- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Mencintai Bandot Tua
...
TS
blackgaming
Aku Mencintai Bandot Tua
Aku Mencintai Bandot Tua


Spoiler for Update Chapter:
Chapter 1
"AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuhentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois, setelah itu aku segera berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah dan ibu sedang duduk termangu dan lesu.
Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Rumah yang dahulu bak surga, kini berubah seperti neraka yang panas dan selalu membuat aku muak.
Tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja.
Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai.
Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit menimpa tanah menembus ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli.
Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini?
Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah.
Aku ingin berontak rasanya tak mungkin, pacarku si Bagas pun angkat tangan saat aku mengajaknya kimpoi lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!"
Dasar pengecut! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii!
Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak.
Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku.
Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam.
Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya.
Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya.
Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh.
Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya.
Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa.
Aku hanya bisa mengelus dada serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti.
Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban.
Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka.
🖤🖤🖤
Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini.
Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan.
Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya.
Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung.
Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi mahkota gold dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku.
"Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku.
Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul.
Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
"Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah.
Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. 'Pangeran apaan? Pangeran kodok kali,' sungutku dalam hati.
Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini.
"Saya terima nikah dan kimpoinya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kimpoi satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."
Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka ini. Tidaaaaaak!
Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya.
Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai gembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini.
Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan.
Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax.
Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju.
Kuhempaskan tubuh di ranjang, menghela napas panjang memindai kamar ini. Mencebik dan merutuk, meski sia-sia tapi itu bisa membuatku lega dan merasa lebih baik.
Kemudian aku berdiri, sudah saatnya menanggalkan 'pakaian lenong' ini, aku ingin mandi dan istirahat dengan tenang dan damai.
Saat pakaian dan semua atribut tanggal, pintu diketuk. "Pasti itu si Batu alias Bandot Tua," sungutku geram.
Dengan wajah masam aku membuka pintu, tanpa menegurnya aku kembali masuk menyambar handuk kimono yang tergantung di paku. Tanpa menoleh kepada dia, aku bergegas pergi meninggalkannya.
Sesampainya didalam kamar mandi, aku segera membersihkan diri. Hampir 2 jam lamanya aku semedi didalam kamar mandi, karena kewalahan mengurai rambut setelah disasak tadi.
Setelah berhasil mengurai rambut yang kusut, aku pun segera membasuh seluruh tubuh. Segar rasanya, apalagi setelah keramas kepala ini jadi enteng sekali.
Di dalam kamar, aku pakai baju kebesaran emak-emak yaitu daster. Usai mengoleskan pelembab muka, aku pun langsung berbaring di atas spring bed yang empuk dan nyaman. Si Bandot Tua tidak ada di sini, membuatku sangat damai dan tenteram tentunya.
Namun ketika akan terlelap, pintu kamar kembali diketuk dan terdengar suara derap langkah si Bandot Tua memanggil namaku.
"Dek, ini Mas Fian tolong buka pintunya!"
Aarrrgghh!
Aku merutuk dalam hati, dengan wajah kesal segera kubuka kunci pintu. Setelah itu kembali ke formasi awal tadi.
Suara sepatunya membuat telinga ini sakit, dia menggantungkan jasnya di kastop dekat lemari pakaian.
Kuintip dengan mata yang pura-pura dipejamkan, dia sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Dek, bisa minta tolong ambilkan handuk?" Tangannya mengusap pundakku.
Tanpa menjawab aku bangun dan beranjak membuka lemari, untuk mengambilkan benda yang dia butuhkan.
'Uh beneran ya nih si Bandot Tua ini, ngeganggu ketenangan gue aja!' Kedua kalinya aku merutuk dalam hati.
"Makasih ya, Dek. Mas mandi dulu," ucapnya sok imut.
'Mandi aja sono, kaya gue nungguin lo aja dasar 'Batu' alias Bandot Tua.'
Aku tersenyum dan mengangguk, berusaha tidak menunjukkan rasa kesalku padanya, semuanya kulakukan demi keluarga.
Sepeninggal dia, aku pun pulas tertidur. Beberapa kali dia membangunkan aku untuk salat, tapi aku tak menggubrisnya. Aku beralasan aku sedang haid.
Selepas isya setelah selesai makan malam bersama, dia mencoba mengajakku bicara berdua di dalam kamar sebelum kami terlelap.
"Mas tahu, Dek Amel belum siap dengan pernikahan ini. Tapi mas minta, Dek Amel harus mulai belajar menerimanya ya," ucapnya pelan tapi tegas.
"Om Fian, eh ... Mas Fian jangan bicara kaya gitu, dengan aku bersedia menikah, itu artinya aku sudah menerima Mas Fian. Suka gak suka, toh aku gak punya pilihan."
