- Beranda
- Stories from the Heart
My Heroine
...
TS
sayyess...
My Heroine
My Heroine

Quote:
Quote:
=========
Masa SMA merupakan masa paling indah karena masa tersebut adalah masa pertemanan dan masa percintaan yang penuh kisah, begitu pun dengan diriku yang tak luput dari masa masa indah tersebut.....
Banyak cerita yang telah kulalui dari suka maupun duka, dari awalnya belum kenal hingga menjadi kenal...
Kisah ku pun dimulai saat aku berusia 17 tahun dari anak pendiam yang tidak memperdulikan apa itu cinta hingga menjadi seorang yang mengenal dunia kegelapan...
Quote:
Versi revisi dari Wattpad
Diubah oleh sayyess... 02-01-2022 21:38
hibernateInPain dan 8 lainnya memberi reputasi
9
2.4K
17
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
sayyess...
#1
Part 1 : Awal Mula
Yosh, perkenalkan nama ku Arkhana biasa dipanggil Arka. Aku berusia 17 tahun masih bersekolah di sebuah SMK Jurusan Peternakan Ruminansia kelas 11. Aku tinggal di sebuah pulau borneo tepatnya di Kalimantan Barat.
Aku memiliki seorang adik bernama Arshanti yang merupakan kembaranku, sesuai dengan namanya adik ku ini merupakan seorang perempuan. Arshanti satu sekolah dengan ku tapi beda jurusan, adik ku memilih jurusan hortikultura.
Ayah kami bekerja di sebuah perusahaan sawit disalah satu daerah di Kalimantan barat, sedangkan ibu kami merupakan seorang petani dan kami tinggal di sebuah rumah sederhana beratap seng berlantai papan dengan ukuran 4×6.
.....
Tepatnya di hari senin , seluruh siswa berbaris untuk mengikuti kegiatan rutinitas upacara bendera, aku berdiri paling depan karena badanku lebih tinggi dari teman satu kelasku, sekitar satu setengah jam mengikuti upacara, akhirnya seluruh siswa bubar untuk ke kelas nya masing-masing. Aku berjalan menuju ke kelas tiba-tiba Arshanti memanggilku.
"Bang Khana." Khana merupakan panggilan sayang, Arsha ke aku ( menurutku, ngak tau kalo Arshanya hehe).
Aku berbalik badan dan menghadap Arsha, Arsha merupakan panggilannya sehari - hari.
Arsha berjalan mendekatiku dengan ekspresi sumringah.
"Wah, lagi senang nih nampaknya?"
"Hehe, iya dong."
"Emangnya ada apa kok senang banget."
"Gini bang, Arsha ditembak sama Ketua Osis hehe." lagi - lagi ia bersumringah.
"Ekh, ditembak kok senang. Bukannya ketakutan." candaku ke dia.
"Ih, abang mah. Maksudnya bukan ditembak pake pistol. Maksudnya ketua osis tu menyatakan perasaanya ke Shanti kalo dia suka sama Shanti dan pengen jadi pacar Shanti gitu."Jelasnya dengan nada serius
"Oooohhh, gitu. Terus kamu mau jadi pacarnya Boy (Ketua Osis)?" tanyaku.
"Ya pasti maulah, Ketua Osis kan ganteng berprestasi dan jago main bola. Ngak kayak abang, kurus tinggi, kulit hitam, bodo lagi dan tau nya cuma main game mulu. Jauh bedalah pokoknya sama Ketua Osis" ujarnya lalu tersenyum.
Ya, aku tau sebenarnya dia itu cuma bercanda yang terlihat jelas dari wajahnya.
"Abangnya sendiri kok dihina, gini - gini abang hitam manis loh." ucapku sembari senyum sok manis kearahnya.
"Iya dah, oiya Arsha mau ke kelas dulu ya." ujarnya lalu berjalan menuju ke kelas sambil senyum - senyum sendiri
"WOYY, NGAK USAH SENYUM - SENYUM SENDIRI, NANTI DIKIRA ORANG GILA." teriakku lalu menggelengkan kepala saat ia tersenyum aneh ke arahku.
