Kaskus

Story

breaking182Avatar border
TS
breaking182
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
Quote:


Quote:

Diubah oleh breaking182 17-03-2026 11:08
ibra212Avatar border
69banditosAvatar border
bohemianflaneurAvatar border
bohemianflaneur dan 28 lainnya memberi reputasi
27
13.1K
97
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
breaking182Avatar border
TS
breaking182
#18
BAGIAN TUJUH


Mobil terus melaju. Berkejar-kejaran dengan perasaan cemas yang berkecamuk dalam batin ku. Berpacu dengan otak seorang polisi dalam kepala Suradi. Di suatu tempat, hujan gerimis tampak turun sebentar. Menjelang tiba di rumah yang kita tuju, gerimis itu berhenti. Suradi membelokkan mobil memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, yang di kiri-kanannya berdempetan rumah rumah penduduk yang penuh sesak. Seekor anjing berlari menyeberangi jalan.

Dan sekelompok anak anak kecil mengorek - ngorek sesuatu dari dalam selokan yang mampet. Mobil BMW warna hijau yang aku naiki dengan Suradi di belakang kemudi mengurangi kecepatan ketika memasuki halaman sebuah rumah besar berpekarangan luas dengan pemandangan yang nyaman di sekelilingnya. Matahari senja menggeliat di balik bukit barisan seribu ketika aku dan Suradi turun dan berjalan ke beranda.

"Pijit belnya”

Suradi berbisik.

"Aku sudah tak sabar ingin melihat paras Mira. Mantan gadis mu itu ", Suradi menyeringai.

Seorang pelayan perempuan yang sudah setengah umur berpakaian kebaya dan berwajah jernih menyambut kami dengan senyuman bersahabatan. Dia lah bi Ijah pelayan setia Mira yang sudah mengabdi puluhan tahun. Semenjak kedua orang tua Mira masih lengkap.

“ Oh..Mas Bayu. Pagi benar sudah kesini lagi membawa teman “

Kesini lagi, kalimat itu membuat naluri Suradi seperti lampu alarm yang menyala. Sekejap ia melirik ke arah ku. Namun, aku pura –pura tidak tahu. Berjalan pelan memasuki serambi. Meninggalkan Suradi yang masih berdiri. Terdiam.

“ Silahkan duduk Mas Bayu dan……”, Bi Ijah tidak meneruskan kata –katanya.

“ Suradi Bi…..”

“ Iya Mas Suradi, maaf saya belum pernah bertemu dengan njenengan jadi tidak tahu”

“ Oh, ya saya tinggal sebentar membangunkan Mbak Mira. Sedari malam tidak dapat tidur, baru terlelap tadi menjelang subuh “

Silahkan Bi Ijah”, jawab ku cepat.

Perempuan tua itu lalu beranjak pergi dari ruang tengah. Selang beberapa waktu. Tirai di seberang ku terbuka. Seorang perempuan muda cantik keluar dari balik tirai. Masih gaun tidurnya yang berwarna merah dan berpotongan anggun. Meski wajahnya terlihat pucat namun, kecantikannya masih memancar dari wajah itu. Berlawanan dengan apa yang diharap Suradi dan apa yang aku cemaskan, Mira mendengarkan semua yang diceritakan oleh bekas sahabatnya dan laki-laki lain yang memperkenalkan diri sebagai seorang polisi berpangkat Kapten itu .

Tak sepatah kata pun perempuan itu memotong, la memang pucat, tetapi tidak gemetar apalagi melolong histeris. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah: “Perihal dia sudah meninggal, saya sudah mendengarnya.”

Tenang. Tanpa emosi.

Aku mengangguk mengiyakan. Sedang Suradi, tak berkedip matanya mengawasi tuan rumah. Namun tampak jelas dari wajah kapten polisi itu bahwa ia telah keliru apabila ia beranggapan tugasnya malam itu berakhir di rumah ini. Hari ini juga.

Berkata dia: “Kami lega, Ibu cukup tabah menghadapi musibah ini.”

“Apakah tangisanku semalam suntuk dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati?”, balas Mira.

Suradi terbatuk dibuatnya. Tetapi tentu saja ia bukan orang yang mudah menyerah, la langsung menyerang:
“Ibu tidak keluar rumah sepanjang malam?”

“ Terus terang aku tidak bisa tidur. Bahkan, sekitar jam sebelas keluar sekedar cari angin di Legend Kafe di seputaran Kotabaru,” jawab Mira, datar.

“ Banyak saksi disana. Bahkan, kawan anda juga bisa memperkuat alibi saya “

Pandangan Mira tertuju lekat -lekat ke arah ku. Dan pandangan Suradi juga menghunjam ke jantungku. Tertangkap basah kau. Seolah mata itu berbicara seperti itu. Masa bodoh ucapku dalam hati.

“ Kalau anda belum puas, pelayan saya boleh anda tanya juga.”

“Tak ada saksi lain?”

“Mantan suami saya, kami cuma bertiga di rumah ini. Hanya saja mantan suami saya sudah dua bulan ini tidak di rumah ini. Kami telah resmi bercerai”

Dan Suradi yang kukuh pendirian itu mengajukan pertanyaan berikut:
“Apakah suami Ibu punya musuh?”

“Musuh?” Mira mengerutkan dahi sebentar, lalu menyimpulkan dengan sedikit ragu:
“Sepertinya tidak. Profesi suami….. Maaf mantan suami saya sangat jauh dari kata permusuhan. Dia seorang dokter spesialis “

“Dia punya musuh?” ulang Suradi, menegaskan pertanyaan semula.

“Musuh suamiku yang sesungguhnya, ada di rumah ini !”

“Saya akan berterimakasih, kalau Ibu bersedia menerangkan maksud kata-kata Ibu...” Suradi sedikit menganggukkan kepala, hormat tetapi mendesak.

“... seperti saya terangkan tadi,” gumam Mira, hambar. “

“Siapa?”

Mira balas bertanya, heran:
“Tidakkah perempuan itu mengatakannya?”

“Perempuan... Perempuan yang mana?”

“Penghuni rumah, di mana mayat suami saya kalian temukan.”

Aku tertegun. Tegang.

Dan kembali lagi Suradi mengajukan pertanyaan.

“Saya akan berterimakasih apabila Ibu dapat menolong saya mengenali barang-barang bukti ini,” katanya, tenang.

Dua amplop berwarna putih polos di korek Suradi dari balik saku jaket. Amplop satu perlahan diletakkan di atas meja. Dan amplop lainnya ia buka simpulnya dan di angkat miring sedemikian rupa sehingga isinya jatuh perlahan di permukaan amplop pertama. Selembar cabikan kain.

“Apa itu?” tanya Mira dengan dahi mengernyit.

“Bagian dari sesuatu. Mungkin saja kemeja laki-laki. Dapat juga bagian dari blouse atau rok seorang perempuan. Apakah ibu pernah lihat?”

“Tidak.”

Mira menggeleng.

“Pasti? Coba –ibu ingat –ingat lagi”

“Ya. Tentu saya ingat. Bahwa, saya belum pernah melihat sobekan kain itu”

“Hem,” Suradi tidak menyembunyikan perasaan kecewa di wajahnya selagi memasukkan cabikan kain itu ke amplop semula. Amplop itu ia letakkan pula di meja, dan mengambil amplop lainnya. Dia berbuat sama, memiringkan amplop kedua sedemikian rupa sehingga dengan sedikit digoyangkan isinya jatuh ke permukaan amplop putih polos yang berisi cabikan kain itu.

“Bagaimana dengan yang ini?”

Mira sedikit membungkuk ke depan, demikian pula aku. Penuh rasa heran aku mengawasi sejumput kecil. Mungkin rambut, berwarna kelabu kehitam -hitaman, terikat selembar benang halus.

“Rambut siapa ini?” bertanya Mira.

“Jadi anda setuju dengan saya, bahwa itu rambut. Dokter kami di kepolisian menyebutnya dengan istilah lain.”

“Apa?” Aku menyela, penasaran.

“Bulu.”

“Bulu? Bulu manusia?”

“Menurut dia, bulu binatang.”

“Binatang ……”

Jantungku kembali berdegup kencang. Ingatanku kembali hinggap sebuah tulisan yang telah diposting di sebuah foum internet. Kaskus. Asu Ajag Pegunungan Tepus. Aku sengaja tidak menceritakan tentang tulisan fiktif di forum itu kepada Suradi. Karena aku yakin orang itu pasti akan memaki ku habis –habisan dan menertawakan berkepanjangan karena percaya kepada sebuah tulisan fiksi dari penulis yang juga tidak terkenal.

Suradi masih juga mencecar Mira: “Baiklah. Kita sependapat bahwa ini rambut. Pernah mengenali seseorang dengan rambut ini?”

Mira meluruskan duduknya. Dan apa yang diharapkan baik oleh ku maupun oleh Suradi sendiri, dengan segera dikeluarkan oleh Mira.

“Tidak!” jawabnya tegas dan yakin.

Suradi mengantongi lagi kedua amplop itu. Aku yang tak kuat menahan penasaran, langsung nyeletuk: “Dari mana semua itu Bapak peroleh?”

“Dari telapak tangan mayat itu. Kami kira ia sempat merenggutnya sebelum ia mati. Kesimpulan nya, ia tidak mau meninggal tanpa memberi jejak. Itu satu. Kesimpulan kedua, perbuatan itu dilakukannya tanpa sengaja selagi ia memberi perlawanan habis-habisan untuk mempertahankan nyawa yang cuma selembar.”

Perwira polisi itu masih akan mengata kan sesuatu. Tetapi cepat ia batalkan, manakala ia melihat pipi Mira dilelehi butir-butir air mata. Pura –pura tidak tahu Suradi berkata:

“Terimakasih untuk bantuanmu, Ibu. Katakanlah, bila ada hal-hal yang ingin kami bantu.”

Mira diam saja.

Terpaksa Suradi menelan ludah. “Ikut denganku?” ia bertanya, seraya mengerlingku yang terharu mengawasi Mira.

“ Sebentar, pak.”

Maka Suradi terus saja keluar, berjalan menuju mobilnya di pekarangan. Setelah berpamitan sebentar pada Mira. Aku mengikuti perwira itu. Membuka pintu mobil dan masuk. Dan sebelum Suradi menyelinap masuk, aku melihat Kapten polisi itu tertegun. Sejenak berpaling ke pintu rumah Mira. Hanya tampak sebagian tubuh perempuan itu, masih tetap duduk di kursinya semula. Diam. Tak bergeming.

Suradi bersungut-sungut.

“Baiklah. Mira, tidak lebih kuat dari Murni. Lagi, Mira begitu polos. Jujur. Dia tidak berusaha menutup-nutupi sesuatu yang dapat memberatkan dirinya. Sepintas lalu, ia bebas dari sangkaan pelaku pembunuhan itu.”

Aku menarik nafas lega.

“ Sementara, kesimpulanku pembunuh itu seorang laki-laki. Lelaki tinggi besar, kuat. Berdarah dingin, mampu berbuat hal-hal luar biasa. Dan kau bisa menuliskan ini di ceritamu. Dibumbui dengan ceita –cerita mistis bombastis dan sedikit erotisme. Bukankah kau suka menulis Bay? “
Aku mengangguk tanpa membuka mulut. Lantas Suradi melanjutkan perkataanya,

“ Supaya tulisan mu banyak yang lihat dan baca seperti tulisan si Genta dengan Keluarga Tak Kasat Mata-nya, kau tambahkan saja: based true story ! Orang Indonesia itu paling suka dengan cerita yang diembel –embeli dengan cerita yang katanya nyata”

Suradi masuk ke mobil BMW itu, menghempas kan pintu sampai tertutup dengan bunyi keras, lantas meluncur pergi.


Diubah oleh breaking182 25-02-2021 00:01
ariefdias
69banditos
bohemianflaneur
bohemianflaneur dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.