- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#76
Chapter 53
Sterling dan Vivian sedang duduk-duduk sambil bersantai menunggu daftar buronannya diperbarui. Bar yang mereka tempati tidak begitu ramai, hanya ada beberapa yang sedang menenggak minumannya. Alunan musik dari pertunjukan yang dibawakan juga tidak mampu menarik banyak pengunjung. Sterling pun berucap iseng jika Solo yang mengisi acaranya sudah dipastikan tempat ini menjadi ramai. Perkataannya itu mengundang tatapan sinis dari Vivian.
Dalam ketawa canggungnya Sterling merasakan bahwa ponselnya bergetar,ia mengambilnya dari saku celana. “Hah?!” wajahnya yang terkejut membuat Vivian bertanya padanya, Sterling menjawab bahwa ada pesan email yang masuk dari Leah. “eh…ada apa, tumben sekali….,” Sterling membuka pesannya, berupa gambar mengerikan. Seseorang duduk tanpa kepala dengan mengenakan jas dengan garis ungu disampingnya. “selamat malam, apakah anda mengenali atau pernah tahu informasi tentang kriminal dengan pakaian seperti ini?” Sterling membacakan pesannya, lalu menunjukkannya kepada Vivian.
Vivian memperhatikannya dengan teliti, jas dengan motif garis ungu itu belum pernah dilihatnya. “Dari wilayahnya kah? Entahlah aku sama sekali belum pernah melihatnya,” jawab Vivian sambil menggelengkan kepalanya.
“Benar juga, kita juga jarang mampir kewilayahnya. Akan kutanyakan pada informan kita, siapa tahu ia mempunyai datanya,” jemarinya sibuk mengetikan sesuatu tuk membalas pesan email dari Leah. “hehe…,” Vivian tidak sanggup melihat partnernya bertingkah seperti itu.
Selain mengabari Leah bahwa Sterling akan mencarikan info untuknya. Ia juga mengirimkan pesan kepada informannya, berharap akan ada titik terang dari orang kepercayaan Sterling itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi informan untuk memberikan informasi kepada Sterling. Informasi itu cukup detil yang menujukkan nama, lokasi, serta kejahatan yang dilakukan.
“Pantas saja kita tidak pernah mengenalnya, mungkin Leah dan timnya juga. Mereka hanyalah penjahat kelas teri yang berhubungan dengan kejahatan tingkat rendah,” memberikan ponselnya kepada Vivian.
“Hmm,” Vivian pun membacanya dengan cepat lalu membalikan lagi ponsel milik Sterling.
“Tapi karena partner kita yang meminta, maka aku akan mengirimkannya. Semoga Leah tidak kecewa.”
Isi informasi itu menyebutkan bahwa pakaian jas dengan motif garis ungu dibagian kanannya itu merupakan pakaian khas dari orang-orang yang bernaung di bawah ‘Purple Line’. Purple Line sendiri adalah sebuah bar ekslusif yang menyediakan wanita-wanita penghibur yang memiliki tingkat kecantikan yang tinggi. Pelanggaran terberatnya hanya berkutat dengan barang-barang haram narkoba. Setidaknya seperti itu bunyi informasi yang diberikan oleh informan Sterling.
“Sebentar, jika kasus mereka hanya berkutat pada narkoba. Mengapa tim khusus seperti BASS harus turun tangan?” Sterling membuka ponselnya, mencari berita apa yang sedang ramai di wilayah sektor 13. Isinya masih sama, laporan orang hilang yang jumlahnya naik beberapa pekan belakangan. “tidak ada yang aneh, apa mungkin ada hubungannya dengan Beaters? Walaupun begitu kita tidak bisa ikut campur, semua ada bagiannya. Jika kita tidak diminta seperti waktu itu, berarti ini masalah mereka.” Sterling menutup ponselnya lalu menikmati pertunjukannya kembali.
Leah menerima pesan balasan dari Sterling berisi semua informasi yang ia butuhkan. Nama bar Purple Line cukup asing bagi Leah, karena ia dan tim sama sekali tidak pernah mengunjungi bar. Mereka hanya mengunjungi caffe saja di waktu senggang. Semua ini karena kapten Vela lebih menyukai atmosfer caffe ketimbang bar yang jauh lebih berisik. Setelah mencari informasi tentang alamat bar Purple Line, Leah memutuskan untuk langsung pergi ke sana.