"Alhamdulillah kalau begitu, mas lega dengarnya. Mudah-mudahan saja pernikahan kita ini bisa membawa kebaikan untuk kita dan diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ya, Dek."
"Aamiin," jawabku tampak penuh harap, padahal penuh rutukan.
Beberapa saat kemudian Mas Fian meraih dan mencium punggung tangan ini dengan lembut, rambutku ia usap perlahan. Tanpa menunggu izin, dia mendaratkan ciuman di kening, lalu turun ke pipi dan bibir.
Aku tidak memberi respon, bukan tidak bisa berciuman tapi aku merasa jijik ketika bibirnya menyentuh dan mamagut bibirku. Tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah ini.
"Kok diam, Dek? Kamu belum siap ya?"
"Eng-enggak, Mas. Aku gak tahu cara berciuman, aku bingung harus bagaimana," kilahku bohong. Padahal waktu pacaran dengan Bagas, sering aku berciuman alias baik.
"Maaf Mas Fian, aku belum bisa malam ini." Tanganku mendorong dada bidang itu pelan, menghentikan aksinya.
"Kenapa, Sayang?" Kata 'sayang' yang dia ucapkan barusan, benar-benar bikin aku gumoh, huweekk!
"Aku sedang ada tamu bulanan, Mas. Makanya tadi aku gak salat." Harap-harap cemas berharap ia percaya, dan tidak meraba apakah aku memakai pembalut atau tidak.
Ia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Iya mas tahu, tadinya mas kepingin mesra-mesraan aja gitu." Kulihat ada gurat kecewa di wajahnya, tapi aku gak peduli yang penting aku berhasil-berhasil horeeee.
Itu artinya aku harus bersandiwara mendapat tamu bulanan selama seminggu lamanya, hal itu tidak membuatku aman tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu.
Hari ini, adalah hari pernikahan kami yang kelima, dan sesuai dengan perjanjian awal aku akan meninggalkan rumah dan ikut bersama Mas Fian ke rumahnya.
Rasanya sangat berat aku berpamitan dengan orang tua dan kedua adikku, air mata ini tumpah. Aku tidak kuasa harus berpisah dengan mereka.
Walaupun aku bisa setiap saat bertemu dengan mereka, karena rumah Mas Fian dan orang tuaku hanya berjarak kurang lebih 100km. Namun, tetap saja itu suatu hal yang membuatku sangat bersedih.
"Ingat ya, Nak, pesan ayah! Harus hormat dan patuh pada suami, ayah selalu berdoa yang terbaik untukmu," bisik Ayah ketika memelukku.
Kujawab petuah Ayah dengan anggukan, lelaki paruh baya itu tahu betul seperti apa perasaanku saat ini. Tapi, Ayah tidak mau tahu dan terkesan tidak peduli. Aku merasa dijual pada si Bandot Tua, diri ini tak ubahnya seperti budak pemuas nafsu yang dipersembahkan untuk pejabat pada masa kerajaan dulu.
Aku dan mas Fian memasuki mobil, tak kuasa menahan tangis saat besi yang mewah yang ditumpangi meninggalkan rumah yang selama kurang lebih tiga tahun ini aku tempati.
Aku menangis sesegukan didalam mobil, lambaian tangan mereka tidak bisa hilang dari ingatan.
Mas Fian yang duduk di sebelah memeluk erat, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak juga bisa membuatku luluh untuk mencintainya.
"Jangan sedih lagi, Dek, setiap saat Adek ingin ke rumah Ayah bilang saja, mas akan antar."
Aku mengangguk dan terus menangis, di sepanjang perjalanan menuju rumah mas Fian.
Lebih satu jam kemudian, kami tiba di rumah mewah yang begitu asri dan nyaman. Aku dan mas Fian turun dari mobil, Pak Zaki, sang supir segera membuka bagasi dan menurunkan koper-koper.
"Asslamualaikum," ucap Fian ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya bersanggul, dengan wajah menor yang sedang asik membaca majalah di sofa ruang tengah.
Wanita bergaya bak ibu sosialita itu adalah ibu mertuaku, Ibu Siska namanya. Dari raut wajahnya sepertinya ia tidak suka padaku, terbukti pada saat pernikahan dulu dan sekarang tatapannya tetap sama, sinis.
Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Bodo amat lah, toh aku juga nikah karena terpaksa. Seandainya wanita itu mengusirku suatu hari nanti, hal itu akan jadi senjata ampuh untuk bisa lepas dari belenggu pernikahan ini.
Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, kemudian ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.
Aku bersikap sama, mencium tangan mertuaku yang sebelumnya menatapku dari atas sampai bawah, seperti aneh melihatku. Padahal jelas-jelas dia yang menurutku aneh.
Kami berbincang sebentar dengan Bu Siska, setelah itu Mas Fian mengajakku untuk beristirahat di kamarnya.
Tangan ini dituntun masuk, menuju ruangan pribadi yang terletak di dekat ruang tengah. Sesampainya di dalam, aku takjub dengan kamar tidurnya, begitu nyaman dan wangi sekali. Mataku berkeliling menatap ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan perabotan modern dan tentunya mahal.
Dahulu, kehidupanku juga bisa dibilang mampu. Tapi rumah masa kecilku tidak semewah rumah Mas Fian, haruskah aku merasa beruntung karena mempunyai suami tajir?
"Dek, lemari pakaian yang tiga pintu itu baru. Mas sengaja belikan untuk menyimpan semua pakaianmu. Karena lemari Mas sudah penuh, hehe."
"I-iya Mas, terima kasih." Aku merasa kikuk dan canggung di rumah mewah ini.
"Mas, aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucapku memecahkan kecanggungan dengannya.
Mas Fian mengangguk dan mengeret koper kami kedekat lemari pakaian. Segera aku membuka dan mengambil pakaian santai juga handuk, membawanya ke kamar mandi yang lagi-lagi membuat aku takjub dibuatnya.
Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang. Menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil. Mas Fian tidak mau jauh dariku, ia duduk menemani dan menawarkan diri untuk membantu mengeringkan mahkota indah ini.
Jujur, aku merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuannya. Bulu romaku merinding saat wajahnya mendekat, dari pantulan cermin aku lihat matanya terpejam saat menghidu bau harum yang menguar dari rambutku. Embusan napasnya membuat tengkuk meremang, adegan tidak senonoh pun terbayang dalam benak.
Tidak tahan dengan perasaan jijik yang menguasai, aku bangkit dan menyibukkan diri menyusun pakaian dari dalam koper ke lemari.
"Bibik saja nanti yang ngerjain, Dek," katanya sembari menatapku lekat.
Aku menggeleng dan tersenyum sok manis. "Aku bisa sendiri, Mas. Gak puas kalau barang pribadi, orang lain yang ngerjain."
Mas Fian mengangguk, lama kelamaan dia merasa bosan melihatku tak memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk menghabiskan waktu berduaan, dia berpamitan untuk keluar kamar setelah sebelumnya bertanya aku mau makan apa saat makan malam nanti.
"Apa aja, aku makan, Mas."
"Baik, mas keluar ya."
"Iya."
Sepeninggal Mas Fian, aku berhenti bersandiwara. Kuhempaskan bokong ini, melepas lelah setelah berusaha lolos dari cengkeraman singa tua, hehe.
Saat jam makan malam tiba, aku duduk di depan meja makan malam yang mewah dan indah. Berbagai macam menu masakan lezat tersaji di atasnya, lengkap dengan makanan penutup dan buah-buahan.
Diubah oleh blackgaming 07-03-2021 14:59
sormin180 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
22.1K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#1
Chapter 2
"Dek, sudah pulangkah tamu bulanannya?" bisik Mas Fian.
Mataku terbelalak, kedua tangan ini gemetar ketakutan. Jawaban apa yang harus katakan padanya?
Beberapa saat aku terdiam, ingin rasanya aku berbohong lagi, tapi kalau dia minta bukti gimana? Tapi kalau aku gak bohong, itu artinya aku ... Gustiiiiii, tolong Baim eh tolonglah hambamu ini ya Allah.
"Dek," panggilnya lagi, benar-benar tak tahu malu. Rupanya dia udah gatal, kepingin rasanya bantu ngegaruk pakai sikat kawat, huh!
"I-iya, Mas." Aku berlagak pilon, padahal sedang bingung memikirkan jawaban atas pertanyaan si Bandot Tua yang memeluk sembari menciumi tengkuk ini.
Weleh-weleh geli bin enek aku dibuatnya, dalam diam penuh dengan kegelisahan yang hebat aku berpikir keras. Suara panggilan si Bandot Tua membuatku sulit untuk bisa mendapatkan ide brilian untuk ngeles.
"Dek, udah selesai belum haidnya?"
Pertanyaan terakhir itu, terdengar penuh dengan pengharapan. Akhirnya dengan lemas, aku mengangguk tanda kalau si tamu bulanan sudah pulang.
Aku yakin kini wajahnya berseri, dan matanya berbinar bahkan bisa jadi ada tanda love maju mundur berdenyut-denyut.
