- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Mencintai Bandot Tua
...
TS
blackgaming
Aku Mencintai Bandot Tua
Aku Mencintai Bandot Tua


Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuhentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois, setelah itu aku segera berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah dan ibu sedang duduk termangu dan lesu.
Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Rumah yang dahulu bak surga, kini berubah seperti neraka yang panas dan selalu membuat aku muak.
Tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja.
Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai.
Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit menimpa tanah menembus ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli.
Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini?
Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah.
Aku ingin berontak rasanya tak mungkin, pacarku si Bagas pun angkat tangan saat aku mengajaknya kimpoi lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!"
Dasar pengecut! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii!
Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak.
Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku.
Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam.
Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya.
Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya.
Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh.
Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya.
Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa.
Aku hanya bisa mengelus dada serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti.
Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban.
Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka.
🖤🖤🖤
Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini.
Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan.
Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya.
Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung.
Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi mahkota gold dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku.
"Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku.
Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul.
Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
"Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah.
Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. 'Pangeran apaan? Pangeran kodok kali,' sungutku dalam hati.
Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini.
"Saya terima nikah dan kimpoinya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kimpoi satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."
Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka ini. Tidaaaaaak!
Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya.
Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai gembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini.
Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan.
Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax.
Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju.
Kuhempaskan tubuh di ranjang, menghela napas panjang memindai kamar ini. Mencebik dan merutuk, meski sia-sia tapi itu bisa membuatku lega dan merasa lebih baik.
Kemudian aku berdiri, sudah saatnya menanggalkan 'pakaian lenong' ini, aku ingin mandi dan istirahat dengan tenang dan damai.
Saat pakaian dan semua atribut tanggal, pintu diketuk. "Pasti itu si Batu alias Bandot Tua," sungutku geram.
Dengan wajah masam aku membuka pintu, tanpa menegurnya aku kembali masuk menyambar handuk kimono yang tergantung di paku. Tanpa menoleh kepada dia, aku bergegas pergi meninggalkannya.
Sesampainya didalam kamar mandi, aku segera membersihkan diri. Hampir 2 jam lamanya aku semedi didalam kamar mandi, karena kewalahan mengurai rambut setelah disasak tadi.
Setelah berhasil mengurai rambut yang kusut, aku pun segera membasuh seluruh tubuh. Segar rasanya, apalagi setelah keramas kepala ini jadi enteng sekali.
Di dalam kamar, aku pakai baju kebesaran emak-emak yaitu daster. Usai mengoleskan pelembab muka, aku pun langsung berbaring di atas spring bed yang empuk dan nyaman. Si Bandot Tua tidak ada di sini, membuatku sangat damai dan tenteram tentunya.
Namun ketika akan terlelap, pintu kamar kembali diketuk dan terdengar suara derap langkah si Bandot Tua memanggil namaku.
"Dek, ini Mas Fian tolong buka pintunya!"
Aarrrgghh!
Aku merutuk dalam hati, dengan wajah kesal segera kubuka kunci pintu. Setelah itu kembali ke formasi awal tadi.
Suara sepatunya membuat telinga ini sakit, dia menggantungkan jasnya di kastop dekat lemari pakaian.
Kuintip dengan mata yang pura-pura dipejamkan, dia sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Dek, bisa minta tolong ambilkan handuk?" Tangannya mengusap pundakku.
Tanpa menjawab aku bangun dan beranjak membuka lemari, untuk mengambilkan benda yang dia butuhkan.
'Uh beneran ya nih si Bandot Tua ini, ngeganggu ketenangan gue aja!' Kedua kalinya aku merutuk dalam hati.
"Makasih ya, Dek. Mas mandi dulu," ucapnya sok imut.
'Mandi aja sono, kaya gue nungguin lo aja dasar 'Batu' alias Bandot Tua.'
Aku tersenyum dan mengangguk, berusaha tidak menunjukkan rasa kesalku padanya, semuanya kulakukan demi keluarga.
Sepeninggal dia, aku pun pulas tertidur. Beberapa kali dia membangunkan aku untuk salat, tapi aku tak menggubrisnya. Aku beralasan aku sedang haid.
Selepas isya setelah selesai makan malam bersama, dia mencoba mengajakku bicara berdua di dalam kamar sebelum kami terlelap.
"Mas tahu, Dek Amel belum siap dengan pernikahan ini. Tapi mas minta, Dek Amel harus mulai belajar menerimanya ya," ucapnya pelan tapi tegas.
"Om Fian, eh ... Mas Fian jangan bicara kaya gitu, dengan aku bersedia menikah, itu artinya aku sudah menerima Mas Fian. Suka gak suka, toh aku gak punya pilihan."
"Alhamdulillah kalau begitu, mas lega dengarnya. Mudah-mudahan saja pernikahan kita ini bisa membawa kebaikan untuk kita dan diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ya, Dek."
"Aamiin," jawabku tampak penuh harap, padahal penuh rutukan.
Beberapa saat kemudian Mas Fian meraih dan mencium punggung tangan ini dengan lembut, rambutku ia usap perlahan. Tanpa menunggu izin, dia mendaratkan ciuman di kening, lalu turun ke pipi dan bibir.
Aku tidak memberi respon, bukan tidak bisa berciuman tapi aku merasa jijik ketika bibirnya menyentuh dan mamagut bibirku. Tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah ini.
"Kok diam, Dek? Kamu belum siap ya?"
"Eng-enggak, Mas. Aku gak tahu cara berciuman, aku bingung harus bagaimana," kilahku bohong. Padahal waktu pacaran dengan Bagas, sering aku berciuman alias baik.
"Maaf Mas Fian, aku belum bisa malam ini." Tanganku mendorong dada bidang itu pelan, menghentikan aksinya.
"Kenapa, Sayang?" Kata 'sayang' yang dia ucapkan barusan, benar-benar bikin aku gumoh, huweekk!
"Aku sedang ada tamu bulanan, Mas. Makanya tadi aku gak salat." Harap-harap cemas berharap ia percaya, dan tidak meraba apakah aku memakai pembalut atau tidak.
Ia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Iya mas tahu, tadinya mas kepingin mesra-mesraan aja gitu." Kulihat ada gurat kecewa di wajahnya, tapi aku gak peduli yang penting aku berhasil-berhasil horeeee.
Itu artinya aku harus bersandiwara mendapat tamu bulanan selama seminggu lamanya, hal itu tidak membuatku aman tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu.
Hari ini, adalah hari pernikahan kami yang kelima, dan sesuai dengan perjanjian awal aku akan meninggalkan rumah dan ikut bersama Mas Fian ke rumahnya.
Rasanya sangat berat aku berpamitan dengan orang tua dan kedua adikku, air mata ini tumpah. Aku tidak kuasa harus berpisah dengan mereka.
Walaupun aku bisa setiap saat bertemu dengan mereka, karena rumah Mas Fian dan orang tuaku hanya berjarak kurang lebih 100km. Namun, tetap saja itu suatu hal yang membuatku sangat bersedih.
"Ingat ya, Nak, pesan ayah! Harus hormat dan patuh pada suami, ayah selalu berdoa yang terbaik untukmu," bisik Ayah ketika memelukku.
Kujawab petuah Ayah dengan anggukan, lelaki paruh baya itu tahu betul seperti apa perasaanku saat ini. Tapi, Ayah tidak mau tahu dan terkesan tidak peduli. Aku merasa dijual pada si Bandot Tua, diri ini tak ubahnya seperti budak pemuas nafsu yang dipersembahkan untuk pejabat pada masa kerajaan dulu.
Aku dan mas Fian memasuki mobil, tak kuasa menahan tangis saat besi yang mewah yang ditumpangi meninggalkan rumah yang selama kurang lebih tiga tahun ini aku tempati.
Aku menangis sesegukan didalam mobil, lambaian tangan mereka tidak bisa hilang dari ingatan.
Mas Fian yang duduk di sebelah memeluk erat, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak juga bisa membuatku luluh untuk mencintainya.
"Jangan sedih lagi, Dek, setiap saat Adek ingin ke rumah Ayah bilang saja, mas akan antar."
Aku mengangguk dan terus menangis, di sepanjang perjalanan menuju rumah mas Fian.
Lebih satu jam kemudian, kami tiba di rumah mewah yang begitu asri dan nyaman. Aku dan mas Fian turun dari mobil, Pak Zaki, sang supir segera membuka bagasi dan menurunkan koper-koper.
"Asslamualaikum," ucap Fian ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya bersanggul, dengan wajah menor yang sedang asik membaca majalah di sofa ruang tengah.
Wanita bergaya bak ibu sosialita itu adalah ibu mertuaku, Ibu Siska namanya. Dari raut wajahnya sepertinya ia tidak suka padaku, terbukti pada saat pernikahan dulu dan sekarang tatapannya tetap sama, sinis.
Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Bodo amat lah, toh aku juga nikah karena terpaksa. Seandainya wanita itu mengusirku suatu hari nanti, hal itu akan jadi senjata ampuh untuk bisa lepas dari belenggu pernikahan ini.
Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, kemudian ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Aku bersikap sama, mencium tangan mertuaku yang sebelumnya menatapku dari atas sampai bawah, seperti aneh melihatku. Padahal jelas-jelas dia yang menurutku aneh.
Kami berbincang sebentar dengan Bu Siska, setelah itu Mas Fian mengajakku untuk beristirahat di kamarnya.
Tangan ini dituntun masuk, menuju ruangan pribadi yang terletak di dekat ruang tengah. Sesampainya di dalam, aku takjub dengan kamar tidurnya, begitu nyaman dan wangi sekali. Mataku berkeliling menatap ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan perabotan modern dan tentunya mahal.
Dahulu, kehidupanku juga bisa dibilang mampu. Tapi rumah masa kecilku tidak semewah rumah Mas Fian, haruskah aku merasa beruntung karena mempunyai suami tajir?
"Dek, lemari pakaian yang tiga pintu itu baru. Mas sengaja belikan untuk menyimpan semua pakaianmu. Karena lemari Mas sudah penuh, hehe."
"I-iya Mas, terima kasih." Aku merasa kikuk dan canggung di rumah mewah ini.
"Mas, aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucapku memecahkan kecanggungan dengannya.
Mas Fian mengangguk dan mengeret koper kami kedekat lemari pakaian. Segera aku membuka dan mengambil pakaian santai juga handuk, membawanya ke kamar mandi yang lagi-lagi membuat aku takjub dibuatnya.
Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang. Menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil. Mas Fian tidak mau jauh dariku, ia duduk menemani dan menawarkan diri untuk membantu mengeringkan mahkota indah ini.
Jujur, aku merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuannya. Bulu romaku merinding saat wajahnya mendekat, dari pantulan cermin aku lihat matanya terpejam saat menghidu bau harum yang menguar dari rambutku. Embusan napasnya membuat tengkuk meremang, adegan tidak senonoh pun terbayang dalam benak.
Tidak tahan dengan perasaan jijik yang menguasai, aku bangkit dan menyibukkan diri menyusun pakaian dari dalam koper ke lemari.
"Bibik saja nanti yang ngerjain, Dek," katanya sembari menatapku lekat.
Aku menggeleng dan tersenyum sok manis. "Aku bisa sendiri, Mas. Gak puas kalau barang pribadi, orang lain yang ngerjain."
Mas Fian mengangguk, lama kelamaan dia merasa bosan melihatku tak memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk menghabiskan waktu berduaan, dia berpamitan untuk keluar kamar setelah sebelumnya bertanya aku mau makan apa saat makan malam nanti.
"Apa aja, aku makan, Mas."
"Baik, mas keluar ya."
"Iya."
Sepeninggal Mas Fian, aku berhenti bersandiwara. Kuhempaskan bokong ini, melepas lelah setelah berusaha lolos dari cengkeraman singa tua, hehe.
