- Beranda
- Sejarah & Xenology
Alasan Mengapa Plato Membenci Demokrasi
...
TS
khairiza7
Alasan Mengapa Plato Membenci Demokrasi
Demokrasi mungkin sebuah kalimat yang tidak asing dalam telinga kita, ya kalian pasti mengetahui apa itu demokrasi.b bagi yang belum tahu baik mari disimak, secara umum demokrasi adalah sistem pemerintahan dimana kedaulatan ada di tangan rakyat mungkin terdengar bagus tetapi apakah kalian pernah melihat dari sudut pandang filsuf Yunani bernama Plato?
Kali ini ijinkan saya menjelaskan mengapa Plato membenci ideologi Demokrasi ?
[url=https://www.SENSOR 2830409162923451737/1762487805176163621#][img]https://dl.kaskus.id/1.bp.blogspot.com/-d2ctGPcamG8/YD5MPKq3jjI/AAAAAAAAAI8/6ZE8rMGlzCU1H0yLJ9h-XBvrhStia00SwCLcBGAsYHQ/s16000/images%2B-%2B2021-03-02T212330.010.jpeg[/img][/url]
Dalam “The Republic” buku IV, plato menggambarkan bahwa Socrates sempat bercakap-cakap dengan seorang karakter bernama Adeimantus,Ia mencoba menunjukan berbagai kekurangan demokrasi kepada Adeimantus, dengan cara membandingkan sebuah masyarakat dengan sebuah kapal. “Kalau anda sedang berpergian naik kapal” sokrates bertanya, “siapa yang menurut anda paling ideal untuk memimpin kapal?” siapa saja boleh, atau orang-orang yang berpendidikan dalam menghadapi aturan dan kerumitan perjalanan laut? “ tentu saja yang kedua”, jawab Adeimantus.
Kemudian Socrates merespon, “ lalu mengapa kita terus berpikir bahwa semua orang, siapa saja boleh menilai siapa yang akan menjadi pemimpin sebuah negara? Maksud Sokrates adalah bahwa memilih dalam sebuah pemilihan umum adalah suatu keterampilan dan bukan intuisi acak.
Dari sini saya simpulkan bahwa dalam demokrasi kita tidak pernah atau jarang berpikir secara mendalam dan matang tentang siapa yang akan kita pilih.
Dan menurut Plato dalam buku nya “The Republic” buku IV mengatakan bahwa dalam
Demokrasi seseorang diberikan kebebasan yang sangat bebas tanpa adanya aturan yang mengatur kebebasan itu,dia mengatakan bahwa pada akhirnya akan timbul negara tirani.
Menurut Plato negara ideal adalah negara aristokrasi dimana negara dipegang oleh sejumlah orang kecil terbaik.
*Saya hanya menjelaskan tentang sejarah, tidak mendrongkan untuk ber-ediologi yang dijelaskan, bahwa kita tahu negara kita adalah demokrasi dimana dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat
Memuat Lebih Banyak Kategori, Yuk Klik Disini
Diubah oleh khairiza7 03-03-2021 01:48
0
2.2K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.6KThread•11.7KAnggota
Tampilkan semua post
kudo212
#2
menurut gue demokrasi memang memiliki kekurangan yg cukup fatal yaitu bisa menyebabkan polarisasi. ketika ada 2 tokoh dengan basis massa yg cukup besar berhadapan, demokrasi tidak bisa menyelesaikan silang pendapat diantara mereka
jeleknya pengerahan massa adalah euforia kekerasan, penyerbuan gedung capitol dan kerusuhan pilpres 2019 di indonesia adalah contoh kegagalan demokrasi, bukannya menenangkan massa tapi malah menyulut kerusuhan
setelah pemilu berakhir bukannya berhenti, tapi malah jadi api dalam sekam, beruntung di indonesia prabowo masih cukup berbesar hati untuk mengalah, tapi di us trump terang"an menghasut pendukungnya. kacau
jadi menurut gue yg dibilang socrates ini bener, harusnya ada semacam dewan yg menjalankan negeri ini bukan pemimpin tunggal. karena mereka ga akan bisa ambil keputusan seenak jidat kalau ditentang sama anggota dewan yg lain. pada akhirnya musyawarah mufakat yg harus diambil kalau mau mengeksekusi kebijakan.
gue rasa model kepemimpinan multilateral kayak di asean atau eu bisa diadopsi, dimana ketua dipilih dari para anggota dewan. dan para anggota dewan ini yg dipilih melalui pemilu dan setiap ketua hanya boleh memimpin maksimal 2 tahun
dan para anggota dewan ini yg nantinya menjabat sebagai menteri di kabinet
jeleknya pengerahan massa adalah euforia kekerasan, penyerbuan gedung capitol dan kerusuhan pilpres 2019 di indonesia adalah contoh kegagalan demokrasi, bukannya menenangkan massa tapi malah menyulut kerusuhan
setelah pemilu berakhir bukannya berhenti, tapi malah jadi api dalam sekam, beruntung di indonesia prabowo masih cukup berbesar hati untuk mengalah, tapi di us trump terang"an menghasut pendukungnya. kacau
jadi menurut gue yg dibilang socrates ini bener, harusnya ada semacam dewan yg menjalankan negeri ini bukan pemimpin tunggal. karena mereka ga akan bisa ambil keputusan seenak jidat kalau ditentang sama anggota dewan yg lain. pada akhirnya musyawarah mufakat yg harus diambil kalau mau mengeksekusi kebijakan.
gue rasa model kepemimpinan multilateral kayak di asean atau eu bisa diadopsi, dimana ketua dipilih dari para anggota dewan. dan para anggota dewan ini yg dipilih melalui pemilu dan setiap ketua hanya boleh memimpin maksimal 2 tahun
dan para anggota dewan ini yg nantinya menjabat sebagai menteri di kabinet
imaginaerum memberi reputasi
1
Tutup