Dugaanku tepat, 1000% sangat tepat. Karena apa? Karena tangannya mulai bergerilya menjelajah, dan dengan semangat'45 ia menciumi setiap jengkal tengkuk, pundak dan punggung ini.
Kupejamkan mata, menahan semuanya dalam diam. Begitu pula saat tubuh ini dibalikkan olehnya, aku pasrah saja. Bukan berarti aku murahan loh ya, karena ini menunaikan kewajiban aja. Takut dosa dan kualat.
Sentuhan lembut dan ciuman mesranya, sama sekali tidak dapat membakar hasrat ini, jauh di lubuk hati aku menangis karena harus menyerahkan kesucian kepada laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai.
Dengan penuh perasaan Mas Fian mengayuh biduknya sendiri, seolah tidak peduli dengan sikap tak acuh ini. Peluh bercucuran yang dibarengi lenguhan panjang, jadi pertanda bahwa dirinya telah tuntas menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Hancurlah aku, malam pertama yang digadang-gadang indah nan syahdu malah kurasa menjadi malam yang paling kelabu. Di dalam kamar mandi yang luas ini, aku menangis sejadi-jadinya. Kunyalakan keran penuh, agar suara tangis tidak terdengar keluar.
Aku benci keadaan ini, aku menyesal kenapa dilahirkan pada keluarga yang tega menjual putrinya pada bandot tua yang tidak aku cintai.
"Semua gara-gara Ibu dan Ayah, aku benci kalian, benciiii!"
Setelah menangis, beban dan rasa sedihku sedikit berkurang. Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
Mas Fian kembali memelukku, ia memeluk belakang tubuhku, membelai lembut rambut dan bekali-kali mencium tengkuk leherku.
"Terima kasih ya, Dek, kamu bersedia menerimaku menjadi suamimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu."
"Iya Mas, sudah kewajiban untukku melayanimu." Ya aku menerima nafkah batin dari kamu hanya karena kewajiban, bukan cinta.
🖤🖤🖤
Pagi ini adalah pagi pertamaku di rumah Mas Fian, walaupun enggan tapi aku bangun pagi-pagi sekali. Aku ingat nasihat Ibu, katanya kalau di rumah mertua wajib bangun pagi supaya mertua menyayangi kita.
Setelah mandi dan salat subuh aku keluar kamar menuju dapur, Mas Fian yang masih terlelap kutinggalkan saja, toh aku tidak peduli dengannya.
Kulihat seorang wanita seusia ibuku sedang sibuk mencuci piring. Aku berjalan mendekatinya, wanita itu tersenyum dan memanggutkan kepalanya padaku.
"Bik, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sungkan.
"Oalah, ngapain Non Amel ke dapur pagi-pagi begini?"
"Kata Ibu, kalau di rumah mertua harus bangun subuh, Bik. Hehe." Dengan polosnya aku menjawab.
"Benar itu, Non. Tapi di rumah ini, majikan gak boleh ngerjain kerjaan rumah."
"Duh, jangan kaya gitu ah, Bik. Aku bantuin bikin apa kek, Bik."
"Jangan, Non! Biar Bibik saja yang mengerjakan semuanya."
"Tapi Bik, aku bingung harus ngapain sepagi ini."
"Nona Amel bisa jalan-jalan saja keliling komplek, atau berenang dikolam renang yang ada di halaman belakang."
"Bik jangan panggil 'Nona'! Panggil saya Amel."
"B-baik, Neng Amel."
"Nah begitu lebih enak didengar, saya gak biasa kalau harus olahraga pagi-pagi, apalagi berenang bisa-bisa nanti masuk angin."
"Hehe, si Neng bisa saja. Ya sudah kalau gitu Neng Amelia duduk nonton tivi saja, jam segini biasanya acara siraman rohani."
"Gak mau, ah. Biarin saya di sini ya Bik, please."
"Neng Amel duduk aja di sana," tunjuk Bik Nani.
"Ah, Bibik! Oh iya, nama Bibik siapa?"
"Panggil saja Mawar eh salah, hehe ... nama Bibik, Nani."
"Haha, Bibik bisa ngelawak juga ternyata."
Tawa kami pun berderai.
"Ayolah, Bik! Kasih saya kesibukan apa aja yang penting gak melongo sendirian."
"Tapi, kalau nanti Mas Fian marah gimana?"
"Enggak akan, Bik. Nanti saya bilang, kalau saya yang mau sendiri. Jangan takut, Bik."
"Ya sudah kalau gitu, Neng Amelia rebuskan air saja di teko stainless itu, lalu siapkan teh celup dan gulanya ya."
"Ok Bik, siap. Saya minta kerjasamanya ya Bik, saya benar-benar merasa asing di rumah sebesar ini."
"Baik, Neng."
Aku segera mengisikan air ke teko stainless sampai 3/4 bagian, setelah itu menaruhnya diatas kompor.
"Bik, teh dan gulanya di mana?"
"Itu Neng, di kitchen set atas." Bik Nani menunjuk letak teh dan gula dengan jempol kanannya.
"Oke, ini takaran segimana? Maniskah atau biasakah?"
"Kalau punya ibu pakai gula tanpa kalori kemasan, karena Ibu punya diabetes, tapi kalau Mas Fian dan Neng Desi pakai gula pasir biasa. Takarannya 2 sendok teh saja."
"Oke."
Teko stainless berbunyi tanda air dudah mendidih, aku mematikan kompor lalu mengangkatnya.
Saat hendak menuangkannya ke dalam cangkir-cangkir yang berjejer rapi di atas nampan, Bik Nani mencegahnya cepat.
"Eh tunggu Neng, jangan langsung dituang! Harus dibiarin dulu lima menit."
"Loh kenapa?"
"Perintah Ibu, Neng, Bibik juga gak ngerti kenapa."
Aku mengangguk mendengar ucapan Bik Nani, meskipun sebenarnya dalam hati aku merutuk, 'Ribet banget sih di rumah ini, masalah air saja ada peraturannya. Hadeuh ....'
"Ini, Bik, sudah lima menit, sudah boleh aku tuang?"
"Iya Neng sudah boleh ...."
"Oh ya Bik, setelah ini aku ngapain lagi?"
"Ini saja Neng tolong kocokin telur 4 butir, lalu didadar di teflon. Hanya pakai garam ya neng jangan pakai micin."
"Duh mana enak Bik, kalau cuma garam."
"Hehe sudah Neng ikutin saja. Semua orang di rumah ini generasi non micin."
Aku geleng-geleng, Bik Nani tertawa melihat ekspresiku.
"Dek, tolong kesini sebentar!" suara Mas Fian mengejutkanku.
Dengan enggan aku gontai berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari dapur.
"Ya Mas ada apa?"
"Dek, tolong ya kalau habis pakai barang disimpan kembali ke tempatnya. Supaya nanti kalau mau pakai lagi, kita gak bingung mencarinya."
"I-iya," jawabku pelan.
Mendengar ucapannya aku agak tersinggung, jadi cowok kok bawel banget, masalah sisir salah naro aja pake dibahas segala, ckck.
Sepeninggal dirinya ke kamar mandi, aku segera bergerak merapikan tempat tidur.
"Oh ya Dek, ini handuk bekas pakai kan basah tolong jangan langsung digantung di sini, lebih baik dijemur dulu di halaman samping supaya terkena sinar matahari. Jadi gak lembap, soalnya bisa menimbulkan jamur kalau handuk basah dibiarkan lembap."
Aku mengangguk dan mengambil handuk bekas pakai yang ia pegang, lalu keluar kamar dan berjalan menuju halaman samping untuk menjemurnya.
'Benar-benar banyak banget aturan di rumah ini, dasar perjaka tua, bujang lapuk, bandot tua!' aku merutuk Mas Fian dalam hati.
Setelah selesai menjemur aku kembali ke kamar untuk melanjutkan merapikan tempat tidur. Ketika masuk, Mas Fian baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ia tersenyum kepadaku.
Bergegas ia mengenakan baju koko dan sarung, menunaikan salat subuh dengan khusyuk.
Usai salat, ia beranjak dan membuka lemari pakaian dan mengambil sepotong kemeja tangan panjang beserta celana jeans biru dongker.
Diam-diam kuperhatikan penampilan Mas Fian, tidak ada yang aneh dengannya, wajahnya lumayan tampan, matanya bulat dan cokelat, hidungnya bangir dengan bibir agak tebal, tumbuh pula brewok tipis yang rapi dan terawat, membuat parasnya gahar dan macho.
Kulitnya tidak terlalu putih tapi bersih, badannya tinggi atletis, meski perutnya tidak ada roti sobeknya tapi ramping alias tidak buncit. Dia tidak jelek, tidak juga tampan, ya sedang-sedang saja lah. Tapi kenapa dia betah berlama-lama menjadi bujangan sampai usianya 40 tahun?
"Dek!" Suara Mas Fian membuyarkan lamunanku yang sedang membuat penilaian terhadapnya.
"Ini uang untukmu, Dek Amel bisa pakai untuk membeli keperluan pribadi Dek Amel. Kalau untuk masak sudah diserahkan ke Ibu, Ibu yang mengatur semuanya. Kalo Dek Amel mau makan tersendiri, bilang saja sama Bik Nani ya!"
Aku menerima amplop putih berisikan uang yang lumayan tebal itu.
"Ehm, Mas aku boleh kasih sebagian ke Ibu dan Ayah gak?" Tuh kan, walau aku bilang benci sama mereka, tetap saja aku tetap khawatir dan sangat peduli.
"Silahkan, Mas gak akan pernah melarang Dek Amel untuk kasih uang pada orang tua dan adik-adik. Karena mereka sudah Mas anggap keluarga Mas sendiri, jauh sebelum kita menikah."
"Makasih Mas, sisanya mau aku tabung saja. Tapi aku belum punya rekening bank."
Mas Fian tersenyum dan menatapku. "Bikinlah rekening, jadi setiap Mas kasih Dek Amel jatah bulanan praktis, tinggal transfer saja."
"Iya nanti aku bikin, makasih ya." Ia terus menatapku, salah tingkah aku dibuatnya.
"Oke, sekarang kita sarapan yuk!"
"Eh tunggu Mas, aku mau nanya sesuatu lagi."
"Ada apa?"
"Nanti kalau Mas kerja, aku di rumah ngapain? Mau ngerjain kerjaan rumah ada Bibik, mau diam terus di kamar gak enak, mau nonton tivi di luar sungkan. Mau nonton di dalam kamar juga takut disangkanya gak mau temani Ibu. Bingung aku, Mas."
"Haha, kaya gitu aja kok dipusingin. Ikutin saja alurnya, Ibu Mas gak ribet kok."
Kugaruk kepala yang tidak gatal, alih-alih menjawab Mas Fian malah menarik tangan dan menuntunku berjalan ke dapur untuk sarapan bersama.
Setelah sarapan aku mengantar Mas Fian sampai depan pintu, aku mencium punggung tangannya dengan takzim.
Sesaat setelah mencium tangannya, Mas Fian mengecup keningku.
"Mas berangkat dulu ya ...."
"Iya."
"Dek Amel baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Mas."
"A-aku ... aku gak punya no hpmu, Mas."
"Dasar, no hp suami sendiri gak disave. Ya sudah nanti Mas kirim no Mas ke Dek Amel ya."
"Iya, Mas."
"Aku berangkat dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah mobil yang dinaiki Mas Fian berlalu menghilang dari pandangan, aku bergegas masuk ke dalam.
Saat akan masuk ke dalam kamar terdengar suara ibu mertua memanggilku.
"Menantu, sini dulu!"
'Gila! Menantu? Dia gak bisa manggil gue pake nama apa? Duh dasar emak-emak judes manggil seenak jidat dia,' rutukku dalam hati.
"I-iya Bu, ada apa?"
"Sini duduk!" Jari telunjuknya menunjuk sofa di hadapan. "Kamu sudah dapat uang bulanan dari anak saya belum?"
"Sudah, memangnya kenapa, Bu?" jawabku heran.
"Coba kasih dulu ke saya, saya mau tahu anak saya kasih duit berapa sama kamu."
"Saya belum menghitungnya, Bu."
"Makanya bawa sini uangnya! Biar saya yang hitung."
Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan mengambil amplop yang diberikan oleh Mas Fian tadi. Tanpa curiga, aku menyerahkannya. "Ini Bu, amplopnya."
Ibu mertua secepat kilat menyambar benda putih di tanganku, mulut dan tangannya sibuk menghitung lembaran uang dengan pecahan seratus ribuan yang jumlahnya cukup banyak tersebut.
"Lima juta, jumlahnya banyak banget ini."
"Saya gak minta, Bu. Mas Fian yang ngasih, saya rasa standar lah Mas Fian ngasih ke istrinya lima juta."
"Menurut saya jumlahnya terlalu banyak, karena kan uang untuk belanja dapur dan keperluan sehari-hari sudah ada budgetnya tersendiri, uang lima juta buat apa? Jadi kamu ambil saja dua juta, nih! Ini yang tiga juta, saya yang pegang."
"Tapi Bu, saya gak mau kalau uang saya diambil tanpa alasan."
"Gak usah membantah! Anak saya sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk keluargamu. Sekarang kamu juga dikasih uang sebanyak ini enak banget, jadi sudah seharusnya saya mengamankan setiap uang yang dikeluarkan olehnya. Kita harus hemat. Karena kalau tidak, bisa-bisa anak saya bakalan kere diperah sama kamu."
Mendengar ocehan si Nenek Gambreng yang seenaknya membuat aku naik pitam, apalagi saat ekor matanya mendelik kepadaku, ingin sekali rasanya aku cungkil. Aneh sekali kurasa, baru sehari tinggal bersama sudah menabuh genderang kepadaku. Apa salah dan dosaku sayang? Cinta suci kau buang-buang, lihat jurus yang kan kuberikan, jaran gorang, halah kok malah nyanyi sih.
