- Beranda
- Stories from the Heart
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#16
BAGIAN ENAM
Saksi 1
Bagito, Pekerjaan seorang pedagang grosir sembako. Lelaki paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan dengan ukuran badan pendek dan gemuk. Dan selalu terlihat riang dan penuh senyum kepada semua orang. Malam sudah mulai larut. Tetapi, malam itu Bagito belum juga beranjak dari kiosnya. Biasanya setelah tutup kios, ia langsung pulang. Kebetulan, malam itu masih kerja lembur sendirian di kios yang ukurannya lumayan lega karena digunakan sekaligus sebagai gudang persediaan dan penyimpanan. Tiga karyawan yang biasa membantu, semuanya sudah pulang ke rumah masing –masing. Malam itu ia sedang menyusun daftar pemasukan dengan pengeluaran uang sepanjang pagi buka sekitar jam tujuh sampai ia tutup pukul delapan malam tadi.
Lelaki itu masih sibuk berada di depan sebuah computer tua yang kadang untuk menyalakan perlu di tepuk –tepuk monitornya. Ia beranjak dari depan monitor manakala jam dinding yang menempel di tengah ruangan kecil itu menunjukkan pukul 11.15. Lalu ia hampiri handphone yang tergeletak di atas tumpukan karung beras. Memijit beberapa angka. Menunggu sebentar. Terdengar sahutan dari seberang telpon. Ia sedang menelepon seorang distributor pengganti karena distributor langgananya sedang tidak bisa mengirim barang karena sedang ada keperluan mendesak. Tiba –tiba ia mendengar suara-suara ribut yang aneh dari rumah sebelah terdengar. Mulanya tidak ia perdulikan. Bagito masih asyik bercakap –cakap melalui handphone nya. Bahkan, lelaki itu sesekali terbahak karena lawan bicaranya mengajaknya bercanda.
Baru setelah ia dengar suara orang menjerit, Bagito buru –buru meletakkan telepon. Lalu dengan penuh rasa penasaran dan ingin tahu membuka jendela depan. akan tetapi, tidak dapat melihat dengan jelas ke rumah sebelah yang pekarangannya bisa dikatakan luas dan beberapa sudutnya tumbuh pohon yang rindang. Oleh karena itu ia bergegas membuka pintu. Sesaat tertegun di ambang pintu. Berpikir mungkin tetangga sebelah sedang bertengkar dengan seseorang, la ragu -ragu. Tidak ingin turut campur dalam masalah pribadi tetangganya.
Manakala ia hendak menutup pintu untuk melanjutkan pekerjaanya yang terhenti. Pada saat itulah teriakan kedua terdengar. Teriakan ketakutan, yang membuat Bagito tanpa berpikir panjang lantas segera menghambur ke luar. Setelah sebelumnya menyambar sepotong tongkat besi penarik rolling door. Pemilik kios grosir sembako ini lari ke halaman, melompati pagar pemisah dengan tergesa –gesa. Pada saat memasuki pekarangan rumah sebelah. Bagito menemukan mayat seorang lelaki dengan keadaan yang mengerikan. Tercabik -cabik.
Darah menggenang dimana –mana. Terpekik ngeri kemudian ia lari terbirit -birit kembali ke dalam kiosnya. Tangan gemetaran jarinya memijit beberapa angka di handphonenya. Saksi inilah yang menelepon ke kantor polisi. Bagito tidak melihat ada mayat lain kecuali mayat lelaki itu yang terakhir diketahui bernama Irfan. la juga tidak melihat gadis penghuni rumah sebelah, karena gadis yang tinggal di rumah itu sering pergi belanja di kiosnya.. Dengan sendirinya, ia tidak melihat ada orang lain di sekitar tempat kejadian perkara.
Saksi 2
Parti, Pemilik kios kecil-kecilan. Letak rumahnya sedikit berhadapan dengan rumah terjadinya pembunuhan. Sekitar pukul tujuh malam. Ketika itu warungnya masih buka, ia melihat seorang lelaki memasuki rumah itu. Dan Parti sudah sangat hafal, lelaki itu memang sering mengunjungi rumah di depannya. Diketahui rumah itu dihuni oleh dua orang kakak beradik. Si kakak perempuan bernama Murni, sedangkan adiknya seorang bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama bernama Yudi, sempat membeli sebungkus rokok di warungnya sekitar pukul setengah delapan. Manakala Parti sudah bersiap –siap hendak menutup warungnya. Biasanya warung tutup jam delapan. Parti tahu betul kalau bocah bukan perokok. Jadi Parti beranggapan tentu rokok itu untuk keperluan tamu kakaknya. Seorang lelaki yang dilihatnya tadi.
Parti sempat berbicara sebentar dengan bocah lelaki itu.
“Kudengar, kakakmu akan menikah,” kata Parti.
“Kemungkinan besar seperti itu Bu Par ”
“Murni bersedia?”
“ Entahlah, itu urusan mereka Bu,” kata Yudi, sedikit tidak senang.
“Kau menyukai calon suami kakakmu itu?”
“Tidak ”
“ Apa karena ia sudah punya isteri?”
“Ya. Katanya ia akan menceraikan isteri nya yang sekarang. Tetapi bila itu ia lakukan, suatu ketika kelak dapat pula kakakku ia ceraikan. Dan jika hal itu sampai terjadi aku berjanji tidak akan segan untuk mencincang tubuhnya..”
“ Hussst…jangan bicara seperti itu “
Tanpa menggubris lagi, bocah laki –laki bernama Yudi itu kemudian kembali ke rumahnya. Tidak berapa lama. Ketika Parti akan menutup warung ia lihat Yudi keluar dan tampaknya akan pergi. Parti menghentikan menutup warungnya menggunakan papan –papan kayu yang di selipkan sedemikian rupa. Perempuan itu lantas bertanya heran:
“Mau ke mana ?”
“Ke rumah teman Bu Par.”
Yudi kemudian berlalu dan menghilang di ujung jalan. Parti geleng-geleng kepala. Ikut prihatin dengan nasib anak kecil itu. la tidak melihat sesuatu yang aneh terjadi di rumah seberang gang. Rumah itu masih sepi. Meski lampu teras dan ruang tengah masih menyala terang benderang.
Sebelum tidur Parti memeriksa dulu apakah ketiga orang anak-anaknya sudah tertidur lelap atau belum. Jika belum biasanya ia menemani sebentar sambil membujuk mereka untuk segera memejamkan mata. Di kamarnya Parti masih merebahkan diri, belum mamapu untuk memejamkan mata dan terlelap. Entah apa yang terlintas di pikirannya. Ia tiba –tiba menangis. Teringat suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Akibat sebuah kecelakaan pesawat terbang terbesar yang pernah terjadi di republik ini. Semua korbannya mati terpanggang tidak satupun yang selamat.
Parti tidak tahu apakah ia sudah tidur atau masih bangun ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi berisik di luar rumah. Badannya basah kuyup seperti orang habis mandi. Telinganya mendengar sesuatu sura misterius.
“Rasanya ada suara menggeram-geram. Seperti geram binatang buas. Apakah ada kucing yang berkelahi? Atu mungkin anjing milik tetangga ujung jalan sedang berebut tulang? Hanya saja mengapa suaranya menyeramkan seperti itu?”
“ Apakah aku sedang bermimpi?”
Mengira ia bermimpi, Parti makin membenamkan dirinya di balik selimut. Tak berapa lama kemudian, ia mendengar suara orang menjerit. Serta merta perempuan itu terlonjak dari ranjangnya.
“Wah….Binatang itu sudah menerkam mangsanya,” pikir Parti, dan ia lari ke kamar tidur anak-anaknya.
Penuh rasa cemas ia memeriksa keadaan ketiga anaknya. Tak seorang pun dari mereka yang terbangun malam itu. Parti semakin takut, waktu terdengar jeritan kedua, terdengarnya dari arah mulut gang. Jeritan ketakutan suara perempuan. Murni..ya Parti sangat yakin itu suara Murni. Sebelum jeritan kedua itu bergema, sempat Parti mendengar suara aneh tadi seperti lewat di depan rumahnya. Mendengus –dengus dengan serak.
“Geram binatang buas. Seperti harimau, mungkin singa , mungkin juga serigala…..”
Tubuh Parti gemetaran di balik pintu. Perempuan itu tidak berani sedikitpun melongokkan kepala meskipun dari jendela. Parti baru ke luar setelah mendengar bunyi sirene polisi dan banyak suara langkah-langkah orang berlari dan berteriak-teriak di sekitar rumahnya. Ketika ia dengar suara membentak:
“Hayo minggir. Biarkan kami lewat!”
Barulah perlahan -lahan Parti berani menyingkap tirai jendela dan mengintip lewat jendela depan. la melihat banyak tetangganya berkerumun di depan rumah Murni, dan di sepanjang gang. Barulah Parti berani beranjak ke luar, dan mengetahui dari cerita orang dan penglihatan nya sendiri ada dua mayat tergeletak tak jauh dari rumahnya.
Saksi 3
Gimin. Kuli bangunan sebuah poli klinik.
Gimin malam itu mendapat giliran tugas ronda malam bersama tiga teman yang lain. Tugas mereka menjaga material –materia bahan bangunan dari jarahan tangan –tangan usil. Sepengetahuan mereka terkadang banyak orang yang kepepet keadaan ataupun memang maling yang nekad mencuri besi, semen, dan ubin keramik. Mereka terbagi dua kelompok. Namun tadi malam, keempat penjaga malam itu lebih banyak duduk ngobrol di pos jaga. Tanpa memutar area pembangunan poli klinik. Alasannya, sederhana malam itu kebetulan mendung. Dan sering kali tiba –tiba gerimis.
Manakala ke empat penjaga itu asyik bermain kartu remi. Sayup –sayup terdengar jeritan. Hanya sekitar dua kali. Namun keempat peronda itu mengabaikannya karena tenggelam dalam permainan kartunya. Mereka baru sadar, saat dua orang polisi datang ke arahnya. Dan bertanya beberapa pertanyaan yang erat kaitannya dengan kejadian pembunuhan yang terjadi di malam itu.
“ Bapak –bapak tidak mendengar kalau telah terjadi pembunuhan sadis malam ini ?”
“ Sama sekali tidak Pak”, jawab seorang peronda yang memakai topi kupluk berwarna hitam.
Seorang polisi lantas menyodorkan sebuah foto. Ke empat peronda itu sebentar kemudian sibuk memelototi orang yang ada di dalam foto. Ke empatnya mengangguk –angguk.
“Kami tahu dan beberapa kali pernah melihat lelaki ini Pak. Dan juga sudah lama mendengar bahwa lelaki itu… siapa ya namanya. Kalau tidak salah namanya Irfan. Entah Irwan… Dia sudah punya isteri. Semua orang di sini sudah tahu semuanya, bahwa isterinya pernah mendatangi perempuan muda penghuni rumah itu...” demikian antara lain kesaksian Gimin.
“Mereka bertengkar. Tentu saja. Tapi tak sampai saling caci-maki. Apalagi jambak-jambakan....”
“Berapa kali isteri korban datang ke sini?”, seorang polisi mengajukan pertanyaan.
“Setahu saya, cuma satu kali Pak. Itu saja saya tidak melihat dengan mata dan kepala saya sendiri. Hanya saja gosipnya santer dibawa orang –orang kampung”
“ Apakah bapak –bapak ini tidak melihat Irfan datang? “
Gimin dan ketiga kawannya menggelengkan kepala. Malam itu mereka tidak melihat Irfan datang menemui Murni.
“Saya baru tahu, kalau malam tadi ada pembunuhan sadis. Dan korbannya Pak Irfan,” Gimin bergidik.
“ Apakah bapak -bapak melihat sesuatu yang aneh di dalam atau sekitar rumah gadis itu? Barangkali ada tamu atau orang lain yang juga sering datang ke rumah itu?”
“Tidak sama sekali Pak. Setahu saya Cuma lelaki yang bernama Irfan itu”
Saksi 4
Mawan dan Budi. Warga kampung peronda malam itu.
Mawan dan seorang temannya meronda sekitar pukul sepuluh karena harus mengambil jimpitan di tiap rumah. Mereka berdua sempat melihat sebuah taksi warna biru dengan gambar burung berhenti tidak jauh di mulut gang. Mawan melihatnya dari kejauhan, tak dapat mengenali siapa yang turun karena ia saat itu juga meneruskan perondaan bersama temannya ke arah lain.
“ Jadi sopir taxi sepertinya enak Bud “, kata Mawan kepada temannya yang bernama Budi.
“ Kata siapa? Enak kalau sering narik. Sehingga uang setoran dan uang bensin bisa terpenuhi. Kalau lagi apaes kita juga yang nombok. Cita –cita yang anahe pengen jadi sopir taxi “
“ Bukan begitu Bud, jangan salah sangka. Maksud ku tadi hanya beranda - andai saja “
Lantas kedua pemuda yang kebetulan dapat giliran ronda malam itu berjalan kea rah lain.
Kira-kira antara pukul 11.15 dan pukul 11.20 malam itu Mawan dan teman yang sama berkeliling kembali di tempat yang tadi. Budi berhenti sejenak. Mawan yang juga ikut berhenti. Bertanya penuh rasa heran.
“ Mengapa berhenti Bud? “
“ Sttt..diam. Kau dengar suara itu ? “
Sayup – sayup kedua orang itu mendengar suara orang berteriak. Bergegas Mawan dan temannya berlari mendatangi sumber suara teriakan itu. Keduanya serentak menepi seraya memaki manakala sebuah taxi berjalan dengan kencang. Jalannya zig-zag.
“ Hampir saja kita disambar taxi itu. Gila sopirnya. Apa itu mungkin taksi yang tadi kita lihat. Atau mungkin taksi lain, yang pengemudi nya sedang mabok”
“ Tidak usah dipikirkan. Ayo kita hampiri arah suara itu “
Mereka berdua lantas berlari-lari memasuki gang dari arah itu. Keduanya kembali berhenti. Tertegun beku. Di hadapannya jarak beberapa meter terbaring sosok tubuh. Setelah didekati dan menggoncang –goncangkan tubuh lelaki yang tergeletak di tengah gang iut. Mawan yakin akalu orang yang tergeletak itu sudah mati.
“Mayat seorang supir taksi. Menilik dari seragam yang dikenakan...”
“Tidak kalian kejar taksi itu?”, seorang polisi dengan pakaian premen bertanya.
“Tidak mungkin terkejar”
Gimin dan teman satunya lagi buru - buru pula datang. Mereka berempat menemukan korban lain.
“Dari keadaan tubuhnya, luka-luka dan pakaiannya yang tercabik-cabik kami berpendapat, tentulah ada seekor binatang buas telah kesasar memasuki kampung kami…,” Mawan mengusap wajahnya dengan cemas.
Saksi 5
Yudi adik kandung Murni.
Tetapi ia belum diketemukan malam ini. Sesekali ia memang suka tidur di rumah temannya. Belajar bersama. Tetapi temannya banyak. Beberapa orang warga setempat dan anggota polisi masih terus mencarinya. Untuk memberitahu peristiwa yang menimpa kakak perempuannya, dan menyelidiki apakah ia terlibat dalam peristiwa itu.
Saksi 6
Bayu, pekerjaan guru honorer dan penulis lepas
Malam tadi sekitar pukul dua belas ada di tempat kejadian perkara. Jika ditilik dari riwayat masa lalu pernah telibat hubungan yang dekat dengan Mira. Istri si korban. Dan entah sengaja atau tidak tiba –tiba secara kebetulan ada di tempat kejadian perkara. Ini patut di curigai.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal mendengar penjelasan dari Suradi.
Lantas aku bertanya, “ Lalu siapa lagi yang pantas untuk di curigai sebagai pelakunya? “
“ Sudah kau tanyai perempuan bernama Murni itu?”
Keempat petugas ronda malam itu yang pertama kali melihat Murni, Suradi menerangkan. Perempuan muda bernama Murni itu, mereka temukan jatuh pingsan di ambang pintu. Mawan dan teman-temannya membopong perempuan itu ke kursi panjang dan berusaha menyadarkannya. Begitu mata nya terbuka, Murni langsung meronta-ronta. Gadis itu menendang. Memukul. Mencakar.
Sambil berteriak-teriak:
“Jauhkan mahkluk itu dari aku. Tolonglah, enyahkan mahluk mengerikan itu...”
“Mahluk mengerikan?” aku menyela.
“Tak usah ditanggapi Bay. Itu Cuma pekik orang yang histeris dan dalam tekanan mental yang hebat.”
“Tidak kalian sadarkan?”
“Oleh dokter dari kepolisian sudah diberi suntikan penenang. Mungkin baru besok ia bangun dan dapat bercerita lebih jelas, la saksi utama, tentu saja. Tetapi dokter kita itu mengkuatirkan bahwa tidak akan memperoleh apa-apa dari gadis itu...”
“Mengapa?”
“ Kemungkinan Murni harus dikirimkan untuk dirawat beberapa lama di Gracia.”
“Rumah Sakit Jiwa yang ada di Jalan Kaliurang itu? Apakah ia mendadak gila?”
“Gangguan mental, tepatnya.”
“Oh.”
“Kau tak ingin bertanya, apakah aku tidak mencurigai dia sebagai si pelaku?”
“Mestinya.”
“Kau benar. Mestinya dia juga ku curigai. Tetapi ia begitu polos, untuk dapat berbuat sedahsyat itu. Mencabik –cabik tubuh Irfan yang diketahui adalah calon suaminya. Meski lelaki itu sebenarnya juga masih punya istri”
“Dan... Mira?”
“ Harus ku katakan maaf kepadamu Bay. Dia tetap menjadi orang pertama yang patut dicurigai keterlibatannya dalam pembunuhan ini.”
“Mira juga perempuan. Memang hatinya memang sakit mendengar suaminya main serong dengan wanita lain. Tetapi tetap saja dia perempuan, yang tak akan mampu berbuat...”
Suradi memotong perkataan ku, “Nanti akan kita lihat. Setelah kita bertemu dia.”
Aku ingin mengatakan kalau tadi malam bertemu dengannya. Namun, hal itu aku tekan kuat –kuat agar tidak terlontar dari bibir ku.
“ Bagaimana Bay, hari ini juga aku akan menemui Mira. Kalau kau tidak berkeberatan untuk ikut silahkan. Mobilku masih terlalu lega kalaupun harus mengangkut tiga lagi orang seperti mu “
j4k4pntura dan 13 lainnya memberi reputasi
14