- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.3K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#681
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Di salah satu sudut koridor kelas di deket kantin atas, yang berarti wilayahnya anak kelas sebelas IPS, gue dan temen-temen kelasan gue sedang berkumpul di sana. Ada juga beberapa anak cewek yang ikut ngumpul, kita sedang membahas sesuatu yang penting ga penting.
Entah kenapa wilayah kelas sebelas IPS sini lagi sepi, mungkin karena lagi pada rame di lapangan bawah, atau emang udah pada cabut anak-anak IPSnya, padahal masih belom jam sepuluh siang. Dan entah juga siapa yang memilih buat nongkrong di sini, padahal gue ngerasa seumur-umur gue di kelas sebelas ga pernah gue nongkrong di wilayah anak IPS. Bukan karena slek atau apa sih, yaaa emang ga ada yang disamperin juga.
Emang lagi masa-masanya pengembalian buku pinjaman dari perpus juga, jadi ga sedikit yang abis balikin buku langsung memilih buat pulang. Bahkan anak perempuan kelas gue ada yang baru dateng ke sekolah jam sepuluh cuman buat balikin buku. Dan karena emang kebetulan kita lagi nongkrong deket perpus langsung dah tuh disorakin anaknya.
Pertandingan kelas gue melawan kelasnya Putri sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Sehabis kekalahan yang memang diharapkan, gue ga terlalu peduli dengan kelas mana yang lagi lawan kelas mana sekarang. Seperti yang gue bilang, gue lebih memilih buat menghabiskan waktu bersama teman-teman kelasan gue yang sebentar lagi waktu kebersamaan ini akan berakhir.
Gila cuy, kelas yang awalnya gue kira akan membosankan, penuh dengan orang-orang individualis yang hanya peduli dengan nilai masing-masing, malah menjadi kelas yang paling menyenangkan selama gue sekolah. Gimana ga skeptis awalnya, namanya juga kelas IPA satu. Anak IPA yang identik dengan kutu buku, belom lagi ada angka satu disana. Malah dipenuhi oleh orang-orang caur.
Dari pengamatan gue, sepertinya kelas gue yang paling kompak. Apalagi dalam pertemanan anak laki-laki. Kita lebih sering kumpul bareng, nongkrong bareng, dan bisa dibilang ga ada yang beda tongkrongan sama kita. Palling satu orang doang yaitu si Kiwas yang emang jarang gue ceritain. Dibanding sama kelas IPA lain yang bisa terbagi jadi dua atau tiga kubu. Mungkin ini karena anak cowok di kelas gue paling sedikit yaa, cuman sepuluh orang, jadi lebih mudah buat bondingnya.
Di lain hal, sepertinya kelas gue juga yang paling banyak jalan-jalan dibanding kelas IPA yang lain. Banyak hal yang ga sempet gue ceritain karena terhalang timeline. Misalnya nonton bioskop bareng, main ke rumah anak-anak yang lain, pergi ke kondangan anak guru bareng.
Pernah suatu hari temen-temen kelasan gue pada nginep di rumah gue. Padahal biasanya paling males kalau gue becandain kalau suruh main ke rumah, soalnya jauh. Sekalinya main nginep berdelapan. Udah tau kamar gue kecil, kita tidur udah kayak sarden. Yang lebih parah orang yang tidur deket pintu adalah Gedak yang badannya paling gede, jadi ngalangin orang keluar masuk. Waktu mereka nginep gue sempet nunjukin koleksi bokep gue. Kampretnya temen gue si Anda jadi sagapung dan izin buat ‘ganti oli’ di kamar mandi atas. Terus pas lagi eksekusi katanya dia denger ada yang manggil nama dia, tapi pas di cek ga ada orang. Entah dia halu atau apa, akhirnya dia ga jadi ‘ganti oli.’ Emang itu kejadiannya sekitar jam setengah tiga pagi sih. bodoh emang, wkwkwkwk.
Pernah juga gue dan anak-anak cowok kelasan gue jalan-jalan buat berenang di pik. Ga ada yang terlalu spesial sih yang terjadi, cuman pas kita pulang, kita lupa buat makan dulu. Kita bahkan harus menahan diri karena terjebak di kemacetan tol tomang dengan kondisi bensin yang mau abis. Si Sam bahkan sampe nyadar kalau di mobil lain ada makanan nganggur karena saking lapernya, insting mencari makannya kuat. Kalau dia gila mungkin Sam bakan buka kaca mobil dan minta makanan tersebut dari mobil sebelah. Rencananya sih udah ada, cuman ga dilakuin aja. wkwkwk.
Bahkan kelasan gue yang pertama kali mempelopori buat pergi satu kelas ke puncak, dan di akhir semester ini gue denger kabar kelas-kelas sebelas IPA lain pada merencanakan buat pergi ke puncak. Kelas gue pun ga mau kalah, atau lebih tepatnya emang udah direncanain. Karena ke puncak udah pernah, jadi kita memutuskan buat jalan-jalan ke Bandung. Dan sekarang kita semua lagi ngumpul buat ngomongin hal tersebut.
“Jadi gimana nih bandung? Siapa aja yang ikut?” Tanya gue akhirnya membuka percakapan untuk membicarakan acara ke Bandung nanti. ”Lo seriusan Bob ga bisa ikut?”
“Iyeee, ada acara keluarga gue di tanggal segitu.” Kata Bobby pasrah.
“Najis dah lo Bob, izin aja sih kaga usah ikut.”
“Kaga bisa Co, ga enak sama bokap nyokap gue nanti.”
“Yaelah, udah gede sih.”
“Yang cewe-cewenya gimana? Siapa aja yang ikut? Nanti kaya di puncak sih, ada bokap nyokapya Treya juga.” Kini giliran Iman yang bertanya untuk memastikan siapa aja ank cewek yang ikut. Dan seperti hari-hari sebelumnya, banyak yang ga bisa memberikan kepastian.
Begini lah setiap kali pembicaraan pergi ke Bandung keluar, sampe sekarang belom ada titik terang siapa aja yang bakal ikut. Eh kayaknya harus gue ralat deh, yang cowok sih udah ada enam orang yang fix, dan kita tetep berangkat meskipun akhirnya cuman segitu. Antara ga diizinin atau emang ga mau ikut, perkara anak cewek yang belom tau siapa aja yang bakal ikut. Sebenernya sih gapapa juga kalau ga ada yang ikut, cuman rada basi aja gak sih, wkwkwk.
“Yaudah, nanti kalau ada yang mau ikut kabarin ke gue aja sebelum tanggal segini, biar nyewa mobil sama mesen kamarya pas.” Ucap gue mewanti-wanti.
Pada akhirnya yang berangkat ke bandung cuman berdelapan, yaitu gue, Rico, Iman, Rian, Anda, Gedak, Cindy dan Syifa. Emang cuman segitu yang bisa ikut. Kalau anak-anak cowoknya yang ga ikut bilang karena ada keperluan lain, kalau anak ceweknya mulai dari ga dapet izin dan ga ngasih kabar. Yauds lah, gas terus.
Di hari yang udah ditentuin sebelumnya, sama seperti saat pergi ke puncak, kita semua janjian di deket sekolah. Karena yang ikut lebih sedikit, jadi lebih gampang buat ngehubungin masing-masing. Sekitar jam delapan kita udah kumpul di deket sekolah, bersiap-siap masukin barang ke dalem mobil, jajan cemilan di indomaret, dan tentunya nyebat dulu.
Karena yang berangkat cuman delapan orang termasuk gue, jadi kita cuman nyewa satu mobil plus supir. Sebenernya salah satu supir kantor bokap gue juga, dan tempat penginapannya pun bukan villa atau hotel, tapi wisma peristirahatan pegawai. Untungnya wismanya ga jelek, yaaa kaya apartemen lah. Dan pergi ke bandung kali ini bokap nyokap gue ga ikut. Karena anak kelasan yang ikut dikit, jadi kayaknya ga perlu. Cindy dan Syifa juga sepertinya juga sudah mendapat kepercayaan meskipun ga ada orang tua yang jagain.
"Kebiasaan banget lo berdua nginep dua malem aja pake bawa koper segala." Ledek Rico disela-sela kita memasukkan barang ke dalam bagasi.
"Biarin aja sih, namanya juga cewek." Sahut Syifa ga terima.
"Lo beneran gapapa Cin bokap nyokap gue ga ikut? Diizinin?" Tanya gue.
"Gapapa, lagian bokap nyokap gue punya nomer orang tua lo juga." Iyaaa juga sih.
"Sebat dulu yuk." Ajak Iman setelah kita beres menaikan barang ke dalam mobil.
Kita menuju warung deket sekolah yang biasa dipake nongkrong sama anak kelas tiga. Bukan tongkrongan angkatan, biasanya tongkrongan pemberhentian sebelum pindah ke tongkrongan angkatan, buat tunggu-tungguan gitu. Biasanya, kalau hari sekolah biasa, anak-anak yang ngerokok pada diusirin, meskipun jatohnya udah di luar sekolah. Tapi sekarang ngerokok disini udah berasa akamsi soalnya ga bakalan di usir satpam sekolah juga, wkwkwk.
"Nanti di Bandug kemana aja nih?" Tanya Rian saat lagi asik ngerokok.
"Hari pertama mah di sekotaran kotanya aja dulu, besoknya kalau mau kita ke kawah putih, seru naik angkotnya." Jawab gue.
"Kalo naik angkot doang mah disini juga banyak kwk Tre."
"Beda Nda, lo rasain dah entar."
"Terus malemnya mau kemana aja?" Tanya Gedak.
"Duh kaga tau gue kalau tempat nongkrong bandung." Kata gue.
"Selow, nanti gue tau tempat-tempatnya, asal kaga rame aja." Sahut Iman.
Menjelang jam sembilan pagi kita akhirnya berangkat menuju Bandung. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu dua jam, tapi kita baru nyampe Bandung sekitar jam dua. Pertama karena macet, kedua karena kelamaan nongkrong di rest area.
Posisi duduk di dalam mobil udah ditentukan dari awal sebelum berangkat. Gedak yang duduk di kursi depan barenng supir karea badannnya paling gede. Di tengah ada dua anak cewek Cidy da Syifa serta Rian dan Rico, badannya paling ramping. Sementara anak ceweknya ga ada yang mau duduk di belakang. Di kursi ketiga ada gue Iman dan Anda yang bisa dibilang badannya ga kecil-kecil banget, tapi mau gimana lagi.
Saat perjalanan menuju Bandung ada percakapan aneh bin tolol yang sekarang jadi tredemarknya Iman setiap kali kita ngumpul bareng lagi.
"Eh , nanti di Bandung kita harus nyobainn seblak." Kata Iman dengan antusias.
"Hah seblak? apaan tuh?" tanya yang lain penasaran. saat itu gue baru pertama kali mendengar kata seblak yang ternyata adalah jajanan khas Bandung. Dulu seblak belom jadi jajanan nasional seperti sekarang, mungkin di Badung udah terkenal, Tapi di Jakarta kayaknya belom, buktinya gue ga perah denger.
"Ada, jajanan Bandung gitu. Enak dah." Jelas Iman dengan penekanan kata enak.
"Iya itu apaan anjing?"
"Ada Co, kayak kerupuk basah gitu."
"Ga jelas anjing, kerupuk basah apa enaknya."
"Enaaak, lo harus cobainn nanti." Kata iman kembali menekankan kata enak.
"Emang lo pernah nyobain?" Tanya gue.
"Belom."
"Yeeee kocak, belom pernah nyobain tapi bilang enak."
"Kata orang-orang enak."
Sejak saat itu Iman kita anggap kurang bisa merekomendasikan sebuah makanan, wkwkwk.
Di salah satu sudut koridor kelas di deket kantin atas, yang berarti wilayahnya anak kelas sebelas IPS, gue dan temen-temen kelasan gue sedang berkumpul di sana. Ada juga beberapa anak cewek yang ikut ngumpul, kita sedang membahas sesuatu yang penting ga penting.
Entah kenapa wilayah kelas sebelas IPS sini lagi sepi, mungkin karena lagi pada rame di lapangan bawah, atau emang udah pada cabut anak-anak IPSnya, padahal masih belom jam sepuluh siang. Dan entah juga siapa yang memilih buat nongkrong di sini, padahal gue ngerasa seumur-umur gue di kelas sebelas ga pernah gue nongkrong di wilayah anak IPS. Bukan karena slek atau apa sih, yaaa emang ga ada yang disamperin juga.
Emang lagi masa-masanya pengembalian buku pinjaman dari perpus juga, jadi ga sedikit yang abis balikin buku langsung memilih buat pulang. Bahkan anak perempuan kelas gue ada yang baru dateng ke sekolah jam sepuluh cuman buat balikin buku. Dan karena emang kebetulan kita lagi nongkrong deket perpus langsung dah tuh disorakin anaknya.
Pertandingan kelas gue melawan kelasnya Putri sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Sehabis kekalahan yang memang diharapkan, gue ga terlalu peduli dengan kelas mana yang lagi lawan kelas mana sekarang. Seperti yang gue bilang, gue lebih memilih buat menghabiskan waktu bersama teman-teman kelasan gue yang sebentar lagi waktu kebersamaan ini akan berakhir.
Gila cuy, kelas yang awalnya gue kira akan membosankan, penuh dengan orang-orang individualis yang hanya peduli dengan nilai masing-masing, malah menjadi kelas yang paling menyenangkan selama gue sekolah. Gimana ga skeptis awalnya, namanya juga kelas IPA satu. Anak IPA yang identik dengan kutu buku, belom lagi ada angka satu disana. Malah dipenuhi oleh orang-orang caur.
Dari pengamatan gue, sepertinya kelas gue yang paling kompak. Apalagi dalam pertemanan anak laki-laki. Kita lebih sering kumpul bareng, nongkrong bareng, dan bisa dibilang ga ada yang beda tongkrongan sama kita. Palling satu orang doang yaitu si Kiwas yang emang jarang gue ceritain. Dibanding sama kelas IPA lain yang bisa terbagi jadi dua atau tiga kubu. Mungkin ini karena anak cowok di kelas gue paling sedikit yaa, cuman sepuluh orang, jadi lebih mudah buat bondingnya.
Di lain hal, sepertinya kelas gue juga yang paling banyak jalan-jalan dibanding kelas IPA yang lain. Banyak hal yang ga sempet gue ceritain karena terhalang timeline. Misalnya nonton bioskop bareng, main ke rumah anak-anak yang lain, pergi ke kondangan anak guru bareng.
Pernah suatu hari temen-temen kelasan gue pada nginep di rumah gue. Padahal biasanya paling males kalau gue becandain kalau suruh main ke rumah, soalnya jauh. Sekalinya main nginep berdelapan. Udah tau kamar gue kecil, kita tidur udah kayak sarden. Yang lebih parah orang yang tidur deket pintu adalah Gedak yang badannya paling gede, jadi ngalangin orang keluar masuk. Waktu mereka nginep gue sempet nunjukin koleksi bokep gue. Kampretnya temen gue si Anda jadi sagapung dan izin buat ‘ganti oli’ di kamar mandi atas. Terus pas lagi eksekusi katanya dia denger ada yang manggil nama dia, tapi pas di cek ga ada orang. Entah dia halu atau apa, akhirnya dia ga jadi ‘ganti oli.’ Emang itu kejadiannya sekitar jam setengah tiga pagi sih. bodoh emang, wkwkwkwk.
Pernah juga gue dan anak-anak cowok kelasan gue jalan-jalan buat berenang di pik. Ga ada yang terlalu spesial sih yang terjadi, cuman pas kita pulang, kita lupa buat makan dulu. Kita bahkan harus menahan diri karena terjebak di kemacetan tol tomang dengan kondisi bensin yang mau abis. Si Sam bahkan sampe nyadar kalau di mobil lain ada makanan nganggur karena saking lapernya, insting mencari makannya kuat. Kalau dia gila mungkin Sam bakan buka kaca mobil dan minta makanan tersebut dari mobil sebelah. Rencananya sih udah ada, cuman ga dilakuin aja. wkwkwk.
Bahkan kelasan gue yang pertama kali mempelopori buat pergi satu kelas ke puncak, dan di akhir semester ini gue denger kabar kelas-kelas sebelas IPA lain pada merencanakan buat pergi ke puncak. Kelas gue pun ga mau kalah, atau lebih tepatnya emang udah direncanain. Karena ke puncak udah pernah, jadi kita memutuskan buat jalan-jalan ke Bandung. Dan sekarang kita semua lagi ngumpul buat ngomongin hal tersebut.
“Jadi gimana nih bandung? Siapa aja yang ikut?” Tanya gue akhirnya membuka percakapan untuk membicarakan acara ke Bandung nanti. ”Lo seriusan Bob ga bisa ikut?”
“Iyeee, ada acara keluarga gue di tanggal segitu.” Kata Bobby pasrah.
“Najis dah lo Bob, izin aja sih kaga usah ikut.”
“Kaga bisa Co, ga enak sama bokap nyokap gue nanti.”
“Yaelah, udah gede sih.”
“Yang cewe-cewenya gimana? Siapa aja yang ikut? Nanti kaya di puncak sih, ada bokap nyokapya Treya juga.” Kini giliran Iman yang bertanya untuk memastikan siapa aja ank cewek yang ikut. Dan seperti hari-hari sebelumnya, banyak yang ga bisa memberikan kepastian.
Begini lah setiap kali pembicaraan pergi ke Bandung keluar, sampe sekarang belom ada titik terang siapa aja yang bakal ikut. Eh kayaknya harus gue ralat deh, yang cowok sih udah ada enam orang yang fix, dan kita tetep berangkat meskipun akhirnya cuman segitu. Antara ga diizinin atau emang ga mau ikut, perkara anak cewek yang belom tau siapa aja yang bakal ikut. Sebenernya sih gapapa juga kalau ga ada yang ikut, cuman rada basi aja gak sih, wkwkwk.
“Yaudah, nanti kalau ada yang mau ikut kabarin ke gue aja sebelum tanggal segini, biar nyewa mobil sama mesen kamarya pas.” Ucap gue mewanti-wanti.
Pada akhirnya yang berangkat ke bandung cuman berdelapan, yaitu gue, Rico, Iman, Rian, Anda, Gedak, Cindy dan Syifa. Emang cuman segitu yang bisa ikut. Kalau anak-anak cowoknya yang ga ikut bilang karena ada keperluan lain, kalau anak ceweknya mulai dari ga dapet izin dan ga ngasih kabar. Yauds lah, gas terus.
Di hari yang udah ditentuin sebelumnya, sama seperti saat pergi ke puncak, kita semua janjian di deket sekolah. Karena yang ikut lebih sedikit, jadi lebih gampang buat ngehubungin masing-masing. Sekitar jam delapan kita udah kumpul di deket sekolah, bersiap-siap masukin barang ke dalem mobil, jajan cemilan di indomaret, dan tentunya nyebat dulu.
Karena yang berangkat cuman delapan orang termasuk gue, jadi kita cuman nyewa satu mobil plus supir. Sebenernya salah satu supir kantor bokap gue juga, dan tempat penginapannya pun bukan villa atau hotel, tapi wisma peristirahatan pegawai. Untungnya wismanya ga jelek, yaaa kaya apartemen lah. Dan pergi ke bandung kali ini bokap nyokap gue ga ikut. Karena anak kelasan yang ikut dikit, jadi kayaknya ga perlu. Cindy dan Syifa juga sepertinya juga sudah mendapat kepercayaan meskipun ga ada orang tua yang jagain.
