- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#74
Chapter 51
Para anggota BASS yang mengikuti pelatihan Mechanism memasuki babak baru dalam tahap pelatihan mereka. Semuanya dibawa ke ruangan baru lagi, sudah dilengkapi dengan armor suit. Adrian membawa para anggota ke ruangan senjata, di sini dipamerkan berbagai senjata yang nantinya akan dipakai. Baik berbentuk senjata api maupun senjata pertarungan tangan dipamerkan, mereka memiliki warna yang sejenis, yaitu hitam dan juga abu. Selaras dengan baju tempur yang kini dipakai.
“Ini nantinya senjata yang akan kalian pakai, sama seperti armor suit. Senjata-senjata ini juga perlu dites kemampuannya, barulah akan disempurnakan dari data yang didapatkan dari hasil latihan kalian, sehingga penggunaan racun Beaters dapat ditekan karena membutuhkan biaya yang cukup besar tuk membuat bahan bakunya,” Adrian meminta staf untuk memberikan masing-masing satu buah senjata api berbentuk rifle dengan moncong yang lebih lebar dari biasanya.
“senjata inilah yang akan menjadi basic, menggantikan pistol yang biasanya kalian bawa,” lagi-lagi dinding terbuka, dan sebuah lapangan besar lagi-lagi terlihat.
Tempat bawah tanah yang berada di pusat komando BASS menyimpan banyak ruangan-ruangan besar seperti ini. Padahal BASS sendiri baru berdiri sekitar 10 tahun lalu, tetapi sudah memiliki fasilitas yang mumpuni seperti ini yang dijadikan sebagai tempat pembuatan dan pengetesan senjata. Dalam ruangan pengetesan senjata, dimunculkan patung-patung dari bahan manekin yang muncul dari bawahnya. Para anggota mencoba untuk menembaknya sesuai sasaran. Latihan ini seperti mengolok-ngolok para anggota BASS, memakai senjata api bukanlah pekerjaan sulit. Kemampuan itu sudah terlatih selama bertahun-tahun.
“Eh…menembak target, bukanlah hal sulit,” Davies mengeker targetnya. “kena kau---,” badan Davies terpelanting saat ia menekan pelatuknya. Lalu sebuah energi besar keluar dari ujung moncong senjata, tidka mengenai sasaran tetapi daya hancur yang diberikannya sungguh kuat sampai menghasilkan ledakan.
Tentunya hal ini sangat mengejutkan para anggota BASS, Adrian hanya tersenyum melihatnya. Padahal ia sendiri belum menjelaskannya, tetapi Davies sudah memulai lebih dulu.
“Tenanglah sebentar, saya sendiri bahkan belum memberitahu apa isi dari senjata itu,” Adrian memberikan tangannya, menarik Davies untuk bangun.
Senjata api berjenis rifle itu memang didesain khusus dan juga memiliki amunisi yang berbeda. Tidak menggunakan amunisi konvensional seperti peluru api biasa, tetapi menggunakan energi yang dihasilkan oleh senjata itu sendiri. Program Mechanism ini memang dipenuhi oleh senjata dan perlengkapan dengan teknologi yang canggih.
“Bentuknya seperti Rifle biasa, tetapi didalamnya sudah ditanamkan teknologi canggih. Sama seperti baju tempurnya, senjata ini mengeluarkan energi-energi yang berkekuatan tinggi. Kekuatannya setara dengan kekuatan petir. Sehingga perlu diuji coba, seberapa banyak tembakan energi itu yang berhasil dikeluarkan. Apakah dayanya akan habis terlebih dahulu apa senjatanya yang meledak duluan.”
Setelah diberikan arahan, para anggota bersiap. Latihan fisik yang mereka telah lalui akan diuji kembali hari ini. Manekin mulai bermunculan, para anggota menembaknya. Masih begitu sulit mengendalikan senjata ini, banyak dari mereka yang tidak tepat sasaran. Ataupun tubuhnya terpental kebelakang. Dari mereka semua, Paul lah yang paling payah. Meskipun ia mampu menahan efek kejutnya, tetapi tembakannya selalu melenceng.
Adrian mengamatinya dari ruang kontrol di lantai 2, dilihat dari datanya Paul merupakan anggota dari sektor 8. Di mana para anggota di sana sudah terbiasa memakai senjata tuk pertarungan jarak dekat, terutama menggunakan katana. Saat pengetesan armor suit juga Paul lebih sering menggunakan pelontar dikakinya dibandingan di bagian tangan.
Pintu ruangan kontrol terbuka, Silva masuk dengan buru-buru. Nafasnya terengah-engah lalu meminta maaf kepada Adrian atasannya karena datang terlambat. Banyak data yang harus diolah bersama timnya yang membuat dirinya kelelahan dan tertidur sampai telat tuk bangun dan mengikuti tahapan ini dari awal. Adrian tidak terlalu mempermasalahkan, toh nantinya data dari sini akan diberikan pada Silva melalui stafnya.
“Coba kamu lihat anak muda itu,” tanya Adrian.
“Yang mana pak?” Silva mengkurucutkan pandangannya.
“Paul, dari tim 8. Tembakannya selalu meleset.”
“Hmm, bukankah tim 8 itu identik dengan katana? Mungkin karena sering menggunakan katana dibandingkan senjata api, maka dirinya menjadi kaku seperti itu.”
“Memang, tapi setidaknya mereka di tim 8 harus bisa beradaptasi dengan teknologi ini jika ingin selamat.”
Pengetesan tahap awal pun selesai, senjata rifle yang digunakan sudah mengeluarkan asap dari moncongnya dan pelatuknya menjadi keras. Hanya delapan tembakan maksimal yang bisa dikeluarkan, tentunya hasil ini sangat mengecewakan. Kapten Vela menjadi yang teratas dalam pelatihan ini disusul oleh Sherlee yang secara mengejutkan dapat menggunakan rifle dengan baik.
Para staf mengambil semua senjata rifle itu dan membawanya keluar. Adrian dan Silva sudah turun dan menghampiri para anggota BASS. Meminta pendapatnya tentang senjata model baru itu. Kesimpulan yang didapat bobotnya terlalu ringan sedangkan energi yang dikeluarkan terlalu besar, sehingga tidak dapat menahan beban yang dipikul. Adrian mencatat semua itu untuk dijadikan bahan evaluasi.
Pengetesan terus berlanjut, sekarang diperkenalkan senjata jarak dekat seperti belati, katana, kampak dan senjata tajam lainnya. Mata Paul berbinar ketika melihat sebuah katana, ia memegangnya. Bentuknya tidak futuristic seperti model senjata api barusan. Semua terlihat original, hanya sebuah lapisan luar yang sedikit menyolok mata para anggota. Silva menjelaskannya kali ini, lapisan luar itu berfungsi untuk mengeluarkan efek panas sinar laser.
Silva mengambil salah satunya, berjenis belati yang biasa Gareth pakai dalam misi. Ketika bagian bawahnya ditekan, bagian paling luar senjata itu mengeluarkan cahaya yang mulai naik dari bawah pegangan hingga melapisi bagian tajamnya. Silva mengenalkan ini sebagai teknologi ‘Laser Heat’, mengadaptasi teknologi laser yang dapat memotong berbagai macam benda. Lalu ia mendemonstrasikannya dengan maneki yang muncul dari tanah di lapangan tempat pengetesan.
“Yahhh!” teknik yang digunakan Silva cukup baik meskipun ia bukanlah anggota BASS lapangan. Manekin yang ditebasnya langsung terpotong dengan sangat rapih, cahaya berwarna oranye muncul dibekas tebasan. Menandakan bahwa senjata ini memiliki panas yang cukup untuk memotong segalanya.
Latihan menggunakan senjata laser heat dimulai, Gareth langsung unjuk gigi dengan melesat dengan sangat cepat sambil menebas satu persatu manekin yang muncul. Gerakannya sangat cepat hingga para anggota yang lain tidak sanggup melihatnya dengan mata telanjang. Begitupun dengan Paul, payah di sesi senjata api dibalasnya di sesi kali ini. Memang terlihat jelas ketika seseorang sudah ahli menggunakan senjata yang sering dipakai.
“Hmm…, teknologi baru ini membuat katanya jadi lebih tajam dan memotong dengan sangat presisi. Tapi apakah kapten Julian suka?” sambil melihat dari berbagai sisi katana yang dipegangnya.
Adrian pun mengamati mereka dengan serius, ada anggota yang ahli menggunakan model senjata api dan ada juga yang ahli menggunakan model senjata tajam.
“Ada apa pak? Ada hal yang mengganggumu,” tanya Silva.
“Rifle jenis baru itu tidak untuk semua anggota, dari sini saja sudah terlihat ada yang lihai menggunakan senjata tajam dan lihai menggunakan senapan rifle. Saya harus melihat data personil dari keseluruhan tim, adakah orang-orang yang menggunakan senjata khusus? Dari data awal permintaan hanya hadir dari tim 8, 13, dan 15. Mungkin saya harus menghubungi semuanya, adakah senjata khusus yang ingin mereka gunakan,” Adrian keluar dari ruangannya untuk langsung menghubungi tim BASS lainnya.
“Benar juga, selama ini hanya tiga tim itu saja yang meminta senjata-senjata khusus. Apakah monster ditempat lain begitu lemah? Sehingga mereka puas dengan senjata yang ada? Yaitu pistol berisi racun Beaters dan juga belati? Hmm…,” Silva pun ikut memikirkannya, masalahnya jika divisi persenjataan mengajukan senjata tanpa ada yang memakainya maka akan terjadi pemborosan biaya. Maka dari itu divisi senjata hanya meminta pesanan saja di luar amunisi berisi racun Beaters yang terus diproduksi.
Di bawah Gareth terdiam sambil melihat belati yang sedang ia pegang, sejauh ini tidak ada masalah. Dirinya sudah akrab dengan teknologi baju tempur dan juga senjatanya. Hanya saja menurutnya semua pencapaian ini masih belum cukup. Masih hangat ingatannya saat dibantai oleh Allison dan kemunculan Djohan dalam bentuk monster Beatersnya. Jika dihadapkan dengan mereka berdua hasilnya masih sama saja.
“Cih! Masih belum, alat-alat canggih ini masih prototype. Dan aku akan menyempurnakannya!” melesat cepat sambil menebas leher manekin yang baru saja keluar dari tanah.
Quote:
Para anggota BASS yang mengikuti pelatihan Mechanism memasuki babak baru dalam tahap pelatihan mereka. Semuanya dibawa ke ruangan baru lagi, sudah dilengkapi dengan armor suit. Adrian membawa para anggota ke ruangan senjata, di sini dipamerkan berbagai senjata yang nantinya akan dipakai. Baik berbentuk senjata api maupun senjata pertarungan tangan dipamerkan, mereka memiliki warna yang sejenis, yaitu hitam dan juga abu. Selaras dengan baju tempur yang kini dipakai.
“Ini nantinya senjata yang akan kalian pakai, sama seperti armor suit. Senjata-senjata ini juga perlu dites kemampuannya, barulah akan disempurnakan dari data yang didapatkan dari hasil latihan kalian, sehingga penggunaan racun Beaters dapat ditekan karena membutuhkan biaya yang cukup besar tuk membuat bahan bakunya,” Adrian meminta staf untuk memberikan masing-masing satu buah senjata api berbentuk rifle dengan moncong yang lebih lebar dari biasanya.
“senjata inilah yang akan menjadi basic, menggantikan pistol yang biasanya kalian bawa,” lagi-lagi dinding terbuka, dan sebuah lapangan besar lagi-lagi terlihat.
Tempat bawah tanah yang berada di pusat komando BASS menyimpan banyak ruangan-ruangan besar seperti ini. Padahal BASS sendiri baru berdiri sekitar 10 tahun lalu, tetapi sudah memiliki fasilitas yang mumpuni seperti ini yang dijadikan sebagai tempat pembuatan dan pengetesan senjata. Dalam ruangan pengetesan senjata, dimunculkan patung-patung dari bahan manekin yang muncul dari bawahnya. Para anggota mencoba untuk menembaknya sesuai sasaran. Latihan ini seperti mengolok-ngolok para anggota BASS, memakai senjata api bukanlah pekerjaan sulit. Kemampuan itu sudah terlatih selama bertahun-tahun.
“Eh…menembak target, bukanlah hal sulit,” Davies mengeker targetnya. “kena kau---,” badan Davies terpelanting saat ia menekan pelatuknya. Lalu sebuah energi besar keluar dari ujung moncong senjata, tidka mengenai sasaran tetapi daya hancur yang diberikannya sungguh kuat sampai menghasilkan ledakan.
Tentunya hal ini sangat mengejutkan para anggota BASS, Adrian hanya tersenyum melihatnya. Padahal ia sendiri belum menjelaskannya, tetapi Davies sudah memulai lebih dulu.
“Tenanglah sebentar, saya sendiri bahkan belum memberitahu apa isi dari senjata itu,” Adrian memberikan tangannya, menarik Davies untuk bangun.
Senjata api berjenis rifle itu memang didesain khusus dan juga memiliki amunisi yang berbeda. Tidak menggunakan amunisi konvensional seperti peluru api biasa, tetapi menggunakan energi yang dihasilkan oleh senjata itu sendiri. Program Mechanism ini memang dipenuhi oleh senjata dan perlengkapan dengan teknologi yang canggih.
“Bentuknya seperti Rifle biasa, tetapi didalamnya sudah ditanamkan teknologi canggih. Sama seperti baju tempurnya, senjata ini mengeluarkan energi-energi yang berkekuatan tinggi. Kekuatannya setara dengan kekuatan petir. Sehingga perlu diuji coba, seberapa banyak tembakan energi itu yang berhasil dikeluarkan. Apakah dayanya akan habis terlebih dahulu apa senjatanya yang meledak duluan.”
Setelah diberikan arahan, para anggota bersiap. Latihan fisik yang mereka telah lalui akan diuji kembali hari ini. Manekin mulai bermunculan, para anggota menembaknya. Masih begitu sulit mengendalikan senjata ini, banyak dari mereka yang tidak tepat sasaran. Ataupun tubuhnya terpental kebelakang. Dari mereka semua, Paul lah yang paling payah. Meskipun ia mampu menahan efek kejutnya, tetapi tembakannya selalu melenceng.
Adrian mengamatinya dari ruang kontrol di lantai 2, dilihat dari datanya Paul merupakan anggota dari sektor 8. Di mana para anggota di sana sudah terbiasa memakai senjata tuk pertarungan jarak dekat, terutama menggunakan katana. Saat pengetesan armor suit juga Paul lebih sering menggunakan pelontar dikakinya dibandingan di bagian tangan.
Pintu ruangan kontrol terbuka, Silva masuk dengan buru-buru. Nafasnya terengah-engah lalu meminta maaf kepada Adrian atasannya karena datang terlambat. Banyak data yang harus diolah bersama timnya yang membuat dirinya kelelahan dan tertidur sampai telat tuk bangun dan mengikuti tahapan ini dari awal. Adrian tidak terlalu mempermasalahkan, toh nantinya data dari sini akan diberikan pada Silva melalui stafnya.
“Coba kamu lihat anak muda itu,” tanya Adrian.
“Yang mana pak?” Silva mengkurucutkan pandangannya.
“Paul, dari tim 8. Tembakannya selalu meleset.”
“Hmm, bukankah tim 8 itu identik dengan katana? Mungkin karena sering menggunakan katana dibandingkan senjata api, maka dirinya menjadi kaku seperti itu.”
“Memang, tapi setidaknya mereka di tim 8 harus bisa beradaptasi dengan teknologi ini jika ingin selamat.”
Pengetesan tahap awal pun selesai, senjata rifle yang digunakan sudah mengeluarkan asap dari moncongnya dan pelatuknya menjadi keras. Hanya delapan tembakan maksimal yang bisa dikeluarkan, tentunya hasil ini sangat mengecewakan. Kapten Vela menjadi yang teratas dalam pelatihan ini disusul oleh Sherlee yang secara mengejutkan dapat menggunakan rifle dengan baik.
Para staf mengambil semua senjata rifle itu dan membawanya keluar. Adrian dan Silva sudah turun dan menghampiri para anggota BASS. Meminta pendapatnya tentang senjata model baru itu. Kesimpulan yang didapat bobotnya terlalu ringan sedangkan energi yang dikeluarkan terlalu besar, sehingga tidak dapat menahan beban yang dipikul. Adrian mencatat semua itu untuk dijadikan bahan evaluasi.
Pengetesan terus berlanjut, sekarang diperkenalkan senjata jarak dekat seperti belati, katana, kampak dan senjata tajam lainnya. Mata Paul berbinar ketika melihat sebuah katana, ia memegangnya. Bentuknya tidak futuristic seperti model senjata api barusan. Semua terlihat original, hanya sebuah lapisan luar yang sedikit menyolok mata para anggota. Silva menjelaskannya kali ini, lapisan luar itu berfungsi untuk mengeluarkan efek panas sinar laser.
Silva mengambil salah satunya, berjenis belati yang biasa Gareth pakai dalam misi. Ketika bagian bawahnya ditekan, bagian paling luar senjata itu mengeluarkan cahaya yang mulai naik dari bawah pegangan hingga melapisi bagian tajamnya. Silva mengenalkan ini sebagai teknologi ‘Laser Heat’, mengadaptasi teknologi laser yang dapat memotong berbagai macam benda. Lalu ia mendemonstrasikannya dengan maneki yang muncul dari tanah di lapangan tempat pengetesan.
“Yahhh!” teknik yang digunakan Silva cukup baik meskipun ia bukanlah anggota BASS lapangan. Manekin yang ditebasnya langsung terpotong dengan sangat rapih, cahaya berwarna oranye muncul dibekas tebasan. Menandakan bahwa senjata ini memiliki panas yang cukup untuk memotong segalanya.
Latihan menggunakan senjata laser heat dimulai, Gareth langsung unjuk gigi dengan melesat dengan sangat cepat sambil menebas satu persatu manekin yang muncul. Gerakannya sangat cepat hingga para anggota yang lain tidak sanggup melihatnya dengan mata telanjang. Begitupun dengan Paul, payah di sesi senjata api dibalasnya di sesi kali ini. Memang terlihat jelas ketika seseorang sudah ahli menggunakan senjata yang sering dipakai.
“Hmm…, teknologi baru ini membuat katanya jadi lebih tajam dan memotong dengan sangat presisi. Tapi apakah kapten Julian suka?” sambil melihat dari berbagai sisi katana yang dipegangnya.
Adrian pun mengamati mereka dengan serius, ada anggota yang ahli menggunakan model senjata api dan ada juga yang ahli menggunakan model senjata tajam.
“Ada apa pak? Ada hal yang mengganggumu,” tanya Silva.
“Rifle jenis baru itu tidak untuk semua anggota, dari sini saja sudah terlihat ada yang lihai menggunakan senjata tajam dan lihai menggunakan senapan rifle. Saya harus melihat data personil dari keseluruhan tim, adakah orang-orang yang menggunakan senjata khusus? Dari data awal permintaan hanya hadir dari tim 8, 13, dan 15. Mungkin saya harus menghubungi semuanya, adakah senjata khusus yang ingin mereka gunakan,” Adrian keluar dari ruangannya untuk langsung menghubungi tim BASS lainnya.
“Benar juga, selama ini hanya tiga tim itu saja yang meminta senjata-senjata khusus. Apakah monster ditempat lain begitu lemah? Sehingga mereka puas dengan senjata yang ada? Yaitu pistol berisi racun Beaters dan juga belati? Hmm…,” Silva pun ikut memikirkannya, masalahnya jika divisi persenjataan mengajukan senjata tanpa ada yang memakainya maka akan terjadi pemborosan biaya. Maka dari itu divisi senjata hanya meminta pesanan saja di luar amunisi berisi racun Beaters yang terus diproduksi.
Di bawah Gareth terdiam sambil melihat belati yang sedang ia pegang, sejauh ini tidak ada masalah. Dirinya sudah akrab dengan teknologi baju tempur dan juga senjatanya. Hanya saja menurutnya semua pencapaian ini masih belum cukup. Masih hangat ingatannya saat dibantai oleh Allison dan kemunculan Djohan dalam bentuk monster Beatersnya. Jika dihadapkan dengan mereka berdua hasilnya masih sama saja.
“Cih! Masih belum, alat-alat canggih ini masih prototype. Dan aku akan menyempurnakannya!” melesat cepat sambil menebas leher manekin yang baru saja keluar dari tanah.
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
Tutup