Ibu mertua memasukkan uang sejumlah sesuai dengan yang ia sebutkan tadi ke dalam amplop, dan daebak! Dia melemparkan amplopnya ke meja kaca yang ada di depanku. Geram, ingin sekali aku cekik sampai mati, tapi aku takut dosa dan takut masuk penjara.
Sejenak aku diam mematung, membalas sorot matanya yang tajam serta menghujam jantung ini.
"Jangan coba bersikap gak sopan!"
Kudongakkan wajah ini, dengan dagu agak naik. "Aku gak mau nerima uang sisa itu, aku mau utuh! Itu hak aku, bukan hak Ibu."
"Kamu ya, kecil-kecil udah berani ngelawan. Gak tahu diri banget, kamu tahu gak anak saya sudah habis berapa untuk maranin keluarga kamu, kamu bisa tamat sekolah dari siapa duitnya kalau bukan dari anak saya? Sehabis bangkrut, ayah kamu itu cuma penjual makanan online. Berharap para pelanggannya masih mau berlangganan, tapi gak berhasil. Ujung-ujungnya, anak saya yang direpotin."
Air mata ini menggenang, bibir tipis si Nenek Gambreng terasa bagai silet yang menorehkan luka terasa sangat sakit, meski tidak berdarah tapi sungguh sangat parah.
Tak ingin terlihat lemah di hadapannya, aku segera mengambil amplop itu dan masuk ke dalam kamarku. Dalam ruangan besar ini, tak kuasa menahan tangis, ingin sekali rasanya mengadu tapi kepada siapa? Mau menghubungi Mas Fian, tapi aku gak tahu kontaknya.
Alhasil, aku mengurung diri di kamar seharian ini, sampai akhirnya aku terlelap tidur sampai sore hari. Suara dering ponsel mengejutkanku, panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Berharap itu Mas Fian, segera aku menjawabnya.
"Halo," sapaku.
"Halo, assalamualaikum Dek."
"W-waalaikumsalam, ini Mas Fian bukan?"
"Iya, Dek, ini Mas."
"Mas, aku tunggu teleponmu dari tadi," isakku tak kuat lagi menahan perih di hati ini.
"Ada apa? Kok nangis."
"Cepat pulang," pungkasku tak kuat untuk bercerita.
"Iya-iya, Mas sebentar lagi sampai rumah. Sudah ya, jangan nangis lagi."
"Iyaa aku tunggu."
Setelah menutup telepon, aku bergegas mandi dan salat ashar. Setelahnya, aku enggan keluar dari kamar. Malas bertemu dengan si Nenek Gambreng, yang mulutnya seperti kaleng rombeng. Jadinya, aku memutuskan untuk berdiam diri saja di kamar, menunggu mas Fian pulang.
Sore beranjak petang, kutatap langit yang berubah warna jingga keemasan lewat jendela yang menghadap ke halaman samping bercanopi yang lumayan luas dan menyejukkan mata karena di sana berjejer rapi tanaman hias kaktus mini di dalam pot berukuran kecil berwarna putih.
Itu semua koleksi Mas Fian, Bik Nani tadi sempat cerita sekilas tentang hobi berkebun suamiku. Melihat pemandangan indah itu, sejenak membuatku merasa tenang. Akhirnya, sepuluh menit menjelang magrib, sosok yang ditunggu pun datang mengetuk pintu.
Tergopoh aku memburu pintu, kubuka anak kunci dan kenop. Untuk kali pertama, aku merasa senang melihatnya. Bukan karena aku cinta, tapi karena aku merasa dia adalah malaikat penolong buatku.
Tanpa tersenyum, aku mencium punggung tangannya. Dia mengelus puncak kepalaku dengan lembut penuh kasih sayang.
Usai menutup pintu, tidak menunggu ia berganti pakaian aku langsung mengadukan perbuatan ibunya tadi pagi.
"Masa uang aku yang dari Mas Fian diambil dia, Mas."
"Bukan dia, Dek. Tapi, beliau."
Tangisku semakin kencang, saat anak dari si Nenek Gambreng ini bukannya membela dan membuatku tenang, malah sibuk meralat sebutan untuk ibunya.
"Mas!" pekikku dengan derai air mata semakin deras. Aku bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian, kutarik koper di sudut kamar.
Mas Fian tidak membuang waktu, dengan tegas dia menutup resleting benda kotak berwarna abu tua tersebut dan menyimpannya kembali ke tempat semula.
"Dek Amel mau apa?"
"Ya mau pulang, masa iya mau berenang."
Mas Fian tetap bersikap tenang, dia merengkuh kedua bahu yang bergetar ini kemudian merangkulnya dan membawaku duduk di tepi ranjang berukuran king itu.
"Jangan begitu, Dek. Jangan pernah keluar dari rumah ini tanpa izin dari Mas! Apalagi sampai pulang ke rumah Ibu dan Bapak, kalau ada masalah sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Gak kaya gini, sarkas."
"Habisnya Mas, bukannya belain aku malah ngoceh gak jelas."
"Ngoceh apa? Ini soal uang, kan? Nanti Mas ganti uangnya. Sudah-sudah jangan nangis lagi."
"Bukan minta diganti uangnya, Ibu Mas Fian jahat!"
"Jangan bicara seperti itu, Dek! Gak ada orang tua yang jahat. Tolong jaga bicaramu, gak baik bicara seperti itu tentang Ibu."
Mendengar nada suaranya mulai meninggi aku pun diam, nyaliku ciut dan seketika tangisku berhenti.
"Sudah ya, masalah ini jangan diperpanjang, nanti Mas ganti uangnya."
Aku bergeming, mendorong tubuhnya yang erat memelukku.
"Bersiap salat magrib ya, Mas mau mandi dulu."
Mas Fian bangkit, sebelum beranjak dia membalikkan tubuhnya. "Jangan pernah lagi menyebut Ibu dengan sebutan yang gak baik ya, Dek!"
"I-iya, Mas." Meski gondok, aku mengiyakan.
Mas Fian berlalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkanku yang masih melongo karena terkejut mendengar ucapannya. Sumpah, aku menyesal sudah mengharap pembelaan darinya. Karena bukan rasa tenang yang aku dapatkan, malah tambahan luka. Nestapa dan malang benar nasibmu, Mel.
'Ibu sama anak sama aja, sama-sama judes dan galak. Amit-amit jabang bayi,' rutukku.
Ketika adzan magrib berkumandang aku segera berwudhu di kamar mandi luar, dan menunaikan salat tanpa menunggu Mas Fian yang masih ada di dalam kamar mandi.
"Kok salat sendiri?" ucapnya, usai aku mengusap kedua telapak tangan ke wajah.
Aku menoleh tapi tidak menjawab, hanya mencium punggung tangannya saja. Pura-pura tidak mendengar ucapannya, aku santai saja membuka dan melipat mukena yang barusan kupakai.
Mas Fian berganti pakaian dan bergegas salat, ia terlihat tampan dengan stelan koko putih dan sarung berwarna hijau.
Namun tetap saja hatiku belum bisa lope lope sama dia, bagiku dia hanya sebagai orang yang selama ini menolong keluarga kami dari kesulitan keuangan, tidak lebih.
Aku menyibukkan diri dengan membaca majalah yang ada di meja kerjanya Mas Fian, walaupun isinya tidak menarik tapi tidak ada hal lain yang dapat aku kerjakan selain itu.
Mas Fian memutar kursi yang sedang aku duduki, sehingga kini posisiku berhadapan dengannya.
"Dek, tolong belajar bersikap dewasa. Kamu sekarang bukan seorang anak dari Ayah dan Ibu lagi, kamu sekarang seorang istri. Gak baik kalau apa-apa selalu mengandalkan ego dan emosi."
"Ah, aku gak pernah mau menjadi seorang istri secepat ini, usiaku baru 19 tahun itu pun nanti bulan Mei. Kalau Mas gak suka sok weh ceraikan aku, biar aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Nanti aku akan kerja dan membayar semua uang yang sudah Mas keluarkan untuk kami."
"Jaga bicaramu, Dek! Pernikahan adalah perjanjian manusia kepada Allah untuk menjaga pasangannya sampai maut memisahkan. Bukan permainan yang dapat disudahi ketika merasa marah atau bosan."
"Pokoknya aku gak betah di sini, aku mau pulang saja ke rumah Ibu. Tujuan Mas menikah, kan ingin meniduri aku, jadi Mas kalau sedang 'mau' datang saja ke sana maka, aku akan melayani sampai Mas puas."
"Astaghfirullah, ucapanmu kasar sekali, Dek! Kamu anggap aku cowok apa ini apa itu, eh ... kamu anggap aku ini laki-laki macam apa?"
"Laki-laki yang mengharap budi baiknya dibayar kembali, dengan menjadikan aku sebagai istrinya."
"Cukup, Dek! Ucapanmu sudah lewat dari batas, ini semua masalah uang kan? Biar Mas ganti, kamu mau berapa? Bilang saja!"
sormin180 dan 8 lainnya memberi reputasi
9