Saat jam makan malam tiba, aku duduk di depan meja makan malam yang mewah dan indah. Berbagai macam menu masakan lezat tersaji di atasnya, lengkap dengan makanan penutup dan buah-buahan.
Diubah oleh blackgaming 07-03-2021 14:59
sormin180 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
22K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#33
Chapter 17
"Selamat tidur, Sayang," bisiknya sembari mencium kening ini.
"Selamat tidur juga, Bandot Tua," jawabku sambil menahan tawa.
Matanya yang semula akan terpejam pun seketika terbuka dan mendelik tidak terima ke arahku. Habis lah aku dikelitikinya.
"Jahat banget sih, Dek!" sungutnya sambil terus mengelitik perutku.
"Haha ampun, Mas. Haha."
"Udah diganti belum nama kontak Mas di hp kamu? Readers pada penasaran tuh."
"Haha, ampun! Udahan dulu mah ngelitiknya baru aku jawab."
Mas Fian menurut, menarik tangannya lalu kembali bertanya, "Cepat jawab, Dek!"
"Sudah, Mas. Aku sudah ganti nama kontaknya Mas Fian. Udah buka 'Bandot Tua' lagi."
"Ganti nama apa?"
"Aku ganti jadi, BANDOT TUA I Love You."
"Astaga, Dek Amel."
Jemari Mas Fian kembali mengelitik perutku. Aku berontak tidak tahan, tangan kanannya yang melingkar di leher kugigit, Mas Fian mengaduh kesakitan dan menghentikan aksinya.
Tanpa dikomando, tawa pun berderai. Jadilah kami akhirnya berbincang seputar sejarah terciptanya nama Bandot Tua sampai waktu hampir memasuki waktu subuh.
🖤🖤🖤
Mataku terpejam merasakan pelukannya yang begitu hangat, seketika darahku berdesir dan jantungku berdebar tidak beraturan.
Untuk pertama kalinya, Mas Fian berani masuk ke dalam kamar mandi di saat aku sedang berendam.
Dan untuk pertama kalinya pula, aku merasa senang dengan inisiatifnya itu.
Aku mendongak, lalu kudorong masuk kepalanya sehingga kami berciuman dengan posisi saling berlawanan.
Aku tahu ia terkejut karena selama ini, setiap kali bercinta aku tidak pernah memberikan respon baik, aku lebih banyak diam dan pasrah.
"Kenapa, Mas?" tanyaku menjadi canggung dan salah tingkah.
Mas Fian bergeming, tatapannya semakin lekat padaku. Aku jadi merasa semakin tidak enak hati dibuatnya.
"M-Mas tidak suka ya?"
Ia menggeleng, lalu menyeringai nakal dan menghujaniku dengan ciuman.
"I love you, Mas Fian," bisikku.
Mas Fian mengangguk seraya tersenyum, aku membalikkan tubuh dan perlahan wajahnya mendekat dan memagut bibir ini dengan lembut.
Hasratku yang bergelora, membuat diri ini tak ragu mengesampingkan rasa malu.
Aku jadi agresif dan terkesan liar.
Yang terjadi kemudian, tubuhku yang masih basah digendongnya ala bridal style dan kemudian membaringkanku di peraduan, yang beralaskan sprei putih polos dengan ratusan taburan kelopak bunga di atasnya.
"I love you, Mas," bisikku lagi di telinganya.
"I love you too, melebih apa pun."
"Terima kasih atas cinta Mas yang begitu besar padaku. Maafin aku selama ini jahat-"
"Ssstt, jangan menangis, Sayang! Mas mengerti keadaanmu, Mas paham posisimu, untuk itu Mas selama ini bersabar menunggu."
"Tapi, kenapa Mas?"
"Karena Mas punya keyakinan, Mas yakin bahwa suatu saat Dek Amel akan sayang dan mencintai Mas. Dan, Malam ini Mas merasakan cinta itu."
"Meski aku pernah berkhianat?"