Nakata melihatnya dengan tatapan tajam, khawatir tentang Leah. Karena tindakannya ini terlalu buru-buru, belum juga bekas dari Beaters yang dimusnahkannya kemarin kering tetapi ia sudah bersiap menyerbu tempat yang diduga markas Purple Line tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya itu sama saja dengan bunuh diri. Makadari itu Nakata berniat untuk menyamar sebagai pelanggan ke tempat itu, sementara Leah mengawasi dari luar. Dengan tujuan untuk mengetahui terlebih dahulu tempatnya, akses pintu masuk dan keluar, bagaimana penjagaannya, apakah semuanya memang Beaters seperti yang Leah temukan semalam atau hanya sebagian saja.
Nakata Mendekati Leah, “Semuanya lebih baik jika dilakukan dengan kepala dingin dan hati yang tenang, aku tahu perasaanmu terhadap para korban. Aku juga tidak bisa memaafkan mereka tetapi tindakan kita yang terburu-buru tanpa rencana ini bisa membuat banyak korban yang berjatuhan….,” Leah jarang sekali mendengar seniornya itu berbicara panjang lebar seperti itu. Biasanya Nakata hanya menggunakan bahasa tubuhnya saja dan sedikit sekali berbicara.
Leah pun akhirnya bisa mengerti, ia mengikuti saran Nakata untuk melihat seperti apa tempatnya terlebih dahulu. Mobil dinas mereka dipanaskan, Nakata menyetir menuju tempat yang di maksud, yaitu bar Purple Line. Jarak tempuhnya tidak terlalu lama karena masih berada dalam satu wilayah yang sama. Bar itu terletak di jalan yang banyak menyajikan hiburan malam, baik itu bar maupun casino. Distrik kehidupan malam yang liar di wilayah sektor 13. Mobil dijalankan pelan sambil mencari plang Purple Line itu. Setelah berjalan beberapa blok akhirnya Nakata dan Leah menemukannya, dari luar bangunannya tidak begitu besar.
“Ada dua orang penjaga di pintu masuknya,” Leah mengamati dari seberang. “baiklah, aku akan menunggu di sini dengan sabar,” Nakata mengangguk dan keluar menuju bar.
Nakata menggunakan alat komunikasi ear piece agar ia bersama Leah dapat terus berkomunikasi.
Kedua penjaga tampak terintimidasi padahal tubuh mereka juga tidak kalah besar dengan Nakata. Tanpa banyak perkataan, kedua penjaga itu membiarkan Nakata masuk. Keadaan di dalam sungguh berbeda, alunan musik membahana keras. Meja-meja diisi oleh orang-orang haus kasih sayang, menghamburkan uangnya kepada wanita yang bergoyang erotis di temani oleh tiang dihadapannya. Uang-uang diselipkan ke pakaian dalam mereka, dengan malu-malu wanita itu tergelitik ketika bagian sensitifnya terkena tekstur uang yang kasar.
Salah satu wanita mendekati Nakata, “Hai pria berbadan besar, ingin kutemani?” tanya wanita itu sambil menggoda.
“Berikan aku ruangan privat, kita bisa leluasa melakukan sesuatu di sana,” berbeda sekali dengan biasanya, demi penyamarannya berhasil maka Nakata harus berperan sebagai pria hidung belang.
“Wooohhhh, aku suka lelaki yang agresif seperti mu, rawwwrrr,” wanita itu mencubit gemas dada Nakata yang terbentuk berkat pakaiannya yang ketat karena terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya yang besar.
“Ahhh, menjijikan sekali,” Leah mendengarkan semuanya melalui alat komunikasi yang terpasang ditelinganya.
Wanita itu membawa Nakata menuju area privat, di mana para pelanggan akan dilayani dengan layanan super ekstras dan sangat erotis. Nakata memberitahu tahu Leah dengan berbisik bahwa di tempat ini banyak sekali penjaga, mereka semua menggunakan pakaian yang sama. Yaitu Jas hitam dengan corak garis ungu dibagian sampingnya. Ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke lantai dua, kondisinya di lantai itu tidak jauh berbeda dengan lantai satu ketika Nakata mengamatinya dengan seksama.
Tibalah di sebuah lorong, dengan pintu yang berjejer di samping kiri dan kanannya dengan nomor-nomor yang unik. Wanita itu tampak bingung memilih kamar untuknya dan juga Nakata menghabiskan malam ini. Jemarinya yang lentik menunjuk ke nomor 9098, lalu menarik dengan manja Nakata tuk ikut bersamanya. Selanjutnya yang bisa didengar oleh Leah adalah suara desahan dari seorang wanita, ia tidak sanggup mendengarnya hingga melepaskan alat komunikasi ditelinganya.
“Senior niat ga sih?! Malah ambil kesempatan,” Leah cemberut, lalu memalingkan kepalanya keluar jendela.
Satu jam sebelumnya, Gareth dan kapten Vela terlihat keluar dari kantor utama BASS. Gareth membawa dua buah koper berukuran besar di kedua tangannya. Sedangkan kapten Vela hanya membawa satu koper ukuran biasa.
“Akhirnya…, program yang melelahkan itu selesai sudah!”
“Kamu membawa baju prototype nya?” tanya kapten Vela
“Hehe…pak Adrian sangat baik, dia memperbolehkanku membawanya…baiklah…tinggal menunggu jemputan tiba,” dari kejauhan sebuah truk besar berwarna hitam datang. “truk?”
Ditempat lain Djohan sedang membantu Solo membawakan makanan kepada para pelanggan yang datang. Lalu ponsel di saku celananya bergetar, Djohan menaruh nampan dan mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari seniornya yaitu Sterling.
“Eh? Ada apa malam begini senior mengirimkan pesan?” Djohan membukanya, matanya membelalak ketika membacanya. Lalu dengan tergesa-gesa keluar dari bar.
“Djo---,” suara Solo tidak meraihnya. Djohan keburu keluar. “ada apa yah? Dia pergi tidak pamit seperti itu,” dengan wajah yang kecewa.
Sesaat Djohan keluar, ada seorang wanita masuk dengan wajah yang cukup bingung. Solo pun bertanya kepada wanita itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sopan.
“Hmm, anu, saya mendapatkan kartu nama ini dari seseorang. Ingin memastikan apakah saya berada di tempat yang benar atau tidak,” wanita ini memberikan kartu nama kepada Solo, tertera di sana nama tuan Stam.
“Benar…ini alamatnya yang tertera di kartu ini, ada perlu apa?”
Wajah wanita itu mendadak ceria, “Apa saya bisa bertemu dengan Djohan?” seketika Solo dan Gonzalo yang mendengarnya sedikit tercengang. Selama ini belum ada seseorang apalagi wanita berparas cantik seperti wanita ini yang secara khusus datang untuk bertemu dengan Djohan.
Quote:
Sterling dan Vivian sedang duduk-duduk sambil bersantai menunggu daftar buronannya diperbarui. Bar yang mereka tempati tidak begitu ramai, hanya ada beberapa yang sedang menenggak minumannya. Alunan musik dari pertunjukan yang dibawakan juga tidak mampu menarik banyak pengunjung. Sterling pun berucap iseng jika Solo yang mengisi acaranya sudah dipastikan tempat ini menjadi ramai. Perkataannya itu mengundang tatapan sinis dari Vivian.
Dalam ketawa canggungnya Sterling merasakan bahwa ponselnya bergetar,ia mengambilnya dari saku celana. “Hah?!” wajahnya yang terkejut membuat Vivian bertanya padanya, Sterling menjawab bahwa ada pesan email yang masuk dari Leah. “eh…ada apa, tumben sekali….,” Sterling membuka pesannya, berupa gambar mengerikan. Seseorang duduk tanpa kepala dengan mengenakan jas dengan garis ungu disampingnya. “selamat malam, apakah anda mengenali atau pernah tahu informasi tentang kriminal dengan pakaian seperti ini?” Sterling membacakan pesannya, lalu menunjukkannya kepada Vivian.
Vivian memperhatikannya dengan teliti, jas dengan motif garis ungu itu belum pernah dilihatnya. “Dari wilayahnya kah? Entahlah aku sama sekali belum pernah melihatnya,” jawab Vivian sambil menggelengkan kepalanya.
“Benar juga, kita juga jarang mampir kewilayahnya. Akan kutanyakan pada informan kita, siapa tahu ia mempunyai datanya,” jemarinya sibuk mengetikan sesuatu tuk membalas pesan email dari Leah. “hehe…,” Vivian tidak sanggup melihat partnernya bertingkah seperti itu.
Selain mengabari Leah bahwa Sterling akan mencarikan info untuknya. Ia juga mengirimkan pesan kepada informannya, berharap akan ada titik terang dari orang kepercayaan Sterling itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi informan untuk memberikan informasi kepada Sterling. Informasi itu cukup detil yang menujukkan nama, lokasi, serta kejahatan yang dilakukan.
