap erat tubuh kekarnya yang tampak rapuh malam ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau selama ini beban hidup yang ia alami sungguh berat dan perih.
š¤š¤š¤
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan kandungan Desi pun sudah membesar. Kalau tidak ada halangan dan tepat waktunya minggu depan adalah hari perkiraan lahirnya.
Adik iparku itu sama sekali tidak bersemangat, dalam menghadapi hari-harinya yang akan menjadi seorang ibu.
Si Nenek Gambreng dan Bik Nani yang setia menemani, sesekali aku diajak Mas Fian untuk menjenguk tapi rupanya kehadiranku masih tidak diinginkannya. Begitu pula dengan si Gerandong Desi, bukannya berterima kasih aku tengok, dia malah mengusir tanpa rasa hormat sedikit pun.
"Kamu tuh ya, Des! Harusnya kamu sadar kalau Allah sekarang lagi negur kamu, kamu itu mau ngelahirin, bukannya banyak berbuat baik sama orang lain, malah nimbun dosa dan kebencian," umpatku geram.
"Heh, Amel! Lagian yang minta kamu datang ke sini, siapa? Gak guna juga kamu ada, cuma bikin saya dan Desi semakin pusing," maki si Nenek Gambreng mencoba menyulut api dalam sekam.
"Ya ampun, Bu. Ibu juga, bukannya banyak salat dan mohon ampunan sama Allah, malah setali tiga uang sama anaknya, ckck. Ibu sadar gak? Apa yang menimpa Desi itu adalah karma atas semua perbuatan Ibu selama ini?"
Mendengar aku semakin berani, si Nenek Gambreng naik pitam, ia melangkah maju hendak memukulku tapi secepatnya aku menghindar sehingga telapak tangannya malah memukul angin.
Aku tertawa sinis, kubalikkan tubuh berniat untuk berlalu dari kamar si Gerandong yang memuakkan ini.
"Dasar wanita murahan," umpat si Nenek Gambreng.
"Apa, Bu? Murahan?" tanyaku sembari menyandarkan punggung di kusen pintu. "Gak salah?"
"Berselingkuh dengan dosen, wanita macam apa namanya kalau bukan murahan?"
"Aku gak ngapa-ngapain, Bu, sama si dosen itu. Gak kaya Ibu lakukan dulu, duh lebih murahan mana?"
"Kamu!"
"Kamu, apa? Apa? Ibu tuh ya, maling teriak maling, pramuria teriak pramuria. Ibu terus menghina aku, seolah-olah Ibu suci. Dari awal nikah sampai sekarang Ibu jahatin aku, kaya aku ini memperlakukan Ibu dengan gak baik aja. Gak capek ngajak perang, dikira Ibu aku takut?"
"Menantu durhaka!"
"Aku jadi durhaka kaya gini, karena Ibu yang mulai. Aku bukan menantu lemah kaya di sinetron-sinetron, Bu. Ibu sopan, aku segan."
Si Nenek Gambreng yang kalap, serta merta meraih vas bunga kristal di meja sudut lalu melemparkannya padaku.
"Istighfar, Bu!" seruku sembari cepat menghindar.
Belum usai si Nenek Gambreng meluapkan kemarahannya, di luar dugaan Desi mengalami sakit pada perutnya, Mas Fian yang sedari tadi berada di teras pun segera kupanggil.
Sesaat kemudian, Desi dibopong oleh Mas Fian. Pak Asep dengan sigap membawakan semua keperluan dan segera membawanya ke rumah sakit.
Aku yang tidak ingin sendiri pun ikut menyusul, dengan mengendarai mobil milik Mas Fian.
Perjalanan ke rumah sakit tidak sampai setengah jam, Desi segera mendapatkan penanganan dari tim medis.
"Bagaimana Desi, Mas? Sudah lahiran?" tanyaku pada Mas Fian yang baru muncul, setelah cukup lama di dalam ruang persalinan.
"Belum, katanya harus operasi caesar karena bayinya sungsang. Tapi, sampai saat ini dokter belum membedahnya dikarenakan tekanan darah Desi masih tinggi."
"Astaghfirullah, ya Allah selamatkan mereka."
Mas Fian mengaminkan, lalu kemudian memelukku.
