- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
ezzasuke dan 123 lainnya memberi reputasi
120
201K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#667
Part 84 - Hari Yang Aneh
Pagi yang cerah, hari yang indah, matahari yang bersinar terang. Pagi hari ini aku berangkat ke sekolah dengan semangat riang gembira.
Oke, cukup dengan cerita anak-anaknya, wkwkwkwk. Sekarang balik lagi ke diri gue yang semula. Wwweezzzttt.
Pagi itu entah kenapa gue berangkat ke sekolah lebih bersemangat dari biasanya. Mungkin karena tidur cukup, mungkin karena bangu tepat waktu, cukup waktu buat goler-goleran dulu di atas kasur, atau karena nilai rapot tengah semester gue yang ga jelek-jelek banget. Momen berangkat ke sekolah juga gue nikmati. Padahal di awal tahun sebelumnya, entah berapa kali gue harus berangkat ke sekolah dengan jas hujan karena cuaca sangat tidak mendukung.
Tapi pagi ini cuacanya cocok banget buat naikin mood sekolah. ga terlalu panas, dan ga terlalu dingin. Yaiyalah, masuk sekolah aja sam setengah tujuh. Gue bahkan sampai di sekolah tepat waktu. Maksudnya ga terlalu cepat buat nunggu temen-temen gue yang lainnya dateng, dan ga terlalu telat buat nyalin tugas yang belum gue kerjain semalem, wkwkwk.
Hari-hari gue makin terasa terasa berwarna ketika saat jam istirahat pertama, ketika gue sedang nongkrong bareng teman-teman gue di tisat(tikungan ipa satu), Putri ngelewatin depan kelas gue bersama teman kelasnya.
Iya, sekedar lewat depan kelas gue doang, tapi buat ngeliat Putri dari deket lagi ngebuat seneng setengah mati, lebay yak, wkwkwk. Iya, gue baru sadar gue kangen banget sama dia, entah udah berapa lama gue udah ga ngobrol Putri, bahkan buat denger suara dia aja jarang banget. Tapi ga ada angin ga ujan Putri tiba-tiba aja lewat kelas gue. Padahal kan kita satu sekolah ya, tapi kok gue ngerasa kaya ga pernah ngeliat dia. Mungkin karena gue terlalu teralihkan dengan dunia yang sedang gue jalani sejak ga sekelas sama Putri. Emang dah taurus susah move on, wkwkwk. eh emang gue pernah bilang udah move on atau belum move ya, au dah, gue juga bingung.
“Tinggal sapa sih Tre.” Ucap Rico tiba-tiba membuyarkan lamunan gue saat sedang memperhatikan Putri berjalan ke arah kantin.
“Hah, apaan?” Gue mencoba untuk membuang muka ke arah lain dan berpura-pura tidak mengerti apa yang Rico ucapkan. Tapi kayaknya gagal
“Yaelah, masih ae pura-pura lo.”
“Ga jelas lo anjing.”
“Ke kantin dulu ah.” Tiba-tiba si Sam beranjak dari meja tempat dia duduk.
“Heh heh, mau ngapain lo.”
“Nyamperin Putri lah.”
Belom ada si Sam jalan udah gue taha tangannya dan ngedorong dia buat balik duduk. Bahkan gue harus sampe repot-repot bangun dari tempat duduk gue. “Kaga-kaga, duduk lo.” Protes gue, dan membuat teman-teman gue yang lainya yang ada di situ ketawa.
Hari itu gue berpapasan dengan Putri ga cuman sekali, tapi dua kali. Kalau yang sebelumnya pas istirahat pertama, gue kembali berpapasan dengan Putri saat istirahat kedua. Waktu itu bel tanda istirahat baru aja berbunyi, guru kelas gue yang mengajar langsung membereskan barang bawaannya dan pergi ke luar kelas, disusul dengan anak-anak kelas lainnya yang mau jajan.
Gue beranjak dari tempat duduk agak belakangan, membiarkan anak-anak kelas yang lain pada keluar duluan, begitu juga dengan Rico yang mengikuti gue buat ga keluar kelas dulu, baru disaat suasana ramai mulai berbeda kita berdua cabut dari meja buat nyusulin anak-anak lain yang udah ada di Tisat.
Baru aja kita berdua mau keluar kelas, gue dan Rico berpapasan dengan Putri dan temannya yang lagi jalan di depan kelas gue. Rico yang posisinya berada di depan gue dengan muka tembok menyapa Putri, dan Putri pun membalas seolah gak terjadi apa-apa. Yaaaa emang ga terjadi apa-apa, kan emang pernah sekelas juga. Guenya aja yang lebay.
Tapi sumpah, saat itu terjadi gue bener-bener ga bisa ngapa-ngapain. Gue ceming di depan Putri dan temannya. Ga ngomong apa gitu, ga nyapa juga. Gue malah ngebuang muka. Gue takut, dan gue gak tau apa yang harus gue lakukan. Dan kejadian yang cuman terjadi sepersekian detik itu kerasanya lama banget. Kayak nungguin kereta lewat di gardu palang kereta, kita tau kejadianya terjadi dengan cepat, tapi rasanya lama banget.
Akhirnya kejadian singkat itu berlalu begitu aja setelah Putri berlalu begitu aja di hadapan gue dan ga ada yang terjadi di antara kita berdua. Eh belom deh, belom selesai. Begitu Putri ngelewatin temen-temen gue yang lagi nongkrong di depan kelas, begundal-begundal ini langsung coba ngajak ngobrol Putri. Yaah cuman sekedar say hai doang sih, dan Putri juga menanggapinya dengan ramah.
Dengan langkah berat gue menyusul ke tempat teman-teman gue setelah Putri akhirnya udah pergi ke arah kantin. Pikiran gue ngeblank, pengen banget gue balik lagi ke dalem kelas dan ngedokem, tapi udah terlanjur tengsin udah keluar kelas.
“Tre, Tre, tadi gue ngobrol sama Putri dong.” Kata Sam waktu gue baru tiba di Tisat dengan suara keras. Gue baru nyadar Putri belom masuk ke kantin dan masih bisa denger dengan jelas suara Sam, orang dia ngomongnya kenceng banget.
“Bacot dah lo elah.” Kata gue menggerutu. Gue sempat menengok ke arah Putri yang lagi jalan ke kantin untuk memastikan apakah dia mendengar ucapan Sam barusan. Dan, Oh shit, Putri ngeliat ke arah sini, sepertinya dia juga sempat melihat ke arah gue. Dan dengan bodohnya lagi gue langsung membuang muka karena malu.
“Cie liat-liatan ciee….” Iman join the game, everybody join the game buat ngecak-cakin gue. Berak lah.
The game hasn't ended yet. Gue baru sadar kalau Putri dan temannya harus balik lagi ke kelas. Begitu Putri dan temannya kembali melewati jalan yang sama alias ngelewatin depan kelas gue, kita yang awalnya lagi ngobrol-ngobrol seru mendadak berubah jadi diem pas Putri lewat. Udah kayak ngeliat penampakan setan da ga ada satu pun dari kita yang berai ngomong. Setelah Putri lewat dan berjalan agak menjauh, baru lah mereka tertawa puas. Ngetawain gue lah pastinya. Sementara gue? pengen nangis aja gue rasanya
.
Bel pulang sekolah berbunyi dan seluruh murid pun bergegas beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Kecuali kalau gurunya rebek masih nahan muridnya buat dengerin pelajaran yang nanggung. Kayak guru di kelas gue sekarang, nyelesain materinya sedikit lagi padahal dari arah tangga udah kedengeran suara berisik anak kelas sepuluh pada turun, dan tentunya seluruh murid sekolah ini yang sudah bergegas meninggalkan lingkungan sekolah.
Kelas gue baru bubar lima menit setelah suara bel berhenti, dan udah pasti semua anak kelas ue langsung pada bersemangat buat keluar kelas. Lagian dari tadi juga udah ga ada yang merhatiin gurunya ngejelasin. Si Rico udah ngerapihin semua bukunya dan langsung ke luar kelas ngelangkahin gue yang masih duduk di sebelahnya.
“Anjing, sabar bentar napa.” Protes gue begitu Rico berhasil melompati gue.
“Hahahaha.”
“Tawa doang lagi lo.”
“Buru-buru gue. Biasa wadon.”
“Ke rumah gue ga lo entar.” Tanya Bobby yang udah berdiri.
“Iyeee, lo pada duluan aja.” Dan tuh orang langsung menghilang.
DI rumah Bobby gue dan anak-anak yang lainnya langsung membuat lingkaran untuk menggelar pertarungan poker capsa tingkat gang. Udah setengah jam lebih dan Gedak sama sekali belom pernah menang. Bukannya ga perah menang, tapi di bego-begoin terus. Pernah dia tinggal one on one lawan Anda, dan Anda udah di ujung tanduk kekalahan. Dengan menggunakan teknik pengalihan itu dia mungutin kartu yang udah jatoh dan ngebuat bom sendiri buat ngelawan Gedak waktu dia ngeluarin kartu poker, dan Anda pun terbebas dari kekalahan.
Udah setengah jam tapi Rico belom muncul, anak-anak udah pada ngomongin nih bocah kemana. Tapi ga lama kita omongin orangnya muncul. Kita dari atas balkon cuman ngeliatin dia markirin motornya sambil buru-buru.
“Woy, ada kabar baru!” teriak Rico dari bawah.
“Apaan?” Tanya Iman yang ikut-ikutan teriak.
“Yaudah, tunggu bentar, jangan kemana-mana.”
“Yaaa emang mau kemana anjing, dari tadi juga di sini.” balas Anda.
Tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk dari arah tangga, nih orang ngapa lagi dateng-dateng bikin rusuh. Rico tiba di atas dengan kondisi ngos-ngosan. Gak jelas nih orang.
“Ada apaan?” tanya gue tanpa mempedulikan.
“Putri putus.”
“Hah?”
Pagi yang cerah, hari yang indah, matahari yang bersinar terang. Pagi hari ini aku berangkat ke sekolah dengan semangat riang gembira.
Oke, cukup dengan cerita anak-anaknya, wkwkwkwk. Sekarang balik lagi ke diri gue yang semula. Wwweezzzttt.
Pagi itu entah kenapa gue berangkat ke sekolah lebih bersemangat dari biasanya. Mungkin karena tidur cukup, mungkin karena bangu tepat waktu, cukup waktu buat goler-goleran dulu di atas kasur, atau karena nilai rapot tengah semester gue yang ga jelek-jelek banget. Momen berangkat ke sekolah juga gue nikmati. Padahal di awal tahun sebelumnya, entah berapa kali gue harus berangkat ke sekolah dengan jas hujan karena cuaca sangat tidak mendukung.
Tapi pagi ini cuacanya cocok banget buat naikin mood sekolah. ga terlalu panas, dan ga terlalu dingin. Yaiyalah, masuk sekolah aja sam setengah tujuh. Gue bahkan sampai di sekolah tepat waktu. Maksudnya ga terlalu cepat buat nunggu temen-temen gue yang lainnya dateng, dan ga terlalu telat buat nyalin tugas yang belum gue kerjain semalem, wkwkwk.
Hari-hari gue makin terasa terasa berwarna ketika saat jam istirahat pertama, ketika gue sedang nongkrong bareng teman-teman gue di tisat(tikungan ipa satu), Putri ngelewatin depan kelas gue bersama teman kelasnya.
Iya, sekedar lewat depan kelas gue doang, tapi buat ngeliat Putri dari deket lagi ngebuat seneng setengah mati, lebay yak, wkwkwk. Iya, gue baru sadar gue kangen banget sama dia, entah udah berapa lama gue udah ga ngobrol Putri, bahkan buat denger suara dia aja jarang banget. Tapi ga ada angin ga ujan Putri tiba-tiba aja lewat kelas gue. Padahal kan kita satu sekolah ya, tapi kok gue ngerasa kaya ga pernah ngeliat dia. Mungkin karena gue terlalu teralihkan dengan dunia yang sedang gue jalani sejak ga sekelas sama Putri. Emang dah taurus susah move on, wkwkwk. eh emang gue pernah bilang udah move on atau belum move ya, au dah, gue juga bingung.
“Tinggal sapa sih Tre.” Ucap Rico tiba-tiba membuyarkan lamunan gue saat sedang memperhatikan Putri berjalan ke arah kantin.
“Hah, apaan?” Gue mencoba untuk membuang muka ke arah lain dan berpura-pura tidak mengerti apa yang Rico ucapkan. Tapi kayaknya gagal
“Yaelah, masih ae pura-pura lo.”
“Ga jelas lo anjing.”
“Ke kantin dulu ah.” Tiba-tiba si Sam beranjak dari meja tempat dia duduk.
“Heh heh, mau ngapain lo.”
“Nyamperin Putri lah.”
Belom ada si Sam jalan udah gue taha tangannya dan ngedorong dia buat balik duduk. Bahkan gue harus sampe repot-repot bangun dari tempat duduk gue. “Kaga-kaga, duduk lo.” Protes gue, dan membuat teman-teman gue yang lainya yang ada di situ ketawa.
Hari itu gue berpapasan dengan Putri ga cuman sekali, tapi dua kali. Kalau yang sebelumnya pas istirahat pertama, gue kembali berpapasan dengan Putri saat istirahat kedua. Waktu itu bel tanda istirahat baru aja berbunyi, guru kelas gue yang mengajar langsung membereskan barang bawaannya dan pergi ke luar kelas, disusul dengan anak-anak kelas lainnya yang mau jajan.
Gue beranjak dari tempat duduk agak belakangan, membiarkan anak-anak kelas yang lain pada keluar duluan, begitu juga dengan Rico yang mengikuti gue buat ga keluar kelas dulu, baru disaat suasana ramai mulai berbeda kita berdua cabut dari meja buat nyusulin anak-anak lain yang udah ada di Tisat.
Baru aja kita berdua mau keluar kelas, gue dan Rico berpapasan dengan Putri dan temannya yang lagi jalan di depan kelas gue. Rico yang posisinya berada di depan gue dengan muka tembok menyapa Putri, dan Putri pun membalas seolah gak terjadi apa-apa. Yaaaa emang ga terjadi apa-apa, kan emang pernah sekelas juga. Guenya aja yang lebay.
Tapi sumpah, saat itu terjadi gue bener-bener ga bisa ngapa-ngapain. Gue ceming di depan Putri dan temannya. Ga ngomong apa gitu, ga nyapa juga. Gue malah ngebuang muka. Gue takut, dan gue gak tau apa yang harus gue lakukan. Dan kejadian yang cuman terjadi sepersekian detik itu kerasanya lama banget. Kayak nungguin kereta lewat di gardu palang kereta, kita tau kejadianya terjadi dengan cepat, tapi rasanya lama banget.
Akhirnya kejadian singkat itu berlalu begitu aja setelah Putri berlalu begitu aja di hadapan gue dan ga ada yang terjadi di antara kita berdua. Eh belom deh, belom selesai. Begitu Putri ngelewatin temen-temen gue yang lagi nongkrong di depan kelas, begundal-begundal ini langsung coba ngajak ngobrol Putri. Yaah cuman sekedar say hai doang sih, dan Putri juga menanggapinya dengan ramah.
Dengan langkah berat gue menyusul ke tempat teman-teman gue setelah Putri akhirnya udah pergi ke arah kantin. Pikiran gue ngeblank, pengen banget gue balik lagi ke dalem kelas dan ngedokem, tapi udah terlanjur tengsin udah keluar kelas.
“Tre, Tre, tadi gue ngobrol sama Putri dong.” Kata Sam waktu gue baru tiba di Tisat dengan suara keras. Gue baru nyadar Putri belom masuk ke kantin dan masih bisa denger dengan jelas suara Sam, orang dia ngomongnya kenceng banget.