"Kebiasaan banget lo berdua nginep dua malem aja pake bawa koper segala." Ledek Rico disela-sela kita memasukkan barang ke dalam bagasi.
"Biarin aja sih, namanya juga cewek." Sahut Syifa ga terima.
"Lo beneran gapapa Cin bokap nyokap gue ga ikut? Diizinin?" Tanya gue.
"Gapapa, lagian bokap nyokap gue punya nomer orang tua lo juga." Iyaaa juga sih.
"Sebat dulu yuk." Ajak Iman setelah kita beres menaikan barang ke dalam mobil.
Kita menuju warung deket sekolah yang biasa dipake nongkrong sama anak kelas tiga. Bukan tongkrongan angkatan, biasanya tongkrongan pemberhentian sebelum pindah ke tongkrongan angkatan, buat tunggu-tungguan gitu. Biasanya, kalau hari sekolah biasa, anak-anak yang ngerokok pada diusirin, meskipun jatohnya udah di luar sekolah. Tapi sekarang ngerokok disini udah berasa akamsi soalnya ga bakalan di usir satpam sekolah juga, wkwkwk.
"Nanti di Bandug kemana aja nih?" Tanya Rian saat lagi asik ngerokok.
"Hari pertama mah di sekotaran kotanya aja dulu, besoknya kalau mau kita ke kawah putih, seru naik angkotnya." Jawab gue.
"Kalo naik angkot doang mah disini juga banyak kwk Tre."
"Beda Nda, lo rasain dah entar."
"Terus malemnya mau kemana aja?" Tanya Gedak.
"Duh kaga tau gue kalau tempat nongkrong bandung." Kata gue.
"Selow, nanti gue tau tempat-tempatnya, asal kaga rame aja." Sahut Iman.
Menjelang jam sembilan pagi kita akhirnya berangkat menuju Bandung. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu dua jam, tapi kita baru nyampe Bandung sekitar jam dua. Pertama karena macet, kedua karena kelamaan nongkrong di rest area.
Posisi duduk di dalam mobil udah ditentukan dari awal sebelum berangkat. Gedak yang duduk di kursi depan barenng supir karea badannnya paling gede. Di tengah ada dua anak cewek Cidy da Syifa serta Rian dan Rico, badannya paling ramping. Sementara anak ceweknya ga ada yang mau duduk di belakang. Di kursi ketiga ada gue Iman dan Anda yang bisa dibilang badannya ga kecil-kecil banget, tapi mau gimana lagi.
Saat perjalanan menuju Bandung ada percakapan aneh bin tolol yang sekarang jadi tredemarknya Iman setiap kali kita ngumpul bareng lagi.
"Eh , nanti di Bandung kita harus nyobainn seblak." Kata Iman dengan antusias.
"Hah seblak? apaan tuh?" tanya yang lain penasaran. saat itu gue baru pertama kali mendengar kata seblak yang ternyata adalah jajanan khas Bandung. Dulu seblak belom jadi jajanan nasional seperti sekarang, mungkin di Badung udah terkenal, Tapi di Jakarta kayaknya belom, buktinya gue ga perah denger.
"Ada, jajanan Bandung gitu. Enak dah." Jelas Iman dengan penekanan kata enak.
"Iya itu apaan anjing?"
"Ada Co, kayak kerupuk basah gitu."
"Ga jelas anjing, kerupuk basah apa enaknya."
"Enaaak, lo harus cobainn nanti." Kata iman kembali menekankan kata enak.
"Emang lo pernah nyobain?" Tanya gue.
"Belom."
"Yeeee kocak, belom pernah nyobain tapi bilang enak."
"Kata orang-orang enak."
Sejak saat itu Iman kita anggap kurang bisa merekomendasikan sebuah makanan, wkwkwk.
japraha47 dan 17 lainnya memberi reputasi
18