- Beranda
- Stories from the Heart
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#24
BAGIAN SEPULUH
Sepulang daripemakaman dua orang lelaki dengan setelah jas berwarna gelap turun di sebuah halaman yang luas. Di depannya berdiri rumah sangat megah dua lantai. Bergaya arsitek Eropa timur. Tiba –tiba lelaki tua yang bersama lelaki muda itu. Terpuruk terjatuh di tanah. Sang sopir yang sekiranya tadi keluar membuka pintu untuk majikannya terkejut. Tergesa –gesa ia mencoba menahan tubuh lelaki tua tinggi besar itu dengan kedua tangannya.
“ Pak Pri, tolong bantu aku mengangkat tubuh ayah. Langsung kita letakkan di kamar beliau “
“ Iya mas Eddi “
Hati -hati sekali keduanya mengangkat tubuh lelaki tadi. Setelah beberapa saat akhirnya sampai disebuah kamar yang terlihat sangat mewah dan nyaman. Eddi dibantu oleh si sopir tadi membaringkan tubuh lelaki yang besar dan berat itu di tempat tidur, setelah itu pemuda tadi buru - buru menelepon dokter keluarga. Dokter keluarga itu menjanjikan akan datang dalam tempo lima menit.
"Pak Pri? Dokter Aan sedang menuju kemari. Tolong bapak tunggu di teras depan. Kalau ia sudah datang, antarkan ia ke dalam!"
"Baik, Mas Eddi," terdengar sahutan dari sopir yang bernama Pri.
Sopir itu lantas akan keluar dari kamar. Langkahnya terhenti manakala tuannya memanggil.
"0h ya, Pak Pri. Nanti katakan pada Glenn kalau nanti dokter Aan sudah pulang, suruh ia menemuiku."
"Baik, Mas Eddi."
Dengan pikiran menerawang, Eddi menyelinap ke kamar perpustakaan merangkap kamar kerja Ayahnya. Dari laci sebuah meja ia keluarkan sepucuk pistol Colt kaliber 32. Ditimang - timang sebentar, setelah mana senjata itu ia simpan lagi di laci. Wajahnya murung dan gelap waktu ia kembali ke kamar tidur Ayahnya dan melihat orang tua yang sangat ia kasihi itu masih terbujur kaku seperti ketika tadi ia tinggalkan. Mulut Ayahnya menganga terbuka, mencari hawa segar, sementara sepasang matanya menatap kosong seperti mata orang mati.
Eddi merintih dalam hati : "Kau telah berbuat banyak untukku, Pa. Kini saatnya aku berbuat sesuatu untukmu. Aku tahu kepergian Irfan yang mendadak dan dengan cara yang mengenaskan ini telah menampar jantung mu. Dan aku tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Perempuan Jalang yang bernama Mira itu bersama lelaki yang aku lihat di pemakaman tadi. Dua orang itu harus lenyap ! "
Lamunannya baru buyar setelah dokter Aan masuk diiringkan Pak Pri yang segera berlalu setelah diberi isyarat oleh majikannya. Tanpa menanyakan apa-apa, dokter yang sebaya dengan pasiennya itu langsung bekerja. Ia memeriksa sebentar, menggumamkan sesuatu lalu mengambil alat suntik dari tasnya. Setelah diberi suntikan penenang, perlahan-lahan kelopak mata pasien itu terkatup dan nafasnya pun naik turun dengan teratur. Dokter Aan sekali lagi memeriksa pasiennya dengan mempergunakan stetoskop.
Sambil memasukkan perlengkapannya ke dalam tas ia bergumam pada Eddi : "Biarkanlah Ayahmu beristirahat tanpa terganggu, Ed."
Eddi mengangguk dan mengiringkan dokter Aan ke luar dari kamar tidur. Baru saja ia akan bertanya, dokter itu sudah mendahului.
"Tak usah khawatir. Ayahmu tidak apa apa semuanya normal. Ia hanya sedikit shock, karena tekanan psikologis mendadak. Dari pengalaman, Ed, aku menduga ia menderita suatu goncangan jiwa yang tidak terduga "
Ia mengawasi wajah Bratamenggala muda yang tampak menyembunyikan sesuatu. Lalu bertanya lembut:
"Kalau kau tak keberatan, Ed Apa yang terjadi?"
Eddi menelan ludah. Lantas mendengus : "Seperti Oom bilang tadi. Tekanan psikologis ...."
"Dalam bentuk apa?"
Eddi menatap tajam, sebelum menjawab dengan pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan : "Perlukah aku menjelaskannya, Oom Aan?"
Dokter itu menarik nafas panjang, kemudian berkata dengan arif ; "Aku hanya ingin melengkapi diagnosaku saja, Ed. Baiklah. Ayahmu tak perlu dicemaskan betul. Hanya ya setelah ia sadar, Ayahmu perlu dihibur. Terserah bagaimana caramu menghibur .."
"Aku sudah menemukan cara itu, Oom," tukas Eddi dengan seulas senyuman rahasia di bibir.
Dokter Aan lantas melambaikan tangan dan masuk ke mobil yang pintunya telah dibukakan supir. Mobil sang dokter baru saja melewati pintu gerbang manakala seorang lelaki bertubuh tinggi kekar dengan cacat bekas luka di pelipisnya, ke luar dari pos jaga dan mengikuti Eddi masuk ke dalam rumah. Lelaki itu menunggu dengan tenang di ruang depan sementara majikannya masuk ke kamar perpustakaan. Satu menit berikutnya, majikannya yang masih muda itu telah meletakkan sepucuk senjata api di atas meja.
Sedingin benda mengandung maut di atas meja itu, Eddi berkata : "Uruslah seseorang untukku, Glenn!"
Lelaki dengan codet di pelipis itu seketika bersikap waspada. Ia tidak berpanjang lebar. Langsung saja ke tujuan, ia bertanya : "Siapa, Boss?"
"Seorang lelaki miskin dan mantan kakak ipar ku! Hanya saja untuk sasaran pertama lelaki miskin yang bernama Bayu"
Mata Glenn berkilat sedetik. Ia berdesah tajam : " Alamatnya, Boss?”
Eddi memberitahukannya. Juga menginstruksikan, bahwa Glenn boleh mengikut sertakan teman kepercayaannya.
"Kalau bisa, cukup satu orang saja. Makin sedikit saksi, makin baik. Kau tahu cara terbaik melakukannya bukan?"
Senyuman tipis muncul di bibir tebal Glenn. Katanya : "Percayakan saja pada saya, Boss."
AKU punya kebiasaan buruk. Sering melek malam. Ngebut membuat naskah artikel, cerpen ataupun cerita bersambung di forum Kaksus. Atau mengetik artikel apa saja yang menarik untuk dihidangkan pada pembaca. Terkadang ia juga membuat cerita pendek atau cerita bersambung berbau horror. Dan diembel –embeli based true story. Karena yang model begini hampir sangat digemari pembaca. Tahukan rakyat Indonesai sangat suka semua yang berbau mistis, tahyul dan alam ghaib. Sekitar pukul tiga atau empat pagi barulah aku merayap ke tempat tidur. Letih. Dan mengantuk setengah mati.
Tetapi bukan Itu semua yang membuat aku malam ini masih terjaga. Tidak ada secuil paragraph yang aku tulis. Aku kembali menggeliat resah di tempat tidur. Rasanya aku teringat perbuatanku tadi siang di kantor polisi.
Aku menandaskan: “Aku jaminannya! “
Suradi tidak keberatan Mira meninggalkan kota Yogyakarta untuk pulang ke kampung halaman di Gunung Kidul .
“Dengan syarat, setiap saat dipanggil ia harus hadir di kota ini,” kata Suradi.
AKU tersentak ketika mendengar suara keresek - keresek. Buru-buru aku beranjak dari ranjang. Setengah berjingkat aku buka tirai jendela dengan perlahan. Mengintip lewat tirai jendela. Namun di luar rumah tak tampak apa -apa, kecuali kegelapan malam yang hitam mencekam. Aku kembali lagi ke ranjang ku yang rasanya seperti beku karena beberapa hari ini Retno minggat dari rumah. Aku tengok gelas kopi yang bertengger di atas meja kerja ku. Larak meja itu tidak jauh dengan ranjang. Dengan satu tangan aku raih gelas itu.
Menghabiskan sisa kopi yang sudah dingin, dan dengan sendirinya pikiran Aku kembali menerawang jauh. Bagaimana kalau aku susul Mira ke Gunung Kidul. Aku bisa menelponnya untuk memberi alamat dan ancar –ancar yang pasti. Bukan perkara sulit untuk menemukan alamat itu.
Terdengar lagi suara keresak-keresek. Kali ini lebih jelas. Tetapi datangnya bukan dari pintu yang menghadap ke samping rumah. Melainkan dari langit-langit. Aku mendongak ke atas. Satu dugaanku. Ada tikus yang berkeliaran. Aku abaikan itu. Pikiranku kembali menerawang jauh. Jantungku serasa meloncat dari tempat bergelayutannya. Ada sesuatu yang tiba - tiba pecah, berderak. Lalu bunyi eternit jatuh berderai ke lantai di susul munculnya sosok-sosok tubuh gelap. Bukan satu sosok tubuh, melainkan dua sosok tubuh!
Dan sosok-sosok tubuh itu berpakaian dan berwujud normal sebagai manusia. Aku segera menyadari situasi apa yang akan terjadi. Aku sudha hendak berbuat sesuatu melawan dengan sekuat tenaga. Tiba –tiba dengan cepat suatu benda keras dan dingin menempel sudah di jidatku.
Disertai dengan bisikan mengancam: "Bersuara sedikit saja, pistol ini akan meledakkan kepalamu!"
Aku terduduk kaku. Tak berdaya. Dalam keadaan tidak berdaya itu, jalan pikiran ku masih dapat bekerja dengan baik kecuali pada saat tadi ia dilanda kejutan mendadak. Ia segera mengetahui bahwa ia berhadapan dengan dua orang pencuri, dan bukan pencuri sembarangan. Terbukti ke dua tamu tidak diundang itu masing masing memakai topi kupluk menutupi sebagian wajah, bersarung tangan, dan alas kaki sepatu karet. Tentunya mudah sekali buat mereka naik ke atap, membuka genting, lalu terjun bebas menerobos eternit. Jatuh dengan ringannya di lantai, tepat di depan biji mata ku.
Tahu perbuatan mereka dipergoki saksi mata, kedua pencuri itu sedikit pun tidak grogi. Seorang lagi dengan sigap langsung menodong pelipis ku, sementara yang lainnya dengan tenang dan terampil mengikat ku dengan seutas tali tambang plastik yang mereka bawa. Tanpa bersusah payah, aku diikat erat dan kuat, langsung di kursi yang ada di dalam kamar.
Dua orang lelaki dengan sebagian muka ditutup itu berdiri di depan ku. Seorang yang memakai jaket kulit berwarna hitam mengacungkan ujung pistol tepat kea rah kepalaku. Saat itu nyawaku serasa melayang dan hinggap ke luar dari raga, manakala pelatuk pistol itu telah di tarik menggunakan ujung ibu jari. Siap untuk memuntahkan timah panas yang akan segera membuat isi kepala ku berhamburan di lantai.
Pada saat dari luar terdengar suara geraman yang sangat menyeramkan. Lantas di akhiri dengan sesosok tubuh penuh bulu kelabu kehitaman masuk ke kamarku dengan menjebol jendela. Suara berisik kaca yang pecah berhamburan mengejutkan kami bertiga. Di depan ku terlihat sesosok anjing yang besarnya mungkin menyamai seekor lembu. Matanya yang kemerah –merahan seperti nyala api neraka. Ke dua pencuri tadi aku lihat masih terlongo. Tidak tahu bagaimana anjing raksasa itu menerkam.
Terdengar jerit pekik kesakitan yang melolong – lolong setinggi langit. Dari leher yang terenggut kuku – kuku tajam laksana pisau belati ,mengucur darah segar. Berhamburan mengotori lantai. Sementara gigi - gigi taring yang runcing tajam disertai cakaran kuku yang menekan serta menghunjam masuk ke lambungnya. Kemudian, tanpa meperdulikan lagi mangsanya yang sudah sekarat itu, anjing raksasa itu berpaling cepat.
Matanya memandang kearah seorang lagi yang berusaha lari melalui pintu yang terbuka. Mata yang berkilat kilat merah, kehiiau hijauan. Bulu bulu tebal coklat kehitaman di sekujur tubuhnya seakan pada tegak berdiri, sementara dari moncongnya yang lancip keluar raung kemarahan. Suara mengerikan itu membuat perampok yang hendak lari merasakan gemetaran yang sangat hebat. Sepasang kakinya seperti tidak mau untuk diajak lari.
Wajahnya berubah pucat dilanda teror. Untuk satu dua detik lamanya ia hanya terpana memandangi sosok tubuh aneh yang melompat ke arahnya. Kemudian ia merasakan benda benda tajam menembusi batang leher, dada dan lambungnya. Di tengah cekaman teror itu, sisa akal sehatnya bekerja dengan cepat. Ia menggapai senjatanya, menekan pelatuk, dan telunjuknya yang gemetar hebat menahan siksaan azab di seantero tubuh masih mampu menarik picu senjata. Letusan membahana merobek sepi di malam itu.
Diubah oleh breaking182 14-04-2022 03:51
bohemianflaneur dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup