- Beranda
- Stories from the Heart
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
...
TS
breaking182
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
Quote:
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS : REVENGE
Bayu, seorang penulis lepas yang terbiasa hidup dalam fiksi, mendadak terjebak dalam realitas yang mengerikan. Hidupnya yang tenang berubah drastis setelah ia secara tidak sengaja menjadi saksi mata sebuah pembunuhan sadis yang dilakukan secara brutal di tengah malam.
Namun, bukan kengerian pembunuhan itu yang menghantuinya, melainkan sosok wanita yang ia lihat di lokasi kejadian: Mira, gadis dari masa lalunya yang menghilang tanpa jejak bertahun-tahun lalu.
Terdorong oleh rasa penasaran sekaligus rasa bersalah yang belum tuntas, Bayu mulai menelusuri jejak Mira. Pencarian itu membawanya jauh ke pedalaman, menuju sebuah desa asing yang terpencil dan tidak terjamah teknologi. Di sana, Bayu tidak disambut dengan hangat. Desa tersebut menyimpan rahasia kelam yang dijaga ketat oleh penduduknya yang tutup mulut.
Teror mulai berdatangan—baik secara fisik maupun psikologis—saat Bayu menyadari bahwa kehadiran Mira di sana bukan sekadar kebetulan. Mira terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sekadar pembunuhan biasa. Kini, Bayu harus memilih: lari menyelamatkan nyawanya sendiri, atau mengorbankan segalanya demi menyelamatkan cinta lamanya dari jeratan tradisi berdarah yang mengerikan.
Quote:
DAFTAR ISI
BAGIAN SATU
BAGIAN DUA
BAGIAN TIGA
BAGIAN EMPAT
BAGIAN LIMA
BAGIAN ENAM
BAGIAN TUJUH
BAGIAN DELAPAN
BAGIAN SEMBILAN
BAGIAN SEPULUH
BAGIAN SEBELAS
BAGIAN DUA BELAS
BAGIAN TIGABELAS
Diubah oleh breaking182 17-03-2026 11:08
bohemianflaneur dan 28 lainnya memberi reputasi
27
13.1K
Kutip
97
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#15
Quote:
BAGIAN LIMA
Rasa MENGANTUK tetapi tidak dapat tidur setelah pulang dari rumah Mira terus menyiksa batinku. Bayangan peristiwa di kamar tadi, aroma tubuh Mira yang masih melekat, dan pemandangan mayat Irfan di jalanan seolah berpilin menjadi satu labirin yang menyesakkan. Kepala ku berdenyut - denyut menyakitkan. Aku mencoba mencari posisi nyaman, aku duduk di sofa ruang tengah sudah setengah rebah bersandar di jok kursi.
Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam yang terasa seperti dentuman godam. Wajahku bersemu pucat, gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di sana. Terlihat dari pantulan cermin yang menempel di tembok. Sebaliknya, dua biji mata ku memerah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena tekanan batin yang nyaris mencapai batasnya.
Handphone yang masih aku kantongi pun tidak menunjukkan ada pergerakan apa –apa. Tidak ada pesan dari Retno, tidak ada kabar dari dunia luar. Aku teringat anak ku lagi. Eza. Rasa rindu dan bersalah bergejolak di dadaku. Lalu ketika aku berpaling untuk merenggangkan otot dan persendian, tiba tiba.....terdengar suara pintu di ketuk orang dari luar.
Suara ketukan itu memecah kesunyian rumah. Aku coba mengabaikan ketukan itu. Pura –pura tidak mendengar. Memejamkan mata, berharap siapa pun di luar sana akan segera pergi. Akan tetapi, ketukan itu tambah keras dan ritme nya bertambah kencang. Suaranya menuntut, seolah tahu aku ada di dalam. Penuh rasa enggan aku beranjak dari sofa. Dengan langkah terseret, aku menuju pintu depan.
“ Ya…Ya….sebentar “ teriakku parau.
Aku putar handle pintu. Begitu daun pintu terbuka, Cahaya matahari yang mulai terang membuat silau mataku, memaksa kelopak mataku yang perih untuk menyempit. Di depan pintu yang terbuka berdiri sesosok lelaki masih muda sepantaran denganku. Jaket hitam kulit membalut tubuhnya, memantulkan sinar matahari pagi. Sementara rambut panjang ikal hampir menyentuh bahu tampak licin tersisir ke belakang, memberikan kesan rapi namun tegas.
Aku hampir terperanjat, jantungku melompat ke tenggorokan saat mengenali wajah itu. “ Suradi…..”
Lelaki itu tersenyum, namun matanya menatapku dengan tatapan menyelidik khas seorang aparat.
“ Boleh aku masuk Bay?”
“ Oh ya silahkan..,” aku menjawab dengan gagap, berusaha menutupi kegugupanku yang mendadak memuncak.
Aku segera membawa lelaki yang ternyata Suradi itu untuk masuk di ruang tamu yang tidak cukup besar, dilengkapi dengan perabotan yang bisa dikatakan terawat karena aku rajin membersihkan setiap hari. Ruangan itu terasa mendadak sempit dengan kehadiran Suradi.
“ Kau sendiri? Mana istrimu?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
“ Oh itu…sedang mudik sebentar katanya kangen sama orang tuanya “
Aku ber定ngan berbohong. Lidahku sudah terbiasa memoles kenyataan pahit belakangan ini. Tidak mungkin juga aku katakan kalau Retno minggat dengan membawa anakku yang masih kecil. Agar tidak bertanya lebih lanjut. Aku memotongnya dengan mengalihkan perhatian dengan menawarinya minum.
“ .... kubuatkan kopi, ya Pak Polisi? “
Tanyaku berseloroh, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Suradi hendak mencegah, tetapi aku telah menyelinap masuk ke dalam. Sembari di ikuti dengan pandangan mata Suradi Bayu sampai menghilang di balik tirai ruang tengah yang kemudian tertutup. Tirai itu bergerak – gerak sedikit. Lalu diam. Di dapur, tanganku gemetar saat menyendok bubuk kopi. Pikiranku berkecamuk. Mengapa dia ke sini pagi-pagi sekali? Apakah dia membuntutiku dari Gayam atau dari rumah Mira?
Tak lama kemudian, Aku keluar dengan sebuah nampan dengan gelas berisi dua gelas kopi panas yang masih menghamparkan aroma pahit yang kuat. Aku letakkan gelas kopi itu di meja. Duduk di kursi yang berseberangan lantas mempersilahkan tamu ku minum.
Suasana kembali sunyi sejenak, hanya ada uap kopi yang menari di antara kami.
“ Bapak ibu mu sering kesini ?” tanya Suradi memecah keheningan.
“ Ya, Suradi. Terkadang kalau lagi kangen sama cucunya. Maklum cucu pertama “ jawabku, berusaha menjaga nada suaraku tetap datar.
Suradi menyesap kopinya sedikit, lalu menatapku tajam. “ Kau nampaknya tidak tidur semalaman. Matamu merah. Dan aku yakin baju yang melekat masih seperti baju yang kau pakai semalam. Saat ketemu denganku di tempat itu kan?”
Aku tersenyum kecut, merasa terpojok oleh ketelitiannya. Ujarku, “ Ternyata tidak salah kau menjadi seorang polisi. Kau sangat jeli dan teliti. Sampai –sampai semua yang kau katakan benar adanya?”
Setelah beberapa lamanya ngobrol ngalor ngidul, membicarakan masa lalu yang terasa sangat jauh, Suradi tiba –tiba, melirihkan suaranya. Atmosfer di ruang tamu itu mendadak berubah menjadi berat dan dingin.
“ Kau ingat peristiwa semalam. Pembunuhan sadis di daerah Gayam”
“ Iya , sekedar melihat korbannya yang masih belum diurus sebagaimana mestinya” jawabku hati-hati.
“Begini Bay, sebenarnya aku tidak sampai untuk mengutarakn ini kepadamu. Akan tetapi, demi tugas dan pengabdianku serta sumpah setia jabatanku. Terpaksa aku harus berbicara kepadamu..”
Jantung ku berdebaran hebat, seolah ingin menjebol rongga dada. Manakala kalimat itu selesai terucap. Ada apa gerangan? Aku terlibat? Aku hanya melihat sekejap, aku tidak tahu peristiwa nya apa. Meskipun memang aku akui aku kenal mayat yang tergeletak itu. Irfan, lelaki yang telah merebut Mira dari tanganku. Dan membuat hidupku hancur dan tidak menentu dalam waktu yang lumayan lama. Dua tahun. Kenangan pahit itu menyeruak kembali, namun tidak terbersit sedikitpun untuk membunuhnya dengan cara sekeji itu.
“ Katakan, aku siap mendengar…”, jawabku manakala sudah berhasil menekan denyut jantung yang sepertinya tadi ingin meledak.
Suradi, menyeruput kopi yang berangsur mulai hangat tidak sepanas tadi. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan, suaranya kini terdengar sangat resmi.
“ Kau menjadi salah satu saksi dalam kasus ini ”
Kalimat itu menghantamku. “Kau main cepat dan cekatan ya? Takut aku kabur ya?”
Suradi mengeluh: “Jangan seperti anak-anak. Diamlah. Biarkan aku berpikir...”
Aku tidak memberi kesempatan berpikir, aku masih ngoceh, didorong oleh rasa takut yang menyamar jadi keberanian. “Aku dari semalam tidak meninggalkan rumah. Baru keluar sekitar jam 12 malam. Alibi tentang ini dapat bapak kejar. Kapan saja.”
“ Sebentar Bay, tunggu aku menjelaskan dulu. Kau masih sama seperti dulu, pandai berkelit dan membela diri dengan rentetan kalimat –kalimatmu itu “ Suradi menarik napas panjang. “ Aku baru tahu kalau istri si korban ternyata teman dekat mu. Ataukah mantan pacar mu…?”
Suradi tersenyum. Hanya saja di mataku senyuman ini seperti ejekan. Seolah –olah mengatakan perempuan itu yang telah mencampakkan mu dan memilih menikah dengan pria lain. Lebih mapan dalam urusan finansial. Dokter spesialis melawan guru honorer. Hanya perempuan bodoh yang akan memilih seorang guru honorer dengan gaji tiga ratus ribu per bulan. Luka lama itu seolah disiram cuka.
“ Belum lama tadi aku mendapatkan informasi tentang istri si korban yang bernama Mira. Setelah aku cek data diri dan melihat fotonya. Aku jadi ingat dengan perempuan yang pernah kamu bawa di acara resepsi pernikahan Namira “
“ Benar, itu perempuan yang sama ?”
Aku mengangguk setengah ragu. Pikiranku melayang ke rumah Mira tadi pagi. Apakah ada yang melihatku di sana? Suradi lalu tersenyum. Menepuk bahuku.
“ Jangan tegang kawan. Anggap saja kita masih berada di jaman sekolah. Manakala kau sering mengganggu dan menggodaku. Santai sajalah “
Aku tersenyum kecut. Kata-katanya tidak menenangkan sedikit pun. Terus terang aku sangat benci berurusan dengan yang namanya polisi. Alasannya sederhana. Urusannya pasti panjang dan berbelit –belit. Mondar –mandir ke kantor untuk ditanya macam –macam. Dan itu membuang –buang waktu.
“ Suradi…boleh aku bertanya sesuatu kepadamu? “
Suradi membetulkan letak duduknya, siap mendengarkan. “ Katakan “
“ Ada berapa orang yang menjadi saksi dalam kasus ini?”
Suradi terdiam sejurus lamanya. Seperti sedang menimbang –nimbang antara mengatakan atau menyimpannya dengan alasan tugas kepolisian tidak akan diumbar ke tangan orang sipil. Ia menatap sisa kopi di gelasnya sebelum kembali menatapku.
“Kami telah menanyai sejumlah taksi,” Suradi akhirnya bercerita. Suaranya berat, seolah membayangkan kembali tempat kejadian perkara yang bersimbah darah.
“
"Bermula dan laporan telepon ke kantor dari salah seorang warga di tempat peristiwa. Atasan ku segera memerintah kan satu team anak buahnya bergerak ke sasaran. Aku menyusul beberapa menit berikut nya, karena harus membereskan sesuatu pekerjaan yang belum terselesaikan “
Suradi lantas melanjutkan perkataanya, “ saksi ada lima orang dan kamu saksi yang ke enam “
Suasana ruang tamu kembali mencekam. Aku adalah saksi keenam, namun dalam hati aku bertanya-tanya: apakah aku benar-benar hanya seorang saksi, ataukah sebenarnya aku adalah target yang sedang ia giring perlahan ke dalam jeruji?
Diubah oleh breaking182 17-03-2026 11:45
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas