- Beranda
- The Lounge
Tidak Ada Yang Sakit Jiwa Di Indonesia, Titik Atau Tanda Tanya?
...
TS
raeuki
Tidak Ada Yang Sakit Jiwa Di Indonesia, Titik Atau Tanda Tanya?
Suatu pagi sambil mencuci pakaian, ane nyetel musik cukup keras, musik ane putar di laptop pada folder Lagu Barat,Ctrl + Alt ane puter semua dengan playlist acak.
Lagu DT terputar setelah lagu Bad Lier - Imagine Dragon, yang membuat ane jadi terpikir untuk buat trit ini, setelah jemur pakaian.

Penyakit mental, penyakit yang gak kelihatan oleh mata. Tidak seperti mendiagnosa kanker atau patah kaki, di mana penyebabnya bisa dipahami dan metode pengobatannya jelas, depresi, penyakit mental lebih sulit untuk dipahami.

Banyak orang percaya bahwa masalah kesehatan mental tidak memengaruhi mereka atau orang yang mereka cintai. Terlebih siapa juga yang mau dibilang gila, atau berpenyakit mental. Soal penyakit mental, Indonesia menjadi salah satu negara yang terburuk baik pencegahan maupun penanganannya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Yang artinya satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa. Bisa saja teman kantor kita, teman kuliah, keluarga kita, atau kita sendiri punya penyakit mental. Sulit mengenal seseorang dengan masalah kesehatan mental, karena banyak orang dengan masalah kesehatan mental adalah anggota komunitas yang sangat aktif dan produktif. Indonesia jadi negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 79 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2016. Depresi yang berujung bunuh diri ini mengancam mereka yang berada di usia produktif. Di Amerika Serikat kasus bunuh diri dua kali lipat lebih banyak dari kasus pembunuhan. Bunuh diri menjadi muara bagi masalah kejiwaan yang tidak tertangani.
Apa penyebab penyakit mental?
Banyak faktor yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental. Faktor Internalseperti genetika, penyakit fisik, cedera, pengaruh kimia. Faktor Eksternal seperti trauma, riwayat pelecehan, dan riwayat keluarga. Apa pun penyebabnya, orang dengan masalah kesehatan mental bisa sembuh dan banyak yang sembuh total.
Namun di Indonesia, 96,5 persen penderita skizofrenia tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai. Artinya, kurang dari 10 persen penderita skizofrenia mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Dari jurnal kesehatan yang ane baca di ejournal2.litbang.kemkes.go.id, yang diterbitkan tahun 2018 Indonesia hanya memiliki 51 rumah sakit jiwa, yang terdiri dari 32 rumah sakit jiwa milik pemerintah dan 19 rumah sakit jiwa
milik swasta. Masih ada 7 provinsi
yang belum memiliki rumah sakit jiwa yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat.
Provinsi yang belum punya tenaga psikiater adalah Provinsi Papua Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara.
Jumlah tenaga medis khusus untuk kesehatan jiwa atau psikiatri juga masih minim. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 271 juta jiwa lebih, Indonesia hanya memiliki sekitar dua ribuan psikiater. Artinya, kalo semua orang Indonesia gila maka psikiater akan sangat merepotkan.
Wah

BPJS kesehatan juga sudah mengcover penyakit jiwa, tahun 2018 pemerintah sudah menyiapakan anggaran sebanyak 1,25 triliun untuk penyakit jiwa.
Bagaimana menurut GanSis soal penyakit jiwa di Indonesia?
Semoga saja segala penyakit baik jiwa maupun raga, bisa sembuh sehingga kita bisa menikmati kehidupan dunia, baik yang nyata ataupun yang maya.
Demikian trit ini, ane pamit undur diri.
Jejakin



Sumber : di sini, di sini, di sini
Narasi : @raeuki
Lagu DT terputar setelah lagu Bad Lier - Imagine Dragon, yang membuat ane jadi terpikir untuk buat trit ini, setelah jemur pakaian.

Penyakit mental, penyakit yang gak kelihatan oleh mata. Tidak seperti mendiagnosa kanker atau patah kaki, di mana penyebabnya bisa dipahami dan metode pengobatannya jelas, depresi, penyakit mental lebih sulit untuk dipahami.

