- Beranda
- Stories from the Heart
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
...
TS
breaking182
Asu Ajag Pegunungan Tepus : Revenge
Quote:
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS : REVENGE
Bayu, seorang penulis lepas yang terbiasa hidup dalam fiksi, mendadak terjebak dalam realitas yang mengerikan. Hidupnya yang tenang berubah drastis setelah ia secara tidak sengaja menjadi saksi mata sebuah pembunuhan sadis yang dilakukan secara brutal di tengah malam.
Namun, bukan kengerian pembunuhan itu yang menghantuinya, melainkan sosok wanita yang ia lihat di lokasi kejadian: Mira, gadis dari masa lalunya yang menghilang tanpa jejak bertahun-tahun lalu.
Terdorong oleh rasa penasaran sekaligus rasa bersalah yang belum tuntas, Bayu mulai menelusuri jejak Mira. Pencarian itu membawanya jauh ke pedalaman, menuju sebuah desa asing yang terpencil dan tidak terjamah teknologi. Di sana, Bayu tidak disambut dengan hangat. Desa tersebut menyimpan rahasia kelam yang dijaga ketat oleh penduduknya yang tutup mulut.
Teror mulai berdatangan—baik secara fisik maupun psikologis—saat Bayu menyadari bahwa kehadiran Mira di sana bukan sekadar kebetulan. Mira terjebak dalam sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sekadar pembunuhan biasa. Kini, Bayu harus memilih: lari menyelamatkan nyawanya sendiri, atau mengorbankan segalanya demi menyelamatkan cinta lamanya dari jeratan tradisi berdarah yang mengerikan.
Quote:
DAFTAR ISI
BAGIAN SATU
BAGIAN DUA
BAGIAN TIGA
BAGIAN EMPAT
BAGIAN LIMA
BAGIAN ENAM
BAGIAN TUJUH
BAGIAN DELAPAN
BAGIAN SEMBILAN
BAGIAN SEPULUH
BAGIAN SEBELAS
BAGIAN DUA BELAS
BAGIAN TIGABELAS
Diubah oleh breaking182 17-03-2026 11:08
bohemianflaneur dan 28 lainnya memberi reputasi
27
13K
Kutip
97
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#5
Quote:
BAGIAN EMPAT
Mobil Daihatsu Charade tua itu kupacu membelah sisa malam Jogja yang mulai berkabut. Di dalam kabin, suasana terasa begitu tegang dan menyesakkan. Mira duduk di sampingku, kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin, matanya terpejam namun napasnya memburu. Aku fokus pada jalanan, namun bayangan mayat Irfan di mulut gang tadi terus menari-nari di kaca depan, bercampur dengan aroma parfum Mira yang mulai memudar digantikan bau kecut keringat dingin. Dengan belokan tajam, mobil Daihatsu Charadeku itu meluncur masuk halaman depan sebuah rumah, menggilas malam yang merangkak tertatih-tatih menuju pagi. Halaman rumah itu gelap, dikelilingi pohon-pohon besar yang tampak seperti raksasa diam yang mengawasi. Injakan yang keras pada rem menyebabkan empat buah ban tersentak lalu menggeram dahsyat di atas batu-batu kerikil yang menjerit kaget. Ufuk timur semburat memerah, menyayat langit hitam dengan garis tipis warna darah. Angin pagi berbau embun menggelepar resah di ujung dedaunan cemara ketika pintu mobil itu terbuka. Aku melangkah keluar. Tulang-tulangku terasa kaku. Buru-buru pintu samping aku buka untuk Mira. Perempuan itu keluar dengan sedikit limbung, seolah jiwanya masih tertinggal di kafe tadi. Cekatan aku papah tubuhnya ke arah serambi.
Perlahan-lahan menaiki undakan kecil teras. Belum lagi sempat memijit bel, pintu sudah terbuka. Seolah ada yang memang sudah menunggu di balik kayu jati itu. Seorang perempuan setengah umur melempar seulas senyuman lega di bibir yang merah kehitaman, "Bagaimana kabarnya Mas Bayu? ," ia bergumam.
"Baik… bi Ijah?" jawabku pendek. Aku sedikit menyimpan perasaan gembira di hati. Ternyata pembantu tua itu belum lupa akan diriku, penghuni masa lalu di hidup Mira. “Bi Ijah tolong bantu saya membawa Mira ke kamarnya."
"Baik Mas!" Pelayan perempuan itu lantas bergegas membantu aku memapah Mira. Kami melangkah menyusuri lorong rumah yang sunyi, meneruskan langkah menuju sebuah pintu yang setengah terbuka.
Bau parfum yang aromanya menusuk hidung, seketika menggelitik. Aroma melati dan kayu cendana yang berat, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mistis. Di dalam, aku dapat melihat tempat tidur dari busa tebal berbentuk oval, dengan sebuah jambangan bunga di atas sebuah meja kecil dan antik. Juga sisi sebuah lemari ukir yang salah satu pintunya terbuka, memperlihatkan seperangkat gaun beraneka corak serta warna-warni mencolok tergantung dalam susunan yang apik. Kamar ini terasa seperti museum keinginan yang terpenjara. Mira dengan bantuan Bi Ijah aku baringkan di ranjangnya.
"Saya keluar dulu mas. Ada yang perlu saya cuci hari ini. Perlukah saya buatkan minuman hangat untuk Mas Bayu dan Mbak Mira?"
Mira dengan lirih balas bertanya: "Nanti saja bi ijah.”
"Kalau begitu saya mohon diri," pelayan perempuan itu tersenyum misterius, lalu bergegas menghilang di pintu belakang.
Aku menunggu sebentar, mencoba menata detak jantungku yang kacau. “Kepalaku tiba-tiba pusing. Sepertinya aku langsung pulang saja.”
Mira bangun dari rebahnya. Jemarinya memegang jemariku, sentuhannya dingin namun menuntut. Bibirnya yang lembut berucap, “Sebentar Bay, jangan terburu-buru. Tunggu pagi sarapanlah sebentar denganku. Aku akan minta tolong Bi Ijah untuk membuat minuman jahe hangat untukmu. Agar pusingmu berkurang barang sedikit.”
Mira hendak beranjak, namun aku tidak ingin dia banyak bergerak dalam kondisi rapuh seperti itu. Serta merta aku tahan bahunya dengan tanganku.
“Sebentar Mira, biar aku saja yang ke belakang. Kamu tunggu disini. Tidurlah barang sejenak.” Mira menggeleng manja, tatapannya menyiratkan rasa haus yang aneh. “Ambil minuman satu lagi untukku…”
“Baiklah…”, aku mengangguk dan kemudian beranjak dari kamar menuju ke dapur.
Dapur itu sepi, hanya ada suara detak jam dinding tua. Aku menyiapkan dua gelas minuman dengan tangan gemetar. Saat kembali, PELAN-PELAN PINTU kamar aku dorong dengan menggunakan ujung kaki karena kedua tanganku memegang nampan dengan dua gelas di atasnya.
Napasku tertahan seketika. Pemandangan di depanku menghentikan aliran darahku. Sesosok tubuh langsing semampai dengan pinggul yang mencuat keras tengah bersolek di depan kaca berbingkai perunggu. Mira telah menanggalkan pakaian kotornya. Lampu kamar memantulkan bagian depan tubuh itu pada cermin. Seraut wajah yang jelita.
Cantik meski sedikit pucat mendebarkan menampakkan sepasang mata indah terbelalak, mulut mungil penuh setengah terbuka kaget. Rambutnya yang hitam dan bersinar-sinar terurai sampai ke batas bahu yang putih mulus. Perempuan itu hanya mengenakan sehelai handuk yang dibelitkan seadanya. Sehingga gumpalan dada yang kenyal seolah ingin menerjang lepas supaya dapat menghirup udara bebas.
“Bay, kau kiranya!" bibir ranum itu mendesah. Aku melangkah masuk, kakiku seolah terpaku pada lantai, mataku tidak berkedip memandang pantulan gairah di cermin itu. “Kau selalu datang pada waktu yang salah!"
"Oh ya?" Aku hampir tidak mampu berkata-kata lagi. Tenggorokanku terasa terbakar. Gemetaran aku letakkan nampan itu di atas sebuah meja kecil yang terletak di sudut kamar. Lalu aku hempaskan tubuhku yang penat ke atas sebuah sofa kecil berwarna merah.
Mira menghampiriku masih dengan handuk yang melilit tubuhnya. Bau kulitnya yang hangat dan wangi sabun mandi menyerang naluriku. Perempuan itu dengan manja merebahkan kepalanya di dadaku yang bidang, sedikit tengadah. Kelopak mata terpejam, tetapi mulut setengah terbuka. Menanti.
Bagai orang kelaparan disodori roti yang baru keluar dari oven, aku mencium dan mengulum bibir itu dengan rakus. Rasa pahit sisa rokok di mulutnya bercampur dengan manis lipstik, menciptakan candu yang membakar akal sehatku. Tangannya merayap ke tengkukku, menarikku lebih dalam ke dalam pusaran hasrat.
Waktu itu pula aku sadar akan keadaan. Sadar pula akan kedudukan ku sekarang ini. Namun, Mira tidak memberiku celah untuk berpikir. Mira langsung memeluk dan menciumi ku. Naluri yang lama tertekan mendorong aku bertindak ceroboh. Mira balas memeluk, balas mencium.
Ciuman itu turun ke leher, panas dan menuntut. Karena tidak ada perlawanan, akhirnya aku mulai kesurupan. Aku tidak lagi sekadar mencium; tanganku mulai menggerayangi tubuh perempuan itu, berusaha dengan paksa menanggalkan handuk yang melilit. Tekstur kulitnya yang halus di bawah telapak tanganku membuat duniaku berputar. Aku ingin memilikinya, ingin menghapus bayangan mayat di jalanan tadi dengan kehangatan tubuhnya.
Namun sebelum semuanya terlambat, sekonyong-konyong Mira menampar pipiku dengan keras, meronta; menjatuhkan diri di lantai, kemudian menangis.
Aku tertegun, separuh sadar. “Tahukah kau?” Mira berdiri kini perlahan-lahan. Menghampiri ku. Bersimpuh di tempat tidur. Matanya yang basah menatapku tajam. Sepasang telapak tangannya mengusap-usap kedua belah pipi ku, kemudian melingkari leher ku itu, menarik wajahnya lebih dekat.
“Tahukah kau,” bisiknya, kembali histeri. “Sudah lebih dari empat bulan Irfan tidak menyetubuhi aku. la lebih suka menyetubuhi perempuan lain itu!”
Pengakuan itu meledak seperti bom. “Mira...”
“Peluk aku Bayu…Cium aku seperti dulu. Lakukanlah apapun yang kau kehendaki waktu itu. Aku… aku menginginkan engkau Bay.”
Mira tidak menunggu. Ia langsung menyerang bibirku dengan ciuman yang gila dan penuh keputusasaan. Ia mengulumnya seperti orang gila, menyeret tubuh ku itu dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Kami bergulung di atas ranjang oval itu. Mira berada di atasku, menanggalkan handuknya hingga kulit kami bertemu tanpa penghalang.
Pergulatan itu terjadi begitu liar di bawah temaram lampu kamar. Mira bergerak dengan ritme yang menuntut balas dendam pada kesepiannya, sementara aku tenggelam dalam rasa bersalah yang nikmat. Keringat membasahi tubuh kami yang menyatu, menciptakan aroma gairah yang memenuhi ruangan. Setiap erangan Mira seolah-olah adalah teriakan perlawanan terhadap rasa sakit yang diberikan Irfan padanya. Aku memeluknya erat, menenggelamkan diri dalam kemolekan tubuhnya, berusaha melupakan fakta bahwa di luar sana, fajar sedang menjemput kematian suaminya.
Dan setengah jam berikutnya, selagi Mira masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur itu, aku membisu di bawah selimut. Tubuhku lemas, sepasang mata nyalang menatap langit-langit kamar yang tampak berputar. Tiba-tiba, penglihatanku kabur. Aku terkejut manakala melihat Irfan menyelinap di kamar mandi, bayangannya tampak nyata di balik kaca buram. Ia menghambur dengan tangkas, merangkul tubuh Mira dari belakang. Aku mendengar teriakan bisu. Mira kaget seketika, lalu terjatuh di lantai. Suara air dari kran terus mengucur deras. Putih bening, kemudian berubah merah... merah dan semakin merah. Bak cuci penuh darah.
Halusinasi itu mencekikku. Aku melihat diri sendiri terkapar di lantai. Ataukah beranda? Lehernya hampir putus, dan alat vitalnya…
“Mira?” aku mengerang ketakutan karena tak ada sahutan dari balik pintu kamar mandi. Aku memperkeras suara: “Mira?”
Pintu terbuka. Dari kamar mandi, muncul Mira dengan tubuh setengah telanjang terbungkus handuk. Wajahnya tampak segar, kontras dengan bayangan berdarah yang baru saja kulihat.
“Ya, Bay?”
Perempuan itu bergerak naik ke tempat tidur, melemparkan handuk dan menyelusup ke bawah selimut satu-satunya yang ada di ranjang itu. Ia merapat pada tubuhku yang masih gemetar.
“Tahukah kau apa yang barusan kita perbuat?” tanya ku, lirih.
“Menyesal, Bay?” jawabnya datar.
“Seharusnya kita berkabung!”
“Untuk seseorang yang pernah mengalahkanmu karena aku lebih memilihnya? Kemudian mencampakkan aku?!” Mira berkata sengit. Matanya berkilat penuh dendam. “Tidak tahukah kau besarnya hasratku membunuh dia, ketika aku dipukulinya… dan ketika dia mengatakan akan menceraikan aku?”
“Mira. Ingatlah, ia suamimu...” ujar ku menegur. Kata-kataku terasa hambar di lidah.
Pelan-pelan aku turun dari ranjang. Menjangkau pakaian ku yang berserakan. Kamar ini mendadak terasa dingin dan asing. Kemeja terhampar di lantai. Celana tertumpuk di sudut ranjang, ku kenakan satu persatu, dengan tangan-tangan gemetar. Setiap kancing yang kupasang terasa seperti beban dosa yang baru.
“Mau ke mana, Bay?”
“Pulang.”
“Ke isterimu?”
“la minggat lagi,” jawab ku, terus terang.
Mira bangkit, menutupkan selimut ke tubuhnya. Dan merangkul ku dari belakang. Kepalanya bersandar di punggungku. Berbisik: “Katakanlah, kau tidak pernah mencintai Retno.”
Aku diam. Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang benar saat ini.
Mira terduduk di tepi ranjang, melepaskan pelukannya. “Maafkan aku, Bay.”
Aku tidak menjawab, lalu bergegas meninggalkan kamar tidur. Lorong rumah itu terasa lebih panjang dari sebelumnya. Menyambar jaket yang tertinggal di ruang tamu, dan beranjak ke pintu depan. Udara pagi yang asli menusuk paru-paruku. Mira menyusul, tetapi hanya sampai di ambang pintu kamar.
“Bay...”
“Apa lagi, Mira?” tanyaku tanpa menoleh.
“Tentang Irfan...”
“Oh,” lemas sekujur tubuh ku. Aku takut dia akan mengakui sesuatu yang lebih mengerikan dari apa yang kulihat di forum Kaskus.
“Dia tetap mantan suamiku. Karena itu, aku akan mengurusnya.”
Aku tidak menoleh lagi. Aku melangkah menuju mobil, meninggalkan rumah itu di bawah cahaya fajar yang pucat, membawa rahasia tentang Asu Ajag dan aroma kulit Mira yang masih menempel erat di tubuhku.
Diubah oleh breaking182 17-03-2026 11:33
bohemianflaneur dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas