Kaskus

Story

MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
PACARKU HIDUP KEMBALI
PACARKU HIDUP KEMBALI
Permisi Gan/Sis pembaca setia cerita cinta Hayati dan Asnawi, dalam trit baru ini ane mau cerita lanjutan petualangan Hayati setelah berpisah sama Asnawi.
Spoiler for Sinopsis:


KARAKTER


Spoiler for Karakter Utama:

Spoiler for Mahluk Gaib dan Bangsa Siluman:

Spoiler for Karakter Pendukung:



Quote:


Soundtrack cerita biar kayak film-film ANIME....emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Spoiler for Opening Song:


 
BAGIAN 1
ALAM BAKA
part 1



Malam itu setelah petarungan besar antara Bendoro dan Hayati, keadaan tampak sangat memilukan. Asnawi dan Hayati saling berpelukan dalam waktu lama, tubuh Hayati yang masih mengeluarkan darah tidak menjadi batu sandungan buat dirinya untuk memeluk Hayati.

Hayati menangis tersedu sedu dalam pelukan Asnawi. akhirnya setelah sekian lama, dia bisa bersatu dengan Asnawi tanpa harus mengalami berbagai gangguan. Bendoro yang selama ini muncul di kehidupannya, telah lenyap begitu saja. Memang Bendoro mempunyai tujuan yang baik demi membela kamu arwah penasaran yang diperbudak oleh bangsa siluman bangsawan, namun dia telah merenggut kebahagiaan Hayati dengan memaksanya untuk ikut berjuang. Bagi diri Hayati, Asnawi berperan sebagai pahlawan besar dalam kahidupannya sebagai arwah penasaran. Dimulai dengan pertemuan pertamanya yang sangat menyeramkan sampai mereka menjadi satu seperti sekarang ini. Banyak lika liku kehidupan cinta diantara mereka berdua ditengah jurang perbedaan yang menganga.

Hayati merasa sangat bahagia kala itu, hatinya merasa sangat tenang dan jiwanya berbunga bunga. Tubuhnya mulai menghangat seperti manusia hidup. Detak jantungnya mulai terasa dan aliran darahnya mulai menggelora. Tiba tiba seberkas cahaya berwana keemasan muncul dari langit dan menerpa tubuh Hayati yang masih beperlukan dengan Asnawi. Hayati langsung kaget dengan cahaya itu dan melapaskan pelukannya dengan Asnawi.

“mas...sinar ini?”

“maksudnya apa Hayati?”

“hatiku sekarang tenang banget dan jiwaku juga terasa hangat...jangan jangan ini tanda tanda...”

“maksudnya arwah kamu udah nggak penasaran lagi?”

“iya mas ku...huft..huft..mas.....mas..........gimana ini?”

“Hayati....kamu jangan tinggalin aku... kita udah berjanji mau hidup bersama”

“aku juga sama mas aku...hiks ...hiks...aku nggak mau pisah sama kamu mas”

Tubuh Hayati menjadi sangat hangat dan perlahan mulai memudar. Panggilan dari alam baka mulai menggema, Hayati mau tidak mau harus pergi kesana dan meninggalkan Asnawi di dunia ini. Asnawi semakin erat memeluk Hayati. Dia histeris dan tidak mau melepas Hayati.

“Hayati....tolong tetap disini, jangan pergi dulu ke alam baka..hiks..hiks”

“maafin aku mas, aku juga nggak bisa berkehendak....ini udah takdir...udah seharusnya aku berada di alam sana”

“HAYATIIIIII...........TOLONG HAYATI....TETEP JADI ARWAH PENASARAN....JANGAN TINGGALIN AKU”

“mas.....kayanya aku udah nggak bisa....aku udah pasrah akan keadaan sekarang..mas...denger aku mas...”

Hayati berusaha menegakkan kepala Asnawi yang tertunduk. Tampak mata Asnawi yang merah karena menangis dan wajahnya yang basah terkena air mata. Hayati berusaha tegar dan menguatkan Asnawi yang tengah jatuh dan larut dalam kesedihan. Hayati harus menyampaikan pesan yang bisa dijadikan bekal hidup Asnawi ditengah waktu yang samakin sempit. Lama kelamaan tubuh Hayati semakin memudar, dia harus berpacu dengan waktu.

“mas....maafin aku yah...mas...aku pengen kamu janji...aku pengen kamu berjanji sebelum aku pergi selamanya ke alam baka”

“nggak mau....kamu harus tetep disini Hayati..”

“mas...ku sayang...tolong aku yah mas.....mas harus ngerelain kepergianku yah...dan aku pengen mas berjanji”

Asnawi terdiam beberapa saat. Dia tampak berusaha untuk ikhlas untuk melepas Hayati pergi ke alam baka. Dia mulai mengatur napasnya dan menghentikan tangisannya.

“hiks...hiks....hiks..............iya aku berjanji”

“aku pengen kamu berjanji untuk menyayangi Cascade sabagaimana kamu menyayangi ku...aku pengen kamu melanjutkan hidupmu bersama dia....aku pengen kamu balikan lagi sama dia.....janji mas!”

“aku janji Hayati.........aku akan melaksanakan janji janjimu Hayati”

“makasih banget mas ku sayang...sekarang aku bisa pergi dengan tenang”

“iya Hayati sayang...aku sayang banget sama kamu...aku cinta banget sama kamu...aku nggak akan ngelupain kamu..Hayati...hatiku udah milik kamu....aku nggak akan ngasihin sama orang lain”

“mas....hiks..hiks....kamu harus tetap sehat yah mas, kamu harus rajin mandi, makan makanan sehat, nggak boleh ngerokok dan rajin olahraga mas....mas.....kayanya waktuku udah tiba...peluk aku mas”

Asnawi kembeli berpelukan dengan erat disertai tangisan yang luar biasa yang membuat suasan semakin menyedihkan.

“mas...walaupun di dunia ini kita nggak bisa bersatu...semoga di akhirat kelak kita akan ketemu lagi dan hidup bersama selamanya”

“iya Hayati..aku janji...aku akan selalu mendoakan mu dan akan melakukan semua yang kamu perintahin ka aku.....Hayati aku akan menemuimu di akhirat nanti...tunggu aku disana yah sayang....capet atau lambat aku juga akan menyusulmu ke alam sana....terima kasih Pacar Kuntilanak Ku tersayang...kamu udah mewarnai hidupku yang menyedihkan ini....”

Hayati pun akhirnya menghilang dari pelukan Asnawi. dan cahaya keemasan yang berasal dari langit pun juga ikut menghilang. Kejadian itu sama persis seperti yang Asnawi saksikan ketika 6 kuntilanak anak buah Wewe Gombel yang juga pergi ke alam baka. Asnawi kembali menangis dan berteriak teriak menyebut nama Hayati. Dia seakan akan tidak sanggup ditinggal Hayati dalam keadaan seperti itu.

Hayati terbang di dalam sebuah pusaran energi dalam tuangan yang tak terbatas. Dia melayang tanpa arah yang jelas, Hayati mencoba untuk berbalik arah melawan arus tarikan gaya,akan tetap usahanya itu gagal. Hayati menangis selama berada dalam pusaran itu. Dalam hatinya dia terus berkeluh kesah dengan keadaan yang dialaminya.

“Oh Tuhan....kenapa Engkau melakukan ini kepadaku?.....aku cuma ingin hidup bahagia bersama kekasihku....kenapa Tuhan??” gerutu Hayati dalam tangisannya.

Tiba tiba seberkas cahaya putih kecil mulai muncul diujung pusaran. Hayati langsung melihat kearah cahaya itu, dia tampak mengernyitkan dahinya. “Mungkin itu adalah pintu alam baka” gumam Hayati dalam hati. Lama-lama cahaya putih itu semakin membesar dan mendekati Hayati. Jantungnya semakin berdebar kencang ketika dia mendekatinya dan akhirnya dia masuk kedalam cahaya putih itu.

Tiba-tiba Hayati berbaring diatas tanah yang tandus. Dia menghela napas dengan kencang dan berusaha membuka matanya pelan-pelan. Hayati mulai berdiri dan melihat keadaan disekitarnya. Ternyata tempat itu adalah sebuah padang tandus yang sangat luas dan memiliki kontur permukaan tanah yang datar. Hayati tampak sangat kebingungan dengan tempat itu. Dia kemudian berjalan untuk mencari tahu tempat yang baru didatanginya itu. Padang tandus itu dipenuhi oleh kabut dan bersuhu panas, seperti suasana Kota Bandung di siang hari.

Hayati berjalan lurus kedepan untuk mengetahui tempat itu. Dia tidak bisa melihat jauh karena terhalang oleh kabut, jarak pandangnya sangat terbatas. Akhirnya dia menemukan sebuah pohon kering yang menjulang cukup tinggi. Hayati memiliki ide untuk memanjat pohon itu dengan tujuan dapat melihat keadaan di sekitarnya. Dia pun memanjat pohon itu dengan susah payah.

Wujud Hayati berubah menjadi seperti manusia, dia tidak bisa melayang dan terbang seperti biasanya, tampak tubuhnya juga memadat. Hayati masih memakai baju gaun putih kuntinya yang berlumuran darah akibat pertarungan dengan Bendoro. Ketika sampai di puncak pohon, Hayati mulai melihat lihat kondisi sekitar yang masih tertutup kabut.

Tak lama berselang, tiba-tiba angin kencang bertiup dan menyingkirkan kabut yang mengahalangi pandangannya. Hayati tampak menutup matanya ketika diterpa angin tersebut. Setelah angin itu hilang, Hayati kembali membuka matanya. Betapa kagetnya dia ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dia melihat orang-orang yang sangat banyak tampak antri untuk masuk ke dalam sebuah pintu besar yang berada di sebuah benteng yang sangat tinggi dan panjang di ujung cakrawala. Orang-orang yang kira kira berjumlah jutaan itu tampak bersabar dalam menunggu antrian masuk ke gerbang itu. Mereka tampak mengenakan kain kafan yang digunakan untuk menutup tubuh. Tergambar berbagai macam ekspresi yang tersirat di raut wajah mereka, ada ekspresi senyum bahagia, sedih, menangis dan penuh penyesalan.

................................................................

Spoiler for Closing Song:



Polling
0 suara
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Asnawi ?
Diubah oleh Martincorp 06-12-2019 08:04
muliatama007Avatar border
chrysalis99Avatar border
gembogspeedAvatar border
gembogspeed dan 207 lainnya memberi reputasi
196
688.9K
6.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
MartincorpAvatar border
TS
Martincorp
#2921
BAGIAN 40
LANGIT KELABU
part 2

Asnawi sangat terpukul dengan kematian Cascade yang begitu mendadak. Selama setahun lamanya, semenjak Cascade melanjutkan kuliah magisternya di Perancis. Selama itu pula, mereka tidak pernah kontak sekalipun, bahkan Bi Asih yang notabene orang terdekat Cascade, juga kehilangan kontak.

Sore itu menjadi sore yang kelam dalam hidupnya. Ia harus menerima kenyataan pahit ini. Kembali kehilangan orang yang dicintai. Cascade adalah cinta pertamanya dan akan selalu membekas dalam memori Asnawi.

Ia berbaring di atas ranjang sambil menangis dan meratapi semuanya. Tubuhnya terasa lemas dan seakan lumpuh. Semua urat syaraf nya tidak selaras dengan otak.

Asnawi meratap sampai malam tiba. Utami telah pulang. Ia kaget melihat Asnawi.

"Kamu kenapa Wi?" tanya Utami.

Tiba tiba Asnawi bangkit, lalu ia memeluk Utami dengan erat.

"Cascade Mi...Cascade!!"

"Cascade kenapa?"

"Dia mati..."

"APAAAAAAAAH" teriak Utami sambil melepaskan pelukan Asnawi.

"Tadi Bi Asih nelepon aku sambil nangis...Cascade kecelakaan helikopter di Swiss"

Utami pun terhenyak mendengar berita buruk itu. Ia lalu berusaha menenangkan ASnawi dengan memberikan pelukan hangatnya dan membisiki Asnawi agar bisa tegar dan menerima semua ini.

Keesokan pagi, Asnawi pergi menuju rumah Cascade. Wajahnya tampak pucat dan matanya pun menghitam. Semalam suntuk ia menangis dan meratapi kepergian mantan kekasihnya itu. Begitu tiba, ia langsung disambut dengan karangan bunga belasungkawa yang berbaris rapi menghiasai halaman rumah putih itu.

Di sana begitu banyak orang yang memakai pakaian serba hitam. Asnawi adalah satu satunya orang yang memakai baju berwarna sebaliknya. Ia memakai baju koko berwarna putih. Asnawi melihat orang orang saling berbisik. Suasana penuh duka sangat kentara di rumah itu.

Ketika memasuki ruang tamu, ia melihat teman-temannya tengah duduk di sofa. Mereka tampak sangat berduka. Para anggota genk Cascade sedang berkumpul dengan kepala tertunduk, begitu juga kedua sahabat Asnawi yakni Eka dan Febri. Febri datang bersama Letty. Asnawi kemudian menghampiri mereka.

"Guysss......!!!" sapa Asnawi.

Sontak, mereka langsung menengok kepada Asnawi, lalu mereka memeluknya secara bergiliran.

"Dimana jenazah Cascade?" tanya Asnawi dengan dingin.

"Dia lagi disemayamkan di ruang tengah Wi" jawab Rani.

"Yuk kita ngedatengin Mommy Casey!! Pasti dia lagi terpukul banget!!" ajak Milla.

Asnawi dengan teman-temannya berjalan menuu ruang tengah. Di sana tersimpan sebuah peti mati berwarna putih yang diletakan tepat di tengan ruangan. Di hadapan peti mati itu terdapat kursi yang berjajar rapi. Kursi kursi itu dipenuhi oleh pelayat yang sedang menjalani misa kematian yang dipimpin oleh seorang pastor.

Rombongan Asnawi langsung disambut oleh Bi Asih. Ia mengajak mereka untuk memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu Asnawi melihat Mommy Cascade sedang duduk sambil rangkul oleh seorang wanita tua berkulit putih. Dia adalah neneknya Cascade.

Mommy Cascade tampa berwajah pucat dan kedua matanya sembap karena terlalu banyak menangis. Bi Asih berusaha memberitahunya bahwa Asnawi dan para sahabat Cascade telah datang.

Mereka kemudian satu persatu mengucapkan belasungkawa kepada Mommy Cascade sambil menyalaminya. Ketika giliran Asnawi tiba, Mommy Cascade secara spontan memeluk dirinya sambil histeris.

"Aa Nawi...kumaha ieu teh? Si Kesih bet ningalkeun urang...urang geus teu boga sasaha deui A"

"Sabar Mih..sabar!...sing tabah Mih...sami Aa oge sedih pisan di tingal maot ku Kesih...Aa nyaah pisan ka Kesih...tapi saprtosna takdir tos kieu"

"Aa..atuh Aa, mamih geus kaleungitan dua anak...ayeuna mamih teu rido kaleungitan si Kesih"

"Mih...serahkeun sadayana ka Alloh! Alloh pastina nampi si Kesih ...ayeuna urang ngadoakeun Kesih supados dihampura dosa dosana...sareng ditampi amalan solehna"

Mommy Cascade kemudian melepas Asnawi. Ia terlihat lebih tenang setelah mendapat bisikan dari Asnawi.

Dua jam kemudian, prosesi pemakaman pun dimulai. Peti jenazah di angkat oleh beberapa orang menuju halaman belakang rumah dimana telah menganga sebuah lubang kubur yang telah digali sebelumnya.

Cascade dimakamkan di halaman rumah karena ibunya tidak mau jauh dan bisa mengunjungi makamnya setiap hari. Para pelayat mengiringi peti jenazah menuju liang lahat. Mommy tampak berjalan pelan dengan digandeng oleh Bi Asih dan Merry. Sementara Asnawi, Febri, Eka, Letty, Rani, Vania dan Mila berjalan di belakang mereka. Tampak Rani memegang potret Cascade untuk diletakan nantinya di atas makam.

Peti jenazah kemudian diturunkan secara perlahan ke dasar liang lahat. Setelah itu Mommy memasukan sebuah karangan bunga ke dalam lubang itu. Tiba-tiba, dia kembali histeris lalu tan sadarkan diri ketika berbicara di depan para pelayat. Ia pun akhirnya dibopong kembali ke rumahnya.

Prosesi pemakaman pun dilanjutkan tanpa kehadiran Mommy. Asnawi kembali menitikan air mata ketika para petugas pemakaman, menuangkan pasir ke liang lahat. Begitu juga dengan teman teman se-genk nya, mereka kembali menangis karena tak sanggup melihat pemandangan ini.

Setelah liang lahat tertutup tanah, semua orang diberi kesempatan memberikan salam terakhir untuk Cascade. Mereka meletakan bunga mawar diatas permukaan tanah. Waktu itu Asnawi tak meletakan satu kuntum bunga pun di sana. Ia tak sanggup menerima kepergian Cascade sehingga ia tak mau melepasnya.

Acara pemakaman selesai. Sebagian besar pelayat kembali pulang. Sebagian kecil masih berada di rumah putih itu. Asnawi dan teman temannya pergi ke kamar Cascade untuk mengenang kenangan indah disana. Mereka saling berbagi kenangan indah bersama Cascade ketika hidup satu sama lain.

Asnawi duduk diatas ranjang, disebelahnya ada Merry. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di bahu Asnawi dan tangannya menggengam erat. Hal itu membuat anggota genk lainnya merasa terganggu.

Tak lama berselang, Bi Asih masuk ke dalam kamar Cascade. Merry seketika langsung menegakan tubuhnya dan melepas tangan Asnawi.

"Den...Nyonya besar pengen ngomong sama kamu" kata Bi Asih.

"Ngomong apa Bi?" tanya Asnawi.

"Pokoknya kamu harus nemuin dia sekarang Den" jawab Bi Asih.

"Okeh Bi"

Asnawi kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi bersama Bi Asih. Merry hanya menatap kosong Asnawi ketika itu.

"Bibi sayang...sebenernya apa yang terjadi sama Cascade?" tanya Asnawi sambil berjalan bersama Bi Asih menuju kamar Mommy.

"Non Cascade waktu itu berencana mau pergi ke cottage punya temennya di kaki pegunungan Alpen...seperti biasa dia kalo kemana mana selalu pake helikopter punya Nyonya besar...tapi pas udah masuk di perbatasan antara Swiss dan Perancis, tiba tiba ada kerusakan mesin...Kapten Benjamin sebagai pilot gak bisa ngendaliin helikopter itu, sampe akhirnya jatuh dan meledak"

"Astagfirullah!!! Jadi Cascade meninggal seketika?"

"Iya Den...sangat mengenaskan...makanya peti matinya gak buka tadi, karena jasad Non Cascade udah gak utuh dan hangus"

"Oh Cascade...kenapa lu jadi gini !" gumam Asnawi yang terisak kembali.

Mereka memasuki sebuah kamar yang berada di lantai dasar. Suasana kamar sangatlah suram dan gelap. Asnawi untuk pertama kalinya masuk ke kamar Mommy Cascade. Tampak Mommy Cascade duduk di sebuah sofa dengan wajah murungnya.

"Mih...ini Aa Nawi" sahut Bi Asih.

"Mangga calik A didieu!" perintah Mommy Cascade.

"Muhun Mih" Asnawi langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Mommy Cascade.

"Neng Asih...calik oge!" perintah Mommy untuk Bi Asih.

Mommy Cascade menarik selembar tissue dari sebuah kotak, lalu ia mengelap air mata yang membasahi wajahnya.

"Neng Asih...Aa Nawi, Mamih sekarang ngerasa sakit hati...ngerasa hancur sehancur hancurnya bahkan hidup juga seakan gak ada artinya lagi...si Kesih ninggalin Mamih sebegitu cepetnya...harta berhargaku telah pergi selamanya...semua itu udah takdir buat Mamih...mamih harus nerimanya...mamih ikhlas ditinggal si Kesih....Kesih akan selalu hidup di hati dan pikiran Mamih"

Asnawi dan Bi Asih mengangguk sambil tertunduk mendengar omongan Mommy. Mereka tak berani menanggapi pembicaraannya.

"Neng Asih??"

"Iya Mih"

"A Nawi..."

"Iya Mih"

"Mamih tuh udah gak punya siapa siapa lagi di dunia ini semenjak ditinggal Kesih, walaupun sebenernya Mamih masih punya banyak sodara...tapi Mamih kesepian...kalian berdua lah adalah keluarga terdekatku saat ini..."

"Iya Mih...aku juga udah nganggep Mamih ini Ibuku juga" sahut Asnawi.

"Jadi begini, Mamih mau ngasih rau kalian berdua kenapa selama ini Kesih gak mau kontak selama tinggal di Perancis...asal kalian tau kalo sebenernya si Kesih itu hamil"

Asnawi dan Bi Asih terkejut mendengar kabar itu. Mereka terhenyak seakan terambar petir di siang bolong.

"Kesih punya anak Mih? Dia udah nikah?" tanya Bi Asih.

Mommy mengambil sebuah gawai dari tas nya. Ia lalu membuka gawai itu dan memperlihatkan beberapa foto kepada Bi Asih dan Asnawi.

"Ini adalah foto pernikahan Kesih di Perancis...diadainnya sederhana...dia nikah sama Benjamin"

Asnawi seketika kembali terhenyak melihat Cascade tengah berpose dengan memakai gaun pengantin serba putih, sedangkan di sebelahnya ada sosok pria kulit putih yang tampan dan gagah dengan mengenakan setelan tuxedo hitam.

"Bukannya Benjamin ini pilot yang nganter Non Cascade Mih?" tanya Bi Asih.

"Ya...dia pilot pribadiku...dia jugabikut mati dalam kecelakaan itu" Mommy kembali terisak.

"Kenapa Mamih gak bilang bilang sama kamu kalo Non Cascade menikah?" tanya Bi Asih.

"Semua itu permintaan Kesih...dia gak mau orang orang lain tau...cukup aku saja yang tau...dan sekarang anak Kesih menjadi yatim piatu"

"Apaaaaaah...Cascade udah melahirkan?" tanya Asnawi.

"Iya Aa...tiga bulan yang lalu, Kesih melahirkan anak laki laki... Dia adalah Henry...cucu pertama dan terakhirku" jawab Mommy sambil memperlihatkan kembali foto foto Cascade bersama anaknya.

"Anak ini kelak akan mewarisi semua kekayaanku...dan aku pengen kalian berdua jadi orang tua asuh buat cucuku ini...apa kalian siap??"

Bi Asih dan Asnawi mendadak terdiam, mereka seakan bingung menjawabnya. Tiba tiba Asnawi pun langsung menanggapi pertanyaan Mommy.

"Aku siap Mih...begitu juga Bi Asih...apalagi dia ini seorang ibu, pasti bisa ngurus Henry" kata Asnawi.

"I...i..iii....ii..iya...iya aku siap Mih....aku siap jadi ibu asuh Henry...bagaimanapun juga dia ini keponakanku..aku siap menyayanginya seperti aku menyayangi Non Cascade" tambah Bi Asih.

"Alhamdulillah kalo begitu...sekarang umur Henry baru 3 bulan...dia belum kuat menempuh perjalanan jauh pake pesawat...nanti 3 bulan lagi, dia akan kubawa kesini pake jet pribadiku" kata Mommy.

"Iya Mih" sahut Bi Asih.

"Neng Asih...aku laper...bikinin makan lah buatku, tapi harus kamu yang masak yah!!" pinta Mommy.

"Iya Mih...Mamih mau makan sama apa?" tanya Bi Asih.

"Nasi goreng aja Neng...biar cepet"

"Baik Mih...aku mau ke dapur sekarang"

Bi Asih meninggalkan kamar Mommy. Asnawi menjadi tegang dan grogi karena hanya berdua saja di kamar itu dengan Mommy Cascade.

"Aa Nawi...sini!!! Duduk disebelahku!!"

"I...ii...iya Mih"

Asnawi dengan pasrah pindah ke sebelah Mommy. Tubuhnya semakin gemetar dan wajahnya tegang. Tiba tiba, Mommy Cascade menampar Asnawi dengan kencang sebanyak dua kali. Asnawi sangat kaget dengan aksi brutal itu, hidungnya pun berdarah.

"Itu adalah pelajaran setimpal buat kamu Nawi!!! Kamu anak kurang ajar!!" bentak Mommy.

"Salah aku apa Mih? Aku gak ngerti?" tanya Asnawi sambil memegangi pipinya.

"Kamu salah banget lah...kamu melakukan kesalahan fatal...untungnya aku masih berbelas kasih sama kamu karena kamu adalah orang yang paling dicintai si Kesih"

"Sumpah Mih...Aku gak ngerti...salahku apa?"

"Apa kamu tau ayah biologis dari cucuku?"

"Benjamin??"

"Bukan!! Ayah biologis cucuku adalah kamu Nawi!!! Kamu udah ngehamilin anakku!! Kamu bener bener kurang ajar!!"

Asnawi kembali terkaget kaget mendengar omongan Mommy. Jantungnya serasa berhenti dan napasnya pun tak beraturan.

"Astagfirulloh Mih!! Bukan aku yang...."

Mommy Cascade kembali menampar Asnawi dengan kencang.

"Kesih yang ngaku Wi!!! Dia bilang semuanya!!! Kamu nidurin anakku semalam sebelum pergi ke Perancis"

"Tapi...tapi..tapi...kita gak ngelakuin apa apa Mih...sumpah!!"

"Jadi kamu gak ngaku yah!!" teriak Mommy.

"Sumpah Mih...sumpah demi Allah!! Kita waktu itu cuman ngobrol berdua di kamar semaleman sambil minum vodka"

"Hmmmm...minum Vodka???"

"I...ii...iya Mih...Cascade yang maksa aku minum itu"

Mommy kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia lalu membuka laci meja rias untuk mengambil sebuah amplop. Dia memberikan amplop itu kepada Asnawi.

"Baca ini!!"

"Apa ini Mih?"

"Itu adalah hasil tes DNA...itu bahasa Perancis, kamu liat aja hasil dalam tabel itu"

Asnawi dengan sek.sama membaca tabel yang ada di tengah surat laporan hasil tes itu. Walaupun berbahasa Perancis, Asnawi mengerti beberapa simbol yang menunjukkan kalau DNA Henry identik dengan DNA miliknya.

"Semua pernikahan itu hanya setingan buat nutupin aib Kesih...ketika dia tiba di Perancis, dia bilang ke Mamih agar gak ngontak lagi kamu...karena dia gak mau kamu jadi repot...seminggu kemudian, dia nunjukin tes pack sama Mamih yang hasilnya positif"

"Kenapa Mamih gak bilang kalo dia hamil anakku? Aku sangat siap bertanggung jawab"

"Mamih tau kamu bakalan jawab gitu...Mamih tau kamu itu anak yang baik...kamu pasti akan menikahi Kesih...tapi si Kesih yang gak mau itu...dia pengen ngebesarin anak ini sendiri tanpa harus kehadiran ayah...dia gak mau bikin kamu repot Wi...Astagfirullah!! Dia bener bener keras kepala...Mamih juga gak habis pikir...sampe Mamih bikin acar nikahan palsu...Mamih nyuruh Benjamin jadi suami palsunya untuk nutupin aib"

"Maafkan aku Mih...aku prihatin sama keadaan Mamih saat ini...aku rela melakukan apa saja demi menebus dosa yang udah kuperbuat"

"Iya Nawi...Mamih maafkan semua kesalahanmu...semua ini bukan salah kamu semata, tapi Kesih juga yang udah maksa kamu mabuk...Mamih pengen kamu ngurus cucu semata wayang ku ini dengan baik...sayangilah dia dan rawatlah dia dengan baik...anak itu adalah darah dagingmu dan Kesih...kamu gak usah khawatir dengan biaya...Mamih tanggung semuanya"

"Akan kulakukan Mih...aku juga sanggup membiayai Henry...aku ku sayangi dia dan kucintai dia sebagaimana aku cinta sama Kesih...Kesih adalah cinta pertamaku Mih...sebenernya aku pengen balikan sama dia...ribuan kali aku ngajak dia tapi aku selalu ditolak"

"Ya begitulah kelakuan anakku itu Wi...Mamih juga heran...tapi sekarang dia udah tenang di surga sana...walaupun Mamih dan Kesih beda keyakinan, tapi Mamih selalu mendoakan dia yang terbaik"

"Aku juga Mih"

"Tapi aku minta sama kamu agar rahasia ini terjaga...jangan ada satupun orang yang tau kalo Henry adalah anakmu...termasuk Bi Asih!!"

"Iya Mih...aku siap menjaga rahasia ini"

Tak lama Bi Asih kembali ke kamar Mommy sambil membawa nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan minuman. Asnawi kembali ke tempat duduknya dan bertingkah biasa seolah tidak ada kejadian apapun.

...


chrysalis99
symoel08
kaduruk
kaduruk dan 45 lainnya memberi reputasi
46
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.