“Bacot dah lo elah.” Kata gue menggerutu. Gue sempat menengok ke arah Putri yang lagi jalan ke kantin untuk memastikan apakah dia mendengar ucapan Sam barusan. Dan, Oh shit, Putri ngeliat ke arah sini, sepertinya dia juga sempat melihat ke arah gue. Dan dengan bodohnya lagi gue langsung membuang muka karena malu.
“Cie liat-liatan ciee….” Iman join the game, everybody join the game buat ngecak-cakin gue. Berak lah.
The game hasn't ended yet. Gue baru sadar kalau Putri dan temannya harus balik lagi ke kelas. Begitu Putri dan temannya kembali melewati jalan yang sama alias ngelewatin depan kelas gue, kita yang awalnya lagi ngobrol-ngobrol seru mendadak berubah jadi diem pas Putri lewat. Udah kayak ngeliat penampakan setan da ga ada satu pun dari kita yang berai ngomong. Setelah Putri lewat dan berjalan agak menjauh, baru lah mereka tertawa puas. Ngetawain gue lah pastinya. Sementara gue? pengen nangis aja gue rasanya
.Bel pulang sekolah berbunyi dan seluruh murid pun bergegas beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing. Kecuali kalau gurunya rebek masih nahan muridnya buat dengerin pelajaran yang nanggung. Kayak guru di kelas gue sekarang, nyelesain materinya sedikit lagi padahal dari arah tangga udah kedengeran suara berisik anak kelas sepuluh pada turun, dan tentunya seluruh murid sekolah ini yang sudah bergegas meninggalkan lingkungan sekolah.
Kelas gue baru bubar lima menit setelah suara bel berhenti, dan udah pasti semua anak kelas ue langsung pada bersemangat buat keluar kelas. Lagian dari tadi juga udah ga ada yang merhatiin gurunya ngejelasin. Si Rico udah ngerapihin semua bukunya dan langsung ke luar kelas ngelangkahin gue yang masih duduk di sebelahnya.
“Anjing, sabar bentar napa.” Protes gue begitu Rico berhasil melompati gue.
“Hahahaha.”
“Tawa doang lagi lo.”
“Buru-buru gue. Biasa wadon.”
“Ke rumah gue ga lo entar.” Tanya Bobby yang udah berdiri.
“Iyeee, lo pada duluan aja.” Dan tuh orang langsung menghilang.
DI rumah Bobby gue dan anak-anak yang lainnya langsung membuat lingkaran untuk menggelar pertarungan poker capsa tingkat gang. Udah setengah jam lebih dan Gedak sama sekali belom pernah menang. Bukannya ga perah menang, tapi di bego-begoin terus. Pernah dia tinggal one on one lawan Anda, dan Anda udah di ujung tanduk kekalahan. Dengan menggunakan teknik pengalihan itu dia mungutin kartu yang udah jatoh dan ngebuat bom sendiri buat ngelawan Gedak waktu dia ngeluarin kartu poker, dan Anda pun terbebas dari kekalahan.
Udah setengah jam tapi Rico belom muncul, anak-anak udah pada ngomongin nih bocah kemana. Tapi ga lama kita omongin orangnya muncul. Kita dari atas balkon cuman ngeliatin dia markirin motornya sambil buru-buru.
“Woy, ada kabar baru!” teriak Rico dari bawah.
“Apaan?” Tanya Iman yang ikut-ikutan teriak.
“Yaudah, tunggu bentar, jangan kemana-mana.”
“Yaaa emang mau kemana anjing, dari tadi juga di sini.” balas Anda.
Tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk dari arah tangga, nih orang ngapa lagi dateng-dateng bikin rusuh. Rico tiba di atas dengan kondisi ngos-ngosan. Gak jelas nih orang.
“Ada apaan?” tanya gue tanpa mempedulikan.
“Putri putus.”
“Hah?”
japraha47 dan 16 lainnya memberi reputasi
17