"Mas tahu apa saja yang sudah Dek Amel lakukan dengan Dimas, menurut Mas masih bisa ditolerir."
"D-dari mana Mas tahu?"
"Dek Amel gak perlu tahu, yang jelas Mas melakukan hal itu dengan maksud yang baik. Mas pun yakin dengan keputusan mempertahankan rumah tangga kita ini, semua sudah Mas pertimbangkan masak-masak."
"Makasih ya, Mas. Aku sangat bahagia. Aku mencintaimu," isakku lirih.
Mas Fian mengusap pipiku, lalu kemudian mencium kening dengan penuh cinta.
Selanjutnya kami pun melewati malam syahdu dengan sukacita, malam kesekian yang menjadi malam pertama untukku.
🖤🖤🖤
"Sayang, maaf Mas gak bisa jemput, mau ke rumah Ibu ada masalah dengan Desi."
Kabar yang dibawa Mas Fian, membuatku gusar dan khawatir.
"Masalah apa?"
"Nanti Mas ceritakan malam di rumah."
"Oke, jangan telat makan siang ya, Mas!"
"Iya, Sayang. Dek Amel juga."
"Aku lagi di kantin sama Ricca."
"Syukurlah, sudah dulu ya, Sayang. Assalamualaikum," pungkasnya.
Kutaruh ponsel usai menjawab salam, pikiranku mengawang menebak-nebak masalah apa yang terjadi di rumah besar itu?
Setahun sudah aku meninggalkan rumah itu, dan selama itu aku baru dua kali datang menyambangi Ibu mertua yang masih jutek padaku. Saat moment Idul Fitri dan Idu Adha aku datang ke sana, tapi sambutan si Nenek Gambreng masih sama seperti dulu.
Alhasil, semenjak itu aku jadi enggan datang lagi. Sehingga setiap kali Mas Fian mengajak untuk menengok si Nenek Gambreng, aku selalu menolak.
Mas Fian memang anak yang berbakti, setiap kali ada kesempatan pasti dia akan menyempatkan diri untuk datang ke sana meski hanya sebentar.
"Woii, kok ngelamun?"
"Eh, sorry."
"Laki lo ngasih kabar apaan?"
"Ada masalah di rumah katanya, jadi entar baliknya gue nebeng mobil lo, oke!"
"Emang laki lo gak jemput?"
"Kagak, katanya ada masalah penting yang harus diberesin."
"Wah jangan-jangan dia mau dijodohin emaknya sama cewe laen, kaya di cerita sinetron ikan terbang itu, haha."
"Sialan, lo! Kampret! Amit-amit ih jangan sampai kaya gitu, bacot lo sekate-kate."
"Haha, cie yang udah klepek-klepek sama si Bandot Tua."
"Euh ... euh bahagiaa ... bahagiaa banget dagh! Buruan lo pesen sana, gue udah laper banget ini."
"Haha, lo mau makan apaan?"
"Makan mie ayam seger kayanya, lo mau makan apaan?"
"Gado-gado aja lah."
***
"Makasih banyak ya Ric udah nganter, lo mau mampir gak?"
"Kaga ah, tar kaya kemaren lagi, gue mampir ke rumah lo bukan disuguhin malah disuruh masak buat makan kita, dasar tuan rumah gak sopan."
"Haha, sekarang mah enggak deeeehhh. Kalau lo mau mampir gue janji bakal nyuguhin lo."
"Beneran? Lo mau kasih gue apaan?"
"Itu cucian piring bekas semalem and tadi pagi gue makan sama Mas Fian belum dicuci."
"Haha kampret lo, nyebelin."
"Hahaha, beneran lo mau mampir gak?"
"Kagaaaaaak!!"
"Ya udah kalau gitu." Segera aku turun dari mobil Ricca.
"Loh gak nunggu dulu?" Tiba-tiba Ricca menahanku.
"Nunggu apaan, Ric?"
"Nunggu gue usir dari dalam mobil gue, hahaha ...."
"Sialaaaaaannnnn."
"Byeeee!" Sambil tertawa, Ricca berlalu meninggalkanku.
Sepeninggal Ricca aku bergegas masuk, setelah itu mulai melakukan rutinitas wajib; membereskan dan membersihkan rumah.
Tidak terasa waktu beranjak petang, dan akhirnya ... pekerjaanku sudah selesai semua. Aku bergegas mandi saat adzan magrib berkumandang.
Usai salat, aku duduk bersantai di sofa di ruang tengah rumah sambil menonton televisi.
Kuraih ponsel yang sedari tadi dicharge. Lalu menelepon Mas Fian, karena sedari tadi ia belum memberi kabar lagi.
Sambungan telepon yang pertama tidak dijawabnya. Beberapa saat kemudian aku hubungi kembali, masih tidak ada jawaban darinya.
Aku yang mulai cemas takut terjadi apa-apa kepadanya. Lalu mencoba menghubungi ke rumahnya, Bik Nani yang menjawab teleponnya.
"Assalamualaikum Bik, Mas Fian ada disitu gak?"
"Waalaikumsalam, iya Neng Amel ada, lagi di ruang tamu sama Ibu dan Neng Desi, Mas Fian sedang marah-marah kepada Neng Desi."
"Ya Allah, ada apa?"
"Bibik juga kurang tahu kenapa Neng. Cuma tadi waktu Bibik antar minuman, Bibik lihat Neng Desi dan Ibu menangis."
"Pantas tadi saya telepon Mas Fian gak dijawab, ya udah kalau gitu makasih banyak ya Bik. Assalamualaikum."
Pikiranku menerawang menerka-nerka apa yang terjadi, akhirnya kuputuskan untuk mengirimkan pesan kepada mas Fian.
[Assalamualaikum, Mas mau makan malam dirumah gak? Kalau mau aku mau siapin sekarang.]
Belum ada jawaban, akhirnya kuputuskan untuk berbaring di sofa sambil menonton acara reality show.
Acara seru pencarian jodoh pun terasa garing jadinya, lama kelamaan rasa kantuk datang menyapa. Mataku yang hampir terpejam mengerjap seketika saat mendengar notifikasi pesan masuk di ponsel, segera kubaca pesan balasan dari Mas Fian.
[Waalaikumsalam, maaf Sayang tadi hpnya ketinggalan di mobil. Iya Mas makan dirumah, ini sudah otw pulang. Tapi gak usah masak, ini aku dibawain makanan sama Bik Nani.]
[Iya gak apa-apa, aku khawatir takut Mas kenapa-kenapa. Ya udah kalau gitu, hati-hati di jalan.]
[Iya, Sayang.]
Lega sekali akhirnya Mas Fian memberi kabar, tapi aku masih bertanya-tanya tentang masalah yang terjadi di sana.
Satu jam kemudian Mas Fian tiba, aku segera membukakan pintu untuknya. Ia turun dari mobil dengan menenteng rantang susun berisikan makanan pemberian Bik Nani. Kucium punggung tangannya.
"Mas, mandi dulu ya," ucapnya.
"Iya Mas."
Aku langsung menuju dapur dan memindahkan ayam kari, capcay, dan kentang balado mustofa ke dalam piring saji.
Lima belas menit kemudian Mas Fian datang, dalam keadaan segar sehabis membersihkan diri.
Tidak membuang waktu, kami segera menyantap makan malam dengan nikmat sekali.
Usai makan malam Mas Fian yang duduk santai di depan televisi, pun kuperhatikan banyak diam dan melamun, paet ini pengaruh masalah yang terjadi di sana.
Ragu-ragu, aku pun bertanya tentang apa yang telah terjadi.
"Desi hamil."
Jawaban mas Fian mengejutkan, aku merubah posisi dudukku, kini badanku menghadap kepadanya.
"Astaghfirullah, terus tadi lelaki yang menghamilinya bagaimana? Mau bertanggung jawab?
"Itu yang bikin Mas emosi, dia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Dia bilang dia tidur dengan beberapa lelaki. Sungguh murahan!"
"Ya Allah, Desi. Kasihan Ibu." Biar benci, aku merasa prihatin dengan musibah yang terjadi dengan adik iparku tersebut.
"Ibu juga bersalah dalam hal ini, Ibu terlalu memberinya kebebasan."
"Lalu langkah selanjutnya apa?"
"Entahlah, mungkin dia akan melahirkan anaknya nanti tanpa ayah. Sudah Mas paksa dia, untuk menunjuk satu orang yang sekiranya pantas untuk menikahinya, tapi dia tidak mau dan berucap kalau dia melakukan hubungan itu ketika sama-sama dalam pengaruh minuman keras."
Kulihat rahang Mas Fian mengeras, emosinya tertahan, namun tidak dipungkiri ada kesedihan yang amat sangat mendalam di matanya.
Aku mengelus punggungnya lalu kurengkuh kepalanya dan kubelai rambutnya. Ia menangis di dadaku, tangis kekecewaan seorang kakak terhadap adiknya.
"Aku telah gagal menjadi kakak yang baik, aku tidak bisa menjaga kehormatan keluarga."
"Mas jangan bicara seperti itu, mudah-mudahan saja Allah akan menyadarkan Desi dan dengan semoga dengan kejadian ini, Desi akan taubat dan berubah menjadi orang yang jauh lebih baik lagi."
Sungguh teriris hati ini melihat Mas Fian menangis seperti ini, walaupun Desi hanya adik iparku tapi aku ikut merasakan kepedihan yang dirasakan olehnya.
"Mas Fian sabar ya, semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk Desi."
"Iya, Sayang. Terima kasih ya Dek Amel gak balas kebencian Desi dengan kebencian juga."
"Sudah, Mas! Jangan bahas yang sudah lalu, aku tidak benci atau dendam. Aku sebenarnya sayang sama dia."
"Jangan banyak pikiran ya Mas, aku gak mau Mas sakit."
"Iya, Sayang. Alhamdulillah Mas sangat bersyukur sekarang ada yang mengkhawatirkan Mas. Karena setelah ayah tiada, tidak ada lagi yang mengkhawatirkan keadaan Mas," ucapnya lirih.
"Jangan bicara gitu. Sebelum aku hadir kan ada Ibu, Devi, dan Desi yang selalu membersamai Mas."
"Mereka ada tapi seperti tidak ada."
"Maksud Mas apa? Mas punya rahasia yang gak aku tahu ya?"
"Bukan rahasia, tapi kisah pilu yang Mas kubur dalam-dalam."
"Mas bisa cerita sama aku, kalau mau."
Mas Fian menghela napas panjang, beberapa saat ia bergeming seperti sedang menimbang akan bercerita atau tidak.
"Next time, gak apa-apa kalau sekarang Mas belum mau untuk cerita."
"Sebenarnya ... Devi dan Desi itu bukan adik kandung Mas, mereka adalah anak Ibu dari suami barunya. Ibu meninggalkan Mas dan Ayah demi laki-laki lain, waktu itu memang kehidupan kami masih sangat sederhana. Ayahnya Mas masih merintis usaha ritel yang Mas lanjutkan hingga saat ini."
"Dengan tega Ibu meninggalkan kami, hampir dua puluh tahun lamanya. Ibu menghilang tanpa kabar. Membiarkan Mas tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Lalu delapan tahun yang lalu tiba-tiba, beliau datang kembali kepada kami dengan membawa Devi dan Desi. Beliau meminta maaf kepada Ayah dan bilang bahwa ia ingin kembali pada Ayah. Awalnya Mas tidak mau menerima Ibu, Mas benci beliau, tapi Ayah terus membujuk hingga akhirnya Mas luluh. Ternyata cinta Ayah begitu besar pada Ibu."
Sejenak mas Fian menghela napasnya lagi, aku tahu semua ini berat ia ceritakan karena harus membuka kembali lembaran kisah kelam yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.
Aku mengusap-usap dadanya, kurasakan ada rasa sedih dan marah yang ia tahan di hatinya.
Ia tersenyum memandangku dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Ayah bahagia karena Mas mau berdamai dengan keadaan, perlahan Mas meredam rasa benci di dalam hati, berusaha menumbuhkan rasa sayang pada beliau. Pada tahun kedua kembalinya Ibu, Ibu mulai menunjukkan sifat aslinya. Beliau ternyata tidak berubah, Ibu masih sama seperti dulu, gila uang. Dengan uang Ayah, ia selalu foya-foya. Memanjakan Devi dan Desi, kerja mereka hanya jalan-jalan dan shoping."
"Sampai pada suatu hari Ayah sakit stroke, Ibu cuek saja tidak mau mengurusnya. Mas sempat emosi dan berniat mengusir Ibu, tapi Ayah bersikeras mencegahnya. Kejadian Ayah stroke membuat Mas tahu bahwa sebenarnya Ibu kembali bukan karena sayang dan rindu kepada kami, Ibu kembali hanya karena ingin berlindung dari kemiskinan."
"Ketidakpedulian Ibu semakin menjadi, tidak hanya sebatas tidak mau mengurus Ayah tapi beliau juga berani mengajak seorang pria muda ke rumah. Tanpa rasa malu beliau berduaan dengan pemuda di dalam kamar tamu. Bik Nani mengadukan semuanya, Mas yang saat itu sudah menghandle semua urusan Ayah pun segera pulang dan menghajar pemuda brengsek itu, rasa benci Mas pada Ibu semakin hebat. Mas sempat mengusir Ibu, tapi Ayah memohon dan demi Devi dan Desi akhirnya memaafkan beliau."
"Dari Devi, Mas baru tahu kalau ternyata Ibu diceraikan oleh ayahnya tanpa mendapatkan harta satu rupiah pun karena suami barunya itu sudah punya istri baru yang lebih muda yang licik, wanita itu menguasai harta suami baru Ibu."
Mas Fian kemudian menangis tersedu, kudekap erat tubuh kekarnya yang tampak rapuh malam ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau selama ini beban hidup yang ia alami sungguh berat dan perih.
"Mas yang sabar, jangan bersedih lagi! Sekarang Mas punya aku, aku akan selalu menyayangi Mas dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit."
Aku tak bisa menahan rasa sedih, hatiku ikut hancur mendengar cerita masa lalu Mas Fian yang sangat pahit itu.
"Terima kasih banyak, Sayang, Mas janji akan selalu membahagiakan Dek Amel."
"Aku percaya akan ketulusan cintamu, Mas. Mas juga jangan pernah meragukan cintaku. Setelah mendengar ceritamu aku semakin kagum dengan kebesaran hatimu, dengan sabar dan penuh kasih Mas melindungi Ibu juga Devi dan Desi."
"Semua ini berkat nasihat Ayahnya Dek Amel."
"Ayah?"
"Mas pernah bercerita, Ayah kasih nasihat katanya gak boleh membenci Ibu, sebesar apa pun kesalahannya, Mas wajib merawat dan melindunginya. Masalah kesalahan Ibu itu biar menjadi urusan Ibu dan Allah, sebagai anak kita harus berbakti karena surga dibawah telapak kaki ibu. Maka semenjak mendapat nasihat dari Ayah, Mas membuang jauh-jauh rasa benci itu. Demi Ayah Mas di surga, juga Devi dan Desi, Mas memaafkan Ibu dan memperlakukan beliau secara baik dan sangat menghormatinya.."
Aku beranjak dari posisiku, kuambil segelas air yang sudah tersedia di meja samping tempat tidur dan memberikannya kepada Mas Fian.
"Diminum dulu Mas, supaya lebih tenang."
Mas Fian meminumnya setengahnya.
"Sini aku peluk, biar Masnya gak sedih lagi."
Mas Fian yang sudah tampak tenang dari sebelumnya, pun tersenyum dan mengeratkan kedua tangannya di tubuh ini.
nomorelies dan 5 lainnya memberi reputasi
6