Lalu aku melanjutkan berjalan menuju ke kelas, sesampainya di kelas kulihat seluruh temanku udah duduk di tempatnya masing - masing. Aku berjalan ke arah kursi paling belakang yang merupakan tempat dudukku, saat di pertengahan jalan seorang cewek berlari melewatiku dan duduk di tempat yang biasanya kududuki. Langkah kaki kupercepat lalu berdiri disampingnya.
"Woy, kok lu duduk ditempat gw minggir minggir." perintahku.
Tapi wanita yang tidak kukenal tersebut tetap duduk dan menghiraukan perkataanku. Mukaku mendekat ke arah telinga dan saat mau aba - aba berteriak, wanita itu langsung memukul kepalaku dengan buku.
"Aduuh, sakit bego." ujarku sambil mengelus kepala untuk menghilangkan rasa sakit yang tadi dipukulnya.
"Hahaha, rasain dasar cowok mesum." ucapnya yang merasa puas setelah memukul kepalaku.
"Sialan lu, siapa juga yang mesum, oi cepat pindah ini tempat duduk gw." ucapku yang masih berdiri disampingnya.
"Oi oi lu ni, gw punya nama kalik."
"Oiya nama lu sapa sih, kok baru lihat" tanyaku langsung, lalu duduk di atas meja.
Dia menjulurkan tangan lalu aku pun menjulurkan tangan dan kami bersalaman
"Perkenalkan nama gw Imell, gw murid baru disini. Gw dari kota S"
"Wah jauh juga ya, dari sini. Kok lu pindah kesini." tanya ku
"Gini, bapak gw kan lagi pindah kerja disini."
"Bapak lu sapa??"
"Pak Deden kepala sekolah baru." jawab Imell.
"Wah, ternyata anak kepsek. Pantesan lu seenaknya duduk ditempat gw."
"Ngaklah, gw kira tempat ini kosong jadi gw duduk aja disini"
"Kok tadi lo lari lari kayak dikejar satpam."
"Ish, lu kira gw maling. Tadi tu gw cepat - cepat, masuk ke kelas supaya ngak telat masuk pertama sekolah." jelasnya, mungkin agak kesal.
"Ooohh, gitu. Kalo begitu minggir dululah ini kan tempat gw."
"Ngak mau ah, disini enak duduknya apalagi dekat jendela bisa lihat bunga. Lu cari tempat duduk yang lainlah, lu kan cowok harus ngalah sama cewek dong."
"Idih, lu sapa ? gw harus ngalah dan seluruh tempat duduk pun udah penuh."
"Hmm, gimana kalo kita sama - sama aja di satu tempat duduk hehe."
"Gila lu ya, mana muat satu kursi"
"Terus gimana dong."
Aku berpikir hingga satu ide terlintas dikepalaku.
"Gimana kalo lo duduk dilantai aja sedangkan gw duduk ditempat gw."
"Wah, parah lu. Masa' disuruh duduk di lantai, emangnya ngak tega lu lihat gw yang cantik gini duduk di lantai."
"Mana gw peduli, yang duduk di lantai kan lo bukan gw."
"Dahlah, gw mau keluar dulu mau cari meja sama kursi." ucapnya dengan pasrah.
Imell langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju keluar kelas. Aku langsung duduk dan menyimpan tas di laci. Sekitar 10 menit seorang guru masuk ke kelas dan aku masih belum lihat Imell kembali ke kelas. Guru tersebut bernama Pak Asep yang merupakan wali kelas kami, Pak asep berdiri didepan sambil melirik ke arah kami seperti mencari seseorang.
"Apa tadi seorang siswi datang ke kelas ini." tanya Pak Asep ke arah kami satu kelas.
Pikiranku langsung tertuju ke Imell, dan aku lihat seluruh teman satu kelasku melihat ke arahku.
"Kok, lihat nya ke gw sih." tanyaku agak heran.
"Arkhana, apa kamu lihat seorang siswi baru kesini." Pak Asep kembali bertanya tapi pertanyaannya mengarah ke arahku
"Tadi saya lihat pak, tapi sekarang saya ngak tau kemana tu anak. Katanya tadi sih mau mencari meja sama kursi sampe sekarang ngak balik - balik ke kelas." jawabku dengan jelas.
"Arkhana bisa kamu cari dia, takutnya dia tersesat." perintah pak asep
Sekolah ku terbilang cukup besar karena terdapat 3 jurusan, yaitu Peternakan, Perkebunan dan Hortikultura. Tiap jurusan terdapat 2 kelas, kecuali peternakan hanya memiliki 1 kelas karena jurusannya kurang diminati. Aku keluar dari kelas, lalu berjalan menuju ke tiap kelas takutnya Imell salah kelas.
Aku bertanya ke tiap murid maupun guru yang kujumpai dengan memberitahu ciri-ciri badannya Imell, tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu pun yang ketemu ataupun kenal sama Imell. Setelah itu, aku berjalan menuju ke kandang kambing, sapi, kebun sawit, kopi, sawah, kebun buah dan seluruh tempat di sekolahan aku tetap ngak ketemu sama Imell.
Sampe akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas karena sebentar lagi jam istirahat. Saat berjalan menuju ke kelas, tiba - tiba aku teringat suatu tempat yang belum kudatangi, segera aku balik menuju ke suatu tempat. Sesampai ditempat tersebut terlihat sebuah kandang cukup lebar yang tertulis Oryctolagus Cuniculus yang merupakan nama latin kelinci.
Aku pun masuk ke dalam kandang, saat dimuka pintu banyak kelinci berlarian mendekatiku karena mereka sudah akrab dengan, dikarenakan aku sering kesini untuk memberi makan ke kelinci - kelinci tersebut.
"Yah, kok pada belarian sih."
Terdengar suara wanita yang baru aku dengar tadi pagi, mataku mengarah ke arah suara tersebut. Terlihat seorang wanita membelakangiku yang mengendong seekor kelinci, wanita tersebut tidak lain adalah Imell.
"Woy, lu ngapain disini bukannya lu lagi cari tempat duduk ya." tanyaku.
Imell spontan langsung terkejut dan melemparkan kelinci ke atas, dengan cepat aku berlari untuk menyambut kelinci yang dilemparnya dan berhasil kutangkap kelinci itu.
"Wah, parah lu. Kelinci imut gini dilempar."
Wulan mendekatiku lalu mencubit lenganku hingga terasa sakit yang maha dahsyat.
"Awww, sakit bego." tangan kiriku memegang kelinci dan tangan kananku melepaskan cubitan Imell.
"Salah sendiri ngagetin gw, kalo gw jantungan gimana?"
"Hahaha, lebay lu pake jantungan segala."
"Ihhh." tanganya kembali mencubit lenganku dengan cepat tangan kananku memegang tangannya untuk menghindari cubitannya, tiba-tiba kaki kanannya menendang kaki kiriku
"Hahaha, tendangan macam apa itu ngak ada rasa sakitnya." ejekku sambil tertawa
"Ohh, ngk sakit ya." ucap Imell dengan ekspresi psikopat yang sering kutonton di tv. Ya, kurang lebih gitulah.
Tanpa kusadari kaki kirinya menendang sebuah benda yang sangat berharga bagiku, hingga aku terduduk dan susah mau bernapas. Kelinci yang kupegang terlepas, kedua tanganku langsung memegang benda tersebut, coba untuk menahan rasa sakit.
"Sii...sii..siiaall luu." ujarku yang masih menahan rasa sakit.
"Hahaahaha, rasain lu kena jurus rahasia betina."ujarnya sambil tertawa puas.
Aku terbaring lemah ke lantai yang udah ngak peduli kotor terkena kotoran kelinci, aku pejamkan mataku dan mencoba mengatur frekuensi napas.
"Lu ngak apa apa kan." tanyanya, kali ini dengan nada cemas.
Aku hanya terdiam tanpa membalas ucapan nya Imell. Sekitar 5 menit aku memejamkan mata, terasa didadaku ditekan oleh 2 buah tangan lalu kubuka mata dan melihat muka Imell dengan ekspresi cemas. Aku hanya tersenyum simpul apa yang dilakukannya.
"Woy, kok lo tekan dada gw. Kayak gw tenggelam aja." ucapku yang udah agak mendingan.
"Lu udah sadar ya, syukurlah. Soal gw ngak tau harus ngapain ya gw tekan aja dada lu kayak di film - film."
"Oh, kayak di film - film ya. Coba dong kasih gw napas buatan kan di film film kayak gitu" godaku
"Mesum lu, mau gw tendang lagi tuh punya lu."
"Ngak ngak, cukup sekali aja lu tendang punya gw."
"Makanya jangan mesum, oiya lu bisa bangkit kagak. Kalo kagak bisa gw bantu bangkit."
"Gw ngak bisa bangkit, masih sakit nih ngak usah bantu nanti tambah sakit." ucapku bohong yang sebenarnya udah mulai menghilang rasa sakitnya.
"Sakit banget ya, gw jadi kasian ama lu. Yaudah deh sebagai permintaan maaf gw, gw disini aja nungguin lu." ujarnya dengan muka bersalah.
Mataku terasa berat dan perlahan - lahan mulai tertutup.
Terdengar suara jangkrik. Seketika mataku terbuka terlihat kegelapan menyelimuti kandang. Saat aku ingin bangkit terasa menimpa didadaku, cb kuraba terasa kulit halus. Dan aku mengambil hp di saku celana kemudian menghidupkan senter. Terlihat muka Imell yang disinari cahaya senter.
Aku hanya tersenyum melihat Imell. Kulepaskan seragam sekolah, kini aku hanya memakai kaos oblong dan kubuat seperti bantal dari seragam sekolah tersebut. Lalu kuangkat kepala Imell, kemudian kuletakkan kepalanya ke bantal buatan tadi. Aku bangkit dan berjalan menuju ke saklar lampu, PLEKK... lampu kandang pun hidup saat kulihat jam di hp ternyata sudah jam delapan malam. Aku berjalan ke arah Imell dan duduk disampingnya ditemani kelinci - kelinci yang juga duduk untuk menghilangi rasa lelah mereka, setelah beraktifitas tadi siang.
"Ternyata lu cantik juga ya, kalo lagi tidur." gumamku.
Aku memiliki seorang adik bernama Arshanti yang merupakan kembaranku, sesuai dengan namanya adik ku ini merupakan seorang perempuan. Arshanti satu sekolah dengan ku tapi beda jurusan, adik ku memilih jurusan hortikultura.
Ayah kami bekerja di sebuah perusahaan sawit disalah satu daerah di Kalimantan barat, sedangkan ibu kami merupakan seorang petani dan kami tinggal di sebuah rumah sederhana beratap seng berlantai papan dengan ukuran 4×6.
.....
Tepatnya di hari senin , seluruh siswa berbaris untuk mengikuti kegiatan rutinitas upacara bendera, aku berdiri paling depan karena badanku lebih tinggi dari teman satu kelasku, sekitar satu setengah jam mengikuti upacara, akhirnya seluruh siswa bubar untuk ke kelas nya masing-masing. Aku berjalan menuju ke kelas tiba-tiba Arshanti memanggilku.
"Bang Khana." Khana merupakan panggilan sayang, Arsha ke aku ( menurutku, ngak tau kalo Arshanya hehe).
Aku berbalik badan dan menghadap Arsha, Arsha merupakan panggilannya sehari - hari.
Arsha berjalan mendekatiku dengan ekspresi sumringah.
"Wah, lagi senang nih nampaknya?"
"Hehe, iya dong."
"Emangnya ada apa kok senang banget."
"Gini bang, Arsha ditembak sama Ketua Osis hehe." lagi - lagi ia bersumringah.
"Ekh, ditembak kok senang. Bukannya ketakutan." candaku ke dia.
"Ih, abang mah. Maksudnya bukan ditembak pake pistol. Maksudnya ketua osis tu menyatakan perasaanya ke Shanti kalo dia suka sama Shanti dan pengen jadi pacar Shanti gitu."Jelasnya dengan nada serius
"Oooohhh, gitu. Terus kamu mau jadi pacarnya Boy (Ketua Osis)?" tanyaku.
"Ya pasti maulah, Ketua Osis kan ganteng berprestasi dan jago main bola. Ngak kayak abang, kurus tinggi, kulit hitam, bodo lagi dan tau nya cuma main game mulu. Jauh bedalah pokoknya sama Ketua Osis" ujarnya lalu tersenyum.
Ya, aku tau sebenarnya dia itu cuma bercanda yang terlihat jelas dari wajahnya.
"Abangnya sendiri kok dihina, gini - gini abang hitam manis loh." ucapku sembari senyum sok manis kearahnya.
"Iya dah, oiya Arsha mau ke kelas dulu ya." ujarnya lalu berjalan menuju ke kelas sambil senyum - senyum sendiri
"WOYY, NGAK USAH SENYUM - SENYUM SENDIRI, NANTI DIKIRA ORANG GILA." teriakku lalu menggelengkan kepala saat ia tersenyum aneh ke arahku.
Lalu aku melanjutkan berjalan menuju ke kelas, sesampainya di kelas kulihat seluruh temanku udah duduk di tempatnya masing - masing. Aku berjalan ke arah kursi paling belakang yang merupakan tempat dudukku, saat di pertengahan jalan seorang cewek berlari melewatiku dan duduk di tempat yang biasanya kududuki. Langkah kaki kupercepat lalu berdiri disampingnya.
"Woy, kok lu duduk ditempat gw minggir minggir." perintahku.
Tapi wanita yang tidak kukenal tersebut tetap duduk dan menghiraukan perkataanku. Mukaku mendekat ke arah telinga dan saat mau aba - aba berteriak, wanita itu langsung memukul kepalaku dengan buku.
"Aduuh, sakit bego." ujarku sambil mengelus kepala untuk menghilangkan rasa sakit yang tadi dipukulnya.
"Hahaha, rasain dasar cowok mesum." ucapnya yang merasa puas setelah memukul kepalaku.
"Sialan lu, siapa juga yang mesum, oi cepat pindah ini tempat duduk gw." ucapku yang masih berdiri disampingnya.
"Oi oi lu ni, gw punya nama kalik."
"Oiya nama lu sapa sih, kok baru lihat" tanyaku langsung, lalu duduk di atas meja.
Dia menjulurkan tangan lalu aku pun menjulurkan tangan dan kami bersalaman
"Perkenalkan nama gw Imell, gw murid baru disini. Gw dari kota S"
"Wah jauh juga ya, dari sini. Kok lu pindah kesini." tanya ku
"Gini, bapak gw kan lagi pindah kerja disini."
"Bapak lu sapa??"
"Pak Deden kepala sekolah baru." jawab Imell.
"Wah, ternyata anak kepsek. Pantesan lu seenaknya duduk ditempat gw."
"Ngaklah, gw kira tempat ini kosong jadi gw duduk aja disini"
"Kok tadi lo lari lari kayak dikejar satpam."
"Ish, lu kira gw maling. Tadi tu gw cepat - cepat, masuk ke kelas supaya ngak telat masuk pertama sekolah." jelasnya, mungkin agak kesal.
"Ooohh, gitu. Kalo begitu minggir dululah ini kan tempat gw."
"Ngak mau ah, disini enak duduknya apalagi dekat jendela bisa lihat bunga. Lu cari tempat duduk yang lainlah, lu kan cowok harus ngalah sama cewek dong."
"Idih, lu sapa ? gw harus ngalah dan seluruh tempat duduk pun udah penuh."
"Hmm, gimana kalo kita sama - sama aja di satu tempat duduk hehe."
"Gila lu ya, mana muat satu kursi"
"Terus gimana dong."
Aku berpikir hingga satu ide terlintas dikepalaku.
"Gimana kalo lo duduk dilantai aja sedangkan gw duduk ditempat gw."
"Wah, parah lu. Masa' disuruh duduk di lantai, emangnya ngak tega lu lihat gw yang cantik gini duduk di lantai."
"Mana gw peduli, yang duduk di lantai kan lo bukan gw."
"Dahlah, gw mau keluar dulu mau cari meja sama kursi." ucapnya dengan pasrah.
Imell langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju keluar kelas. Aku langsung duduk dan menyimpan tas di laci. Sekitar 10 menit seorang guru masuk ke kelas dan aku masih belum lihat Imell kembali ke kelas. Guru tersebut bernama Pak Asep yang merupakan wali kelas kami, Pak asep berdiri didepan sambil melirik ke arah kami seperti mencari seseorang.
"Apa tadi seorang siswi datang ke kelas ini." tanya Pak Asep ke arah kami satu kelas.
Pikiranku langsung tertuju ke Imell, dan aku lihat seluruh teman satu kelasku melihat ke arahku.
"Kok, lihat nya ke gw sih." tanyaku agak heran.
"Arkhana, apa kamu lihat seorang siswi baru kesini." Pak Asep kembali bertanya tapi pertanyaannya mengarah ke arahku
"Tadi saya lihat pak, tapi sekarang saya ngak tau kemana tu anak. Katanya tadi sih mau mencari meja sama kursi sampe sekarang ngak balik - balik ke kelas." jawabku dengan jelas.
"Arkhana bisa kamu cari dia, takutnya dia tersesat." perintah pak asep
Sekolah ku terbilang cukup besar karena terdapat 3 jurusan, yaitu Peternakan, Perkebunan dan Hortikultura. Tiap jurusan terdapat 2 kelas, kecuali peternakan hanya memiliki 1 kelas karena jurusannya kurang diminati. Aku keluar dari kelas, lalu berjalan menuju ke tiap kelas takutnya Imell salah kelas.
Aku bertanya ke tiap murid maupun guru yang kujumpai dengan memberitahu ciri-ciri badannya Imell, tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu pun yang ketemu ataupun kenal sama Imell. Setelah itu, aku berjalan menuju ke kandang kambing, sapi, kebun sawit, kopi, sawah, kebun buah dan seluruh tempat di sekolahan aku tetap ngak ketemu sama Imell.
Sampe akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas karena sebentar lagi jam istirahat. Saat berjalan menuju ke kelas, tiba - tiba aku teringat suatu tempat yang belum kudatangi, segera aku balik menuju ke suatu tempat. Sesampai ditempat tersebut terlihat sebuah kandang cukup lebar yang tertulis Oryctolagus Cuniculus yang merupakan nama latin kelinci.
Aku pun masuk ke dalam kandang, saat dimuka pintu banyak kelinci berlarian mendekatiku karena mereka sudah akrab dengan, dikarenakan aku sering kesini untuk memberi makan ke kelinci - kelinci tersebut.
"Yah, kok pada belarian sih."
Terdengar suara wanita yang baru aku dengar tadi pagi, mataku mengarah ke arah suara tersebut. Terlihat seorang wanita membelakangiku yang mengendong seekor kelinci, wanita tersebut tidak lain adalah Imell.
"Woy, lu ngapain disini bukannya lu lagi cari tempat duduk ya." tanyaku.
Imell spontan langsung terkejut dan melemparkan kelinci ke atas, dengan cepat aku berlari untuk menyambut kelinci yang dilemparnya dan berhasil kutangkap kelinci itu.
"Wah, parah lu. Kelinci imut gini dilempar."
Wulan mendekatiku lalu mencubit lenganku hingga terasa sakit yang maha dahsyat.
"Awww, sakit bego." tangan kiriku memegang kelinci dan tangan kananku melepaskan cubitan Imell.
"Salah sendiri ngagetin gw, kalo gw jantungan gimana?"
"Hahaha, lebay lu pake jantungan segala."
"Ihhh." tanganya kembali mencubit lenganku dengan cepat tangan kananku memegang tangannya untuk menghindari cubitannya, tiba-tiba kaki kanannya menendang kaki kiriku
"Hahaha, tendangan macam apa itu ngak ada rasa sakitnya." ejekku sambil tertawa
"Ohh, ngk sakit ya." ucap Imell dengan ekspresi psikopat yang sering kutonton di tv. Ya, kurang lebih gitulah.
Tanpa kusadari kaki kirinya menendang sebuah benda yang sangat berharga bagiku, hingga aku terduduk dan susah mau bernapas. Kelinci yang kupegang terlepas, kedua tanganku langsung memegang benda tersebut, coba untuk menahan rasa sakit.
"Sii...sii..siiaall luu." ujarku yang masih menahan rasa sakit.
"Hahaahaha, rasain lu kena jurus rahasia betina."ujarnya sambil tertawa puas.
Aku terbaring lemah ke lantai yang udah ngak peduli kotor terkena kotoran kelinci, aku pejamkan mataku dan mencoba mengatur frekuensi napas.
"Lu ngak apa apa kan." tanyanya, kali ini dengan nada cemas.
Aku hanya terdiam tanpa membalas ucapan nya Imell. Sekitar 5 menit aku memejamkan mata, terasa didadaku ditekan oleh 2 buah tangan lalu kubuka mata dan melihat muka Imell dengan ekspresi cemas. Aku hanya tersenyum simpul apa yang dilakukannya.
"Woy, kok lo tekan dada gw. Kayak gw tenggelam aja." ucapku yang udah agak mendingan.
"Lu udah sadar ya, syukurlah. Soal gw ngak tau harus ngapain ya gw tekan aja dada lu kayak di film - film."
"Oh, kayak di film - film ya. Coba dong kasih gw napas buatan kan di film film kayak gitu" godaku
"Mesum lu, mau gw tendang lagi tuh punya lu."
"Ngak ngak, cukup sekali aja lu tendang punya gw."
"Makanya jangan mesum, oiya lu bisa bangkit kagak. Kalo kagak bisa gw bantu bangkit."
"Gw ngak bisa bangkit, masih sakit nih ngak usah bantu nanti tambah sakit." ucapku bohong yang sebenarnya udah mulai menghilang rasa sakitnya.
"Sakit banget ya, gw jadi kasian ama lu. Yaudah deh sebagai permintaan maaf gw, gw disini aja nungguin lu." ujarnya dengan muka bersalah.
Mataku terasa berat dan perlahan - lahan mulai tertutup.
Terdengar suara jangkrik. Seketika mataku terbuka terlihat kegelapan menyelimuti kandang. Saat aku ingin bangkit terasa menimpa didadaku, cb kuraba terasa kulit halus. Dan aku mengambil hp di saku celana kemudian menghidupkan senter. Terlihat muka Imell yang disinari cahaya senter.
Aku hanya tersenyum melihat Imell. Kulepaskan seragam sekolah, kini aku hanya memakai kaos oblong dan kubuat seperti bantal dari seragam sekolah tersebut. Lalu kuangkat kepala Imell, kemudian kuletakkan kepalanya ke bantal buatan tadi. Aku bangkit dan berjalan menuju ke saklar lampu, PLEKK... lampu kandang pun hidup saat kulihat jam di hp ternyata sudah jam delapan malam. Aku berjalan ke arah Imell dan duduk disampingnya ditemani kelinci - kelinci yang juga duduk untuk menghilangi rasa lelah mereka, setelah beraktifitas tadi siang.
"Ternyata lu cantik juga ya, kalo lagi tidur." gumamku.
Diubah oleh sayyess... 30-12-2021 21:49
mungka dan 3 lainnya memberi reputasi
4