"Ibu di mana, Mas?"
"Ibu sedang pulang diantar Pak Asep, ada beberapa keperluan Desi yang tertinggal di rumah."
Dengan cemas aku dan Mas Fian duduk menunggu di luar ruang operasi. Beberapa saat kemudian Ibu datang, tergopoh membawa tas.
Ibu berbicara hanya kepada Mas Fian, kehadiranku tidak dipedulikannya. Tidak lama Devi pun datang bersama kedua anaknya, anak yang pertama perempuan masih balita dan anak yang kedua laki-laki masih bayi.
Tiba-tiba aku merasa iri dengan Devi dan Desi yang sudah punya anak, aku sudah mau empat tahun menikah tapi masih saja belum diberi keturunan.
Berbeda dengan Desi, sikap Devi baik kepadaku. Mungkin karena ia sudah menikah dan tinggal jauh, jadi ia tidak begitu terpengaruh dengan sikap ibunya kepadaku.
Aku menggendong bayinya yang sangat tampan.
"Berapa bulan sekarang usianya Abi, Dev?"
"Sembilan bulan, Kak. Abi berat loh Kak, kasian Kak Amel nanti capek," ucap Devi.
"Hehe ... ah enggak, santai aja. Biarin aku gendong Abi sampai pegal, siapa tahu ketularan cepat punya juga," jawabku sambil menciumi pipi gembil Abi.
"Amiin, aku doakan ya semoga kalian segera punya momongan."
Aku aminkan doa yang diucapkan Devi barusan.
Tak lama dokter keluar dari ruang operasi, dokter mengabarkan bahwa ibu dan bayinya selamat.
"Bayinya berjenis kelamin laki-laki, sehat, dan sempurna."
Aku dan yang lainnya, mengucap syukur karena Allah mengabulkan doa-doa kami.
Setelah berada di ruang perawatan kami baru dapat menjenguk Desi, tidak ada raut bahagia di wajahnya. Ia tampak stress dan frustasi, tidak ada semangat apalagi kebahagiaan.
Ketika bayinya dibawa ke ruang rawat untuk disusui pun Desi menolak mentah-mentah bayinya itu, sungguh sangat memilukan.
"Bawa pergi jauh-jauh manusia kecil pembawa petaka itu!"
"Sayang, lihat baby-mu sangat tampan," hibur Devi.
"Aku bilang bawa dia jauh-jauh!"
"Iya sudah, oh iya bayimu mau diberi nama siapa?" tanya ibunya.
"Aku tak peduli, Bu! Namakan saja sesuka hati Ibu," tukasnya ketus.
Ibu yang terpukul pun, menangis dan memeluk Devi.
Devi lalu meminta Mas Fian untuk memberikan nama kepada bayi Desi.
Mas Fian tampak menghela napas dan sejenak berpikir. "Atha, Athalla Putra Wijaya, itu saja ya namanya."
Ibu dan Devi setuju, sementara Desi tidak bergeming ia masih saja diam sambil menatap kosong ke sudut ruangan.
***
Setelah dirawat selama empat hari, akhirnya Desi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Saya titip pola makan dan istirahatnya dijaga ya Pak, Bu! Jangan sampai memicu tensi darahnya naik. Bisa berbahaya bagi kesehatan pasien."
"Baik, Dok! Terima kasih banyak," jawab ibu.
Setelah menyelesaikan biaya adimnistrasi dan merapikan semua barang yang akan dibawa maka kami pun berjalan bersama menuju mobil di parkiran.
Kami; aku dan mas Fian mengantar Desi pulang ke rumah Ibu, setelah puas menggendong baby Atha yang menggemaskan, saat sore hari tiba maka kami pun berpamitan pulang kepada Desi, Devi, dan Ibu.
Di perjalanan pulang tampak Mas Fian sangat gelisah, ia menoleh kepadaku dan berbicara, "Sayang, kamu keberatan gak kalau kita yang merawat dan mengurus Atha? Mas khawatir bayi malang tersebut akan terlantar, apalagi melihat kondisi Desi yang seperti itu, Mas benar-benar cemas."
Aku tersenyum lalu mengangguk tanda setuju.
"Insya Allah aku nggak akan keberatan, Mas. Aku malah seneng. Aku kan memang sudah ingin punya anak tapi belum dikasih juga sama Allah, kalau Ibu dan Desi mengizinkan, maka aku senang sekali."
Mas Fian mencium punggung tanganku berkali-kali, kini rasa cemas di wajahnya pun sirna, berganti dengan senyuman.
"Terima kasih, Sayang, nanti Mas akan bicarakan dengan Ibu. Kalau perlu identitas di akte kelahirannya akan Mas buat atas nama kita, bayi itu tidak bersalah. Anak itu harus mendapat kehidupan yang layak."
"Aku manut, dengan keputusan yang menurut Mas baik."
"Makasih ya, Sayang."
"Iya, Mas. Aku harus mulai mikirin nama panggilan baru buat kita, hehe."
"Emak dan Abah?"
"Enggaaaak ah!"
"Terus apa, dong? Jangan yang alay ya kaya pupuh-mumuh, atau pepeh-memeh, haha."
"Geli dengernya, yang enggak lah ... paling juga popoh-momoh, hahaha."
Perjalanan pulang kami pun diwarnai gelak tawa, saat saling menyebutkan nama sebutan untuk kami apa setelah baby Atha diurus oleh aku dan Mas Fian nanti.
š¤š¤š¤
"Tapi kenapa Ibu gak mengizinkan Atha diurus oleh kami?" tanya Mas Fian kepada si Nenek Gambreng yang terlihat bersungut padaku.
"Pokoknya Ibu tidak setuju, titik. Nanti kalau kamu tidak ada di rumah istrimu akan melukai cucu Ibu, Ibu tidak mau cucu ibu celaka, dia kan benci kepada Desi," tuduh ibu sembari mendelik tajam ke arahku yang sedang duduk tertunduk di sofa.
Aku menitikkan air mata, hatiku sakit mendengar ucapan yang terlontar dari bibir tebal si Nenek Gambreng, sebenci itukah dia kepadaku? Apa sih salahku? Sebejat-bejatnya aku, mustahil bisa tega menganiaya makhluk Tuhan sekecil dan selucu Atha.
"Kalau memang dia suka anak kecil, kenapa dia gak hamil aja? Udah nikah hampir empat tahun masa iya belum hamil juga, jangan-jangan dia KB supaya bebas foya-foya dengan harta yang sedang dia keruk darimu atau bisa jadi dia mandul!"
Gila! Keterlaluan banget congornya, ya Tuhan maafkan aku yang lancang mengatai, tapi aku gak tahan kalau diam saja.
Lagian sedari awal, aku nikah sama Mas Fian bukan karena mengincar hartanya, bukan gila uangnya, bukan juga mau memanfaatkan kebaikannya untuk membiayai keluargaku. Geram rasanya, bila si Nenek Gambreng bukan mertuaku, sudah barang tentu akan aku unyeng-unyeng mulut pedasnya itu.
"Astaghfirullah, apa salah Dek Amelia kepada Ibu? Sampai-sampai Ibu sangat membencinya." Mas Fian menatap ibunya dengan rasa bingung dan sedih.
Si Nenek Gambreng diam saja mendengar pertanyaan Mas Fian, suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
Tidak ingin memperkeruh keadaan, akhirnya Mas Fian memberi isyarat agar aku masuk ke dalam kamar kami. Aku menurut, meski gondok.
Sesampainya di kamar, aku yang kesel langsung menghempaskan tubuh ini di atas sofa dan sembari menggumam umpatan tak terima.
Tidak lama kemudian Mas Fian menyusul masuk dan duduk di sampingku. Tangannya merengkuh bahu dan menempatkan tubuhku di dalam pelukan.
"Maafin sikap dan ucap Ibu, Sayang! Tolong jangan dimasukan ke dalam hati, Dek Amel kan tahu sifat Ibu seperti apa, kita harus memakluminya."
"Pedas mulutnya, kalau bukan-"
"Ssst, sudah!" Mas Fian menangkup wajah dan mengusap pipiku yang basah karena air mata.
"Mas, kita pulang."
Mas Fian mengangguk dan menuntunku keluar dari kamar.
"Bu, kami pamit pulang dulu ya!" pamit Mas Fian pada si Nenek Gambreng.
"Ya, hati-hati di jalan, Fian."
Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, aku mengikuti tapi dengan kasar wanita itu menepis tanganku. Heeeeeeeuh! Si Nenek Gambreng makin menjadi-jadi aku diemin.
Seandainya saat ini tidak ada Mas Fian, sudah barang tentu aku akan menarik tangannya lalu mempelintirnya, hingga dia kelojotan sakit.
Mas Fian yang mengerti segera mengajakku masuk ke dalam mobil.
"Maafkan Ibu ya, Sayang!"
"Berhenti meminta maaf atas nama Ibu! Aku muak," bentakku sembari terisak.
Tangan kiri mas Fian mengelus pipiku, aku yang jengah membuang muka ke arah samping.
"Mas gak mau Dek Am-"
"Please, Mas. Cukup! Biarin aja lah maunya Ibu apa, cari sana pengasuh untuk Baby Atha. Nanti apa yang ditakutkan terjadi, baru dia sadar seharusnya pada siapa Atha dititipkan. Biar aku judes dan galak, gak akan mungkin aku nyakitin Atha, aku sayang bayi itu."
"Iya, sudah-sudah."
"Mas yang sudah! Jangan bicara minta maaf terus, aku pengang dengerinnya, enek."
"Iya, enggak lagi-lagi, deh. Udah jangan marah lagi ya, Dek!"
"Jangan pernah lagi bahas soal Atha sama Ibu, aku udah hilang mood buat ngerawat anaknya si Desi itu."
"Iya, Sayang. Nanti kita akan punya anak juga, kembar empat sekaligus."
Aku yang kesal sontak tergelitik untuk tidak tertawa mendengar ucapannya barusan, kuputar bola mata lalu meninju pelan lengannya.
"Enak aja, emangnya aku kucing."
"Loh kenapa? Kan enak sekali hamil langsung lahir banyak."
"Mas enak, aku yang keteteran."
"Gak akan lah, kan kita nanti gotong royong."
"Kerja bakti kali, gotong royong,"
Mas Fian terkekeh dan terlihat bahagia saat aku bisa kembali tertawa dengan guyonan sederhananya.
"Tapi Mas, seandainya aku gak bisa ngasih kamu anak gimana Mas?"
"Jangan pesimis gitu."
"Seandainya, apa yang dibilang Ibu tadi, aku ini mandul. Mas mau gimana?"
"Dek Amel sehat, optimis, Sayang!"
"Ini kan misalnya Mas, segala sesuatu bisa saja terjadi."
"Ya gak gimana-gimana, santai aja. Jalani dan syukuri."
"Mas gak kepingin nikah lagi?"
"Buat apa Mas nikah lagi?"
"Ya supaya bisa punya anak."
"Kalau pertanyaannya dibalik, apa yang akan Dek Amel lakukan?" Mas Fian memberikan pertanyaan balik kepadaku.
"Ya sama kaya Mas, jalani dan syukuri. Aku mau menua sama Mas Fian, gak mau yang lain."
"Beneran kaya gitu?"
"Iya, emangnya aku kelihatan bohong? Ada juga Mas yang akan nikah lagi kalau sampai aku terbukti mandul, secara Mas mapan. Cewek mana aja bisa Mas dapet."
"Yaelah, emangnya gue cowok apaan?" godanya sembari mendelik nakal ke arahku
"Cowok gemesin."
"Ow-ow, kebukti dong ya sekarang kalau Mas ini gemesin."
"Iyaa, tapi nyebelin!"
"Nyebelin kenapa?"
"Nyebelin kalau udah marah-marah. Kadang aku suka sedih dan pengen nangis."
"Belajar kebal dengan kebiasaan Mas yang satu itu. Jangan didenger kalau Mas marah-marah, kan cuma saat nemu sesuatu yang kotor atau berantakan aja. Demi kebaikan dan kesehatan kita juga."
"Tapi, nyebelin!"
"Tapi, suka kan?"
"Terpaksa, hehe."
Tawa kami seketika berderai, aku memilih untuk tidak memperpanjang masalah si Nenek Gambreng tadi. Cuma buat stress saja kalau dipikirkan sampai berlarut-larut.
nomorelies dan 6 lainnya memberi reputasi
7