Banyak orang percaya bahwa masalah kesehatan mental tidak memengaruhi mereka atau orang yang mereka cintai. Terlebih siapa juga yang mau dibilang gila, atau berpenyakit mental. Soal penyakit mental, Indonesia menjadi salah satu negara yang terburuk baik pencegahan maupun penanganannya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Yang artinya satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa. Bisa saja teman kantor kita, teman kuliah, keluarga kita, atau kita sendiri punya penyakit mental. Sulit mengenal seseorang dengan masalah kesehatan mental, karena banyak orang dengan masalah kesehatan mental adalah anggota komunitas yang sangat aktif dan produktif. Indonesia jadi negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 79 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2016. Depresi yang berujung bunuh diri ini mengancam mereka yang berada di usia produktif. Di Amerika Serikat kasus bunuh diri dua kali lipat lebih banyak dari kasus pembunuhan. Bunuh diri menjadi muara bagi masalah kejiwaan yang tidak tertangani.
Quote:
Apa penyebab penyakit mental?
Banyak faktor yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental. Faktor Internalseperti genetika, penyakit fisik, cedera, pengaruh kimia. Faktor Eksternal seperti trauma, riwayat pelecehan, dan riwayat keluarga. Apa pun penyebabnya, orang dengan masalah kesehatan mental bisa sembuh dan banyak yang sembuh total.
Namun di Indonesia, 96,5 persen penderita skizofrenia tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai. Artinya, kurang dari 10 persen penderita skizofrenia mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Dari jurnal kesehatan yang ane baca di ejournal2.litbang.kemkes.go.id, yang diterbitkan tahun 2018 Indonesia hanya memiliki 51 rumah sakit jiwa, yang terdiri dari 32 rumah sakit jiwa milik pemerintah dan 19 rumah sakit jiwa
milik swasta. Masih ada 7 provinsi
yang belum memiliki rumah sakit jiwa yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat.
Provinsi yang belum punya tenaga psikiater adalah Provinsi Papua Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara.
Jumlah tenaga medis khusus untuk kesehatan jiwa atau psikiatri juga masih minim. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 271 juta jiwa lebih, Indonesia hanya memiliki sekitar dua ribuan psikiater. Artinya, kalo semua orang Indonesia gila maka psikiater akan sangat merepotkan.
Wah

Quote:
BPJS kesehatan juga sudah mengcover penyakit jiwa, tahun 2018 pemerintah sudah menyiapakan anggaran sebanyak 1,25 triliun untuk penyakit jiwa.
Bagaimana menurut GanSis soal penyakit jiwa di Indonesia?
Semoga saja segala penyakit baik jiwa maupun raga, bisa sembuh sehingga kita bisa menikmati kehidupan dunia, baik yang nyata ataupun yang maya.
Demikian trit ini, ane pamit undur diri.
Jejakin



Sumber : di sini, di sini, di sini
Narasi : @raeuki
Diubah oleh raeuki 05-03-2021 17:48
andrerain5 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
2.3K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.1KAnggota
Tampilkan semua post
bingsunyata
#24
Quote:
Dan itu terjadi karena penduduknya juga terbanyak se Asia Tenggara ...
Maklum, entah itu terjadi karena kondom bocor atau karena program KB gagal ...
Itu (jumlah penduduk) kemudian bisa menyebabkan timbulnya berbagai masalah seperti pengangguran, tingginya biaya hidup, dan kemudian menyebabkan beban berlebih tak tertanggungkan pada pikiran beberapa orang dan kemudian menyebabkan mereka stress-depresi karenanya.
Entah apakah itu terkait dengan "konstruksi" otak orang yang bersangkutan ... ===> Terkait menanggung beban ...
Tapi satu hal yang jelas mengenai itu (beban hidup) ...
Persepsi kita mengenainya ... Dimana itu merupakan hak prerogatif pada diri manusia bersangkutan.
Apakah kita memilih untuk memandangnya sebagai suatu "siksaan" yang kemudian karena keengganan kita untuk merasakannya, terjadi konflik batin dan kemudian kita dapat merasa sakit karenanya.
Atau kita memilih untuk memandangnya sebagai sesuatu "sebagaimana adanya", terkait sikon yang ada, yang mana kita kemudian bisa memilih untuk berdamai dengannya.
"Kita tidak terlahir sebagai anak orang kaya", "untuk bisa hidup sehari-harinya kita harus bekerja keras untuk itu", "dalam proses kerja keras itu banyak sekali masalah yang harus kita hadapi", dan semacamnya.
"Dealing with it, one at a time", "life is a journey, one step at a time", etc...
Multi-tasking tidaklah berarti atau diartikan bahwa kita harus mengerjakan atau mengemban semuanya secara bersamaan. One thing at a time, sebagaimana kita memakai baju yang berbeda untuk setiap sikon yang berbeda. Apakah itu akan memberatkan diri kita, sebagaimana bila kita memakai semua baju yang ada ?

Disini kita kemudian bicara mengenai timing, membagi/manajemen waktu, prioritas-urgensi dan semacamnya ...
...
Kecuali mungkin kalau "gila" karena cinta ...

------------------------------------------------------------------------
Kalau terkait "memakai baju yang berbeda" itu dianggap "human made kind of wisdom", sehingga dianggap kurang "berbobot" ...
Mungkin kita bisa belajar kepada "mother earth",
dengan "pergantian musim"-nya .., yang membuat suatu ketika ia tampak mengenaikan pakaian berwarna putih, dan ketika lain mungkin tampak mengenakan pakaian dengan warna yang berbeda. Is it a matters of human perceptive ? Or is it naturally how the way it is ?

Diubah oleh bingsunyata 06-03-2021 15:20
raeuki memberi reputasi
1
Tutup