“Pantas saja kita tidak pernah mengenalnya, mungkin Leah dan timnya juga. Mereka hanyalah penjahat kelas teri yang berhubungan dengan kejahatan tingkat rendah,” memberikan ponselnya kepada Vivian.
“Hmm,” Vivian pun membacanya dengan cepat lalu membalikan lagi ponsel milik Sterling.
“Tapi karena partner kita yang meminta, maka aku akan mengirimkannya. Semoga Leah tidak kecewa.”
Isi informasi itu menyebutkan bahwa pakaian jas dengan motif garis ungu dibagian kanannya itu merupakan pakaian khas dari orang-orang yang bernaung di bawah ‘Purple Line’. Purple Line sendiri adalah sebuah bar ekslusif yang menyediakan wanita-wanita penghibur yang memiliki tingkat kecantikan yang tinggi. Pelanggaran terberatnya hanya berkutat dengan barang-barang haram narkoba. Setidaknya seperti itu bunyi informasi yang diberikan oleh informan Sterling.
“Sebentar, jika kasus mereka hanya berkutat pada narkoba. Mengapa tim khusus seperti BASS harus turun tangan?” Sterling membuka ponselnya, mencari berita apa yang sedang ramai di wilayah sektor 13. Isinya masih sama, laporan orang hilang yang jumlahnya naik beberapa pekan belakangan. “tidak ada yang aneh, apa mungkin ada hubungannya dengan Beaters? Walaupun begitu kita tidak bisa ikut campur, semua ada bagiannya. Jika kita tidak diminta seperti waktu itu, berarti ini masalah mereka.” Sterling menutup ponselnya lalu menikmati pertunjukannya kembali.
Leah menerima pesan balasan dari Sterling berisi semua informasi yang ia butuhkan. Nama bar Purple Line cukup asing bagi Leah, karena ia dan tim sama sekali tidak pernah mengunjungi bar. Mereka hanya mengunjungi caffe saja di waktu senggang. Semua ini karena kapten Vela lebih menyukai atmosfer caffe ketimbang bar yang jauh lebih berisik. Setelah mencari informasi tentang alamat bar Purple Line, Leah memutuskan untuk langsung pergi ke sana.
Nakata melihatnya dengan tatapan tajam, khawatir tentang Leah. Karena tindakannya ini terlalu buru-buru, belum juga bekas dari Beaters yang dimusnahkannya kemarin kering tetapi ia sudah bersiap menyerbu tempat yang diduga markas Purple Line tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya itu sama saja dengan bunuh diri. Makadari itu Nakata berniat untuk menyamar sebagai pelanggan ke tempat itu, sementara Leah mengawasi dari luar. Dengan tujuan untuk mengetahui terlebih dahulu tempatnya, akses pintu masuk dan keluar, bagaimana penjagaannya, apakah semuanya memang Beaters seperti yang Leah temukan semalam atau hanya sebagian saja.
Nakata Mendekati Leah, “Semuanya lebih baik jika dilakukan dengan kepala dingin dan hati yang tenang, aku tahu perasaanmu terhadap para korban. Aku juga tidak bisa memaafkan mereka tetapi tindakan kita yang terburu-buru tanpa rencana ini bisa membuat banyak korban yang berjatuhan….,” Leah jarang sekali mendengar seniornya itu berbicara panjang lebar seperti itu. Biasanya Nakata hanya menggunakan bahasa tubuhnya saja dan sedikit sekali berbicara.
Leah pun akhirnya bisa mengerti, ia mengikuti saran Nakata untuk melihat seperti apa tempatnya terlebih dahulu. Mobil dinas mereka dipanaskan, Nakata menyetir menuju tempat yang di maksud, yaitu bar Purple Line. Jarak tempuhnya tidak terlalu lama karena masih berada dalam satu wilayah yang sama. Bar itu terletak di jalan yang banyak menyajikan hiburan malam, baik itu bar maupun casino. Distrik kehidupan malam yang liar di wilayah sektor 13. Mobil dijalankan pelan sambil mencari plang Purple Line itu. Setelah berjalan beberapa blok akhirnya Nakata dan Leah menemukannya, dari luar bangunannya tidak begitu besar.
“Ada dua orang penjaga di pintu masuknya,” Leah mengamati dari seberang. “baiklah, aku akan menunggu di sini dengan sabar,” Nakata mengangguk dan keluar menuju bar.
Nakata menggunakan alat komunikasi ear piece agar ia bersama Leah dapat terus berkomunikasi.
Kedua penjaga tampak terintimidasi padahal tubuh mereka juga tidak kalah besar dengan Nakata. Tanpa banyak perkataan, kedua penjaga itu membiarkan Nakata masuk. Keadaan di dalam sungguh berbeda, alunan musik membahana keras. Meja-meja diisi oleh orang-orang haus kasih sayang, menghamburkan uangnya kepada wanita yang bergoyang erotis di temani oleh tiang dihadapannya. Uang-uang diselipkan ke pakaian dalam mereka, dengan malu-malu wanita itu tergelitik ketika bagian sensitifnya terkena tekstur uang yang kasar.
Salah satu wanita mendekati Nakata, “Hai pria berbadan besar, ingin kutemani?” tanya wanita itu sambil menggoda.
“Berikan aku ruangan privat, kita bisa leluasa melakukan sesuatu di sana,” berbeda sekali dengan biasanya, demi penyamarannya berhasil maka Nakata harus berperan sebagai pria hidung belang.
“Wooohhhh, aku suka lelaki yang agresif seperti mu, rawwwrrr,” wanita itu mencubit gemas dada Nakata yang terbentuk berkat pakaiannya yang ketat karena terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya yang besar.
“Ahhh, menjijikan sekali,” Leah mendengarkan semuanya melalui alat komunikasi yang terpasang ditelinganya.
Wanita itu membawa Nakata menuju area privat, di mana para pelanggan akan dilayani dengan layanan super ekstras dan sangat erotis. Nakata memberitahu tahu Leah dengan berbisik bahwa di tempat ini banyak sekali penjaga, mereka semua menggunakan pakaian yang sama. Yaitu Jas hitam dengan corak garis ungu dibagian sampingnya. Ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke lantai dua, kondisinya di lantai itu tidak jauh berbeda dengan lantai satu ketika Nakata mengamatinya dengan seksama.
Tibalah di sebuah lorong, dengan pintu yang berjejer di samping kiri dan kanannya dengan nomor-nomor yang unik. Wanita itu tampak bingung memilih kamar untuknya dan juga Nakata menghabiskan malam ini. Jemarinya yang lentik menunjuk ke nomor 9098, lalu menarik dengan manja Nakata tuk ikut bersamanya. Selanjutnya yang bisa didengar oleh Leah adalah suara desahan dari seorang wanita, ia tidak sanggup mendengarnya hingga melepaskan alat komunikasi ditelinganya.
“Senior niat ga sih?! Malah ambil kesempatan,” Leah cemberut, lalu memalingkan kepalanya keluar jendela.
Satu jam sebelumnya, Gareth dan kapten Vela terlihat keluar dari kantor utama BASS. Gareth membawa dua buah koper berukuran besar di kedua tangannya. Sedangkan kapten Vela hanya membawa satu koper ukuran biasa.
“Akhirnya…, program yang melelahkan itu selesai sudah!”
“Kamu membawa baju prototype nya?” tanya kapten Vela
“Hehe…pak Adrian sangat baik, dia memperbolehkanku membawanya…baiklah…tinggal menunggu jemputan tiba,” dari kejauhan sebuah truk besar berwarna hitam datang. “truk?”
Ditempat lain Djohan sedang membantu Solo membawakan makanan kepada para pelanggan yang datang. Lalu ponsel di saku celananya bergetar, Djohan menaruh nampan dan mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari seniornya yaitu Sterling.
“Eh? Ada apa malam begini senior mengirimkan pesan?” Djohan membukanya, matanya membelalak ketika membacanya. Lalu dengan tergesa-gesa keluar dari bar.
“Djo---,” suara Solo tidak meraihnya. Djohan keburu keluar. “ada apa yah? Dia pergi tidak pamit seperti itu,” dengan wajah yang kecewa.
Sesaat Djohan keluar, ada seorang wanita masuk dengan wajah yang cukup bingung. Solo pun bertanya kepada wanita itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sopan.
“Hmm, anu, saya mendapatkan kartu nama ini dari seseorang. Ingin memastikan apakah saya berada di tempat yang benar atau tidak,” wanita ini memberikan kartu nama kepada Solo, tertera di sana nama tuan Stam.
“Benar…ini alamatnya yang tertera di kartu ini, ada perlu apa?”
Wajah wanita itu mendadak ceria, “Apa saya bisa bertemu dengan Djohan?” seketika Solo dan Gonzalo yang mendengarnya sedikit tercengang. Selama ini belum ada seseorang apalagi wanita berparas cantik seperti wanita ini yang secara khusus datang untuk bertemu dengan Djohan.
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas